Pasang IUD di Puskesmas

Setelah Elora lahir, saya enggak dapat haid sampai Elora usianya 3 bulan. Hal ini berbeda dengan teman saya yang langsung haid begitu masa nifasnya selesai. Lah, 'kan saya jadi serem kok enggak haid. Hal yang ditakutkan ibu baru itu hamil lagi saat anak masih kecil. Repot, bok! Setelah browsing, saya menemukan informasi ternyata ibu yang tidak menyusui asi secara eksklusif (kasih susu formula + ASI) itu haidnya datang lebih cepat datang daripada ibu yang menyusui ASI eksklusif.

Oh, gitar~

Mulanya saya belum kepikiran pasang KB setelah melahirkan. Karena waktu lahirannya C-section, jadi pikiran saya lebih fokus operasi. Dokter kandungan saya juga enggak bahas tentang KB. Setelah tahu bahwa menyusui ASI secara eksklusif adalah kontrasepsi alami, makin jauh deh itu pikiran menggunakan alat kontrasepsi.

Tapi ternyata ini perlu dicermati, bu-ibu. Teman saya yang berprofesi sebagai bidan, Devie namanya, bilang bahwa menyusui sebagai kontrasepsi alami itu artinya menyusuinya harus intens seperti dua jam sekali. Hanya mengandalkan menyusui sebagai kontrasepsi itu tidak disarankan, harus diiringi dengan alat kontrasepsi lain.

Pikiran tentang pasang alat kontrasepsi semakin timbul saat saya melihat teman saya hamil saat anaknya berusia 5 bulan. Wogh! Selain itu, banyak pengakuan bermunculan dari teman-teman di grup WhatsApp bahwa mereka kebobolan padahal anak masih pertama bayi. Oh, tidak, tidak, tidak! Saya enggak mau hamil lagi dalam jangka waktu yang dekat. Pertama, luka C-section belum sembuh. Kedua, pasti akan repot sekali. Ketiga, kagak ada biaya buat urus anak. Huhu.

Mulanya saya mau pasang alat KB implan (susuk) karena jangka panjang yaitu 3 tahun. Saya enggak mau repot minum pil yang harus diminum setiap hari atau suntik per tiga bulan. Alat KB implan bentuknya mirip sedotan air mineral gelas dan bersifat lentur. Bidan/dokter akan membius lengan atas dan akan memasukkan alat ini ke bawah kulit. Mengapa saya mau pilih alat ini? Karena saya agak trauma dikodok-kodok oleh dokter saat mengecek bukaan leher rahim. Sakit, cuy! Selain itu juga ada cerita seram tentang IUD seperti benangnya lepas atau alatnya berpindah tempat dan melukai rahim.

Devie bilang kalau KB implan pengaruhnya terhadap hormon laktasi, walau tidak sebesar pil KB atau KB suntik. Alat KB yang paling aman untuk ibu menyusui ya IUD alias spiral. Mendengarnya agak jeri juga karena membayangkan saya harus melewati rasa sakit saat dipasang. Tapi ternyata teman-teman saya banyak yang cocok pakai IUD dan mendukung saya pakai alat KB ini.


Antre di puskesmas

Ya sudah, saya berangkat ke puskesmas terdekat. Oh ya, FYI, semenjak resign, saya sudah jarang kontrol ke rumah sakit karena sudah tidak ada asuransi kantor. Hehe. Jadinya saya pilih yang murah yaitu puskesmas. Untuk yang belum tahu, puskesmas memiliki layanan imunisasi dan pasang alat KB lho! Bahkan layanan ini sudah lama ada. Hanya karena ada anggapan puskesmas sebagai tempat yang kotor dan tidak canggih, jadi tempat ini kurang populer untuk ibu-ibu muda zaman sekarang.

Di puskesmas, saya disambut bidan. Sebelumnya bidan tanya-tanya dulu apakah saya sudah haid, apakah saya menyusui, apakah saya sudah berhubungan badan lagi sama suami dan alat kontrasepsi apa yang saya gunakan. Mungkin bidan ingin menyakinkan bahwa saya tidak hamil. Jadi, saran saya, sebelum pasang IUD, pastikan hamil atau tidak dengan periksa pakai testpack.

Setelah ok, bidan lain datang ke ruangan. Sepertinya ini bidan yang berpengalaman pasang IUD. Kemudian ia menyuruh saya buka celana, duduk di kursi dan mengangkang. Nah, ini dia nih yang saya takutkan. Mungkin karena bidan dapat mencium rasa takut saya, ia mengajak saya untuk ngobrol seperti berapa usia anak saya dan kenapa saya C-section. Di sela itu, bidan berkali-kali mengingatkan agar saya santai karena pemasangan IUD akan sakit jika saya tegang.

Saya tidak berani lihat bidan. Pokoknya hanya melihat langit-langit ruangan sambil atur nafas. Sebelum pasang spiral, bidan mengukur ukuran rahim saya karena takut terlalu kecil sehingga alat tidak bisa masuk. Setelah itu, bidan memasukkan spekulum masuk ke dalam vagina. Rasanya? Memang agak linu dan mual, tapi ternyata tidak sakit, lho.

Setelahnya, bidan mengajak saya duduk dan ia menjelaskan kepada saya dengan rinci. Ia bilang bahwa IUD yang barusan dipasang itu untuk 10 tahun. Bidang juga menjelaskan efek samping dari IUD adalah akan ada flek atau haid. Haidnya juga bisa lebih banyak dan lebih lama dari biasanya. Kemudian bidan bilang saya harus kontrol satu minggu kemudian. Malam sebelum kontrol, saya harus berhubungan dulu dengan suami agar tahu apakah benangnya kepanjangan atau tidak. Kalau masih haid, saya harus kontrol dua minggu kemudian. Tapii jika ada mules yang tidak tertahankan, saya harus segera datang lagi ke puskesmas.

Omong-omong masalah mules, saat cek ukuran rahim, bidan melihat bahwa mulut rahim saya melengkung ke belakang. Katanya, mungkin inilah sebabnya kenapa saya tidak ada kontraksi dan pembukaan saat melahirkan kemarin. Karena mulut rahim yang melengkung, nanti alatnya juga akan ikut melengkung dan ada kemungkinan menusuk ke belakang. Efeknya, saya akan merasa mules. Nah, di sini saya harus ekstra perhatian nih.

Setelah selesai konsultasi, saya dikasih obat antibiotik, obat penahan nyeri, serta obat flu (karena saat itu saya sedang flu). Harga pasang IUD di puskesmas hanya Rp50 ribu dan gratis untuk pasien BPJS. Sebagai perbandingan, harga pasang IUD di rumah sakit dimulai Rp300-Rp500 ribu. Setelah pasang IUD, saya mendapat haid yang cukup banyak dan lama yaitu 8-9 hari. Tapi saya tidak heran karena dampak pasang IUD ya begitu. Syukurnya lagi, tidak ada mules berlebihan akibat mulut rahim yang melengkung.

Karena saya haidnya satu minggu lebih, saya kontrol lagi ke puskesmas dua minggu setelah pasang IUD. Bidan bertanya apakah saya dan suami ada keluhan atau tidak. Saya jawab tidak. Kalau tidak ada, ya bidan tidak akan melakukan tindakan. Bidan juga bilang, meski IUD ini untuk 8 tahun pemasangan, IUD bisa dicopot sebelum itu (jika berencana punya anak lagi).

Demikianlah perjalanan saya pasang IUD di puskesmas. Murah meriah dan tanpa sakit yang berlebihan. Katanya pasang alat KB itu cocok-cocokan. Syukurnya saya tidak punya keluhan pasang IUD. Selain itu, saya juga tidak perlu memikirkan kapan harus suntik atau minum obat.

Bagi yang berencana tidak punya anak dalam waktu dekat, mending pakai IUD saja. Yang penting kita tetap tenang. Selamat mencoba!

Comments

Makasih sharingnya mba, saya juga kepikiran mau pakai IUD tapi masih takut2 :p
Nia Janiar said…
Hahaha.. ayo ayo, Insya Allah aman dan ga sakit kooo.. hihi
Heri Heryanto said…
Bsa jadi referensi istri nih terkait pilihan KB nya
Nia Janiar said…
Iya, Paak..
Jimmy Kokong said…
setelah baca kok jadi saya yang ngilu yah...
Nia Janiar said…
Hahaha.. untungnya ga harus pake yaa :p
Keke Naima said…
Saya sampai setahunan baru haid lagi setelah melahirkan. Sampai sekarang belum KB. Bingung mau pakai KB apa hehehe. :)
Tira Soekardi said…
aku juga pasang IUD
Nia Janiar said…
Halo, Mba Keke.. wah, berarti menyusuinya intens ya? IUD aja, mba, katanya reaksi sama tubuhnya spt flek atau naik berat badan lebih minim. :)

Halo, Mba Tira.. tosss..
herva yulyanti said…
hai mb Nia salam kenal, aku juga baru lahiran 3 minggu lalu dan rencana mau pasang iud di rumah sakit tmpt aku melahirkan biayanya 800rb wkwkkwk jauh banget sama di puskesmas y apalagi klo punya bpjs. aku juga di sC mba takut jg nih makanya galau ada keluhan nantinya
Nia Janiar said…
Wah, mba, selamat yaa untuk lahirannya. Idiw mahal bangett di RS yaa. Tapi kalau engga dicoba nanti engga tau ada keluhannya atau engga. Hehe. Insya Allah aman..
Reyne Raea said…
Haduuhhhh... ngiluuuuuu bacanya hihihi..

Kegalauan emak baru punya anak ya gini, saya juga dulu gitu.
Pas habis lahiran eh gak kunjung mens sampai bayi berusia 3 bulan, sampai balik ke Dokter nanya apa saya hamil? hihihi..

Ternyata wajar saja seperti itu, tapi tetap OGAH pasang KB.
Gak suka aja ada benda asing di tubuh saya, plus juga merinding denger cerita-cerita serem orang yang KB.

Alhasil suami yang ngalah pakai kondom, secara takut boookk nanti hamil lagi.
Dasar manusia kebanyakan takutnya, alhasil Allah ngabulin takutnya saya, sampai lama banget baru di kasih anak kedua hehehe.

Setelah anak kedua juga gak mau pasang KB meski waktu sesar para bidan, suster dan dokter pada ngerayu nyuruh masang IUD, tapi saya ogah.
Terserah deh Allah mau ngasih anak lagi atau enggak, toh Allah gak mungkin salah kalau nitipin amanahnya ke saya :)

*pasrah daripada ngeri sendiri :D
Nia Janiar said…
Wahh, mba Reynee.. makasih yaa sudah berbagi kisahnya. Alhamdulillah kalau suami mau pakai kondom. Temen2 saya yang "kebobolan" itu pas suaminya gak mau pakai kondom. Heheheu. Tapi ya, namanya juga rezeki. Terus ada temen saya yang IUD-nya geser, jadi anaknya tetep jadi. Kalau Allah udah berkehendak ya buatan manusia mah lewatt.. hihi.
Unknown said…
Saya tuh bingung pasang di puskes atau di rumah sakit, kakak saya sempet bilang takut nya kalo di puskes pasang nya asal aja, nanti malah kebobolan, gmn yah kalo gitu?? BTQ makasih share nya bermanfaat buat nambaj informasi
Nia Janiar said…
Waduh, kayaknya semua balik lagi ke tenaga medisnya deh. Kalau di RS dapet dokter/bidan yang masangnya asal, bisa kebobolan juga. Sekadar info, temen saya pasang di RS juga kebobolan. Tetap hamil karena IUDnya geser. :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?