Buku Ini Bagus, Kok Saya Tidak Suka?

by - July 14, 2020

Pernahkah kamu membeli buku karena endorse orang-orang yang ada di sampul belakang dan bilang buku tersebut bagus, menakjubkan, bahkan mengubah sejarah? Nah, saya baru saja membelinya. Buku tersebut adalah Orang-Orang Bloomington (2016) karya Budi Darma.




Saya penasaran sekali dengan buku ini. Gimana enggak, Eka Kurniawan bilang ini bahwa buku ini memberi jalan baru kesusastraan Indonesia. Leila S. Chudori bilang bahwa buku ini merupakan karya klasik yang menembus masa apa pun. Dan Agus Noor bilang kalau ini buku cerpen Indonesia terbaik yang wajib baca. Wah wah.. pastinya saya sebagai penulis ingin dong baca buku yang standarnya tinggi supaya bisa belajar.

Sama seperti judulnya, buku kumpulan cerpen ini berisi tokoh-tokoh yang hidup di Bloomington. Setiap cerpen diberi judul sesuai dengan karakter yang diceritakan seperti "Laki-Laki Tua Tanpa Nama", "Joshua Karabish", "Keluarga M", "Orez", "Yorrick", "Ny. Elberhart", dan "Charles Lebourne". Semua karakter tersebut diceritakan oleh tokoh "saya", dan memiliki kesamaan yaitu aneh.

Setelah membaca buku kumpulan cerpen ini, sebagai audiens, sejujurnya enggak ngerti kenapa buku ini dibilang bagus. Ya, memang jalan ceritanya ok, tetapi saya merasa lelah bacanya. Rasanya seperti nonton film drama klasik yang plotnya lambat. Satu paragraf sangat panjang, isinya kebanyakan narasi dan jarang ada dialog, tidak ada kata-kata yang witty, atau konflik yang menendang. Apalagi dari 296 halaman, hanya terdapat 7 cerpen.. jadi terbayang dong tebalnya setiap cerpen?

Lalu kemudian saya mikir. Pujian dari penulis-penulis berpengalaman di atas untuk Budi Darma pasti tidak asal, dan saya--yang sok tahu ini--pasti enggak mengerti aja secara teorinya gimana. Apalagi Budi Darma adalah seorang guru besar Unesa dan pernah dapat penghargaan SEA Writers Award (Bangkok). Ini pasti saya hanya merasa-rasa saja. Memang enggak salah buat merasa-merasa juga sih, karena membaca buku itu bisa sebagai pembaca atau penulis.

Akhir-akhir ini saya sedang gemar ikuti Masterclass-nya Joyce Carol Oates. Penulis sekaligus pengajar di Amerika ini menjelaskan cara menulis cerita pendek. Setelah ikut kelasnya, saya jadi memikirkan buku Orang-Orang Bloomington dan mendapatkan insight bahwa bagaimana cara Budi Darma ini menulis sangat sah dilakukan.

Joyce bilang, penulis harus memperhatikan "berat" ceritanya. Penulis berhak sekali menentukan mau seberapa panjang paragraf tulisannya, karakter mana yang memiliki dialog dan tidak, dan seberapa banyak deskripsi di dalam setting cerita. Selain itu, penulis bisa menentukan seberapa cepat tulisan tersebut ingin dibaca. Joyce juga bilang tulisan yang cepat dibacanya biasanya enggak mendalam.

Rupanya selama ini saya salah. Setiap karakter enggak harus memiliki dialog (makanya mulanya saya kesal dengan buku Orang-Orang Bloomington yang minim dialog), jalan pikir karakter enggak harus dikemukakan lewat dialog tetapi bisa lewat narasi panjang, cerita boleh dibikin seperti orang berjalan santai di atas tanah datar, bukan berjalan cepat di atas jalanan yang berbatu. 

Selain itu, Budi Darma sepertinya ingin pembacanya menikmati setiap detail ceritanya, jadinya plot memang terasa lambat. Namun kelebihannya adalah karakter tokohnya jadi kuat. Ketika saya baca cerpen judul "Joshua Karadish" atau "Orez", saya langsung ingat jalan cerita dan karakternya. 

Ending cerita-cerita Orang-Orang Bloomington ini begitu delicate. Tidak ada plot twist atau cerita yang menggantung ala film horor yang seolah-olah ada kelanjutannya. Misalnya ending cerita ini:

Akhirnya saya tidak pernah melihat keluarga Meek lagi. Namanya sudah dicabut dari daftar penghuni yang tercantum di lobi. Lebih kurang dua minggu kemudian saya melihat nama baru di daftar itu. Dan, ketika saya melewati bekas apartemennya, apartemen ini sudah ditempati oleh keluarga lain. Dari pembicaraan Jerry dan temannya yang sempat saya sadap, saya tahu bahwa Melvin mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik di salah satu kota kecil di Carolina Barat. Dan dari pembicaraan yang saya sadap ini, saya juga mengajukan permohonan untuk dipindah ke apartemen lain yang lebih dekat dari rumahnya. Memang, akhirnya saya tidak pernah melihat Jerry lagi. Dan keluarga lain pun datang dan pergi, RA pun berganti terus, dan akhirnya manajer gedung pun pindah setelah mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Dan saya tetap di sini, tetap sendiri. (hal 96)

Dari sekian banyak buku kumpulan cerpen yang baca, baru nemu karya seperti yang dibuat oleh Budi Darma ini. Baca buku Orang-Orang Bloomington rasanya seperti baca buku terjemahan novel klasik asing. Kata-katanya terasa kaku (menggunakan kata "saya"), setting ceritanya di luar negeri, dan penamaan tokohnya menggunakan bahasa asing. Bisa dibilang saya enggak suka buku ini bukan karena jelek, tapi karena ini adalah pengalaman baru saya.

Selain itu, kayaknya pikiran saya juga harus terbuka bahwa buku yang tidak sesuai selera bukan berarti jelek. Ya tentu jalan cerita masih masuk akal atau isinya dangkal.

Apakah kalian pernah membaca buku yang kata orang bagus tapi kalian sulit menikmatinya?

You May Also Like

1 comments

  1. Gue baca ini pas kuliah, Ni, tapi gue baru sadar kalau gue sekarang udah blas lupa ceritanya apa aja. *Dori mode on*

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.