Merah Tua

Jika akhir-akhir ini aku melihat langit malam, warnanya tidak melulu hitam. Kadang berwarna biru tua, kadang kemerahan. Seperti malam ini, bulan yang menunjukkan setengah wujudnya tampak pias diantara langit merah tua. Di waktu tidak selarut malam terakhir ketika aku menemuiNya, Ia sudah hadir ketika jarum belum menunjukkan angka dua belas.

Ia duduk termanggu, tidak sibuk seperti kemarin. Sedikit kudengar Ia tersedu. Kenapa? - tanyaku.

Ia terkejut dengan kehadiranku. Diseka air mataNya cepat-cepat. Baru pada saat itu aku sadari bahwa aku berada di permadani mantel merah tua yang menghampar luas. Angin malam berhembus, Ia mengencangkan mantelnya.

"Dingin ya?" tanyaku.

Ia mengangguk.

"Aku tidak bersahabat dengan dingin. Dingin membuatku alergi dan dingin juga membuat dadaku sesak. Sampai kapan ya ini berakhir?"

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Ia menggapaiku kemudian membawaku disisiNya. Tinggi dan hangat. Mega dan akbar. Ia bercerita tentang Raja Awan yang terus menangis karena kehilangan anaknya - si embun - karena kemarau. Semua orang bersedih, seisi angkasa berduka. Angin membawa air mata Raja Awan, berharap sang anak mengetahui bahwa ayahnya mencarinya. Itulah yang membuat mengapa angin Bandung begitu dingin bulan ini.

Ia menyeka air matanya kemudian berkata, "Kamu tahu, selain sosok ibu, ada seorang ayah. Manusia perkasa itu terkadang memiliki hati lebih lembut dibandingkan ibu. Dibalik sosok yang keras dan tegas, ia menyanjungmu apa adanya."

Aku tidak suka topik ini. Aku minta Ia menurunkanku. Sesampainya di tanah, aku mengucapkan selamat malam - "Nanti, jika aku sudah berbesar hati, aku akan kembali kesini."

DIAM!

Diam,
atau akan kututup mulutmu,
kubekap,
kusumpal,
kujahit sekalian.

Kubuat lidahmu kelu,
agar kau tahu,
lidah telah membuat
tuli telingamu.

Stop berbicara,
merasa paling pintar,
filosofi kebablasan,
sebaiknya kamu diam.

Kopi Di Depan Ruang LSU


Sebelumnya, Learning Support Unit (LSU) adalah posisi tempat saya bekerja. Di depan ruang LSU yang ada di lantai dua, ada sebuah koridor yang disampingnya ada dua jendela. Jendela yang menampilkan pemandangan biasa-biasa saja itu seringkali menyajikan angin sepoi-sepoi dan cahaya terang benderang namun tidak menyilaukan.
Siang itu saya duduk termanggu sambil menikmati kopi di gelas tupperware saya. Cukup aneh karena saya ini bukan konsumen kopi. Tapi kali ini saya benar-benar butuh kopi.

Pikiran saya melayang pada teman-teman saya yang kemarin datang ke rumah karena salah satu notes saya di Facebook tentang iri hati. Iri akan kehidupan orang lain saya akui blak-blakan. Entah karena merasa nyaman atau sudah merasa tidak peduli - saya tidak tahu. Ternyata banyak respon yang merasakan hal yang sama. Dikomentari oleh orang yang berbeda-beda.

Idealisme - salah satu yang menjerat saya hari-hari belakangan ini. Ternyata teman-teman saya juga mengalaminya. Idealisme dalam bekerja enggak akan ngasih makan. Tidak akan secepat itu, mungkin. Saya dan teman-teman saya mengorbankan idealisme demi pekerjaan yang lebih menjanjikan dan yang terutama menghasilkan ... uang.

Semula saya menikmatinya namun lama kelamaan saya kayak anak ayam yang kehilangan induknya.

Saya merasa useless, merasa dipaksa melakukan sesuatu yang tidak saya mau namun saya defense dengan beragam rasionalisasi untuk menyeimbangkan keinginan dan kenyataan. Apa yang coba kamu berikan untuk keluarga? - tanya teman saya. Sebuah pembuktian atau persembahan? - lanjutnya. Saya jawab saya mau memberikan sebuah pembuktian bahwa saya bisa seperti yang mereka harapkan. Walaupun masih pada hidup, saya telah diberi warisan harapan. Unfinished business. Saya diberi tongkat estafet untuk berlari ke garis finish. Saya bilang ke teman saya bahwa enggak mungkin saya bisa seenaknya sendiri menentukan apa yang mau saya kerjakan karena saya disekolahkan oleh keluarga saya. Ibaratnya: balik modal dulu lah.

See? Saya terjerat dua kali.

Kain Malam

Tadi malam, ketika jarum panjang tepat menunjukkan angka satu, masih ada yang belum tertidur. Bunyi serat kain yang terbelah menyadarkanku akan hadirnya orang lain. Bebunyian berasal dari langit-langit. Aku menajamkan pendengaran, ternyata langit malam yang menjadi biang keladi berisiknya malam itu.

Aku keluar kamar, berjalan perlahan ke lantai tiga - lantai tempat jemuran yang menghadap langsung ke langit malam. Tanpa menggunakan alas kaki, aku berjalan hati-hati. Sesampainya disana, aku melihat sebuah wujud. Ia berdiri menjulang di langit dengan sekotak manik-manik di sampingnya, membelakangiku. Dengan jarum yang sangat besar, ia menjahit manik-manik itu pada kain hitam yang membentang sangat luas.

"Lagi apa?" tanyaku.

Dia tidak membalikkan wujudnya, terus membelakangiku. Kucoba dengan suara yang lebih keras, "Ehm ... lagi apa?"

Ia berbalik. Dengan sedikit ulasan senyum, ia berkata, "Aku lagi menjahit. Kamu belum tidur?"

Aku menggeleng. Kukatakan kepadaNya bahwa akhir-akhir ini aku susah tidur.

"Sudah berapa manik-manik yang Kau jahit?"

"Hmm ... mungkin 100 atau 200. Sekarang ini sulit mendapatkan manik-manik yang bagus, manik-manik yang bersinar cerah dan kontras dengan warna hitam."

"Kenapa?"

"Karena para penjual manik-manik lebih sibuk jalan-jalan pakai mobil, membuat pabrik-pabrik besar yang asapnya menjunjung tinggi ke tempatKu, dan hal-hal lainnya ketimbang membuat manik-manik cerah yang dulu mudah Ku dapatkan."

"Kau sepertinya cukup memiliki kemampuan. Kenapa tidak Kau saja yang buat?"

"Setiap masing-masing jiwa sudah ada tugasnya dan sudah ada perannya. Sudah Aku buat begitu. Biar saja."

Sementara Ia terus menjahit, aku memperhatikan. Jahitannya begitu cepat dan rapi sehingga benang-benangnya tidak terlihat. Terkadang Ia mengaduh lucu ketika jarum menusuk tangannya kemudian Ia bilang ke jarum agar tidak main-main dan tidak nakal. Ia juga berbicara pada setiap manik-manik agar tidak copot hingga kain putih menyingkap malam.

"Kau tidak masalah jika di atas sendirian?" tanyaku.

"Tidak. Kamu?"

"Walaupun aku hidup dengan banyak orang, kadang aku merasa sendirian."

"Kamu bisa menjahit?" tanyaNya.

"Bisa, tapi hanya sedikit. Aku hanya bisa menjahit kancing."

Ia terus menjahit. Diambilnya manik-manik bulat yang paling besar. Warnanya putih pucat. Teksturnya tidak rata. Dengan hati-hati, Ia mengambilnya kemudian setelah menyimpannya di tempat teratas, Ia menjelujur sisinya.

"Aku paling suka itu. Tidak ada alasan, aku hanya suka," ujarku.

Ia menghentikan pekerjaannya sebentar. Sambil tertawa kecil, ia berkata, "Semua orang suka yang ini."

Tiba-tiba kain hitam itu semarak dengan warna-warni manik-manik. Berniat berlama-lama untuk menikmatinya, Ia berkata, "Segeralah masuk. Tidur. Besok kamu kerja."

Ibarat anak kecil, aku menurut. Kulambaikan tangan kepadaNya dan sesegera ia menghilang sebelum aku tanya namaNya. Kulangkahkan kaki perlahan menuruni tangga, takut menganggu orang lain. Aku masuk ke kamar, berbaring, dan segera tertidur.