Insecurity is Driving Me to Omah Elora

Setelah menulis dua hal teknis hal-hal yang harus diperhatikan saat membeli rumah pertama dan cara mengajukan KPR, saya mau bercerita alasan emosional kenapa saya memberi rumah.

Saya telah memimpikan punya rumah semenjak kecil. Semenjak kecil, saya dan mamah menumpang di rumah kakek yang kini jadi milik kakak sepupu. Tentu ada rasa enak dan tidaknya. Sisi enaknya adalah rumahnya sangat besar dan nyaman, dan enggak perlu mikir biaya makan, air, dan listrik. Sedangkan tidak enaknya adalah tidak bebas menentukan sesuatu. Kadang, kalau ada barang yang rusak, saya disalahinmeski bukan salah saya.

Perasaan ingin punya rumah sendiri semakin besar ketika sudah menikah. Saya pikir, "Wah, saya enggak bisa membiarkan Elora hidup seperti saya. Saya ingin dia punya ruang yang besar untuk tumbuh dan berkembang.. dengan bebas." Selain itu, saya juga ingin memiliki aset yang bisa diwariskan kepadanya saat ia besar nanti.



Akhirnya, setelah melalui darah, keringat, dan air mata.. keinginan tersebut terkabul. Memang ada rumahnya tidak sempurna (seperti jauh dari keluarga, berada di kota yang panas, dan fasilitas sekitar yang kurang karena letaknya di kabupaten), tetapi semuanya adalah hasil jerih payah sendiri. Saya berhasil menunjukkan kepada diri saya bahwa saya mampu untuk hidup mandiri.

Sepertinya saudara-saudara sepupu cukup bangga dengan pencapaian ini. Saya berbeda dari sepupu lainnya yang mungkin sudah terlahir dengan privilege, seperti kedua orang tua yang lengkap dan bekerja, sehingga bisa kasih 'modal' hidup untuk anak. Sedangkan mamah saya tidak bekerja. Saya hidup berdasarkan 'sumbangan' keluarga. 

Untungnya semuanya itu berakhir ketika saya bekerja, karena bisa kasih ke orang tua dan membiayai hidup sendiri. Oke, saya mungkin masih belum mapan dibandingkan sepupu yang lain, tapi setidaknya saya tidak pernah meminta.

Buat teman-teman yang masa lalunya sama seperti saya, atau sedang mengalami hal yang sama, semoga segala kesusahan bisa jadi amunisi untuk berjuang dan mendapatkan hidup yang lebih baik.

Perjuangan saya juga belum selesai. Rumah masih perlu dirawat, anak juga masih harus dibesarkan. Semangat!

Tahapan Cari Rumah dan Mengajukan KPR


Bingung adalah reaksi pertama seseorang ketika mau cari rumah dan mengajukan KPR. Apa saja yang harus diperhatikan, bagaimana langkah-langkahnya, apa yang harus ditanyakan ke pihak developer.

Maka dari itu, saya mau merangkum perjalanan saya, orang yang tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan, mencari rumah dan mengajukan KPR, seperti di bawah ini:

Mencari rumah

1. Cari lokasi yang diinginkan

Saya membeli rumah dengan prioritas perjalanannya mudah ke kantor. Kantor saya berada di dekat Stasiun Palmerah dan saya tidak punya mobil. Jadi, saya harus cari rumah yang dekat dengan stasiun KRL Commuter Line karena saya akan menggunakan ini sebagai transportasi sehari-hari.

Area perumahan yang harganya masih terjangkau dan keretanya sejalur dengan Stasiun Palmerah adalah Cisauk, Cicayur, Parung Panjang, Cilejit, Tenjo hingga Maja. Nah, dari situ saya mulai menentukan developer di setiap kawasan. Misalnya, di Tenjo ada Kota Podomoro Tenjo dan Tenjo City, di Cilejit ada Moderland Cilejit, dan lainnya.

Nah, beda lagi kalau kamu punya mobil dan akan pakai kendaraan itu untuk sehari-hari. Kamu pasti akan mencari perumahan yang enggak jauh dekat pintu tol. 

2. Cari rumah yang sesuai budget

Awalnya saya mencari rumah di daerah Tenjo karena saya merasa gaji saya kecil banget. Hehe. Terus saya juga sempat tertarik di Modernland Cilejit, tapi kok kayaknya kasihan karena saat awal browsing, area perumahannya sama sekali belum dibangun. Masih tanah kosong gitu. Ya sudah, akhirnya saya cari rumah di area Parung Panjang dan ternyata gaji saya masih masuk untuk beli di area ini.

Di sini, banyak juga perumahan yang secara perhitungan masih masuk budget. Nah, tinggal dipilih aja tuh yang paling nyaman dan paling sesuai dengan kebutuhan.

3. Rumah aman, nyaman, dan strategis

Setelah melihat berbagai ulasan di YouTube, saya memiliki 2 pilihan perumahan. Perumahan pertama dibangun oleh developer besar. Rumahnya juga ada ratusan, sehingga areanya luass sekali. Di dalamnya banyak fasilitas seperti taman main, masjid, dan (konon katanya akan dibangun ruko).  Letaknya pun berada di pinggir Jalan Raya Parung Panjang.

Sayangnya jalan raya ini dipenuhi dengan truk. Beberapa titik terlihat berlubang dan cukup dalam. Kata ojol, area ini sering macet, terutama jam pulang kerja. Karena di sini banyak penambang pasir, jadi masyaallah di jalan debunya banyak sekali.

Wah, sebagai orang yang gak punya mobil dan hobi jalan kaki, saya enggak bisa nih bawa anak saya jalan di pinggir jalan raya ini kalau mau ke mini market terdekat. Selain itu, pasar terdekat dari perumahan ini berada 10 menit dari area perumahan. Tukang sayur tidak boleh masuk ke dalam perumahan demi keamanan. 

Perumahan kedua dibangun oleh developer kecil. Rumahnya hanya ada puluhan, areanya tidak terlalu luas. Di dalamnya hanya ada fasilitas taman dan musala yang belum dibangun hingga kini. Berbeda dengan perumahan sebelumnya, perumahan ini berada sedikit masuk ke dalam jalan utama. Di sekitar perumahan juga area kampung dengan jalan kecil. Saya pikir, sepertinya anak saya akan lebih aman untuk jalan kaki di jalanan kecil ini. 

Selain itu, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan fasad atau tampilan depan perumahan ini. Begitu masuk ke area perumahannya, hati terasa 'nyesss' karena banyak pohon yang sudah tumbuh. Udah gitu, saya enggak perlu jalan kaki jauh dari gerbang utama ke rumah. Gerbangnya pun hanya satu dan dijaga oleh satpam, jadi insyaallah aman.

Karena berada di tengah kampung, jadi fasilitas di luar perumahan kurang oke sebenarnya. Misalnya, puskesmas yang agak kumuh (jika dibandingkan dekat rumah saya di Bandung, wkwk); sekolah yang kumuh; klinik yang hanya tersedia dokter umum saja dan petugasnya kurang profesional (saya pernah datang ke klinik tersebut untuk antigen, masa perawatnya enggak pakai masker); hingga orang-orang yang tidak mengantre ketika belanja di mini market.

Meski tidak sempurna, ini adalah pilihan terbaik untuk keluarga saya.

Jika sudah menemukan rumah yang diinginkan, kita bisa tanya-tanya lebih lanjut agar tidak kena jebakan 'batman' seperti pengalaman saya membeli rumah pertama.

Mengajukan KPR

Ada beberapa syarat yang harus kita miliki untuk mengajukan KPR:

1. Harus bisa menunjukkan KTP, KK, NPWP, sertifikat/buku nikah, BJPS, pas foto, dan rekening koran 3 bulan terakhir.

2. Kita akan banyak berurusan dengan HRD untuk meminta surat keterangan kerja (minimal 1 tahun diangkat sebagai pegawai tetap) dan slip gaji 3 bulan terakhir. Kalau KPR diterima, nanti kita diminta surat pernyataan pindah payroll ke bank tersebut. Cuman ini mungkin ini tergantung bank kali ya?

Sebenernya administrasinya enggak ribet sih, cuman nanti mungkin akan bolak-balik ke HRD. Pengajuan KPR itu kan enggak sebentar, bisa jadi slip gaji yang kita ajukan udah engga berlaku dan diminta lagi yang terbaru. Terus pasti ada beberapa hal yang harus kita tanyain ke HRD, misalnya jumlah orang di perusahaan ada berapa, kapan perusahaan berdiri, daan lainnya.

Selain itu, nanti akan ada verifikasi dari pihak marketing bank dan auditor. Mereka akan menelepon kita dan orang-orang di sekitar kita (seperti atasan dan keluarga yang tidak tinggal serumah).

Semoga informasi di atas bermanfaat ya!

Review Kompor Infrared Starsiap

Saat pindah rumah, saya dan suami memutuskan untuk pakai kompor listrik. Alasannya: lebih ramah lingkungan dan mengurangi risiko gas meledak di dalam rumah. Setelah browsing, saya baru tahu ternyata ada dua jenis kompor listrik, yaitu kompor induksi dan kompor infrared. Apa perbedaannya?

Perbedaan kompor induksi dan kompor infrared

Kompor induksi menggunakan gelombang elektromagnetik dan hanya bisa digunakan dengan alat masak berbahan stainless steel. Jadi, kalau kamu punya panci dari keramik, tanah liat, atau alumunium, ya enggak bisa dipakai. Kompor menghasilkan radiasi elektromagnetik. 

Sedangkan kompor infrared tidak memiliki radiasi elektromagnetik. Jika dibandingkan kompor induksi, kompor ini memiliki kelebihan bisa dipakai menggunakan alat masak berbahan apa saja, enggak khusus stainless steel. Perbedaan lainnya adalah bagian atas kompor terlihat berwarna merah saat dinyalakan. 

Dari sebuah video YouTube Techplainer, disebutkan kalau penyebaran panas kompor infrared lebih merata daripada kompor induksi yang terpusat di bagian tengah kompor. Nah, ini menjadi faktor yang mencetuskan kenapa saya pilih kompor infrared daripada kompor induksi.

Kesan pertama pakai kompor infrared Starsiap

Hal yang pertama muncul ketika saya browsing kompor infrared adalah Starsiap. Pastinya kita ingin baca ulasannya dulu dong sebelum membeli. Sayangnya, jarang sekali orang-orang yang mengulas kompor ini, selain YouTube channel pribadi mereka. Makanya, meski saya tidak dibayar oleh pihak Starsiap, saya ingin mengulas kompor infrared berdasarkan hasil pemakaian pribadi. 


Pertama kali buka dus, saya kaget lihat lembaran instruksi yang berisi langkah-langkah pemakaian yang kurang jelas. Terus kabelnya juga terbilang pendek, jadi enggak bisa ditempatkan jauh dari sumber listrik. Suaranya juga mendengung keras jika dinyalakan. Enggak tahu memang hanya kompor ini saja atau semua kompor listrik begitu.

Untuk mengetahui kompornya berfungsi atau tidak, saya coba masak air di panci. Videonya bisa dilihat di channel YouTube saya. Begitu kompor dinyalakan dan angka langsung menunjukkan 3.500 watt, saya langsung ubah daya kompornya ke 800 watt. Penjual merekomendasikan untuk melakukan ini, terutama untuk rumah dengan listrik 1.300 watt, supaya listrik rumah tidak jegleg. Selain itu, mereka bilang daya 800 watt juga udah cukup untuk memasak. 

Ternyata, lama sekali untuk masak air. Karena lama, saya naikkan dayanya secara bertahap ke 1.000 watt dan 1.200 watt. Perlu waktu sekitar 10 menit agar air mendidih. Wah, agak bete juga sih karena ternyata lama ya? Gimana kalau masak nanti?

Kesan setelah menggunakan kompor lebih lanjut

Setelah pindahan rumah, akhirnya saya punya kesempatan untuk masak beneran dengan kompor ini. Di sini saya baru ngeh, memang lama panas itu hanya di awal aja. Kalau panci/wajan sudah panas, masak pun lancar seperti biasa. Nah, agar panci cepat panas, saya langsung set dayanya di 1.200 watt. Sambil menunggu panci panas, saya potong-potong semua bahan makanan yang akan dimasak.

Sejauh ini, saya puas sih pakai kompor infrared dari Starsiap. Pertama, minim asap dan tidak menimbulkan polusi udara di dalam rumah. Kedua, kompor mudah dibersihkan. Ketiga, daya 1.200 udah cukup panas, malah saya turunkan ke 1.000 atau 800 biar gak cepat gosong. Dan keempat, tidak banyak tombol yang membingungkan.

Mudah-mudahan kompor ini awet yaa.

Beli Rumah Pertama, Ini 4 Pelajaran yang Didapat

Tahun ini menjadi tahun bersejarah buat saya. Keinginan saya dari kecil, yaitu memiliki rumah sendiri, akhirnya tercapai. Alhamdulillah. Memang banyak tenaga, pikiran, dan pastinya uang yang keluar. Namun semoga semuanya sepadan dan berguna di masa depan.

Sebagai orang yang tidak punya pengalaman membeli rumah, saya mau cerita pelajaran-pelajaran yang saya dapat ketika beli rumah pertama.

Ilustrasi foto rumah, demi privasi.


1. DP 0% hanyalah trik marketing

Kita pasti sering melihat banyak promo perumahan yang menawarkan DP 0%. Too good to be true, right? Padahal DP rumah idealnya 30% dari harga rumah. Kalau rumahnya 500 juta, berarti DP-nya 150 juta. Ada juga beberapa developer yang DP-nya boleh 10%. Jadi, kalau rumahnya 500 juta, maka DP-nya 50 juta.

Kemarin saya tertarik ambil rumah yang DP 0%, agar tabungan saya bisa dipakai untuk mengisi rumah. Setelah KPR saya diterima, pihak developer bilang kalau KPR saya turun plafon. Maksudnya turun plafon adalah kalau harga rumahnya 500 juta, pihak bank cuman kasih pinjaman 450 juta.

Plafon saya turun sekitar 50 juta. Kalau kata teman saya yang punya pengalaman beli rumah, itu adalah hal yang biasa. Turun plafon bisa sampai 50-100 juta.

Selain turun plafon, saya juga harus bayar biaya akad sekitar 20 juta. Jadi, total yang saya keluarkan di awal sekitar 70 juta. Sama saja seperti bayar DP, kan?

"Ya, pihak bank mana berani terima yang tanpa DP, Nia," jawab teman saya ketika mendengar curhatan saya ini.

Saya pikir pasti pihak marketing paham mengenai hal ini. Cuman sedari awal dia selalu promosi "Nanti cuman keluar 15 juta doang kok buat biaya akad KPR" atau "Kalau dilihat dari riwayat kredit ibu dan gaji, kemungkinan turun plafonnya sangat kecil." 

Lama-lama, angka yang dia infokan semakin naik. Misal, awalnya marketing bilang plafon saya turun sekitar 20 jutaan saja. Saya setuju buat lanjut proses KPR. Namun, beberapa lama kemudian, dia bilang bahwa ternyata turunnya jadi sekitar 50 juta. Karena saya sudah lelah urus administrasi, banyak merepotkan pihak HRD terkait surat-surat, ya sudah akhirnya saya setuju juga untuk dilanjut proses KPRnya.

Menurut saya sih memang ini trik marketing ya. Harga awalnya dibuat seolah-olah ringan, tapi lama-lama dinaikkan juga. Apalagi ketika pembeli sudah merasa sejauh itu urus KPRnya dan sudah pengen cepat punya rumah juga.

2. Tidak ada gratis biaya balik nama SHM, AJB, Notaris, dan BPHTB 

Saat tanda tangan akad di depan notaris, saya baru tahu harga rumah yang sebenarnya adalah setengah dari harga yang ditawarkan ke saya. Kalau harga rumah saya 500 juta, maka harga aslinya 250 juta. 

Harga yang ditawarkan ke saya itu ya sebenarnya sudah termasuk balik nama SHM, AJB, biaya notaris, dan biaya BPHTB. Ya sebenernya saya juga yang bayar, bukan gratis yang seperti dipromosikan di brosur. Hehe. Namanya juga jualan yak?

Sebenarnya ini bukan hal yang buruk sih, karena biaya-biaya tersebut jadi masuk ke plafon cicilan kita. Kebayang engga kalau kita sudah harus bayar puluhan juta di awal, terus developer bilang kalau saya masih harus nambah biaya balik nama SHM, AJB, notaris, dll yang jumlahnya juga pasti jutaan. Wah, pasti jadi terasa berat, apalagi kita harus menyediakan cash di awal. 

3. Marketing tidak hapal produk rumahnya

Ketika proses serah terima kunci, suami saya bertemu dengan kontraktor developernya untuk urus pompa air. Saat awal survei rumah, pihak marketing bilang kalau pembuatan sumur bor sudah termasuk dari harga jual. Ternyata, untuk rumah saya, sistem airnya lebih baru dibandingkan rumah-rumah lainnya. Jadi, air tidak diambil dari sumur bor, tapi ada satu sumur bor milik developer yang mengalirkan air ke semua rumah.

... dan pihak marketing baru tahu tentang hal ini. Apa karena ia tidak update? Atau pura-pura tidak tahu?

Sistem air terpusat seperti ini ada sisi baik dan buruknya. Sisi baiknya, saya enggak perlu repot beli pompa dan torent air, hanya mengadalkan aliran dari sumur milik developer. Sisi buruknya, kalau semua rumah pakai air berbarengan, semprotan airnya bisa jadi kecil. Selain itu, gimana kalau torent di pusatnya kosong, kami jadi tidak ada air dong?

Pihak developer menawarkan agar kami membuat ground tank. Nanti, kami tinggal pasang pompa air untuk menarik air dari ground tank tersebut. Mulanya suami saya enggak mau karena pompa air akan jalan terus setiap kami buka keran. Namun, akhirnya kami memutuskan untuk beli pompa yang menyedot air dari ground tank, lalu airnya dialirkan ke torent yang disimpan di atas rumah kami. Ini lebih hemat listrik.

Sekarang agak susah untuk bikin sumur bor. Pihak developer bilang sekarang pemerintah punya kebijakan masyarakat dilarang bikin sumur bor/pakai air tanah karena permukaan tanah yang semakin menurun.

4. KPR berarti semua sertifikat ditaruh di bank

Saya baru tahu banget kalau kita KPR ke bank, artinya semua sertifikat asli disimpan di bank sampai kita dapat melunasi semua cicilannya. Saya hanya bisa dapat fotokopiannya. Saya tanya ini ke notaris, dia bilang memang begitu karena rumah bisa digadai oleh pemilik kalau sertifikat aslinya dipegang oleh mereka. Hmm, makes sense sih.

Karena "pemilik" rumah sekarang adalah bank, saya harus lapor kalau mau melakukan beberapa hal, seperti: bangun rumah jadi bertingkat atau rumahnya disewakan. Pembangunan yang mengubah kontruksi, seperti bangun rumah jadi bertingkat, pastinya akan mengubah perhitungan asuransi kebakaran. Ibaratnya mereka membayar plafon buat 1 lantai, tahunya kerugian yang dialami adalah 2 lantai. 

Saya harus lapor ke bank kalau rumah saya mau disewakan, karena nanti pihak bank akan membuat surat kepada penyewa bahwa rumah ini sedang dalam proses cicilan. "Nanti kasihan penyewa kalau sudah bayar sewa full 1 tahun, tiba-tiba rumahnya disita di tengah jalan. Jadi, surat ini berguna supaya si penyewa tahu," kata notaris. 

Meski banyak "jebakan batman"-nya saat beli rumah pertama, saya dan suami tetap senang punya rumah. Ada rasa kebanggaan sendiri lihat rumah berdiri. Setidaknya kami jadi lebih bebas, jadi lebih mandiri. Saya juga bisa mewariskan aset kepada Elora, anak saya. Setidaknya beban dia di masa depan bisa berkurang.

Buat teman-teman yang mau mengajukan KPR untuk beli rumah pertama, semangat ya! Semoga artikel ini berguna untuk kalian. 


----------

Photo by Birgit Loit on Unsplash

Polemik JHT, Mengingatkan Kita Perlu Uang Saat Tua

Baru-baru ini ramai diberitakan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenker) memutuskan bahwa Jaminan Hari Tua (JHT) cair di usia 56 tahun. Kayaknya keputusan ini lebih banyak menuai kontra daripada pro. Pertama, orang perlu uang ketika PHK dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) bernilai sedikit. Kedua, itu adalah hak kita (para pekerja). Ketiga, ada dugaan salah pilih investasi sehingga merugi.

Tua dan tidak produktif 

Beberapa hari yang lalu, saya nonton liputan The Economist yang berjudul The True Cost of Ageing. Dalam liputan tersebut disebutkan bahwa di negara maju, mengurus pensiunan itu membutuhkan uang yang banyak karena mereka membebani social-care system negara. Data dari United Nation juga menyebutkan bahwa, di 2020, jumlah lansia berusia 60 tahun jumlahnya tiga kali lebih banyak dibandingkan di 1950.  Artinya, para pekerja yang masih produktif ini harus bekerja keras untuk menanggung para lansia.

Oke, di negara maju, mungkin pemerintahnya sudah menyiapkan sistem yang baik untuk mengurus para lansia. Namun kalau di Indonesia, lansia diurus oleh anak-anaknya. Makanya, banyak sandwich generation yang harus membiayai orang tuanya saat pensiun. Seperti saya. Hehe.

Tak hanya membebani anak, lansia juga membebani negara. Selain tidak produktif, mereka juga memakan biaya kesehatan yang tinggi. Misal, di keluarga saya, para pengguna BPJS adalah ibu dan kakak-kakaknya. Mereka rutin ke rumah sakit untuk check up setiap bulannya.

Jadi, saya sedikit mengerti mengapa Kemenker ingin JHT cair saat penggunanya sudah tua. Pertama, agar mereka tidak membebani generasi selanjutnya yang berada di usia produktif. Kedua, jika sakit, bisa punya pilihan selain menggunakan BPJS, seperti menggunakan asuransi swasta. Ketiga, agar mereka punya modal usaha setelah pensiun. Setelah kita tua, energi dan kesempatan menjadi terbatas. Dengan cairnya JHT saat itu, kita tidak perlu lagi mencari uang untuk modal usaha. Kita hanya tinggal mengeksekusi idenya saja.

Banyak orang yang protes adalah jika mereka di-PHK sekarang, maka mereka tidak punya modal untuk usaha. Kalau menurut saya, karena sekarang kita masih muda dan masih banyak kesempatan, mencari modal masih bisa dilakukan. Misal, minjam ke bank, yang mungkin lebih mudah dicairkan karena kita masih punya jangka waktu lama untuk membayar cicilannya. Intinya, otak kita tuh masih segar untuk bisa memikirkan cara-cara untuk mencari modal usaha.

Side hustle

Saya ingin memiliki growth mindset. Misal, kalau gaji saya kurang, apa yang bisa saya lakukan untuk menambahnya. Apa saja perlu ikut pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sehingga saya bisa mengajukan promosi di perusahaan? Atau saya bisa cari kerjaan sampingan yang tidak bentrok dengan pekerjaan utama?

Inginnya siihh para generasi muda yang masih produktif ini enggak terlalu panik saat Kemenker memutuskan JHT cair di usia 56 tahun. Karena apa? Karena kita masih bisa menerapkan growth mindset itu. Misal, gimana caranya biar kita enggak di-PHK? Agar memiliki safety net, apakah kita harus cari kerjaan sampingan supaya enggak nol amat penghasilannya? Atau, agar nanti tidak jadi wirausaha dadakan saat tua, adakah bisnis craft yang bisa saya bangun dikit demi sedikit dari sekarang?

Pentingnya dana pensiun

Sebagai bagian dari sandwich generation, saya jadi paham beratnya beban ini. Di satu sisi, saya harus membiayai anak saya, di sisi lain ibu saya sering minta ini dan itu. Bukannya tidak mengingat jasa-jasa ibu saya, tetapi jika saja ibu saja memiliki dana pensiun dan punya dana untuk membiayai dirinya, hidup saya akan jauh lebih ringan.

Kebayang enggak sih bahwa nantinya kita akan hidup belasan atau puluhan tahun tanpa penghasilan? Saya tidak mau membebani anak saya, Elora, jika saya sudah tua nanti. Kasian, saya sih ingin dia maju dan berkembang. Misal, amit-amit, Elora juga kondisi ekonominya sulit dan saya juga sering sakit. Wah, kasian sekali.

Selain JHT, saya menyisakan gaji saya untuk dana pensiun. Investasi yang saya gunakan adalah reksa dana campuran. Saya membuat pos-pos tabungan, seperti tabungan pendidikan, tabungan dana darurat, tabungan cicil rumah, dan lainnya. Jumlah yang ditabung tidak besar, tapi saya konsisten menabung setiap bulan setelah gajian.

"Tapi gaji saya kecil, untuk hidup besok aja belum tentu."

Tabungan itu persentase dari pemasukan. Jadi kalau gajinya satu juta rupiah, kita bisa nabung 30 persennya, yaitu Rp300 ribu. Kalau gajinya Rp500 ribu, ya tabungan kita Rp150 ribu. Kuncinya konsisten dan jangan diambil. Agar tabungannya tidak diambil, kita harus cari "keran air" lainnya untuk menambah pemasukan.

Mungkin pandangan saya terkesan egois atau tidak empati pada orang miskin struktural. Oke, mungkin pandangan saya bisa diterapkan pada orang menengah atau menengah ke bawah, terutama mereka yang merasa miskin tapi masih bisa cicil motor atau punya hp bagus.

Tujuan keuangan saya sederhana. Kalau belom bisa kaya raya seperti sultan Andara, setidaknya saya tidak berhutang dan tidak menyusahkan orang lain saat ada kebutuhan.

Balik lagi ke JHT, lakukanlah hal yang bisa kontrol. Kita mungkin tidak bisa mengontrol keputusan pemerintah, tapi kita bisa mengontrol pendapatan dan pengeluaran kita. Dan menurut saya itu lebih make sense.


----------

Photo by Claudia van Zyl on Unsplash

6 Alasan Menstrual Cup Lebih Nyaman dari Pembalut



Hari ini genap 3 tahun saya pakai menstrual cup dari OrganiCup. Minggu ini adalah kali pertama saya kembali mengenakan pembalut. Alasannya, menstrual cup saya ketinggalan di Jakarta dan bulan ini saya kembali WFH penuh di Bandung. 

Memakai kembali pembalut membuat saya yakin bahwa menstrual cup lebih nyaman dikenakan ketimbang pembalut. Hal ini yang saya rasakan:

1. Lebih kering

Memakai pembalut membuat area vagina terasa basah dan lembap. Saya lebih suka pakai menstrual cup karena terasa kering. Setelah buang air kecil pun tidak bercak darah tidak mengotori tisu. Hal yang paling saya suka adalah area vagina yang bersih dan kering pun tidak akan kembali lembap saat terkena pembalut. 

2. Tidak terasa mengalir

Pernah duduk lama kemudian berdiri dan terasa darah mengalir deras ke pembalut? Nah, saya tidak pernah merasakan itu kalau pakai menstrual cup. Aman dan nyaman banget saat dipakai.

3. Tidak takut tembus

Saya menggunakan pembalut yang panjangnya 290 mm saat tidur karena takut darahnya tembus ke belakang celana. Selama sebelum pakai menstrual cup, pasti parno karena takut menemukan noda darah di celana dan seprai. Selama pakai menstrual cup, saya tidak pernah mengalami darah bocor dan tembus mengotori seprai.

4. Bebas gatal

Sama seperti bayi yang kena ruam kalau pakai popok, saya juga kadang merasa gatal kalau pakai pembalut akibat gesekan plastik ke kulit. Tentunya saya terbebas dari rasa gatal saat memakai menstruap cup.

5. Bisa dipakai renang

Kalau pakai menstrual cup, saya masih bisa renang meski sedang datang bulan. Ini lebih bersih karena darah tidak keluar vagina dan mengotori kolam. Berbeda kalau pakai pembalut, nanti darahnya ke mana-mana. FYI, saya pernah lihat darah menstruasi di kursi area ganti baju. Kayaknya darahnya rembes gitu dari pembalut pas duduk.

6. Tidak berbau

Setelah pakai menstrual cup dan kembali pakai pembalut, saya jadi sadar bahwa darah itu anyir sekali yah. Hehe. Selama pakai menstrual cup, saya tidak pernah mencium aroma-aroma tersebut.

Kebanyakan teman saya yang telah mencoba menstrual cup merasa nyaman dan mereka tidak akan kembali mengenakan pembalut. Namun ada satu orang teman yang kesulitan memasukkannya dan merasa sakit. Jadinya dia enggan melanjutkan. Menurut saya, you do you. Pakailah yang paling nyaman dan kamu yakin aman untuk dirimu.


----------

Photo by Oana Cristina on Unsplash

Musat, Cafe Peduli Lingkungan

Setiap Kamis, ada sebuah tempat kopi yang selalu saya datangi saat menunggu anak sekolah. Cafe tersebut namanya Musat, letaknya di Jl. Cilaki No. 45, Bandung. Saya suka di sini karena sepi dan jauh dari ibu-ibu sekolah Istiq*mah (wkwk!), tempatnya besar dan nyaman, serta banyak colokan listrik. Cocok buat nunggu anak sambil kerja.


Dulu, saat pertama kali datang ke Musat, awalnya ragu ini cafe apa tempat komunitas, karena bagian depannya hanya berupa tembok polos dan tidak keterangan cafe/resto gitu. Dari depan pun terlihat sepi. Akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Begitu lewat gerbang, terlihat ada seorang laki-laki yang duduk di kursi. Saat itu saya berpikir, ini pengunjung atau yang kerja ya? Karena gak ada senyum-senyumnya sama sekali. Hehe.

Cafe Musat berdiri di atas bangunan peninggalan Belanda. Di dalamnya ada ubin khas Belanda yang warna-warni. Ruangan dalamnya luas, diisi oleh banyak meja kayu dan kursi rotan. Di bagian samping gedung ada area smoking. Sedangkan di bagian belakang gedung, ada ruangan-ruangan kecil yang disewakan untuk toko lain, seperti beer house atau toko roti.


Seekor anjing bernama Helost

Musat pernah memiliki daya tarik tersendiri, yaitu pemiliknya memiliki seekor anjing alaskan malamute bernama Helost. Karena saya mengikuti IG-nya Musat, saya jadi tahu bahwa Helost ini merupakan anjing adopsi. Makanya, ia dikasih nama he-lost alias 'dia tersesat'. Usianya sudah tua dan sukanya tiduran di halaman cafe. Penjaga cafenya pernah cerita ke suami saya kalau banyak supir ojol yang takut masuk ke cafe karena ada Helost. Padahal anaknya mah diem aja, mager gitu. Hihi.

Beberapa kali ke Musat, saya selalu menyempatkan untuk mengelus Helost. Anak saya juga senang dengan Helost. Sayangnya, sekitar beberapa bulan lalu, Helost mati karena sakit gagal ginjal. Meski cuman ketemu sebentar, saya merasa berduka pada pemiliknya karena ditinggal mati sang anak. Selain itu, ada perasaan kehilangan saat datang lagi ke Musat dan menemukan Helost enggak ada. :(

Ngerti banget rasanya kehilangan hewan peliharaan ...

Kerja sambil ngopi

Di Musat, ada beragam minuman dari kopi, teh, hingga minuman campuran lainnya. Seringnya saya pesan espresso based seperti americano atau cappucino. Suami saya suka minum kopi susunya. Beberapa kali saya mencoba keluar dari zona nyaman dengan mencoba minuman lain, seperti kopi dicampur air kelapa. Terakhir, saya mencoba Golden Monk. Isinya campuran susu, salted caramel, hazelnut, dan ekstrak kratom. Setelah dicoba, ternyata saya kurang suka minuman ini karena terlalu milky dan manis rasanya.



Ngomong-ngomong tentang kratom, saya baru tahu kalau ini adalah magic leaf dari Kalimantan. Jika dikonsumsi dalam dosis rendah, kratom bisa membuat orang lebih bertenaga, meningkatkan fokus dan waspada, serta dapat mengurangi stres dan sakit. Untuk beberapa orang, minum kratom akan membuat pusing.

Kalau secara harga, sebetulnya agak pricey yah. Misal, untuk Golden Monk itu seharga Rp35.000. Sedangkan americano seharga Rp24.000. Harga kopi susunya Rp25.000. Padahal, banyak cafe di Jl. Bengawan bawah yang harganya di bawah itu. Cuman ya Musat memiliki banyak kelebihan, seperti gedungnya lebih luas, kopinya disajikan di gelas kaca (bukan gelas plastik)—yang mana lebih menyenangkan bagi pengunjung karena lebih merasa dihargai. Heheu.

Hal lain yang menjadi kekurangan Musat adalah tidak menjual makanan berat. Pilihan camilannya hanya tersedia Cap Roti Buaya. Mungkin kalau pemilik Musat baca tulisan ini, tolong dihadirkan camilan yang agak berat seperti tahu pedas, cireng rujak, atau kentang goreng sosis. Sandwich juga boleeh. Hehe. 

Kontribusi terhadap lingkungan

Ada hal yang bikin Musat berbeda dibandingkan kedai kopi kebanyakan lainnya. Sepertinya pemilik cafe ini peduli dengan lingkungan. Misal, Musat bekerja sama dengan Plastavfall untuk mengolah ampas kopi menjadi media tanam bernutrisi. Media tanam ini dijual di Musat dan beberapa partner mereka.

Tak hanya masalah kopi, mereka juga peduli dengan Desa Tambakrejo, Semarang, yang terkena abrasi. Musat bekerja sama dengan lindungihutan untuk menggalang donasi pembelian pohon mangrove untuk ditanam di sana. Terakhir, mereka juga bekerja sama dengan Trash Smith mendaur ulang sampah plastik menjadi wadah dupa. 

Saya baru sadar kenapa Musat memilih logo gorila. Di hutan tropis, ternyata gorila itu membantu penyebaran biji-bijian ke seluruh hutan dan membuat tempat untuk pertumbuhan bibit. Dan saya juga baru sadar kenapa mereka pakai tagar #choosewell. Mereka menggunakan kopi arabika dari Bajawa, Flores, yang dikembangbiakkan melalui cara yang climate-smart, yaitu tidak membahayakan lingkungan dan mendanai sekolah di bidang iklim pada komunitas petani di Ngada, Flores.

Wah, wah, sebagai orang yang tertarik dengan isu climate-smart agriculture dan lingkungan, saya jadi punya respek terhadap Musat. Oya, jika tertarik membaca isu tote bag yang mengancam lingkungan atau mengurangi jejak karbon melalui thrifting, silakan berkunjung ke blog saya yang lain ya.

Hal lain yang patut diancungi jempol adalah mereka tidak akan menyediakan sedotan jika tidak kita minta. Sekalipun diminta, mereka menggunakan sedotan berbahan kertas. Keren ya.

Habis renovasi, terbit tampilan segar

Saya baru datang lagi ke Musat semenjak kantor menyuruh seluruh pegawai WFH. Saya jadi bisa tinggal di Bandung, antar anak ke sekolah, dan menunggu di sini. Ternyata, Musat habis direnovasi. Tampilannya jadi lebih modern dan segar. Warna yang dipakai adalah hijau dan putih, jadinya terkesan bersih.



Buat orang-orang yang butuh tempat mampir untuk ngopi di daerah Cilaki, sepertinya bisa hadir di sini ya. Saya tahu ada beberapa restoran atau cafe di daerah sini, tapi yang paling enak buat duduk lama sih di Musat . Namun kalau perlu makan, sebaiknya ke cafe Sydwic atau ke restoran Yogurt Cisangkuy yang letaknya tidak jauh Musat. 

Ulasan di atas bukan tulisan berbayar ya. Murni ketertarikan saya pada cafe yang ternyata punya banyak cerita. Jika berada di Bandung, silakan berkunjung ke sini ya!


----------

Foto-foto dokumentasi pribadi.