Posts

Cara Menurunkan Berat Badan 5 Kg dalam Sebulan

Image
Berat badan kamu naik selama WFH? Sama dong! Karena sering di rumah dan punya temen makan (baca: suami), saya sering order GoFood. Bahkan bisa hampir setiap hari saya order makanan! Kayaknya saya miskin karena itu sih, hahaha. Kala itu, saya sering es kopi susu, kwetiau, dan ayam goreng antara pukul 10-12 malam. Gila 'kan? Kiri 68 kg, kanan 63 kg. Pakai celana yang sama. Karena enggak bisa jalan-jalan, sepertinya saya menjadikan makanan sebagai hiburan. Bosen? Pesen makan. Benar saja, timbangan naik dari 63 kg hingga 68 kg. Wah, ini kedua kalinya saya menyentuh angka terberat yaitu 68. Rasanya? Ugh, serba sempit. Perjalanan naik turunnya berat badan Chubby cheeks. Kesukaan saya sama olahraga muncul ketika masih kerja di media. Dulu BB saya pernah menyentuh 68 kg. Karena sakit, BB turun jadi 65 kg. Karena mau menikah dan supaya baju pengantinnya cukup, saya latihan cardio di treadmill atau latihan otot. Untungnya kantor menyediakan fasilitas sport center yang bisa digunakan secara g

Enak WFH, Kenapa Kembali ke Jakarta?

Image
Sejak awal pandemi, kantor tempat saya bekerja berbaik hati mengizinkan saya untuk kerja dari rumah. Itu jadi oase di tengah gurun, karena mental saya mulai melemah akibat saya enggak bisa ketemu Elora. Saya pun menjalani WFH dengan senang hati. Kerjaan sih enggak ada bedanya. Saya bisa keep up dengan deadline karena memang sudah biasa kerja freelance . Awal-awal memang ada adaptasi, terutama meeting harus dilakukan lewat Zoom. Itu jadi hiburan buat saya karena masih bisa lihat teman-teman. Namun setelah teman-teman mulai masuk kantor dan Zoom berkurang, saya jadi khawatir hubungan pertemanan melonggar. Kantor pun tidak pernah memanggil saya untuk kembali WFO. Kadang teman suka tanya kapan saya balik ke Jakarta, dan saya selalu jawab nunggu panggilan kantor. Memang posisi saya bukan yang tipe harus hadir di kantor karena menulis bisa dilakukan jarak jauh. Apalagi atasan saya juga lebih setuju kalau saya kerja dekat dengan Elora. Waktu berjalan dan mulai ada keinginan untuk beli ini it

Pengalaman Pertama Kali Tes Swab PCR di Jakarta

Image
Selama 1,5 tahun pandemi berlangsung, akhirnya saya merasakan pengalaman pertama kali tes swab PCR di Jakarta. Bukan, bukan karena memiliki gejala, tetapi karena mengikuti syarat untuk bisa balik ke kantor. Ternyata lumayan deg-degan juga. Foto ilustrasi dari Unsplash/Mufid Majnun Saya melakukan tes swab PCR di Klinik Kasih ProSehat, Jl. Palmerat Barat, Jakarta. Harga tes yang express atau H+1 adalah Rp800 ribu. Klinik buka pukul 8 pagi. Ketika saya datang pukul 8.30, ternyata sudah banyak yang mengantre dan semuanya periksa tes rapid antigen. Pada Juni ini, saya memutuskan untuk stop work from home dan kembali ngantor karena berbagai alasan. Setelah bekerja dan dekat dengan anak selama 1,5 tahun, rasanya berat juga. Mungkin saya akan cerita lebih detail gimana pergulatan batin seorang ibu yang harus pisah jauh dengan anak. Pegawai di sana sudah default aja kerjanya, jadi orang-orang yang datang dianggap mau tes rapid antigen. Hehe. Jadi begitu saya ke pendaftaran, mereka langsung mint

Jika Saya Menjadi Ibu ...

Image
Sejak usia dewasa awal, saya sudah memiliki gambaran sosok ibu ideal buat anak saya. Nah, karena sekarang sudah punya anak, saya berusaha memenuhi standar ibu ideal tersebut. Memang ibu yang sempurna itu engga ada, tapi saya memiliki standard sendiri yaitu anak saya bisa berbahagia memiliki ibu seperti saya. Meretas tabu, anak tidak melulu dekat dengan ibu Photo by Julien Pouplard on Unsplash Iklan di media selalu menggembar-gemborkan betapa romantisnya hubungan ibu dengan anaknya. Bahkan sosok ibu posisinya bisa di atas ayah. Tapi nyatanya tidak. Ada anak yang lebih dekat dengan ayahnya, ada ibu yang lalai, ada juga yang kedua orang tuanya abai. Hubungan orang tua dan anak tidak seromantis itu! Saya percaya bahwa semua anak mencintai orang tuanya.. tanpa syarat. Saya melihat hal ini pada Elora . Meski kadang ia dimarahi dan dibentak, dia selalu mencari saya. Dia selalu mencubit pipi saya pertanda gemas, dia selalu bilang karya macrame yang saya buat itu bagus, dan selalu menghujani d

Anak, Korban Pandemi Covid-19 yang Terlupakan

Image
Kita udah tahu kalau pandemi Covid-19 ini membuat sosialisasi kita terbatas. Jelas, pandemi membuat kita cemas . Enggak bisa ngantor, enggak bisa hangout , enggak bisa kumpul keluarga. Kita juga sering curhat betapa kangen teman-teman, betapa bosan di rumah., betapa stresnya mengajarkan anak SFH. Namun, ingatkah kita bahwa si anak yang tampak cerah ceria ini juga merasakan dampaknya? Kecemasan anak selama pandemi Covid-19 juga banyak terjadi lho. Dari awal pandemi, Elora udah stop main perosotan dan ayunan di taman dekat rumah. Ia pernah beberapa kali ke taman, tapi kami cari yang enggak ada permainannya supaya dia enggak pegang-pegang. Di beberapa kesempatan, dia sempat berinteraksi dengan anak-anak lainnya, tapi itu juga kami melihatnya dengan perasaan was-was. Awal-awal pandemi dia masih suka bilang kalau pengin main perosotan di taman. Namun kami jelaskan bahwa lagi ada virus korona, jadi belum bisa main di taman. Sekarang ini, dia udah enggak minta main lagi. Dia juga udah tahu h

Kesenjangan Sosial India yang Bikin Gemas!

Image
Sumber: IMDB Setelah sekian lama nonton film, akhirnya menemukan tontonan yang bikin "Anjrit, gemes banget nih gue sama film ini!" Film itu adalah The White Tiger (2021) yang merupakan besutan sutradara Rahmin Bahrani. Saya enggak akan ngulas filmnya sih, tapi lebih ke situasi sosial di India yang menurut saya menarik. Hati-hati, ini akan ada spoiler . Ceritanya tentang Balram Halwai, seorang pemuda dari kasta rendah di India. Dia dan keluarganya tinggal di lingkungan yang kumuh dan berdebu, sering ditodong oleh tuan tanah untuk bayar sewa. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka membuka kedai kecil dan jualan kue manis. Balram melihat bahwa si tuan tanah memiliki anak bungsu bernama Ashok. Ia mengetahui bahwa Ashok membutuhkan supir pribadi. Balram berniat menaikkan kondisi ekonominya dengan menjadi supir Ashok. Setelah minta uang ke neneknya untuk belajar mengemudi, Balram pergi ke rumah tuan tanah tersebut, meyakinkan mereka bahwa ia bisa jadi supir, dan akhirnya kete

Mengapa Kita Senang Melihat Orang Susah?

Image
Photo by Jakayla Toney on Unsplash Akhir tahun lalu, tanah air kita dihebohkan oleh berita seorang artis yang tersandung skandal video dewasa. Beritanya terus digoreng, kolom media sosialnya penuh hujatan, sindiran, melecehkan, bahkan jadi bahan tawaan. Kayaknya orang-orang puas aja gitu melihat kemalangan dia. Atau, mungkin kita pernah nyetir mobil dan disalip oleh orang lain. Di depan, mobil yang menyalip itu ditilang polisi. Pas lihat itu, kita merasa puas dan senang karena merasa mereka mendapatkan ganjarannya. Kenapa sih kita senang melihat ketika seseorang mengalami kegagalan atau kejadian yang tidak mengenakkan? Iri bilang, bos!   Arthur Schopenhauer, seorang filsuf Jerman, melontarkan istilah " Schadenfreude " atau " harm-joy " untuk menggambarkan fenomena di atas. Schadenfreude adalah pengalaman menyenangkan atau memuaskan saat melihat orang lain mengalami masalah, kegagalan, bahkan hal memalukan. Ini bisa dialami anak kecil juga? Bisa banget. Inget enggak