Sekelumit Tentang Daging

Di luar halal dan haram, pernah makan selain daging ayam? Pernah makan daging yang tidak biasa selain kambing atau sapi?
Dulu gw pernah makan daging ular, itupun karena katanya untuk menyembuhkan asma. Entah benar atau tidak, memang dari gw kecil sampai sekarang, asma gw enggak pernah kambuh. Beruntung karena waktu itu gw masih kecil. Coba sekarang disuruh makan daging ular, mungkin gw bisa muntah. FYI, saudara gw pernah menyarankan makan empedu ular untuk menghilangkan jerawat. Gw bilang dia dulu saja. Tahunya, setelah dia makan empedu ular, jerawatnya enggak hilang-hilang. Untung deh gw enggak makan.
Anyways, kemarin ini gw diajak ke sebuah rumah makan bebek yang terkenal enaknya. Teman gw - seorang korban acara kuliner di televisi - pun dengan semangatnya mempromosikan enaknya bebek. Awalnya gw tidak tertarik, karena gw tidak suka bebek. Lama-lama gw penasaran. Teman gw meyakinkan, "Temen gw yang suka pilih-pilih makanan saja doyan makan ini bebek. Habisnya bebeknya kering banget. Elo juga pasti suka. Cobain deh."
Akhirnya gw kesana sama dia. Memang itu rumah makan penuh banget, bahkan kita enggak bisa duduk santai sambil menurunkan isi makanan karena banyak yang mengantri. Dia meyakinkan gw sekali lagi, "Apa elo bener-bener mau makan bebek?"
Gw jawab, "Iya. Gw pesen bebek. Gw kan kesini mau nyoba bebek dan gw ada di tempat yang terkenal karena bebeknya. Ok, gw mau bebek."
Dan seekor bebek pun dikeluarkan. Pas gw makan, rasanya mau muntah. Teman gw, dengan sok nyikolog (hehe), nanya, "Emangnya ada pengalaman traumatis sama bebek?"
Tadinya mau gw jawab kalau ini masalah perut, bukan masalah psikologis. Tapi gw jawab, "Waktu dulu gw pernah makan bebek di dalam dus. Pas gw buka, itu bebek masih ada kepalanya dan kepalanya terjulur ke luar dus. Gw enggak tega aja, kasihan." Untuk menutupi rasa eneg dan perasaan masih lapar, gw pun memesan dua gelas teh manis. Teman gw merasa bersalah, apalagi setelah gw bilang, "Gw enggak habis, enggak apa-apa ya?" Padahal enggak usah merasa bersalah, karena ini pilihan gw untuk mencoba suka dengan bebek.
Sebenarnya gw ini fanatik dengan ayam dan ikan, artinya gw hanya memakan daging ayam dan ikan. Jangankan yang aneh-aneh, daging kambing, lele, atau sapi saja gw enggak suka. Dan gw terjijik-jijik sekaligus amazing menonton Ekstrim Kuliner di Trans TV. Sampai gw berpikir, "Memangnya spesies ayam sudah punah?"
Di Medan, anjing dimakan. Gw pernah nanya ke teman gw yang orang Medan apakah dia pernah makan anjing. Dia bilang enggak karena dia kasihan sama anjing. Di Thailand, kucing dimakan. Di Indonesia, monyet, kodok, babi, jangkrik, ular, ulat, sampai bajing pun dimakan. Nah, teman gw itu pernah makan daging hiu dan dendeng rusa. Padahal setahu gw, binatang ternaklah diciptakan untuk dimakan, bukan binatang peliharaan. Jadi, kenapa elo enggak makan binatang ternak aja sih??
Jadi, pembaca. Pernah makan perdagingan yang ekstrim? Apa rasanya? :D

Dilecehkan Itu Sakit!

Sebelumnya, tulisan ini gw post di website http://psigoblog.com, dan akan gw post disini karena gw pikir tulisan ini cukup penting untuk dibaca. FYI, website itu berisi kumpulan artikel psikologi mahasiswa UI (dan entah mengapa gw tiba-tiba bisa ikut nulis disana). Jadi, bagi Anda yang ingin mengetahui dari berbagai macam perspektif, silahkan berkunjung.
By the way, ini tulisannya.

Rumah saya lagi direnovasi. Otomatis banyak kuli bangunan yang berwara-wiri dan mondar-mandir kesana kemari. Di rumah saya, ada beberapa orang pegawai perempuan. Para kuli sering menggoda seperti batuk berlebihan (entah mengapa rasanya saya ingin menyumpahi agar dia TBC sekalian) atau mengeluarkan bunyi 'sit suit' atau 'tak tok tak tok', yang mana itu sangat menganggu sekali. Begitu juga saya. Saya pun tidak terlepas dari gairah gejolak muda para kuli dalam kicauan suit menyuit.
Bagi saya dan teman-teman perempuan saya, ini sangat menganggu sekali. Rasanya untuk bersimpati bahwa mereka terlalu lama hidup di dunia laki-laki dan mereka jarang melihat perempuan, itu sangat dan tidak akan pernah terjadi. Keberadaan saya, rumah saya - tempat dimana saya merasa nyaman dari saya lahir - tiba-tiba dimasuki orang lain yang baru seumur jagung membenahi rumah tapi berperilaku kurang ajar. Jelas, ruang hidup saya menyempit, ruang hidup saya terancam.
Entah dengan pegawai perempuan lain, tetapi bagi saya, ini adalah pelecehan seksual. Setelah browsing kesana kemari, saya menemukan definisi yang sama (entah mereka saling menyalin satu sama lain) dan sayangnya akan saya copy lagi disini. Website e-psikologi bilang bahwa pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi atau mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu, marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang menjadi korban pelecehan tersebut. Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni meliputi: main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan.
Namun saya punya definisi sendiri. Bagi saya, dilecehkan adalah menurunnya nilai-nilai kemanusiaan saya sebagai manusia yang punya potensi, kemampuan, pendapat, pengalaman, pikiran, inteligensi, perasaan, daaann lainnya. Dilecehkan secara seksual berarti saya dianggap objek pemuas, dianggap saya tidak punya nafsu (karena ybs yang terlalu nafsu), tidak mampu melawan, dianggap pakaian saya seronok, dianggap saya kecentilan, dan lainnya. Saya tidak setuju bahwa pelecehan seksual terjadi karena perempuan yang berpakaian minim. Ah, sekarang anak kecil dan orang tua pun jadi korban pelecehan, bahkan pemerkosaan. Bahkan anak santri pun bisa diperkosa.
Anyways, saya pernah dilecehkan melalui sms jorok yang seronok. Rasanya jijik membaca dan jijik sama orang yang mengirimkan. Orang tersebut mencoba meminta maaf dan mencoba berperilaku baik, tapi ternyata sama saja. Entah apa karena ia pernah dilecehkan oleh orang lain sehingga membuatnya cacat karakter dan tanpa disadari ia merasa adanya kenikmatan ketika ia melampiaskannya kepada orang lain. Saya pun sulit memaafkan sampai sekarang karena saya merasa marah, saya merasa gusar, saya merasa... 'Bisakah kamu sopan? Bisakah untuk tidak kurang ajar? Bisakah kamu tahan nafsumu? Bisakah kamu menutup mulut dan melakukan pekerjaan kamu dengan baik dan benar? Mind your business!'
Membahas pelecehan seksual memang sangat luas, karena yang satu merasa hanya sekedar iseng atau menggoda sedangkan yang satu lagi merasa betul-betul dilecehkan. Intinya, pelecehan ini masih bersifat subjektif. Hanya dirasakan oleh yang bersangkutan. Pelecehan seperti godaan atau siulan tidak menimbulkan memar seperti baru dipukuli sehingga tidak ada bukti fisik, namun jelas "keamanan" seseorang menjadi terganggu.
Pelecehan seksual bisa terjadi karena perbedaan kekuasaan: posisi, jabatan, gender, dan lainnya. Pelecehan tidak hanya terjadi di jalan, tetapi juga di tempat kerja. Ya... misalnya seperti kasus DPR sekarang deh. Di luar kebenaran siapa yang sebenarnya melecehkan (karena sampai sekarang masih tidak jelas dan kedua belah pihak terus berkelit), saya merasa salut dengan mantan sekretaris. Bagaimana ia - yang dipaksa melayani bosnya dibawah ancaman - membuka kedoknya blak-blakan di depan media? Ia memberi tahu apa yang dilakukan bosnya, di ruang mana tempat mereka melakukannya, bagaimana strategi saling sembunyi ketika mau check in di hotel, dan lainnya. Padahal masuk ke media adalah media akan menelanjanginya, membuatnya transparan. Seperti berlian di dalam etalase, ia akan terus dilihat dan diperhatikan. "I am seen transparant, transparant, transfixed."
Saya tidak menyebutkan kalau pria yang selalu melakukan pelecehan seksual (dan saya baru menyebutnya sekarang). Tapi bukan berarti perempuan tidak melakukannya. Perempuan pun tanpa disadari melecehkan laki-laki. Terkadang perempuan berkomentar mengenai gender laki-laki, terkadang perempuan pun mengumbar humor seksual, dan lainnya. Contohnya seperti film Disclosure dimana laki-laki menjadi korban pelecehan seksual.
Jadi, hormatilah masing-masing. Bilang saya copycat, bilang saya plagiator, bilang saya tukang salin. Tapi menurut saya, ini benar: Protect yourself from sexual harassment, don't wait until it happens, but do it... now!

Tentang Ending

Malam minggu kemarin, gw ngumpul sama teman-teman. Kita terlibat polemik antara sad ending dan happy ending. Walaupun topiknya berawal dari pertanyaan, "Elo lebih suka sad/happy ending?" ternyata menimbulkan perdebatan masalah prinsip, perasaan, filosofi, (bahkan bawa-bawa agama), dan lainnya.
Mari gw perkenalkan dua teman gw yang akan ada di sepanjang cerita. Yang pertama, Myra, pecinta dengan sad ending. Dan Dea, lebih menyukai happy ending.
Dea ini menganut aliran positivisme (entah benar atau tidak), itu sih kata teman-teman. Hehe. Dia mengeluarkan buku Salamatahari dan Dunia Adin (buku anak-anak) yang begitu positif. Myra pernah becanda kalau dia enggak tahan dengan dunia postifinya Dea. Hehe, dasar Myra.
Dan kemarin Dea bawa karyanya sambil bilang, "Ini karya bener-bener bukan karya gw banget. Ini gw bikin cerita yang kelam."
Jadi, dia buat cerita bahwa sempurna itu enggak harus sepasang. Tokoh memakai satu sepatu di kakinya karena dia berpikir untuk sempurna, ya tidak harus sepasang. Ini analogi dari ceritanya bahwa si tokoh punya ayah angkat yang gay. Sang ayah berperan sebagai ayah dan juga ibu. Karena norma masyarakat yang mengharuskan setiap orang lebih enak terlihat berpasangan, ia dipaksa menikah dengan seorang perempuan. Malah, bukannya menjadi lebih baik, si ayah itu menjadi tidak nyaman dengan dirinya, dan berimbas pada hubungan dia dan anaknya yang juga tidak nyaman.
Myra bilang kalau dia suka sama ceritanya dan sebaiknya dijadikan novel. Dea menyerah. Dea bilang, "Gw enggak akan tahan bikin cerita suram sebanyak halaman novel."
Dea beranggapan bahwa dari hal-hal bahagia, dia bisa banyak menarik hikmah. Dengan matahari yang menyentuh tangannya, dia bahagia. Dengan kupu-kupu yang berterbangan, dia bahagia.
Sedangkan karya-karya Myra sangat dekat dengan kematian, bunuh diri, dan lainnya. Gw ditanya kenapa gw suka sad ending. Gw bilang, "Ya hidup enggak selamanya happy ending. Kalau gw sih lebih senang melihat orang lain menderita. Haha. Gw sendiri ending yang happy itu kok kayaknya terlalu naif ya."
Teman-teman lainnya banyak yang enggak suka dengan pemikiran gw dan Myra, "Ok. Kalau hidup enggak selamanya bahagia, tapi hidup juga enggak selamanya yang suram-suram."
Dea tanya ke Myra, "Elo menghayati kebahagiaan itu gimana sih?"
Myra jawab, "Gw ya pernah mengalami bahagia. Tapi gw hanya melewatinya begitu saja. Kalau gw mengalami penderitaan, gw tahan perasaannya dan mencoba menghayatinya. Gw lebih banyak belajar dari penderitaan. Gini, gw punya cerita. Ada seorang pengemis tua dan orang kaya. Suatu saat orang kaya itu mengajaknya hidup bersama dan tinggal di apartemen yang mewah. Tapi lama kelamaan, pengemis itu minta pulang. Yang kaya itu tanya kenapa dia ingin pulang. Pengemis menjawab, 'Ketika saya tidur dipinggir jalan, saya terus bermimpi bahagia bahwa saya orang kaya. Tapi selama saya tinggal disini, saya terus bermimpi buruk kalau saya akan jatuh miskin dan kembali ke pinggir jalan.' Lalu pengemis itu pun kembali ke tempat asalnya," Myra melanjutkan, "Nah, itu yang gw pelajari. Gw lebih memilih di tempat si miskin. Karena gw takut kalau gw bahagia, gw lebih ketakutan untuk menderita. Sedangkan dengan menderita, gw lebih bisa prepare masalah yang akan datang."
Gw menengahi, "Ya... kita enggak bisa bilang kalau Myra ini orangnya selalu menderita. Pasti dia pernah bahagia, sama seperti yang lainnya. Mungkin Myra lebih nyaman dengan situasi menderita. Mungkin kalau dia enggak pernah buat cerita yang bahagia, karena mungkin dia pernah merasa bahagia tapi dia lebih mudah mengeksrepsikan perasaan menderita."
Intinya, klise, tapi tergantung orang itu sendiri, apakah orang itu lebih merasa nyaman dengan cerita yang sad ending atau happy ending. Mau happy atau sad, ending itu sangat crucial bagi suatu cerita. Katanya bagus tidaknya cerita, dilihat dari endingnya. Mau ceritanya sepanjang dosa, kalau endingnya jelek, ia akan merusak keseluruhan cerita. Pun seperti kehidupan. Ketika manusia sudah mencapai akhir hayatnya, sebaiknya ditutup dengan ending yang sempurna.

Ini perasaan gw saja, atau...

Gak tahu ya. Ini perasaan gw bahwasanya ada sebuah kesalahan atau hal ambigu yang sudah tidak dipermasalahkan karena diucapkan secara massal, atau ternyata memang bukan sebuah kesalahan (karena harus diucapkan seperti itu), gw enggak tahu.
Entahlah, ucapan seperti ini betul-betul menganggu, apalagi kalau diucapkan oleh orang yang berpendidikan. Hal-hal tersebut adalah:

1. "Yang di atas"
Ketika seseorang sedang membahas sisi spiritual/religi di dalam dirinya atau ia sedang mencoba berpasrah diri, seringkali ia berkata, "Terserah yang di atas."
Ini betul-betul ambigu, apa yang berada di atas? Awan? Burung? Langit? Langit-langit? Apa? Atau siapa?
Gw tahu bahwa mereka menunjuk suatu kekuatan yang melebihinya. Kenapa mereka tidak memilih berkata "terserah Tuhan" saja? Ini baru jelas. ia sedang membicarakan Tuhan yang itu. Tuhan yang abstrak. Tuhan yang pemimpin makhluk dunia. Tuhan yang menggerakan dunia fana. Lagipula, memangnya Tuhan hanya ada di atas? Tuhan ada dimana-mana: di kanan, kiri, bawah, depan, belakang, dan Tuhan ada di hati.
Apakah pengucapan kata 'di atas' adalah salah satu bentuk ketakutan atau penolakan akan adanya Tuhan? Atau mungkin ia merasa malu, merasa bertanggung jawab, atau merasa berdosa walaupun hanya untuk menyebutkan namanya?
2. "We-we-we"
Gw enggak tahu, apakah pengucapannya memang dari sananya begitu atau gimana. Ini yang paling gw sebal. Semua orang, bahkan mereka yang bekerja di kantoran, yang katanya para eksekutif, berpendidikan tinggi, sekolah jurusan IT, tenaga pengajar, dan lainnya - menggunakan kata 'we-we-we' dot friendster dot com.
Kesalahan terbesarnya adalah mencampuradukkan kata antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kalau mau, bisa diucapkan 'we-we-we titik friendster titik kom'. Kalau mau pakai bahasa Inggris, 'we-we-we' diucapkan dengan double-you double-you double-you atau triple-double-you. Mungkin Indonesia maunya bilang way-way-way ala Deutch kali ya.
Jadinya, 'triple-double-you' dot friendster dot com.
Tapi mungkin ini enggak salah, karena setiap negara berbeda cara pengucapannya. Menarik, silahkan lihat disini.

Iya, ini cuman perasaan gw kali ya.

Gw anak siapa?

Sangat jelas kalo gw sangat mirip bokap, tapi enggak satupun gw mirip nyokap. Nyokap gw berperawakan chinese-look-a-like, sedangkan gw jawa-medan paten. Kalau nyokap gw sering disangka Konghucu, maka gw Katolik fanatik. Intinya, kita ini dua titik bipolar yang tidak pernah sama. Hitam dan putih, rendah dan tinggi, kaya dan miskin - ya seperti itulah!
Teman-teman gw yang sering datang ke rumah, atau setidaknya pernah ketemu nyokap dalam satu kebetulan, mereka sering bertanya, "Hah, itu nyokap lo? Yakin? Ntar deh gw ajak temen-temen yang lain untuk ngumpulin uang buat modal tes DNA." Semula candaan itu sama sekali enggak ditanggapi serius, tapi lama kelamaan sifat nyokap yang selalu mementingkan orang lain daripada anaknya itu yang membuat gw ragu.
Nyokap gw selalu baik (sekali) dengan orang lain, dibandingkan anaknya sendiri. Nyokap gw sangat royal, tapi ke gw pelit nauzubillah. Seperti kemarin, alkisah saudara perempuan gw yang lagi berantem sama emaknya, kabur ke rumah gw dan tidur disini sampai entah kapan. Pernah suatu malam, itu anak enggak pulang ke rumah gw. Nyokap gw nanyain terus, "Dia kemana ya? Apa sudah baikkan ya sama ibunya?" Mungkin kalau gw diam saja pada waktu itu, pertanyaan akan terus diulang sampai kiamat.
"Kenapa?? Mama kangen ya sama anak satunya lagi??"
FYI, gw ini anak tunggal. Biasa hidup sendiri, dan tidak biasa dengan kehadiran orang lain. Pemikiran gw: hidup hanya gw dan orang tua. Bukan gw-orang tua-saudara manapun. Titik. Maksud gw bukannya gw enggak sayang dengan saudara-saudara gw, tapi bagi gw kasih sayang orang tua ya hanya orang tua pada anaknya, bukan orang tua pada anak dan saudara perempuannya.
Saudara gw itu bilang kalau adeknya mau ulang tahun dan enggak pernah ada yang ngasih kado. Gw tanya ke nyokap, "Terus, mama mau ngasih kado?" Nyokap gw jawab, "Iya, mama mau kasih uang aja. Jadi dia bisa beli apa aja, kan?"
Rasanya gw kesel banget. Karena sebelumnya gw jumpalitan hemat-hematin uang saku dan membobol rekening sendiri untuk bayar kuliah - hanya karena nyokap bilang dia lagi enggak ada uang. Gw mau beli baju, celana jeans gw rusak, mau beli jaket karena cuman punya satu - nyokap gw mana peduli. Nyokap gw mana pernah mau ngasih uang untuk urusan seperti itu? Bahkan gw hampir lupa kapan nyokap memberikan sesuatu buat gw. Nyokap gw bilang, "Ya ini lagi ada rejekinya." Oh ya, bagus amat rejeki saudara gw. Nasib gw sial amat!
Lain cerita, gw pernah bilang ke nyokap kalau gw mau tidur di rumah teman. Nyokap berpikir, kamar gw kosong dan dia mempersilahkan saudara gw untuk menempatinya. Tapi gw enggak jadi nginep dan bilang ke nyokap, "Aku enggak jadi tidur di rumah teman."
Karena nyokap tahu kamar gw dipakai, dia bilang, "Terus kamu tidur dimana??"
Ya Tuhan... untungnya kakak nyokap gw ngerti dan dia bilang, "Ya Nia tidur dikamarnya. Saudaranya kan bisa tidur di kamar yang lain!"
Gila. Gw berasa di-reject sama nyokap sendiri. Rasanya sakit hati banget. Di rumah gw banyak banget kamar yang kosong, tapi nyokap gw malah nanya, "Terus kamu tidur dimana?"
Dan nyokap lebih memilih bersama saudara gw itu, jalan sama saudara gw itu. Sampai gw pikir, jangan-jangan saudara gw itu beneran anaknya. Sedangkan gw anaknya entah dari mana. Apakah gw ini Cinderella, lalu dimanakan pangeran tampan? *plak*
Nyokap deket sama saudara gw yang lain, bukan itu permasalahannya. Tapi yang gw enggak suka adalah dia melakukan hal-hal baik yang tidak dia lakukan ke gw. Mungkin gw egois, rasanya ingin marah dan nangis. Tapi gw hanya merasa, gw ini anak kandung tapi kok rasanya seperti anak tiri? :(