Manusia Pekerja

"Kalau terlalu banyak yang dikerjakan, mandi pun menjadi siksaan, kenapa harus mencuci diri padahal tidak ada yang harus dibersihkan, karena kerja adalah awal dari rasa nikmat katamu sekali lagi sehingga aku menjadi malu dan melihat semua kerja adalah ibadah" - (Putu Wijaya: Uap, 1999)

Satu tahun sudah saya bekerja secara legal. Artinya, saya terikat secara hukum dengan sebuah perusahaan dengan pendapatan yang berkala. Ini adalah laboratorium raksasa dimana saya sedang menguji coba diri saya melewati hal-hal baru di dunia orang dewasa. Di sini, saya tidak tahan untuk bersikap naif dan sering mengeluh kepada orang tua tentang betapa enaknya jika kembali ke masa kanak-kanak atau masa kuliahan. Pada saat itu tugas saya hanya belajar, bukan mengerjakan sesuatu kemudian mempertanggungjawabkannya. Pada saat itu tanggung jawab saya hanya pada orang tua, bukan pada orang lain yang tidak saya kenal.

Saya merasa diri ini ditarik paksa untuk masuk dimensi orang-orang yang terlalu serius dan berpikir terus. Berlebihan, tapi hidup menjadi sedikit kurang menyenangkan. Setiap pagi di hari kerja terasa menyebalkan. Apalagi jika hari sudah di penghujung Minggu malam.

Untuk menghibur diri seperti saat ini, saya harus ingat bahwa Tuhan memberi saya tubuh yang secara fisik kuat dan sepertinya Tuhan tidak ingin melihat saya mendapatkan nikmat (uang) tapi tidak melakukan usaha apapun. Saya saja agak malas kalau melihat orang yang tidak ada pekerjaan, apalagi Tuhan. Nikmat spiritual yang pernah saya ceritakan sedikit banyak mulai terkikis karena tuntutan. Jangan-jangan ini belum waktunya saya untuk mereguk nikmat yang itu.

Jadi, kalau saya bekerja dengan mengeluh sedikit, tidak apa-apa ya?

"... kalau kawat-kawat baja bahkan benteng-benteng beton yang kaupakai untuk mengikat dan menindas itu tak akan mengikat, karena ia kontan berubah menjadi benang-benang sutera yang lembut apabila diterima dengan penyerahan yang tulus" (Putu Wijaya: Uap, 1999)

Setengah Perempuan, Seluruhnya Laki-laki

Pernahkah kamu menonton show anaknya Uya Kuya? Disana ada seorang pria yang diberi nama Ciripa (nama anjing dalam telenovela Carita De Angel) yang sering dipakaikan baju perempuan dan bertingkah keperempuanan. Orang itu seringkali jadi bahan ejekan atau bulan-bulanan bintang tamu dan pembawa acaranya sendiri. Ironinya adalah si pembawa acaranya masih kecil - mungkin usia awal SD - namun sering kali nge-bully si Ciripa.

Pernahkah kamu memiliki teman laki-laki yang tingkahnya feminim? Saat SMP, saya punya teman seperti itu. Ia seringkali jadi bulan-bulanan anak laki-laki dan lebih sering berteman dengan perempuan. Di tempat kerja saya sekarang pun begitu. Walaupun tidak memakai atau berdandan seperti perempuan, laki-laki tidak suka padanya.

Namun begini, terkadang laki-laki yang feminim seringkali dianggap suka sesama jenis. Padahal - dari laki-laki femimin yang saya kenal - suka perempuan kok. Kalau waria atau banci, agaknya secara penampilan mereka menunjukkan identitas perempuan namun ada yang menganggap diri betulan perempuan atau menganggap dirinya setengah laki-laki dan mempertahankan bentuk asli alat kelaminnya. Kalau transvestism artinya ada pertukaran gender/peran misalnya laki-laki memakai baju perempuan dan sebaliknya (cross-dressing). Kalau transeksual, berarti ia percaya betul-betul dirinya perempuan dan mengganti alat kelaminnya.

Intinya ribet.

Lalu, tadi siang, ketika saya pulang kerja, ada seorang waria yang naik angkot yang saya tumpangi. Selain muka dioles sana-sini, pakaiannya warna warni sekali. Ada beberapa bagian wajahnya yang dioperasi seperti hidung, rahang, dan bibir. Tapi kalau ngomong, ya tetep laki.

Lalu ada seorang remaja perempuan anak jalanan yang mendekati. Mau kemana? - tanya si perempuan sambil memegang kemoceng di tangan kanan dan anak di tangan kiri.

Waria itu hanya diam saja pada awalnya. Lalu dia bilang mau ke Istiqomah (nama sebuah mesjid di Bandung).

Perempuan itu berkomentar, "Ih, meuni geulis (cantik bener)!"

Lalu komentar si perempuan di bales, "Tetep saja banci."

Saya pernah mengunjungi ke sebuah LSM waria, saya sempat berkenalan dan mengobrol dengan mereka. Awalnya agak judes namun mereka memperlakukan saya baik sekali. Agaknya mereka senstif namun di sisi lain mereka blak-blakan. Selain itu, mereka saling menjaga teman sesamanya.

Begini, yang mau saya sampaikan dari tulisan ini adalah mereka juga tetap manusia. Jika seorang manusia menghina atau memandang rendah manusia lainnya, menurut saya itu terlalu sombong karena bisa-bisanya mereka memperlakukan orang lain semena-mena karena ia berbeda dengan norma pada umumnya. Karena begini, saya percaya bahwa semua orang manusia ingin dilahirkan normal. Jantan ya jantan sekalian, tidak pakai kemayu atau ingin menjadi sosok lain.

Mudah-mudahan kepercayaan masyarakat untuk memperlakukan manusia itu sebagai pribadi yang unik semakin bertambah. Artinya, untuk mengurusi urusan orang lain itu tidak perlu dipaksakan. Artinya, seperti tadi siang. umpatan 'anjing!' jika melihat seorang pria berdandan atau mengubah alat kelaminnya karena krisis ekonomi atau identitas yang dialami diharapkan dapat berkurang.

Setengah

Baru saya pulang dari rumah sakit, menjenguk saudara perempuan saya yang pernah saya tuliskan kisahnya di sini. Pernah ia kehilangan anaknya di usia 6 bulan karena ketubannya pecah duluan. Lalu, beberapa bulan kemudian, ia hamil lagi. Sayangnya, janin berada di luar rahim dan pecah di dalam. Maka, masuklah ia ke rumah sakit. Diambilnya oleh dokter salah satu indung telurnya.

Saya bertanya kepada suaminya tentang bagaimana kabar saudara perempuan saya. Shock secara fisik dan psikis, tentunya. Ia mengalami pendarahan yang hebat, tekanan darah turun, dan detak jantung melambat. Selain itu, matanya terus menatap ke atas sehingga hanya terlihat putihnya saja. Suster melarangnya untuk tidur, dijaga terus untuk tetap sadar. Selain itu, AB, golongan darahnya. Agak jarang memang. Ternyata dari seluruh keluarga, hanya saya yang memilikinya. Maka sempat saya diminta untuk mendonorkan darah, tapi ternyata sudah tersedia dari PMI. Saya bilang saja bahwa saya akan selalu ada dan siap diambil darahnya kapanpun dia butuh.

Tadi, ia dipakaikan beragam selang seperti selang oksigen, selang infus, selang darah, dan alat untuk merekam jantung. Baru mengalami shock - kata suaminya - padahal tadi pagi ia baik-baik saja. Saya bayangkan perasaannya jika ia mengetahui bahwa salah satu indung telurnya diangkat, tak tersadar mata saya berkaca-kaca.

Ada orang yang tidak ingin punya anak, ada orang yang bisa punya anak tapi malah dibuang, dipukuli, atau diacuhkan, ada yang berjuang hingga mati untuk mendapatkannya. Tidakkah proses kelahiran ini adalah sebuah ironi dan terkadang menjadi permasalahan sendiri? Tidakkah ini sebuah berkah sekaligus hukuman?Melahirkan satu kehidupan baru terkadang harus dibayar dengan satu kematian.

Rahim. Topik yang mungkin orang lain melihat saya pandang sinis tapi sebenarnya tidak. Beberapa kejutan baru mengenai kehidupan yang saya dapati kadang membuat saya teringat akan ibu - seseorang yang saya rindu hangat rahimnya.

Semoga ia cepat sembuh.

Universalitas Musik

Psstt .. saya kasih bocoran. Hari Sabtu nanti, dalam kegiatan writer's circle, pesertanya akan menulis tulisan dari sebuah lagu yang disukai. Mayoritas teman-teman saya yang ada saat itu senang. Saking senangnya, mereka bingung mau memilih lagu yang mana. Ya, bisa dilihat, kalau semua orang menyukai lagu (sebagai bentuk dari musik).

Pernah dalam sebuah pelatihan yang saya ikuti, pembicara meminta kita merefleksikan isi pelatihan dengan cara membuat sebuah orkestra suara. Di sana, pembicara bertanya siapa yang tahan untuk tidak mendengarkan atau menyenandungkan musik. Saya terkejut ketika salah satu teman saya mengangkat tangan. Ia bilang ia bahkan bisa berhari-hari tidak mendengarkan atau menyenandungkan musik. Saya pikir, pasti orang ini sangat serius.

Jauh di waktu lampau, teman saya yang lain pernah berkata bahwa ia sedang detoks musik. Menurutnya, musik hanya akan membawa perasaan menjadi lebih senang atau lebih sedih. Misalnya orang yang sedang patah hati. Sebenarnya mungkin masalahnya biasa saja, tapi karena mendengarkan musik-musik sendu, maka ia menjadi lebih sedih dari perasaan yang seharusnya. Mendengar hal tersebut, saya kaget setengah mati. Ini pernyataan benar-benar kontroversial. Bagaimana seseorang bisa tidak (dan bahkan detoks) musik? Kalau saya perlu musik untuk bisa mengekspresikan perasaan saya. Dari contoh patah hati, saya butuh musik untuk semakin sedih dan semakin menangis. Ibaratnya musik bisa menguras sampai kering apa yang ada di hati saya.

Balik ke teman-teman di writer's circle. Semalam kami debat kusir masalah musik. Awalnya debat kusir ini diawali dari saya dan Andika yang mau nonton Efek Rumah Kaca (ERK). Teman saya, Hakmer, mengatakan bahwa ERK itu Radiohead-nya Indonesia dan ia tidak suka karena hal itu. Lalu bertambahlah label-label versi Indonesia-nya barat seperti Astrid itu Bjork-nya Indonesia, Nidji itu Coldplay-nya Indonesia, dan lainnya. Ada yang tidak setuju dengan labeling seperti itu karena membuat orang yang belum pernah ERK akan jadi benci ERK karena sudah mendengar label itu duluan. Dan lagipula, musik Indonesia itu kebarat-baratan!

Lalu yang asli itu yang bagaimana? Teman saya yang lain, Regie, berargumen kalau dangdut adalah - walau ada asimilasi budaya dengan India - musik asli Indonesia karena nada pentatonis yang mereka pakai. "Sekarang seberapa banyak orang yang suka dangdut? Orang lebih suka band-band lain ketimbang dangdut, 'kan? Jadi enggak heran kalau band-band lebih suka meniru musik barat agar bisa diterima masyarakat," ujarnya. Disana saya berargumen bahwa perlu diingat kalau industri musik (juga media) tidak hanya terbentuk karena selera masyarakat, karena jangan-jangan media sendiri yang membentuk selera masyarakat.

"Ah, itu sih sama aja kayak nyari mana ayam mana telur!"

Masalah tiru meniru itu dilihat dari sisi positif oleh Marty sebagai proses pembelajaran. Sekarang, mana ada musik yang original, karena pada dasarnya manusia - sehebat Coldplay - pun meniru. Lalu apa bedanya sama terinspirasi? Lalu ada sebuah istilah psikologi mengenai imitasi dan identifikasi. Jangan-jangan, debat kusir di atas, tidak berlandaskan pada suatu teori dan menggunakan istilah 'meniru' sekenanya. Ya, namanya juga debat kusir. Kalau pakai teori, mungkin jadinya seminar.

Konon musik itu universal. Artinya, jika kita yakin akan hal itu, maka tidak akan ada istilah ini meniru ini dan itu meniru itu. Artinya, semua orang yang beda jenis kelamin, beda latar belakang, beda status sosial, bisa menikmati musik yang sama. Artinya, jika orang itu bisa menghasilkan satu karya, nikmat musik itu mengalir dalam bentuk karya lain. Artinya ...

ketika saya dan murid piano saya yang autis, lalu dua dunia yang berbeda bisa menyatu ketika kami tertawa bersama pada saat mendengarkan nada 'pohon dan kebun basah semua' dalam lagu kanak-kanak, itulah universalitas yang saya maksud.

Blues untuk Allah 1
Agus Suwage
2001

Hujan Bola

Di suatu siang, Danayu bersumpah serapah, "Tuhan sebaiknya Engkau turunkan saja hujan bola karena hujan air selalu menghambatku beraktifitas kemana-mana. Aku jadi basah!"

Maka, dengan secepat kilat, Tuhan pun menurunkan hujan bola.


Kemudian bola-bola itu berjatuhan dan bergulir di jalan, halaman, lapangan rumput, dan lainnya. Beruntung hujannya sedikit, jadi tidak terjadi banjir bola.


Danayu terkejut. Semenjak itu, ia tidak pernah bersumpah serapah.