Cerita Sebuah Foto: Tidur


"Siapa dia?"
"Seorang perempuan."
"Apa yang dia lakukan?"
"Ia tertidur pulas."
"Sangat pulas?"
"Bahkan terlalu pulas."
"Sudah berapa lama ia tertidur?"
"Satu tahun tanpa pernah terbangun. Ia membuatku takut.."
"Kenapa ia tidak pernah terbangun?"
"Ia membasahi paru-parunya dengan alkohol sebelum tidur."
"Untuk apa?"
"Menghangatkan tenggorokan."
"Kenapa tidak jahe atau bandrek?"
"Karena ia memilih alkohol."
"Dimana ia tinggal?"
"Daerah tropis."
"Bukan di daerah dingin seperti Saga di Jepang?"
"Tidak sedingin itu sehingga orang Indonesia yang berada disana mengeluarkan darah dari mata, hidung dan telinga karena cuaca yang dingin. Ini tropis."
"Apa kamu yakin hanya untuk menghangatkan tenggorokan?"
"Sebenarnya aku tidak yakin.."
"Apa yang kamu yakinkan?"
"Dia melarikan diri dari kenyataan."
"Selalu adalah masalah psikologis dalam diri manusia kah?"
"Mungkin."
"Sekarang ia berhasil lari selamanya?"
"Dalam damai."
"Kamu tidak merindukannya?"
"Kamu terlalu banyak bertanya."
"Kamu tidak membangunkannya?"
"Sttt.. suara kamu yang akan membangunkannya."
"Jadi, kita biarkan saja ia tertidur?"
"Iya."
"Ok."

[Sorry kalau fotonya bikin males :P Btw, cerita ini didedikasikan untuk seorang teman. Disarankan untuk meminum susu sebelum tidur :)]

Putri

Putri duduk di depan cermin, melihat dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambutnya yang tergerai indah, kemejanya yang rapi, celana kain pipa membentuk kakinya yang jenjang dan kuku kaki yang bersih karena ia hanya berjalan dikisaran rumah, mobil, kantor dan mall.
Hari itu ia merasa tidak cantik dan merasa begitu terasing. Cermin tidak mampu memberikan jawaban karena ia tidak tahu apa yang dirasakan majikan. Cermin berusaha memahaminya dengan merefleksi sebaik mungkin agar Putri percaya bahwa dirinya adalah perempuan tercantik yang pernah ada.
Diamnya sebuah emosi kesal dan sesal yang ia redam selama satu tahun belakangan ini membuat Putri bercermin tanpa ekspresi. Diantara kekalutan apakah ia masih mengenali dirinya, ia dapat melihat jelas genangan air di matanya. Ditahannya kuat-kuat agar tidak jatuh.
Ada yang mengusik kakinya dengan gesekan bulu-bulu halus dan hangat. Dipandangnya Putri dengan rasa senang karena majikannya datang. Berarti dia tidak sendiri di rumah minimalis yang dingin ini, pikirnya. Namun pandangan lugu sang anjing membuatnya tidak kuat untuk menahan tangis. Ia mengaduh, ia meringis, ia berteriak kemudian menangis.
"Guk!" Gonggongan kecil sang anjing sambil melompat ke pangkuan Putri. Ia mengibas-ngibaskan ekornya berharap dapat menghibur Putri. Putri mengelusnya dengan air mata yang masih menetes.
"Maaf ya.. aku lagi ngga bisa main.." Ujar Putri perlahan.
Sang anjing menatap Putri seolah ikut merasakan sedih yang sang majikan.
"Kamu itu enak.. kamu tidak pernah tahu rasanya berpisah dengan orang yang kamu sayang. Kamu juga tidak pernah tahu rasanya sendiri, terasing dan ditinggalkan." Ia mencoba menahan tangis tetapi gagal.
"Guk!" Sang anjing menjilati tangan Putri. Rasanya basah tetapi hangat.
Putri memeluk anjingnya. Sedih rasanya untuk menyadari hanya anjing yang mencintainya dan memperhatikannya tanpa syarat..

Picture

[Ketika aku ingin sendiri, aku berjalan kaki. Ketika aku merasa sendiri, aku berjalan kaki..]

Musikalisasi Hidup

Sudah beberapa bulan belakangan ini aku memainkan lagu pop lama. Minggu kedua bulan Desember, aku ujian. Ujian piano pop terakhir dari tingkat terakhir. Ternyata tingkatan pianoku tertinggi dari semua murid sehingga guruku belum tahu prediksi oral test yang akan diberikan. Berarti aku kelinci percobaan. Trial and error. Kalau aku tidak bisa menjawab Cadd9, Caug atau Cdiminished, berarti murid yang berada dibawahku akan dicekoki chord sampai nada kesembilan.
Katanya tangga nada yang akan ditest hanya C, F dan G. Jujur, aku sangat tidak percaya. Dahulu aku bermain piano klasik. C, F, dan G adalah dasar tangga nada yang terbilang amat mudah. Aku tidak percaya, apakah mungkin tingkat terakhir hanya ditest tangga nada dasar? Kenapa tidak C melodic atau C harmonic? Kenapa tidak dimulai dari B? Kenapa tidak dimulai dari E flat sekalian? Kenapa hanya dimainkan sebanyak dua oktaf, kenapa tidak tiga?
Aku jadi bingung. Kenapa mendapat soal susah diributkan dan kenapa mendapat soal mudah tetap diributkan?
Baru saja aku latihan. Bandung mendung terus seharian. Rumah kosong karena orang rumah ada pekerjaan keluar negeri :(. Tiba-tiba aku kangen dengan lagu-lagu klasik yang jarang aku mainkan. Fur Elise dari Beethoven adalah lagu wajib untuk semua pemain klasik. Turkish March dari Mozart yang pernah aku mainkan diluar kepala tetapi karena jarang latihan, aku jadi lupa. Moonlight Sonata adalah lagu yang sudah aku pelajari berbulan-bulan tetapi belum kelar juga. Entah mengapa, begitu aku memainkan, suasana terasa megah. Mungkin karena rumah yang sepi dan suasana yang mendukung. Permainanku memburuk karena tidak pernah latihan atau mungkin malas karena aku sudah terlalu lama menunggu ujian piano klasik yang entah kapan akan dilaksanakan. Karena kurikulum yang tidak ajeg, aku dan Melissa (FYI, Melissa waktu itu masuk di acara The Scholar Metro TV lho. Huhuh, cantik, kuliahnya di ITB dan pinter main piano. Perfecto) terbengkalai selama dua tahun hanya untuk menunggu ujian! Seharusnya aku sudah lulus dari dulu.
Ya sudahlah. Sebaiknya aku mempersiapkan segalanya. Dari yang paling mudah sampai yang paling sulit sehingga soal apapun yang diberikan, aku bisa menjawab. Mudah-mudahan kalau nilaiku bagus, aku bisa menjadi guru piano atau melanjutkan ke piano jazz. Jadi, blog ini akan libur dulu. Mau focus :) Doakan agar berhasil ya?

Cerita Sebuah Foto: Berkenalan Dengan Air


Sebuah kisah menarik yang aku dapat dari air ketika Bandung hujan deras. Aku menyempatkan diri keluar rumah untuk mengenal air kemudian menyentuhnya. Aku adalah aquarius, si lambang air. Mengenal air seperti mengenal diriku sendiri.
"Air.. kenapa kamu baru datang ketika Bandung mengering?" tanyaku.
"Proses kondensasi di awan sedang mengalami carut marut. Ada pergantian Raja Awan sehingga semua warga mengalami ketidakpastian untuk membuat hujan."
"Jarang sekali aku melihat mendung. Kenapa?" tanyaku lagi.
"Kami tidak berani berbuat apa-apa. Raja Awan tidak mampu bernegosiasi dengan Raja Matahari yang kian berkuasa. Oleh karena itu Dewa Langit memecat Raja Awan kemudian mencari penggantinya."
"Wah.. ternyata ada politik langit ya?"
"Selain itu juga ada politic cleansing."
"Ah? Cleansing? Aku jadi ingat susu pembersih." Aku bingung.
"Bukan.. bukan itu.. semua yang mendukung Raja Awan I 'dibersihkan' oleh ormas-ormas calon Raja Awan II dengan alasan bahwa jika masih banyak pendukung, maka Raja Awan I tetap menang. Kemarau akan panjang." Air menjawab panjang lebar.
"Siapa yang mendukung Raja Awan I?"
"Petir, es, kabut, dan para air."
"Berarti kamu juga donk?"
Air mengangguk.
"Kenapa kamu mendukung?" tanyaku lagi.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Raja Awan, ini adalah bagian dari jam alam. Dan tahukah kamu apa yang menyebabkan matahari berkuasa?"
Aku menggeleng tidak tahu.
"Adalah para makhluk yang hidup dibawah langit, terutama manusia," jawabnya tajam.
"Berarti orang-orang seperti aku?"
"Iya."
"Apakah calon Raja Awan II jahat?"
"Iya. Jahat. Angin puting beliung yang merusak rumah manusia adalah salah satu perbuatannya. Hujan angin dan hujan es adalah perbuatannya. Petir yang menyambar gardu listrik sehingga seluruh kota gelap gulita adalah perbuatannya."
"Aku pikir ia hanya tidak bisa sedikit menahan emosi."
"Entahlah."
"Kemarin hujan angin, berarti Raja Awan sudah menjabat kerajaan donk?"
Air mengangguk.
"Kenapa kamu masih bekerja? Bukankah kamu tidak mendukungnya?"
"Ini adalah terakhir kalinya kamu melihat aku. Esok, akan ada air lain yang menggantikan."
"Apakah dia baik seperti kamu?"
"Entahlah."
"Sekarang kamu mau kemana?"
"Kemana arah aliran sungai dibelakang rumah kamu?"
"Jika panjang, itu akan sampai Samudra Hindia," jawabku.
"Yah.. berarti aku akan kesana, bertemu keluarga besar."
Aku diam.
"Baiklah, aku harus mengalir. Jika diam, berarti banjir. Senang bisa berkenalan dengan manusia seperti kamu."
Tanganku masih menengadah, berharap aku bisa menampung air sebanyak-banyaknya dan menahannya pergi. Namun semuanya itu bergulir dan berjatuhan kebawah. Mengalir long march menuju Hindia..

[Hasil imajinasi ketika hujan. Semoga berkenan :)]