Konser Awal Tahun!



BJORK "the VOLTA tour"
Tennis Indoor Senayan Jakarta
Selasa 12 February 2008
Pukul 20.00
Festival / Free Standing : Rp 600.000,-
Tribune / Free Seating : Rp 500.000,-

MY CHEMICAL ROMANCE "World Tour of 2008".
PLENARY HALL JCC JAKARTA
Kamis 31 January 2008
Pukul 20.00 Wib
Festival / Free Standing : Rp 500.000,-
Tribune / Free Seating : Rp 600.000,-

INCUBUS
5th March 2008
Tennis Indoor Senayan, Jakarta
Tickets Prices
:Festival : Rp. 550.000
Tribune : Rp. 450.000



Keterlaluan! Betul-betul menguras keuangan. Apalagi saya suka ketiganya. MCR sayang dilewatkan, Bjork adalah musisi yang jarang sekali didatangkan dan Hyper-Ballad adalah lagu nomer wahid di playlist sendiri, dan pengen juga sing along bareng Incubus. Harus puasa dari sekarang untuk mengencangkan pinggang!
Bjorrrkkk.. I'm cominnggg (kali).

She-male

Dalam rangka melakukan self therapy cacat psikologis akibat kritik dosen mengenai proposal penelitian, saya memutuskan untuk mengobservasi keponakan laki-laki saya yang lagi puber.
Perlu digaris bawahi: Ternyata puber itu menyebalkan.
Keponakan saya ini kelas 3 SMP. Sifat pemarah, mudah tersinggung, pemberontak, susah diatur, dan ciri khas remaja mencari identitas sudah kelihatan dari satu tahun yang lalu. Dan tahun ini ia mulai meributkan penampilannya.
Semuanya dimulai dari musik. Dia mulai suka musik berisik dari yang masih bisa di dengar sampai yang tidak bisa di dengar sama sekali. Beruntung dulu tantenya pernah pacaran sama anak band cadas jadi si ponakan tidak get lost sama orang tuanya sendiri yang selalu mencekokkan jazz. Hihi.
1. Hal aneh pertama: Dia mulai tidak menyisir rambutnya. Mau sehabis keramas sampai bangun tidur, ia tidak mau menyisir rambutnya. Katanya orang yang rambutnya disisir rapi itu cupu alias culun punya.
2. Hal aneh kedua: Dia minta dianterin ke salon.
"Nia, anterin aku ke salon dong."
"Hah? Buat apaan??"
"Aku pengen dipotong EMO getoh."
"Gak usah EMO lah, basi."
"Apaan dong? Mulet? Mohawk? Jepun punya?"
"Ramires aja."
"Apaan tuh?"
"Rambut miring tidak beres."
Dan akhirnya ia memotong rambutnya dan kekeuh tidak disisir.
3. Dia minta dianterin ke distro. Dia menghabiskan uang 800k dalam sehari hanya untuk beli segala sesuatu tentang band dari baju sampai tas.
4. Segala sesuatu harus sama dengan frame pemikirannya. Segala sesuatu harus setingkat dengan parameter apakah seseorang itu worth it untuk dijadikan teman atau tidak. Jika tidak setingkat, dia akan bilang, "Ih.. autis."
Ngomong-ngomong tentang autis, saya pernah berantem sama dia karena dia bilang autis seenaknya ke orang lain.
Saya bilang, "Emangnya autis itu apa?"
"Ya.. autis itu kan artinya dia punya dunianya sendiri. Ya gitu lah."
"Kamu ngga boleh seenaknya bilang orang lain itu autis. Kamu tahu apa tentang autis? Belajar psikologi juga kagak!"
Entahlah, saya yang belajar psikologi, kok dia yang bisa dengan bebasnya men-judge seseorang autis?
5. Last but not least, kemarin ini sesuatu mengerikan terjadi.
"Halo? Nia, dimana?"
"Kebon bintang. Kenapa?"
"Ntar ke mall gak?"
"Iya. Mau nitip apa?"
"Beliin eye shadow dong."
"Woooooooottt???"
"Iya, beliin yang item yah."
Screw me. Apa saya tidak salah dengar bahwa keponakan laki-laki saya minta dibelikan eye shadow? Ini EYE SHADOW sodara-sodara!
Dan malam harinya ia ke kamar saya kemudian mencoba mengoleskan eye shadow hitamnya. Antara setuju dan takut kalau suatu hari ia akan jadi she-male (laki-laki keperempuanan), saya membantu dia mengoleskan eye shadow di atas matanya. Dan pagi harinya saya kaget melihat dia matanya hitam-hitam karena lupa dicuci, "Kamu abis digebukin dimana?"
Secara teori sih memang anak umur segitu sedang mencari identitas dirinya. Mencari teman sekelompok yang mempunyai hobi yang sama dan rela melakukan apa saja agar diterima di kelompoknya. Saya sih membebaskan saja keponakan saya bergaya apapun karena saya pikir ya biarlah ia mengeksplor apa yang ia suka - walaupun untuk terlihat gaya - ia tidak menyisir rambutnya.
Semua orang melalui fase itu, kita juga. Mungkin kita pernah sadar bahwa dulu kita stubborn sekali, apalagi sama orang tua. Kita lebih mendengarkan teman daripada keluarga. Kita akan merasa gaya jika mengikuti trend. Rasanya sudah bisa mandiri padahal tidak bisa menghasilkan uang sama sekali.
Dalam kasus keponakan saya, suatu saat mungkin ia akan sadar bahwa penampilan tidak menentukan seseorang culun atau popular. Mungkin ia akan sadar ketika ia melihat fotonya waktu SMP, ia aneh sekali. Coba sekarang kita buka album lama dan lihat foto kita semasa sekolah. Ada yang poninya berjambul ala Lupus, ada yang memakai kacamata besar, ada yang memakai ikat pinggang warna warni, ada yang bajunya di-double dan gombrang abis, dan lainnya.
Culun sih tapi waktu itu gaya sekali ;)

Salah Sambung

Mungkin dari beberapa temen pernah mengalami telepon salah sambung. Entah darimana mereka dapet nomer teleponnya, tetapi intinya salah sambung.
Motivasi salah sambung pun beragam, ada yang salah pencet nomer, ada yang salah informasi, ada yang emang sengaja mencet nomer dengan asal dengan maksud iseng atau ingin ngajak kenalan.
Saya pernah mengalami motivasi yang terakhir: diajak kenalan. Begini pembicaraanya:
The Pasirkoja Man (TPM): Halo? Dengan Yenyen?
Nia: Bukan, salah sambung.
TPM: Oh, dengan siapa ini?
Nia: Ya pokoknya salah sambung.
TPM: Ini nanya baik-baik lho. Ini dengan siapa?
Nia: Dengan.. engg.. nia.
TPM: Nia? Temennya di Pasirkoja?
Nia: Bukan. Saya ngga punya temen yang namanya Yenyen.
TPM: Kamu kenal Yudi di Caringin?
Nia: Engga.
TPM: Atau kenal Deni di Pasirkoja?
Nia: Engga juga. Dibilangin saya kenal Yenyen.
TPM: Tinggal dimana, Nia?
Nia: Hah?
TPM: Di Pasirkoja ya?
Nia: Wah jauh, Mas. Saya tinggal di Dago dan bukan orang Pasirkoja.
TPM: Kamu pake kerudung?
Nia: Hah? Kagak tuh.
TPM: Oh, kamu Kristen ya?
Nia: Iye.
TPM: Kamu pasti Chinese.
Nia: Iye.
TPM: Yenyen juga Chinese, tapi dia pake kerudung.
Nia: Waduh, engga nanya juga sih, Mas.
TPM: Aduh badan kok pegel-pegel gini ya?
Nia: ...
TPM: Nia?
Nia: ...
TPM: Kok diem?

Akhirnya saya matiin. Ini orang ngomongnya ngelantur banget. Terus besoknya saya cerita ke teman saya perihal telepon ngeselin. Temen saya bilang, "Sekarang emang gitu modusnya, Ni. Pertama, pura-pura salah sambung dulu. Terus udahnya diajak kenalan deh."
Dan bener aja, itu orang besoknya nelepon lagi. Dia nelepon dan bilang, "Nia.. lagi apa?"
Huh? Desperate amat nyari jodoh, mas?
Pernah juga ditelepon sama debt collector. Kalau ini neleponnya ngga sekali, tapi berkali-kali. Hari ini, besoknya, lusanya, besok lusanya, dan seterusnya. Pertanyaanya menyebalkan, tipikal penagih hutang.
Debt collector perempuan (DCP): Halo? Selamat siang. Bisa bicara dengan Bapak Yudi?
Nia: Salah sambung, Mbak.
DCP: Ini dengan siapa?
Nia yang merasa aman karena setidaknya ini perempuan: Nia.
DCP: Oh. Salah sambung ya?
Nia: Iya.
DCP: Terima kasih.

Besok-besoknya terus ditelepon sama orang yang berbeda, dengan suara yang berbeda, dengan tone suara yang semakin frustasi karena Pak Yudi tidak kunjung ditemukan. Hehe. Akhirnya debt collector laki-laki nelepon.
Debt collector laki-laki (DCL): Halo?
Nia: Ya
DCL: Ini nomernya Pak Yudi?
Nia: Bukan, Mas.
DCL: Atau punya saudara yang namanya Yudi?
Nia: Engga juga.
DCL: Sudah lama pakai nomer ini?
Nia: Udah.
DCL: Ini nomer baru atau bekas pakai?
Nia: Dari awal beli juga pakai nomer ini.
DCLi: Sejak tahun berapa?
Nia: 2003-an lah.
DCL: Bisa disebutkan berapa nomer hp mbak?
Nia: 081321xxxxx
DCL: Bisa disebutkan sekali lagi?
Nia: 081321xxxxx
Nia: Mas, dari kemarin ada yang nelepon Pak Yudi. Emangnya ada apa sih?
DCL: Oh.. Pak Yudi itu belum membayar hutang kartu kreditnya. Terus saya dikasih nomer ini.
Nia: Wah, berarti mas ketipu. Dari dulu saya pakai nomer ini. Lagipula saya mahasiswa, jadi ngga pakai kartu kredit.
DCL: Iya, hutangnya banyak lagi.
Nia: Wah, itu sih urusan mas sama Pak Yudi.
DCL: Oh ya sudah. Terima kasih ya.

Kasian sekali debt collector. Kerjaannya ngejar orang jahat, orang yang kehadirannya ngga pernah ada. Tapi saya pernah kenal sama debt collector. Hasilnya sama saja: Jahat dan presensinya engga pernah ada.
Cuman tadi pagi rada ngeselin. Ada yang nelepon subuh-subuh. Sengaja engga saya angkat karena saya paling sebel ditelepon subuh-subuh, kayak ngga ada waktu lain aja. Tapi si orang itu ternyata ngga sekali nelepon, tapi berkali-kali. Karena berisik, akhirnya saya angkat.
Si Ngotot (SN): Halo??
Nia: Hm?
SN: Ini siapa??
Nia: Lho, kamu yang mau nelepon, kok kamu yang nanya?
SN: Arielnya mana? Arielnya mana??
Nia: Ariel? Salah sambung, Mas!
SN: Hah? Salah sambung??
Nia: Iya. Salah sambung. Engga ada yang namanya Ariel.
SN: Ini dengan siapa??
Nia: Pokoknya salah sambung.
SN: Arielnya mana? Arielnya manaaaa??
Nia: Mas tuh ngerti ngga sih arti dari salah sambung??

Ternyata salah sambung sama orang yang ngga nyambung lebih menguras tenaga. Huah!
Ada beberapa tips dari saya bagi para pembaca yang menerima telepon salah sambung.
1. Jangan menyebutkan identitas asli karena motivasi salah sambung bisa apa saja.
2. Kalau orangnya ngotot, tidak usah diladenin karena selain hanya menguras tenaga, kenapa juga kita harus ikut ngotot dalam hal yang menurut kita benar? Toh ntar juga dia tahu kalau dia salah sambung.
3. Kalau besok-besoknya ditelepon lagi hanya untuk ngajak kenalan, engga usah ke-GRan dan engga usah diladenin karena kita ngga akan pernah tahu siapa orang yang dibalik telepon. Contohnya pembantu saya suka ngajak kenalan orang lain dan dia ngaku-ngaku mahasiswa. Mau emang dibodohi oleh pembantu?
4. Tidak usah ganti nomer karena satu nomer yang menyebalkan tidak sebanding dengan nomer kontak yang ratusan. Ganti nomer akan menghilangkan kontak dengan banyak teman. Bertahan aja, paling sebentar lagi dia bosen.
Ok. Gimana? Seep ngga tuh tips-nya. Hihi. Dan tolong untuk salah sambungers agar memeriksa lagi nomer yang akan dihubungi.

Warning. It's Global Warming.

SURAT UNTUK TUHAN


Dear Tuhan Yang Maha Esa,

Baru saja aku membaca majalah Tempo mengenai global warming. Jujur saja aku menyesal membaca karena ini menyadarkanku kepada kelemahanku. Aku tidak bisa mengendalikan orang lain untuk tidak melakukan pencurian kayu, aku tidak bisa menghentikan pabrik kertas yang membutuhkan asupan banyak sekali kayu, aku tidak bisa mengehentikan pembakaran hutan gambut oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk dijadikan kebun kelapa sawit, aku tidak bisa menghentikan pertumbuhan penduduk yang setiap orangnya membutuhkan tempat tinggal, dan aku tidak bisa menyelamatkan dunia.
Aku bukan pahlawan seperti yang ada di komik atau serial Amerika yang berjudul Heroes.
Sedih ketika tahu bahwa global warming bukan hanya sekedar melelehkan es di dua kutub. Ia menjadikan tanah di Karawang menjadi kering dan ia melelehkan salju abadi di Jayapura. Ia juga membuat migrasi nyamuk malaria ke dataran tinggi dan membuat semakin banyak korban. Ia membuat terumbu karang berwarna putih, ia membuat para petani memanen padi yang masih berusia dini, dan beberapa tahun lagi ia akan membuat ibukota tenggelam.
Tuhan.
Dahulu negaraku disebut zamrud khatulistiwa karena dari ujung Sabang sampai Merauke karena negaraku terdiri dari hutan-hutan. Negaraku dahulu adalah paru-paru dunia. Namun kini negaraku berada di titik ekstrim yang bersebrangan semenjak rekor dunia menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara penghancur hutan pertama di dunia yang membabat hutan sebanyak tiga ratus kali lapangan bola setiap jamnya. Haruskah aku bangga?
Mungkin Engkau sudah tidak berpihak kepada
Indonesia sejak zaman Orde Baru. Karena pada saat itu pabrik kertas bermunculan dan penebangan hutan pun dimulai. Luasnya hutan tidak sama dengan banyaknya polisi hutan yang berjaga-jaga. Belum lagi hasil penjarahan yang dinikmati hanya segelintir orang tapi akibatnya harus ditanggung bersama: semua makhluk hidup. Manusia sibuk mengurus diri dari banjir, binatang sibuk mencari tempat perlindungan, namun tanaman tidak sibuk apapun karena ia tidak bisa bergerak.
Mungkin begitu caranya akhir dunia, ya? Mungkin sebenarnya kiamat tidak datang tiba-tiba karena prosesnya terjadi oleh manusia itu sendiri?

Surat ini bermaksud agar Engkau memperlancar konferensi tentang global warming di Bali yang menunjukkan hasil dan secara tidak langsung membuat pemerintah menolak ekspor kayu seperti yang dilakukan Aceh dan Papua.
Semoga ibu pertiwi tidak bersusah hati lagi. Semoga air matanya berhenti berlinang. Dan laranya pun hilang.
Amin.

Sangat-sangat.. Huah. Delapan Resolusi Colongan.

Saya ngga tahu ini dimulai dari mana. Tapi yang pasti saya menyesal online, baca comment si macan tapi gadungan, dan ada PR tambahan. Menyesal datangya terakhir, bener juga Desi Ratnasari. Saya kira PR ada di mata kuliah paling menyebalkan saja. Ternyata asumsi luluh lantak. Anyways, PR-nya adalah sebagai berikut:
Bikin 8 Resolusi hidup kamu untuk 2008... (WAJIB - ga kurang ga lebih - )
Sebarkan ke 8 orang, yang kamu tunjuk dan kamu anggap dia perlu perubahan, dan sebutkan alasan kamu : kenapa milih dia.
Kamu mesti mampir ke 8 orang tersebut, untuk ngasih tau bahwa mereka dapet PR dari kamu...

Ok. Mari kita membuat resolusi yang berguna bagi nusa dan bangsa. Ya namanya juga resolusi. Masalah berhasil atau engga kan yang penting usahanya :D
Resolusi saya adalah sebagai berikut:
1. Skripsi dilancarkan kemudian lulus dengan cumlaude. Tapi sudah diprediksi IPK hanya sampai 3,3. Kalaupun semester ini bagus, kayaknya belon sampai juga. Lagian gimana caranya cumlaude? Wong skripsi saja ditolak dosen pembimbing terus.
2. Fresh graduate langsung
S2 ke luar negeri (yaa.. namanya juga rencana, jangan nanggung-nanggung amat gitu).
3. Kerja di dalam LSM untuk TKW, melatih engga bego dan biar engga dipukulin lagi. Dan membuat mereka sadar kalau orang disana menjadikan budak 100% milik majikan. Biar gak shock gitu.
4. Kerja di LPA juga (Lembaga Perlindungan Anak) korban domestic violence.
5. Travelling ke pelosok Indonesia.
6. Masup tipi, jadi aktivis terkenal. Hahah, kesannya engga ikhlas.
7. Berhasil menurunkan berat badan. Saya jadi penasaran, apa semua perempuan memasukkan ambisi menurunkan berat badan di dalam resolusinya ya?
8. Buku saya jadi publish. Karena selama ini mandet di editor.

Ok. Saya berikan tugas suci nan mulia ini kepada:
1. Yuki. Mungkin Yuki yang bergerak dalam bidang HI bisa memberikan resolusi yang berguna untuk mendamaikan hubungan Indonesia-Malaysia. Heheh.
2. Hime. Sudah terlalu sibuk sebagai HRD di perusahaan SMART, pastinya resolusi mbak Putri juga smart (haha, sopan amat ngatain senior?).
3. Mikael Dewabrata. Bisa bikin resolusi ala mitologi Mesir?
4. Pushandaka. Mungkin bisa membagi resolusi yang bisa membuat tertawa dan mencerahkan hari orang lain.
5. Raffaell. Hihi.
6. Vendy. Jarang update blog. Jarang muncul di mari.
7. Tiwi. What more can I say? Partner in crime dalam diskusi mengenai iklan.
8. Adam. Apa semenjak sudah jadi ST membuatnya jarang mengupdate blog?

Dosa ngga sih bikin sibuk orang?

Love Fool

Capek.
Saya baru menghabiskan hari jalan bersama temen saya, nemenin dia beli sumthin buat HTSannya. Sepanjang perjalanan dia cerita tentang itu cowok dan dia bilang, "Pokoknya setelah tiga bulan ini, gw harus ngejauh dari dia."
Saya tanya ke dia,"Kenapa harus ngejauh sih?"
Dia diem aja.
Saya tanya lagi, "Apa ketidakpastian itu begitu menyakitkan?"
Dia bilang, "Gw ngga bisa bertahan dalam hubungan kayak gini. Walaupun ngambil keputusan untuk jauh dari dia tuh nyakitin."

Saya tanya, "Sorry nih kalo gw salah. Perasaan dolo elo pernah bilang ke gw kalo elo gak mau ketemu lagi sama dia pas terakhir lo ketemu itu, kan?"
Dia diem dan akhirnya bilang, "Iya. Tapi ternyata gw gak bisa."
Sekali lagi, hubungan mereka jadi ngegantung karena jarak. Jarak. Jarak. Jarak. Untuk kasus LDR yang ngga berhasil, mereka mengulang kata jarak sampai gak ada artinya. Jarak adalah kata yang sakral. Jarak adalah realitas yang sulit menembus kesadaran mereka. Mereka sudah ngga bisa memahami fakta bahwa jarak adalah masalah dari hubungan jarak jauh.
Akhirnya setelah keliling toko, kita nemuin barang yang diinginkan di toko terakhir. Dalam masalah belanja-belanja, perempuan emang jagonya. Mereka rela ngelilingin seantero Bandung untuk nyari barang yang dia pengen atau nyari barang yang lebih murah walaupun hanya seribu atau dua ribu. Dan si penjaga tokonya curhat colongan, "Udah mbak, belinya yang berwarna aja. Biasanya cewek suka ngasih cowok warna hitam atau abu2. Tapi gak selamanya cowok suka warna gelap. Cowok juga suka warna terang lho." Terus saya liat dia pake baju ungu. Oh ya, no wonder dia ngomong gitu.
On the way back home, temen saya cerita lagi tentang masalah duit. Dia harus ke Jakarta dalam kondisi uang pas-pasan. Intinya dia harus ke Jakarta untuk ngasih barang itu ke HTSannya. Dia gak ada duit buat naek travel, dia juga takut kalo naek bis sendiri. Dan dia hanya punya lima puluh rib rupiah saja. Padahal belon makan dan tektek bengek lainnya. Dan dia berniat minjem duit ke saya. Sayangnya, saya juga lagi ngga ada uang.
Dia bilang, "Aduh, gw pengen beli baju buat ketemu dia. Gw pengen potong rambut juga. Tapi uang gw cuman 50k. Belon gw makan di kampus, belon ongkos bis ke Jakarta, belon ini itu. Setidaknya gw punya 100 lah buat uang jaga-jaga."
Saya tanya, "Kalo disana ada apa-apa gimana?"
Dia bilang, "Ya disana ada sodara, mungkin gw akan tidur disana."
Saya bilang, "Ya lo pinjem lah uang sodara elo."
Dia akhirnya bilang, "Ya sebenernya dia bukan sodara gw sih. Dia tuh pacarnya sodara gw."
Saya bilang, "Berarti tetep aja orang lain."
Dia gak bilang apa-apa.
Dan dengan kejamnya saya bilang, "Elo tuh dibegoin karena cinta atau gimana sih?"
Terus dia ketawa dan pura-pura ngga denger. Tapi saya tahu dia berbohong dan saya tahu kalau dia mungkin tidak hanya mendengar, tetapi juga memikirkan hal yang selama ini ia pura-pura lupa.
Kadang cinta terkadang membuat kita melakukan hal-hal yang masuk akal. Bahkan cinta membuat kita mengorbankan diri kita sendiri. Tapi bagaimana pun cinta adalah totalitas. Di dalam kasus teman saya, mungkin ada garis tipis antara totalitas dan bego.

Dan dia telah menghapuskannya.