Pengalaman Ikut Rapid Test di Jawa Barat

by - April 20, 2020

Sudah satu bulan lebih, tapi penyakit Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda menurun. Yah, bagaimana kasusnya mau berkurang kalau belum ada obatnya dan orang masih jalan-jalan meski sudah disuruh physical distancing, PSBB, karantina di rumah, atau ikut rapid test di Jawa Barat.

rapid test Jawa Barat
Hanya bisa melihat anak dari tirai saat isolasi mandiri.

Pada akhir bulan Maret, saya memutuskan untuk pulang dari Jakarta agar tetap waras di tengah wabah. Ya, memang salah sih karena bisa menyebabkan penyebaran virus pada orang rumah (kalau saya terinfeksi). Sebagai bentuk tanggung jawab, saya melakukan serangkaian prosedur untuk meyakinkan bahwa saya sehat.

1. Sesampainya di Bandung, saya langsung masuk ke kamar yang terpisah alias isolasi mandiri selama 14 hari. Anak pun tidak tahu saya pulang. Satu-satunya orang yang berhubungan dengan saya hanya suami, itu juga sebatas mengantarkan makanan ke depan pintu.

2. Menggunakan peralatan makan sendiri, sesuai yang disarankan.

3. Lapor RT, RW, hingga kelurahan. Lalu pihak kelurahan lapor ke Puskesmas. Semenjak saat itu, pihak Puskesmas melakukan pengawasan melalui WhatsApp. Mereka tanya apakah saya ada gejala atau tidak.

4. Saya dapat panggilan rapid test dari Pikobar pada tanggal 3 April. Saya pergi ke Balai Kota. Namun sampai sekarang belum ada hasilnya. Katanya sih akan dikabarkan melalui email dan sms, tapi sama sekali enggak ada.

Nah, sebenernya saya enggak inget saya berhasil atau tidak daftar lewat aplikasi Pikobar, karena saat mau daftar harus ada surat rujukan dari dokter atau ada screenshot dari aplikasi screening kesehatan yaitu Prixa. Saya sempat gagal masuk Prixa karena saya enggak punya gejala. Tapi entah kenapa akhirnya dipanggil juga untuk tes.

rapid test Jawa Barat
Rapid test di Balai Kota Bandung yang kosong
Sebenernya rapid test di Balai Kota itu drive thru. Saya kira orang datang dan mengantre, tapi ternyata pada pakai mobil dan motor. Saya doang yang jalan kaki. Haha. Pengamanannya lumayan lah, ada semprotan desinfektan di dekat gerbang pintu masuk (disemprot untuk mobil), terus harus jaga jarak, ada tempat cuci tangan juga.

Waktu saya tiba, saya ditanya QR Code yang saya dapatkan dari sms. Petugas melakukan scanning. Begitu diterima, saya boleh masuk ke dalam lingkungan Balai Kota dan diambil darah dari pembuluh darah di tangan (seperti mau donor darah). Setelah selesai, ada konsultasi sama dokter apa yang harus dilakukan saat positif dan negatif.

5. Saya dapat panggilan rapid test lagi, sekarang dari Puskemas. Saya datang ke Puskesmas tanggal 13 April. Rapid test yang dilakukan ini seperti cek HB saat donor darah, jadi pakai jarum di ujung jari. Kemudian hasil darahnya ditetes ke sebuah alat. Nah, hasil rapid test tersebut keluar setelah 1-2 hari kemudian, dan alhamdulillah hasilnya negatif. Status saya sebagai ODP pun dicabut.

rapid test Jawa Barat
Saat rapid test di Puskesmas
Prosesnya juga mudah, yaitu tinggal sebut nama saja. Selain itu, waktu saya datang, puskesmas dalam keadaan kosong dan ada dua orang yang datang setelah saya. Syukurlah, jadi tidak parno tertular orang lain.

Saya tidak menyarankan kalian untuk mudik. Tapi kalau harus, pastikan kalian bertanggung jawab dengan melakukan hal-hal yang sesuai prosedur. Lakukan isolasi mandiri di kamar terpisah. Kalau berpapasan dengan anggota keluarga, pastikan untuk melakukan physical distancing sejauh 1 meter.

Jika rumah kalian sempit dan tidak ada kamar terpisah, silakan dipikir ulang. Kalau kalian campur bersama keluarga, kira-kira bisa tidak mencegah mereka dari kemungkinan terpapar virus yang kalian bawa?

Semoga pengalaman ikut rapid test di Jawa Barat bisa bermanfaat ya. Semoga kita sehat selalu dan pandemi ini segera berakhir. Amin!

You May Also Like

0 comments

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.