Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

My Thoughts on Coronavirus


Foto demi ilustrasi tulisan. Hehe.
Saat ini dunia lagi berduka karena virus corona lagi mewabah. Wuhan, kota pertama kali virus ini muncul, sekarang sudah bangkit lagi karena penduduknya sudah pada meninggal dan sembuh. Saking banyaknya yang terinfeksi, virus udah enggak punya tubuh baru yang ditulari lagi. Kini giliran negara-negara lain yang sedang berjuang, seperti Italia dan Perancis yang melakukan lockdown karena banyaknya orang yang terinfeksi.

Lalu bagaimana Indonesia? Phew. Negara ini terpontang-panting karena tidak ada persiapan mitigasi bencana non alam. Negara tidak di-lockdown karena pertimbangan ekonomi, tapi belum juga dilakukan test massal. Ditambah prosedur ke rumah sakit yang berbelit-belit, masyarakat diping-pong, dan rumah sakit enggak bisa muat banyak orang sehingga orang yang suspect harus pulang lagi ke rumah.

Ini sih yang bikin saya takut, karena merasa pemerintah enggak bisa memberikan keamanan. Selain itu, lambatnya kerja pemerintah bikin virus ini cepat nyebar tapi enggak terdeteksi dengan baik. Ibarat gunung es, kemungkinan ada banyak orang yang suspect atau positif, tapi kita enggak tahu jumlahnya.

Mulai melemahkan mental
Sejujurnya, wabah COVID-19 ini mulai mengenai mental saya. Saat saya berada di Bandung minggu lalu, berita di televisi kian memburuk. Rasanya saya ingin tetap di rumah bersama keluarga, namun sayangnya saya harus kembali ke Jakarta -- kota yang paling banyak orang positif Corona. Saya juga tahu bahwa saya enggak bisa pulang sesering mungkin karena saya enggak mau bawa virus yang mungkin saya dapatkan saat di mobil travel menuju rumah.

Jadi, kapan saya akan ketemu Elora? Dua minggu kemudian? Sebulan kemudian? Atau berbulan-bulan kemudian sampai pemerintah menyatakan aman?

Ingin rasanya egois, pulang aja gitu. Tapi menyadari bahwa tubuh ini bisa jadi pembawa virus dan menulari yang rentan, seperti ibu saya yang usianya 60+ dan memiliki penyakit hipertensi, rasanya enggak bisa.

Memikirkan itu membuat saya cemas dan panik, hingga sesak nafas. Suami saya mengingatkan bahwa saya enggak boleh stres karena ini bisa melemahkan tubuh. Jadi, saya harus positif dan siap mental.

Membayangkan skenario terburuk
Kekhawatiran lainnya adalah saya tinggal di rumah kosan 4 lantai. Di dalamnya terdapat banyak anak kos yang bisa membawa virus kapan saja. Jadi, lingkungannya sangat rentan sekali. Kalau ada yang positif di kosan, kemana saya harus pergi?

Apalagi banyak orang yang ingin Jakarta di-lockdown. Artinya, kita semua dilarang ke luar rumah. Apakah masyarakat tidak akan chaos dan panic buying? Kalau menurut UU, pemerintah harus memberikan makanan jika terjadi lockdown. Apakah pemerintah mampu melakukannya? Apakah saya akan kebagian makan?

Opsi work form home itu sama sekali enggak memberatkan, karena saya pernah melakukannya selama dua tahun. Tapi work from home sembari "terpenjara" di kamar kos 2x3 meter dan jauh dari keluarga itu berbeda.

So sorry if my thoughts makes you afraid. I know this kind of worry is just like a broken record. Almost everybody's complain about it. But I need to get it off my chest.

Tapi, kita harus beradaptasi
Sama seperti pada umumnya, saya cuci tangan, berbekal hand sanitizer saat sedang mobile seperti pulang kantor (FYI, kantor baru memberlakukan seminggu dua kali untuk work from home), makan buah dan sayur yang banyak, makan vitamin c, dan olahraga.

Selain yang banyak disarankan di atas, saya melakukan beberapa hal:

- Olahraga dengan jalan kaki ke kantor atau pulang kantor. Lumayan olahraga 30 menit. Ini juga jadi cara menghindari angkutan umum yang berdesak-desakkan atau sharing helm kalau pakai ojol.
- Sepulang kantor ganti baju dan langsung mandi (gak rebahan dulu di kasur!). Cuci baju yang dipakai ke luar. Jadi, enggak ada tuh namanya numpuk celana jeans dan tetep dipakai selama enggak bau. Hehe.
- Pakai tangga darurat daripada lift. Tangga darurat di kantor pintunya selalu terbuka, jadi mengurangi tertular lewat gagang pintu.
- Bawa mukena sendiri saat salat di musala. Sayangnya, lupa bawa sajadah sendiri. Wkkk!
- Bawa alat makan dan minum sendiri.
- Kalau nerima paket, lap paketnya pakai tisu antibakteri.
- Setelah kerja di kantor, laptop, mouse, dan meja dilap pakai tisu antibakteri.
- Enggak pegang-pegang hp pas di jalan supaya enggak kotor.

Untuk urusan Elora, saya percayakan pada suami saya. Dia tahu cara mencegahnya dengan baik. Dia juga bisa bantu mengawasi ibu saya. Semoga semua diberi kesehatan dan keselamatan.

Di tengah lingkungan yang penuh dengan risiko virus corona, pilihan satu-satunya hanya bergantung pada sistem imun yang ada di diri. Sedih enggak ketemu anak dan keluarga kayaknya emang kudu disingkirkan dulu.

We need to adapt. We have no choice.

Comments

  1. Stay safe, ya, Dear Nia, send you love and prayer...

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba