Ateisme Atau Skeptisisme?

Waktu menghadiri LGBT anonymous - hehehe, bukan deng, tapi hanya salah satu acara LGBT yang mengadakan nonton film Milk - seorang pembicaranya berkata, "Saya ini agnostik". FYI, acara diadakan di Gereja Kristen Indonesia.

Pernyataan sang pembicara mengingatkan kepada para ateis dadakan yang waktu dulu sempat jadi trend di antara teman-teman saya yang saya yakin bahwa mereka menjadi ateis bukan karena landasan teori hasil kontemplasi, melainkan hanya ikutan, biar keren enggak punya Tuhan, atau biar disangka pintar, biar disangka pemikir atau calon filsuf.

Memangnya untuk jadi seorang pemikir atau filsuf, harus ateis dulu?

Mungkin lebih tepatnya itu skeptis. Bagi saya skeptis itu wajar. Manusia memiliki indera yang ditakdirkan untuk melihat benda konkrit. Benda abstrak hanya bisa dilihat melalui keyakinan dan pemahaman. Bertanya tentang apa yang menjadi agamanya itu wajar - apalagi agama sudah didogma pada manusia sedari kecil, oleh karena itu saya pernah meragukan ajaran agama saya dan saya bertanya kepada orang-orang. Namun sayang reaksi yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya langsung di-judge tidak boleh ragu, dipandang sebelah mata oleh kakak kelas agamis dengan jawabannya, "Kenapa harus bertanya tentang Tuhan sih? Kenapa kamu tidak ikuti skenarionya saja?". Itu melarang hak manusia untuk berpikir, namanya.

Saya, yang sedari kecil sudah diberi agama Islam dan tidak diberi kesempatan untuk memilih agama, bertanya apakah perasaan takut pada Tuhan memang berasal dari keyakinan saya atau dari didikan yang sudah membudaya? Lalu bagaimana jika agama itu ternyata tidak ada, sengaja dibuat untuk mengendalikan hidup manusia yang kelewat bebas?

Pertama kali saya belajar filsafat, banyak tanggapan bahwa filsafat itu membuat orang ateis. Setelah membaca, ternyata beberapa tokoh seperti Nietzsche, Camus, Sartre, dan lainnya itu ateis. Karena saya berada di ranah psikologi, mari kita melihat sisi ateis melalui Sigmund Freud.

Freud melihat agama itu infantil, seperti anak kecil yang ingin menyelesaikan masalah nyata dengan wishful thinking. Manusia jadi mengharapkan keselamatan secara pasif dari Tuhan daripada mencari jalan untuk mengusahakannya sendiri dan mengembangkan potensinya. Manusia jadi mengharapkan sebuah penyelamat yang memang tidak pernah ada. Parahnya, ini dialami oleh semua orang, sehingga Freud menyebutnya dengan neurosis kolektif. Neurosis adalah dasar teori Freud. Neurosis terjadi apabila orang bereaksi tidak adekuat atas suatu pengalaman yang amat emosional. Misalnya seorang perempuan yang dengan sengaja menghilangkan ingatan akibat pemerkosaan yang pernah dialaminya. Tanpa ia sadari, konflik emosional itu dimunculkan melalui perilaku yang seperti tidak ada hubungannya. Misalnya perilaku obsesif kompulsif - terus-terusan mencuci tangan dan lainnya.

Akur dengan Nietzsche yang berpendapat bahwa agama hanyalah belenggu "manusia super", Freud beranggapan agama menggagalkan kemungkinan manusia untuk mengembangkan diri dan untuk mencapai tingkat kebahagiaan yang sebenarnya dapat saja tercapai.

Terlihat, kan, bedanya yang mana skeptis dan ateis. Apalagi ateis nge-trend.

Andai saya bertemu dengan kakak kelas saya, mungkin saya akan menjelaskan bahwa dalam agama, terdapat dimensi intelektual. Bukan untuk merasionalkan agama (karena yang rasional namanya science) tetapi untuk bertanya tentang apa yang dianutnya. Bagi saya, totalitas orang beragama bukan hanya menganut apa yang diturunkan orang tua, tetapi mendalaminya dengan pertanyaan. Dan bagi saya, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang berasal dari keraguan.

Vital

Sebetulnya saya sedikit cemas menuliskan ini karena facebook saya menggunakan aplikasi mirror blog yang otomatis membuat semua postingan di blog ini akan tercermin ke facebook saya. Saya harus membuat prolog yang panjang disini karena biasanya fasilitas mirror blog akan menampilkan sedikit kalimat utama yang akan ada di layar orang lain.

Mengapa saya cemas? Yang membuat saya cemas adalah facebook saya kini di-add oleh teman-teman guru dan murid. Dan yang membuat saya cemas lagi adalah saya akan menulis tentang masalah vital: masalah seksual.

Aplikasi mirror blog sudah dihapus. Semoga murid saya tidak baca.

Banyak manusia yang dipenjara gara-gara urusan "bawahan": memperkosa, mencabuli, melecehkan, menghamili anak sendiri, menikah dengan anak kecil, incest, pedofilia, kedapatan memperbanyak video dewasa di internet, dan lainnya. Saya takjub karena sebesar apa sih dorongan seksual seseorang sehingga bisa membawa diri mereka sendiri menderita pada akhirnya?

Dua berita yang saya baca beberapa hari yang lalu:

1. Kepala sekolah melecehkan muridnya dengan menyuruh si murid melepas semua bajunya hanya karena si murid terlambat. Seharusnya si kepala sekolah bisa berpikir bahwa andai saja ia menahan nafsunya, ia tidak akan dipecat dari jabatannya, mencoreng namanya sendiri, dan masuk televisi dengan muka disamarkan.

2. Selanjutnya berita yang merefleksikan betapa tidak manusiawinya manusia gara-gara urusan bawahan yang saya dapat dari sini

ST. POELTEN, Austria (CNN) -- A verdict in the case of Josef Fritzl, the Austrian man accused of keeping his daughter in a cellar for decades and fathering her seven children, could come as early as Thursday, a court official told reporters Monday. As his trial began behind closed doors Monday Fritzl pleaded guilty to incest and other charges, but denied charges of murder and enslavement -- the most serious charges against him. Fritzl arrived at the courthouse in St. Poelten covering his face with a blue binder to shield himself from reporters, television cameras and photographers and escorted by a phalanx of police officers.

Fritzl was charged in November with incest and the repeated rape of his daughter, Elisabeth, over a 24-year period.

But he was also charged with the murder of one of the children he fathered with her, an infant who died soon after birth. State Prosecutor Gerhard Sedlacek said Michael Fritzl died from lack of medical care.

In all, Fritzl is charged with: murder, involvement in slave trade (slavery), rape, incest, assault and deprivation of liberty, Sedlacek's office said. He could face a maximum sentence of life in prison if convicted of murder. Mayer said Sunday that Fritzl expected to spend the rest of his life in prison.

"This man obviously led a double life for 24 years. He had a wife and had seven kids with her. And then he had another family with his daughter, fathered another seven children with her," said Franz Polzer, a police officer in Amstetten, the town where Fritzl lived, at the time of his arrest.

The case first came to light in April 2008 when Elisabeth's daughter, Kerstin, became seriously ill with convulsions.

Elisabeth persuaded her father to allow Kerstin, then 19, to be taken to a hospital for treatment.

Hospital staff became suspicious of the case and alerted police, who discovered the family members in the cellar.

Fritzl confessed to police that he raped his daughter, kept her and their children in captivity and burned the body of the dead infant in an oven in the house. Elisabeth told police the infant was one of twins who died a few days after birth.

When Elisabeth gained her freedom, she told police her father began sexually abusing her at age 11. On August 8, 1984, she told police, her father enticed her into the basement, where he drugged her, put her in handcuffs and locked her in a room.

Fritzl explained Elisabeth's disappearance in 1984 by saying the girl, who was then 18, had run away from home. He backed up the story with letters he forced Elisabeth to write.

Hehe, gila ya?

Bagaimana bisa seorang bapak memiliki nafsu kepada darah dagingnya sendiri? Ya tentu bisa, sudah banyak kok kejadian seperti ini. Namun saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Elisabeth diperkosa ratusan kali selama 24 tahun sampai melahirkan anak dalam keadaan disekap. Pasti ia tidak tahu rasanya bersenang-senang dengan orang lain seusianya, merasakan enaknya udara pagi, atau membentuk keluarga sendiri. Pasti dunianya luluh lantak!

Betul kata psikolog Sigmund Freud bahwa manusia hanya urusan seks dan agresi. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuan menyerap nilai-nilai yang diajarkan orang tua dan lingkungan. Namun jika sudah seperti ini, apa bedanya manusia dengan binatang?

Pada Saat Itu

Pada saat itu, saya dan teman kerja saya berada di perpustakaan yang nyaman. Namanya Uli, sebutlah begitu. Kami adalah rekan kerja satu angkatan yang sama-sama baru diterima. Perasaan sama membuat kami saling berbagi tentang keadaan tugas dan lingkungan kerja.

Ternyata kami merasakan perasaan yang sama: kami tidak betah. Tidak betah bisa disebabkan iklim kerja yang tidak enak atau memang bidang ini bukan passion kami sebenarnya. Saya sendiri mulai berpikir bahwa ini bukan passion saya. Ketika saya kuliah, saya memilih mata kuliah psikologi klinis - bukan psikologi perkembangan. Ketika saya skripsi, saya memilih bahasan fenomenologi-eksistensial. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menjamah ranah psikologi perkembangan anak.

Setiap kami bertemu, berulang kali kami menceritakan hal yang sama. Pada saat itu, di perpustakaan sambil melihat-lihat bahan ajar, kami saling menghibur diri.

"Li, semua guru yang bertahan disini sampai bertahun-tahun pasti ada alasan yang membuat mereka betah, 'kan?" ujar saya menghibur diri.

Lantas Uli mematahkan hiburan saya dengan berkata, "Tapi yang resign sebelum kontrak habis juga pasti ada alasannya, 'kan?"

Saya termanggu. Dunia tidak selamanya positif.

Setelah jeda lama, Uli berkata lagi, "Tapi pasti ada alasannya juga 'kan kenapa kita bisa diterima dari sekian banyak pelamar?"

Lagi-lagi saya termanggu. Jawaban Uli membuat saya berpikir lebih jauh. Saya berkata kepada Uli, "Jangan-jangan ada alasannya mengapa Tuhan memberikan anak-anak itu kepada kita? Pasti ada maksud tertentu, 'kan?"

Kami sama-sama termanggu. Sepertinya pernyataan terakhir saya membuat kami berpikir dua kali untuk masalah resign. Ini bukan masalah passion atau lingkungan kerja yang tidak enak, tapi mungkin ini masalah bagaimana tanggung jawab pekerja terhadap tugasnya. Rasa tanggung jawab saya semakin besar ketika salah satu guru berkata, "Bu, kenaikan kelas sebentar lagi. Buatlah program yang efektif untuk anak." Disana saya disadari bahwa, secara tidak langsung, saya memegang tanggung jawab atas kenaikan anak asuh saya. Juga hal lain ketika kepala sekolah dan wakilnya memanggil saya untuk membicarakan anak asuh saya yang memiliki gangguan perilaku. Wakil kepala sekolah berkata bahwa saya sudah memiliki kedekatan dengan anak itu sehingga saya bisa lebih mudah masuk daripada yang lain.

Saya jadi ingat dengan salah satu anak asuh saya yang berkata dengan apatis bahwa ia sering ditinggalkan dengan gurunya. Saya sedih. Saya tidak mau kedekatan emosional yang dibangun membuat anak asuh saya merasa dikhianati karena ditinggalkan. Tapi itu juga tidak menjamin bahwa saya bisa terus bertahan disana bertahun-tahun seperti guru lainnya.

Pada saat itu, di perpustakaan, saya dan Uli tidak berkata apa-apa sampai kami berpisah akibat urusan masing-masing.

The Art of Art

Saya baru menghadiri sebuah galeri titik Oranje yang kebetulan berada di rumah saya sendiri. Tadi sore adalah acara pembukaan bahwa galeri ini resmi dibuka. Karya yang ditampilkan adalah hasil para seniman yang dihimpun menjadi satu kelompok. Cukup banyak yang datang.

Dari sekian banyak seniman, saya suka dengan karya ini pada kesan pertama.



Karya ini membuat saya bertanya-tanya darimana ia mendapatkan inspirasi membuat karya ini. Saya, yang sebelumnya saling komentar dengan saudara saya tentang karya ini, mengeluh, "Mana sih senimannya? Katanya enggak datang ya?". Tiba-tiba seorang perempuan disebelah saya berkata, "Saya senimannya!"

Haduh. Malu. Ternyata dari tadi ia ada disebelah saya dan mendengarkan komentar saya. Kenapa enggak bilang dari tadi sih? Untung saya komentar yang baik-baik.

Namanya Tisa Granisia. Ia lahir pada tahun 1981 dengan pendidikan terakhir magister seni rupa ITB. Dengan meluangkan waktunya, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya terutama pertanyaan darimana ia dapat inspirasi karya ini.

Tisa sedang menceritakan inspirasi dan proses pembuatan
Tisa menjawab bahwa ini terinspirasi pada identitas gender. Ia mengimajinasikan dirinya sebagai binatang yang ada di hutan. Ini seperti metafora dirinya tentang bagaimana bertahan dalam dunia seni kontemporer di Indonesia.

Jawaban Tisa cukup mengecewakan saya karena tidak sesuai dengan jawaban yang saya harapkan. Saya mengharapkan Tisa menjawab bahwa ia membuat ini tanpa alasan, hanya karena inspirasi yang datang sebuah mimpi. Karena, jujur, ketika pertama kali saya melihat patung ini, saya menangkap rasa ganjil, aneh, dan tidak nyata. Dan justru itu yang membuat saya suka.

Kemudian saya melongok karya lainnya, sebuah karya Fery Pharama - seorang instruktur klinik teknologi keramik.



Saya suka karya ini. Ketika saya membaca labelnya, lagi-lagi mengecewakan saya karena menceritakan tentang matahari, bulan, dan manusia yang sejajar. Saya pikir ini mengenai alam mimpi atau tentang manusia yang sedang melamun karena kedua bulatan yang di atas sebagai bentuk lamunan.

Anehnya mengapa saya harus kecewa? Saya pernah membahas tentang seni bersama teman-teman saya. Seni, yang mengangkat hasil perasaan dan pengalaman seniman, tentunya bisa dipersepsikan berbeda oleh yang melihatnya. Seni tidak memaksakan rasa penikmat harus sesuai dengan rasa seniman - begitu juga sebaliknya.

Galeri pun ditutup dengan kedatangan seorang kurator yang akan membeli karya Tisa seharga puluhan juta. Saya terkaget-kaget tentang bagaimana sebuah ide dihargai sedemikian mahalnya.

Pernah saya berbicara dengan teman-teman saya tentang hak cipta. Ada yang berkata, "Coba bayangkan jika dunia tanpa hak cipta". Saya tidak terbayang rasa jengkel dan kesal jika karya-karya saya di ambil orang lain (apalagi dia dapat penghargaan atas itu). Namun salah satu teman saya berkata, "Sebenarnya ada yang tidak bisa diambil, yaitu ide. Orang boleh ambil karya kita, tapi mereka tetap tidak akan bisa mengambil ide kita". Setelah itu saya jadi terpikirkan bahwa memang betul juga. Silahkan ambil karya saya karena saya masih bisa menciptakan ratusan bahkan ribuan karya lainnya karena saya memiliki sesuatu yang tidak bisa diambil: ide.

Kadang, jika saya melihat karya seni walaupun tidak mengerti, saya berpikir sebenarnya ide itu bisa diambil dari sehari-hari. Tapi yang membuat ide biasa menjadi luar biasa dan dibangkitkan menjadi suatu karya itulah mungkin yang sering terlewatkan.

Mungkin itulah seninya seni.

Gadget Canggih

Sepulang kerja, naik angkot dalam perjalanan pulang, perempuan di depan saya berbicara tak jemu-jemu:

"... iya. Ih gue sih enggak suka ya. Rasanya gimana gitu! Terus terus ... handphonenya sok banget deh, kayaknya semua fitur diambil. Merk-nya iPod gitu deh..."

Saya yang ketinggalan zaman atau semakin sore pikiran orang semakin melempem?

Dibalik Ludah Dan Darah


Entahlah sepertinya saya pamer sekali, tapi luka tersebut adalah buah karya dari pekerjaan saya. Konteks hari pertama disemprot ludah dan hari kelima berdarah-darah itu secara harafiah benar adanya. Bukan oleh bos masokis dan sadistis, tapi oleh seorang anak kecil yang memiliki gangguan perilaku.
 
Saya sekarang bekerja sebagai guru anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah swasta yang bagus. Saya pikir jadi guru itu mudah: pulang sesuai jam pulang, libur ketika anak-anak libur, transfer ilmu, menerapkan ilmu reward and punishment. Namun pada beberapa anak, reward and punishment itu tidak berlaku. Kadang-kadang harus menggunakan teknik persuasif dan imajinasi yang tinggi apabila mau masuk ke hatinya. Apalagi kalau ia sedang memberontak, guru harus berhati-hati dengan titik-titik di fisik dan mentalnya yang bisa menimbulkan traumatis akibat apa yang ia dapatkan di rumah.

Diindikasikan anak yang mencakar saya memiliki gangguan sosio-emosional. Tidakkah itu ironis? Anak kelas satu harus menanggung beban sebesar itu! Beruntung anak ini bisa masuk ke sekolah bagus yang menyediakan guru individu. Ketidakberuntungan ini hinggap di nasib saudara saya karena waktu itu gangguan belajar belum tren seperti sekarang. Sampai kini, di usia SMA, ia masih kesulitan.

Saya mungkin belum cinta seluruhnya dengan pekerjaan ini. Terutama hubungan saya dengan senior dan keinginan saya untuk tidak mengecewakan tugas yang telah diberikan. Tapi semua itu butuh waktu, saya harus beradaptasi dan mereka pun harus beradaptasi.

Beberapa hari saya bekerja, saya menyadari buruknya sistem pendidikan di Indonesia. Bukan karena saya bekerja di sekolah yang sistemnya buruk, namun pemahaman ini saya dapatkan ketika rapat mingguan dan ditayangkan sebuah film cara mengajar di luar negeri. Mungkin bukan buruk, namun sistem disini sifatnya abstrak. Daripada mengajar anak untuk menganalisis dan mempraktekkan sesuatu, Indonesia lebih memilih mengajarkan hal-hal yang abstrak: pemakaian seragam, sapa dan salam, harus mengacungkan tangan kanan ketika bertanya, ketimbang membebaskan anak untuk berpendapat bahkan berdebat. Jika anak terlalu banyak berpendapat, disangka ribut. Jika sudah ribut, guru merasa ada kewajiban untuk menertibkan. Bahkan ketika anak sudah dewasa dan suatu saat membuka lowongan kerjaan pun, terkadang mereka mencantumkan hal-hal yang abstrak sebagai syarat: bertakwa kepada Tuhan YME, bangsa negara yang baik, mental yang sehat, dan lainnya.

Ah, jadi melantur begini. Saya merasa penting menyampaikan ini karena sepertinya pembaca sudah terlanjur mendapatkan gambaran ketika saya kuliah dan saya pengangguran. Hehe. Oh ya, saya sedang merasa gemas dengan kasus Ponari!

Jamur

Jamur, jika sudah ada di kulit manusia yang kotor, pasti akan cepat menyebar. Mungkin Indonesia adalah tempat yang kotor (dan berlahan gambut) sehingga banyak yang menyebar dan tumbuh subur. Sayang bukan jamur, tetapi partai.

Pastinya warga negara Indonesia sudah sering melihat beragam poster caleg yang disimpan sembarangan sehingga menimbulkan polusi mata. Mending kalau cakep, lha ini bapak-bapak? Sebenarnya bukan masalah ganteng atau enggak sih, tapi banyak gambar dengan muka-muka yang tidak dikenal membuat saya cukup terganggu. Dengan billboard, spanduk, brosur, dan pamflet yang ditempel sembarangan dari tembok rumah orang sampai pohon. Maaf, rasanya menggunakan fasilitas milik orang lain (terutama pohon) itu tidak beradab.

Rupanya salah seorang teman SD saya juga menjadi caleg. Saya tanya ke saudaranya yang teman SD saya juga, "Memang prestasinya apa?". Saudaranya hanya tersenyum menandakan ia juga sanksi akan prestasi saudaranya. Saya bingung, kenapa mereka yang modal sarjana, yang belum ada pengalaman, berani mencalonkan diri? Badan legislatif kan bukan sarana untuk belajar, tapi untuk orang-orang yang pintar dan ahli di bidangnya.

Kalau di Malaysia, menjadi seorang dosen saja harus S3. Lha, Pak, wong disini saja yang S1 bisa memimpin negara. Ya mending hidup disini, toh? Mungkin sepuluh tahun lagi yang SMA saja bisa jadi presiden.

Firasat

Tiba-tiba saya dan teman-teman membuat sebuah klab yang tidak terencanakan. Klab firasat, namanya. Tentunya bagi yang suka Dewi Lestari, nama ini sudah tidak asing. Ya memang kami mencontek karena sebelumnya kami sama-sama membaca Rectoverso, ditengahi dengan kumpul-kumpul bareng, dan diakhiri dengan curhat tentang firasat.

Bukan firasat sebetulnya. Kami hanya saling bercerita tentang suatu kejadian yang dimulai dari kejadian-kejadian yang dialami namun dilewati begitu saja. Dengan merunut ke belakang apa yang menjadi diri kami sekarang, kami menemukan bahwa kejadian-kejadian yang secara tidak sengaja dan bahkan dilakukan orang-orang yang tidak kenal ternyata berpengaruh pada keberlangsungan hidup kami. Kebetulan, singkatnya.

Misalnya ketiga teman saya (A, B, dan C) yang akan berangkat ke Jerman. A dan B memang sebelumnya berteman di universitas yang sama. A bekerja di Jakarta, kemudian disusul B yang bekerja di Jakarta juga. B mengalami kesulitan untuk melewati skripsinya sehingga ia satu langkah terlambat dibandingkan A. Semula B melamar pekerjaan di salah satu perusahaan swasta namun tidak diterima. Ia melamar ke perusahaan yang lain kemudian di terima. Kemudian B mengalami kesulitan untuk mencari kost-kostan di daerah Kemang. Ia menelepon A yang pada saat itu sedang bekerja. A bercerita bahwa ada teman sekantornya yang sedang bermain monopoli di depannya. Hal ini sangat jarang terjadi bahkan ini pertama kalinya teman sekantornya itu berada di depan dan sedang main monopoli. A bertanya apakah ada kost-kostan di daerah Kemang, dan temannya itu menjawab ada. Lalu mereka tinggal berdua dan merencanakan pergi ke Jerman.

C, yang berbeda kampus, juga pergi ke Jakarta. Hubungan A, B, dan C yang semula hanya berasal dari teman klab nulis menjadi akrab di Jakarta karena mereka sama-sama pendatang. Kedekatan dan kesamaan bahwa mereka jenuh dengan pekerjaan itulah yang membawa C ikut juga ke Jerman.

Bisa dilihat benang merahnya, tidak? Maksudnya jika C tidak bertemu dan berkenalan dengan A dan B di klab nulis, ia tidak akan pergi ke Jerman. Jika tidak B ditolak dari perusahaannya, ia tidak akan satu kostan dengan A. Jika A tidak bekerja di Jakarta, mereka semua tidak akan bertemu.

Tidak hanya itu saja, keberadaan A juga berpengaruh terhadap kehidupan saya. Bahkan jika dirunut lagi, pacarnya A yang tidak saya kenal pun berpengaruh terhadap kehidupan saya! Semenjak saat itu saya jadi was-was tentang apa yang saya lakukan hari ini. Saya berpikir apakah saya akan merugikan orang lain yang bahkan tidak saya kenal? Mungkin dari sinilah datangnya firasat. Jika manusia lebih jeli dengan apa yang terjadi, mereka akan memilikinya.

Lama-lama kami menyadari bahwa kebetulan itu tidak ada karena sepertinya semua terencanakan. Salah satu teman saya bilang, "Yang membuat saya seram adalah kita tidak tahu apa yang direncanakan padahal kita sendiri memiliki tujuan dan harapan tersendiri".

Saya jadi berpikir bahwa teman saya saja yang - istilah kasarnya - tidak melakukan apa-apa pada urusan saya, namun ia berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup saya. Bagaimana orang yang "melakukan apa-apa" seperti korupsi atau pembalakan hutan liar?

Sepertinya manusia memiliki rantai maya yang saling menghubungkan satu sama lain. Mungkin inilah pernyataan yang bisa menjawab postingan saya sebelumnya tentang mengapa manusia tidak bisa hidup sendiri.

Picture