Sebuah Ulasan Mengenai Bilangan Fu

Ayu Utami, penulis yang memulai karirnya sebagai wartawan di zaman Orde Baru. Jangan heran jika novel-novelnya selalu memiliki aroma kemiliteran dan pemerintahan.

Seperti novel Bilangan Fu ini, yang memiliki 536 halaman. Beruntung kertasnya cokelat, bukan HVS 80 gram, karena akan sangat pas untuk memukul orang yang Anda kasihi.

Kali ini, Ayu Utami memberikan nafas spritualisme kritis pada novelnya. Ia mengangkat wancana spritual - keagamaan, kebatinan, maupun mistik. Novel ini bercerita mengenai seorang pemanjat tebing yang bernama Yuda - seseorang yang mengabaikan nilai-nilai lama, takhayul, budaya, dan sangat membenci televisi ini - memiliki sahabat baru yang misterius bernama Parang Jati. Melalui Parang Jati, cara pandangnya mulai berubah. Ia mulai melihat nilai-nilai budaya yang selama ini ia abaikan, ia belajar menghormati alam, ia belajar menghormati apa yang biasanya ia sebut sebagai takhayul (misalnya sesajen, Nyi Rara Kidul, dan lainnya) hanya sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih terhadap alam, bukan untuk dipuja sebagai berhala. Novel ini juga menggambarkan bagaimana tokoh yang bernama Kupu, seorang muslim fanatik, yang digambarkan seperti sekelompok orang di Indonesia (you know, lah). Jelas novel ini berisikan tidak kesetujuan Ayu Utami akan monetheisme, tidak setuju dengan orang-orang yang mencari kebenaran ilahi melalui cara-cara kekerasan. Ayu Utami pun dengan kritisnya menambah berbagai macam pengetahuan dari mulai Babad Tanah Jawi (sejarah Jawa berdasarkan kisah kerajaan) sampai ilmu pengetahuan alam mengenai pembentukan tebing, dan lainnya.

Jujur, novel-novelnya Ayu Utami itu sangat sulit dicerna oleh pemula, baik Saman maupun Larung. Rasanya saya baru saja membaca sekumpulan essay yang diracik menjadi sebuah novel. Tapi Ayu Utami bisa meracik dengan sedemikian baik sehingga orang yang membacanya tidak akan merasa diceramahi, digurui, atau didakwahi.

Bagi saya, novel ini sangat bagus. Penulis sepertinya ingin membedakan mana sisi agama dan mana sisi spiritual manusia. Agama formal adalah seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Agama bersifat top-down, diwarisi dari rasul, pendeta, nabi, dan kitab suci atau ditanamkan melalui keluarga atau tradisi - seperti novel ini yang menampilkan bias yang kuat antara agama dengan tradisi. Dosen filsafat saya pernah bilang, "Tidak agama di dunia ini. Agama hanya ada di akhirat. Di dunia hanya ada budaya agama." Saya tidak sepenuhnya setuju sampai sekarang, mengingat beliau mantan atheis :)

Sedangkan spiritual manusia adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri. Oleh karena itu, meskipun seorang atheis, saya pikir ia pasti memiliki keinginan untuk mencari Tuhannya, karena di setiap otak manusia terdapat bagian yang dinamakan 'God spot'. Saya setuju bahwa semakin dekat manusia dengan Tuhannya, manusia akan semakin dekat dan memiliki pemahaman tentang siapa dirinya (seperti Syekh Siti Jenar dalam buku Manunggaling Kawula Gusti) dan apa makna segala sesuatu baginya, dan bagaimana semua itu memberikan suatu tempat di dalam dunia manusia kepada orang lain dan makna-makna orang lain.
Dalam psikologi, dimensi spritual manusia direduksi menjadi sebatas insting hewani dan beragam mekanisme pertahanan diri. Namun ketika mahzab ketiga muncul, psikologi humanistik mencoba membangkitkan pandangan manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi: fisik, psikologis, dan spritual. Salah satu tokohnya adalah Viktor Frankl yang yakin bahwa dimensi spritual (noos) mengandung semua sifat khas manusia, seperti keinginan manusia untuk memberi makna, orientasi tujuan, kreativitas, imajinasi, intuisi, keimanan, dan lainnya. Frankl juga yakin bahwa pencarian manusia akan makna merupakan motivasi penting dalam hidup manusia. Pencarian inilah yang menjadikan manusia makhluk spritual dan ketika kebutuhan makna ini tidak terpenuhi, hidup akan terasa dangkal dan hampa. Bagi sebagian besar manusia saat ini, kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dan krisis mendasar di zaman ini adalah krisis spritual. Banyak orang yang mencari uang sebanyak-banyaknya, banyak orang yang melarikan dirinya ke narkoba atau alkohol, banyak orang yang melakukan seks bebas, tapi mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka melakukan itu. Manusia modern mencoba mengisi kehampaan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk memenuhi kenikmatan.

Saya kagum dengan isi dan cara penulisan di novel Bilangan Fu ini. Saya jadi membayangkan proses kreativitas ketika ia menulis. Pastinya tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana proses itu berlangsung. Mungkin ketika manusia telah berhubungan dengan alam, detaknya sejalan dengan detak alam, manusia bisa menceritakan apa saja. Dan pastinya Ayu Utami telah melakukan riset yang sangat panjang dari studi literatur sampai benar-benar ikut panjat tebing agar novelnya hidup, yaitu novel yang saya rekomendasikan untuk dibaca agar manusia lebih menghormati budaya dan dekat dengan dimensi spritualnya.

The Boring Show!

Heyhoo, I'm back! Ya... meski enggak penting, tapi pastinya ada sangat segelintir orang yang mengharapkan gw meng-update blog lagi. Hak hak hak hak. Ya, kan? Ya, dong?
Anyways, pasca kelulusan, gw mulai melanjutkan hidup lagi. Mulai sibuk lagi: makan, tidur, main, bengong, dan berafiliasi dengan datang ke komunitas-komunitas lagi. Seperti halnya kemarin, setelah gw kelar menyambung hidup di Reading Lights Writer's Circle, gw datang ke sebuah acara pemutaran film independen di Rumah Buku. Film-film itu berasal dari satu komunitas di Jakarta. Namanya kalau enggak salah itu Lenteng Agung. Nah, pada acaranya ini diputar 9 film yang terinspirasi dari cerita pendek.
Kayak layar tancep! Dari pukul 19.00-21.30, kita duduk di halaman belakang Rumah Buku, beralaskan tikar, dengan layar segede dosa di depan. Seru sih, tapi film-filmnya bikin enggak seru. Seperti judul yang gw tulis, ini membosankan, my man!!
Gw nanya ke temen gw, "Sebenarnya, maksudnya film independen itu apa sih?"
Ok, sedikit gw jelaskan dari film-film yang diputer. Di setiap film, pasti saja ada adegan dimana kamera memperlihatkan suatu barang lama-lama (entah cangkir kopi, jalan, air). Syukur-syukur kalau ada narasi, tapi kalau penonton hanya dibuat bengong dengan adegan diam gitu? Ada seorang teman bilang kalau itu namanya video art dan biasanya idealis. Artinya, yang mengerti hanya orang yang membuat (ya, sedikit kontemporer) dan ini ada di setiap film, berarti ini seperti frame of reference bersama. Ada teman lain yang bilang ini open interpretation dan lainnya. Lalu apakah yang namanya independen itu harus aneh, tidak bisa dimengerti, dan mengandalkan efek kamera? Kenapa dari film-film yang gw tonton itu, tidak ada script yang bagus atau plot yang amazing? Masalahnya, film-film luar negeri yang gw tonton pun masih bisa dimengerti dan mempunyai cerita.
Gw memang tidak tahu tentang film independen. Gw nanya ke teman gw, "Mbak Rani (pemilik Rumah Buku dan suka membuat film independen), film-filmnya kayak gini enggak sih?"
Teman gw jawab, "Yang pasti, film buatan Mbak Rani, lebih dari ini!"
Salah satu dari film itu, Suara Kota, memperlihatkan sebuah boneka yang duduk di busway. Kamera hanya memperlihatkan boneka lama-lama, isi busway yang sudah kosong, dan lainnya. Gw bilang ke teman gw, "Ya elah, gitu doang sih gw bisa!!". Idealnya gw ketika gw membuat film adalah gw membuat film yang tidak bisa ditiru oleh orang lain.
Intinya, boring!

Laila Majnun

Gw membeli buku ini di pameran buku murah meriah ketika gw masih mengerjakan skripsi. Selama itu, gw belum baca buku ini dan gw janji gw akan baca setelah sidang.
Ternyata memang pilihan gw untuk baca setelah sidang itu adalah pilihan yang benar. Ternyata buku ini sedikit susah dibaca, karena banyak sekali metafora. Lalu banyak dialog yang panjaaang sekali. Jadi, sedikit lelah gitu.
Ok, mungkin beberapa pembaca sudah pernah baca buku ini, karena ini karya sastra Islam yang sangat fenomenal. Buku ini dibuat oleh Nizami, seorang penyair Persia, yang ditugaskan untuk menulis Laila Majnun oleh penguasa Kauskasia, Shirvanshah, pada tahun 1188 Masehi. Raja tersebut meminta Nizami untuk menulis sebuah epik romantis yang diambil dari cerita rakyat Arab: kisah mengenai Majnun yang melegenda, sang penyair yang "gila cinta", dan Laila yang terkenal karena kecantikannya. Kurang dari empat bulan, Nizami menyelesaikan 8000 baris syair.
Bukunya sendiri bercerita mengenai seorang pemuda yang terhormat dan dari kalangan yang disegani, Qais, jatuh cinta dengan seorang perempuan yang sangat cantik bernama Laila. Ternyata orang-orang memperhatikan perilaku kedua orang tersebut dan membicarakannya. Karena mereka dari keluarga yang terhormat, mereka harus menjaga jarak untuk menjaga martabat. Disinilah bagaimana kepedihan cinta itu dimulai. Qais, yang dulu sehat jasmani dan rohani, memutuskan meninggalkan keluarganya dan mengasingkan diri di padang pasir. Ia seperti tidak sadar karena ia selalu berbicara mengenai syair-syair cintanya kepada Laila, berjalan tidak karuan seperti orang gila (majnun). Dari mulut ke mulut, syair-syairnya menjadi sangat terkenal. Ia berubah menjadi pria tanpa pakaian, yang hidup di jurang dan gua, rambut yang tidak tertata rapi, hidup dengan para binatang, dan hanya sedikit makan. Bahkan kedatangan orang tua untuk menjemputnya dan menawarkan kenyamanan pun tidak berhasil.
Semula gw kesel banget baca karya ini. Karena selama seratus halaman, gw disajikan bertapa 'gila'nya, tersiksa, dan melankolisnya si Majnun ini. Majnun yang begitu tergila-gila karena cinta mengarahkan pikirannya ke Laila. Gw sampai berpikir, "Gila. Ini orang musyrik amat! Mana cinta pada Tuhannya? Kok ini orang mencari petunjuk dengan bertanya ke planet Venus dan Jupiter sih, bukan ke Tuhan?"
Sampai akhirnya gw baca epilog mengenai Nizami dan cerita ini. Ternyata Laila adalah metafora dari Tuhan. Majnun rela meninggalkan kehidupan duniawinya karena kecintaannya kepada Tuhan. Bahkan untuk makan saja, ia menolak, karena makan terasa begitu duniawi dan memuaskan nafsu semata. Ini adalah kisah mengenai perjalanan seorang sufi yang mencari Tuhannya. Diceritakan bahwa ia mengembara kemana-kemana untuk menemukan Tuhannya. Meninggalkan kenyamanan semu sampai akhir hayatnya. Gilaaa! Mana ada orang kayak gitu di zaman sekarang ini!
FYI, gw juga seorang sufi (suka film). Hehe. Untuk menggenjot sisi rohani dalam diri, silahkan baca buku ini. Sama seperti tema yang diusung, buku ini universal.

Ego-Transmitted

Mungkin semua orang punya idola. Biasanya idola itu mencerminkan ideal-self seseorang. Seseorang pasti mempunyai keinginan untuk lebih pintar, cantik, cakep, terkenal, atau memiliki semua-muanya dari orang lain. Mungkin kalau mengidolakan artis karena tampangnya yang rupawan sudah biasa. Seperti gw yang adore banget dengan segala bakatnya Alicia Keys, dengan kegantengan, kecantengan, dan ketampanan Christian Bale dan Fachri Albar. Hehe.
Kalau kita adore sama orang karena kepintarannnya, dengan pemikirannya, dengan karya-karyanya, akan beda banget. Misalnya gw adore dengan the way of thinking-nya para filsuf sehingga gw ingin banget tinggal di zaman mereka, ingin tahu kenapa di masa-masa seperti itu, para pemikir itu bermunculan. Ingin tahu kenapa Freud begitu terobsesi dengan dorongan seksual, Kierkegaard yang melankolis, Nietzsche yang rapuh, dan Husserl yang menciptakan sebuah metode Fenomenologi yang sulit dan kenapa pula gw memakainya di skripsi gw. Huff.. sedikit menyesal.
Enggak usah jauh-jauh ke filsuf zaman dulu, beberapa hari yang lalu gw berkesempatan untuk ngobrol dengan seorang penulis buku Analisis Eksistensial dan Filsafat Manusia - yang mana kedua buku itu menjadi bahan acuan gw untuk menulis skripsi, seorang doktor dan guest lecturer di UI. Ia adalah Dr. Zainal Abidin, M.Si.
Diawali dengan kebingungan gw akan metode penelitian yang gw pakai. Gw dan teman gw bertanya kesana kemari. Tanya ke dosen filsafat, malah dicekokin filosofi mengapa beliau dulu seorang atheis. Tanya ke dosen psikologi, beliau juga kurang begitu mengerti karena metode ini cenderung baru dipakai di kampus gw. Akhirnya di suatu malam, dosen psikologi itu nelepon gw.
Beliau bilang, "Nia, saya kasih nomer Zainal Abidin ya. Kamu telepon dia besok di jam yang sama."
Gw mabok darat pas dibilangin begitu. Gw bisa mati kutu dan ketahuan begonya. Gw takut Pak Zainal Abidin berpikir, 'Duile... ini anak, berani bener ambil analisis eksistensial'
Beberapa saat kemudian, gw sms dosen gw dengan harap-harap cemas, "Saya deg-degan, Bu. Saya, mahasiswa pemula Analisis Eksistensial, harus menelepon orang yang bukunya saya baca."
Beliau bales sms gw, "Tenang... dia manusia juga, cuman lebih dulu tahu. Justru penulis buku akan lebih respect pada pembaca bukunya yang mau bertanya. Ok, tenangkan hatimu. Good luck!"
Gw berasa diterapi lewat sms.
Akhirnya gw nelepon Bapak Zainal Abidin. Betul kata dosen gw, walaupun deg-degan, bapak ini baik sekali. Beliau rela menjelaskan metode yang gw pakai di skripsi gw mulai dari sejarahnya! Bahkan beliau nanya email gw untuk memberikan bahan dari dia, padahal gw ini bukan mahasiswanya. Beliau tanya gw ini ambil konsentrasi apa, kenapa gw meneliti ini, beliau memberi petunjuk aspek-aspek apa saja yang harus gw gali.
Rasanya ngobrol dengan orang selama ini elo baca bukunya dan dijadikan panduan lo itu gimana ya... rasanya seperti elo ingin bertanya semua-muanya dan menyerap isi otaknya. Gw sampai ngetik pertanyaan-pertanyaan gw karena gw enggak mau hilang arah ditengah obrolan. Hampir setengah jam gw interlokal, tapi tidak mengapa. Selain untuk ilmu, bukan gw juga yang bayar.
Yah, begitulah kawan, salah satu alasan mengapa gw jarang update blog ini. Doakan gw sukses ya sidang tanggal 19 Agustus dan bisa mempertahankan skripsi gw ya. Pokoknya ntar kalau gw online, sudah jadi sarjana Psikologi deh. Amin! :D

Karya Sastra Itu Bernama Puisi

Gw menyukai seni, entah karena gw memang suka atau karena faktor pembelajaran dari sebagian besar keluarga yang kuli seni. Entah seni musik - yang dicekoki atau tidak, gw selalu didorong untuk menonton pertunjukan seni dari jazz kontemporer sampai band enggak jelas, seni lukis - dimana semenjak kecil gw disuguhkan lukisan abstrak yang sulit di interpretasi dan begitu menyesal ketika gw tidak bisa datang bersama teman-teman the circle ke Jendela Ide, dan seni tulis menulis. Beda dengan seni yang lain, gw suka dengan seni tulis menulis karena dorongan diri dan terkadang rasa sesal kenapa gw tidak masuk ke jurusan sastra itu masih ada.
Gw memang enggak tahu-tahu amat sama yang namanya sastra, tapi mulai sedikit mempelajarilah semenjak gw punya banyak teman di sastra. Gw benar-benar buta dengan puisi! Mencoba membaca puisi Remy Sylado 'Mbeling', ok juga. Mencoba membaca puisi Goenawan Mohammad, rasanya gimanaa gitu. Tadi malam, sekitar pukul setengah delapan malam, gw datang ke sebuah launcing buku kumpulan puisi dengan judul 'Selingkuh' oleh Slamet Widodo.


Launching ini tidak disajikan dalam panggung besar, dengan mikrofon, meja, dan kursi. Gw juga tidak disajikan pembawa acara formal. Karena tempat ini diselenggarakan di Ultimus (toko buku sekaligus komunitas), semuanya berbeda. Hanya tenda kecil yang dibuat dari bambu yang dilapisi kain dan bangku bambu panjang sebanyak 15 buah. Suasana gelap, dengan lampu seadanya, dan lilin-lilin temaran yang bertebaran di paving blok. Kebanyakan yang datang memakai baju hitam, termasuk gw. Warna yang sama dengan langit malam itu karena kita langsung terarah pada langit tanpa penghalang. Jadi kalau waktu itu hujan, bisa-bisa jadi misbar: gerimis bubar.
Rokok. Bajigur. Kue kampung. Para pecinta puisi maupun penikmat pemula.
Puisi yang berjudul 'Tempe' dibawakan oleh seorang wanita bule. Rasanya lucu, puisi yang kata-katanya terkadang nyeleneh dan bukan bahasa baku, dibawakan seorang bule yang masih blah-bleh-bloh bahasa Indonesianya. Selain itu, ini bule sangat ekspresif dan gila juga. Tidak sedikit orang yang tertawa melihatnya.
Puisi selanjutnya mengenai poligami seorang ulama yang diceritakan dengan bahasa yang lucu namun sinis, nakal, dan menyentil. Desi membawakan puisi itu dengan baik sekali, ia menempatkan dirinya sebagai perempuan yang ironis dengan issue poligami. Saya tahu Desi, ia seorang aktivis perempuan. Ia pernah mengkritik salah satu buku ketika ada diskusi buku mengenai LGBT dan cukup menyulut teman-temannya untuk mengkritik salah satu penerbit ternama.
Mereka membawakan puisi dengan caranya masing-masing. Ada yang seperti orasi, ada yang biasa saja, ada yang benar-benar emosional, dan ada yang benar-benar advance seperti Kang Ayi.
Kang Ayi bercerita mengenai perilaku buang air besar di kali Ciliwung, Jakarta. Caranya berpuisi, benar-benar membuat pendengar membayangkan dan terhanyut dalam kata-katanya.Selama pembacaan puisi berlangsung, kami disuguhkan dengan hiburan yang menarik dan kreatif. Gw sampai amazing, bagaimana mereka yang hanya bermodalkan kursi dan stik drum, bisa menciptakan musik yang aneh-aneh. Atau mereka yang membacakan puisi beserta siluet-siluet cahaya warna-warni nan indah yang berasal dari kertas mika. Cara kreatifitas bekerja itu betul-betul misteri sekaligus anugerah!
Overall, gw cukup menikmati apresiasi puisi ini. Gw jadi ingat dengan pengalaman teman gw ketika ia ikutan workshop menulis di Bali. Ia bercerita seluruh peserta yang kebanyakan bule, tidak mengerti ketika orang Indonesia membacakan puisinya berapi-api. Yah, kita ini beda latar belakang. Mungkin karena intonasi Soekarno pada saat proklamasi, sekaligus kita melalui penjajahan, intonasi Soekarno begitu mengilhami!