Bahasa oleh Putu Wijaya

Baru saja saya membaca majalah Tempo edisi Sumpah Pemuda. Saya baca semua halaman dari penemu Indonesia sampai catatan pinggir yang ditulis oleh Goenawan Mohammad. Tapi dari setiap lembar yang saya baca, saya menyukai tulisan Putu Wijaya yang judulnya Bahasa!. Sebelumnya saya mengalami kesusahan mencari ini di Google, tapi akhirnya bisa ditemukan. Saya merasa lega, karena saya bisa berbagi dengan pembaca:

ADAKAH perbedaan antara Sumpah Pemuda dan Soempah Pemoeda? Sumpah adalah ucapan, ikrar yang berisi janji, tekad, atau batasan-batasan yang apabila dilanggar, ada sanksi spiritual yang fatal. Biasanya berakhir dengan kematian yang kejam. Tak bisa dielakkan, tak bisa disiasati, tak bisa disuap.

Dalam dongeng, manusia yang melanggar sumpah bisa seketika jadi batu. Dimungkinkan terkutuk tujuh turunan. Para pelanggar sumpah bisa lahir kembali sebagai binatang. Kadang menzalimi dirinya dengan sadis, karena dorongan rasa bersalah. Ancaman yang disiapkan bagi pelanggar sumpah menyebabkan sumpah menjadi mengerikan. Bila hukum dan norma sosial tidak mampu menetapkan keadilan terhadap suatu perkara, ditempuh jalan sumpah. Di Bali dikenal persidangan adat dengan ”sumpah cor”, dengan cara menenggak air. Dapat dipastikan yang bersalah akan menemui kematiannya sesudah persidangan itu.

Dalam wayang, Resi Bisma bersumpah tidak akan kawin. Dia memegang teguh sumpahnya. Tapi kemudian Srikandi, titisan Amba, membunuh Bisma dalam Bharatayudha. Jadi bukan yang melanggar saja, yang memegang sumpah pun bisa kecipratan maut.

Dalam sejarah Indonesia, ada sumpah Palapa. Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan buah palapa sebelum bisa mempersatukan Nusantara. Dan dia berhasil.

Sumpah adalah ”perangkat lunak” yang angker. Karena tidak berani menjamin akan mampu tidak melanggar sumpah, orang takut bersumpah. Kalau tidak sangat terdesak, sumpah lebih baik dihindari. Jadi, kalau sampai ditempuh jalan sumpah, artinya memang gawat.

Sumpah di dalam Soempah Pemoeda dekat dengan situasi kritis tak berdaya. Tak ada jalan lain untuk bebas dari penjajah yang sudah bercokol ratusan tahun, kecuali bersumpah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. ”Ketidakberdayaan” ternyata sekaligus kedigdayaan yang mandraguna. Hasilnya konkret: Indonesia merdeka.

Apakah ”ketidakberdayaan” sumpah di dalam Soempah Pemoeda sama dengan sumpah di dalam Sumpah Pemuda? Apakah sumpah di dalam Soempah Pemoeda sama saktinya seperti sumpah dalam Sumpah Pemuda?

Sumpah di dalam Soempah Pemoeda adalah sebuah peristiwa dahsyat, sakral, dan transendental. Sumpah dalam Soempah Pemoeda merupakan tekad sekaligus ancaman agar tidak ada manusia Indonesia yang berani melanggar persatuan yang diperlukan untuk merenggut kemerdekaan. Segala perbedaan, baik agama, adat-istiadat, panutan ideologi, dan sebagainya, bergotong-royong demi cita-cita merdeka.

Adapun sumpah di dalam Sumpah Pemuda lebih kepada sebuah kegiatan seremonial untuk mengatasi segala kegalauan. Sebab, setelah merdeka, perbedaan mulai menimbulkan gangguan. Sumpah Pemuda menjadi peringatan tentang Indonesia yang satu, kendati jurang perbedaan vertikal ataupun horizontal semakin melebar dalam banyak hal.

Setelah 80 tahun, nilai sakral sumpah berubah menjadi terapi psikologis untuk menghalangi erosi kebangsaan. Seremoni jadi penting karena dapat mendamaikan perbedaan sesuai dengan slogan: Bhinneka Tunggal Ika.

Sumpah di dalam Sumpah Pemuda tidak lagi mengancamkan hukuman ganas. Yang melakukannya berada dalam keadaan yang sangat bebas, tidak tertekan, rela, dan suka. Sama sekali tanpa sanksi. Di sana kekurangan/kelemahannya tetapi di situ pula kekuatan/kelebihannya.

Para pelaku Soempah Pemoeda mengucapkan sumpah seperti sumpah-sumpah di dalam dongeng, karena impian merdeka lebih penting dari segala-galanya. Di era kemerdekaan, kemerdekaan bukan lagi yang terpenting. Yang lebih penting justru ”menjaga ketidakmerdekaan”, membatasi kemerdekaan, agar tidak menodai kemerdekaan sesama warga yang juga merdeka.

Di masa Soempah Pemoeda, pemuda adalah mereka yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka. Umumnya kaum muda usia. Sebab, hanya yang mudalah yang punya cita-cita lepas dari cengkeraman penjajahan, mengubah keadaan, menentukan nasibnya sendiri. Mereka bertindak bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk ideologi, agama, partai, kelompok etnik, kelas masyarakat tertentu, tetapi untuk cita-cita Indonesia.

Pemuda dalam Sumpah Pemuda berarti mereka yang memiliki semangat muda. Usia boleh gaek tetapi kalau menjadi anggota sebuah organisasi pemuda, dia tetap dianggap pemuda walaupun sudah ompong dan ubanan. Pemuda adalah mereka yang masih mencoba terus memikirkan kehidupan bernegara (baca: politik) di samping kepentingan pribadi dan kelompok atau golongannya. Pemuda berarti semua mereka yang aktif, tak peduli berjuang semata-mata untuk kepentingan tertentu, bahkan tak peduli kalau sama sekali tidak berpihak pada kepentingan bersama (baca: Indonesia).

Maka Soempah Pemoeda menjadi sangat berbeda nuansanya dengan Sumpah Pemuda karena konteksnya lain. Kini kita hidup di era Sumpah Pemuda, tetapi tak sedikit orang rindu ingin kembali ke masa Soempah Pemoeda.


Sebelumnya saya membaca mengenai Siti Sundari - seorang anak bangsawan yang meninggalkan bahasa intelektualnya (Belanda) dan bahasa ibunya (bahasa daerah) demi sumpahnya pada Sumpah Pemuda, yaitu menggunakan bahasa Indonesia. Di artikel itu disebutkan bahwa Sundari membutuhkan seorang penerjemah bahasa Indonesia dan ia terbata-bata ketika mengucapkan pidatonya mengenai anti poligami (poligami sudah menjadi issue perempuan semenjak tahun 1928, dan sekarang dengan suksesnya dikobarkan oleh Aa Gym yang mempunyai anak). Artinya bahasa Indonesia pada zaman dahulu bukanlah sebuah media yang menjembatani orang untuk berbicara, tetapi lebih dari itu. Ya, seperti yang disebutkan oleh Putu Wijaya, ada makna spiritual di dalamnya. Ada ribuan harapan akan kemerdekaan dan persatuan. Eh ... sekarang orang-orang malah berlomba-lomba pakai bahasa gaul. rEPp ya9h cMmnt aq, aq kHan syGss kMu!

Sekarang Sumpah Pemuda dikenang ketika upacara saja. Tidak usah jauh-jauh, saya juga demikian. Malah saya bertanya kepada teman saya, "Sumpah Pemuda itu tanggal berapa sih?"

Kurang ajar amat sebagai warga negara.

Beda sih, karena kini saya merdeka, tidak terbelenggu dan terpenjara oleh penjajah, jadinya saya bisa mengingat hari besar Indonesia sedangkal itu. Tapi sepertinya saya tidak sendirian.

Sedikit berbagi cerita. Ketika saya wisuda kemarin (28/10), saya mengenakan toga bersama ratusan mahasiswa lainnya. Suasana begitu khidmat. Kami berdiri serentak. Tiba-tiba paduan suara dan orkestra Kabumi (UKM kampus yang sudah mendunia) menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tanpa saya sangka, saya tergerak untuk menghayati esensi Sumpah Pemuda.

Rasisme Kulit Hitam


Kemarin saya membaca koran Pikiran Rakyat di rubrik Luar Negeri. Disana diungkapkan sebagai berikut:

MEMPHIS, (PRLM).- Dua pemuda dari kelompok neo-nazi ditangkap dan dikenakan tuduhan merencanakan pembunuhan besar-besaran di beberapa negara bagian di AS. Hal itu dikatakan pihak keamanan di Memphis Tennessee, Senin (27/10).

Kedua pemuda tersebut, Daniel Cowart (20) dan Paul Scheessman (18) merencanakan pembunuhan terhadap 88 orang berkulit hitam di berbagai negara bagian dan salah satu calon korban, adalah capres Partai Demokrat saat ini, Barrack Obama.

Pembunuhan terhadap Obama direncanakan dilakukan dengan menggunakan kendaraan yang dilarikan ke arah Barrack Obama. Keduanya kemudian akan melepaskan tembakan ke arah Obama dari jarak dekat lewat jendela mobil.

Keduanya telah dihadirkan pada sidang di Memphis, Senin waktu setempat dan menolak mendapat kesempatan bebas dengan jaminan untuk sementara waktu.

Rencana pembunuhan terhadap Obama tersebut merupakan yang kedua kalinya bagi senator asal negara bagian Illinois. (A-26).***


Lebih hebatnya lagi, di koran ditampilkan bagaimana seorang anak muda dengan rambut plontos (skinhead)- yang mana sangat identik dengan Neo-Nazi namun tidak semua, lalu tergambar sebuah lambang Nazi di bahu kanannya sambil memegang senjata. Disana lebih lengkap disebutkan bahwa kedua pemuda itu bertemu di internet dan menemukan kecocokan ketika membicarakan kekuatan ras kulit putih.

Memang sebelumnya sering terdengar ancaman akan terjadi pembunuhan jika Obama menjadi presiden. Mengapa? Karena Obama berkulit hitam.

Rupanya rasisme di Amerika ini masih sangat kental. Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya [1]. Istilah rasisme ini baru keluar pada tahun 1930-an. Pada waktu itu istilah tersebut diperlukan untuk menggambarkan "teori-teori rasis" yang dipakai orang-orang Nazi melakukan pembantaian terhadap orang Yahudi [2]. Warna kulit dengan status perbudakan seolah-olah berkaitan dan seolah-olah orang-orang Afrika diklaim telah ditakdirkan sebagai ras budak. Klaim itu anehnya terus diakui kebenarannya dan kemudian menjadi justifikasi rasisme. Around this in the era of slavery a whole system of beliefs was erected which attempted to prove that blacks were less intelligent than whites, with smaller brains and a capacity only for manual labour. They were seen, moreover, as uncivilised and barbaric [3]. Mungkin jika keadaan ini terus berlangsung dengan parah, akan terjadi genosida yaitu sebuah pembantaian besar-besaran sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memunahkan (membuat punah) bangsa tersebut.

Selain itu, sejarah rasisme warna kulit hitam dikaitkan dengan dosa Ham. Begini ceritanya dalam Genesis 9: 20-27
Nuh mempunyai 3 orang anak yaitu Sem, Ham, Yafet. Ketika Nuh mabuk karena anggur, ia mendapati Ham sedang tidur sama ibunya. Ham dikutuk untuk menjadi budak (servant) beserta keturunannya. Dan Ham itu berkulit hitam - Ham was distinct from his brothers in his dark complexion [4]. Many people began referring to the afflicted black race, namely those descended of slaves, as "the children of Ham".
Begitukah, kawan-kawan? Jika salah, mohon dikoreksi ya.

Mengapa 88 orang kulit hitam yang ditunjuk oleh pemuda itu? Karena 8 dalam alfabet menunjuk pada huruf H. 88 berarti HH yang merepresentasikan Hail Hitler. Berarti ini gara-gara Hitler yang salah mengerti filsafat Nietzsche mengenai manusia unggul. Padahal maksud Nietzsche adalah untuk melahirkan manusia unggul yaitu dengan cara melahirkan dirinya untuk terus-menerus menjadi manusiawi. Tidak berlindung dibalik kekuatan orang lain atau sembunyi dibalik norma-norma yang bisa mengecilkan potensi diri. Dibaca sampai habis enggak sih buku Zarathustra-nya Nietzsche, Hit?

Mau dibilang jangan mendiskriminasikan kulit hitam, pasti susah. Karena tidak mudah mengubah prasangka masyarakat yang sudah mengakar begitu lama. Jangankan hitam-putih, yang sesama putih tapi beda budaya saja saling berprasangka.

What is great in man is that he is a bridge and not a goal; what is lovable in man is that he is an over-going and down-going - (Nietzsche)

Source 1
Source 2
Source 3
Source 4
Picture

Thanks to: Frisky Kaunang, for teaching me so patiently.

Untukmu, Agamaku...



Apakah perempuan itu terlihat bahagia? Mari simak berita ini dari Kompas dibawah ini:

SEMARANG, KAMIS — Seorang kiai kaya raya, Syekh Puji, mengaku akan menikahi dua bocah lagi, umurnya 9 dan 7 tahun. Keduanya akan dinikahi sekaligus dengan Lutfiana Ulfa (12). Kalau pernikahan itu terwujud, Syekh Puji memiliki empat istri.

Kiai nyentrik yang terkenal karena membagi zakat Rp 1,3 miliar ini beberapa hari terakhir membuat heboh karena tersebar kabar bahwa ia telah menikahi gadis cilik berusia 12 tahun bernama Lutfiana Ulfa.

Sebelumnya, pada bulan puasa lalu sang kiai membagikan zakat yang jumlahnya sangat spektakuler. "Kalau Ulfa umurnya 12 tahun, gadis yang lain ada yang umurnya 9 tahun dan satu lagi 7 tahun," kata Syekh Puji.

Pernikahan dengan para bocah itu akan dilangsungkan dalam waktu dekat atau bahkan dalam minggu-minggu ini. Pada pernikahan itu Puji akan menikahi tiga gadis di bawah umur sekaligus, salah satunya adalah Lutfiana Ulfa. Namun, kiai bernama asli Pujiono Cahyo Widianto (43) itu masih merahasiakan nama kedua bocah yang juga bakal menjadi istrinya.

Syekh Puji punya alasan mengapa ia berhasrat menikahi gadis-gadis belia. "Saya ini memang sukanya yang kecil," kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Miftakhul Jannah, Semarang, Jawa Tengah, ini.

Menurut Puji, dirinya memang suka dengan wanita yang masih kecil supaya ia bisa dengan mudah mendidik pasangannya agar menjadi orang hebat. Menurut Puji, ketiga istri ciliknya tersebut bakal diminta mengurus sejumlah perusahaannya.

Saat ditanya apakah bocah-bocah di bawah umur itu bersedia ia nikahi, Syekh Puji menjawab sambil terkekeh, "Wong mereka sudah menyatakan cintanya kepada saya. (Ulfa bilang) Saya cinta Syekh Puji."

Ketika dikatakan bahwa pernikahannya dengan gadis cilik itu menimbulkan pro-kontra di masyarakat, Syekh Puji beralasan pernikahan tersebut ia lakukan berdasarkan ajaran agama. "Saya punya dasar agama juga. Enggak ngawur," katanya. Syekh Puji mengatakan, dia mengikuti Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah, gadis berumur 7 tahun. Namun, Rasulullah tidak bercampur dengan Aisyah hingga si gadis akil baliq. Syekh Puji pun tidak akan bercampur dengan istri-istri ciliknya sebelum mereka akil baliq.

"Saya sesuai ajaran kanjeng nabi. Kalau menikah dengan yang umurnya 7 tahun boleh saja. Kalau urusan campur, itu baru dilakukan setelah dia mens," ujarnya. Menurut Syekh, Lutfiana Ulfa sudah akil baliq atau dengan kata lain sudah haid. Syekh Puji juga menjelaskan bahwa sejauh ini pernikahannya dengan Ulfa belum terjadi. Rencananya, Puji akan menikahi Ulfa dan dua gadis cilik lainnya sekaligus atau di waktu dan tempat yang sama.

Sebelumnya, Darmo, tetangga Ulfa, mengatakan bahwa Syekh Puji pada bulan Puasa lalu mengatakan telah menikahi Ulfa secara siri. Darmo mengaku tak tahu pasti kapan pernikahan siri dilakukan. Namun, menurut kabar yang ia dengar, pernikahan itu digelar di ponpes Miftakhul Jannah milik Syekh Puji.

Dilarang

Kiai Husein Muhammad, Komisioner Komnas Perempuan, menyatakan, pernikahan pria dewasa dengan wanita di bawah umur dan dilakukan secara siri merupakan pernikahan terlarang. Pasalnya, pernikahan tersebut merugikan si perempuan. "Tidak boleh terjadi pernikahan di bawah umur dan nikah siri. Ini harus ada solusi. Islam itu melindungi perempuan," katanya.

Husein Muhammad menegaskan, menikahi bocah 12 tahun melanggar UU Perkawinan. Ia tidak bisa menerima alasan yang mengatasnamakan Islam dalam kasus pernikahan tersebut.

Pernikahan siri, kata Husein, sangat bertentangan dengan ajaran Islam. "Karena Islam justru harus melindungi perempuan. Kalau nikah siri, malah merugikan, bukan melindungi," katanya. "Si perempuan tidak punya perlindungan hukum kalau terjadi apa-apa bagaimana? Belum lagi kalau punya anak, anaknya tidak akan diakui oleh negara," tutur Kiai Husein.

Sementara itu, Warta Kota menerima telepon dari orang yang mengaku adik kelas Syekh Puji sewaktu SMP di Semarang. Orang yang meminta namanya tidak disebutkan ini mengatakan, Syekh Puji memiliki sifat doyan perempuan. "Yang saya tahu sebelum ini dia sudah memiliki banyak istri," katanya.(sab/tat)



Pasti sudah pada dengar dong tentang berita ini. Saya tidak akan menganalisis, membedah, dan mengulas kasus ini. Selain karena saya tidak jago-jago amat, saya tidak mengerti kalau sudah urusan agama.
Tapi mari kita iseng-iseng saja membahas beberapa pernyataan yang ada diatas:
1. "Saya ini memang sukanya yang kecil," : Tidakkah ini begitu mencurigakan? Bukankah sama mencurigakannya jika saya berkata, 'Saya lebih suka sama perempuan'? Alibi mendidik dan meneruskan perusahaannya mengapa tidak dijadikan anak saja atau mengawini perempuan dewasa yang pintar?
2. terkekeh, "Wong mereka sudah menyatakan cintanya kepada saya. (Ulfa bilang) Saya cinta Syekh Puji." : Setahu saya, laki-laki itu kadar GR-nya lebih dari perempuan. Kadang berasa kecakepan gitu :D Ah, mungkin itu perasaan bapak saja. Karena yang berdasarkan apa yang saya alami di usia 12, saya tidak tahu apa itu cinta. Cinta monyet sih iya!
3. Pernikahan pria dewasa dengan wanita di bawah umur dan dilakukan secara siri merupakan pernikahan terlarang. : Saya setuju dengan komnas perempuan ini! Kalau ada yang sah secara hukum, mengapa harus agama saja? Biar mudah cerai, gitu?
4. "Karena Islam justru harus melindungi perempuan. Kalau nikah siri, malah merugikan, bukan melindungi," : Inilah alasan mengapa saya memilih Islam.
5. "Yang saya tahu sebelum ini dia sudah memiliki banyak istri," : Ah, adik kelas yang comel. Pengen eksis aje, luh!

Foto

Mereka Yang Definitif

Sahabat saya yang bernama Yudo pernah berkata, "Semakin seseorang membenci orang lain, maka sifatnya akan semakin mirip dengan orang dibenci itu."

Awalnya saya tidak mengerti karena ia mengatakan kalimat itu ketika saya masih duduk di bangku SMP. Seiring dengan pengalaman bertemu dengan banyak orang, saya semakin mengerti. Saya mengerti apa yang dikatakan sahabat saya karena saya mendapatkan sebuah contoh di laboratorium hidup dan hasilnya benar.

Sebutlah seorang perempuan yang bernama X. Semenjak ayahnya meninggal, perempuan ini sangat membenci ibunya. Alasan ia membenci ibunya adalah ia yakin selama ini ayahnya menjadi tameng dari sifat buruk ibunya sehingga tidak pernah "terlihat" oleh anak-anaknya maupun orang lain. Ia yakin bahwa ayahnya meninggal dalam keadaan menderita dan stress karena ibunya yang selalu menuntut untuk punya uang padahal sang ayah tidak bekerja. Ibunya yang selalu memanjakan adik laki-laki yang sudah dewasa namun tidak bekerja, sementara X - si sulung - dituntut ini itu. Ia merasa disingkirkan oleh ibunya sendiri, merasa ditinggalkan, dan merasa tidak dianggap sebagai anak. Dan puncaknya ia berkata, "Saya benci ibu karena ia menginginkan uang tanpa ingin bersusah payah. Ia meminta ke orang lain, mengemis, dan mengasihani diri sendiri agar mendapat belas kasihan. Seperti yang sudah paling menderita saja!"

Saya manggut-manggut saja. Saya tidak berkata 'jangan seperti itu dong, dia kan ibu kamu' karena saya pernah tahu bagaimana rasanya membenci orang tua - terutama ayah. Di pertengahan tahun 1998, inilah puncak-puncaknya saya membenci sosok ayah. Saya tidak ingin bertemu, tidak ingin berbicara, tidak ingin melihat, sehingga saya memutuskan untuk benar-benar tidak ingin menemuinya. Begitu terus hingga SMA. Hanya berhadap-hadapan saja sudah membuat saya marah dan kesal karena sosok ayah menarik saya ke masa lalu ketika saya masih kecil. Disana saya diajarkan sebuah kekerasan emosional dalam bentuk amarah dan ketidakpedulian oleh seorang guru terbaik - ayah. Bahkan pada saat itu, saya enggan memanggilnya 'ayah' atau bahkan namanya saja. Saya hanya menyebutnya 'dia'.

Saya tahu saya dosa. Walaupun surga ada di telapak kaki ibu, tetap saja itu orang tua. Saya paling tidak suka ketika orang lain berkata 'gitu-gitu juga, dia ayah kamu' karena mereka tidak merasakan apa yang saya rasakan. Mereka tidak pernah berada di posisi saya. Saya butuh sebuah dukungan dan nasihat, bukan sebuah judgement kasat mata. Jika ada yang berkata seperti itu, saya akan menjawab, "Saya tidak minta dilahirkan. Dia bukan ayah saya. Dia suami ibu!"

Namun saya semakin tua sehingga saya harus mengerti bagaimana situasi keadaan keluarga pada saat itu dan semakin dewasa untuk menyikapi suatu masalah. Sekarang saya tidak membenci ayah - hanya kurang membicarakan tentangnya saja.

Sama seperti X, sifat saya semakin dekat dengan sifat ayah. Tanpa X sadari, sifatnya semakin dekat dengan sifat ibunya. Ia sering menceritakan bahwa ibunya merasa paling sengsara di dunia, begitu juga X. Jika saya bercerita tentang pengalaman pahit saya, ia selalu membalas, "Alaaah... kamu itu belum seberapa. Saya itu yang paling menderita. Kamu sih enak, saudara-saudara kamu banyak. Banyak yang mau bantu kamu. Nah, saya? Siapa yang mau bantu saya? Kamu itu belum ada apa-apanya."

Lain dengan X, kedekatan sifat saya kepada ayah tergambar jelas ketika saya SMP dan SMA. Saya mudah marah, saya mudah tersinggung, saya enggan dikritik, dan lainnya. Ibu sering bercerita bahwa sifat saya mirip dengan ayah. Disanalah saya sadar bahwa perkataan sahabat saya itu benar: semakin seseorang membenci orang lain, maka sifatnya akan semakin mirip dengan orang yang dibenci itu. Saya tidak mau mirip dengan ayah saya, sehingga saya merubah sifat saya. Kini keluarga yang tahu saya, mereka berkata, "Nia sekarang berubah ya. Lebih dewasa, tahu menyikapi masalah. Bukan dengan gelora amarah, tapi dengan akal sehat."

Kenapa? Ceritanya panjang lebar. Mungkin orang lain punya waktu untuk mendengarkan, tapi saya tidak punya kekuatan untuk membicarakan. Jika tulisan ini adalah cangkang, maka yang saya ceritakan hanyalah permukaannya saja. Sahabat saya itu adalah satu-satunya orang lain yang tahu masalah saya. Dia sering berkata bahwa sifat saya mirip dengan sosok ayah yang sering saya ceritakan. Bukanlah hal yang mudah mengemukakan suatu hal yang telah menjadi rahasia selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, saya menceritakannya melalui beragam metafora melalui media cerpen yang saya kirim lewat email. Saya merasa diselamatkan oleh sahabat saya dengan kalimat itu karena membuat saya sadar dan mengubah diri saya. Saya tidak bisa mengubah orang lain, saya hanya bisa mengubah diri saya.

Berbeda dengan X, ia tidak tahu tentang itu. Saya tidak bisa memberi tahu karena ia sudah dewasa dan sudah punya anak - yang mana seharusnya lebih bijak. Saya takut disangka kurang ajar.

Ini tidak bertujuan untuk membuka borok sendiri atau borok orang lain. Jujur, untuk menulis ini dan publikasi di blog, ada perasaan tidak nyaman dalam diri saya. Tapi saya harus keluar dari comfort zone itu! Saya ingin mengajak orang lain untuk jujur pada dirinya, menghadapi apapun masalah yang di dalam dirinya. Bukan dengan menyangkal atau menerobos dengan amarah. Jangan membenci orang lain karena kita tidak cukup sempurna untuk merasa paling benar. Lagipula saya pribadi percaya dengan karma. Dan siapa tahu, bagi pembaca yang sedang mengalami hal yang sama - yang semakin mirip saja dengan objek kekesalan, mungkin bisa merenungkan apa yang pernah saya lakukan: jangan pernah mau mirip!

Well, how do you know you're not broken if you're afraid to look into the mirror?

Puisi

Saya dapat sebuah puisi via YM dari teman saya di klab nulis. Puisi yang menurut saya sederhana namun sarat makna.


This poem was nominated by UN as the best poem of 2006,
Written by an African Kid


When I born, I black
When I grow up, I black
When I go in Sun, I black
When I scared, I black
When I sick, I black
And when I die, I still black

And you white fellow
When you born, you pink
When you grow up, you white
When you go in sun, you red
When you cold, you blue
When you scared, you yellow
When you sick, you green
And when you die, you gray

And you calling me colored?

Memperjuangkan Nasib oh Nasib

Saya pernah bertanya kepada saudara saya yang bekerja sebagai fotografer padahal dulunya kuliah sastra Inggris (dan sampai sekarang tidak kelar - padahal sudah menikah). Pertanyaan saya adalah, "Kenapa orang bisa menganggur padahal setiap minggu di koran banyak sekali lowongan pekerjaan?"
Saudara saya menjawab, "Lowongan pekerjaan memang banyak tapi posisi yang dibutuhkan hanya sedikit. Jadi persaingannya ketat. Apalagi banyak yang pendidikannya rendah, bersaing dengan pendidikan yang lebih tinggi. Pengalaman sedikit, bersaing dengan pengalaman lebih banyak."
"Tidak setuju. Karena banyak pekerjaan yang membutuhkan orang-orang yang berpendidikan rendah dan ada juga yang tidak berpengalaman. Tapi kenapa banyak pengangguran?"
"Mungkin malas mencari pekerjaan?"

Jawaban itu saya simpan hingga kemarin - ketika saya menghadiri job fair di ITB. Job fair ini hebat sekali, dihadiri oleh perusahaan-perusahaan besar terutama di bidang tambang dan minyak. Dan yang datang bukan orang Bandung saja, tapi dari Ciamis hingga Yogyakarta.

Saya apply ke P&G dan lolos di seleksi pertama. Ketika saya melihat list orang-orang yang lolos, wah ... mereka berasal dari universitas ternama dari ITB sampai UI! Sementara orang-orang yang lolos dari kampus saya hanya sedikit (atau yang apply sedikit?). Saya pikir, "Gila! Saya harus berkompetisi sama orang-orang ini!". Apalagi setelah menyelesaikan soal P&G yang begitu Inggris dan internasional. Oh, apa ini?

Memang ketika job fair ini penuhnya gila-gilaan. Masing-masing orang membawa puluhan lamaran dan ribuan harapan. Para sarjana muda dari universitas ternama ini sama saja seperti saya, sama-sama pengangguran. Mungkin dari ratusan orang yang datang ke sini, hanya beberapa orang yang diterima oleh perusahaan yang bersangkutan.

Apply lamaran, tidak ada panggilan, atau tidak lolos seleksi mungkin membuat orang lelah untuk melamar, jenuh, hingga akhirnya berhenti berusaha melamar pekerjaan. Apalagi ditambah lagi pikiran mengenai ketatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Apakah ini yang membuat manusia Indonesia banyak yang menganggur karena menyerah?

Semoga saya tidak menyerah karena saya tidak mau menjadi pengangguran. Saya kuliah 4 tahun bukan untuk berakhir di rumah untuk masak, cuci piring, dan lainnya. Memang kuliah untuk membentuk jalan pikiran. Tapi kalau ujung-ujungnya gitu, ya dari SMA saja saya berhenti sekolah.

Rectoverso (upgrade)



Ini buku benar-benar dibuat untuk penggemar fanatiknya Dewi Lestari. Gimana enggak, harga satu buku tipis ini Rp.75.000,- dan CDnya Rp.55.000,-!
Tapi karena saya penggemar fanatik, saya beli buku dan CD aslinya. Bukan hasil unduhan, bukan hasil beli di Kota Kembang. Dan saya tidak pernah semenanti ini untuk menunggu karya seseorang, terutama untuk post di blog Dee dan bilang, "Saya tunggu Supernova-nya. Saya kangen berat!"

Cerita-cerita di buku ini terasa nyata dan dekat dengan pembaca. Buku ini tidak berisi kisah cinta yang berlebihan dan tidak masuk akal. Misalnya ketika saya membaca kisah 'Selamat Ulang Tahun', oh... saya pernah mengalaminya. Terjaga semalaman hanya untuk menunggu ucapan ulang tahun dari seseorang yang biasanya tidak pernah absen sebagai orang pertama dan tepat waktu.

Membaca Rectoverso sama halnya dengan membuka lembaran kisah hidup saya yang lalu. Tidak akan membuat pembaca menangis meraung-raung, hanya terisak kemudian tersenyum - karena Dee meraciknya dengan sangat baik.
Banyak cerita yang tidak terduga yang akan pembaca temukan di buku ini. Seperti saya tidak menduga dibalik lagu 'Malaikat Juga Tahu' yang mengisahkan seorang pria dewasa autis yang jatuh cinta kepada perempuan. Atau dibalik cerita 'Cicak Cicak di Dinding' dimana sang tokoh menyatakan cintanya dengan cara yang berbeda.

Ok, sudah pada membaca, wahai pembaca?

Apa ini oh apa ini?

Disamping kesibukan saya menjadi pengangguran, saya mendapatkan sesuatu yang baru. Sebelumnya saya jelaskan, saya adalah pengangguran yang sibuk. Maksudnya, betul-betul sibuk! Saya jadi pembantu rumah tangga, tempat titipan keponakan sementara ibunya belanja, mengurus kost-kostan di rumah, jualan kue, mengajar piano, dan mengurus cafe. Tahukah Anda bahwa pengangguran itu banyak bebannya: dimanfaatkan melakukan ini itu, disuruh cari beasiswa, kursus grafologi, belajar bahasa Jerman, dan lainnya. Oh sibuk dan penuh ketegangan sekali.

Anyways, saya mendapatkan sesuatu yang begitu baru - yang tidak pernah saya miliki sebelumnya. Ini oleh-oleh dari teman saya - seorang warga negara Belanda. Bukan teman sih, tapi dia temannya saudara saya tapi dia kenal saya semenjak saya kecil. Lalu, ia membelikan saya sebuah ... oh apa ini?



Ini asli. Saya terima, saya pegang, saya rentangkan, saya baringkan di kasur saya, dan ... apa ini? Apakah ini bikini?

Berlebihan atau tidak, cukup mengejutkan tapi menarik mengingat tidak pernah ada orang yang memberi saya ini. Langkah selanjutnya mungkin akan saya simpan saja di lemari sampai saya bertemu orang yang betul-betul membutuhkan dan akan memakai bikini ini. Greeting from Blijburg aan Zee!

Dengan akar, akan terbentuk pohon yang kokoh

(dan sulit ditebang)
Kalau pohon beneran ya bagus, tapi kalau pohon masalah? Ya mampus.

Kemarin sore, teman-teman saya datang ke rumah saya. Biasalah, anak muda. Kita ngemil, ngeteh, dan ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sampai teman saya berkata, "Sekarang banyak banget ya makanan kadaluarsa. Selain itu, daging-daging pun kualitasnya jelek. Sumpah, gue kasihan sama sapi gelonggongan. Gue enggak tega lihat itu sapi kejang-kejang. Dan ketika ditanya alasan kenapa mereka berbuat seperti itu, mereka menjawab, 'Ya untuk mencari uang karena kami miskin.'"
Saya diam, kemudian saya berkata, "Kalau gue paling sebal sama orang yang menyerah pada keadaan dan bilang, 'Ya... mau gimana lagi?'"
Kita sama-sama diam, mungkin saling mencerna apa yang menjadi topik pembicaraan. Saya bertanya kepada teman saya, "Sebenarnya, yang membuat masyarakat Indonesia miskin itu apa sih? Kurang kesempatan atau nasib sial?"
"Males, Ni. Orang Indonesia itu males-males! Gue yakin, kalau ada kemauan dan usaha, pasti ada jalan. Selain itu, mereka tidak berpendidikan. Mau usaha sekeras apapun, kalau jalan berpikirnya itu-itu aja, ya disitu terus. Misalnya ada orang tua yang banting tulang angkut sayur di pasar. Walaupun kerja keras, tetap saja miskin."
Saya setuju karena saya berpikir mungkin orang Indonesia miskin karena rendahnya pendidikan. Orang yang berpendidikan, pasti mempunyai jalan pikiran yang berbeda. Tapi bagaimana mau punya pendidikan jika miskin. Miskin karena pendidikan, dan tidak berpendidikan karena miskin. Rumit.
Lagian pembangunan tidak merata, uang hanya berkisar di pulau Jawa. Ya... macem film Laskar Pelangi lah, banyak sekolah yang kayak kandang binatang. Gimana mau pintar? Gimana mau kaya? Gimana mau menjadi orang yang baik (karena miskin memacu kriminalitas)?
Saya bilang ke teman saya, "Mungkin manusia Indonesia sekarang ini sedang mati perlahan dibunuh oleh sesamanya. Makan makanan kadaluarsa, daging tidak sehat." Dan ketika berita ini diturunkan, ada makanan model baru: gorengan plastik.
Kalau dibiarkan akar ini tumbuh dan menjalar, pohon akan semakin kuat dan sulit ditebang. Mungkin sekarang kita bisa mempersiapkan sebuah pisau kecil dengan memikirkan satu pertanyaan sederhana, "Menurut Anda, apa yang membuat masyarakat Indonesia miskin?"

Signifikan

Manusia ada yang berubah dan ada yang tidak. Manusia berubah secara mental dan fisik bisa dilihat dari semakin dewasa, semakin pintar, semakin berwawasan luas, semakin tinggi, semakin besar, semakin berisi, semakin kurus, semakin feminim atau maskulin, dan lainnya. Ada juga manusia yang tidak berubah yaitu perubahannya tidak terlihat atau tidak signifikan.

Sudah sepatutnya manusia berubah karena teori psikologi mengatakan harus begitu. Manusia hidup untuk berkembang, bergerak maju ke depan. Jika diam di satu tempat atau malah mundur ke belakang, dikatakan suatu gangguan.

Tapi apalah arti teori psikologi jika saya berada di kuadran manusia yang tidak berubah atau berubah secara tidak signifikan? Saya masih Nia yang dulu: Nia yang tidak feminim, yang rambutnya masih ikal, yang kulitnya masih hitam, yang badannya tetap berisi, dan kurang bisa menjalin berkomunikasi. Oke, ada beberapa yang berubah dari saya yaitu saya menjadi suka membaca buku dan tentunya saya bisa mengontrol emosi saya - itu saja.

Di bulan puasa kemarin, pasti banyak agenda buka puasa bersama. Tidak melulu dengan teman-teman sepermainan, tapi juga teman-teman zaman sekolahan. Mereka berubah oh berubah. Yang tadinya ikal menjadi lurus, yang tadinya gendut menjadi kurus, yang tadinya culun menjadi gaul, yang dulu rambutnya pendek menjadi panjang, yang tadinya biasa-biasa saja menjadi rupawan, yang tadinya anak baik-baik menjadi nakal, dan yang tidak feminim menjadi feminim. Bahkan ada yang tidak bisa dikenali sama sekali.
Bukankah itu yang kita harapkan ketika kita reunian yaitu melihat perubahan-perubahan orang yang kita pernah kenal?

Alkisah saya bertemu dengan seorang sahabat ketika saya kecil. Kita suka main sama-sama dan berkunjung ke rumah masing-masing. Saya pernah main ke rumahnya - sebuah rumah besar di bilangan Dago. Saya tahu kedua orang tuanya, saya tahu kakak dan adiknya. Mereka adalah orang kaya raya yang mempunyai halaman luas dengan beragam mainan dan sebuah vila menjulang dengan kolam renang di Dago atas. Setiap minggu, ia dan mobilnya selalu menjemput saya dan teman-teman lainnya untuk sekedar nongkrong di cafe dan minum strawberry milkshake atau jalan-jalan ke mall. Ibunya kurang ramah tapi Ayahnya baik sekali. Pada suatu hari ketika saya main di rumahnya, ayahnya bertanya kepada saya, "Kamu sudah makan?"
"Sudah, Om."
"Makan apa?"
"Makan sayur asem."
"Lho?? Kenapa tidak pesan Hoka-Hoka Bento?"
Sangat tidak mungkin untuk saya berkata bahwa Ibunya yang menyuruh saya makan sayur asem. Selain masih kecil, pemikiran saya belum sepicik itu.

Setelah kelulusan sekolah, dia masih nelepon saya sampai berjam-jam. Sampai akhirnya (entah mengapa) ia bersumpah serapah tidak akan pernah berhubungan dengan teman-teman kecilnya ini.

Dan waktu terus berjalan sampai saya dan dia dipertemukan pada sebuah kebetulan. Oooo, dia cantik sekali. Rambutnya yang dulu keriting kini lurus sekali. Perempuan setengah bule itu terlihat cantik di balik gaun setengah panjang. Saya menyapa. Apakah ia menyapa balik? Tentu tidak. Mungkin ia lupa dengan teman kecilnya - yang dulu suka bermain tamagochi dan rumah barbie - dan kini hanya memakai kaos, celana jeans, dan sendal jepit. Atau mungkin saya tidak cukup berubah sesuai dengan perubahannya? Apakah saya harus feminim, meluruskan rambut saya, dan menginjeksi dengan vitamin C agar bisa terlihat olehnya?

Oh teman, mungkin saya tidak seperti kamu. Saya tidak punya baju-baju yang cantik atau tas-tas yang mahal. Saya tidak diberkahi kulit seputih porselain atau badan tinggi menjulang. Saya asli Indonesia - lahir di tanah Jawa - tidak ada darah orang asing. Tapi apakah itu alasan untuk kamu melupakan teman masa kecilmu sendiri?

Once



"Have you ever seen this movie?" tanya teman saya, seorang warga negara Belanda.
"Frankly, I don't know."
Ternyata bukan Elsie saja, tapi teman-teman the circle juga bertanya. Ketika menjawab belum, mereka merekomendasikan saya untuk nonton film ini. Kalau ada rating untuk rekomendasi, pasti ada lima bintang yang artinya: Very Highly Recomended Movie.
Akhirnya saya mendapat pinjaman dari seorang teman. Saya menerimanya dan saya menontonnya bersama saudara-saudara saya ketika lebaran. Ceritanya begini, teman-teman.
Ada seorang penyanyi jalanan yang menciptakan lagu-lagunya sendiri. Ia (laki-laki) khusus menyanyikan lagu ciptaannya di malam hari dengan alasan bahwa orang-orang hanya ingin mendengar lagu yang mereka kenal di siang hari. Ternyata ada seorang perempuan yang mendengarkannya bernyanyi dan sangat menyukai lagu itu. Perempuan itu bertanya apakah laki-laki itu menulis lagunya dan untuk siapa. Laki-laki itu berkata tidak tapi si perempuan tidak percaya. Setelah melakukan pembicaraan kecil, laki-laki bercerita kalau ia bekerja sebagai tukang yang memperbaiki vacuum cleaner. Si perempuan terkejut atas kebetulan ini karena ia memiliki vacuum cleaner yang rusak dan bertanya apakah laki-laki itu mau memperbaikinya.
Keesokan harinya mereka bertemu dan mengobrol sampai laki-laki itu tahu bahwa perempuan jago bermain piano dan ia sangat ingin mendengarkan. Ketika sang perempuan bermain piano, laki-laki itu meminta si perempuan untuk menambahkan irama piano di lagu barunya. Hubungan berjalan seperti itu terus sampai mereka rekaman dan membuat album.
Tokoh laki-laki digambarkan sebagai seorang pria yang ditinggalkan oleh pacarnya karena pria lain. Ia sangat sakit hati dan merasa kesepian sehingga ia menciptakan lagu-lagu untuk perempuan itu. Sedangkan perempuan digambarkan sebagai seorang perempuan muda, imigran dari Ceko, yang sudah mempunyai satu orang anak perempuan dan berpisah dengan suaminya. Disini jelas jalan cerita akan dibawa kemana. Dua orang yang kesepian yang sering bertemu pasti akan timbul chemistry. Pasti witing tresno jalaran soko kulino (ini bahasa jawa ya, bukan bahasa Ceko).
Secara keseluruhan, film ini sederhana, manis, dan tidak ada adegan percintaan yang kompleks dan berlebihan. Akhir cerita pun happy ending. Sama seperti film Juno, lagu di film ini bagus-bagus. Tidak heran lagu-lagunya dinominasikan Grammy Awards. And those songs are overwhelmed! Lagu dalam film ini tidak hanya sebagai background atau pemanis saja, tetapi menjadi tema utama karena film ini adalah film musikal. Dan lucunya, tokoh-tokoh film tidak diberi nama - kecuali anak dari perempuan Ceko itu. Jadi hanya tertulis 'guy', 'girl', 'guy's dad' di kreditnya.
Dan ini menjadi film terbaik saya setelah Juno dan Stardust. And yes, this is very highly recomended movie.