Lautan Paling Dalam Adalah Ibu



Kemarin, walaupun dengan sedikit traumatis melihat air, saya menonton ulang Titanic. Disana Rose Dawson berkata bahwa hati wanita adalah lautan yang menyimpan banyak rahasia. Mungkin itu benar.

Pada suatu hari, saya menemukan sebuah nama di buku pengajiannya ibu. Irdan, tulisnya. Saya bertanya pada ibu siapakah Irdan karena saya tidak kenal nama itu, ibu tidak menjawab. Aksi tidak menjawab itu seumur hidupnya membuat ia sebagai orang yang paling saya tidak kenal. Ibu adalah tipe orang yang susah digali, tipe yang menutup pintu rapat-rapat, yang mengunci semua pengalaman hidupnya dalam sebuah peti kayu yang kuncinya ia lemparkan entah kemana. Saya tidak tahu ia pernah pacaran berapa kali, apakah ia pernah merasakan sakit hati, atau pengalaman-pengalaman yang menyenangkan yang pernah di alami sebelumnya. Setelah kelahiran saya, sepertinya ibu menutup buku dan memulai yang baru. Ibu selalu bercerita kejadian-kejadian yang pernah kita alami bersama, bukan kejadian-kejadian yang di masa lalu.

Saya terus bertanya kepada ibu siapa Irdan ini. Ibu hanya menjawab, "Ah, sudah lama." Saya tidak percaya kata-kata ibu. Sudah lama yang ibu maksud adalah sudah lama sebelum kelahiran saya. Tapi yang saya tahu, buku pengajian itu baru dibuat ketika saya duduk di bangku SMA. Artinya, ibu menulis nama itu dan setidaknya mengingat nama itu sampai saya SMA.

Saya bertanya kepada ibu, "Emangnya siapa? Ibu suka ya?"
Ibu menjawab, "Sudah lama kok."
"Ganteng enggak?"
Ibu menjawab sambil terkekeh, "Dia orang Jawa. Waktu itu ketemu pas di Jakarta."
"Di UI?"
"Enggak, pas di kereta. Waktu itu ibu mau ke Grogol."
"Dia mau kemana?"
Ibu menjawab tak acuh, "Enggak tahu mau kemana."
"Jadi ketemu di kereta terus enggak ketemu lagi sampai sekarang?"
"Iya."
"Ibu suka?"
"Sudah lama kok."

Ngomong sama ibu saya sedikit susah. Saya bertanya apa, ia menjawab apa. Oleh karena itu, untuk memancing ibu, ketika ia menjawab apa, saya bertanya apa. Pasti pertemuan singkat ibu sangat bermakna bagi ibu karena ia masih mengingat dan menuliskan namanya puluhan tahun kemudian.

Jika memang lautan ibu menyimpan banyak rahasia, pasti begitu dalam dan kaya, sehingga orang bisa tersesat di dalamnya.

Foto

Koran Hari Ini Begitu Paradoks

Hari ini (21/12) saya baca koran Pikiran Rakyat. Ada dua berita yang lucu dan begitu kontradiktif. Pertama-tama saya dikejutkan oleh berita ini:

Penderita Gangguan Jiwa Terus Meningkat

Penelitian terakhir menunjukkan, 37% warga Jawa Barat mengalami gangguan jiwa, mulai dari tingkat rendah sampai tinggi. Bahkan, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan 2007 menyebutkan, prevalensi warga Jabar mengalami gangguan mental emosional tertinggi se-Indonesia dengan kisaran 20%. Artinya, satu dari lima orang dewasa mengalami gangguan jiwa.


Sepertinya saya termasuk sekian persen dari yang terganggu jiwanya di Jawa Barat. Ternyata gila disini bukan gila ngalor ngidul kesana kemari, bukan gila yang pakai baju lusuh atau jalan dengan celana bolong di daerah bokong. Tetapi depresi, stres, gelisah, mudah marah juga termasuk gangguan mental. Wah, itu mah sudah sifat saya!

Saya membuka halaman berikutnya. Berita ini membuat saya kaget dan begitu kontradiktif. Begini beritanya:

Kota Bandung Raih Penghargaan Kesehatan

Kota Bandung meraih penghargaan Manggala Karya Bakti Husada Kartika 2008, sebagai salah satu daerah yang berjasa dalam pembangunan bidang kesehatan. Penghargaan itu diberikan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional 2008 yang bertema "Rakyat Sehat Kualitas Bangsa Meningkat". Selain Kota Bandung, daerah lain yang menerima penghargaan serupa adalah Prov. DI Yogyakarta, Prov. Bali, Kota Metro, dan Kab. Sleman.


Ya, bagaimana sih? Orang-orang Bandungnya sendiri gila, gimana caranya membangun kesehatan? Di satu sisi banyak orang gila, di sisi lain dapat penghargaan kesehatan. Gila kuadrat.

Apa Yang Pernah Dilakukan Hongkong?

Pada suatu hari, saya pernah melihat teman saya jalan dengan laki-laki. Saya pikir itu pacarnya. Lalu saya bertanya, "Itu pacar kamu?".

Teman saya menjawab, "PACAR DARI HONGKONG?!"

Jelas pacarnya bukan warga negara Hongkong atau pernah tinggal di Hongkong atau hasil kiriman paket dari Hongkong. Namun istilah 'dari Hongkong' sering digunakan untuk menunjukkan bahwa segala kata yang berada di depannya itu tidak benar.

Sepertinya istilah ini sudah lama digembar-gemborkan semenjak tahun 90-an. Saya bertanya pada teman-teman saya mengapa dari sekian banyak tempat, mereka menyebutkan Hongkong. Teman-teman saya berkata, "Karena barang dari Hongkong itu selain memproduksi banyak barang asli tapi palsu, barang mereka cepat rusak!". Oh, tidak usah jauh-jauh ke Hongkong karena barang Indonesia pun begitu adanya.

Saya menyimpulkan apapun kata yang berada di depan Hongkong, diindikasikan sebagai sesuatu yang jelek, bohong, palsu, tidak benar, hina, nista, dan lainnya. Ketika mengucapkan kata 'dari Hongkong', intonasi suara terkadang tinggi disertai mimik muka 'bisa-bisanya-lo-berpikiran-gitu'.

Pembaca, apa pernah tahu asal mula kata ini? Sebenarnya apa sih yang pernah dilakukan Hongkong terhadap Indonesia? Lagian, siapa juga sih yang memulai suatu pernyataan tanpa disertai alasan?

Kata Mereka... Islam Itu...

Ada sebuah surat pembaca di koran Pikiran Rakyat tanggal 03 Desember 2008. Isinya sebagai berikut:

"Beapa malangnya nasib Wini Dwi Mandela, petugas medis di sebuah rumah sakit di Bekasi Barat. Dia dipecat dari rumah sakit karena memutuskan untuk mengenakan kerudung/jilbab. Nasib malang yang menimpa Wini ternyata juga dialami oleh muslimah di berbagai negara. Mereka pun mendapatkan perlakuan yang tidak adil hanya karena memakai kerudung/jilbab. Inilah potret muslimah yang selalu menjadi korban pertama dan utama setiap penetapan sekulerisme. Mereka juga sekaligus korban Islamophobia, baik dari kalangan umat Islam sendiri maupun di kalangan non muslim."

Benar atau tidak, saya jadi teringat pengalaman saya ketika ikutan proyek dosen. Waktu itu saya dan teman-teman saya serta satu orang adik kelas. Adik kelas saya itu pakai kerudung panjang dan selalu pakai rok. Setahu saya, Islam tidak memperbolehkan memakai baju yang membentuk tubuh, oleh karena itu mereka tidak memakai celana panjang.

Dosen saya menyarankan dengan baik-baik ke adik kelas saya untuk tidak memakai rok. Selain kegiatan ini outbond, dosen bilang kalau ada beberapa orang yang protes atau enggan berurusan dengan orang-orang yang berpenampilan seperti dia. Dosen saya juga pakai kerudung, tapi ia praktis mengenakan celana panjang.

Lain hal dengan adik kelas saya, kakak saya bercerita bahwa orang yang berkerudung cenderung susah kerja di perusahaan. Selain rejeki-pasti-gak-kemana, tapi masa iya?

Islamophobia? Apakah orang cemas akan sesuatu yang dilakukan oleh orang Islam atau apa?

Coba, teman-teman yang sudah bekerja, kira-kira ini betul atau tidak?