Kenali Tekstur, Porsi, dan Komposisi MPASI 6 Bulan Yuk!

Elora sudah masuk ke tahap yang menakuti buat saya yaitu MPASI. Kenapa takut? Karena saya sudah membayangkan harus ke pasar dan memasak--yaitu dua hal yang kurang saya suka. Lebih terdengar males ya daripada takut. Hehe. Maap yak, tidak mengikuti standar wanita kudu suka masak. Tapi suka bukan berarti enggak bisa lhoo.. *pembelaan diri*

Anyway, balik lagi ke tema MPASI. Saat Elora usia 5 bulan, saya sudah browsing tentang MPASI seperti peralatan yang harus disiapkan, makanan yang boleh dimakan oleh bayi, cara memasaknya, resepnya, dan lainnya. Intinya, ternyata informasi yang saya dapat ada yang kurang tepat, terutama tentang makanan yang dikasih.

Pencerahan ini bermula ketika saya konsultasi tentang MPASI secara tidak terencana. Saya datang ke konselor laktasi untuk konsultasi masalah milk blister yang saya alami. Dokter Florencia Jonathan, konselor laktasi di RSIA Limijati, memberitahukan tentang MPASI. Saya share yaa agar bermanfaat buat ibu-ibu yang anaknya mau MPASI.

Brokoli, waluh, dan tempe.

Perkenalan MPASI
Pertama, anak usia 6 bulan harus melakukan perkenalan dengan makanan selama 1-2 minggu awal. Anak dikenalkan dengan 2-3 jenis makanan dengan variasi serat yang berbeda. Jadi, anak boleh dikasih serat rendah seperti tahu dan serat tinggi seperti sayuran hijau. Anak tidak boleh dikasih dua makanan dengan serat yang tinggi sekaligus karena takut menyebabkan sembelit.

Anak juga sudah bisa dikenalkan dengan air putih dan lemak tambahan seperti minyak kelapa, VCO, minyak zaitun sebanyak 1 sdm, mentega dan margarin sebanyak 0,5-1 sdt yang dicampur ke makanan. Awalnya saya kaget kok anak bisa dikasih makanan berminyak? Emang enggak akan kolesterol? Heheu. Ternyata anak butuh lemak untuk otak dan melancarkan metabolisme.

Tekstur
Anak usia 6 bulan harus dikasih bubur lumat yang lama kelamaan naik jadi bubur lunak.
Anak usia 9 bulan mulai kenal dengan nasi tim, finger food, cincang. Jadi, dokter Florencia enggak setuju ya kalau ngasih finger food di usia 6 bulan karena anak belum bisa mengunyah dan takut tersedak.
Anak usia 12 bulan baru boleh ikut makan nasi dan lauk keluarga.

Porsi
Porsi anak 6 bulan yaitu 2-3 sdm.
Porsi anak 9 bulan yaitu 1/2 mangkok atau 125 cc.
Sedangkan porsi anak 12 bulan yaitu 1 mangkok atau 250 cc.

Komposisi
Idealnya, makanan anak harus mengandung 4 bintang + 3 tambahan dalam satu porsi.
1. Karbohidrat seperti nasi, kentang, jagung, mi, roti, pasta, oatmeal
2. Protein nabati yaitu tahu, tempe, kacang hijau/merah, tauge, kacang panjang, kacang polong, buncis, kacang panjang, jamur
3. Protein hewani yaitu sapi, ayam, ikan, udang, ati, otak, telur
4. Sayur seperti tomat wortel, sayuran hijau

Tambahannya bisa berupa lemak tambahan (seperti yang disebut di atas), air putih, dan buah-buahan. Sekadar tambahan untuk lemak tambahan, dokternya temen saya bilang kaldu dan unsalted butter (UB) lebih bagus dari extra virgin olive oil (evoo).

Frekuensi
Anak 6 bulan bisa dikasih 2 makanan utama + 1 selingan
Anak 9 bulan bisa dikasih 3 makanan utama + 1-2 kali selingan

Kalau resep mah tinggal browsing ya, banyak kok ibu-ibu yang rajin posting resep makanannya. Hehe.

Nah, hari Minggu pagi, saya konsultasi ke Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Jawa Barat (AIMI Jabar) di Taman Balai Kota Bandung. Saya mengemukakan ilmu yang saya dapat ke salah satu konselor bernama Mba Yani. Dia setuju dengan kata dokter Florencia.

Saya juga mengemukakan tentang kebingungan karena dapat informasi kalau anak harus makan bubur dulu di usia 6 bulan, tidak boleh makan sayur karena takut sembelit, dan belum boleh makan daging. Kata Mba Yani, kalau anak hanya boleh makan bubur itu penelitian lama. Setelah diteliti lagi, ternyata anak bisa kekurangan zat besi.

Walau sempat bingung dan banyak ditentang enggak boleh ini itu, saya tetap mengenalkan Elora berbagai makanan dari ubi, kentang, brokoli, tahu, tempe, jagung, buah naga, dan lainnya. Saya percaya dokter Florencia yang masih muda itu ilmunya lebih update. Hahaha. Setelah konsul dengan AIMI Jabar, saya jadi semakin yakin kalau anak usia 6 bulan boleh dikasih makanan apa saja asal teksturnya lumat. Bahkan daging atau telur juga bisa. Tapi coba dulu bagian kuning telur, karena putih telur lebih menyebabkan alergi.

I'm not a perfect mother. Bubur instan yang berguna kalau malas dan kebangun siang. xD

Saya mau berbagi persiapan MPASI Elora yang sederhana. Saya enggak punya slow cooker, food processor, dan berbagai tempat makan, minum, atau sendok. Saya cuman punya rice cooker yang saya sudah miliki saat kost dulu, hand blender, dan satu set peralatan makan dari kado. Acuannya sederhana yaitu mengikuti orang tua zaman dulu yang enggak banyak gadget buat olah makanan. Hehe.

Fungsinya hanya mencacah, enggak halus banget. Kadang harus saya saring lagi.

Berguna untuk mengukus makanan.

Mba Yani bilang kalau anak usia 6 bulan itu ditekankan pada pengenalan dan pengalaman si anak makan. Jadi enggak usah sampai dicekok agar dia mau makan karena bisa trauma dan enggak mau makan nantinya. Nah, pas mba Yani bilang gitu, saya sempet agak bersalah nih karena paginya saya agak paksa Elora makan bubur kacang hijau karena mulutnya nutup. Hihi.

Oh ya, dokter Florencia juga menyarankan sebaiknya enggak usah kasih makanan fancy kayak chia seed atau muesli. Dia bilang, "Emangnya anak mau sampai gede makan itu? Nanti balik lagi ke makanan keluarga kok." Hahah, bener juga. Tapi kalau mampu menyajikan itu untuk anak sampai gede yawdasihya~ silakan.

Jadi, MPASI enggak memberatkan ya.. enggak usah bingung sama alat atau sama makanan mahal. Yang terpenting kebutuhan nutrisi anak terpenuhi. Mudah-mudahan nutrisinya terpenuhi dan jadi anak sehat!

Di sini ada ibu-ibu yang mau share pengalaman MPASI atau ada tantangan saat memberi MPASI? Tulis di komentar yuk!

Comments

Reyne Raea said…
KE PASAR!
itu sama dengan yang saya takuti hahaha.
Benci banget kalau ke pasar, gegara misua yang suka larang saya ke pasar, katanya dia gak suka liat saya ditipu orang, belanja di mahal-mahalin hanya karena saya ga bisa ngomong pakai bahasa Jawa hahaha.

Alhamdulillah si misua baik banget, mau gantiin tugas ke pasar, jadi saya cuman masak aja.

Setelah anak kedua saya lebih slow mengenai MPASI, meski teteeeeeppp juga gak ngasih anak makanan instan.
Bukannya idealis sih, cuman kalau lagi dirumah, rasanya sayang aja ngasih makanan instan.

Alhasil anak saya jadi gak suka terhadap semua macam bubur instan, rempongnyaaaa kalau diajak traveling hiks. (eh jadi curcol, heheh)
Nia Janiar said…
Wogh, suaminya keren sekalii mau gantiin ke pasar! Hihi. Iya, yang instan berguna banget kalo lagi traveling yaa..

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas