Skip to main content

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba

Beberapa minggu yang lalu, Elora diare. Awalnya saya menduga diare karena kok sehari bisa sampai 8 kali BAB. Saya takut dengan dampak diare yaitu dehidrasi karena harus diinfus. Selain itu, karena sering cebok, pantatnya Elora juga sudah mulai lecet. Sebelumnya, Elora BAB setiap dua atau tiga hari sekali. Bentuknya juga tidak seperti selai, tapi lebih encer, berlendir, warnanya hijau, dan ada biji-bijinya (seperti BAB bayi baru lahir).

Saya tanya ke saudara sepupu saya yang merupakan seorang dokter anak. Ia bilang bahwa bayi dikatakan diare jika BAB lebih dari tiga kali dengan bentuk encer dan lembek. Wah, ini sih Elora banget! Sepupu saya menyarankan untuk memberikan Lacto b. Lacto b bukan obat, melainkan probiotik yang menumbuhkan bakteri baik di usus. Kayak Yakult gitu lah. Bentuknya seperti susu bubuk. Saya memberikan kepada Elora dengan cara dilarutkan ke ASI.

Setelah dua hari pemberian Lacto b, tidak ada tanda membaik. Elora juga suka merintih di malam hari. Karena khawatir, saya dan suami pergi ke puskesmas untuk melihat jika ada tanda dehidrasi. Dokter umum di puskesmas mencubit kulit Elora untuk melihat gejala dehidrasi. Sejauh ini belum ada gejalanya. Tapi saat dokter meraba ubun-ubunnya kok terasa cekung. Saya sudah takut saja, ubun-ubun cekung adalah salah satu tanda dehidrasi. Dokter tersebut menyarankan untuk tes feses dan menyuruh kami untuk memantau perkembangannya jika ubun-ubunnya semakin cekung. Ia juga menyuruh untuk meneruskan Lacto b dan meresepkan Zinc Sulphate.

Saya konsultasikan lagi ke sepupu saya hasil dari puskesmas. Total sudah lima hari Elora diare. Sepupu saya juga menyarankan tes feses. Katanya, kalau ada bakteri di dalamnya, penyakit tidak akan sembuh jika tidak dikasih antibiotik. Saya sih tidak anti pada antibiotik. Menurut saya antibiotik tetap perlu untuk kasus yang spesial, bukan kasus ringan seperti batuk dan flu.

Keesokan harinya, suami saya pergi untuk tes feses di laboratorium RSIA Limijati Bandung. Ia membawa feses yang masih fresh sekali. Memang syarat feses yang harus dibawa adalah berusia kurang dari satu jam semenjak keluar. Selain itu, feses yang bagus adalah feses di pagi hari.

Hasil tes lab pertama


Ternyata menunggu hasil feses di RSIA Limijati tidak perlu waktu lama. Suami saya hanya perlu menunggu satu jam saja. Saya memotret hasil lab-nya dan mengirimkan ke sepupu saya. Benar saja, Elora kena disentri dan ada parasit amuba di dalam ususnya. Beruntung feses Elora tidak mengandung darah karena beberapa bayi bisa BAB darah akibat parasit ini.

Disentri ini tidak mungkin disebabkan oleh ASI karena ASI itu steril. Jadi, kemungkinannya adalah tangan atau mainan kotor yang gemar masuk mulut. Sepupu saya menyarankan untuk rutin merebus mainan dan sering cuci tangan sebelum memegang bayi. Makanya, buibu, kita menjaga tangan untuk tetap bersih, ya! Cuci tangan dengan sabun terutama setelah pergi dari luar, habis memegang uang, atau habis cebok.

Sepupu saya meresepkan Cefixime, Metronidazol, meneruskan Lacto b dan Zinc-nya. Jadi, kebayang dong berapa banyak obat yang harus Elora minum. Apalagi saya tidak tahu cara memberikan obat dengan benar pada Elora, jadinya sering tersedak dan muntah. Belakangan jadi tahu bahwa metode terbaik memberikan obat pada Elora adalah dengan menggunakan pipet.

Seminggu setelah pemberian obat, Elora menunjukkan kondisi yang lebih baik, tapi frekuensinya masih sering. Sepupu saya menyarankan untuk tes feses lagi karena tidak mungkin untuk memberikan antibiotik lagi. Hasilnya, parasit amubanya sudah hilang namun disentrinya masih ada. Sepupu saya meresepkan Biothicol. Perlahan, BABnya mulai lebih padat (seperti selai) dan frekuensinya bekurang.

Hasil tes lab kedua


Banyak orang tua zaman dulu menyebutkan bahwa diare adalah fase "indah" atau fase yang menunjukkan bahwa akan ada skill baru yang akan muncul. Tapi, kalau berhari-hari ini, bahkan hampir dua minggu sih namanya bukan indah yaa. Jadi, orang tua kudu awas karena diare kelamaan bisa menyebabkan anak dehidrasi. Kita pasti enggak mau anak kita harus nginep di rumah sakit dan diinfus, 'kan?

Jadi, begitu ceritanya. Semoga bermanfaat yaa.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…