Doa Hari Ini



Tuhan, kumohon.. bicaralah.
Aku yakin dengan sepenuh hatiku, Kau ada. Aku memang tidak religius tapi aku cukup beriman. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya berada diatas, tetapi disamping, dibawah dan disekeliling. Oleh karena itu aku sangat menyukai berdoa sambil menunduk dan menangis. Terkadang menengadah membuat asam uratku kambuh.
Aku sudah berdoa ratusan kali. Aku tidak capek dan aku yakin Kau tidak akan bosan mendengarkan. Karena doa-doaku menjadi penguat doa sebelumnya, kan? Doa-doaku menunjukkan bahwa aku sangat berniat, kan? Berilah sedikit petunjuk. Entah petir, hujan, gempa atau apa sajalah. Jangan Kau diamkan aku begini. Kau beri aku kejadian-kejadian yang telah direncanakan dalam format kebetulan tapi aku bukan Freud yang bisa menginterpretasi, Tuhan. Aku tidak bisa membedakan mana petunjuk dan mana yang bukan.
Berilah aku mimpi. Bawakanlah kerabat dekatku yang telah meninggal sebagai pembawa pesan. Jangan Kau bawakan anak atau cucu karena aku tidak percaya dengan orang yang lebih muda. Atau bawakan istriku yang telah lama meninggal. Aku sangat merindukannya.
Aku mohon, berilah petunjuk.

Picture info

[Menggambarkan orang ketika berdoa secara keseluruhan, bukan fokus pada satu doa. Bukankah itu yang diucapkan ketika seseorang sudah putus asa?]

Ibu Kedua?

“Selamat siang, tante.”
“Siang. Duduk, dek!”
“Terima kasih, tante.”
“Sudah berapa lama pacaran dengan Bayu?”
“Tiga tahun, tante.”
“Oh.. kenapa baru sekarang kesini?”
“Soalnya Bayu baru sekarang ngajak saya kesini, tante.”
“Oh.. jadi harus diajak dulu yah?”
“Ya.. ngga juga sih, tante.”
“Asli mana?”
“Ibu saya Tionghoa, bapak saya Sunda, tante.”
“Oh.. gitu. Saya kira kamu orang Jawa, habis kulitnya hitam.”
“Iya, tante.”
“Kalau dari Sunda itu jarang ada garis ningrat dong ya?”
“Setahu saya, keluarga saya tidak punya garis ningrat.”
“Nama anak saya sih Raden Bayu Setyoaji. Ya.. kamu tahu sendiri lah. Saya tuh sudah mati-matian menjaga perilaku Bayu agar sesuai namanya, agar melestarikan garis ningrat kita. Tapi kamu tahu sendiri perilaku dia seperti anak muda zaman sekarang. Terus bapak kamu kerjanya apa?”
“Editor di salah satu koran lokal.”
“Oh.. masih koran lokal ya..”
“Iya.”
“Ibu kamu kerjanya apa?”
“Ibu saya pelukis.”
“Oh ya itu sih lumayan kalau ada pesanan saja. Kalo ndak ada pesanan ya kosong toh?”
“Mungkin.”
“Lha?? Kok mungkin. Ya iya donk!”
“Iya, tante.”
“Punya adik atau kakak?”
“Saya anak bungsu, tante.”
“Ooo... Tapi tante sudah nyaman dengan anak sulung, dek. Biasanya anak sulung itu lebih bisa ngemong dan mandiri gitu.”
“Iya..”
“Kuliah dimana?”
“Unpar.”
“Oh. Swasta ya?”
“Iya.”
“Beruntung anak saya kuliah di ITB tuh. Anak saya yang lain kuliah di Maranatha, biayanya itu mahal sekali. Tapi kita sih ndak mentingin harga, yang penting dia bisa sukses. Maranatha itu swasta yang paling bagus di Bandung ya?”
“Aduh, saya kurang tahu, tante.”
“Lho, orang Bandung kok ndak tau. Wah.. susah ini. Saya saja yang baru tinggal beberapa bulan disini sudah tahu.”
“Soalnya ayah saya kerja di koran lokal, bukan di Dinas Pendidikan, tante. Jadi saya ngga tahu.”
“Ah, kamu ini bisa saja. Tapi susah juga ya, bapak kamu kerja di koran lokal, ibu kamu pelukis dan kamu kuliah di universitas swasta. Kakak kamu sudah menikah?”
“Belum, tante. Sedang nyusun skripsi.”
“Oalaaah.. ya susah itu!”
“Kebetulan saya kuliah sambil kerja, tante. Kebetulan saya kuliah di hukum dan saya kerja di biro hukum dosen saya.”
“Belum lulus kok sudah bisa kerja di biro hukum?”
“Dosen saya bilang dia sudah ingin memperkerjakan saya sebelum saya diambil orang lain. Katanya kalau saya sudah lulus, saya akan dikuliahkan di luar negeri. Bironya cukup besar dan terkenal di Bandung, tante. Jadi mungkin beliau butuh tenaga tambahan.”
“Ohhhhh.. ya hebat itu!”
“Ya alhamdulillah, tante. Saya bisa bantu meringankan beban orang tua saya.”
“Kalau bekerja di biro hukum, gajinya lumayan!”
“Begitulah, tante.”
“Tapi ya.. setelah saya pikir-pikir.. mau anak sulung atau bungsu itu kan relatif toh? Yang sulung itu belum tentu mandiri toh? Lagipula garis ningrat itu hanya sejarah, yang penting bagaimana kita kedepannya. Betul, dek? Ya sudah, kamu sudah makan? Makan di sini saja sama tante ya?”
[Hoahm.. cape dewh! :D]

Teh Hitam

Jika pada saat itu aku memasangkan kopi hitam dengan pisang goreng, maka sekarang aku memasangkan teh hitam dengan Chicken Pizza Dina. Sebuah french bagguette ditaburi potongan ayam, keju dan saus spesial. Jika saat itu aku meminum di warung kopi, maka sekarang aku meminum di villa kawasan Puncak dengan hamparan permadani hijau sepanjang mata.

Satu tea pot teh hitam di depan mata menyuruhku untuk segera menikmatinya. Aku minum sebuah minuman yang mengalami proses paling panjang karena dauh teh dibiarkan beroksidasi secara komplit. Aku minum sebuah minuman yang terbuat dari rendaman daun, pucuk atau ranting dari tanaman teh dalam air panas sekali seduh selama beberapa menit. Oksidasi, pemanasan, pengeringan, tambahan tanaman herbal, bunga-bungaan, rempah-rempahan atau buah-buahan teracik sempurna dalam white tea, green tea, red tea, oolong dan lainnya.

Teh lebih dari sebuah seni. Meminum teh adalah sebuah jalan hidup menuju kesehatan. Ia adalah sebuah sistem yang tidak otoriter. Seberapa kental dirinya, ia tetap lembut. Ia membantu penyembuhan kanker, diabetes, liver bahkan menurunkan berat badan. Tidak ada kafein yang memompa paksa jantung, hanya mual temporer jika diminum dalam keadaan perut yang masih kosong.

Jika ingin manis, bisa dicampur dengan gula jawa, lemon atau madu.

[I`m a teaddict]