Soejati, Saksi Sejarah Freemason di Bandung

by - June 18, 2019

Apa yang muncul di benak kamu jika mendengar kata "Freemason" atau "Illuminati"? Pasti terbayang teori konspirasi yang menarik dan penuh intrik. Rasanya seperti menggali sebuah organisasi rahasia yang berpengaruh pada dunia, yang terkadang belum tentu benar.

Akhir pekan lalu (16/6), saya bersama komunitas sejarah di Bandung, yaitu Komunitas Aleut, bertemu dengan Soejati. Beliau adalah eks sekretaris organisasi Freemason di Bandung kala itu. Hingga saat ini, ia masih menempati Hermes, atau rumah yang pernah jadi tempat berkumpul para anggota Freemason di Bandung.

Ibu Soejati, ditemui di rumahnya di Jl. Aceh, Bandung. Foto dok. pribadi.

Soejati sangat antusias menerima kedatangan kami yang mencapai 50 orang. Bahkan ia sempat menawari minum segala. Ia sempat menolak untuk duduk karena ia ingin ceritanya bisa didengar dengan baik oleh seluruh anggota Komunitas Aleut.

Di usianya yang menginjak 91 tahun, kemampuan bicara dan mengingat Soejati sangat baik. Ia bercerita bahwa hanya orang-orang yang terpelajar yang bisa masuk Freemasonry. "Setidaknya bisa bahasa Inggris dan Belanda. Kalau bisa bahasa Perancis akan lebih baik lagi," katanya.

Soejati menjelaskan bahwa Freemasonry itu memiliki arti "tukang batu yang bebas". Artinya semua orang bisa bergabung, tidak terikat agama, suku, dan bangsa. Apalagi untuk agama Hindu dan Buddha, karena pelajarannya hampir sejajar.

Anggota Freemasonry saat itu adalah orang-orang Belanda dan pribumi yang berkontribusi membangun konstitusi negara, salah satunya doktor Radjiman Wedyodiningrat. Seorang penulis lagu nasional dan gubernur Jawa Barat R. Mas Sewaka juga pernah jadi anggota Freemason.

Ajaran Freemasonry
Banyak masyarakat menganggap Freemason adalah ajaran yang menyembah setan. Soejati menampik keras hal tersebut. "Enggak ada itu menyembah setan, menyembah benda saja enggak ada," tegasnya.

Bahkan, ajarannya tidak menghindari agama. Setiap anggota harus bisa menjaga keyakinannya sendiri-sendiri. Kalau sedang berkegiatan tetapi sudah waktunya salat, ya anggotanya akan salat. Bahkan anggota Freemason juga merayakan lebaran.

Menurut Soejati, ajaran Freemason bertujuan untuk mengerti hidup dan menghargai orang lain. Bahkan juga ditekankan bahwa semua orang adalah saudara dan pentingnya saling tolong menolong. "Tapi kalau di kelas dan bantu teman sebangku seperti mencontek itu bukan tolong menolong," ujar canda mantan guru SMAN 3 ini.

Orang-orang Freemason juga percaya bahwa kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan sudah ada yang mengatur. "Ya, kalau di agama namanya Tuhan," katanya.

Ajaran-ajaran seperti ini dulunya tidak boleh diketahui oleh orang lain selain anggota. Namun karena organisasinya sudah bubar, Soejati tidak keberatan memaparkan hal tersebut.

Soejati juga pernah menawarkan para mahasiswa untuk bergabung dengan organisasi Freemason. Tetapi tidak ada mahasiswa yang tertarik, sehingga lama kelamaan Freemason minim peminatnya. Jumlah anggota terakhir hanya belasan orang.

Selain ajarannya berguna untuk mengenal diri sendiri para anggotanya, Freemason berkontribusi membangun sekolah, perpustakaan, hingga membiayai beasiswa. Bahkan salah satu tokoh nasional yang pernah mendapatkan beasiswa ke Belanda yaitu Muhammad Hatta, namun hal ini ditolak oleh Hatta.

Ritual Freemansory
Sebelum melakukan ritual, anggota akan membersihkan ruangan dengan dupa. Hal ini berguna untuk mengusir energi negatif agar lebih tenang. Selain itu, keadaan juga harus sunyi supaya bisa meditasi.

Para anggota melakukan ritual setiap hari dengan kalimat-kalimat tertentu, kadang menggunakan bahasa Belanda atau Inggris. Termasuk jika ada anggota baru, maka akan dilakukan ritual pembaptisan. Jika ada yang naik pangkat, maka akan ada ritual naik pangkat.

Pangkat paling tinggi adalah 32. Untuk bisa naik pangkat, seseorang harus membuat karya tulis dan melakukan penelitian. Soejati bercerita bahwa suaminya mencapai pangkat 17 sedangkan ia di bawahnya. Pangkat itu juga menentukan posisi di Freemasonry. Misalnya, untuk menjabat posisi sekretaris, harus memiliki sekian pangkat.

Jejak Freemason di Bandung
Freemason masuk ke Hindia Belanda karena salah satu pejabat VOC adalah anggota Freemasonry. Soejati juga menambahkan bahwa JP Coen adalah salah satu anggotanya. Loji pertamanya ada di tempat yang kini menjadi Gedung BAPPENAS, Jakarta.

Freemason baru masuk ke Bandung 100 tahun kemudian karena saat itu Bandung masih berupa hutan belantara. Saat itu Freemason masih berupa komunitas. Organisasi ini tidak punya gedung dan menumpang, salah satunya menumpang di Kweekschool atau kini Polrestabes Bandung.

Mulanya adalah Kweekschool atau sekolah guru di Bandung. Foto dok. pribadi.

Freemason sempat vakum selama 10 tahun, lalu berdiri lagi membangun Loji Sint Jan pada 1896 yang kini jadi Masjid Al-Ukhuwah. Loji Sint Jan merupakan loji ke-13 di Hindia Belanda dan berisi orang Eropa terpandang di Bandung seperti Bosscha, pemilik toko De Vries, dan Schoemaker. Dana  membangun gedung berasal dari sumbangan, iuran, lotre, atau judi.

Masyarakat banyak yang salah sebut "Sint Jan" jadi "setan". Selain itu, orang-orang setempat juga merasa asing dan takut mendengar lantunan kata-kata yang terdengar seperti mantra. Jangankan masuk, mengintip dari balik pagar saja sudah takut.

Menurut pandangan pribadi saya, mungkin sekarang sama saja seperti orang Katolik yang berdoa sambil bernyanyi di gereja. Bahkan dzikir yang diucapkan dengan cepat dan berulang-ulang pun terdengar seperti nyanyian.

Anggapan terjadinya ritual setan membuat orang ngeri melihatnya. Foto ayobandung.com


Masjid Al-Ukhuwah menempati lahan yang merupakan eks Loji Sint Jan. Foto dok. pribadi.

Mereka banyak menyorot isu sosial dan menempati bangunan untuk melakukan aktivitas sosial, salah satunya membangun Frobelschool atau sekolah anak-anak, yang kini berkembang jadi taman kanak-kanak. Nama Froblelschool diambil dari seorang praktisi Jerman.

Mulanya Frobelschool berdiri di daerah alun-alun Bandung dan memiliki 13 orang siswa. Sekolah tersebut dipindahkan ke tempat yang kini dijadikan Museum Kota Bandung pada 1900, dengan syarat harus dijadikan sekolah dan perpustakaan.

Perpustakaan buatan Freemason pernah digunakan oleh teman-teman Soekarno saat presiden pertama Indonesia ditahan di Penjara Banceuy. Buku-buku tersebut menjadi referensi Soekarno untuk menyelesaikan pledoi "Indonesia Menggugat".

Pada 1907, muncul sekolah dari Katolik-Roma yang menjadi saingan mereka. Sekolah milik Freemason hampir tutup setahun kemudian. Pemerintah saat itu memberikan sumbangan dengan syarat bumiputra boleh sekolah di sana. Kemudian jam sekolah anak Belanda dan bumiputra dipisahkan yaitu pagi dan siang. Inilah awal mula muncul konsep sekolah pagi dan siang hingga sekarang.

Sekolah Freemason berkembang pada 1920. Jumlah siswanya mencapai 192 orang. Bahkan sebuah brosur menyebutkan mencapai 300 orang. Sayangnya, kedatangan Jepang membuat orang-orang Freemason ditangkap dan sekolahnya jadi terbengkalai.

Saya merasa bangga bisa bertemu dengan Soejati, saksi hidup jejak Freemason di Bandung. Kini yang tersisa hanya beliau (dan kalau tidak dengan salah satu pemilik hotel tua di Bandung), jadi ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Selain Freemason, banyak organisasi yang menganut okultisme seperti Teosofi dan Gereja Katolik Bebas di Bandung yang sebenarnya dibahas juga pada sesi kemarin. Tapi agar fokus pada satu organisasi, mungkin akan dibuat tulisan dengan tema lainnya lagi.



----------------------

Catatan penulis:
1. Rumah Hermes kini dikenal sebagai "rumah kentang". Warga Bandung akan tahu karena banyak cerita mistis di sini. Padahal, aroma kentang yang muncul bukan karena setan, tetapi perpaduan aroma tanaman yang ditanam di situ. Jadi, hentikan memistis-mistiskan rumah bersejarah hingga hilang nilai sejarahnya.

2. Keterbukaan Soejati terhadap kedatangan Komunitas Aleut adalah bisa jadi komunitas ini sudah beberapa kali ke sana. Selain itu, pengurus komunitas ini juga sudah akrab dengan Soejati. Jadi, hindari untuk datang atau foto-foto tanpa izin.

3. Rumah Hermes sedang dalam proses sita karena pengurusnya mendelegasikan surat kuasa pada Amir L. Yahya. Dampaknya, Soejati diusir dari rumah tersebut. Menurut Soejati, surat kuasa tersebut seharusnya sudah tidak berlaku karena pengurus yang mendelegasikannya sudah meninggal. Kasusnya sudah pernah diliput oleh Tribun News.

4. Jika Anda adalah tukang plintir yang gemar membuat teori konspirasi dan cocoklogi, jangan gunakan materi ini. Kisah Soejati diceritakan kembali agar orang-orang tahu sejarah yang sebenarnya, tanpa bumbu-bumbu yang mengundang clickbait.

You May Also Like

5 comments

  1. Keren mb tulisannya, jadi lebih paham sejarahnya...

    ReplyDelete
  2. makasih sahringnay menambah wawasan

    ReplyDelete
  3. Terimakasih mba artikelnya, pengetahuan saya jadi bertambah,.

    ReplyDelete
  4. Saya yang orang Bandung aja ga tau kalau masih ada saksi sejarah Freemason di Bandung, dan saya baru tau kalau beberapa mesjid adalah bekas loji2 mereka.

    Mengenai ajaran freemason ini juga saya cukup tertarik. Tertarik karena tertutupnya, cuma ya saya ga bisa komentar terlalu banyak karena nanti takut disangka cocoklogi, haha.. Saya juga nggak tau seberapa terbukanya Soejati di sini.

    anyway, ini artikel yang sangat menambah wawasan, terima kasih sudah berbagi :)

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.