Empat Minggu Menjadi Ibu; Berjalan di Jalanan yang Sepi

Enggak ada yang bilang kalau menjadi ibu baru yang mengurus bayi lahir itu seperti berjalan di jalanan yang sepi. Perubahan rutinitas yang drastis--dari seorang perempuan bekerja yang mandiri dan bebas pergi ke mana saja, kini menjadi seorang perempuan yang digantungi oleh seseorang selama 24/7 dan tidak bebas berpergian. Setidaknya itu yang terjadi pada saya.

Kebanyakan orang bercerita tentang senangnya menjadi ibu baru dan drama begadang. Tapi enggak ada yang bilang tentang perasaan terisolasi ini.

Pertama kali Elora ada di rumah, saat itu masih ada suami, semuanya terasa baik-baik saja. Tapi saat suami harus ke luar kota, di situ saya merasakan perubahannya. Saya banyak berdiam di kamar karena saya menyusui Elora di kamar dan ia tidak bisa ditinggal lama saat tidur karena takut mukanya tertutup selimut. Bahkan teteh saya bertanya panik, "Si kecil di kamar sama siapa??" waktu melihat saya pulang beli makan dari restoran yang jaraknya hanya beda satu rumah. Atau kalau saya hang out lama di ruang tv juga terus diwanti-wanti, "Itu mukanya enggak akan ketutup selimut? Enggak akan jatuh dari tempat tidur?" Tentu, Elora belum bisa berguling dan ia pun tidur di boks bayi.

Jika meninggalkan kamar dalam waktu yang lama begitu sulit, maka lupakan keinginan untuk bercengkrama dengan teman-teman. Lupakan juga jika ada acara-acara menarik seperti gigs dan pameran seni yang harus saya lewatkan. Saya kangen teman-teman kantor, kangen teman-teman di Bandung. Maka, hati saya senang sekali kalau mereka datang ke rumah.

Saya pasti bisa pergi kalau ada seseorang yang saya bisa titipkan selama beberapa jam. Masalahnya, tidak ada. Terus jadi berpikir, "Suruh siapa punya anak?"

Puncaknya adalah saat Elora mengalami growth spurt pertama kali. Ia mau menyusu dan digendong selama berjam-jam. Kalau dilepas dan ditaruh di tempat tidur, ia akan menangis. Kalau sudah menangis, ia mau menyusu lagi. Padahal puting sudah lecet sehingga rasanya sakit sekali kalau ia minum susu (oh ya, untuk cegah puting lecet, basahi dulu dengan ASI sebelum menyusui. Enggak perlu pakai nipple cream). Belum lagi kulit perut terasa perih akibat, mungkin, meregang saat hamil. Dan saya harus menghabiskan berjam-jam di kamar. Mandi dan makan kadang harus tertunda. Mungkin bukan lelah fisik yang jadi masalah, tapi lelah emosional yang agak sulit dikontrol. Panik, capek, dan sendirian berpadu dan terasa menjengkelkan. Emosi yang keluar hanya bisa menangis.

Oh, mungkin ini mengapa orang mengalami baby blues. Syukurnya saya tidak mengalaminya alias tidak sampai enggan memegang atau mengurus bayi. Meski penuh tangis, Elora tetap saya rawat juga.

Kalau suami datang, rasanya senang dan aman. Tapi kalau ia harus ke luar kota, rasanya seperti orang patah hati; sedih sekali. Kalau hari mulai gelap, rasanya cemas mulai datang karena saya harus menghadapi drama tangis ganti popok dan minum susu sendirian di tengah malam. Namun saya menguatkan diri dengan mengingat ibu mertua saya. Ia punya lima orang anak dengan umur yang berdekatan (kecuali suaminya saya--si bungsu). Kebayang punya balita dan bayi tanpa ada pembantu (dan internet!). Kalau ibu mertua saya bisa, pasti saya juga bisa. Saya juga mengingat para ibu yang punya anak banyak. Kalau mengurus bayi baru lahir sebegini stresnya, pasti anak mereka hanya satu. Berarti, ini pasti terlewatkan!

Perasaan mulai ringan setelah saya mulai banyak berinteraksi dengan Elora. Saya ajak ngomong, saya ajak main. Saya anggap dia tidak hanya manusia yang harus diurus, tapi sebagai manusia yang menemani saya. Elora juga banyak hang out di ruang keluarga. Kalau ia tidur, saya bawa dengan baby wrap. Selain untuk kewarasan ibunya, saya juga ingin mengatur ritme sirkadian Elora agar tahu kalau siang hari itu waktunya main.

Untungnya saya pakai aplikasi Nurture. Di sana banyak artikel tentang kehamilan, melahirkan, hingga mengasuh anak. Artikel tentang perasaan-perasaan yang saya alami juga banyak. Oh, saya jadi sadar bahwa perasaan seperti ini adalah hal yang wajar. Banyak orang yang mengalaminya. Dan saya juga punya teman kantor yang hamil serta melahirkannya hampir bersamaan. Kami sering saling kirim pesan untuk tanya tentang bayi atau sekadar curhat. Ia juga merasakan hal yang sama. Ternyata saya tidak gila sendirian.

Perasaan-perasaan ini tentu enggak hilang begitu saja. Ada masanya di mana suasana hati sedang naik dan ada masanya sedang turun. Kalau sedang turun, saya iri setengah mati dengan suami yang bisa bekerja dan main sama teman-temannya. Tapi kalau tidak punya energi untuk iri, saya hanya bisa mengirimkan pesan singkat seperti "wish you were here".

There will be a last time of everything. Seize the moments.


Comments

Ibunya Aria said…
Enjoy. Try to have fun. Suatu saat akan kangen masa2 ini. Sumpah nggak bohong. Salam manis dari ibu tunggal yg skrg anaknya sdh remaja dan mulai ilang2an jadi bikin kangen. Hehehe....
Nia Janiar said…
Iyaa, hehee..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?