Ibu Baru, Lanjut Kerja atau Resign?

by - August 28, 2019

Setiap ibu yang bekerja di kantor kemudian melahirkan dan memiliki anak, biasanya muncul pertimbangan meneruskan kerja atau resign. Resign bisa macam-macam seperti mengurus anak secara penuh atau menjalankan bisnis seperti jualan, jadi reseller, menawarkan jasa, buka usaha binatu, dan lainnya.

Salah satu manfaat bekerja dari rumah, bisa jalan sore sama anak.

Setelah melahirkan, saya memutuskan untuk bekerja dari rumah alias remote worker alias freelance. Saya mau membagikan kelebihan dan kekurangan kerja dari rumah, supaya bisa jadi bahan pertimbangan para ibu baru yang lagi bingung.

Dulu, saya bekerja di kantor sebagai seorang wartawan. Saya memiliki kemampuan menulis. Jauh sebelum punya anak, saya bercita-cita ingin kerja dari rumah, karena saya enggak percaya anak saya diurus oleh orang lain dan saya enggak mau kena pola asuh yang salah.

Selain itu juga kerja di rumah dan pelihara anjing. Lalu lihat anak main sama anjing, di depan laptop, sambil menyesap kopi. Hehe.

Semakin dekat ke hari perkiraan lahir, keputusan saya untuk resign semakin bulat karena saya tidak memiliki keluarga di Jakarta yang bisa bantu mengawasi anak saya. Gaji saya juga enggak besar-besar amat saat itu, sehingga saya enggak bisa titip anak di daycare yang bagus. Apalagi saya juga harus keluar biaya ngekos. Jadinya, saya memutuskan untuk resign saja.

Jadi, selama hampir dua tahun kerja dari rumah sebagai penulis, beginilah kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan.

Kelebihan kerja dari rumah:
1. Bisa memantau perkembangan anak. Hal yang saya banggakan adalah saya memegang kendali penuh atas MPASI yang saya kasih. Hasilnya, Elora termasuk anak yang doyan makan dan dia enggak susah makan sayur. Banyak orang yang mengapresiasi motivasi makan Elora yang bagus.

Saya berpikir kalau fase anak-anak itu hanya terlewati satu kali. Kalau saya enggak hadir di rumah terus perkembangan anak enggak maksimal/sakit, wah saya akan menyesal seumur hidup. Menurut saya, kesehatan anak itu kayak investasi jangka panjang. Keadaan dia sekarang akan berdampak pada masa depannya.

2. Waktu lebih fleksibel (ini bisa jadi kekurangan, tapi saya bahas nanti ya). Misal, kalau Elora imunisasi di puskesmas atau ibu saya harus kontrol ke rumah sakit, saya bisa anter dan jaga tanpa repot izin ke orang lain. Hanya konsekuensinya pekerjaan dan molor dan harus dikerjakan di malam hari.

3. Kalau mendapatkan klien yang tepat dan kerjaan yang banyak, penghasilan jauh lebih besar dari kerja kantoran dalam satu bulan.

4. Saya bisa liburan tanpa nunggu weekend. Liburan di low season artinya harga lebih murah dan tiket banyak tersedia.

5. Hemat uang lebih banyak dan bisa menabung. Enggak keluar ongkos, enggak keluar biaya hang out.

Kekurangan kerja dari rumah:
1. Mengalami post power syndrome. Kalau dulu orang melihat "Wah, Nia kerja sebagai wartawan ya, di media yang besar pula!" Nah, dipuji gitu bikin bangga juga. Saya jadi punya status gitu di masyarakat. Sekarang orang melihat "Ooh, di rumah doang nih? Ongkang-ongkang kaki dong ya? Enak dong tinggal minta dari suami." Saya jadi merasa enggak punya apa-apa.

Kenyataan yang harus diapresiasi oleh diri sendiri adalah malah saya lebih sibuk daripada saat saya kerja kantoran dulu. Bisa dibilang cukup berhasil sebagai pekerja remote. Jadi harusnya enggak usah minder ya. :)

2. Waktu yang fleksibel ini artinya adalah kerja di saat weekend, saat lebaran, saat tengah malam, daan saat-saat yang harusnya saya bisa istirahat. Hehe.

3. Yes, penghasilan tidak tentu. Kadang rendah banget, kadang tinggi banget. Terus karena tidak tentunya penghasilan, susah kalau mau cicil rumah. Takut enggak bisa bayar bulanan, dan susah ngajuin kreditnya. Tapii, sepertinya bisa diakali dengan investasi. :)

4. Kerja akan lebih banyak di rumah, jadinya kesempatan ketemu temen-temen semakin kecil. Kadang rasanya kesepiaan banget. Beda dengan kantoran yang kita bisa ketemu temen setiap hari.

5. Kadang beban kerja di rumah lebih susah karena harus sambil ngasuh anak. Lebih enggak fokus karena anak menangis lapar, minta main, daan endebrey endebrey. Pikiran sering kebagi-bagi dan itu enggak enak.

Tentunya ibu memutuskan resign atau kerja dari rumah karena mempertimbangkan kondisi anak. Inginnya berada di dekat anak, tapi hanya mengandalkan satu pemasukan aja enggak bisa. Ibu ingin dekat anak, tapi ibu juga punya keinginan untuk aktualisasi diri.

Kalau kamu adalah ibu yang memutuskan untuk resign dan yakin punya skill atau usaha yang bisa dijual, saran saya hanya satu: harus berani keluar dari zona nyaman. Dunia di luar kantor itu sangat naik dan turun, sangat nggak menentu, kadang menguras air mata dan mungkin timbul sesal.

Tapi, kalau kamu merasakan hal tersebut, balik lagi pada alasan kenapa kamu resign, yaitu anak. Bener kata orang-orang, insyaallah rezeki akan selalu ada. Jujur aja, order pekerjaan saya hampir enggak pernah putus--malah kadang bertumpuk sampai pusing.

Semangat ya ibu-ibu pekerja di kantor dan pekerja dari rumah. Di manapun tempat kerja kamu, kamu hebat! Selain itu, tempat kerja tidak menentukan siapa dirimu. :)

You May Also Like

2 comments

  1. Aku pernah pas anak pertama kerjaan remote nya jualan online yg jarang ketemu orang. Akhirnya malah stres dan rendah diri. Terus juga terlalu idealis pd anak. Akhirnya berasa pas agak gedean, dia jadi perfeksionis hiks. Terus ga mau sama org lain, maunya sama Bundanya aja. Begitu anak kedua lebih slow. Anak dipegang pengasuh boleh, sm nenek boleh,hasilnya lbh fleksibel anknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya yah, ibunya enggak boleh terlalu idealis juga. Pastinya kudu ada kompromi. Noted, mba. Thank you!

      Delete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.