Mengubah Paradigma Dari Dago Hingga Braga

Pada suatu sore, saya mengantarkan teman saya potong rambut di sebuah salon di Dago Plaza. Salon ini tidak pakai acara dikeramas atau diblow, hanya dicukur. Mirip seperti barber shop namun lebih bergaya - dengan penuh barang bertema rock n roll, pemudi dan pemuda. Model rambutnya pun bukan cepak saja, tapi mohawk, poni lempar, emo bagaimana, dan lainnya. Lebih mengejutkan, yang memotong rambut teman saya adalah seorang perempuan muda.

Teman saya menunjuk sebuah model rambut di majalah. Perempuan muda itu mengiyakan. Agak khawatir sebenarnya karena baru memotong beberapa helai rambut, perempuan itu melihat buku. Ya ... semacam pemain musik yang terus-terusan lihat partitur. Salah lihat not ya bisa salah juga mencetnya. Salah lihat model ya bisa salah juga motongnya. Namun untungnya hasil potongan rambutnya bagus.

Teman saya mengeluhkan kalau ia selalu pakai belahan pinggir kanan hingga terlihat agak kebotakan. "Ubah belahannya, yang semula kanan menjadi kiri, Mbak." Maka teman saya pun mengubah belahan rambutnya. "Agak susah memang, tapi perlu dibiasakan," ujar si perempuan.

Maka dapat insight-lah saya. Mengubah belahan rambut itu sama susahnya dengan mengubah paradigma. Perlu pembiasaan dan tidak serta merta. Coba saja Anda mengubah belahan rambut Anda. Pasti rasanya agak kagok (tidak terbiasa) dan kadang kembali ke tempat semula - tanpa peduli sudah agak botak sekalipun. Sama seperti paradigma, kalau salah dan tidak mau diubah, ya akan terus menerus salah.

Kalau mundur ke belakang lagi, saya pernah ngobrol dengan salah seorang teman saya. Ia adalah seorang pemain gitar klasik yang agak sering mengadakan resital gitar klasik. Ia membicarakan tentang paradigma kalau menonton musik klasik itu haruslah formal. Anda harus memakai gaun atau jas - setidaknya berpakaian rapi. Atmosfer yang diciptakan haruslah serius. Oleh karena itu, teman saya itu sering menambahkan celetukan humor disela-sela resitalnya, bahkan ia membuka dengan ucapan 'Assalamualaikum.'

Ia berkata, "Waktu gue bilang 'Assalamualaikum', orang-orang malah ketawa. Kenapa perlu tertawa? Itukan sebuah salam, sama seperti selamat pagi atau selamat malam."

Agaknya, pandangan yang sering saya terima tentang musik klasik dan jazz adalah musik-musik mewah kaum menengah keatas. Kalau klasik saya punya asumsi karena alat musiknya (grand piano, gitar klasik, biola, dan lainnya) tidak murah. Apalagi sepupu saya pernah sombong, "Kalau orang yang punya piano itu pastilah orang menengah ke atas." Tidak mesti valid. Sombong benar ia.

Kalau jauh maju ke depan, baru-baru ini saya datang ke sebuah pagelaran musik jazz di Braga, tepatnya di gedung Asia Afrika Culture Center (AACC). Ini adalah sebuah gedung bersejarah yang sayangnya tidak terawat. Bangku-bangku yang tidak beraturan, banyak sampah makanan, cat yang sudah pudar, dan lainnya. Sebelum band-band jazz dimulai, ada sebuah orkestra biola dan cello yang memainkan lagu klasik dan pop. Ketika musik berlangsung, suasana begitu hiruk pikuk, orang-orang mengobrol, bunyi gemerisik kantung plastik makanan, ada sebagian datang memakai sendal jepit, kaki selonjoran, sisa kacang rebus, dan lainnya. Paradigma saya bahwa ini adalah musik mewah pun berubah.


Tahun 2009 adalah tahun dimana banyak cara pandang saya berubah seiring saya mendapatkan pekerjaan, menyicip profesionalisme, menelan bulat-bulat rasanya dikomplain, dipanggil atasan karena suatu masalah, cara mendapatkan uang dan bagaimana mengaturnya, mengenai kedewasaan dan tanggung jawab, mengenai menyelesaikan suatu masalah tanpa emosi yang meledak-ledak, dan lainnya.

Karena saya orangnya kurang detail pada sesuatu dan cenderung melihatnya secara general, maka akan saya tutup kehidupan saya di tahun ini dengan satu tema besar: mengubah paradigma.

Selamat tahun baru.

Spasi

Sore itu hujan. Dengan kuyup, seorang perempuan yang berusia 10 tahun mencari perlindungan. Agak susah mencari perlindungan karena ia sedang tersesat di belantara hutan. Ketika ia mencoba berlindung di bawah pohon beringin yang besar, tanpa disadari ia bersandar pada ranting-ranting yang menutupi sebuah lubang di batang. Tidak kuasa menahan berat badan, ranting-ranting hancur dan masuklah ia ke dalam lubang.


Beberapa menit kemudian, sebelum ia membuka matanya, ia merasakan sebuah hangat menjalar dari kaki hingga kepala. Belum lagi aroma sup ayam menelusup masuk ke hidungnya. Dibuka matanya perlahan-lahan, samar-samar ia melihat cahaya kuning kecokelatan yang menerangi seisi ruangan.


"Halo, sudah bangun?” tanya seseorang kepadanya. Dari suaranya, ia tidak bisa mengetahui suara itu berasal dari seorang perempuan atau laki-laki.


Perempuan itu terbangun. Dilihatnya seseorang berwajah merah dan berbintik tepat dihadapannya. Tingginya – mungkin – hanya 75 cm. Orang itu menyeringai. Lalu si perempuan menebarkan pandangannya ke seisi ruangan. Tampaknya ini bukan ruangan yang terdiri dari empat sisi dinding yang terbuat dari batu bata atau pasir. Ini adalah isi dari sebuah pohon beringin yang sangat besar!

“Kamu lapar?” tanya orang itu yang dibalas dengan gelengan kepala si perempuan.

“Kamu berasal dari mana? Dari atas?” tanyanya sekali lagi.

“Dari atas?”

“Iya, dari atas. Tempat dimana makhluk-makhluk besar seperti kamu berasal.”

“Oh, ya. Saya berasal dari atas.”

“Apa yang kamu lakukan di tengah hutan seperti ini?”

“Kalau tidak salah karena saya kehujanan lalu saya mencari tempat untuk berlindung.”

“Bukan, aku enggak tanya itu. Aku tanya kenapa kamu berada di tengah hutan?”

“Oh, aku mencari teman!”

“Memangnya tidak punya teman?”

“Ya ada sih. Hanya terkadang teman mempunyai waktu dengan kehidupan masing-masing yang harus dijalani sendiri-sendiri, tidak dibagi dengan teman lain.”

“Ayah dan ibumu?”

“Punya kehidupan masing-masing juga.”

“Oh,” tanggap orang kecil itu singkat.

“Kok cuman ‘oh’?” Perempuan itu merajuk jawaban yang lebih panjang.

“Karena aku membutuhkan spasi untuk aku berpikir.”

“Spasi?”

“Iya, spasi. Di otakku ini.” Ia mengetuk kepalanya. Agak berbunyi seperti kelapa yang diketuk oleh tangan. Bunyinya tuk … tuk …

“Mungkin teman-temanmu dan orang tuamu butuh spasi, kamu tahu itu?”

Si perempuan itu menggeleng.

“Kamu juga terkadang butuh spasi, kan?” tanya si orang kecil itu memastikan.

“Tapi daripada spasi, saya membutuhkan teman.”

“Oh.”

Lama kemudian, si perempuan bertanya lagi kepada orang kecil itu, “Kamu disini sendirian? Kamu tidak punya teman?”

“Aku punya teman. Tidak seperti teman-temanmu yang meninggalkanmu, temanku ini sangat lekat denganku. Saking dekatnya, aku butuh jarak, aku butuh spasi. Oleh karena itu, aku meninggalkannya. Agaknya jika dua orang terlalu dekat pun tidak baik.”

“Oh.” Gantian perempuan itu yang memberi tanggapan pendek. “Agak lucu ya. Kamu menjauh dari seorang temanmu, sementara saya mencari seorang teman.”

“Ya, memang lucu,” ujarnya sambil memindahkan sup ayamnya dari panci ke dalam sebuah mangkok yang kecil sekali. “Sebaiknya kamu makan karena kamu baru kehujanan dan kamu pasti kedinginan.”

“Enak sekali.” Si perempuan menyicipi sup ayamnya. Setelah menghabiskan sup ayamnya, ia mengobrol dengan orang kecil itu hingga ia merasa ngantuk dan tidur pulas. Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara gaduh, suara dua orang yang saling berteriak, dan suara benda-benda yang dibanting.

Ia membuka matanya, dilihatnya sebuah ruangan yang begitu dikenalinya. Ini adalah kamarnya.


Living Free

Manusia itu terjebak dalam rutinitas namun dinamis. Artinya setiap waktu yang dilewatinya (walau itu-itu juga), tapi manusia bisa mengisinya dengan apa saja. Dengan kegiatan-kegiatan, dengan pekerjaan, dengan pertemanan ... dengan cinta.

Maaf para pembaca, namun saya akan membahas cinta yang masuk ke dalam rutinitas kali ini. Tentunya tema cinta tidak tercetus dari saya, melainkan hasil pembicaraan antara saya dan teman-teman saya pada suatu malam. Agaknya lucu, oleh karena itu saya tulis disini.

Pernahkah kamu bercinta, wahai pembaca? Kamu menemukan orang lain yang mampu membuat hatimu naik turun tidak penting, membuatmu memikirkannya, membuatmu ingin memiliki, dan tidak ingin kehilangan. Dua sahabat saya sedang mengalaminya. Diawali proses pendekatan: komunikasi rutin dan seterusnya. Rutin. Konsistensi membuat orang itu mulai masuk ke kehidupanmu, membuatmu begitu kehilangan ketika rutinitas terhenti karena ia sudah menjadi bagian sehari-hari. Proses keluarnya ia dari rutinitas merupakan proses yang menyebalkan benar - percayalah. Kadang tidak bisa sendiri, butuh distraksi, butuh orang lain.

Agaknya saya sedikit waswas dengan kedua sahabat saya di atas karena pasti akan ada saatnya orang-orang yang mereka suka itu keluar dari kehidupannya. Kalau gagal, jangan menangis! Sepertinya saya agak bersyukur - walaupun hambar - bahwa saya sedang tidak melewati rutinitas itu, yang artinya saya akan terbebas dari rasa menyebalkan itu, saya tidak akan menyakiti siapapun, saya tidak perlu khawatir kalau dia tidak menghubungi saya, dan lainnya. Terdengar defensif? Tapi ini melegakan! :D


"You don't need to know what I do all day,
It's as much as I know watch it waste away,
Cause I'll tell you everything about living free."

Wolfmother - Vagabond

Avatar: Perjuangan Si Inferior

Sudahkah Anda menonton Avatar? Kalau belum, segera tutup halaman ini, matikan internet dan komputer Anda, pergilah ke bioskop! Kenapa? Karena film ini begitu memanjakan secara visual dan plot yang mengalir. Warna-warna di film ini begitu menarik. Sekali lagi, tontonlah. Kalau bisa yang 3D. Namun selain masalah visual, unsur psikologis di film ini cukup kental. Ibarat makan makanan mahal tapi enak, pun film ini. Panjang. Padat. Kenyang.

Hati-hati. Tulisan ini akan menceritakan akhir cerita.

Jake Sully adalah seorang veteran yang memakai kursi roda. Dibawa ke planet Pandora, ia mendapat misi untuk mengusir penduduk pribumi Omaticaya karena pihak militer mau mengambil sumber daya alam di dalamnya. Jake Sully yang tidak bisa berjalan itu ditransfer ke dalam sebuah tubuh. Tubuh itu bisa berlari, tubuh itu bisa melakukan apapun yang tidak ia bisa.

Ketika di hutan, ia dikejar binatang buas sehingga menghantarkan pada Neytiri, seorang perempuan pribumi. Melalui proses penolakan oleh sukunya, proses pembelajaran, maka diterimalah Jake Sully di kelompok tersebut hingga ia dihormati karena mendapatkan posisi tertinggi.

Jake Sully yang menderita paraplegia (gangguan fungsi sensori motor karena terganggunya sistem saraf pusat) dan tidak bisa berjalan tentunya membuat ia menjadi inferior. Ada sebuah konsep inferior yang dikemukakan Adler bahwa inferior tidak hanya masalah kecacatan tubuh tetapi perasaan-perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun perasaan-perasaan yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh yang nyata. Bayangkan Jake Sully dalam kondisi seperti itu, ia berada di situasi yang menuntut kesempurnaan dan kekuatan fisik, pastinya ini berimbas pada sisi psikologisnya.

Ketika mendapatkan kesempatan transformasi ke tubuh yang lebih sempurna, tentunya ia tidak menyia-nyiakan. Adler berpendapat bahwa orang yang memiliki organ yang cacat seringkali berusaha mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuatnya melalui latihan insentif. Dalam kasus Jake Sully, ia melakukan pelatihan diri yang sistematis bersama Neytiri.

Bagian yang paling menarik adalah ketika Jake Sully merasakan bahwa dunia ini terasa terbalik. Dunia maya menjadi nyata baginya dan dunia nyata menjadi maya baginya. Terutama ketika ia bisa mendapatkan hormat pribumi setelah menaklukan binatang terbuas bernama Toruk dan Jake Sully menjadi pemimpin panglima disana hingga ia memutuskan untuk tinggal di Omaticaya selamanya.

Mengapa ia mau saja merelakan meninggalkan dunia nyata demi hal yang maya?

Adler percaya bahwa apa diperjuangkan manusia adalah kekuasaan yang melalui tiga tahap: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior. Adler berkata, "Mereka (manusia) berjuang mendambakan kemenangan, kekuasaan, rasa aman, peningkatan, entah dalam arah yang benar atau salah." Dorongan ke arah yang superioritas itu dapat menjelma dengan beribu-ribu cara yang berbeda. Menjadi avatar adalah cara Jake Sully yang -sayangnya - tidak konkrit.

Banyak sisi psikologis lain seperti reaksi melarikan diri (escape) dari nyata dan maya. Namun biarlah itu dibahas nanti saja (atau oleh orang lain) karena jika disatukan akan tumpang tindih.

Secara keseluruhan, ini film yang menarik.

Alkisah Bram

Waktu itu pukul sepuluh pagi. Kakak sepupu saya memanggil saya dan mengatakan bahwa ada seorang pria yang berdiri di pintu masuk mencari saya. Saya intip dari ruangan yang agak jauh. Oh, ternyata dia teman lama saya. Namanya Abraham. Bram, singkatnya. Ia melihat saya melambaikan tangan dari pintu masuk. "Sini. Masuk lewat pintu yang ini saja," ujar saya.

Lalu saya persilahkan ia duduk dan saya menawarkan minum jika ia mau. Ternyata ia menolak. "Cuma sebentar. Gue mau ke Gema."

"Apa itu Gema?"

"Gereja mahasiswa."

"Ohh ..."

Bram ingin membicarakan sebuah bisnis menulis. Saya tidak menawarkan diri saya karena saya belum kompeten dalam bidang menulis. Maka saya tawarkan teman saya yang sudah mempublikasikan bukunya. "Gue belum bisa bayar," ujarnya kecil.

Agak lucu karena Bram memperhitungkan masalah keuangan. Dia pernah sombong tentang apa yang namanya uang. Ia tidak tabu, blak-blakan, dan kalimat yang saya ingat betul: 'gue bisa menghasilkan sekian juta setiap bulan!' Mengapa saya ingat betul? Karena pada saat itu saya masih kuliah sementara ia baru pulang dari luar negeri kemudian mencoba berbagai usaha di negerinya sendiri. Saya masih gelap tentang kerja, ia terang benderang!

Ia bukanlah tipe orang kantoran. Ia hanya anak muda yang bersemangat tinggi dan nekat. Segala kesempatan untuk mendapatkan uang pun ia ambil: bertindak sebagai EO, manager band, sewa peralatan, hingga jual ular! Mengapa jual ular? Begini awal mulanya.

Alkisah saya memiliki sebuah jejaring pada seorang pemimpin LSM yang cukup baik dibilangan Bandung Selatan. Ingat, saya pernah tergila-gila dengan dunia sosial (hingga kegilaan itu mulai berhenti ketika saya bekerja sekarang). Bram sedang mencari LSM, maka saya tawarkan nomer kontak si pemimpin LSM itu. Beberapa bulan kemudian, setelah saya lulus, Bram menghubungi saya bahwa ia akan bekerja di LSM itu - sebagai relawan untuk korban trafickking - dan ia menawari saya untuk bergabung. Tergiur? Jelas, saya tergiur. Namun label relawan agaknya cukup mendapat perhatian penting bagi saya, mengingat pada saat itu saya baru lulus kuliah dan ingin mendapatkan penghasilan sendiri. Semenjak ia menjadi relawan dan saya mencari kerja, kami tidak berhubungan.

Hingga pada suatu hari, ia datang ke rumah saya, mendekati kakak sepupu saya untuk menawarkan sebuah bisnis. Setelah negosiasi dan kakak sepupu saya mulai respek terhadapnya, ia bertanya kepada saya, "Mau beli ular?"

Saya melongo. Pikiran saya merayap liar tentang membeli kandang, membeli tikus kecil untuk makanan, berpikir kalau saya sedang pergi ... siapa yang akan menjaga ular saya. Alih-alih berpikir seperti itu, mulut saya malah berkata, "Sejak kapan lo jualan ular?"

"Gue butuh dana buat LSM gue, Nia. Ikut gue cari ular yuk?"

Saya melongo dua kali. "Dimana??"

"Di kawasan Dago Pakar 'kan banyak ular, Nia. Biasanya gue sama temen gue hunting malam. Ternyata temen-temen gue di Jakarta banyak yang mau beli ular. Maka gue dan ular pun pergi ke Jakarta."

"Ke Jakarta pakai apa?"

"Pakai travel! Biasanya gue simpen di karung, ambil travel paling pagi. Tapi sebelumnya gue kasih makan tikus dulu. Ular kalau sudah makan, dia bakal diem!"

Jangankan ular. Tanpa makan, setelah mendengar ceritanya pun, saya menjadi diam. Kaku. Merinding. Jijik.

Semenjak kasus ular, kami tidak berhubungan lagi hingga ia datang ke rumah saya di hari Minggu pukul sepuluh pagi. Saya hanya mendengar kabar ia sering ke Jakarta untuk mencari donatur atau orang tua asuh untuk anak-anak korban trafickking. Lalu saya bertanya, "Elu masih kerja di LSM?"

Serta merta ia menjawab, "Gue udahan! Gue capek! Idealisme kalau enggak ada duit itu nothing! Realistis aja, laah ..."

Saya serasa mendapat angin segar. Kata 'realistis' yang ia ucapkan dianggap sebagai klimaks dari pertaubatan dia untuk me-reset ulang kehidupannya lagi dari nol. Seperti yang saya bilang, ia orangnya bersemangat dan nekat. Namun ia sama sekali tanpa perencanaan. Sudah saya katakan semenjak dahulu, tampaknya ia tidak mendengar. Hingga sekarang - entah apa yang membuatnya - ia insyaf. Taubat setelah khilaf.

"Gue belajar banyak dari LSM, terutama sikap toleransinya. Misalnya ketika LSM mengadakan acara dengan target peserta X, target yang lain X, dan X-X lainnya, kemudian kami tidak dapat mencapai target, maka itu bukanlah sebuah bencana ala perusahaan. Kami jadikan itu pelajaran. Tidak ada konsekuensi, hanya mengambil sisi baik dari kegagalan."

"Terus kegiatan elo apa sekarang?"

"Kuliah."

Ya itulah. Ia kembali lagi ke rumah saya, setelah me-reset ulang kehidupannya. Urusan di kampus yang membawanya. Mungkin saya bisa bantu karena - jangan lupa akan kata klimaks tadi - Bram sudah realistis.

Oh ya, saya baru ingat. Setelah bertahun-tahun kami berteman, kami tidak memiliki foto dimana kami berada di dalam satu frame. Maka, saya gambar perbandingan saya dan Bram. Mudah-mudahan terbayang.


1999 - 2004

Waktu itu tahun 1999, umur saya masih 12 tahun. Saya masih cuek-cueknya, saya masih hitam-hitamnya. Kakaknya ibu saya mengenalkan saya pada seorang laki-laki yang sepertinya sebaya namun penampilannya agak lebih tua. Menyenangkan, kesan pertamanya. Sepertinya reaksi cepat akrab ini diperhatikan oleh keluarga sehingga keluarga saya mengarahkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Dilegalkan. Dikomitmenkan.

Setiap hari, semakin saya berhubungan dengannya, semakin berkurang kesenangannya dan semakin terlihat arogansinya. Ia seringkali menyuruh saya menyanyikan lagu-lagu yang belum pernah saya kenal. Suaranya indah namun kaku dan terlalu terstruktur. Kekakuannya membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa jika ia tidak ada di samping saya. Ini terus berlangsung hingga awal kuliah, hingga legalisasi ini resmi diselesaikan.

Hingga sekarang ia masih ada, orang-orang disekitar saya yang menuntut dia untuk selalu ada. Komitmen yang menjalankan kami berdua. Lalu saya mulai merasa ia membelenggu saya, mengikat rantai-rantai di kedua tangan saya. Namun ia bisa membungkus perilakunya dengan baik sehingga kami terlihat akur. Keakuran ini yang membuat orang lain begitu ingin melihat saya dengannya. Cocok, katanya.

Lama kelamaan saya jadi bertanya-tanya, apakah laki-laki yang bersama saya selama bertahun-tahun itu cinta pertama saya ataukah tuntutan dari keluarga? Jika ini adalah sebuah tuntutan, agak hebat karena saya bisa tahan tujuh tahun bersamanya. Kini saya sedang melepas diri perlahan-lahan darinya namun tidak akan sepenuhnya saya tinggalkan. Dulu saya dilegalkan secara tidak sadar. Mungkin saya bisa mencari distraksi lain yang saya pilih dengan sadar - agar saya bisa sadar juga melepaskannya jika saya tidak kerasan.

Tapi, biarlah, akan terus kujaga ia.

Saya dan dia

Amor Fati

Konon katanya manusia yang hidup di dunia sudah diskenariokan jalan hidupnya namun masih bisa diubah itu namanya nasib. Kalau saya bisa ke rumah Tuhan, masuk ke dalam perpustakaan atau ruang arsip-Nya, hanya untuk melihat sebundel kertas yang berisi skenario hidup saya dan bagaimana saya nantinya, pasti akan seru sekali karena saya bisa merubah diri agar saya tidak gagal di kemudian hari.

Lalu pada kenyataannya, saya tidak bisa melihat skenario hidup saya dan tidak tahu saya nantinya bagaimana, padahal ini bisa diubah dengan pengembangan diri dan pilihan-pilihan yang saya buat. Tapi bagaimana jika pada prakteknya saya sudah berusaha merubah nasib namun lagi-lagi nasib membawa saya ke titik awal - ke titik yang tidak saya inginkan -- sehingga ada sebuah istilah: dimainkan oleh nasib? Malah sekarang, saya mulai mengibarkan bendera putih saya kepada nasib karena saya lelah pada harapan untuk berubah untuk mencapai suatu tujuan itu tidak tercapai dan saya pun menyerah. Terserah nasib mau membawa saya kemana.

Mungkin kalau saya hidup di zaman Nietzsche sebelum beliau terkena skandal kuda, Nietzsche akan berkata: amor fati. Amor fati adalah sebuah frase yang berarti "love of fate" or "love of one's fate". Bentuknya adalah penerimaan atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di kehidupan seseorang - baik dan buruk - termasuk penderitaan dan kehilangan.

Dalam buku The Gay Science, Nietzsche menulis, "I want to learn more and more to see as beautiful what is necessary in things; then I shall be one of those who make things beautiful. Amor fati: let that be my love henceforth! I do not want to wage war against what is ugly. I do not want to accuse; I do not even want to accuse those who accuse. Looking away shall be my only negation. And all in all and on the whole: some day I wish to be only a Yes-sayer."

Kalau saya, ketimbang menerima apa adanya tanpa harus melawan dengan melakukan perubahan, mendingan setengah-setengah dijalaninya. Setengah berubah namun setengah juga menerima. Karena jika terus melawan nasib, pasti lelah hasilnya. Go with the flow - mungkin bahasa popnya. Apa itu bahasa pop? Entahlah, saya ngarang. Yes-sayer kayaknya oke juga.

Live life. Amor fati.

Lalu Lintas Ruang

Hari ini orang-orang di rumah saya sedang sibuk mempersiapkan sebuah pameran yang akan diadakan Sabtu ini. Beberapa furniture digeser, beberapa lampu dipasang, beberapa display ditambahkan, dan lainnya. Selain barang-barang yang berpindah, orang-orangnya pun sibuk mengurus beberapa hal: undangan, poster, menghubungi sang seniman, menata benda-benda, dan lainnya. Singkat kata, agak semerawutlah ruangan yang dulunya ruang tamu kini menjadi galeri.

Lalu dimanakah sekarang ruang tamu? Ruang tamu bercampur dengan ruang keluarga, kadang di ruang duduk-duduk yang kadang menjadi tempat nongkrong jadi-jadian. Lalu dimanakah ruang keluarga? Kadang tidak ada yang namanya ruang keluarga karena jika ada kunjungan ke rumah atau pengunjung galeri datang, ruang keluarga tiba-tiba tidak ada karena orang lain bisa hilir mudik dengan mudahnya. Ia hanya menjadi ruang dengan tempat duduk, beberapa meja, dan televisi. Atau jika saya dan teman-teman saya datang bermain band, maka ruang keluarga berubah menjadi ruang musik.

Pun begitu dengan garasi yang kini menjadi toko keramik namun jika malam hari kembali menjadi garasi karena barang-barang disingkirkan dan mobil dimasukkan. Begitu juga taman yang diisi dengan kos-kosan, atau lapangan parkir yang diisi juga dengan tempat workshop keramik. Bahkan ada kantor fotografi yang ikut beroperasi sana.

Jadi, jika ada kamu datang ke rumah saya, mungkin kamu akan bertanya seperti teman-teman saya yang sudah kemari: Ini rumah atau apa?

Bahkan kadang nama 'rumah' sebagai 'tempat yang nyaman' hilang karena terlalu banyak orang asing yang hilir mudik. Bahkan kadang yang si yang punya rumah harus merelakan privasinya demi orang asing yang lebih berkepentingan. Misalnya di sebuah tempat tongkrongan (kami menyebutnya cafe -- walaupun tidak seperti itu juga) dimana orang-orang berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu, lalu datanglah saya dan teman-teman saya dan melihat bahwa ruang 'cafe' sudah terpakai, maka saya jadi tidak bisa berada disana walaupun saya yang punya rumah.

Mengenai 'ruang', teman saya pernah menulis di blog-nya.

Ketika si pemilik mencanangkan bahwa sebuah ruangan difungsikan, menjadi sesuatu yang bisa digunakan, maka seiring dengan waktu, tercipta “nama ruang”. Memberi nama, kata Saussure, adalah sekaligus membedakan. Memberi nama kamar tidur, adalah sekaligus membedakan ia dari kamar mandi, restoran, gedung konser, dan galeri. Membedakan berdasarkan nama, maupun maknanya.

Dalam konteks tertentu, memang seringkali ada kegiatan “lintas-fungsi ruang”, seperti dalam restoran, ada juga musik klasik. Dalam tempat tidur, ada juga lukisan yang disimpan. Bahkan dalam kamar mandi pun, kadang ada lukisan ... Memang kombinasi tersebut menghasilkan estetika yang sangat memuaskan indrawi. Hanya saja, kegiatan lintas fungsi-ruang kurang menghasilkan kedalaman, akibat dikikisnya fungsi “profesional” ruangan.


Kalau dalam kasus lintas ruang di rumah saya, ibarat lalu lintas kota Jakarta, pasti sudah semerawut. Ruang keluarga tidak hanya menjadi ruang tamu, ruang kunjungan, bahkan ruang musik. Dan memang betul bahwa berkurangnya kedalaman membuat saya kurang "intim" dengan ruang dimana saya berada -- hingga semuanya mengecil dan menuju yang tidak pernah berganti fungsi yaitu ruang tidur.

Dalam pameran yang akan diselenggarakan nanti, saya yakin bahwa lalu lintas ruang akan begitu hiruk pikuk akan fungsi maupun penghuni. Orang-orang asing akan masuk dari depan hingga ke belakang, memerawani ruang-ruang.