Skip to main content

Imunisasi di Rumah Sakit atau Puskesmas?

Saat Elora lahir, ia langsung diimunisasi hepatitis di Rumah Sakit (RS) Advent, Bandung. Saat itu suster memberi formulir kepada bapaknya Elora sebagai persetujuan untuk diberikan vaksin hepatitis. Suami saya menyetujuinya. Ya lagian mau gimana lagi, mau sok-sok anti-vaksin, kami enggak ngerti. Jadi, kami percaya program pemerintah saja. Haha.

Karena Elora sempat kuning, maka sebulan kemudian kami kembali lagi RS Advent untuk kontrol dokter sekaligus vaksin BCG dan Polio. Setelah diperiksa oleh dokter yang handle Elora saat lahir, anak kecil ini disuntik di lengan atas. Tangisannya keras. Suster tidak menyia-nyiakan mulut yang sedang mangap karena menangis itu. Suster pun meneteskan vaksin polio.

Saya mengeluhkan bintik-bintik putih (milk spots) yang ada di wajah Elora. Saat itu dokter tidak bisa jawab dan memberikan kami resep berupa obat salep. Untungnya saya punya kakak sepupu yang juga dokter anak. Kata kakak sepupu saya, bintik putih di wajah itu akan hilang dengan sendirinya. Maka, kami tidak menebus resep itu karena ingin mengurangi paparan obat pada anak.

Setelah minta copy resep, kami pulang. Saat di rumah kami ditelepon pihak rumah sakit bahwa ada biaya vaksin yang belum kami bayar karena bill-nya disatukan dengan resep. Haha. Tadinya kami akan bayar saat berkunjung untuk vaksin ke-3, tapi suster keburu menelepon agar kami segera transfer biaya vaksin BCG dan polio. Biaya vaksinnya sekitar Rp108 ribu. Saya agak kaget juga karena teman saya vaksin BCG dan polio di RS Borromeus hanya Rp30 ribu. Padahal saya sudah datang sesuai dengan kata dokter bahwa kalau mau murah datang saja di hari Senin atau Kamis karena satu botol dibagi untuk beberapa anak. Tapi tanpa banyak cingcong, saya transfer juga.

Katanya vaksin DPT mahal yaitu sekitar Rp200-250 ribuan. Kalau mau versi yang tidak menimbulkan panas pada anak, harganya bisa Rp800 hingga Rp1 juta. Waw, saya membayangkan uang yang harus saya keluarkan. Uang konsultasi dokter, uang administrasi rumah sakit, uang vaksin, ongkos ke rumah sakit.. engga ah.

Saya kepikiran harusnya puskesmas punya program imunisasi juga kan ya. Setelah browsing, ada blog yang menulis pengalaman imunisasi di puskesmas. Oh, berarti bisa. Lagian rumah saya dekat puskesmas, tinggal jalan kaki saja. Saya browsing UPT Puskesmas Salam di Instagram. Ternyata ada, walau tidak terlalu aktif. Saya tinggalkan komentar tentang jadwal imunisasi di sana, ternyata mereka balas komentar saya melalui direct message bahwa imunisasi ada setiap hari Rabu. Wah, canggih!

Sudah banyak orang mengantre di pagi hari.

Saya dan suami pergi ke UPT Puskesmas Salam di pagi hari. Setelah ambil nomor antrean, kami menunggu agak lama. Beberapa lama kemudian kami dipanggil ke tempat pendaftaran. Biaya daftarnya murah meriah yaitu Rp3000. Tanpa menunggu lama, kami masuk ke ruang dokter. Elora dibaringkan di atas timbangan. Beratnya 6 kg! Naik 1,5 kg saja dari berat sebelumnya. Kemudian setelah diukur panjanganya, Elora disuntik dan ditetesi vaksin polio. Hore, imunisasi ke-3 selesai. Saya dikasih kertas untuk bayar imunisasi. Berapa coba bayanya? Rp3000 saja! Ia juga dikasih resep obat Paracetamol sirup dan diberi secara gratis.

My 6 kg baby.

Ncuusss..

Kalau baca-baca, imunisasi di puskemas bisa semurah itu karena vaksinnya disubsidi oleh pemerintah. Kementerian Kesehatan juga menjamin keaslian vaksinnya dan berasal dari distributor resmi. Wah, lagian kalau pemerintah kasih vaksin palsu, mau diganyang massa apa? Selain itu, biasanya vaksin di puskemas digunakan untuk beberapa anak. Selama cara penyimpanan vaksinnya sesuai standar, jadi tidak masalah.

Untuk selanjutnya, Elora mau imunisasi dasar di puskemas aja ah karena lebih murah dan lebih dekat. Cuman tadi ada sedikit pengalaman lucu di UPT Puskesmas Salam. Jadi, saat saya kasih resepnya ke apotek di puskesmas, petugasnya memberikan obat sambil memberikan penjelasan dengan cepat. Pokoknya tiba-tiba langsung terdengar "semoga lekas sembuh"-nya saja. Ketika saya tanya ulang harus dikasih obat setengah sendok makan atau teh, petugasnya bilang "setengah sendok obat". Saya bilang saya enggak punya sendok obat. Lalu mereka kasih sambil bilang, "Jangan hilang ya!" Hahaa.. kok pemberiannya dipisah-pisah gitu, kesannya pelit banget :p

Anyway, ini bukan kunjungan pertama saya ke UPT Puskesmas Salam. Saya pernah mengunjungi ke sini beberapa kali untuk menemani ibu saya ambil surat rujukan BPJS. Tapi, tadi saya mencoba jadi pasien. Kesannya positif karena antrean dan administrasi sudah terkomputerisasi, serta para bidan yang handle Elora juga kerjanya cepat dan baik.

Jadi, para orang tua, kalau anaknya perlu imunisasi dasar dan tidak ada keluhan penyakit, di puskesmas saja sudah cukup kok. Puskemas zaman sekarang sepertinya sudah bersih dan maju. Apalagi kalau ada puskesmas yang dekat rumah. Ramah waktu, ramah kantong!

Comments

herva yulyanti said…
huhuhu mahal amir teh Nia sampe 800ribu yah aku juga dilema ntar vaksin di rumah sakit apa bidan dan sekarang teh Nia share di puskemas hahaha deuh makin galau :p

but thx u teh udah sharing :)bahan pertimbangan juga
Nia Janiar said…
Iyaa, mahal. Udah, di puskesmas ajaa :p
Tq infonya ni. Berguna banget. Saya baru lahiran anak ke 2. Kamis kemarin baru vaksin pertama, lumayan euy.
Nia Janiar said…
Waahh Bu Sinn.. selamat yaa. Iya, imunisasi dasar mah di puskesmas cukup kok selama bayinya ga ada keluhan dan harus konsul ke dokter.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…