Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Berbekal rasa penasaran dan urusan kerjaan sudah kelar, datanglah saya ke Rumah Buku di hari Sabtu malam itu. Di sana akan diadakan pementasan teater Seribu Kunang-kunang di Manhattan yang diadaptasi dari cerita pendeknya Umar Kayam--penulis yang sering dibicarakan kedua teman saya, Andika dan Indra, karena ... ah apalah artinya saya hanya membaca Crayon Sinchan.

Pemikiran saya sederhana: saya ingin tahu seperti apa ceritanya dan seperti apa pementasannya karena saya belum pernah membaca karya penulis yang sering diceritakan kedua teman saya ini.

Yang semula diagendakan pukul setengah delapan, nyatanya baru dimulai pukul delapan kurang sedikit. Duduk di atas rumput beralaskan terpal dan sayup-sayup suara kembang api terdengar di belakang, saya mencoba menikmati pertunjukkannya yang hanya beberapa menit.

Cerita diawali dari Marno dan Jane yang duduk di sofa apartment sambil minum segelas scotch dan martini. Mereka terikat pada perbincangan mengenai masa lalu, misalnya Jane yang terus mengingat suaminya--Tommy, dan Marno yang ingat anak dan istrinya. Jane terus meracau sementara Marno sibuk dengan pikirannya sendiri dan kadang hanya menanggapinya dengan dingin. Adegan berakhir dengan kepergian Marno dari apartment Jane, meninggalkan perempuan itu sendirian.





Seusai pertunjukkan berakhir, kami membahasnya dikit. Saya dan Fadil mendorong Andika untuk mewawancarai pemain atau sutradaranya, tapi ia menolaknya. Tidak ada yang mau ditanyakan--ujarnya. Oh, ini agak aneh--pikir saya.

"Umar Kayam itu penulis kesukaan saya. Ada logika-logika, yang mungkin karena cerita-ceritanya ditulis dengan gaya bahasa Inggris, yang hanya dimiliki olehnya. Wagu--dalam bahasa Jawanya. Ada perasaan sedih yang muncul secara tipis dan tidak bisa direpresentasikan oleh pertunjukkan ini. Misalnya akhir cerita di bukunya dituliskan 'Jane merasa bantalnya basah'. Itu tidak bisa ditunjukkan dalam pertunjukkan seperti ini. Entahlah, saya kurang ngerti kalau masalah adegan buku yang difilmkan," ujar salah satu penonton di Rumah Buku. Kira-kira begitu.

Ada tanggapan lain seperti, "Mereka merespon ruang. Disini ada lemari es, ada dapur, kebetulan sama dengan ceritanya."

"Tapi saya suka kerja keras yang ditunjukkan pemeran wanita untuk memerankan tokoh Jane ini," tanggap teman saya.

Saya dan Fadil tidak bicara banyak, mungkin karena kami belum baca ceritanya. Namun yang pasti, pertunjukkan ini tidak ingin membuat saya membaca cerita aslinya. Berbeda ketika saya nonton teater Nyai Ontosoroh yang diadaptasi dari novelnya Pramoedya Ananta Toer. Walaupun belum sama-sama baca sebelum nonton teaternya, pertunjukkan Nyai Otosoroh membuat saya ingin baca novelnya.

Kau mengerti maksudnya?

Maka saya pinjam kumpulan cerpen Umar Kayam ini. Bukan karena dari pertunjukkan yang telah saya lihat, tapi dari cerita salah satu penonton yang membuat saya ingin tahu seperti apa perasaan-perasaan tipis yang diterima.

Sekali baca. Dua kali baca. Tiga kali baca. Jadi begini: mungkin persepsi tokoh Marno yang saya terima itu berbeda. Marno dalam teater terlihat begitu galak dan dingin, sementara Marno dalam buku terlihat tidak hirau namun masih ada tugas untuk menanggapi racauan Jane. Marno dalam teater tidak berusaha menjaga perasaan Jane, sementara Marno dalam cerita masih berusaha lembut padahal jiwanya sudah tidak ada di tempat Jane saat itu. Tidak terbayang rasa sedihnya Jane ketika ia mencoba menghadirkan sesuatu yang membuat pasangannya senang, namun pada akhirnya ditolak pula.

Bedanya saya membaca setelah nonton pertunjukkannya, bukan kebalikannya. Apa yang sudah terjadi, ya sudahlah. Namun kesalahan pengucapan seperti 'dirimu' menjadi 'diriku' dalam teater itu terkadang menyebalkan.

Pada intinya, saya pernah menonton pertunjukkan yang lebih baik dari ini (dengan sutradara yang sama).

Kuantitas Intelegensi Berdasarkan Universitas

Kuantitas intelegensi yang saya maksud adalah IQ. Begini ceritanya.

Sekitar satu atau dua minggu yang lalu, saya diutus atasan untuk datang ke sebuah sharing ilmu psikologi di program magister UNPAD. Dosennya baru dari Australia dan ia mempunyai ilmu tentang anak gifted yang ingin dibagi. Maka datanglah kami. Di sana banyak sekali mahasiswa-mahasiswa S2 sekaligus beberapa psikolog. Selain itu, ada yang berprofesi sebagai guru.

Anak disebut gifted jika ia memiliki kapasitas menerima stimulus lebih besar dari anak lainnya dan memiliki IQ 130. Lalu ada seorang guru yang bertanya, "Apakah IQ gurunya harus 130 juga? Karena kan guru harus memahami karakteristik anak dan paham teorinya. Nah, ada nih guru di sekolah saya. IQ-nya 98 gitu, jadi agak susah kalau belajar lagi. Saya enggak ngerti deh ... kenapa guru-guru dari UPI Bandung (dulu IKIP) itu IQnya rendah semua. Mungkin karena orang-orang pintarnya itu pada milih ke universitas-universitas seperti ITB lalu bekerja di perusahaan"

Sialan, itu kampus saya! --gumam saya. Ternyata rekan kerja saya mendengar gumaman saya, lalu dia memprovokasi, "WAH, GAK ENAK TUH, NI!"

"Emang! Apa mungkin karena begini: Mahasiswa UPI berasal dari daerah. Orang-orang daerah banyak yang ingin jadi guru. Dan mungkin stimulasi orang daerah kurang hingga IQnya rendah," saya berasumsi. Tapi tentunya asumsi ini tidak valid juga karena banyak orang daerah yang berprestasi. Ah, sialan, pernyataan itu begitu menganggu pikiran saya. Ada sebuah persepsi negatif tentang kampus saya!

Rekan saya nyeletuk, "Kok IQ segitu bisa jadi guru sih? Heran. Kalau IQ segitu pasti enggak lolos sekolah kita karena minimal kita menerima yang superior."

Ehm.

Jadi, maksud saya, untuk perempuan yang over-generalized itu ... mohon dicermati kata-katanya. IQ orang lain lebih rendah pun tidak membuat Anda lebih pintar. Seperti yang dikatakan oleh pemateri, "Tidak perlu IQ 130 untuk mengajarkan anak gifted. Yang penting guru dapat mengakomodasi kebutuhan anak untuk memaksimalkan potensinya."

Saya harap kecerdasan sosial Anda ditingkatkan lagi.


Kritisisme Menstruasi Pada Manjali dan Cakrabirawa

Manjali dan Cakrabirawa (MC) ini adalah novel terusan dari Bilangan Fu karya Ayu Utami--satu-satunya karya yang berhasil mendistrak saya dari permainan online.

Ada tema yang menarik yang diangkat oleh Ayu Utami yaitu menstruasi. Si tokoh perempuan, Marja, diceritakan sedang menstruasi saat menemani Parang Jati melakukan penyelidikan tentang candi yang baru ditemukan. Tentunya lokasi penemuan candi berada di tempat yang dianggap suci dan kramat.

Suatu saat, ketika Marja mau ke kota untuk membeli pembalut, ada seorang wanita tua yang mengangkat kayu yang ia temui di jalan. Tidak tega, maka Marja mengajak wanita tua itu ikut ke kota. Di tengah perjalanan, Marja menceritakan bahwa ia akan pergi ke kota untuk membeli pembalut. Si wanita tua bercerita kalau anak zaman sekarang pakai pembalut sementara dirinya saat muda hanya memakai kain yang dicuci. Kenapa harus dicuci? -- tanya Marja jijik mendengar dimana darah menstruasi harus dibersihkan (ia biasa dengan langsung buang). Karena haid itu darah kotor -- ujar si wanita tua lalu berkata kalau di hutan ini ada Banaspati: hantu hutan yang suka menghisap darah menstruasi perempuan.

Jeng jeng jeng jeng.

Dalam saat lain, ketika Marja dan Parang Jati baru pulang dari kota, mereka menemukan seorang anak yang kesurupan di sekitar candi. Anak itu berteriak 'tempat ini sudah ternodai' sambil menunjuk ke arah Marja. Sontak Marja kaget dengan hal itu. Ia murung memikirkan rasa dituduh menodai tempat itu. Penodaan terjadi saat ia sedang haid. Ia sedang kotor.

"Marja merasa diperlakukan tidak adil. Mengapa menstruasinya dianggap kotor. Bukankah ini proses rahim menyiapkan diri untuk bisa menumbuhkan kehidupan. Ia merasa seperti perempuan malang yang terkena sakit pendarahan. Ia seperti manusia kusta. Ia merasa hina, tak rela, tak berdaya." (2010:129)

"Marja lebih banyak berdiam diri dalam perjalanan. Rasanya, ia belum pernah dalam suasana hati sedemikian rendah. Tidak bisa tidak itu berhubungan dengan haidnya. Sesuatu yang sangat inheren dalam dirinya, sangat intim, justru menyebabkan dunia bagai menudingnya. Ia tak pernah merasa sekotor ini. Ia tidak pernah merasa serendah ini. Seterpinggir ini. Sebersalah ini." (2010:131)

Pada dasarnya menstruasi hanyalah proses biologis. Tapi apa yang membuatnya malu? Mungkin larangan-larangan mendekati batas suci yang membuatnya menjadi kotor. Misal: tidak boleh masuk ke masjid (bahkan lewat pun tidak karena darah takut menetes), tidak beribadah, tidak boleh masuk kuburan, dan lainnya. Lalu apakah unsur seks (akil balig) membuatnya semakin tabu? Justru ketabuan itu pernah membuat saya begitu takut dan jijik ketika mendapatkan menstruasi pertama kali. Belum lagi kesakitan atau ketidaknyamanan yang didapat setiap bulan sehingga membuat diri ini merasa enggan.

Itu dulu.

Tapi, oh, perempuan, pernahkah kau merasa sedemikian rendah saat menstruasi? Pernahkah kau sedemikian malu ketika darah meninggalkan noda di celanamu atau dikasurmu?

Luka di Ujung Jari

Tulisan kali ini mengandung hal-hal yang menganggu seperti luka dan darah. Pun ada visualisasinya. Jadi, kalau kau tidak suka, lebih baik kau tidak usah membaca.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Grek.

"Ah!"

Saat itu saya berteriak kecil sambil memegang tangan. Luka menganga di ujung jari telunjuk tangan kiri saya membentuk bulan sabit, hanya menyisakan sisa kulit kecil untuk menunjukkan bahwa daging masih pada tempatnya. Saya lempar kater yang karatan itu ke lantai dan bergegas ke kamar mandi.

Di wastafel, saya panik. Darahnya banyak sekali. Terus mengucur. Saya merasa ujung kulit saya bergoyang-goyang terkena aliran air karena sudah tidak pada tempatnya. Saya panggil-panggil orang yang ada di sekitar untuk diambilkan tissue, kain, atau perban, tapi tidak ada yang mendengar. Maka saya bergegas ke ruangan sebelumnya, mencari teman saya, sambil darah menetes kemana-mana.

"Tissue!" Teman saya bergegas dan takjub melihat luka, "Ya ampun, Nia, darahnya banyak sekali!"

"Aku cari orang dulu yang bisa ngobatin luka aku dulu ya. Tapi ini darahnya netes-netes di lantai."

"Ya udah, biar darahnya yang aku bersiin," ujar teman saya.

Sambil ditutup tissue, saya mencari teman saya. Akhirnya teman saya menutupi luka dengan perban seadanya. Rasanya sakit sekali. Ketika ia melilit perban, saya merasa daging saya terus bergerak. Setelah di perban, saya rasa masalah sudah berhenti sampai situ saja. Lalu saya melanjutkan aktivitas seperti biasa: memotong kertas dengan satu tarikan kuat dengan menggunakan kater. Tadi hanya sial. Terlalu percaya diri. Kater malah melenceng ke telunjuk kiri.

Beberapa jam kemudian saya di telepon. Teman saya yang mengerti kesehatan ingin melihat lukanya. Ternyata perban menempel di luka. Dengan sabar, ia membuka dengan bantuan Rivanol dan menyarankan saya pergi ke rumah sakit untuk dijahit saja.

Dijahit? Biar saya pikir-pikir dulu.

Saya ditemani teman saya masuk ke UGD. Sementara saya disuruh berbaring, teman saya mengurus administrasi. Petugas UGD dan teman saya mencoba menenangkan saya dengan berkata hal-hal yang lucu. Mungkin karena saya terlihat takut dan panik. Inilah hal fisik yang paling saya takuti di dunia: luka dan darah.

Telunjuk saya dibius. "Ini rasanya bakal sakit," ujar si petugas. Saya mengharapkan dia berbohong. "Akan sakit?" tanya saya sekali lagi. "Iya. Tangannya jangan ditarik ya," ujarnya. Kenapa ia tidak berbohong bahwa ini rasanya akan seperti digigit semut atau anak gajah? Ternyata suntikannya jauh lebih sakit ketimbang suntik di bokong, lengan atas, atau di pembuluh darah ketika kau mau donor darah. Seketika telunjuk saya mati rasa.

Saya bisa merasakan tarikan benangnya. Saya bisa mendengar ketika si petugas berkata, "Ah, salah. Ayo, cabut lagi." Saya tak mau melihat proses menjahitnya tapi saya bisa melihat ekspresi teman saya ketika proses menjahit. Saya bisa lihat terkejutnya teman saya ketika sudah dijahit. Saya tahu betul ketika teman saya bilang, "Ni, mataku gelap. Aku perlu duduk."

Saya diberi antibiotik dan penahan rasa sakit. Sepulang dari UGD, saya melakukan aktivitas seperti biasa dengan rasa sakit. Teman saya dengan baiknya membantu saya, misalnya ketika saya kerepotan memegang sesuatu atau bahkan ketika membuka obat. Sementara di rumah, mandi menjadi aktivitas yang rumit karena tangan ini tidak boleh basah. Sayangnya, ini harus dilakukan sendirian.

Tiga hari kemudian, saya check up. Petugas UGD bilang kalau hasilnya bagus: luka saya kering. "Memang yang tidak bagus itu seperti apa?" tanya saya. "Ada luka yang basah," ujarnya. Syukur Tuhan, kau memberikan saya penyembuhan. Semoga besok lukanya sudah tertutup sempurna dan jahitannya bisa dilepas.

Petugas meminta saya mengganti perban setiap hari. Wah, saya tidak mau lihat hasil jahitan saya! Keesokan harinya (Sabtu), mungkin teman saya bisa bantu karena saat itu saya lembur. Tapi hari Minggu? Saya harus melakukannya sendiri.

Maka tadi pagi, saya mengganti perban sendiri. Saya harus lihat luka saya. Oh, ternyata begini hasilnya. Kuku saya pun ikut dijahit. Bentuknya tidak lagi setengah lingkaran seperti ujung jari kebanyakan. Sekarang ujung jari saya agak cekung. Mungkin lagunya Koil berjudul Aku Lupa Aku Luka cocok untuk tulisan kali ini. Walau saya tidak pernah lupa karena nyut-nyutan. Dan mungkin perspektif lukanya pun berbeda. Ah, saya hanya ingin menulis judul itu saja.

Di situ saya sadar bahwa tubuh ini holistik, tidak bisa terpisahkan. Luka di ujung jari saja bisa membuat saya sebegini kesusahan.

P.S: Oh ya, teman saya merekam ini dalam video. Tunggulah kapan-kapan ;)

Tips-tips Pergi Ke Ujung Genteng

Bukan, bukan genteng di atap rumahmu yang saya maksud. Ujung Genteng yang ada di ujung selatan Jawa Barat dekat Sukabumi dan Pelabuhan Ratu.


Saya pergi ke sana bersama 4 orang teman saya menggunakan mobil pribadi. Hanya membayar bensin sebesar 150.000. Kami berangkat dari Bandung pukul 6 sore (dengan terhambat di sekitaran tol Moh. Toha hingga Kota Baru Parahyangan karena Presiden SBY lewat) dengan estimasi sudah sampai di sana pukul 12 malam. Namun eh namun, entah mengapa karena di jalan pun saya tidur terus, kami sampai pukul setengah empat pagi. Oh ya, pada saat kami di daerah Sukabumi, kabut turun lebat sekali. Jarak pandang mata mungkin hanya berkisar 3 meter tanpa penerangan. Saya mencoba menangkap melalui kamera, namun hanya ini yang didapat.

Kabut itu tebal atau lebat sih?

Kami sudah kontak-kontakan dengan Pondok Adi (tipe Cibuaya dengan dua kamar tidur, kamar mandi, dapur kecil, dan ruang tengah sebesar 300.000 per malam plus buaya). Kami memutuskan untuk tidur disana karena kami lelah karena jalannya yang tidak bagus. Sesampainya di Pondok Adi, ternyata kami harus check out pukul 12.00 siang sementara kami baru masuk pukul 03.30 pagi dengan harga yang penuh! Penjaganya tidak bisa menetapkan harga bagaimana jika kami hanya setengah hari di sana karena Pak Adi-nya sedang ada di Bogor. Merasa rugi, akhirnya kami menyusuri penginapan-penginapan di jajaran sana (ada Pondok Hexa, Dedddy's Losmen, Villa Pak Ujang) dan penuh semua!

Salah seorang penjaga di sana menawarkan kami rumah penduduk yang disewakan. Saat menuju rumah yang dimaksud, rumahnya seolah-olah berada di ujung laut dan jauh dari mana-mana. Dia menawarkan 1 kamar dengan kamar mandi dalam seharga 150.000. Setelah negosiasi, akhirnya kami dapat harga 100.000. Dan saat kami masuk kamar, ada banyak semut, laba-laba, sama kaki seribu! Ini kamar apa kebun binatang?! Saran: sebaiknya bawa garam untuk ditaburkan di pintu masuk, pintu kamar mandi, atau sekeliling tempat tidur agar binatang melata mengerikan itu tidak merayap ke tempat tidur lalu bertengger di tangan kau--seperti yang terjadi pada saya. Hii.

Rumah penduduk. Tampak samping.

Dalam perjalanan lain, saya pernah nginap di rumah penduduk, tapi keadaannya tidak setragis ini. Tidak pula ada semut, apalagi kaki seribu!

Pagi harinya, kami pergi ke pantai yang berada di depan rumah. Wih, pantai disini banyak sekali karang tajamnya. Hati-hati! Terutama tidak ada pasir yang lembut karena pasirnya tertutup dengan pecahan karang. Alhasil kaki saya berdarah-darah.

Starfish? Spiderfish? Apaan sih?

Jika pantai tidak enak buat berenang, foto-fotolah!

Saat kami datang, laut sedang surut sehingga kami bisa jalan agak ke tengah laut. Harus diingat bahwa ombak di laut selatan itu besar karena menghadap samudera. Hati-hati lagi! Oh ya, saat kami akan pergi ke laut, pemilik rumah mengatakan, "Jangan pakai baju merah."

Agak siang, kami ke pantai lain yang lebih selatan dari sebelumnya (ternyata dari rumah kami, ada jalan lagi). Pantai di sana lebih enak buat berenang. Ternyata disana banyak penginapan-penginapan yang lebih murah. Sarannya adalah: ketika sampai disana, kau tidak perlu langsung tergiur dengan pondok-pondok besar yang mungkin akan kau temui di awal perjalanan. Telusuri jalan terus (depan Villa Pak Ujang terus belok kiri), nanti ada rumah di tengah-tengah jalan (itu rumah yang saya tiduri), dari situ masih jalan terus hingga menemui banyak pondokan. Sebaiknya tidak melakukan perjalanan malam karena medannya cukup berat serta kegelapan dan ilalang di kiri dan kanan mungkin akan membuat kau putus asa mencari penginapan.

Suasana jalan di siang hari. Tidak ada lampu jalan jika malam.

Saat makan siang, kami pergi ke Kelapa Condong. Di sana ada warung nasi Mandiri. Saya makan nasi, ikan, dan perkedel kentang plus es teh manis dengan total 14.000. Kalau tidak salahnya nasi, ikan, dan perkedelnya 10.000, jadi apakah es teh manis harganya 4000? You do the math. Kalau mie ayam harganya 5.000, es kelapa harganya 5.000, bakso harganya 5.000. Kalau tidak salah. Apapun yang masuk perut, saya cenderung lupa.

Enakan mie ayam depan kantor saya

Sore harinya kami pergi ke Pangumbahan, tempat penangkaran penyu. Tiket masuknya sekitar 5000 (kalau tidak salah). Berdasarkan info dari penduduk lokal, sore ini akan dilakukan pelepasan penyu. Saat sampai di sana, kami hampir saja terlambat karena sudah banyak orang di pantai Pangumbahan dan para petugas sudah bersiap untuk membagikan penyu-penyu kecil. Dari ujung pantai, kami lari terbirit-birit karena tidak ingin ketinggalan. Eh, ternyata pasir di pantai ini lembut sekali sehingga kalau kau ingin bermain pasir, sebaiknya ke Pangumbahan ini!

"It feels like releasing my own child!" ujar teman saya. Euh.

Mengingat biaya makan di warung nasi lebih mahal, kami memutuskan makan malamnya bakar ikan saja. Kami membeli ikan (harganya lupa, tapi yang pasti murah dan dapat banyak), dibakar sendiri, dan pemilik rumah membuatkan kami nasi liwet dan memberikan kami bumbu-bumbu untuk membakar. Tentunya tidak gratis, tapi tidak malah pula dibandingkan makan di warung nasi.

Setelahnya kami tidur, bangun pagi, pulang menuju Bandung. Sengaja kami melakukan perjalanan pagi karena perjalanan malam itu bosan sekali--terutama medan perjalanannya yang berat. Mungkin bagi yang tidak nyetir, bisa tidur. Tapi suasana ini tidak enak bagi yang nyetir. Saran: sebaiknya melakukan perjalanan siang.

Secara garis besar, pantai di Ujung Genteng dalam skala 1 sampai 5, mungkin rate-nya 3.5. Mungkin karena saya pernah ke tempat yang lebih bagus dari ini. Untuk ke Ujung Genteng, sebaiknya menggunakan motor atau mobil pribadi karena letaknya yang berjauhan dan mau kemana-mana tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kalaupun sewa ojek, biayanya mahal. Mobil yang dipakai sebaiknya mobil yang dibuat untuk medan berundak, berbatu, dan berlumur seperti jeep. Kalau mau, bawa sepeda pun boleh sehingga bisa jalan-jalan di sana menggunakan sepeda.

Selain pantai, di Ujung Genteng banyak air terjun yang indah. Sayangnya kami tidak ke sana. Kalau kau bisa ke sana, tuliskanlah di blog lalu berbagi link-nya pada saya ;)

Saya pernah menulis tentang tips-tips Karimunjawa ala backpacker (http://mynameisnia.com/tips-tips-pergi-ke-karimunjawa/). Silahkan di-cek.

Ini adalah video yang saya buat. Selamat menikmati dan selamat jalan-jalan!






Makan Gaji

Tadi sore menjelang malam, saat saya dan teman-teman sedang kumpul di front office, atasan menghampiri kami. Dia mau berbicara secara khusus tentang sistem penggajian yang belakangan ini santer di kalangan para pegawai. Terutama tim kami pernah begitu keras kepala memperjuangkan hal ini (yang diakhiri dengan kepasrahan). Tentunya kekeraskepalaan kami tidak dibiarkan begitu saja, atasan saya menyampaikan aspirasi kami ke konsultan penggajian.

Dia menjelaskan panjang lebar mengenai sistem penggajian yang berubah dan imbasnya pada tim kami. Salah satu rekan kerja saya mendengarkan tanpa memperhatikan atasan saya dan terlihat begitu skeptis di mata atasan saya. "Bingung?" tanya atasan saya. Teman saya menjawab iya. Saya menambahkan, "Mungkin ini yang membuat bingung: sedari tadi kita berbicara tentang gaji yang notabene itu penuh dengan angka tapi dari tadi obrolannya penuh dengan kata-kata. Mungkin jadinya begitu abstrak."

"Kalau begitu, cek ATM kalian. Kalian perlu tahu berapa gaji kalian," ujar atasan.

"Nah, kadang seperti ini, Bu. Ketika saya cek ATM saya, saya tidak peduli berapa nominal yang tertera di layar. Saya hanya tahu bahwa uang saya bertambah, namun berapa-berapanya tidak saya hitung."

"Biasanya itulah yang terjadi pada pegawai-pegawai awal. Apalagi yang masih single. Nah, justru itu enaknya, kalian tidak terlalu pusing bagi yang single memikirkan gaji."

"Tapi saya enggak mau single terus, Bu," ujar saya bercanda. Suasana pun diiringi derai tawa. Ya memang betul, saya tidak mau tua, layu, dan mati sendirian.

Setelah mengobrol beberapa lama, atasan saya berkata, "Nih ya, saya ngomong bukan sebagai atasan, melainkan sebagai teman. Saya sudah 15 tahun tidak kuliah. Saya sering melihat teman-teman saya. Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Yang berhasil adalah yang memiliki kemauan, yang begitu integritas pada pekerjaannya. Orang yang punya kemauan, rejekinya akan nempel terus. Beda sama orang yang perhitungan. Ibaratnya 'Nih, saya akan bekerja sesuai dengan gaji saya'. Selamanya ia akan terjebak disitu."

Saya berkata, "Ada yang menarik, Bu, saat ibu bilang punya kemauan. Begini: ada beberapa orang yang masih ada di dalam kebutuhan Maslow yang pertama yaitu kebutuhan biologis. Misalnya saya yang baru lulus kuliah kemarin dan saya mencari uang biar bisa mencari makan enak. Nah, bagaimana kalau seperti itu?

"Begini. Saya jadi ingat kata Pak Wisnu. Kalau manusia mencari uang untuk makan, sama dengan ayam atau bebek karena mereka mencari makan. Kalau manusia uang untuk membangun rumah, sama seperti binatang lain yang mencari rumah. Kalau manusia mencari kekuasaan, sama seperti singa atau kera yang mereka juga mencari kekuasaan. Berbeda dengan manusia yang ingin bermanfaat bagi orang, sementara binatang tidak."

Intinya, mungkin kalau kau bingung, aktualisasi diri.

Teman saya menyambar, "Ya mungkin setiap orang prosesnya beda-beda."

"Iya, betul!" Mata atasan saya berkilat-kilat di malam tidak bolong sementara saya merasa kepala saya pening. Ia segera meralat, "Ya walaupun tidak salah karena binatang 'kan ciptaan Tuhan juga."

Saya pening dua kali.

Atasan saya berpesan bahwa sebaiknya urusan nominal gaji itu tidak usah disebutkan dan dibandingkan. "Kenapa, Bu, tabu?" tanya saya. "Bukan. Menyebutkan gaji dan memperlihatkan gaji itu seperti ... memperlihatkan pakaian dalam sendiri! Gaji adalah sebuah ukuran prestasi. Rasanya tidak pantas jika menunjukkan hal seperti itu."

Entah seberapa malunya pejabat kita karena sudah ditunjukkan pakaian dalamnya di depan umum. Apalagi ketika gaji mereka disebutkan di media massa.

Dunia Lain

Ketahuilah bahwa acara televisi favorit saya adalah Dunia Lain (dan ketahuilah bahwa saya suka Hari/Harri/Harry Panca). Ini yang saya tunggu-tunggu setiap Kamis malam--jika tidak ketiduran.

Ketika nonton Dunia Lain, saya mengharapkan sesuatu yang muncul untuk meningkatkan adrenalin saya. Kalau bisa sih setan/hantu. Bukan karena saya ingin melihatnya dalam dunia nyata, tapi saya suka dengan sensasi deg-degan dan ketakutan. Bahkan, untuk situasi tertentu, saya sengaja meluangkan waktu untuk menonton film horor terseram (asal tidak sendirian) yang biasanya dimainkan oleh orang Korea/Jepang/Taiwan atau Thailand. Saya perlu rasa takut yang amat sangat untuk men-detoks perasaan saya.

Walaupun secara teori mungkin tidak ada.

Dari yang saya lihat dari Dunia Lain, seringkali orangnya baca-baca doa atau Al-Quran atau dzikir atau mengucapkan apapunlah yang kearab-araban (mayoritas orang Islam. Kenapa mayoritasnya orang Islam? Apakah orang Islam suka tantangan? Apakah orang butuh uang? Atau orang Islam kurang kerjaan?) Kadang ada benda yang bergerak lalu si orang itu membaca doa yang diyakini bisa mengusir hal-hal begituan, tapi benda tetap bergerak. Intinya doanya tidak mempan. Ini membuat saya khawatir! Kenapa? Karena kalau ada setan betulan dan saya baca-baca doa lalu dia enggak kabur, ya mau bagaimana??

Kebal? Salah pengucapan? Atau doa hanya mitos belaka?

Yang terakhir hanya bercanda.

Tapi intinya adalah ... kok bisa?

Tips Karimunjawa Ala Backpacker

Tulisan ini dimaksudkan untuk memudahkan pergi ke Karimunjawa (Karjaw) ala backpacker yang mungkin akan kau cari di Google dan blog sayalah yang keluar. Karena saya sendiri pun harus riset dulu.

Satu minggu yang lalu (3 Juli 2010-6 Juli 2010), saya dan teman-teman saya pergi ke Karjaw menggunakan jasa Wisata Kita. Di periode ini, budget dari PP Jepara-Karjaw, homestay, penyewaan alat-alat snorkeling, makan, ditanggung sebanyak Rp 400.000,- ala backpacker selama 4 hari 3 malam. Intinya biayanya sudah mencangkup segalanya kecuali biaya ke dari kota asal ke Jepara atau membeli keperluan sendiri.

Saya pergi dari Bandung naik bis Kramat Jati ke Jepara seharga Rp 80.000. Awalnya direncanakan berangkat pukul 18.20 tapi ternyata telat. Setelah itu bisnya berhenti di terminal Cicaheum, diberbagai shuttle, dan menunggu peserta yang ingin nyusul di luar shuttle. WTF. Ini menganggu sekali. Lu kire ini mobil pribadi? Biaya Rp 80.000 itu termasuk snack dan makan malam di Sumedang pukul 21.00.

Tips pertama, tunggulah di shuttle yang sudah ditentukan karena itu menghambat perjalanan sekali!

Alon-alon asal kelakon, mungkin itu yang dianut supir bis yang anti ugal-ugalan selama 12 jam lebih perjalanan. Ada baiknya juga tapi kita jadi terlambat dan hampir ketinggalan kapal ferry KMP Muria di Jepara! Katanya kapal akan berangkat pukul 09.00 tapi ternyata pada pukul 08.00 peluit sudah berbunyi dan pintu kapal sudah ditutup! Tips kedua: datang pagi agar tidak tertinggal KMP Muria!

Untuknya teman-teman dan wisatawan lain dari Wisata Kita datang terlambat, jadi telat rame-rame sehingga dibukakan lagi pintu dari belakang. Di sana, kita kayak diospek, diteriakkin ‘cepat naik! cepat naik! hey, kamu jangan diam saja! cepat masuk!’ Meh, traumatis.

Oh ya, pembelian tiket sudah diurus oleh Wisata Kita sehingga kami tinggal janjian dan tahu beres. Cuman jangan sekali-kali Anda terlambat jika tidak ingin menyewa perahu sendiri dari Jepara ke Karjaw.

Di kapal, ternyata sudah penuh sekali sehingga kami ditempatkan di atas (di tempat terbuka). Sialnya, pada saat itu Jepara sedang mendung dan hujan rintik-rintik. Inisiatif, ABK membuka terpal yang mana pada akhirnya tidak membuat kering secara signifikan karena toh airnya mengalir juga ke tempat kami duduk. Tapi, mari kita hargai usaha para ABK itu!

Awan mendung dan angin kencang di atas KMP Muria

Berasa di kamp pengungsian. Dan harus bertahan selama 6 jam!

6 jam perjalanan, saya dan teman-teman gulang-guling dan mondar-mandir tidak jelas untuk mengalihkan mual. Saya, sebagai orang darat, tentunya aneh sekali terombang-ambing di lautan tanpa bisa tidur karena lantai kapal basah. Alhasil saya duduk pun beralaskan kantong plastik. Saya peluk backpack saya dan saya tidurkan kepala saya di atasnya. Sudah agak mengering dikit, saya pun akhirnya bisa tidur.

Wisata Kita sudah bilang bahwa sebaiknya membawa jas hujan. Namun karena bandel dan saya pikir tidak bawa pun tidak apa-apa, saya menyesal. Ternyata untuk menanggulangi situasi ini, toh! Jadi, tips ketiga, bawa jas hujan! Setidaknya Anda bisa duduk tapi tidak kebasahan! Selain itu, tips keempat, tidak usah bawa makan banyak-banyak. Saya yakin dalam keadaan terombang-ambing, Anda tidak ingin makan. Karena membawa banyak makanan hanyalah akan merepotkan dan memberatkan. Di dalam kapal pun dijual makanan. Kalau harga yang mahal, memang itu harus dimasukkan ke dalam budget kita.

Sekitar pukul 15.00, saya sampai di pelabuhan Karjaw. Wah, ramai sekali. Dari pelabuhan kami jalan ke homestay yang sudah ditentukan pihak Wisata Kita. Setelah ketemu, kami bagi tugas. Dan ternyata kami sudah disambut makanan dan es kelapa! Wah, enaknya!

Homestay yang cukup nyaman
Makan yang diberikan hanya sehari 2x (malamnya bisa makan di warung di daerah alun-alun). Makanan yang diberikan adalah makanan yang dibuat oleh pemilik rumah. Biasanya pukul 06.00 begitu sudah ada. Setiap hari, lauknya adalah ikan. Jadi bagi yang alergi ikan, makanlah ayam. Uh.

Di hari pertama, kami tidak kemana-mana, hanya jalan-jalan saja ke alun-alun. Oh ya, jalan disana kecil, sepi, gelap, dan tidak ada lampu jalan. Jadi, tips kelima, bawalah senter! Pada saat tidur pun memang betul banyak nyamuk. Dan tips keenam, bawalah autan!

Terbayang jika malam tiba?

Dua hari kami snorkeling di berbagai pulau. Ada kesepakatan bahwa jika ada satu orang yang menghilangkan alat snorkeling–biasanya tercebur ke laut (sepatu katak dan kacamata renang), maka semua orang HARUS MENGGANTINYA. Sebenernya ini kesepakatan agak enggak adil. Karena:

Hey, saya menjaga barang saya dan tidak hilang, tapi kenapa saya harus mengganti barang yang dihilangkan oleh orang lain yang tidak hati-hati?

Sebaiknya, ganti rugi ditumpahkan saja ke yang menghilangkannya. Bah.

Oh ya, saya menggunakan sunblock muka dan badan Parasol. Hasilnya cukup baik. Tidak terlalu terbakar dan tidak terlalu hitam. Atau apa karena kulit saya aslinya sudah hitam? Ah, lupakan. Selain itu diberi makan di sana.

Kami pergi ke penangkaran hiu (dan boleh berenang disana). Tapi tentunya tidak bisa bagi perempuan yang menstruasi. Tips ketujuh khusus untuk perempuan yang mungkin sedang berada di periode menstruasi: pakailah tampon! Walaupun sudah pakai tampon, tidak dianjurkan juga sih untuk berenang sama hiu karena mungkin penciuman mereka super tajam. Tapi untuk berenang di tempat lain, sebaiknya pakai tampon ketimbang pads biasanya karena mungkin Anda akan super cemas darahnya beleber kemana-mana.

Saya pernah membuat pengakuan bahwa tempat yang paling saya takuti adalah laut. Bagi Anda yang memiliki ketakutan yang sama sehingga enggan snorkeling, hiraukanlah. Jika takut, bisa minta ditemani oleh guide untuk snorkeling kesana kemari. Karena disana karangnya indah sekali! Jangan sampai Anda menyesal ketika Anda pulang.

Tips selanjutnya, mungkin Anda bisa berenang, tapi jika Anda bukan perenang hebat dan berada di laut yang cukup dalam (10 meter lebih), sebaiknya menggunakan life jacket yang berguna mengantisipasi jika Anda lelah ketika berada di tengah laut. Dan pakai life jacket itu enak sekali. Ibaratnya Anda hanya tinggal menggantungkan diri dan hanya menikmati pemandangan bawah laut yang ada (tapi resikonya jadi tidak bisa menyelam).

Selama saya disana, penting betul Anda mengenal teman lain dan penduduk lokal. Teman baru berfungsi sebagai meramaikan suasana. Saya kenal beberapa orang, termasuk bule Perancis yang bilang kalau pantai di Karjaw jauh lebih baik ketimbang di tempat asalnya, penduduk lokal berfungsi untuk mendapatkan informasi apapun yang Anda mau tentang Karjaw. Tapi, tips paling penting, jangan terlalu dekat secara personal karena itu anak membuat Anda sulit meninggalkan kepulauan nan indah ini.

You jump, I jump, right?
Jangan membuang sampah sembarangan ke laut atau ke pantai. Mari kita jaga bersama-sama negeri kita. Selain itu jangan mengambil, merusak, atau mencuri terumbu karang karena terumbu karang membutuhkan waktu satu tahun untuk tumbuh sebanyak hanya 10 cm.

Pakai kamera underwater. Foto dari tour guide saya, Indroo Bondan, diambil tanpa izin :)

Untuk gambaran selanjutnya, Anda bisa lihat video saya di Youtube. Itu video main-main sih, tidak usah dilihat terlalu serius ;)

Secara garis besar, maksimalkan kegiatan Anda disana karena perjalanannya cukup jauh dan menguras fisik dan psikis. Beramah-tamah itu menambah bumbu liburan tersendiri dan mungkin setelahnya Anda bisa minta Facebook, email, atau nomer handphone ke teman-teman baru. Siapa tahu Anda membutuhkan teman untuk berpetualang selanjutnya ;)

P. Gosong yang jika laut pasang akan menghilang
Selamat liburan!

Jeritan Seorang Buruh Pabrik

Buruh pabriknya itu saya. Nyatanya saya seorang pendidik. Saya menggunakan judul di atas agar terlihat pelik. Dan sedikit ciamik.

Ah, lupakan.

Beberapa bulan yang lalu, dalam pekerjaan saya, saya mengalami ... apa ya istilahnya ... naik jabatan, mungkin. Awalnya kaum jelata menjadi sedikit jelata. Awalnya jadi anggota, kini menjadi koordinator tim. Jujur, ini adalah berita buruk. Murni tidak ada pengajuan diri atau sok-sokan ingin terlihat berprestasi. Saya murni ditunjuk!

Banyak yang bilang status saya ini membawa kebetulan yang baik. Kebetulan pertama jatuh pada senior saya yang cuti untuk program kehamilan dan ternyata jadi hamil betulan. Seharusnya, jika ia tidak cuti, dia yang menjadi koordinator timnya! Kebetulan kedua jatuh pada eks koordinator dulu yang kini turun jadi anggota dan ia dapat berkah hamil setelah menunggu lima tahun lamanya. SIAL betul nasib saya. Saya seolah-olah dikorbankan untuk kelahiran dua alien kecil!

Maaf, saya bercanda. Lagipula saya suka anak-anak.

Selain itu, seharusnya ini jatuh pada senior saya yang lain. Namun senior saya itu ditempatkan di kelas 6 yang akan menghadapi UASBN pertama. Jadilah saya yang diangkat. Sepertinya bukan karena potensi, tapi karena tidak ada orang lagi. Apalagi rumornya saya diangkat karena saya sering online malam-malam sehingga bisa dikasih tugas siang malam. Oh apalagi email-email pribadi tentang tugas ini itu, tolong koordinasikan dengan ini itu, lakukan ini itu ...

Saya perlu bahu untuk menangis. Cengeng.

Teman-teman saya mencoba untuk menghibur saya. Hanya satu yang kena ketika partner saya bilang, "Anggap saja ini media untuk Bu Nia belajar." Ah, belajar ... selain secara fisik mahal, psikis pun mahal!

Sialnya lagi--karena tempat kerja saya belum memiliki kelulusan sehingga belum ada akreditasi--saya mendapatkan kesempatan bersama partner lain lagi untuk menjadi penanggung jawab standar kompetensi kelulusan. APA ITU? Kenapa ini harus terjadi di tahun saya masuk dan di tahun saya diangkat? Kenapa, Tuhan, kenapaaa?

Ah, lemah mental betul.

Tapi itu awalnya. Lama-lama saya agak sedikit terbiasa dan mulai menerima kenyataan. Betul kata teman saya, ini adalah media saya belajar. Ilmu psikologi saya meningkat terus. Skill saya pun berkembang. Semuanya gratis. Dan dibayar pula.

Pemerintahan

Satu minggu yang lalu, saya menghadiri sebuah seminar dan workshop nasional (yang diadakan di hari Sabtu dan Minggu) di gedung departemen pendidikan yang ada di Jalan Sudirman. Acaranya dan biayanya besar sekali dan dihadiri orang-orang besar lainnya: menteri dan beberapa pejabat, karena acara ini terkait dengan peresmian sebuah asosiasi.

Menteri yang diundang (selain menteri lain yang datang) malah tidak datang padahal dia tokoh utama dari acara ini. Dia diwakili oleh sekertaris jendralnya yang menjadi pemateri juga. Ah, penasaran juga nih melihat isi materi jika dilihat dari perspektif orang dari pemerintahan--pikir saya.

Beberapa lama setelah ia berbicara, saya tidak heran kenapa jika diadakan rapat-rapat begitu pesertanya seringkali tertidur. Membosankan sekali. Atau mungkin saya tidak minat dengan hal-hal yang berbau birokrasi dengan dibalut bahasa-bahasa dewa nan ambigu dan abstrak? Ingin tahu contoh bahasanya apa? Coba kau tilik itu Pancasila, pelajaran kewarganegaraan, atau mukadimah dari segala sesuatu. Bahasa-bahasanya begitu panjang, terurai, dan tidak praktis!

Atau mungkin karena cakrawala pengetahuan saya masih sempit sehingga belum bisa mengambil makna dari bahasa dewa?

Btw, ini oleh-olehnya. Keabsurdan dan keambiguan mungkin bisa menciptakan hal-hal sedemikian hebatnya. Eh, atau ini dibuat oleh orang-orang praktis?

Psikotes

Semalam, saudara saya ke rumah. Dia mau bertanya tentang psikotes. Saat janjian, sudah saya wanti-wanti untuk tidak berharap banyak bahwa ada beberapa hal yang menyangkut kode etik. Maka, ia pun menyanggupi dan datang di malam hari.

Pembicaraan diawali oleh ayahnya yang bicara agak serius, "Mungkin Nia bisa bantu ..." Saya tertawa kecil di dalam hati. Apa yang mau dibantu sementara psikotes tuh melulu hal-hal yang dibawa dari dalam diri?

Saudara saya bilang gini, "Waktu kamu ngomong tentang kode etik, aku bilang ke mama. Mamaku bilang, 'Alaahh ... sama saudara sendiri mah biarin aja. Bantuin gitu ...'" Saya cuman nyengir lalu saya bilang, "Betul jika saya tahu jawaban-jawaban soal-soal psikotes. Tapi ini masalah tanggung jawab."

Rupanya ini adalah psikotes pertama dan dia berharap banyak supaya lulus dan dapat kerja. Dengan malu-malu saudara saya bercerita tentang buku-buku psikotes yang ada di toko buku. "Memangnya apa sih yang ada di buku?" Saudara saya agak segan menjawab karena takut ditertawakan.

HAHAHAHAHA. Nih saya tertawakan sekarang. Padahal saya tidak ada niat untuk menertawakan.

Sebenarnya apa sih yang mau dicari dari kisi-kisi atau kunci jawaban psikotes? Kalaupun kita tahu, tapi kita juga belum tentu tahu tentang profile yang diminta perusahaan 'kan? Misalnya jawaban psikotes diarahkan ke arah jiwa pemimpin sementara perusahaan tidak minta profile demikian, ya agak sia-sia juga. Kuncinya mudah: keluarkan diri apa adanya. Istirahat yang cukup dan dalam keadaan fit.

Lagipula tolol betul oknum yang membocorkan hal-hal macam itu.

Perempuan, Bodohlah!

Dalam sebuah perbincangan dua perempuan dewasa--saya dan teman saya (baiklah)--kami menemukan fakta yang menarik: kami sama-sama pernah membodohi diri di depan laki-laki. Laki-laki, entah terbuat dari apa (mungkin mereka terbuat dari gelembung-gelembung ego yang rentan pecah), agak sulit menerima kalau perempuannya lebih pintar daripadanya. Apakah betul, wahai laki-laki?

Tentu laki-laki tidak mau juga memiliki pasangan yang bodoh, tapi bukan berarti mau juga memiliki pasangan yang kelewat pintar. Harus manut. Tidak melawan. Iya-iya saja.

Agaknya ini bukan perasaan saya karena saya pernah dikatai langsung oleh teman laki-laki, "Nia, kamu jangan pinter-pinter amat dong. Sekali-kali enggak bisa jawab kek." Bukan, saya bukan seorang jenius dengan IQ tinggi, menang olimpiade, atau dinominasikan mendapat nobel. Saya hanya suka berdiskusi atau mencecar sesuatu yang baru, terutama hal-hal diluar pandangan saya.

Pun dengan teman saya yang mengeluhkan pacarnya yang berkata, "Semenjak kerja, kamu sekarang mah pinter. Sekarang tuh suka ngelawan. Enggak suka ah." Pun dengan teman saya yang lainnya mengeluhkan suaminya apatis saat sang istri dengan antusias menceritakan pengalaman kerjanya. SORI SORI SORI JEK.

Saya pernah membodoh-bodohi diri sendiri di depan laki-laki, pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak bisa menjawab--walau ada kalanya juga saya tidak tahu dan tidak bisa jawab. Karena konon, Mario Teguh berkata: Mulialah perempuan yang memuliakan laki-lakinya.

Itu 'kan mulia menurut Mario Teguh. Kalau menurut Tuhan?