Skip to main content

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Saya mau menulis lagi tentang cloth diaper (clodi) karena saya bangga pakai clodi. Beberapa waktu lalu, saya baca berita kalau tiga juta sampah popok sekali pakai (pospak) mencemari sungai Brantas setiap harinya. Sungai jadi tercemar bakteri E-Coli karena tinja yang ada di dalam pospak. Bahan plastik pospak pun tidak bisa diurai dalam waktu 10-20 tahun. Aduh, kok kasian bumi kita.

Kali ini, saya mau review clodi untuk para ibu yang baru mau mulai berclodi. Siapa tahu tulisan ini jadi memudahkan untuk mengambil keputusan mau pakai merk yang mana. Hehe. Soalnya memilih clodi dari berbagai macam merk itu lumayan memusingkan!

Oh, ya, saya pernah menulis penjelasan tentang clodi untuk pemula dan bagaimana cara memilih clodi. Silakan klik di sini.

Sejauh ini saya punya empat merk clodi yaitu Ecobum, Little Hippo, Babyland, dan Cluebebe. Manakah yang lebih bagus? Yuk, lanjut bacanya ke bawah.

Ecobum
Harga clodi Ecobum memang lebih mahal dibandingkan Babyland, Little Hippo, dan Cluebebe. Tapi, saya paling suka clodi ini. Oh, ya, saya beli Ecobum seri Universal Cover karena bisa dipakai sampai anak mencapai berat 16 kg.

Harga di clodistore.com Rp 102.000




Kelebihan:
+ Lapisan luar dan dalamnya terbuat dari polyester. Saya bisa pakai ini 2-3 kali selama tidak terlalu basah oleh ompol dan tidak bau pesing. Lapisannya tinggal dilap saja.
+ Ukurannya juga lebih besar sehingga masih enak dipakai saat anak 7 kg pakai prefold
+ Clodinya lebihkokoh dan karet di pinggang dan paha tidak mudah melar.
+ Prefold Ecobum bagus sekali untuk bayi yang kencingnya mulai banyak. Saya biasa pakai di malam hari agar Elora tidak cepat merasa basah.
+ Ada leg gusset yang melindungi agar pup tidak meleber ke samping.
+ Kancing kuat.
+ Tidak pernah ada ruam dan tidak pernah bocor.

Kekurangan:
- Harganya yang cukup mahal.
- Terlihat bulky atau besar di pantat anak.

Cluebebe
Saya beli Cluebebe Pocket Classic atas saran teman saya. Berbeda dengan Ecobum yang pakai snap (kancing), Cluebebe memiliki velcro (perekat/prepetan). Hehe. Bagian luar clodi terbuat dari bahan polyester, bagian dalam clodi terbuat dari bahan fleece. Konon fleece ini berfungsi agar bayi merasakan sensasi kering walau popoknya basah. Clodi ini juga bisa dipakai hingga berat badan 16 kg. Harga di clodistore.com Rp72.250.

Harga di clodistore.com Rp72.250

Add caption

Kelebihan:
+ Cluebebe tidak memiliki prefold, melainkan memiliki insert. Insert-nya lebih tebal, ramping, dan panjang dibandingkan yang Babyland dan Little Hippo.
+ Karetnya, terutama di bagian paha, tampak kokoh dan tidak mudah melar.
+ Tidak membuat bulky
+ Kancing tidak mudah lepas.
+ Tidak pernah ruam dan tidak pernah bocor.

Kekurangan:
- Dibandingkan Ecobum, ukuran clodi ini sedikit lebih kecil.

Babyland
Clodi Babyland memiliki bahan polyester di luar dan bahan fleece di dalam. Kalau beli clodi ini, kita akan dapat dua insert sekaligus. Bisa dipakai sampai berat 15 kg.

Harga di clodistore.com Rp63.750






Kelebihan:
+ Terdapat kancing di dekat paha sehingga bisa diukur tingkat kerapatan di paha anak untuk mencegah bocor ke samping.
+ Karet di paha dan di pinggang sedikit terlihat kokoh dan tidak melar.
+ Tidak bulky

Kekurangan:
- Insert sedikit lebih tipis dibandingkan Little Hippo dan Clubebe.
- Kancing sedikit mudah lepas. Misalnya, saat saya memakaikan clodi dan saya tarik clodi ke atas, kancingnya suka copot.
- Tidak ada leg gusset
 

Little Hippo
Saya beli Little Hippo EasyFit. Walaupun katanya bisa sampai 16 kg, clodi ini terasa agak sempit buat anak saya yang berat badannya 7 kg dan masih pakai prefold.

Harga di clodistore.com Rp73.100


Ada inner leg gusset yang menurut saya tidak berperan banyak.

Kelebihan:
+ Insert lumayan tebal.
+ Kancing tidak mudah lepas.
+ Tidak bulky.

Kekurangan:
- Karet di paha dan pinggang lebih mudah melar.
- Bahan polyester di bagian luar cenderung tipis sehingga takut sobek kalau saya buka kancing kuat-kuat.

Perbandingan insert. Ki-ka: Insert Cluebebe, Little Hippo, dan Babyland.

Ada banyak review di internet kalau beberapa clodi menimbulkan ruam dan bocor. Kalau kata saya, asal digantinya maksimal 3 jam sekali, harusnya tidak menimbulkan ruam dan bocor.

Kesimpulannya sudah terlihat, ya. Saya paling suka Ecobum. Semua clodi di atas memiliki snap yang bisa diatur S-M-L sesuai dengan ukuran anak. Tapi, Ecobum memiliki ukuran yang lebih besar, sehingga awet lebih lama. Di saat clodi lain sudah sampai di kancing ke-3 (ukuran L), clodi Ecobum masih di kancing ke-1 (ukuran S)

Kalau ditanya pilih snap atau velcro, saya lebih suka velcro karena lebih cepat memakainya. Apalagi saat malam hari di saat kita ngantuk, yaa. Malas banget deh ngitung kancing. Heu. Tapi katanya sih lebih tahan lama snap.

Nah, kira-kira begitu. Memang masih banyak merk clodi lain di luar sana, termasuk clodi buatan luar negeri yang lebih bagus daripada Ecobum. Namun, selama tidak menimbulkan ruam, karet dan kancing bagus, dan kancing tidak bocor, menurut saya produk lokal sudah cukup.

Yuk, kita pakai clodi! Dengan pakai clodi, kita juga bantu menyelamatkan bumi. Beberapa ibu juga bisa mewariskan clodi ke anak selanjutnya, lho. Jadi, kita engga banyak membuang sampah. Deterjen untuk clodi juga biasanya digunakan hanya sedikit dan deterjen yang saya pakai, Ultraco, tidak berbusa. Kalau kata penelitian mahasiswa UI, deterjen yang banyak busa itu tidak ramah lingkungan karena menghambat perkembangan organisme di air. Jadi, mudah-mudahan, kita tidak banyak meninggalkan jejak limbah di planet yang kita tinggali ini.

Comments

prana ningrum said…
mksh tipsnya mbak...aku juga lagi beli-beli peralatan untuk lairan baby nanti
Sandra Hamidah said…
Kecuali Ecobum semua sudah saya coba tapi karena saya suka kecapean jadi kalau malam dan jalan jalan masih pake pospak, tfs mba
Udah lama pengen ganti pospak ke clodi tapi bingung milih merk.. setelah baca review ini jadi ada sedikit pencerahan.. makasih mak.. :D
Nia Janiar said…
Mba Prana: Wah, semoga lancar yaa lahirannya..

Mba Sandra: Haha, sama!

Mba Afifah: Sama-sama, Maak! :D

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…