Pukul 01.23, Tamma masih terjaga. Setiap hari, waktu tidurnya hanya satu jam. Tamma insomnia. Entah apa yang menyebabkannya tetapi ia terlalu takut dengan diagnosa seorang psikolog. Ya.. terkadang memang seperti itu, Tamma terlalu takut menghadapi realita.
Ia bangkit dari tempat tidurnya lalu menyalakan TV. Sialannya, hanya ada program iklan semacam TV Media. Iklannya berulang dan berulang. Iklannya berputar dan berputar. Iklannya seperti dua dimensi yang buruk namun terus berlanjut. Tamma tersedot kedalam pusaran iklan dan menjadi stagnan.
Tamma tidak memaknai, ia hanya melihat. Entah benar-benar melihat atau kosong. Ia ditemani dengan secangkir kopi yang sudah mendingin. Mungkin karena AC ruangan yang dipasangnya setiap malam. Tamma hanya terdiam, melakukan gerakan namun tidak berarti. Badannya sedikit membungkuk mungkin karena sudah tidak ada semangat lagi.
Lamunannya pada TV tersadarkan dengan getaran handphone yang ada di tempat tidurnya. Ia beranjak, mengambilnya, namun tidak mengangkatnya. Ia terlalu takut untuk mengangkatnya karena yang menelepon bukan seseorang yang menenangkan. Tetapi ini masalah pekerjaan yang dibencinya. Sama seperti iklan TV itu, ia tersedot kedalam pusaran pekerjaan dan menjadi stagnan.
Terkadang Tamma bukanlah Tamma. Tamma terkadang memalsukan identitas, Tamma terkadang mengganti no handphonenya dengan cepat dan Tamma terkadang menghilang. Mungkin Tamma betul-betul individu yang bebas dan tidak mengikat dirinya pada siapapun. Tidak ada yang tahu jalan pemikirannya, mungkin hanya ia dan Tuhan. Mungkin Tamma merasa bahwa sepi adalah sebuah konsekuesi.
Tamma pasti bertambah kuat. Dia tahu rasanya ditinggalkan, rasanya sepi, rasanya ditikam dari belakang, rasanya ditipu, rasanya meminta bantuan tapi tak seorang pun yang mampu.
Tapi kini Tamma hanya merasa bosan dengan pekat. Ia mengambil kotak obatnya dan menjejalkan tiga buah pil tidur lalu meminumnya agar ia bisa menghilang dari dunia ini selama 24 jam!
Selamat tidur, Tamma..

(Nama Tamma terinspirasi dari salah satu tokoh komik Monster yaitu dr. Tenma. Semoga endingnya baik)

Jam pasir

Hari ini lagi malas mikir.. mau kembali ke habitat yaitu bercerita, boleh?

Okay!
Jam pasir pun siap berlomba dengan dimensi waktu yang ada. Mereka saling berebut masuk pada tabung dibawahnya. Kasian ya mereka, hidup bolak-balik antar tabung dan diburu oleh waktu. Pasti menjemukan ya?
Kamu tahu waktu itu apa? Detik? Menit? Jam? Hari? Bulan? Tahun? Oh.. bukan. Itu bukan definisi dari waktu tetapi itu bagian dari waktu. Waktu itu adalah ruang yang tidak terlihat. Kamu tidak perlu menempelkan definisi saya dan membuatnya permanen di otak karena itu adalah jawaban yang tidak ilmiah.
Lihat keluar sana. Kasus formalin, SARS, majalah playboy.. sudah tidak menujukkan geramnya kan? Mereka itu termakan oleh waktu! Respon masyarakat pun termakan oleh waktu. Lihat!! Waktu itu begitu hebat kan? Ada habituasi disana. Sekali lagi, jangan menjadikannya permanen.
Kamu tahu.. waktu itu bisa jadi obat. Time will heal.. time will heal.. itulah slogan yang dikumandangkan orang-orang yang melarikan diri dari efek sampingnya cinta.. yaitu sakit. Kamu percaya? Jangan. Tidak ada yang menyuruh kamu percaya. Ini hanya asumsi palsu. Jangan pernah menjadikannya permanen.
Baik.. sekarang ada waktu, pasir dan cinta. Apa hubungannya? Sekali lagi.. katakan dengan keras, apa hubungannya? Nah.. tidak ada kan? Baiklah.. sembari kita menunggu 15 menit berakhir, mari kita cari korelasi yang belum terkuak.
Cinta.. itu tidak ada sambungannya dengan pasir. Yaa.. memang ada pepatah cinta itu seperti pasir yang ada di genggaman kamu. Semakin kamu menguatkannya maka pasir itu akan semakin berpencar. Eh, kayak gitu bukan sih pepatahnya? Maaf.. penulis bukan budak cinta seperti Bapak Khalil Gibran. Terdengar sinis ya? Tapi ini cuman pandangan subjektif saja.
Cinta dan waktu.. Sudah saya jelaskan tadi.
Lalu pasir dan waktu? Itu sudah sangat saya jelaskan pada awal tulisan. Kamu ingat? Tidak? Tidak?? Wah.. mungkin kamu kena anemia, oh bukan.. anamnesa. Bukan juga! Oh iya.. amnesia!
Balik lagi ke cerita sebelumnya. Jadi adakah hubungannya? Baiklah.. ambil saja kesimpulan. Ternyata kita tersesat dalam labirin penulis yang gawatnya tidak berujung. Ini tidak ada hubungannya dan waktu itu menyesatkan.

Dasar manusia barbar!

Tema hari ini adalah fun! Yes. I`m in hurry. Hari ini saya telat LAGI! Ya.. pokoknya praksis dan inkarnasi (apapun itu..) sudah ada di dalam kelas. Kami membahas kelas dangdut, sex party, tinju.. dan itu adalah bisnis kapitalisme. Gladiator, adu domba dan adu ayam tersamarkan oleh kebudayaan. Padahal mereka ingin bertarung dengan orang yang mengeksploitasi mereka, hanya beda kelas dan nasib! Tetapi tetap saja primitive.
Tergagas dalam pemikiran saya untuk tidak mengkerdilkan potensi karena saya tidak mau menjadi korban kaum kapitalis. Tidak mau sebagai korban mereka yang mereduksi potensi disambung dengan budaya barat yang mendera (hayo.. engga ngerti kan? SENGAJA!)
Susah juga untuk menghilangkan budaya menemukan positif dalam negatif. Tapi apakah betul mereka adalah makhluk positif? Mereka itu adalah masyarakat dan budaya. Dialektika Hegel!! Tapi bagus lah.. setidaknya itu mengendurkan tegangan di pemikiran.
Hoahmmm.. udah ah ini aja. Ngantuk soalnya bangunnya kaget karena telat >_<
C ya!

Kierkegaard Part II

Hari ini saya hidup dengan penuh keragu-raguan apakah saya mandi dengan bersih atau tidak. Hari ini saya bangun pukul 06.15 (Hey.. mana shalat subuhnya??) dan harus berangkat pukul 06.20. Mandi pun secepat The Flash menyelamatkan korbannya. Betul-betul kilat sehingga ada keraguan di dalamnya. De omnibus dubitandum est. Ternyata dosen menelepon saya dan mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengajar. Ah.. bagun pagi dan mandi kilat saya sia-sia!!
Tapi agar postingan hari ini tidak kosong, akan saya isi dengan Kierkegaard yang saya baca sendiri. Iya.. baca sendiri! Mahasiswa dengan potensi sukses seperti saya kan harus membaca sendiri (Amin duh Gusti...). Membosankan memang tapi itu adalah sebuah keputusan yang berada dalam subjektivitas karena objektivitas berada dalam kesalahan. Dan gawatnya.. kebosanan itu adalah akar dari kejahatan. Ketika Tuhan bosan, ia menciptakan Adam. Ketika Adam bosan, Tuhan menciptakan Hawa dan ketika Adam dan Hawa bosan.. mereka menciptakan keluarga yang menjadi sebuah massa. Massa merasa bosan lalu mereka menciptakan menara2 tinggi melebihi bukit sehingga itu merupakan bukti dahsyat bagaimana kebosanan berkuasa. Amin!
Lucunya penemuan saya hari ini adalah.. saya mengerti mengapa laki2 mudah melupakan perempuan. Karena mereka tidak jatuh cinta pada perempuan tetapi dengan pikiran tentang perempuan. Mereka membayangkan badannya.. sifatnya.. dan pokoknya hanya banyangan perempuan..
Owh.. apa yang saya katakan setelah semua ini?? Apakah saya hanya penjiplak dari buku yang di proyeksikan kepada blog? Bukan. Saya hanya ingin menceritakan kembali apa yang telah saya lihat.. dengar.. dan membungkusnya dengan sebuah tulisan yang abadi.

Freedom for myself.. Freedom for universe!


Andai gue bisa melakukan percintaan seperti Sartre dan De Beauvoir. Tidak terikat oleh hal-hal yang bisa mengikat seseorang dengan kehidupannya. Mereka punya pacar masing-masing tetapi mereka bercinta melalui filsafat. What a world..
Sartre bilang kalau manusia itu sendirian, ditinggalkan dan bebas. Dan itu benar! Karena saya seperti itu. Saya manusia dan saya seperti itu. Dia bilang manusia itu mencoba untuk menjadi Tuhan. Mereka berseru pada Tuhan tetapi hanya dibalas dengan kesunyian. Yah.. kesunyian adalah Tuhan itu sendiri. Saya manusia dan saya seperti itu.

Ah.. entahlah. Perkuliahan kemarin betul-betul mengasyikan. Bubye Professor.. And Welkom Fur Madam Ifa ;)

TheWillToPower!


Beliau berkata, "Adakah yang kangen dengan Kierkegaard? Because he said when i die.. you will miss me". Beberapa mahasiswa tertawa. "Any question?" Beliau melanjutkan.
"Do you know the differences between Immanuel Kant and Syah Rukh Khan? Kahn loves women.. he`s a women eyeser (personal term, right?) But Kant never loves women (Apakah ia homoseksual atau frigid?). Semua orang tertawa.
Saya tahu bahwa saya seorang manusia seperti Dionysus yaitu dewa yang emosional, pemarah, meledak-ledak namun menyukai musik, pintar merayu (Ini kiasan. Mungkin saya hanya bisa dengan kata-kata) dan romantis. Manusia pencipta namun merusak, bebas dan percaya diri. Ia menari-nari dalam ecstacy dionysus.
Lalu ia menjelaskan mengenai Nietzsche. Manusia itu harus terus berevolusi. Mereka harus kuat. Tuhan telah mati. Manusia menciptakan diri sendiri dan menciptakan kesusilaan sendiri.
A pity for Europian brain..