Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Teh dalam Budaya Indonesia

Teh apa yang paling kamu suka? Teh hitam? Teh melati? Atau teh tubruk rakyat yang diminum bersama gula? 
Dok. Pribadi
Jika iya, selamat! Anda betul-betul warga Indonesia, karena itulah teh-teh yang biasa digemari dan telah lama hadir di negeri ini. Keberadaan teh-teh tersebut enggak terlepas dari zaman penjajahan Belanda dan jenis varian tanaman teh yang cocok oleh keadaan alam Indonesia. 

Memang banyak peminum teh di Indonesia, tetapi baru tahap sebagai kebiasaan saja. Teh di sini enggak diapresiasi seperti di Jepang yang dibikin upacaranya segala. Teh di sini hanya sekedar penghilang dahaga setelah makan atau haus.

Saya mulai mengapresiasi teh sejak mencoba silver white needle atau teh putih yang mahal, dan berkenalan dengan Ratna Somantri. Beliau adalah ahli teh dan anggota Dewan Teh Indonesia. Saya pernah wawancara beliau, kemudian ia memberi teh putih dan teh hijau grade baik dari Indonesia. Ia juga mengajarkan bagaimana menyeduh teh dengan benar. Nah, sejak itulah, saya enggak bisa balik lagi minum teh celup.

Kemarin (4/6), saya lihat Instagram live antara Ratna Somantri dan Lidia Tanod (moderator Komunitas Jalan Sutra). Mereka membicarakan teh Indonesia. Karena kecintaan saya pada teh dan ingin teh Indonesia dikenal lebih luas, jadi saya ceritakan ulang ya!

Sejarah teh di Indonesia
Teh erat kaitannya dengan tempat. Di Cina, beda tempat, beda pula jenis teh yang diminumnya. Misalnya, Cina bagian utara meminum teh yang lebih light seperti longjing, sedangkan Cina bagian selatan minum teh yang lebih dark seperti pu erh.

Selain tempat, makanan juga menentukan mengapa orang-orang gemar minum teh tertentu. Contohnya, orang Indonesia senang sekali dengan makan dengan rempah-rempah. Maka enggak heran kalau mereka senang minum teh yang body-nya kuat untuk menyeimbangi makanan tersebut. Teh Indonesia itu "nasgitel" atau "panas wangi legi kentel". Aromanya kuat, rasanya pekat, dan sangat manis.

Mengapa orang Indonesia gemar teh yang kuat dan pekat?

Kebiasaan minum teh orang Indonesia sekarang enggak jauh-jauh dari zaman penjajahan. Teh dibawa oleh pedagang-pedagang seperti dari Cina dan India ke Hindia Belanda. Namun orang-orang Belanda-lah yang menginisiasi untuk menanam teh hitam di Indonesia. Sebab, teh merupakan komoditas yang mahal. Permintaan teh hitam di Belanda sangat tinggi dan iklim Indonesia sangat cocok untuk menanam teh. 

Setelah Belanda pergi, kebun-kebun teh tersebut dimiliki oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang hingga kini terus menghasilkan teh hitam yang merupakan termasuk varian assamica (teh yang memiliki karakter kuat) karena varian ini paling cocok untuk negara beriklim tropis. Teh-teh hitam tersebut dijadikan supply untuk kebutuhan masyarakat Indonesia yang cinta dengan teh celup.

Teh dan budaya Indonesia
Teh oolong dari Gambung, salah satu speacilty tea.
Indonesia memiliki kebiasaan yang jelek. Kualitas-kualitas produk terbaik diekspor ke luar negeri, sementara kita menikmati produk dengan kualitas rendah. Begitu juga dengan teh. Teh dengan grade terbaik yang dihasilkan oleh PTPN diekspor ke luar negeri, sedangkan grade sisanya, broken orange pekoe, menjadi teh celup yang banyak ditemui di supermarket. 

Teh celup ini sebenarnya ada tingkatan grade-nya lagi. Ratna bilang, coba saja bongkar teh celup yang kalian beli. Kalau kalian menemukan serpihan kayu agak kemerahan, artinya itu grade rendah. Serpihan kayu ini berguna untuk mempercepat proses teh menjadi merah saat diseduh. Selain itu, aromanya enggak ada, makanya sering ditambah essense, yang seringnya adalah vanila.

Selain PTPN, banyak juga perkebunan rakyat yang menghasilkan teh hijau. Mengapa mereka menghasilkan teh hijau? Karena prosesnya lebih mudah daripada teh hitam dan bisa dilakukan tanpa menggunakan mesin.

Salah satu teh hijau dari perkebunan rakyat yang terkenal adalah teh kejek (injak) dari Garut. Masyarakat mengeluarkan getah daun teh dengan menggunakan kekuatan kaki. Kebiasaan ini sudah berlangsung sekitar satu abad, tepatnya saat zaman Belanda.

Teh-teh hijau dari perkebunan rakyat itu sering diolah sebagai teh melati. Sebab, jenis tanaman teh hijau Indonesia sangat sepet dan rasanya pekat sekali karena petikan daunnya tidak dipilih, sehingga daun-daun besar ikut diolah. Dibandingkan varian sinensis, varian assamica itu kurang wangi, sehingga masyarakat menambahnya dengan melati. Makanya enggak heran teh melati ini sangat erat dengan kebiasaan orang Indonesia.

Specialty tea
Teh putih, harganya bisa sampai satu jutaan per kilogram.
Baru-baru ini, specialty tea hadir di dunia teh. Kita mungkin sering mendengar teh oolong dari Bengkulu, teh hijau dari Gambung, dan lainnya. Ibarat kopi, mungkin bisa dibilang single origin lah.

Specialty tea adalah teh berkualitas dari Indonesia. Teh-teh ini telah melalui proses penanaman yang spesial, bibit yang baik, dan pemetikan daun-daun yang terpilih.  

Dibandingkan dengan teh hitam yang sudah dikenal oleh masyarakat hampir seabad lamanya, specialty tea ini baru terbilang muda yaitu kurang dari 20 tahun. Selain itu, Ratna mengemukakan kalau teh-teh ini juga belum cukup terkenal untuk bisa bersaing di pasar internasional. Malah, oolong Bengkulu yang ditanam oleh sebuah perkebunan swasta yang dimiliki oleh seorang berkewarganegaraan Taiwan, memilih tidak menulis nama Bengkulu di tehnya karena dapat membuat harga menjadi turun. 

Permintaan teh di Taiwan sangat besar sedangkan perkebunannya sangat kecil, sehingga mereka banyak impor dari luar negeri. Jadi, kalau kamu ke Taiwan dan minum teh-teh di sana, belum berarti itu teh asli sana ya! Jangan-jangan masih produk Indonesia. Huhu.

Ratna (dan saya juga) sangat menyayangkan hal ini. Pertama, teh berkualitas Indonesia jadi engga kedengeran namanya. Kedua, memangnya orang-orang luar enggak mau coba teh Indonesia? Bukankah mereka gemar mencoba hal-hal dari daerah eksotik?

Mengenalkan teh ke pasar internasional memang masih jadi PR. Berbeda dengan kopi yang sudah ada karakter khas Indonesia saat dicicipi, teh Indonesia belum memiliki karakter khas yang membedakan dengan negara lain. Kalau pun diekspor dalam bentuk kantung teh, pasti sudah dicampur dengan teh-teh lain.

Kata Ratna, pada tahun 1942, Indonesia merupakan penghasil teh terbesar ke-4 di seluruh dunia. Kini, Indonesia menduduki peringkat 7 atau 8. Memang masih terbilang besar, tetapi seberapa banyak sih kalian menemukan teh-teh Indonesia saat jalan-jalan ke luar negeri? Pasti enggak banyak ketemu.

Mau coba teh-teh Indonesia kualitas terbaik? Saya punya beberapa rekomendasi toko seperti Pasar Teh, TEMA tea, Daun Seduh, atau Havilla Gourmet Tea!

Yuk, sesekali coba speciality tea, agar produk kebanggaan negeri ini bisa lebih terkenal lagi! 

Comments

  1. wah teh kalau aku harus manis kalau tawar gak suka, dan sekarang sudah banyak penyajian teh yang bikin tambah enak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, ada beberapa yang sukanya manis :)

      Delete
  2. saya juga menyesalkan kebiasaan buruk Indonesia mbak, yang baik2 dan bagus di eksport sementara kita orang sendiri di kasih grade sisa. mungkin ini juga bisa jadi alasan kenapa kita memandang produk luar tuh selalu bagus dan mahal, padahal mana kita tahu itu adalah (mungkin) produk asli lokal kita sendiri. so sad

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener bangett, mba.. jauh-jauh pergi/beli barang di luar negeri, taunya bahan bakunya tetep dari negeri kita. Kalah di-branding aja :(

      Delete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba