8 Cara Mengatasi Anak Demam

Sepertinya cara mengatasi anak demam itu hal yang patut diketahui oleh semua orang tua baru kayak saya. Demam bisa jadi berbahaya kalau dibiarkan atau ditangani dengan salah. Apalagi kalau demamnya sudah mencapai lebih dari 39,5 derajat, itu harus diopname.

Elora pernah demam, tapi hanya beberapa jam saja. Itu juga setelah imunisasi. Nah, kemarin ia demam padahal enggak ada flu dan enggak imunisasi. Selama tiga hari, suhu badannya naik turun, selalu di atas 38 derajat, bahkan Elora sempat termasuk anak panas tinggi 39 derajat. Kata dokter spesialis anak, kalau udah 3 hari masih demam, ia harus cek darah.

Cara mengatasi demam pada anak di bawah 1 tahun

Dari pengalaman menemani Elora panas selama berhari-hari, saya jadi tahu kira-kira apa yang harus orang tua lakukan saat anak demam:

1. Punya termometer

Cara mengatasi demam tinggi
Demam hari pertama

Setiap orang tua wajib punya termometer agar suhu yang diukur jelas, bukan dikira-kira "oh, kayaknya dia demam" atau "oh, kayaknya panasnya udah turun deh". Investasikan pada termometer yang baik, seperti termometer yang bisa menangkap suhu badan beberapa detik saja.

Kalau yang saya punya itu dari Omron, waktu yang diperlukan sekitar 2-3 menit. Lumayan repot kalau anaknya rewel karena merasa risih saat badannya ditempelin termometer.

2. Kompres jika diperlukan

Kompres pakai ByeBye Fever

Beberapa anak enggak suka dikompres, mereka merasa risih karena basah. Tapi kalau anaknya enggak masalah dikompres, silakan dilakukan ya! Cara menurunkan panas dengan kompres itu gunakan air hangat. Hindari mengompres suhu badan dengan air es. Kenapa? Karena nanti suhu badan akan naik sebagai bentuk perlawanan saat menerima suhu dingin. Jadi, kompres atau berendam di air hangat karena dapat membuka pori-pori sebagai jalan keluar panas tubuh.

Kalau saya kompres dengan ByeBye Fever. Nah, sebenernya enggak tau ini ngaruh atau enggak. Haha. Soalnya kayaknya suhu badannya dia enggak turun tuh.

3. Parasetamol

Beberapa orang tua ada yang suka pakai obat atau pakai cara tradisional. Kalau saya pakai keduanya itu saya balur dengan Minyak Kutus-Kutus dan balur pakai campuran minyak dan bawang. Selain itu, saya kasih obat untuk menghindari panasnya semakin tinggi dan anaknya step. Jadi, saya wajib memiliki parasetamol di rumah.

4. Skin-to-skin

Skin-to-skin pakai gendongan

Konon skin-to-skin dapat menurunkan demam pada bayi. Kenapa? Suhu panas dari badan anak akan mencari permukaan lain yang lebih dingin, yaitu kulit orang tuanya. Nah, ibu harus buka pakaian dalam dan pakaian luar, sedangkan anak pakai popok saja.

Kalau saya skin-to-skin sambil menggendong anak menggunakan gendongan stretchy wrap. Lumayan ini bisa bikin dia tidur. Kain gendongan juga bisa mencegah anak masuk angin. Jadi kalau anak rewel, menggendong sambil skin-to-skin bisa cara mengatasi demam di malam hari. Dijamin pules.

5. Banyak minum untuk cegah dehidrasi

ASI, ASIP, air putih, jus.. yang penting minum.

Ini lumayan bikin saya pusing. Elora lagi nursing strike alias mogok menyusui langsung sama payudara. Jadi, saya harus pompa. Tapi ternyata hasil pompa saya kurang memenuhi kebutuhan dia. Dia jadi nangis saat ASIPnya habis. Udah gitu, dia juga lagi banyak nolak minum air putih atau jus. Huhu.

Akhirnya saya beli susu formula agar ia bisa minum banyak. Mau ASI, mau sufor, terserah deh yang penting anak enggak dehidrasi dan sehat.

6.  Hubungi dokter jika demam berlanjut

Pepatah iklan obat yang bunyinya "hubungi dokter jika demam berlanjut" itu beneran lhoo. Saya ke dokter umum di puskesmas setelah demamnya dia enggak turun. Selain konsultasi, saya juga mau minta cek darah dan minta surat rujukan ke dokter anak.

Ternyata puskesmas baru akan melakukan cek darah setelah 5 hari demam. Selain itu, mereka juga kasih antibiotik dan surat rujukan baru akan dikasih kalau anak masih demam meski sudah diobati. Yawis, saya berdoa saja supaya demam dia pulih.

7. Cari second opinion jika perlu

Nah, bagian ini agak spesial karena saya punya sepupu yang berprofesi dokter spesialis. Sayangnya dia tinggal jauh dari rumah, sehingga ia baru bisa melakukan pemeriksaan saat Elora demam di hari ketiga.

Elora dibaringkan dan dicek mulutnya. Setelah dibuka dan disenter, terlihat kalau tenggorokannya merah. Jadi ia demam karena radang tenggorokan. Terus kan Elora diare juga, terus sepupu saya bilang bisa jadi bakteri dari tenggorokannya udah turun ke bawah sehingga ia diare. Akhirnya Elora dikasih resep antibiotik dan Lacto-B.

Btw, Elora sempat didiagnosis gusi bengkak sehingga menyebabkan ia mogok menyusui. Mulanya saya berpikir demma itu akibat gigi mau tumbuh atau gusi bengkak. Kalo kata dokter, itu tuh mitos. Sama dengan mitos lain kalau anak demam tandanya mau pinter atau mau bisa sesuatu.

8. Antibiotik

Kayaknya banyak orang tua yang lumayan cukup keras menghindar antibiotik. Alasannya, demam itu adalah reaksi alami anak melawan virus/bakteri, sehingga sebaiknya dibiarkan saja. Kalau saya engga kontra antibiotik, terutama kalau anak demam sudah berhari-hari atau memang ada virus yang enggak bisa didiamkan begitu saja, seperti saat Elora kena disentri. Jadi, ini pilihan orang tua yah!

Panasnya mulai turun

Akhirnya di hari ke-4, suhu tubuh Elora turun. Walau masih manja karena proses recovery, Elora udah aktif jalan. Alhamdulillah, enggak usah cek darah apalagi diopname segala.

Semoga cara mengatasi anak demam di atas bisa membantu para orang tua baru kayak saya yaa. Hihi. Kuncinya, jangan panik. Panik itu enggak akan membawa kita ke mana-mana karena anak juga jadi enggak nyaman lihat orang tuanya panik. Jadi, usahakan untuk selalu tetap tenang.

Comments

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pasang IUD di Puskesmas

Hi, Mucocele