Lebah Di Perpustakaan

Waktu aku kecil, selalu kuingat wajah marah ibu. Entah apa yang aku lakukan, ibu selalu menunjukkan muka seperti itu. Aku pikir ibu adalah orang yang manis dan menyenangkan pada saat-saat tertentu. Namun terkadang ibu bisa menjadi sangat jahat dan bahkan tidak segan memukulku jika ia marah. Sering aku ditampar di pipi tapi semuanya itu aku simpan sendiri.

Aku kira ayah akan membelaku, tapi ternyata sama saja. Pernah ayah memukulku karena aku memukul temanku. Rasanya sangat sakit karena ayahku memukul lebih keras dibandingkan ibu. Lagi-lagi aku simpan sendiri. Jika aku sedih atau marah, lebih baik aku menonton kartun sampai aku lupa dengan kemarahan dan kesedihan.

Dibandingkan dengan ayah, aku lebih dekat dengan ibu. Aku lebih bersemangat jika ibu mengantarkanku ke sekolah, jika ibu menonton saat pertunjukan seni, jika ibu memelukku, apalagi jika ibu bilang sayang padaku. Tapi jarang sekali munculnya sosok ibu yang baik. Selalu ada sosok ibu jahat dan pemarah yang membuatku sedih dan terkadang benci. Ia selalu memarahiku walau aku tidak salah. Aku tidak pernah mendapatkan kesempatan mengapa aku melakukan hal tertentu. Aku merindukan sosok baik ibu.

Sampai suatu hari datang seorang guru khusus untukku. Aku tahu mengapa ia datang kesini yaitu untuk membenahi perilaku. Entah apa ayah dan ibu perbuat sehingga aku dibilang anak yang butuh bantuan. Pada saat itu aku memang suka jalan-jalan di kelas, tidak pernah mau duduk di kursi, tidak pernah mendengarkan guru, menolak mengerjakan tugas, memukul teman, melempar barang, keluar kelas jika aku bosan padahal pelajaran sedang berlangsung, dan lainnya. Tapi pada saat itu aku merasa tidak ada yang salah denganku. Aku hanya anak berumur tujuh tahun yang baru keluar TK kemarin!

Awalnya aku tidak suka guru ini karena ia mencoba mengaturku. Semakin dilarang, semakin aku sengajakan. Tahu rasa dia. Jangan pernah melawan aturanku! Pernah aku cakar tangannya karena ia mencoba melerai ketika aku sedang berkelahi dengan temanku. Kucakar ia sampai berdarah. Anehnya ia tidak menepis tanganku, seolah-olah ingin tahu sampai mana kekuatanku. Kulihat darahnya merembes dari kulitnya yang hitam. Warna merah darah dan putih daging itu bercampur. Melihatnya aku terhenyak. Ingin sekali kupegang namun ia melarang. Ia bilang nanti tanganku kotor. Oleh karena itu aku memegang jemarinya sebentar lalu kutepiskan.

Entah apa yang terjadi, tapi semenjak itu aku jadi dekat dengannya. Kalau aku mogok mengerjakan tugas, ia akan bercerita atau mengajakku bermain. Ia pernah bercerita tentang monster buku yang akan makan buku-buku di perpustakaan jika aku menolak tugas. Aku bilang aku tidak percaya tapi ia terus meyakinkan. Semakin besar aku semakin percaya bahwa monster buku itu tidak pernah ada. Itu hanya akal-akalan guruku saja!

Akhir-akhir ini guruku mengajakku membaca buku. Aku diperbolehkan membaca buku apapun. Kalau ia tidak memperhatikanku baca, aku suka marah dan menyuruhnya melihat buku yang aku baca. Kalau ia tidak duduk disampingku, aku menyuruhnya mendekat. Sepertinya aku senang.

Pulang ke rumah, aku dipukuli lagi oleh ayah dan ibu. Tapi, tenang, karena sekarang aku cukup besar untuk membalas pukul mereka berdua.

Aturan Freud

Freud memiliki teori dasar bahwa manusia itu hanyalah bongkahan padat yang didorong oleh dua insting: seks dan agresi. Banyak yang tidak setuju bahwa manusia tidak senista itu. Manusia tidak melulu negatif atau didorong insting-insting saja. Ada yang menyakini bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan mampu membuat pilihan. Hal ini terus saya pikirkan hingga saat ini, di lingkungan kerja yang begitu kaya akan kasus yang selama ini hanya saya terima di kuliahan saja.

Pertama, seks. Tadi siang, guru-guru di kelas tiga membahas mengenai pendidikan seks yang mulai diterapkan kepada anak. Pendidikan ini dilatarbelakangi bahwa anak sudah ada yang menstruasi dan hasil kuesioner yang menghasilkan data bahwa mereka minat sekali dengan seks. Dimana minatnya? Minatnya terletak dengan pengakuan anak bahwa jika orang tua pergi, terkadang mereka sembunyi-sembunyi menonton film dewasa. Dewasa ini bukan film biru, tapi film yang ada adegan ciuman (dan seterusnya). Kuesioner juga diisi beragam pertanyaan mengapa perempuan harus menikah dengan laki-laki, mengapa anak tidak boleh tahu masalah dewasa, dan lainnya. Berdasarkan pengakuan, mereka tahu hal ini karena orang tua mengajak nonton bersama. Namun pada adegan ciuman, orang tua menutup mata mereka. Ya gimana enggak semakin penasaran, ya?

Tidak usah berpikir bahwa film mengandung unsur seks hanya film dewasa saja. Contoh kecil, film kartun Snow White dimana pangeran mencium putri salju, Cinderella yang menikah dengan pangeran, putri yang diselamatkan oleh pangeran dari naga, Mickey dan Mini, Barbie dan Ken.

Merinding juga. Tapi ya itu, media tidak bisa disalahkan. Jika media sudah kebablasan, orang tua adalah orang pertama yang harus mengontrolnya, bukan menjadi penyebab itu sendiri.

Kedua, agresi. Jika kenyataan bahwa minat anak kelas 3 sudah cukup besar terhadap seks membuat yang mendengarnya merinding, itu belum seberapa sampai saya menemukan beberapa kalimat yang ditulis oleh murid saya. Semula gurunya menyuruh murid untuk menulis tentang SPOK dan murid saya menulis:

Dia mengeroyok bayi di kantor polisi
Dia mengeroyok polisi di kantor polisi
Aku mengambil otak orang di jalanan

Mau muntah saya membacanya.

Anak itu, sebut namanya A, memang berdasarkan informasi dari guru kelasnya ia memiliki agresi yang sangat tinggi. Bukan berupa agresi fisik dengan memukul orang, tapi agresi yang tercetus melalui pikiran. Jika menggambar, akan selalu ada sosok orang yang digantung. Tampilannya seperti anak biasa, tapi mata tidak bisa berbohong - ujar gurunya. Selalu ada aura agresi dan benci. Hebohnya lagi, orang tuanya seolah-olah memaklumi bahwa itu hanya kenakalan anak biasa.

Seni mengabaikan anak dengan kekerasan tentunya membuat anak terancam yang membuat anak merasa nyaman dengan ancaman itu. Lingkungan luar yang lebih mengancam ketimbang rumah tentunya membuat anak merasa harus mengancam lingkungannya terlebih dahulu. Oleh karena itu, pola asuh seperti ini akan menciptakan pribadi yang kaku, dingin, dan mungkin ... sosiopatik. Beberapa rekan saya pernah melakukan penelitian ke rutan tentang hubungan pola asuh dengan perilaku agresi. Hasilnya, signifikan.

Seru, apalagi anak yang saya dampingi mengalami hal tersebut. Setidaknya ia berbadan kecil, jadi jika ia mencakar atau berontak, masih bisa saya tangani. Tapi saya tetap tega bagaimana anak dengan badan sekecil itu menerima pukulan keras dari orang tuanya.

Tanpa melihat faktor lingkungan, mungkin teori Freud yang banyak dibenci tapi betul benarnya. Semua orang diciptakan dengan dua insting yang berkembang tergantung dengan lingkungan dimana ia dibesarkan. Jadi, jika pembaca suatu saat menjadi orang tua, semua ada di tangan Anda untuk menciptakan sosok seorang anak.

The Art of Game

Kemarin, saya berkesempatan mengobrol dengan teman saya yang kuliah IT. Saya bertanya tema apa yang diangkat ketika menyusun TA, dia bilang ia membuat konsep pembuatan game. Saya heran, bagaimana seseorang yang seharusnya cumlaude namun tidak jadi itu membuat konsep game untuk TA-nya.

Jika game ada perdebatan antara pro dan kontra, maka saya tergolong kontra. Saya bilang ke teman saya, “Sorry nih, tapi saya tidak melihat sisi positif dari game.”

Teman saya bilang, “Ya itu hanya untuk kesenangan saja.”

Teman saya bilang bahwa selain untuk kesenangan, game itu meningkatkan kemampuan logika. Misalnya game menyusun strategi perang yang perlu dipikirkan matang-matang. Diperlukan waktu yang tepat untuk membangun istana karena jika terlalu lambat, musuh akan menyerang. Saya bilang kepada teman saya, “Untuk apa kamu berpikir susah-susah sementara kamu sendiri tidak berperang?”

Game yang saya soroti adalah game online. Saya pikir ini merusak perkembangan seseorang karena seseorang akan menjadi individualis. Oke, jika sisi positif game adalah untuk kesenangan, tapi saya melihat banyak sisi negatifnya. Contohnya saudara sepupu saya. Waktu ia kecil, ia senang sekali bicara dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Namun semenjak kenal game online, ia sering mengurung di kamar, bermain game di depan komputer. Di sekolah, ia rela tidak makan karena uangnya dilimpahkan untuk rental game online. Begitu tergila-gilanya dia akan RO. Dan kini, di usia SMA, ia menjadi seseorang individualis yang sulit memulai suatu pembicaraan. Ah, remaja, fase yang menyebalkan.

Kenapa orang begitu digital dan virtual? Kenapa tidak dipilih game yang melibatkan interaksi bersama? Ya kalau tidak mau ketinggalan zaman seperti bermain monopoli atau ular tangga, kenapa tidak memilih Scrabble atau Pictionary yang jelas-jelas menambah kosa kata Bahasa Inggris, misalnya. Haaddduuuh, saya belum melihat sisi baik dari game saja.

Gambar

Berempat, Mereka Menggesek Biola dan Cello



Hari Minggu sore, saya dan kedua teman saya, Dika dan Neni, pergi ke acara musik sore di Tobucil. Acara diisi oleh d'Java String Quartet. Sebelumnya saya tahu d'Java dari poster dan undangan yang disebarkan lewat facebook bahwa mereka akan main di CCF Bandung. Saya pikir saya tidak akan datang karena ada tiket masuk (semula saya kira ini gratisan). Tapi setelah melihat permainan mereka sore itu, saya jadi merasa harus nonton mereka.

Mereka memainkan lagu-lagu klasik. Tentunya menarik, apalagi biola dan cello bukanlah alat musik yang sering ditemui - ketimbang gitar klasik. Apalagi pria yang memakai baju merah itu, sangatlah menarik :)


Penting atau tidak disampaikan, tapi pria yang menikmati permainan musiknya adalah pria yang saya sukai. Saya bilang ke Dika, "Dik, tahu enggak kenapa gue suka Thom Yorke dan Jonny Greenwood? Karena mereka begitu menikmati musiknya. Beda sama pemain band lain yang hanya sekedar nyanyi atau ngegonjreng."

Maaf pembaca, kalau saya merasa begitu penting menyampaikan ini. Apalagi jika orangnya atau temennya si baju merah itu baca, ya anggap saja gayung bersambut. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Mudah-mudahan saya jadi nonton di CCF.

Sepulang ke rumah, saya memainkan piano klasik :)

Membaca Indonesia

Dalam minggu ini, saya berkunjung ke beberapa komunitas di Bandung. Pertama, saya berkunjung ke Madrasah Falsafah yang diadakan oleh Tobucil. Kedua, saya berkunjung ke Writer's Circle yang diadakan oleh Reading Lights.

Dengan tema yang berbeda, ternyata ada benang merah yang saya tangkap: sama-sama membaca Indonesia!

Madrasah falsafah kali itu membahas mengenai moody. Secara garis besar, dalam pertemuan ini dibahas bahwa moody sudah menjadi trend sendiri di kalangan remaja Indonesia. Seperti halnya narsis yang sudah familiar dipakai untuk mendeskripsikan diri, begitu juga dengan moody. Para peserta berprasangka bahwa trend ini muncul dari komunitas maya seperti Friendster atau Facebook yang memiliki kolom untuk mendeskripsikan diri. Moody seolah-olah menjadi alasan tersendiri jika seseorang sedang bete atau muram. Si temannya bisa saja berkata, "Hati-hati, tuh anak moody!". Bahkan ada salah satu peserta yang berkata bahwa moody sepertinya sudah menjadi eksistensi sendiri di kalangan remaja sekarang.

Semula saya tidak setuju karena kita tidak bisa mengeneralisir bahwa semua remaja seperti itu , tapi setelah dilihat secara kasat mata, mungkin ada benarnya juga. Saya sendiri melihat remaja adalah orang yang mudah menyerap dan memakai istilah tertentu tapi belum tentu tahu artinya. Dahulu, narsis hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja (psikologi, misalnya). Tapi kini narsis sudah menjadi bahasa sehari-hari yang menggambarkan seseorang yang doyan foto (semenjak kamera VGA hingga yang tercanggih) dengan pose yang serupa. Padahal, narsis itu sendiri bukan tentang foto atau doyan foto, tetapi kecintaan diri sendiri baik dalam segi fisik dan kemampuan.

Kamus digital yang dipakai oleh salah seorang peserta menyebutkan bahwa moody adalah perasaan murung. Menurut saya itu salah, moody adalah suasana hati yang mudah berubah dalam waktu singkat - tidak hanya murung saja. Hal ini diakurkan dengan salah satu peserta bernama Daus yang berkata, "Gue kalau murung, gue bikin puisi. Tapi kalau gue lagi moody dan mood gue sedang turun, gue enggak bikin puisi.". Ada benarnya juga. Jika moody = perasaan murung, seharusnya dalam kondisi mood turun, ia seharusnya bisa bikin puisi.

Dapat maksudnya?

Maafkan kami, para remaja Indonesia. Gara-gara semakin dangkalnya pemahaman, muncul pertanyaan,"Remaja Indonesia itu makan apa sih? Mie instan?"

Lain dengan madrasah falsafah, Writer's Circle mengemukakan tema pakaian untuk dijadikan bahan tulisan yang berguna untuk mendeskripsikan karakter dari suatu cerita. Salah satu dari kami, Indra, menulis tentang seragam (satu ragam). Di kantornya, semua pegawai harus memakai kemeja, dasi, berambut klimis, tidak memakai motif tertentu demi citra perusahaan. Bahkan perusahaannya mengeluarkan buku tersendiri yang mengurus tektek bengek bagaimana cara berpakaian.

Seorang perempuan bernama Mirna berkata, "Katanya anak muda sekarang menggembar-gemborkan 'berani tampil beda'. Tapi pada kenyataannya, kalau gue lihat sekumpulan anak muda, sepertinya dari segi pakaian, mereka tidak ada bedanya."

Setelah membahas pakaian, omongan berlanjut ke penulisan di Indonesia. Mirna bertanya, "Penulis mana yang muncul setelah tahun 2004 yang karyanya patut dibeli?". Kami semua membicarakan bagaimana sebuah karya tulis (buku) sepertinya tidak ada bedanya dengan sinetron. Kedua karya tersebut sama-sama menjual mimpi. Jika dibandingkan penulis lama seperti Ayu Utami, bisa dilihat latar belakang begitu mempengaruhi cara pikir seseorang. Jadi, apa yang terjadi pada tahun 80-90an yang mempengaruhi cara berpikir seseorang sekarang dan berkarya menjual mimpi?

Selain itu, kami membahas tentang hebatnya bangsa Indonesia. Katanya, kalau dunia ini hancur, orang Indonesia yang selamat. Mengapa? Karena bangsa Indonesia sudah tahan banting dalam menghadapi cobaan. Banjir? Kita sih malah main air. Nasi aking saja dimakan, roti buluk apa lagi. Bangsa Indonesia bisa memakan semua komponen dari binatang (ya kepala, ekor, kaki, jeroan). Orang luar negeri mana bisa.

Membaca Indonesia satu minggu ini ya lucu juga. Sekali lagi, kami mohon maaf, para kaum muda. Ini hanya bercanda.

Aku, Tulisanku, dan Bella Donna

Alih-alih menulis tentang mistisisme di Indonesia, saya malah menulis tentang kehidupan saya. Jika selama ini posting tentang kehidupan saya dikategorikan sebagai 'curhat colongan', kini akan saya kategorikan (dengan meminjam dari writer's circle) sebagai 'personal writing'.

Sebelumnya perkenalkan dulu. Nama saya Nia, saya adalah penulis yang pernah ditolak oleh penerbit dan sampai sekarang belum menerbitkan apapun. Saudara laki-laki saya, Ruli, menyarankan jika saya menerbitkan buku secara independen. Sebenarnya ini adalah alibi untuk menutupi motif bahwa ia ingin design-nya dipromosikan secara gratis. Tapi, tetap saja, saya patut mengapresiasi dukungannya.

Beberapa tahun lalu, Ruli pernah meminjam karya saya untuk tugas kuliahnya. Ia disuruh membuat design cover buku. Sebenarnya sang dosen tidak menyuruh mahasiswa membuat cerita atau membaca sebuah karya, tapi Ruli inisiatif ingin design yang mendalam dengan membaca sebuah karya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Ruli meminjam karya saya. Sekali lagi, mari kita apresiasi saudara saya.

Saya pinjamkan karya saya yang berjudul Bella Donna. Tulisan ini bercerita tentang seorang pelacur yang memiliki anak. Cerita selanjutnya saya lupa (keterlaluan). Apresiasi yang saya dapatkan dari orang terdekat cukup baik. Bella Donna seperti anak yang sudah lama saya lupakan namun belakangan ini sering muncul namanya dipikiran saya. Dimulai dari teman saya yang mengingatkan tentang Bella Donna, acara televisi yang memberi informasi bahwa Bella Donna adalah sejenis tumbuhan yang beracun (atropa belladonna), hingga kini, saudara saya yang tiba-tiba teringat akan design cover yang ia buat beberapa tahun yang lalu.

Dikembalikanlah Bella Donna kepada saya dalam wujud yang berbeda.


Saya seperti menemukan sesuatu yang hilang. Walaupun sebenarnya ia selalu ada. Dalam pikiran. Dalam kesan yang pernah ditimbulkan oleh orang yang membacanya.