Skip to main content

Baby, You Rock My World!

Memiliki anak, tepatnya saat Elora hadir, mengubah dunia saya secara drastis. Prioritas berubah, rutinitas berubah, dan cara pandang berubah. Di antara semuanya, perubahan yang paling signifikan adalah saya mengundurkan diri dari perusahaan yang memperkerjakan saya selama lima tahun.

Menunda mimpi
Saya harus mengundurkan diri karena alasan harus pulang ke kampung halaman yaitu Bandung. Membesarkan anak sendiri saja (karena suami bekerja di Sumedang) di kota perantauan rasanya tidak mungkin. Saya tidak bisa membayangkan berdua bersama Elora di kamar kost yang sempit dan menitipkan anak ke daycare atau sewa pembantu yang tidak saya kenal di siang hari. Oh, tidak, tidak, tidak. Saya harus pulang kampung. Meski nantinya akan bekerja lagi dan harus merekrut pembantu, setidaknya bisa di bawah pengawasan orang rumah.

Meninggalkan perusahaan media besar ini bisa dibilang cukup berat. Ralat, sangat berat. Bukan hanya perkara mendapatkan gaji, di sini saya menjalani passion saya yaitu menulis. Saya sangat menikmati bekerja di sini karena saya menulis untuk majalah dengan tema yang saya suka yaitu gaya hidup. Yah, walau kadang harus menulis untuk koran dan menulis tentang ekonomi dan asuransi. Tapi saya sangat menikmatinya. Hambatan jadi enggak berarti kalau bidang yang kita jalani adalah bidang yang kita sukai.

Faktor lain yang membuat saya berat untuk meninggalkannya adalah faktor teman. Lingkungan kerja di sini sangat menyenangkan. Tidak adu sikut, malah saling bantu. Begitu kekeluargaan. Ketika saya hamil, saya mendapatkan banyak perhatian yang menurut saya terlalu baik. Misalnya saya dibawakan makanan yang saya idamkan, dicarikan kursi prioritas saat naik KRL, atau diingatkan untuk jangan makan mi instan. Huhu.

Ditontonin teman-teman kantor mamanya.

Kesedihan berakar dari dua hal yaitu kehilangan kesempatan dalam menjalani passion dan kehilangan teman demi anak. Bagi saya, ini adalah pengorbanan perempuan untuk jadi seorang ibu. Kita meninggalkan atau menunda untuk mengejar mimpi demi mengasuh seorang anak. Beruntung jika punya orang tua yang bisa dititipkan.

Saya terus menerapkan dalam pikiran bahwa anak tidak akan selamanya kecil. Anak akan sampai pada usia di mana ia mandiri atau usia yang cukup untuk saya tinggalkan. Usia Elora kini adalah usia yang krusial yang menentukan perkembangan ia ke depannya. Apalagi jika ada trauma atau "kerusakan" di usia dini, maka dampaknya akan panjang di masa depan. Memberikan Elora kepada orang lain tanpa pengawasan sangat berisiko. Saya tidak mau menyesal di kemudian hari.

Pengorbanan ini tentu dengan derai air mata. Ah, betapa Elora mengubah semuanya. Namun saya tidak bisa sedih berlama-lama. Saya harus maju. Kini saya bekerja lagi secara paruh waktu di rumah. Lumayan, setidaknya ada penyambung dengan hal yang saya sukai yaitu kepenulisan. I have to build my dream again, brick by brick, stone by stone.

Ia membuatku lebih peduli
Elora banyak mengubah diri saya. Jika mulanya saya adalah seseorang yang tidak terlalu suka dan tidak peduli pada anak kecil, Elora membuat saya jadi lebih perhatian pada anak lain. Misalnya, sekarang saya suka memperhatikan perilaku anak orang lain di tempat umum atau mengirim komentar "lucu ya!" di media sosial jika teman saya mengunggah fotonya. Saya juga jadi lebih peduli dengan kabar anaknya teman-teman saya. Jika anak mereka sakit, saya tanya kenapa dan turut mendoakan kesembuhan mereka. Karena saya jadi tahu rasanya jika anak sendiri sakit. Sedih, pastinya. Oleh karena itu, saya mungkin bisa menghibur orang tuanya dengan perhatian.

Melihat Elora tersenyum saat tidur atau tersenyum saat saya menyapanya membuat saya berpikir bayi adalah makhluk yang suci, baik, dan polos. Manusia dewasa yang mencoreng kertas polos ini dengan prasangka buruk, asumsi tidak berdasar, ego yang besar. Betapa saya ingin Elora selalu baik dan ramah saat ia besar nanti, tidak seperti saya yang dingin dan judes. Hehe.

Kalau dulu galeri foto saya penuh dengan foto pemandangan atau situasi kota, sekarang galeri foto saya dipenuhi dengan foto-foto Elora. Saya memfotonya walau tanpa momen istimewa seperti jalan-jalan atau mengalami sesuatu yang penting. Mungkin karena momen sederhana seperti berjemur, tidur sambil bertopang dagu, atau ngobrol sambil tiduran itu sudah sangat istimewa buat saya.

Saya jadi tahu kenapa orang tua sering over sharing di media sosial. Baginya, anak adalah dunianya. Baginya, anak adalah kebanggaan yang ingin mereka pamerkan. Ketika anak baru bisa tengkurap sambil mengangkat kepalanya tinggi, itu adalah pencapaian bagi orang tuanya. Bahwa anaknya berkembang dan sehat.


Saya masih menahan diri untuk over sharing karena saya tahu tidak semua orang ingin tahu tentang perkembangan Elora. Biar ingatannya saya simpan di galeri foto dan di pikiran. Saya dan suami sepakat untuk tidak membuat akun Instagram khusus untuk anak karena itu terasa berlebihan. Biarlah anak punya ruang privasi sendiri.

Berjuang melawan sepi
Kalau baca tulisan saya yang berjudul Empat Minggu Jadi Ibu: Berjalan di Jalanan yang Sepi, kamu akan tahu pengalaman saya menjadi ibu baru. Dan kayaknya saya kena baby blues selama 1,5 bulan. Tapi sekarang sudah lebih baik walau perasaan sepi atau kesal saat Elora rewel masih ada. Sekarang sudah lebih santai.

Keberadaan Elora membuat saya ingin hidup dengan keadaan lebih baik agar semua kebutuhan Elora terpenuhi. Ini jadi  beban yang berat. Tapi ia hanyalah bayi kecil. Keinginannya sederhana. Ia hanya ingin makan saat lapar, diganti popoknya saat basah, dan dipeluk saat ia merasa tidak nyaman. Ia tidak meminta saya jadi ibu yang sempurna dan membelikan barang-barang mewah. Ia hanya membutuhkan kasih sayang.


Comments

jek said…
Jadi sebenernya saya tidak mau terlalu menasehati, tapi menurut saya ini nasehat yang penting bagi ibu2 baru, segeralah pasang kontrasepsi. Dulu ibu saya menasehati untuk segera pasang kontrasepsi, tapi saya takabur dan menganggap "ah dulu pas pacaran aman2 saja". Dan kemudian lahirlah yang kedua. Dan melihat pengalaman istri saya sendiri, mengasuh 2 balita secara berdekatan itu sungguh-sungguh berat, apalagi istri sendiri tanpa bantuan orang lain. Memberi ASI ke 2 anak, ke dua duanya nangis, harus memandikan 2 balita, kalo satu masuk rumah sakit, yang satunya harus ikutan nginep dirumah sakit, dan sebagainya.

Pengalaman itu sangat membekas, sampai sekarang untungnya Istri saya kuat, walaupun luka (fisik dan batin) masih cukup membekas. Suami pun juga bakal terasa efeknya, harus extra sabar menghadapi istri, lebih sayang ke anak, biaya sekolah imunisasi dsb. Jadi kembali lagi, kalo memang tidak ada rencana untuk bikin adik sedekat mungkin, segeralah gunakan kontrasepsi, apapun metodenya.
Nia Janiar said…
Itu kebayang banget ngurus dua balita dalam satu waktu. Aduh iya bener, thanks for early reminder. Well noted!
miyosi said…
Selamat ya, Mbaakk
Babyny lucuu
Nia Janiar said…
Makasih yaa..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…