Emosi yang Masuk Akal di Layangan Putus

Semenjak punya akun TikTok, saya jadi bisa lihat hal-hal yang viral dengan cepat. Salah satunya, cuplikan adegan Layangan Putus yang iklannya selalu muncul di platfrom itu. Belum lagi kesalahan grammar yang diucapkan tokoh perempuan yang kemudian meme-nya ada di mana-mana. Karena penasaran, saya dan suami memutuskan untuk nonton.


Menonton film Indonesia bareng suami itu seru. Kami seringkali komentarin film-film Indonesia, terutama akting yang buruk atau cerita yang tidak masuk akal. Begitu pun saat awal-awal nonton Layangan Putus, kami banyak sekali berkomentar mengenai adegan romantis yang cringe, banyak adegan ciuman yang bikin kami bosan, adegan obrolan antarteman yang dibuat seru dan lucu tapi nyatanya tidak, hingga selera humor teman Aris yang garing.

Namun, lama-kelamaan, kami jadi ikut larut dalam ceritanya. Ikut kesal ketika Aris sembunyi-sembunyi selingkuh dari Kinan, istrinya. Ikut kesal ketika Aris tidak mengakui kesalahannya meski Kinan sudah tahu dia berselingkuh dan kasih lihat buktinya, bahkan Kinan dituduh gila. Dan ikut sedih ketika Kinan kehilangan bayinya. Lalu kami sadar bahwa ada beberapa adegan yang mungkin terlihat lebay, tapi sangat bisa terjadi di kehidupan nyata, malah sangat natural. 

1. Miranda pakai satu anting

Miranda adalah teman bisnisnya Aris yang diduga jadi pelakor. Suatu saat, Kinan curiga dengan ditemukannya satu anting warna biru di jasnya Aris. Besoknya, Kinan melihat Miranda memakai anting biru yang mirip dengan yang ia temukan, sehingga semakin menguatkan dugaan Kinan.

"Enggak masuk akal, masa orang pakai satu anting," kata suami saya.

Kemudian saya baru teringat bahwa satu sehari sebelumnya, saya pakai satu anting sepulang dari travel. Saya bercerita kalau anting saya jatuh di mobil travel karena kepala bersandar pada bangku. Kemungkinan antingnya nyangkut di bangku. "Jadi, orang pakai satu anting itu mungkin banget kok," kata saya.

2. Konflik saat Kinan konfrontasi Aris dengan bukti perselingkuhan

Ada satu adegan saat Kinan memberikan daftar penumpang pesawat yang menunjukkan bahwa Aris pergi ke Turki bersama pelakornya, Lidya. Di situ, meski bukti terpampang nyata, Aris masih mencoba mengarang cerita bahwa ia sedang ada proyek kerjaan rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Sejujurnya, saya gemas sekali nonton adegan ini, terutama melihat orang yang salah tapi tidak mau disalahkan.

Mereka pun berantem besar. Menurut saya, adegan berantemnya sangat natural. Akting Putri Marino, aktris yang memerankan Kinan, sangat baik sekali. Ia bisa menunjukkan ekspresi orang yang muak tapi sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena lawannya tidak mau mengaku. Gestur tangannya juga menunjukkan rasa 'cukup'. Bahkan, Kinan sempat menarik kerah baju Aris.

Saya dan suami pernah berantem sampai rasanya ingin mukul. Haha. Sumpah, saya jadi relate dengan akting Putri saat itu. Saat kita sedang berada puncak konflik dan tidak ada jalan keluar, rasanya ingin kita tabok lawan kita agar mereka sadar dengan kesalahannya. Semacam, "Hey! Wake up!!"

3. Duka tidak bisa diburu-buru

Maaf ini spoiler, tapi karena sinetronnya sudah lama tayang, jadi saya bahas juga deh ya. Jadi, bayi yang dikandung Kinan itu meninggal karena harus dikeluarkan di usia 7 bulan. Di situ, Kinan berduka. Kami melihat kalau akting Putri ini bagus sekali saat ia menunjukkan duka. Filmnya juga memperlihakan detail barang-barang bayi yang seharusnya dipakai oleh pemiliknya.

Semenjak anaknya meninggal, Kinan jadi menarik diri dari Aris dan sekitarnya. Karena Aris ingin buru-buru baikan, ia memaksa Kinan untuk selesai untuk berduka. Pada saat itu, Kinan menunjukkan bahwa ia ingin menghayati duka tanpa diburu-buru.

Menurut saya ini poin yang penting. Seringkali saat kita berduka ditinggal orang meninggal, kita disuruh tabah, menerima, ikhlas, atau bahkan tidak boleh nangis karena dianggap arwahnya akan susah pergi. Kenapa kita harus menahan duka kita sih? Bolehkah kita menangis dan move on kapan pun kita siap?

Saya jadi ingat seorang psikater di Twitter. Ia kehilangan anaknya bernama Hiro. Di acara tutup petinya, psikiater itu bilang begini, "Saya akan banyak menangis, tapi tolong jangan minta saya stop menangis." Menurut saya, itu bijak sekali, karena setiap orang punya waktu dan cara sendiri untuk mengelola emosinya. Jadi tidak perlu menahan diri ala 'yuk bisa yuk' padahal kita capek atau hati kita hancur berantakan.

4. "'Kan masih ada Raya"

Saat berduka, salah seorang teman Kinan berkata "'Kan masih ada Raya". Raya adalah karakter anak pertama Kinan dan Aris. Di situ, Kinan langsung bilang enough dan ia segera pergi meninggalkan temannya.

Menurut saya, komentar tersebut serta respons tokohnya sangat natural. Di kehidupan nyata, kita sering menemukan orang berkomentar seperti itu di situasi duka. Padahal, sosok anak yang meninggal tidak bisa diganti dengan anak lainnya. Komentar seperti itu sangat tidak menghargai individu yang berpulang. 

Dari seluruh film tersebut, saya mengapresiasi akting Putri Marino yang menurut saya oke banget sih. Ternyata dia pernah memenangkan Piala Citra. Selain itu, meski memang digarap ala sinetron, adegan-adegan yang saya sebutkan di atas membuat script Layangan Putus lebih baik dibandingkan sinetron pada umumnya. 

Akhirnya Vaksin! Ini Dia Efek Vaksin Astrazeneca

Banyak orang yang enggak mau vaksin, khususnya karena takut dengan efek vaksin AstraZeneca. Memang sih, di awal-awal banyak kejadian seperti ada yang lumpuh dan ada yang meninggal. Apalagi ada berita bahwa vaksin Astrazeneca juga disebut sebagai penyebab penyumbatan darah. 


Setelah melakukan riset, ternyata risiko penggumpalan darah akibat vaksin AstraZeneca hanya 4 kejadian dari 1 juta orang yang disuntik kok. Malah kasus penggumpalan darah lebih banyak ditemukan di kasus perokok aktif yaitu 2 ribu kejadian per 1 juta orang dan pengguna pil KB yaitu 500 kejadian per 1 juta orang. Vaksin AstraZeneca ini juga ternyata lebih efektif mencegah varian Delta hingga 94 persen!

Ya sudah, saya semakin mantap untuk vaksin AstraZeneca. Ini juga merupakan usaha saya untuk menjaga kesehatan.

Cara mendapatkan vaksin Covid-19

Mulanya, kantor saya mendaftarkan seluruh pegawai melalui vaksin Gotong Royong. Karena tidak ada panggilan, akhirnya saya dan teman-teman mendaftarkan diri ke puskesmas dekat kantor, yaitu Puskesmas Grogol Utara 2. Kami mendaftarkan diri secara online.

Saya dan teman-teman adalah perantau, sehingga kami membawa surat keterangan kerja. Kami datang pukul 9 pagi. Memang saat itu kondisi puskesmas agak penuh, tapi masih kondusif alias tidak berjubel. Proses konfirmasinya juga gampang, mereka sudah punya daftar peserta vaksin. Saya hanya kasih KTP, surat keterangan kerja, dan petugas hanya mencocokan dengan data yang ada.

Waktu menunggunya agak lama yaitu 1 jam. Sepertinya yang lain datang lebih pagi dari kami, karena setelah kami konfirmasi pendaftaran, tidak ada yang mengantre untuk daftar vaksin lagi. Jadi, kami menunggu dengan sabar.

Saat tiba waktunya, saya dipanggil untuk ditensi. Alhamdulillah normal yaitu sekitar 128/90-an. Tekanan darah saya cenderung rendah, terutama di pagi hari. Makanya sebelum vaksin, saya sarapan dan minum teh manis biar tekanan darahnya bagus.

Lalu petugas juga tanya-tanya riwayat penyakit saya. Pertanyaannya singkat, tidak sebanyak saat saya mengantarkan mama saat vaksin Covid lansia. Setelah itu, saya pun langsung ke ruangan dan disuntik deh. Rasa jarum suntiknya enggak berasa sama sekali, mungkin karena biasa donor darah dengan jarum yang segede dosa kali ya. Heheh.

Setelah menunggu beberapa menit, petugas memberi sertifikat vaksin covid. Di sertifikat tersebut, itu ada nomor yang bisa dihubungi jika kita mengalami sesuatu terkait setelah vaksin. Selain itu ada keterangan kapan kita kembali untuk vaksin ke-2. Petugas menyarankan kami untuk makan Panadol biru jika ada demam atau pegal-pegal.

Efek vaksin AstraZeneca

Setelah vaksin, saya pulang ke kos untuk istirahat. Tidak ada dampak berarti sampai sore hari. Tidak ada rasa lapar atau ngantuk. Baru deh, sekitar jam 7 hingga 10 malam, badan saya terasa anget seperti orang mau sakit. Selain itu agak linu di bagian pinggang. Supaya enak tidur, saya makan Panadol.

Saya merasa badan pegal-pegal di pagi harinya. Persis seperti orang sakit flu. Saya pun pesan makanan secara online dan minum kopi. Enggak lama setelah itu, badan segar bugar. Hehe. That's it!

Kalau kata teman-teman saya, efek vaksin yang saya rasakan ini terbilang ringan. Beberapa teman saya setelah vaksin Covid ada yang sakit kepala, panas, mual, dan muntah. Ya, memang efek vaksin berbeda-beda untuk setiap orang. Mungkin efeknya tergantung dengan hal-hal yang ia lakukan sebelum vaksin:

Tips sebelum vaksin Covid-19

1. Olahraga
Untuk saya pribadi, saya enggak melakukan olahraga dadakan karena akan vaksin sih. Saya termasuk orang rutin berolahraga selama bertahun-tahun. Saya olahraga di rumah sebanyak 3-5 kali per minggu.

2. Makan makan seimbang
Saya jarang makan mie atau fast food. Biasanya jajan warteg aja seperti nasi, sayur, dan daging (ikan atau ati ampela). Sebenarnya ini lebih ke arah hemat sih daripada pengin sehat. Hahaha. Maklum anak kos. Tapi ya saya memang suka sayur, jadi kalau sehari enggak makan sayur rasanya badan enggak "seger" gitu.

3. Puasa
Nah ini enggak tau ngaruh apa engga ya. Tetapi sebelum saya vaksin, saya puasa 3 hari. Lagi-lagi, ini karena alasan bayar puasa dan berhemat menjelang akhir bulan. :D

4. Tidur cukup dan sarapan
Nah, kalau ini wajib, setidaknya di malam sebelum vaksin. Tidur cepat memang PR saya. Jadi, sebelum vaksin, saya benar-benar stop hp dan mencoba tidur secepat mungkin. Sarapan juga perlu agar tubuh kita punya tenaga untuk menerima "virus" dari luar.


Intinya, sepertinya kita engga bisa tiba-tiba bergaya hidup sehat karena mau vaksin saja. Gaya hidup itu harus dipupuk sedari awal. Kalau masalah demam setelah vaksin, saya jadi inget Elora saat imunisasi sih. Dia juga mengalami panas kok. Jadi menurut saya demam setelah vaksin Covid-19 adalah hal yang wajar. Jadi, tidak usah takut!

Kamu sendiri gimana, sudah vaksin Covid-19? Ada yang pakai AstraZeneca juga? Bagaimana efeknya? 

Cara Menurunkan Berat Badan 5 Kg dalam Sebulan

Berat badan kamu naik selama WFH? Sama dong! Karena sering di rumah dan punya temen makan (baca: suami), saya sering order GoFood. Bahkan bisa hampir setiap hari saya order makanan! Kayaknya saya miskin karena itu sih, hahaha. Kala itu, saya sering es kopi susu, kwetiau, dan ayam goreng antara pukul 10-12 malam. Gila 'kan?

Kiri 68 kg, kanan 63 kg. Pakai celana yang sama.

Karena enggak bisa jalan-jalan, sepertinya saya menjadikan makanan sebagai hiburan. Bosen? Pesen makan. Benar saja, timbangan naik dari 63 kg hingga 68 kg. Wah, ini kedua kalinya saya menyentuh angka terberat yaitu 68. Rasanya? Ugh, serba sempit.

Perjalanan naik turunnya berat badan

Chubby cheeks.

Kesukaan saya sama olahraga muncul ketika masih kerja di media. Dulu BB saya pernah menyentuh 68 kg. Karena sakit, BB turun jadi 65 kg. Karena mau menikah dan supaya baju pengantinnya cukup, saya latihan cardio di treadmill atau latihan otot. Untungnya kantor menyediakan fasilitas sport center yang bisa digunakan secara gratis ini. Benar saja, BB turun ke 63 kg.

Saat itu saya merasa badan bagus banget. Hahaha. Namun itu tidak berlangsung lama karena dua bulan setelah menikah, saya hamil dan naik 20 kg. Ini tidak mengkhawatirkan, BB turun sendirinya karena memberi ASI pada anak. Setelah itu, saya maintain dengan HIIT workout di rumah selama dua tahun. BBnya berhasil sampai angka 63 kg hingga saya kembali ngantor lagi. Tak lama mengantor, saya WFH, dan terjadilah kenaikan BB seperti yang diceritakan di atas.

Ya ampun naik turun terus, memang tidak bisa selamanya kurus gitu?

Antara panik BB terus naik tapi tidak bisa meninggalkan makanan, saya olahraga HIIT. Nah, saat itu agak frustasi karena kok enggak turun-turun seperti dulu. Terus saya berharap jadi sakit supaya BBnya turun kayak dulu (pemikiran macam apa ini?) Hingga akhirnya saya menemukan olahraga yang paling efektif buat saya .. yaitu lompat tali!

Tips menurunkan berat badan 

Ada beberapa hal yang saya lakukan supaya bisa menurunkan berat badan:

1. Hindari es kopi susu
Kandungan gula dan susu itu enggak banget. Selain bikin gemuk, mereka juga bikin jerawat saya makin parah. Suatu hari, saya menemukan cara bikin kopi susu di rumah. Nah, ini lumayan menolong karena saya bisa mengurangi gulanya dan bisa ganti susunya dengan susu kedelai atau susu kurma. Karena hampir tiap hari bikin sendiri, lama-lama bosen juga minum es kopi susu.

2. Batasi makan malam
Saya udah stop total pesen makanan di atas jam 9 malam. Kadang cheating 1-2 kali, tapi udah berkurang secara signifikan. Terakhir biasanya saya makan jam 7 malam.

Olahraga tanpa alat juga bisa kok!

3. Olahraga cardio
Pandemi bikin saya enggak bisa lari di trek lari (selain itu ditutup juga tempatnya). Jadinya saya lompat tali di rumah. Waktunya 30 menit, setiap hari. Biasanya sambil dengerin podcast biar enggak berasa.

Awal-awal kita akan merasa nyeri di bagian depan kaki. Penyebabnya kita lompat terlalu tinggi dan mengentak terlalu keras ke tanah. Lama-lama kita akan terbiasa lompat tapi dengan lompatan yang dikit-dikit dan mendarat lebih lembut. Dari lompat tali aja bisa bikin saya turun 3 kg selama dua minggu.

4. Olah otot
Supaya enggak gembyor, saya olahraga otot. Biasanya HIIT pakai dumbell atau resistance band gitu. Saya punya dua dumbell di rumah yaitu 3 kg dan 5 kg. Resistance band juga ada yang light dan heavy. Semejak kos, saya olahraga pakai resistance band aja karena koper keberatan kalau harus bawa-bawa dumbell.

Apakah kita harus sewa personal trainer? Enggak. Kita bisa lihat di YouTube seperti favorit saya mba Heather Robertson dan Fitness Kaykay.

5. Tetapkan tujuan olahraga
Tujuan olahraga saya enggak murni pengen turun berat badan aja. Saya pengen punya badan yang padat alias enggak gembyor, pengen enggak gampang ngos-ngosan kalau melakukan aktivitas berat, dan pengen bebas kolesterol atau diabetes. Saya pengen ini jadi kebiasaan, bukan sekedar tujuan BB turun tercapai lalu olahraga ditinggalkan. Makanya saya suka ajak Elora olahraga supaya ini jadi kebiasaan dia. 

Jadi, kalau kamu mengalami permasalahan yang sama dengan saya, bisa olahraga lompat tali ya. Semoga berhasil!

Enak WFH, Kenapa Kembali ke Jakarta?


Sejak awal pandemi, kantor tempat saya bekerja berbaik hati mengizinkan saya untuk kerja dari rumah. Itu jadi oase di tengah gurun, karena mental saya mulai melemah akibat saya enggak bisa ketemu Elora. Saya pun menjalani WFH dengan senang hati. Kerjaan sih enggak ada bedanya. Saya bisa keep up dengan deadline karena memang sudah biasa kerja freelance.

Awal-awal memang ada adaptasi, terutama meeting harus dilakukan lewat Zoom. Itu jadi hiburan buat saya karena masih bisa lihat teman-teman. Namun setelah teman-teman mulai masuk kantor dan Zoom berkurang, saya jadi khawatir hubungan pertemanan melonggar.

Kantor pun tidak pernah memanggil saya untuk kembali WFO. Kadang teman suka tanya kapan saya balik ke Jakarta, dan saya selalu jawab nunggu panggilan kantor. Memang posisi saya bukan yang tipe harus hadir di kantor karena menulis bisa dilakukan jarak jauh. Apalagi atasan saya juga lebih setuju kalau saya kerja dekat dengan Elora.

Waktu berjalan dan mulai ada keinginan untuk beli ini itu yang lebih besar. Saya dan suami diskusi bahwa sepertinya saya harus kembali ngantor supaya slip gaji kembali normal (WFH bikin beberapa tunjangan terpotong), status kepegawaian bisa naik, dan dapat fasilitas lainnya. Dengan berat hati meninggalkan Elora tetapi tidak ada jalan lain, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

Meninggalkan Elora

Iya, berat sekali meninggalkan Elora. Apalagi dia semakin pintar, semakin peka dengan situasi. Kalau situasinya seperti dulu yaitu bisa PP Bandung-Jakarta setiap minggu, mungkin saya santai menghadapinya. Sekarang 'kan enggak bisa PP tiap minggu. Saya enggak mau ambil risiko menularkan keluarga dan teman kantor. Lagipula ternyata harus izin atasan, CCO, HRD, dan tes swab PCR kalau mau mudik. Waa.. pokoknya repot. 

Saya sudah bilang ke suami bahwa sepertinya akan pulang per dua atau tiga bulan sekali. Bayangkan tidak ketemu Elora selama itu.

Sebelum pergi, Elora sempat sakit panas secara tiba-tiba. Banyak yang bilang sepertinya dia tahu bahwa akan ditinggal pergi ibunya. Hal itu bikin saya sedih. Setelah dia sembuh, saya akhirnya pergi juga. Ya, dia menangis kencang ketika saya masuk mobil dan dia enggak ikut. Itu bikin saya patah hati dan ingin sekali membawanya.

Saya dan suami sepakat bahwa ia dan Elora akan tinggal di Bandung untuk sementara. Pertama, Elora sudah sekolah di playschool. Kedua, kami malas ngontrak (karena mending ditabung untuk beli rumah). Ketiga, kasus Covid-19 di Bandung lebih sedikit daripada Jakarta. Keempat, rumah di Bandung besar dan nyaman.. memang sebaiknya dia di sana saja.

Saya menyangka Elora hanya akan bete saat ditinggal saja, setelahnya dia akan ceria lagi seperti biasa. Namun ternyata saya salah. Dia enggak mau makan, enggak mau sekolah. Maunya tiduran, nonton tv, tidur membelakangi ayahnya, dan bilang ia marah sama ayahnya (karena melarang ikut ibunya). Bahkan dia enggak mau bahas tentang kepergian saya, bahkan ia selalu mengalihkan pembicaraan. Waduh!

Elora ternyata sudah dewasa. Ia peka dengan keadaan, emosinya juga lebih kompleks. Artinya, saya dan suami enggak bisa bertindak atau ngomong seenaknya dengan pikiran "Ah, dia masih kecil, pasti enggak akan ngerti atau cepat lupa." Elora sudah jadi manusia.

Menahan rindu selalu

Saya bukan orang yang didesain sebagai orang tua yang bisa jauh dengan anaknya. Jadi, hampir setiap malam saya nangis kangen Elora. Bahkan saya mimpi dia ikut ke Jakarta dan terbangun karena saking sedihnya.

Teman-teman dekat selalu meyakinkan bahwa Elora baik-baik saja di rumah. Keluarga saya memang jadi memanjakan dia seperti dikasih barang-barang atau dianter ke sekolah. Iya sih, dia memang tampak happy-happy aja.

Teman-teman dekat juga meyakinkan bahwa suatu saat Elora mungkin akan mengerti perjuangan ini, bahwa ibunya ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya. Mungkin ini akan jadi cerita manis di suatu hari nanti.

Semoga.

Pengalaman Pertama Kali Tes Swab PCR di Jakarta

Selama 1,5 tahun pandemi berlangsung, akhirnya saya merasakan pengalaman pertama kali tes swab PCR di Jakarta. Bukan, bukan karena memiliki gejala, tetapi karena mengikuti syarat untuk bisa balik ke kantor. Ternyata lumayan deg-degan juga.

Foto ilustrasi dari Unsplash/Mufid Majnun

Saya melakukan tes swab PCR di Klinik Kasih ProSehat, Jl. Palmerat Barat, Jakarta. Harga tes yang express atau H+1 adalah Rp800 ribu. Klinik buka pukul 8 pagi. Ketika saya datang pukul 8.30, ternyata sudah banyak yang mengantre dan semuanya periksa tes rapid antigen.

Pada Juni ini, saya memutuskan untuk stop work from home dan kembali ngantor karena berbagai alasan. Setelah bekerja dan dekat dengan anak selama 1,5 tahun, rasanya berat juga. Mungkin saya akan cerita lebih detail gimana pergulatan batin seorang ibu yang harus pisah jauh dengan anak.

Pegawai di sana sudah default aja kerjanya, jadi orang-orang yang datang dianggap mau tes rapid antigen. Hehe. Jadi begitu saya ke pendaftaran, mereka langsung minta data-data saya tanpa ditanya mau tes apa. Setelah jawab pertanyaan staf, saya bilang mau tes swab PCR, dia agak kaget dan mengubah data-data yang udah dimasukkin. Hehe.

Jadi penting yaa buat kamu untuk bilang dari awal kalau akan tes swab PCR.

Staf di Klinik Kasih ProSehat yang muda dan cepat tanggap.

Begitu setelah masuk ruangan, saya ditanya-tanya lagi seperti pernah kontak dengan orang yang positif engga, habis dari luar kota, atau merasa sakit atau sehat. Berbeda dengan orang-orang yang tes rapid antigen yang langsung duduk sesuai antrean. Begitu masuk ke ruang swab, petugas juga nanya lagi kenapa saya PCR.

Saya pikir, wah kayaknya spesial sekali perlakuan orang yang mau swab PCR. Hehe. Mungkin mereka jadi ekstra hati-hati ya.

Petugas swab juga nanya apakah saya sudah pernah swab sebelumnya. Saya jawab belum. Dia terlihat agak kaget, "Termasuk antigen?" Saya jawab iya. Jadi, selama 1,5 tahun ini saya cukup menerapkan protokol kesehatan yang ketat di rumah, jarang ke luar rumah, dan tidak pernah merasa gejala Covid-19.

Saya bilang kalau saya deg-degan juga mau di-swab. Petugas bilang saya untuk rileks dan menginfokan hal-hal yang harus saya lakukan saat di-swab, seperti:

1. Kepala menengadah.

2. Saat sedang dicolok idungnya, napas lewat mulut. Jadi, kita harus tarik nafas panjang lalu keluarin perlahan-lahan lewat mulut.

3. Kepala sama tangan usahakan tidak bergerak.

4. Saat dicolok lewat mulut, buka mulut lebar-lebar dan julurkan lidahnya.

Rasanya? Pedeesss. Mata jelas berair, dan pengen nangis. Bukan karena sakit, pedes aja gitu. Belum lagi sama dia diputer-puter di dalam hidung kiri dan kanan. Kalau di bagian mulut mah enggak terlalu gimana-gimana, karena kita biasa masuk makanan 'kan?

Setelah di-swab, saya pulang dan menunggu pemberitahuan lewat email dan WhatsApp. Jujur, semalaman itu saya parno. Gimana kalau saya positif? Saya akan bikin cemas keluarga dan merepotkan orang-orang. Kalau saya terinfeksi dari Bandung, artinya keluarga saya juga harus swab dong? Saya juga jadi enggak bisa masuk kantor dan bakal isolasi sendirian di kamar kos. Lalu bagaimana jika gejalanya berat? Gimana saya bisa ke Wisma Atlet?

Wah pokoknya overthinking. Saya terus menerus meyakinkan diri bahwa saya sehat, tidak ada gejala, indra penciuman dan pengecap pun tidak ada gangguan. Saya pasti sehat.

Bangun tidur, saya langsung cek WhatsApp dan email. Belum ada email dari mereka. Baru sekitar pukul 8.30 pagi, sebuah WhatsApp masuk. Dilihat dari notifikasi, foto profil pengirimnya adalah klinik tersebut. Wah, here we go..

Setelah diunduh filenya, ternyata hasilnya ... negatif!

Sumpah langsung sujud syukur. Terkesan lebay sih ya, tapi saya selega itu. Hahaha.

Jadi saya bisa masuk kantor lagi nih. Dan dengan leganya saya mengabarkan ini pada HRD, atasan, dan keluarga saya.

Saya jadi inget masa-masa pertama kali rapid tes di April 2020. Saat itu belum ada swab, baru tes antibodi dan rapid tes biasa. Waktu itu tesnya diambil darah dari lengan dan dari ujung jari. Memang sedikit tidak horor dibandingkan dicolok hidungnya.

Semoga kita sehat selalu yaaa. Tentu hasil negatif tes swab PCR di Jakarta ini enggak jadi surat sakti saya bebas berkeliaran di mana aja, apalagi tanpa masker. Namun yang jelas ini jadi surat sakti masuk kantor. Hehe. Sampai ketemu di postingan selanjutnya!

Jika Saya Menjadi Ibu ...

Sejak usia dewasa awal, saya sudah memiliki gambaran sosok ibu ideal buat anak saya. Nah, karena sekarang sudah punya anak, saya berusaha memenuhi standar ibu ideal tersebut. Memang ibu yang sempurna itu engga ada, tapi saya memiliki standard sendiri yaitu anak saya bisa berbahagia memiliki ibu seperti saya.

Meretas tabu, anak tidak melulu dekat dengan ibu

Photo by Julien Pouplard on Unsplash

Iklan di media selalu menggembar-gemborkan betapa romantisnya hubungan ibu dengan anaknya. Bahkan sosok ibu posisinya bisa di atas ayah. Tapi nyatanya tidak. Ada anak yang lebih dekat dengan ayahnya, ada ibu yang lalai, ada juga yang kedua orang tuanya abai. Hubungan orang tua dan anak tidak seromantis itu!

Saya percaya bahwa semua anak mencintai orang tuanya.. tanpa syarat. Saya melihat hal ini pada Elora. Meski kadang ia dimarahi dan dibentak, dia selalu mencari saya. Dia selalu mencubit pipi saya pertanda gemas, dia selalu bilang karya macrame yang saya buat itu bagus, dan selalu menghujani dengan ciuman. Di mata Elora yang usianya tiga tahun, saya sempurna.

Saya jadi merefleksikan hubungan ini kepada saya dan ibu saya. Sepertinya, di awal kehidupan, saya seperti anak pada umumnya: selalu ingin dekat dengan ibu. Saya selalu ingin ikut jika ia pergi ke pasar. Terkadang mandi pun sama-sama. Saya ada di bawah badannya dan menerima kucuran air yang ia basuh ke badannya.

Namun, lama kelamaan, sosok ibu ini banyak mematahkan hati saya. Misalnya, ketika saya mengadu kalau saya dimarahi oleh guru di sekolah, ibu menuduh itu akibat perbuatan nakal saya. Ia menghakimi tanpa tahu cerita seutuhnya. Misalnya, ketika saya butuh pendamping saat mendaftar sekolah, ibu tidak ada. Sejak SMP, saya selalu daftar sekolah sendiri.

Saya merasa ia kurang berjuang agar kami mendapatkan kehidupan yang baik. Saya merasa dia egois tidak menjaga kesehatannya sendiri, sehingga saya yang selalu kena tegur keluarga: dianggap cuek, tidak mengurus, dan harus melakukan serangkaian hal. Padahal ibu yang diam-diam menyembunyikan kopi sachet penuh gula di bawah bantal, ia pula yang membeli gorengan dan memakannya sendirian di kamar.

Sudah dibilang dengan baik-baik? Sudah. Sudah dibilang dengan keras? Sudah juga. Sudah menjadikan cucu sebagai alasan? Apalagi itu!

Saat belum nikah, sebagai anak tunggal, saya harus menanggung beban itu semua. Harus ke rumah sakit naik angkot berdua saja. Harus membuat keputusan sendiri atas kehidupan ibu saya. Sejujurnya, semenjak menikah, beban saya jadi terbagi ke suami. Setidaknya ada teman tertawa miris jika saya merasa kesulitan menghadapi ibu saya.

Sedari sekolah, saya selalu merasa iri dengan teman-teman yang diantar oleh orang tuanya. Saat dewasa, saya iri dengan teman-teman yang bisa dekat dengan ibunya, memberikan kata mutiara saat hari ibu. Jujur, karena kedekatan itu tidak pernah terbangun, saya geli melakukannya.

Ya, kami dekat, namun karena ia satu-satunya orang tua saya dan saya satu-satunya anaknya. We're stuck each other.

"Nia, tapi kan dia IBU kamu. Dia yang melahirkan kamu. Kamu harus sayang!"

Eneg sekali mendengar kata-kata tersebut. Pertama, tidak meminta untuk dilahirkan. Kedua, mengapa ia tidak membangun kedekatan itu sedari awal. Ketiga, saya sudah kenyang dipaksa menyayangi seseorang, seperti harus menerima sosok ayah yang hampir tidak ada itu. Rasanya, kenapa saya harus mengerti perasaan orang lain, tapi engga ada yang mengerti saya.

Engga, saya juga engga mau jadi anak yang durhaka. Semua keluh kesah itu berusaha saya tahan, dan berusaha memenuhi kewajiban anak aja: bawa ke rumah sakit kalau sakit, kasih uang bulanan buat makan, doa ke Tuhan agar dosa-dosa kami diampuni.

Jadikanlah saya buah yang jatuh jauh dari pohonnya

Saya tidak mengidolakan ibu saya, justru saya ingin jauh dari image-nya. Saya ingin jadi ibu yang bisa diandalkan oleh Elora, ibu yang kuat dan jadi garda terdepan membela anak, ibu yang selalu ada saat Elora perlu.

Saya juga ingin menjadi ibu yang pintar agar Elora bisa bicara apa pun pada saya. Ibu yang selalu mendengarkan, dan ibu yang bisa membantu hidup anaknya. Ibu yang sehat sehingga tidak menyusahkan anaknya. Ibu yang bisa membuat Elora berseru bangga, "Itu ibuku!"

Ya, tentu ibu saya bukan tidak memiliki hal positif sama sekali. Dengan segala keterbatasannya, ia selalu berusaha memberi untuk Elora. Ia selalu berupaya memberi kami makanan meski itu mengambil milik anggota keluarga lain. Hehe. Ini kadang membuat saya maluuu sekali.

Ya, ibu sangat mengajarkan banyak hal: tidak ingin menjadi sepertinya, dan tidak ingin anak saya merasakan hal yang sama. Terima kasih, Ibu!

-------------

Edit: Sebulan kemudian, setelah membaca tulisan ini, saya sadar bahwa tulisan di atas hanya emosi semata. Tentu saya sayang dengan ibu saya, selamanya.

Anak, Korban Pandemi Covid-19 yang Terlupakan

Kita udah tahu kalau pandemi Covid-19 ini membuat sosialisasi kita terbatas. Jelas, pandemi membuat kita cemas. Enggak bisa ngantor, enggak bisa hangout, enggak bisa kumpul keluarga. Kita juga sering curhat betapa kangen teman-teman, betapa bosan di rumah., betapa stresnya mengajarkan anak SFH. Namun, ingatkah kita bahwa si anak yang tampak cerah ceria ini juga merasakan dampaknya? Kecemasan anak selama pandemi Covid-19 juga banyak terjadi lho.


Dari awal pandemi, Elora udah stop main perosotan dan ayunan di taman dekat rumah. Ia pernah beberapa kali ke taman, tapi kami cari yang enggak ada permainannya supaya dia enggak pegang-pegang. Di beberapa kesempatan, dia sempat berinteraksi dengan anak-anak lainnya, tapi itu juga kami melihatnya dengan perasaan was-was.

Awal-awal pandemi dia masih suka bilang kalau pengin main perosotan di taman. Namun kami jelaskan bahwa lagi ada virus korona, jadi belum bisa main di taman. Sekarang ini, dia udah enggak minta main lagi. Dia juga udah tahu harus pakai masker, pakai hand sanitizer, dan cuci tangan. Social distancing? Wah, jangan harap, mana bisa dia.

Kegiatan sosialisasi Elora yang kurang jadi semakin berkurang. Kami memutuskan untuk stop dulu bermain dengan teman-teman sebayanya yang mau main ke rumah. Mungkin tampak lebay ya? Bagaimana pun kami enggak mau ambil risiko. Apalagi anak-anak kan susah main pakai masker.

Asisten rumah tangga di rumah sempat bawa anaknya bekerja. Si anak ini sempat dua minggu enggak dibawa karena sakit flu. Setelah dia masuk ikut ke rumah lagi, waah.. kami enggak izinkan itu si Elora main sama dia. Jadinya, kami bikin dia sebetah mungkin di kamar.

Contoh kejadian lain yang enggak terhindarkan adalah pengunjung cafe yang bahwa anak ke rumah (kebetulan di depan rumah ada restoran). Elora ingiiin sekali main sama mereka. Kadang kami biarkan, kadang kami larang (karena mereka 'kan mau makan). Si Elora suka sedih kalau kami larang. Bahkan tidak jarang ia nangis.

Elora sedih, kami juga sedih melihat dia karena anak ini punya kebutuhan sosialisasi tapi kami belum bisa memenuhinya dengan maksimal.

Hal tidak terhindarkan lainnya adalah kalau ada saudara yang berkunjung bawa anak. Ya sudahlah, itu keluarga. Kalau ada apa-apa, jadi tanggung jawab bersama dan kita lebih mudah tracking-nya. 

Saya coba memenuhi kebutuhan interaksi Elora dengan cara mengikutkan kelas daring. Dia lumayan senang sih, tapi tetap saja tidak menggantikan interaksi langsung. Salah seorang teman sempat mengajak ikutan kelompok bermain yang katanya menerapkan protokol kesehatan, tapi saya juga belum berani. Waduh, sekolah yang wajib aja masih tutup, ini kelompok bermain kok berani-beraninya udah buka. Saya makin enggak rela kalau Elora ketularan karena kegiatan yang enggak prioritas. 

Kadang kami jalan-jalan, tapi ke tempat yang terbuka dan sedikit orang seperti main sama rusa di Taman Hutan Ir. H. Juanda. Biar dia tetap melihat dunia luar. Atau ke cafe yang saat itu hanya kami saja pengunjungnya seperti Musat di Jl. Cilaki Bandung.

Doa dari tahun lalu sampai sekarang masih sama, semoga pandemi segera berlalu ya, agar Elora dan anak-anak kita segera ketemu lagi dengan teman-temannya.