Skip to main content

Minyak Kutus Kutus Menyembuhkan Segudang Penyakit. Apa Iya?

Kalau kamu adalah tipe orang yang gemar memakai produk herbal, organik dan alami, kamu berada di blog yang tepat. Saya juga gemar dengan produk alami karena saya ingin luar dan dalam sehat dengan mengurangi penggunaan produk kimia. Beberapa produk alami yang pernah saya tulis adalah Botanina serta sabun Binahong dan minyak untuk jerawat dari Shoppasoap. Kali ini saya akan membahas minyak Kutus Kutus yang ternyata terkenal hingga mancanegara karena khasiatnya. Ini ulasan seorang pengguna, bukan agen lho ya.

Begini lho penampakannya.

Produk buatan Bali ini terdiri dari 69 jenis tanaman obat yang diekstrak dengan minyak kelapa. Hasil ekstraknya diblender dengan minyak essential sehingga minyak Kutus Kutus dapat menyembuhkan dan menentramkan tubuh. Manfaatnya banyak sekali yaitu bisa menyembuhkan berbagai penyakit dari pegal linu, sakit gigi, kaki pecah-pecah, insomnia hingga penyakit degeneratif seperti stroke dan kanker! Bahkan bisa untuk jerawat dan kulit kusam. Wogh, tepok tangan dulu, pemirsa! Untuk tahu penyakit lainnya, lihat foto di bawah ini.

Diambil dari website minyakkutuskutus.co. Klik untuk memperbesar.

Jadi, cara kerja minyak Kutus Kutus adalah mengaktifkan energi chi/prana. Energi chi adalah energi vital yang mengalir di dalam tubuh dan membuat manusia tetap hidup dan organ-organnya berfungsi dengan sempurna. Jadi, kalau ada gangguan pada chi-nya, maka nanti akan ada gangguan para organ tubuh.

Minyak Kutus Kutus digunakan dengan cara dibalur ke tubuh. Jangan diminum! Membalurnya pun tidak sembarangan. Pertama, usapkan minyak Kutus Kutus di punggung, dari pangkal leher hingga tulang ekor untuk membuka chi-nya. Kedua, usapkan minyaknya di tempat yang bermasalah. Ketiga, tutup kegiatan usap mengusap ini dengan mengoles minyak di telapak kaki. Nah, kalau beli minyak ini, nanti akan ada brosur di dalam boks yang berisi titik-titik penyakit di telapak kaki serta penjelasan tentang minyaknya.

Memang kalau lihat manfaatnya, minyak ini too good to be true. Masa iya bisa menyembuhkan berbagai penyakit? Kita enggak usah ke dokter dong. Hehe. Tapi ya "terapi" oles minyak Kutus Kutus ini memang tidak instan. Untuk beberapa penyakit, kita harus konsisten dan dilakukan selama berbulan-bulan.

Saya pakai minyak ini saat Elora demam dan rewel sehabis imunisasi. Setelah dibalur di punggung dan telapak kaki setelah dilap di sore hari, Elora dipeluk sama bapaknya. Eh, udah gitu panasnya turun deh di malam harinya. Ia jadi enggak rewel. Mungkin badannya lebih enak. Oh ya, minyak ini bisa digunakan untuk bayi hingga lansia. Sudah ada sertifikat dari BPOM dan MUI. Jadi, aman dan halal lah ya.

Dioles minyak Kutus Kutus setelah lap sore.
Saat saya oleskan ke tangan dan dioleskan ke kulit, saya merasa minyak ini tidak kental dan tidak lengket, bahkan rasanya ringan seperti air. Ternyata benar saja, saat browsing, molekul minyak Kutus Kutus lebih kecil dari air. Oleh karena itu, minyak ini mudah menyerap pada pori-pori kulit. Minyak ini memiliki aroma jamu yang cukup kuat. Tapi ya saya sih tidak masalah.

Pengalaman mengoles minyak Kutus Kutus ke Elora adalah pengalaman pertama saya pakai minyak ini. Saya belum pernah pakai minyak ini untuk penyakit yang berat (mudah-mudahan jangan!) jadi belum tahu kebenarannya dalam menyembuhkan penyakit yang disebut di atas. Ternyata teman saya pernah pakai minyak ini untuk mencegah flu. Kalau sudah tidak enak badan, ia balurkan minyak ini. Teman saya bilang flunya enggak jadi datang. Apakah di antara kalian ada yang pernah pakai minyak ini untuk penyakit yang lebih berat? Kalau ada, tolong bagikan di kolom komentar dong. I am genuinely curious!

Saya senang deh pakai produk-produk alami yang beneran bisa menyembuhkan. Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan penyakit sekaligus obatnya. Obatnya tersedia di alam. Kita hanya perlu tahu manfaatnya dan cara mengolahnya saja.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…