Menggendong Bayi alias Babywearing Juga Ada Ilmunya!

Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan pekerjaan baru yaitu ngurus media sosial sebuah produsen baby carrier alias gendongan bayi. Gendongan ini buatan Bandung tapi kualitas sangat baik dan design-nya keren sehingga saya tertarik untuk membuat konten media sosialnya. Selain itu, faktor lain yang membuat saya tertarik adalah saya seorang babywearer aktif karena tidak punya pengasuh dan sebagai orang tua baru yang tertarik dengan ilmu parenting.

Setelah proses seleksi, akhirnya saya ketemu dengan pemilik brand baby carrier tersebut, saya jadi tercerahkan banyak hal dalam dunia gendong menggendong. Ternyata, sama seperti menyusui, menggendong pun ada ilmunya bok! Menggendong bayi tidak bisa asal karena bisa-bisa perkembangan pangkal paha si kecil tidak normal (hip dysplasia).

Babywearing punya banyak komunitas di daerah seperti Medan Babywearers atau Bandung Babywearers, ada juga komunitas nasional seperti Nusantara Menggendong, Indonesian Babywearers, dan Ayah Gendong Indonesia. Beberapa komunitas juga sampai ada yang sosialisasi ke puskesmas untuk edukasi cara gendong yang benar. Wogh!

Oke, saya mau bagikan ilmu yang saya dapat setelah baca buku ini dan pengalaman saya seminggu berkenalan dengan topik ini.

Buku yang bagus, wajib baca.

Pertama, saya mau ceritain sejarah babywearing secara singkat. Jadi, orang zaman dulu banget tuh udah suka gendong anak dengan alat bantu yang terbuat dari akar tanaman atau kulit binatang. Apalagi hidup mereka nomaden, jadi alat seperti ini membantu sekali. Bahkan seorang arkeolog Taiwan pernah menemukan fosil manusia dengan alat gendong.

Sayangnya aktivitas gendongan ini sempat pudar di tahun 1700-an karena Ratu Victoria bikin pram alias stroller alias kereta dorong. Pram ini tren sekali sehingga banyak kereta dorong yang memenuhi taman kota. Gendongan baru muncul lagi pada tahun 1960-an karena ada seorang relawan Amerika yang menggendong anaknya karena terinpirasi oleh perempuan Afrika Barat.

Cara menggendong yang benar
Setelah baca buku, saya jadi tahu bahwa kebiasaan menggendong anak secara horizontal (craddle position) itu tidak baik. Wah, cara gendong ini nih yang sering saya temui di masyarakat. Bayi yang baru lahir memiliki tulang punggunya belum kuat, sehingga kepalanya bisa menunduk ke dada dan menghambat jalan nafasnya.

Cara menggendong yang benar itu adalah anak digendong dengan posisi vertikal dengan kaki berbentuk huruf M (M-shape). Tentu bayi yang baru lahir kakinya tidak bisa terbuka lebar. Maka, kakinya akan menekuk dan punggungnya melengkung membentuk huruf C (C-shape).

posisi bayi saat digendong dengan benar
Posisi bayi saat digendong dengan benar

Syukurnya, waktu Elora masih berusia 17 hari, saya sudah menggendong ala kangguru ini, walaupun saat itu saya belum tahu banyak teorinya. Gendongan yang dipakai adalah stretch wrap.



Di usia yang sudah besar, bayi justru harus mengangkang seperti kodok. Tapi jangan terlalu mengangkang karena nanti overspread. Pilih gendongan yang punya penampang cukup lebar, from knee to knee. Penampang yang kecil bisa bikin gangguan pada pangkal paha bayi, seperti di gambar ini:


Cara menggendong benar yang lainnya adalah bayi bisa digendong di depan atau belakang dengan posisi keduanya menghadap penggendong. Nah, ini nih kesalahan yang saya lakukan. Elora sering digendong di depan menghadap ke jalan agar dia bisa melihat apa yang orang tuanya lihat. Padahal itu salah karena kaki anak jadi tidak M-shape dan ada tekanan di bagian punggung yang bikin anak tidak bisa ke bentuk normalnya yaitu C. Lagipula, anak bisa melihat sekeliling sambil berada di dekapan orang tuanya kok.

Elora memang lucu, tapi plis jangan ditiru posisi gendongnya. xD

Lalu baby carrier yang benar itu apa?
Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya sering melihat ibu-ibu di puskesmas masih salah cara menggendong anaknya. Banyak ibu-ibu yang pakai jarit atau gendongan bayi samping dan menggendong dalam posisi horizontal.

Tapi bagi bayi yang memiliki gangguan jantung sehingga jantungnya tidak boleh ada tekanan, maka hindari posisi vertikal, gendong anak dengan posisi horizontal.

Kalau nanya jenis gendongan itu apa saja, wah, banyak banget! Ada stretchy wrap, jarit, ring sling, woven wrap, bei dai/meh dai, soft structured carrier (SSC), hingga pouch. Cara pakainya juga macem-macem. Saya enggak hapal. Semuanya itu gendongan yang benar dan ergonomis sekali untuk dipakai posisi M-shape.

Gendongan yang pernah saya coba, searah jarum jam: pouch, jarit, dan stretchy wrap.

Saya kayaknya salah beli gendongan baru-baru ini nih. Mulanya saya beli hipseat karena bagian pinggang bisa dilepas dan bisa dipakai buat duduk si anak yang makin berat. Ternyata, setelah baca-baca, hipseat tidak mendukung posisi M-shape. Setelah coba SSC, jadi terlihat perbandingannya dengan hipseat yaitu pantat anak lebih datar dan tidak melengkung membentuk huruf M.

Zzzz.. mana mahal waktu itu belinya. Huhu.

Nah, SSC yang saya coba adalah produk yang saya garap kotennya ini. Ternyata pas dicoba lebih ringan, lebih ringkas dibawa, dan anak kayaknya lebih nyaman. Suami juga merasakan hal yang sama. Huhu, jadi pengen beli. Kenapa saya baru tau sekarang yah? #bukaniklan

Tapitapitapi, SSC ini baru bisa dipakai saat anak usia 6 bulan dengan BB kurang lebih 7 kg. Untuk bayi di bawah itu, bisa pakai jenis gendongan lain yang saya sebutin di atas.

Pakai SSC. Btw, kalau difotoin suami suka blur dan over exposure gitu. Heu.

Mitos tentang menggendong
Saya sering gendong saat Elora kecil (well, sampai sekarang juga sih). Alasannya karena tidak ada yang bantu saya di rumah, sehingga Elora tidak bisa ditinggal di kamar sendirian. Maka, jalan satu-satunya adalah ia dibawa beraktivitas bersama saya.

Aktivitas ini bikin orang beranggapan bahwa anak akan bau tangan. Karena dianggap agar tidak bau tangan, banyak orang tua taruh anak di kereta dorong atau ditinggalkan sendirian di boks. Padahal, gendong anak banyak manfaatnya.

1. Anak jadi belajar ritme orang tua seperti berjalan, maka sistem vestibular yang mengatur keseimbangan akan berkembang, melatih motorik, dan koordinasi. Jadi, anak yang digendong tidak akan mengalami lambatnya perkembangan motorik.
2. Ikatan ibu dan anak lebih kuat.
3. Anak tidak cengeng karena tahu orang tua ada di sisinya.
4. Anak merasa aman, sehingga ia bisa lebih percaya diri. Anak yang percaya diri akan lebih mandiri kelak.
5. Gendong anak bantu ibu mengatasi post partum disorder.
6. Menggendong membantu bayi yang baru lahir beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Perlu diingat bahwa jenis gendongan yang terbaik itu enggak ada ya. Gendongan terbaik adalah kita sebagai penggendongnya. :)

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk calon ibu atau ibu baru seperti saya yang kurang pengetahuan. Saya juga apresiasi pada ibu-ibu lain, terutama anggota komunitas babywearer yang sudah lama menggali ini, karena pengetahuannya selalu diperbarui. Salute!

Comments

Tira Soekardi said…
wah malah abru tahu aku

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?