Review Cinta Tak Ada Mati

Setelah sekian lama enggak baca buku, akhirnya saya menuntaskan sebuah buku. Maklum, semenjak punya anak, waktu me-time yang sedikit itu rebutan buat antara kerja, beresin rumah, ngopi, baca, atau scrolling media sosial. Yang terakhir itu sih yang paling sering dilakuin. Huhu.

Anyways, saya baca bukunya Eka Kurniawan yang berjudul Cinta Tak Ada Mati. Sebelumnya, saya ucapkan selamat pada penulis kesukaan saya ini karena telah menang penghargaan Prince Claus 2018. Hore!

Cnta Tak Ada Mati karya Eka Kurniawan. Dok. pribadi.


Cinta Tak Ada Mati adalah kumpulan 13 cerita pendek (cerpen) yang, menurut saya, memiliki tema yang gelap. Hampir semua ceritanya membuat saya tercekat dan seperti habis menelan pil pahit. Sepertinya memang gayanya Eka seperti ini. Ia bukan penulis yang menulis cerita yang ceria, ringan, dan warna-warni. Kalaupun lucu, biasanya membuat saya tertawa ironis. Hehe.

Saya mau bahas beberapa cerpennya.

Cerita Cinta Tak Ada Mati bercerita tentang Mardio yang jatuh cinta dengan seorang perempuan bernama Melatie sampai akhir hidup perempuan tersebut. Saking terobsesinya, ia melakukan hal-hal yang "gila", termasuk menguntit suami Melati di usia yang senja. Mardio juga melakukan perbuatan yang di luar kewajaran pada ending ceritanya. Kamu harus baca!

Cerpen selanjutnya adalah Mata Gelap. Bisa dibilang ini adalah cerpen favorit saya di buku ini. Mata Gelap bercerita tentang seseorang yang matanya dicongkel karena telah menjadi saksi huru hara politik. Walau sudah dicongkel, ia tetap dicurgai akan membocorkan informasi tersebut. Maka hidungnya, kupingnya, dan indera lainnya dipotong juga. Sampai akhirnya.. ah, baca aja deh. Endingnya juga keren!

Ada cerpen Penjaga Malam dan Caronang yang berkisah para tokoh yang mati karena sebuah makhluk mitos, ada cerpen Bau Busuk yang berkisah tentang masyarakat yang terbiasa dengan bau mayat orang-orang yang dianggap komunis di sekitarnya, dan cerpen Jimat Sero yang bercerita tentang tokoh yang merelakan orang yang dicintainya akan hausnya terhadap darah.

Meski temanya tidak cerah ceria, buku ini mudah dikonsumsi kok. Eka bukan tipe penulis yang gaya penulisannya penuh dengan bunga-bunga atau majas yang bikin bingung (kecuali novel O yang usaha banget bacanya). Buku ini enggak akan buang-buang waktu kita sebagai pembaca. Hehe. Buku ini wajib baca. :)

Comments

Ina said…
Salah satu penulis kesukaanku, pengen punya bukunya, aku suka puisi2nya Eka jg
Nia Janiar said…
Wah aku baru tahu kalau Eka bikin puisi..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pasang IUD di Puskesmas