Ibu Kerja dari Rumah: Realita dan Tips

Jauh sebelum menikah, saya udah bercita-cita pengen kerja dari rumah. Pertama, saya ingin rawat sendiri anak saya. Saya enggak mau dia dirawat orang lain terus menjadi sosok yang enggak saya kenal gitu, karena pola asuh enggak sesuai. Hehe.

Tapi saya sempet pengeenn banget kerja kantoran setelah lahiran, karena kerja di rumah kayaknya enggak prestisius dan enggak bisa pamer "saya kerja di media A lho!", dianggap dekil dan nganggur padahal banyak banget yang harus dikerjain dan enggak bisa bersosialisasi.

Lalu mood mulai berubah saat Elora mulai MPASI. Saya masak sendiri sehingga saya kontrol penuh asupan makanannya dan menjamin dia dapet yang terbaik. Kalau orang bilang dia makannya lahap, makanannya bergizi, dan sehat.. itu saya bangga dan merasa berprestasi gitu. xD

Nah, di fase inilah saya mulai inget keinginan saya untuk kerja di rumah. At least 1000 hari pertama kehidupan anak, saya harus urus maksimal; agar ini anak pinter, sehat, dan gak stunting. Hehe. Saya seolah-olah lagi "investasi" untuk masa depannya. Mungkin kalau Elora sudah lewat 1000 hari pertamanya, saya mau/bisa kerja kantoran lagi. Mungkin.

Kedua, saya ingin pelihara anjing. Dari dulu saya udah ngebayangin saya kerja, nulis di depan laptop, sambil mengawasi anak main di ruang keluarga, dan anjing main dengan riang di halaman rumah. Hihi. Kayaknya hidup selow banget. Semoga tercapai.

Sleep time is the best time.


Jadi, setelah 9 bulan kerja dari rumah pada dua perusahaan yang berbeda, saya mau berbagi pengalaman dan tipsnya untuk calon ibu yang memutuskan mau kerja dari rumah setelah lahiran:

1. Sediakan tempat kerja
Sekarang saya masih tinggal sama keluarga, jadi ruang personal saya hanya kamar. Di ruangan lain, lantainya kotor sekali dan tidak mungkin untuk dipakai merangkak. Rumah ini udah jadi ruang publik karena ada yang kost, bimbel, dan restoran. Jadi sangat enggak mungkin saya kerja di ruang keluarga dan Elora merangkak di situ.

Ini membuat saya kerja di kamar. Kamarnya juga kecil, sehingga tidak memungkinkan ada meja. Saya selalu ngetik di atas tempat tidur. Secara teori, harusnya enggak boleh kerja di atas tempat tidur karena tempat tidur itu tempat istirahat, bukan tempat kerja. Jadi, mood saya enggak terbangun.

TIPS: Sediakan work space, sekecil apapun (walau hanya terdiri satu meja laptop dan kursi), di ujung ruangan. Ini bisa berguna agar pikiran kita pindah ke mode bekerja. Kalau kerja di tempat tidur akan terganggu karena banyak bersentuhan dengan anak karena dia suka mukul-mukul laptop.

Atau masukkin dalam boks, kasih tonton kartun di YouTube. Haha. Ini banyak menuai kontroversi. Temen-temen saya kasihan karena kok dia kayak yang dikurung. Sorry I'm not a perfect mother. :D

2. Pilih waktu terbaik untuk kerja
Ternyata kerja dari rumah itu susah sekali untuk konsentrasi karena dikit-dikit terdistraksi harus bikin MPASI, harus ajak main karena anak juga punya kebutuhan untuk dihibur, belum suara tawa dan tangisan anak bikin pikiran kebelah-belah. Arghh~

TIPS: Saya mengakali dengan kerja malem yaitu saat Elora tidur panjang, yaitu jam 7 sampe jam 12 malem. Kerja kreatif kayak nulis itu bener-bener butuh suasana yang sepii banget.

3. Bagi tugas sama partner atau orang rumah
Kerja dari rumah mau enggak mau bakal kepotong kayak mandiin, ganti popok, bikin makanan. Saat enak-enak nulis, Elora nangis. Belum nangisnya berkelanjutan dan jadi rewel seharian, duh rasanya pusing banget karena mikirin deadline.

Multitasking itu sebenernya enggak bagus karena sebenernya kita jauhh dari produktif. Multitasking juga bisa mencederai otak lho. Agak serius dikit ya, penelitian Universitas Sussex nunjukkin kalo orang yang multitask memiliki kepadatan yang kurang di area anterior cingulate cortex, yang bertangung jawab untuk empati, kognisi, dan kontrol emosi.

TIPS: Beruntung suami saya juga kerja di rumah. Jadi kami bagi tugas. Dia bertugas mandiin, ganti popok juga gantian. Makanan semua saya siapin di pagi hari, jadi siang dan sore tinggal diangetin aja. Walau kadang suami istri yang dua-duanya kerja di rumah bikin cepet konflik karena saling ngejar deadline dan bosen juga ketemu terus. Wkwk.

Setiap orang punya realita dan tips tersendiri pastinya, karena kondisi rumah dan keluarganya juga berbeda. Kalau cerita kamu bagaimana? Ada tips yang bisa dibagi?

Comments

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas