Lebah dan Laki-Laki Dengan Piyama Bergaris

Ini film bagus. Ini benar-benar film bagus. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama, namun sayang saya belum sempat membacanya. Jika filmnya bagus, apalagi bukunya?

Film ini memiliki latar belakang Perang Dunia II, dimana Yahudi masih dibasmi oleh Jerman. Seorang anak bernama Bruno, dengan latar keluarga yang berada dan memiliki ayah seorang komandan tentara Nazi, harus berpisah dari teman-temannya karena keluarganya harus pindah ke pinggiran kota. Rumah yang sangat sepi dan kaku itu membuat ia bosan dan penasaran ingin melihat dunia luar dibalik pagar yang sangat tinggi dan penjaga yang selalu membawa anjing.

Pada suatu hari, ia melihat sebuah pertanian dengan orang-orang yang memakai piyama bergaris. Mendengar hal itu, ayahnya tidak berkata apa-apa sedangkan sang ibu sudah mengerti maksudnya. Rasa penasaran yang besar membuat Bruno nekat lari dari rumah dan menusuri jalan setapak hingga ke pertanian yang ia maksud.

Di balik pagar berkawat, duduklah seorang anak bernama Shmuel. Adegan perkenalan dan ngobrol memperlihatkan bahwa kedua anak yang berumur delapan tahun itu tidak mengetahui apa yang tengah terjadi. Jika di rumah, Bruno mendapatkan didikan bahwa Yahudi adalah ras perusak dan tidak bisa apa-apa. Didikan dari guru privatnya itu membuat Bruno bingung karena ketika ia melihat Shmuel, ia tidak melihat perusakan, tapi seorang laki-laki sebaya yang sangat ketakutan. Dan perlu diketahui, ending film ini sangat baik!

Selain nonton film ini, saya juga nonton The Secret Life of Bees. The Secret Life of Bees juga diangkat dari novel yang sangat bagus karangan Soe Monk Kidd, namun sayang saya baru setengah membacanya. Kedua film ini memiliki tema yang sama yaitu cerita yang berasal dari sudut pandang anak kecil mengenai perbedaan antara orang dewasa. Jika film pertama mengenai Jerman dan Yahudi, The Secret Life of Bees memiliki tema perbedaan warna kulit hitam dan putih.

Film-film ini sangat menyentuh dan baik sekali. Layak untuk ditonton. Menonton film The Boy In The Stripe Pajamas mengingatkan pada skripsi saya tentang seorang psikolog yang pernah menghabiskan waktunya di kamp konstentrasi Auswitch. Entah sebelumnya ia dokter, psikolog, orang ternama, namun begitu masuk ke kamp konsentrasi, mereka bukan apa-apa dari sekedar angka. Orang-orang dibariskan kemudian disuruh membuka seluruh pakaiannya sementara tentara Nazi menyemprot mereka dengan air. Itulah ritual mandi. Dan orang-orang yang tidak beruntung dan tidak terlihat kuat, mereka dimasukkan ke kamar gas.

Betul kata pepatah (ya bukan pepatah juga sih), bahwa seorang anak hanyalah mata, peraba, dan telinga. Namun ketika mereka dewasa, mereka dipengaruhi pandangan-pandangan buruk orang tua.

"Lines may divide us, but hope will unite us" - The Boy In The Stripe Pajamas.

Milk (2008)



Senin malam, saya nonton film Milk di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Film Milk - yang aktor utamanya, Sean Penn, mendapatkan penghargaan aktor terbaik di Oscar - menceritakan tentang seorang tokoh Harvey Milk sebagai orang aktivis yang berjuang untuk mendapatkan persamaan hak kaum homoseksual. Tidak hanya bercerita tentang karirnya saja, tapi film ini menceritakan tentang kehidupan pribadi seorang Harvey Milk.

Harvey Milk (Sean Penn) adalah seseorang pekerja New Yoek yang pada usia 40, ia memutuskan untuk out of closet (membuka diri mengenai status homoseksual), pindah ke San Fransisco pada tahun 1972 bersama pacarnya yang bernama Scott Smith (James Franco), dan membuka bisnis. Semula membuat komunitas kemudian menjadi kandidat politik untuk San Francisco City Supervisior pada tahun 1977. Ia menjadi gay pertama yang mengikuti pemilihan umum di California.

Untuk mencapai kursi pemerintahan tentu tidak mudah karena Harvey Milk harus melewati pandangan miring mengenai homoseksual dari masyarakat dan terutama para saingannya, salah satunya Dan White. Digambarkan diskriminasi pada tahun 1977 bahwa homoseksual di-satu-kluster-kan dengan prostitusi, sering clash dengan polisi, dan sulit mendapatkan pekerjaan. Dengan dukungan dari teman-temannya dan kepiawaiannya berpidato, Harvey Milk mendapat simpati banyak orang.

Saya menonton film ini bersama Q-munity. Q-munity adalah komunitas untuk orang-orang yang concern dengan masalah LGBT. Setelah menonton film ini, dua perwakilan dari Q-munity yang bernama Egi dan Fitri menjelaskan secara singkat tentang sejarah terbentuknya pergerakan homoseksual di Amerika dan mengajak peserta festival film untuk berdiskusi mengenai film dan tema homoseksual itu sendiri.

Seorang perempuan bertanya masalah sensitif mengenai pandangan agama yang menganggap homoseksual itu sebuah dosa. Fitri menjawab, " Saya jadi ingat ketika teman saya meluncurkan sebuah buku tentang homoseksual. Ada seorang laki-laki yang sangat tidak setuju dengan homoseksual di negara yang mayoritas muslim ini. Lantas moderator dari peluncuran buku tersebut menjawab, 'Jika mayoritas negara ini adalah muslim, maka kami adalah muslim'". Saya menyimpulkan bahwa mereka ingin dianggap sama seperti mayoritas dan tidak ingin dinilai berdasarkan agama. Simpulan saya di dalam hati ditanggapi oleh salah seorang peserta yang menurut saya bijak dengan berkata, "Semua manusia itu mulia di mata Tuhan dan konsep baik dan buruk disebabkan oleh pandangan orang lain. Apalagi manusia, secara psikologis, terlahir biseksual.". Kemudian saya menyimpulkan lagi, manusia tidak memiliki hak untuk menilai berdosa atau tidaknya seseorang.

Lalu ada orang lain yang bertanya, "Saya menganggap kalian biasa saja seperti orang lain, tapi mereka kalian membentuk sebuah komunitas yang seolah-olah menguatkan identitas kalian?"

Saya percaya bahwa seseorang yang dilahirkan berbeda dengan orang lain (cacat secara mental atau fisik) atau mengalami sesuatu yang membuat mereka berbeda dengan orang lain (HIV/AIDS, misalnya) akan memiliki tahapan psikologis. Semula seseorang bisa merasa takut, mengucilkan diri, membuka diri secara terbatas, dan mencari orang lain yang senasib dengannya untuk berbagi rasa, pengenalan, mendapat kepercayaan, dan mendapatkan dukungan sosial. Tidak usah jauh-jauh ke kecacatan atau penyakit deh, misalnya seseorang memiliki hobi yang sama dengan orang lain, mereka akan membentuk suatu komunitas. Jadi, menurut saya, tanpa harus menjadi cacat, harus HIV/AIDS, bahkan homoseksual pun, manusia akan berkelompok atau membentuk komunitas.

Saya cukup takjub mendengar GKI memutar fim Milk dan mengundang komunitas LGBT. Bagi saya, walaupun buka skala nasional, itu adalah sebuah kemajuan bahwa seseorang yang memiliki nilai-nilai agama yang kuat pun mau menerima orang lain yang berbeda dengannya. Saya bukan menolak atau mengiyakan LGBT. Bagi saya yang terbaik adalah seseorang nyaman dengan dirinya dan tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain. Itu sudah cukup.

"If it were true that children mimicked their teachers, you'd sure have a hell of a lot more nuns running around" - Harvey Milk -

White Silence

Tadi malam saya mimpi saya tersesat di hamparan padang, entah di tengah kabut, yang semua-muanya berwarna putih. White silence. Tidak ada suara, tidak ada gerakan apapun, semuanya kosong, hening, diam, dan beku. Anehnya saya tidak merasa takut. Ini membuat saya berpikir setelahnya mengapa orang takut berada sendirian. Berbeda jika seseorang ditemani dengan orang lain yang bisa saja berkelahi suatu waktu, sendirian tidak akan menyakiti, kan? Jadi, pembaca, mengapa orang-orang takut sendirian?

Saya seringkali mimpi aneh. Ibu saya sering mendapatkan cerita kalau saya dapat mimpi buruk, mimpi yang ganjil, dan mimpi-mimpi yang meminta diterjemahkan maknanya. Saya juga seringkali mimpi hantu. Beragam tips sudah diberikan seperti harus menghadap ke sisi tertentu kemudian meludah jika mengalami mimpi buruk atau doa sebelum tidur. Bahkan dongeng bahwa jika seseorang mimpi hantu, maka sebenarnya hantu sedang tidur di sampingnya. Semula saya takut, lama kelamaan saya menikmatinya. Dan selanjutnya - yang saya sesalkan mengapa saya tidak lakukan dari dulu - saya akan membuat jurnal dari mimpi-mimpi saya.

Saya percaya bahwa mimpi bukanlah sekedar pelengkap tidur, bukan hanya bunga tidur, dan bukan sesuatu yang menganggu kekhusyukan tidur itu sendiri. Mungkin mimpi adalah sebuah misteri yang tidak bisa dijelaskan dengan teori apapun, yang menghubungkan alam pikiran manusia dengan alam lain. Mungkin mimpi adalah bahasa alam untuk memberi tahu sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang jauh dari jangkauan, sesuatu yang tidak bisa dilihat, sesuatu yang perlu diketahui dengan beragam simbol dan isyarat.

Sayang sekali, mengenai foto, saya harus mencatut dari sini karena saya belum menemukan hasil foto buatan saya sendiri yang sangat merepresentasikan mimpi saya tadi malam.

Ismail

"Kenapa aku pulangnya cepat sekali, Ya Tuhan?"
"Iya. Kamu hanya meninggalkan surga barang lima menit. Sudahkah kamu melihat ibumu?"
"Sudah. Ia sangat cantik, sepertinya aku mewarisi sebagian besar dari dirinya. Kulitku akan putih dan hidungku mancung. Namun rambutku lebat sekali, seperti halnya ayahku. Ibuku berperawakan kecil sementara ayahku tinggi dan besar. Aku hanya melihat mereka sebentar saja karena seseorang mengambilku dari mereka, membersihkan seluruh darah ibuku, memasang berbagai macam jarum dan selang, memasukkan aku ke dalam sebuah kotak kaca yang lampunya menyilaukan. Aku sedikit kesal karena ibuku tidak memiliki kesempatan untuk memelukku. Ibu dan ayahku kagum akan kekuatanku bertahan di dalam rahim selama dua hari tanpa ketuban. Mereka berdecak karena aku mampu bertahan walaupun aku lengket dengan rahim. Katanya aku cakep, aku banyak gerak, dan menangis perlahan sekali."
"Kamu pasti senang sekali ya?"
"Iya. Aku senang. Tapi aku sedikit sedih mendengar ibu merintih kesakitan karena aku ingin keluar dari rahimnya. Oh ya, selama ibu mengandungku, aku sering mendengar ayah berbicara tentang nama yang akan diberikannya padaku. Ia ingin memberi nama Ismail karena aku hampir mati di usia kandungan tiga bulan. Waktu itu Idul Adha. Namun Kau memberikanku kesempatan lagi - layaknya kau memberikan kesempatan pada Nabi Ibrahim ketika akan menyembelih anaknya yang bernama Ismail. Ibuku sehat dan ia sangat senang. Ia sering memanjatkan doa, memberikan harapan bahwa kelak aku menjadi anak yang sehat dan berbakti, ia membawaku jalan-jalan, dan lainnya."
"Namun dibalik kesenanganmu, kamu sangat tidak sabar keluar di kandungan 6.5 bulan ya?"
"Ya. Walaupun aku masih 800 gram. Aku pikir aku bisa bertahan, ternyata tidak. Lalu mengapa Kau cepat sekali memanggilku pulang? Aku tidak tahan melihat ibu menangis seharian."
"Paru-paru kamu belum bekerja dengan baik. Tidak usah bersedih karena aku mempunyai rencana besar untuk ibu dan ayahmu."
"Rencana besar? Kau akan memberikan anak yang lebih pintar, baik, dan berbakti daripada aku."
"Iya."
"Lebih baik begitu, karena aku sayang kedua orang tuaku. Dan sekarang aku bisa bertemu dengan kakekku - seseorang yang bersedia membagi liang lahatnya denganku. Ia memelukku!"

[Saya tidak ingin diucapkan duka. Dan ini untuk kakak sepupu saya yang saya sayangi, yang mencoba tegar dengan kedua matanya yang nanar.]

Minggu Siang Di Barli

Hari minggu (31/01), saya baru bangun pukul 09.30 pagi akibat merasa lelah yang amat sangat. Entah apa yang saya lewati pada malam minggunya padahal hanya aktivitas rutin yang saya lewati di RL. Saya terbangun akibat sms dari Dika yang bertanya apakah saya akan pergi ke workshop nulis di Museum Barli atau tidak. Saya bingung karena dalam kondisi baru bangun dan belum mandi. Dengan waktu berpikir selama 15 menit, Dika bilang bahwa workshop dimulai pukul 10.00. Oh, bagus.

Dika sampai di rumah saya dua puluh menit kemudian. Dengan percaya diri, saya menunjukkan jalan ke Museum Barli. Sampai daerah sana, saya tidak yakin bahwa kami telah melewati jalan yang benar. Tanya sana, tanya sini. Belok sana, belok sini. Mengarungi jalan yang berliku dengan motor Dika yang sepertinya tidak kuat menahan beban saya. Akhirnya, kami sampai pada pukul 11.00.

Saya pikir saya terlambat. Masuk ke Museum Barli, kami disambut hangat. Tentunya disambut hangat karena kami peserta pertama yang datang. Ada untungnya juga karena kami jadi bisa berkenalan dengan Yudhi - wartawan sekaligus penulis buku tentang HIV/AIDS dengan judul Syair Untuk Sahabat, Sanga - ketua Yayasan Museum Barli, dan Pak Bambang - seorang kurator museum. Perkenalan yang membuat jejaring itu membawa saya untuk (akan) menjadi sukarelawan di kegiatan HIV/AIDS. Saya bertanya mengapa peserta sesepi ini dan apakah tidak promosi ke komunitas kreatif di bandung, lalu Sanga menjawab ia membutuhkan bantuan seperti itu. Saya merasa ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa karena saya memang ingin jadi aktivis, bergabung di komunitas sosial, jadi sukarelawan, menjaring teman sebanyak-banyaknya, tapi tetap berduit. Hehe.

Sekilas info sebentar, hasil psikotes menunjukkan saya adalah orang yang egosentris. Waktu saya wawancara kerja, si bos tidak percaya kalau saya berjiwa sosial. Saya pikir psikotes itu tidak semuanya benar. Hey, saya ini Aquarius yang berjiwa sosialis dan ditakdirkan menjadi penulis atau pengajar! Atau begitulah kira-kira karir zodiak Aquarius yang saya baca di majalah KawanKu ketika SMP.

Lalu setelah menghabiskan waktu hampir 1.5 jam untuk bercerita tentang HIV/AIDS, workshop menulis sendiri diadakan sangat singkat. Saya - yang menulis tema diskriminasi - merasa tidak puas, sejujurnya. Ketika para peserta sudah menulis, mereka mengumpulkan karya kami dan membacakan hanya segelintir orang. Saya pikir sebaiknya dibacakan semua karena peserta yang benar-benar sudah segelintir masih harus digelintir. Mengerti, kan? Selain itu tentang teknik menulis pun kurang dibicarakan karena terlalu banyak membahas tema buku yaitu HIV/AIDS. Bukannya tidak mau, tapi saya mengharapkan sebuah workshop nulis seperti yang dibilang di selebaran yang saya terima.

Yudhi menyatakan respect-nya ketika saya bercerita tentang pengalaman saya dengan ODHA. Selain saya yang bercerita, ada orang yang bercerita bahwa ia pernah melakukan diskriminasi ODHA karena ketidaktahuan dia tentang HIV/AIDS dan ia menyalahkan pemerintah akibat ketidaktahuannya itu.

Betul kata Dika, seharusnya orang itu bisa cari sendiri. Saya, yang tidak pernah menghadiri penyuluhan HIV/AIDS dimanapun, mencari sendiri bagaimana penularannya melalui internet dan saya bisa dengan santainya bergaul dengan ODHA. Hayo, Pak, zaman sudah canggih. Jangan mengandalkan orang lain terus. Google menjadi search engine pertama di dunia!

Pulangnya kita makan di Nasi Bancakan yang murah dan enak sekali buat saya yang kelaparan.

Masih Ingat

Saya masih ingat ketika Amnesiac Quartet menyanyikan lagu Street Spirit di kota kelahiran bandnya, Paris. Hanya sebuah konser kecil yang dipublikasikan dari mulut ke mulut, dengan lampu dan panggung seadanya. Tidak ada lampu yang gemerlap atau dekorasi yang mengkilap. Dengan saxophone sebagai melodi, mereka memainkan lagu indah sekali. Hampir semua anggota band menutup matanya, menggerakan badan ke kanan dan ke kiri – bergoyang mengikuti irama Street Spirit. Mereka adalah band kecil yang sangat berbeda karena mereka memainkan lagu-lagu Radiohead dalam versi jazz. Tidak ada yang bernyanyi, saxophone seolah-olah menyanyikan lirik lagu yang sangat pas.

Rows of houses, all bearing down on me
I can feel their blue hands touching me
All these things into position
All these things we'll one day swallow whole
Immerse your soul in love


Magis.

Pada saat itu kami hanya dua orang mahasiswa yang mengikuti program pertukaran pelajar. Saya dari Indonesia, kamu dari Singapura. Saya berbahasa Indonesia, kamu berbahasa Mandarin-Melayu. Kami dipersatukan oleh bahasa Inggris. Namun pada saat ini, kami dipersatukan oleh musik.

Saya masih ingat ketika cuaca disana dingin – ditambah rintik hujan. Beruntung pada saat itu kami berada di bawah atap plastik – yang ketika hujan akan menimbulkan sensasi berisik. Beberapa orang yang tidak beruntung berada langsung dibawah langit, sehingga mereka harus memakai penutup kepala. Saya menghangatkan diri dibalik jas beludru dan kamu menghangatkan diri dibalik jaket kulit. Saya dan kamu memakai syal yang sama – syal hangat berwarna merah yang kita beli di flea market ketika kita sama-sama baru menyadari kalau kita membutuhkan ekstra penghangat. Orang-orang menghangatkan diri dengan saling berpelukan dan berpegangan tangan. Sementara kami menghangatkan diri dalam diam. Saya menghangatkan tangan saya dengan memakai sarung tangan dan memasukkan kedua tangan saya ke dalam kedua kantung jas. Sementara kamu, tanganmu mendekap dadamu. Kamu mendekap dirimu. Kamu menutup matamu. Badanmu bergerak perlahan mengikuti irama Street Spirit.

Mereka bernyanyi membuat kami hangat sekali.

Saya masih ingat pada saat itu saya mulai merasa memiliki banyak kesamaan denganmu. Saya memiliki selera musik, selera buku yang sama, selera film, menyukai seni, puisi, teater, budaya, dan hal-hal sama lainnya dengamu. Mungkin karena kesamaan itu saya dan kamu dipersatukan melalui suatu program. Anggap berlebihan tetapi mungkin ini adalah garis Tuhan. Saya masih ingat pada saat itu saya mulai berharap agar kamu memiliki banyak waktu untuk menghabiskan kegiatan-kegiatan yang kamu sukai dengan saya. Saya masih ingat ketika harapan saya sama dengan harapanmu bahwa kamu juga ingin menjalankan hari-hari di Paris bersama saya – sampai pulang ke negara masing-masing. Kami bahagia – karena satu tambah satu menjadi dua. Dua berarti tidak sendiri, dua berarti selalu bersama-sama.

Amnesiac Quartet sudah mencapai ujung konsernya. Ia menyanyikan lagu Nice Dream. Saya masih ingat pada saat itu kami tidak menghangatkan diri seorang diri. Tetapi kami saling mentautkan jemari. Bergoyang untuk terakhir kali, sambil menyenandungkan lagu Nice Dream.

They love me like I was a brother
They protect me, listen to me
They dug me my very own garden
Gave me sunshine, made me happy



[Cerita yang mengendap di komputer yang jika dibaca lagi-entah mengapa-terasa norak. Jika ingin melihat kenorakan lainnya, silahkan klik tag fiksi atau cerita sebuah foto. Sesuai dengan motto hidup saya: Berbanggalah dengan kenorakan Anda]