Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Begini Cara Kami Bekerja Lancar Saat WFH

Ilustrasi dari Unsplash/Mikey Harris


Semenjak akhir Maret lalu, saya bekerja work from home. Memang teman-teman di kantor masih masuk berdasarkan shift sampai sekarang (setiap orang punya jatah masuk kantor seminggu sekali). Syukurnya atasan saya mengizinkan saya untuk bekerja dari Bandung, karena kayaknya enggak worth it juga kalau tetap di Jakarta tapi hanya masuk seminggu sekali.  

Sebenarnya kerja dari rumah bukanlah hal yang baru buat saya, karena sebelum ngantor pun saya bekerja sebagai penulis paruh waktu. Bedanya, pekerjaan kantor ini lebih berat, perlu banyak komitmen, ada rapat yang harus diikuti. Kalau suami lagi enggak ada project, gampang atur waktunya, malah dia yang full urus anak kalau saya di depan laptop. Tapi kalau dia ada project, wah lumayan agak rebutan.

Akhirnya kami memutuskan untuk membagi waktu kerja. Saya kerja dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore, dia kerja dari jam 3 sampai malam. Kalau kerjaan saya bisa selesai di siang hari, saya bilang ke dia dan dia bisa mulai kerja lebih cepat. Tapi kalau saya tiba-tiba ada rapat di sore atau malam, mau enggak mau dia harus back up.

Untungnya si Elora enggak ribet kalau soal makanan. Dia suka sekali sayur kukusan, jadi kami tinggal kukus makanan. Paling kendala sekarang adalah Elora lagi stop gadget, artinya kami harus lebih sering ajak dia main. 

Setiap rumah tangga pasti memiliki persoalan sendiri yang bikin WFH jadi berat, seperti anak yang sekolah dari rumah, anak yang lebih dari satu, atau pasangan yang bekerja di kantor. Saya beruntung sekali karena belum banyak beban di rumah tangga. Tapi saya merasa kelancaran WFH ini bukan karena faktor anak yang belum sekolah atau anaknya hanya satu, tetapi suami saya sangat mudah diajak kerja sama. 

Dia gampang diminta ke pasar, kukus makanan, mandiin anak, suapin, ajak main, sampai nidurin. Mungkin yang susah adalah ngepel dan bersiin kamar mandi. Hehe. Selain kooperatif, kemauan dan kemampuan dia urus anak sendiri itu sangat memudahkan untuk bekerja saat WFH atau bahkan ketika saya kerja di Jakarta dan meninggalkan mereka dua di Bandung.

Sepertinya alasan utama yang membuat bekerja lancar saat WFH adalah pasangan yang kooperatif. Kalau dua-duanya kerja mengikuti jadwal kantor, buatlah kesepakatan kondisi seperti apa yang enggak bisa diganggu (misal saat rapat atau presentasi) dan kapan bisa disambi. Kalau pasangan enggak terbiasa urus anak sendiri, bisa dikenalkan pekerjaan secara bertahap seperti dia tugasnya mandiin dulu, masak dulu, atau nyuapin dulu.

Semoga kita bisa bekerja dari rumah dengan lancar ya! Target kerjaan terpenuhi, anak dan keluarga tetap terurus. :)

Comments

  1. iya ya , wfh ada untung dan ruginya juga. juga tergantung pekerjaannya juga sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mba.. tergantung pekerjaannya :D

      Delete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba