Lucid Dream

Lucid dream adalah mimpi dimana seseorang sadar bahwa ia sedang bermimpi. Saya sering kali mengalami hal ini, terutama paling sering dalam mimpi buruk, dan kadang saya menenangkan diri, "Tenang, Nia, ini hanya mimpi buruk ... hal-hal jelek ini tidak ada." Lalu saya mencubit diri saya agar terbangun.

Sensasinya seru, rasanya seperti hidup di dunia yang lain yang absurd. Saya menjadi legal melakukan hal-hal aneh.

Namun keseruan itu sudah lama hilang, semenjak mimpi saya diinvasi oleh satu orang. Setiap saya tidur, orang itu selalu muncul. Saya tidak suka dan saya tidak bisa mengusirnya dari mimpi saya. Semenjak dia datang dan hingga tadi malam, saya tidak bisa mengendalikan mimpi-mimpi saya lagi, bahkan ia sering jadi penyebab jejak aliran tangis di muka.

Lalu saya mulai menduga-duga, apakah ini karena saya mencoba menghindarinya di dunia nyata lalu ia menelusup masuk ke alam bawah sadar saya? Sialan. Saya mau dia keluar.




Gambar diambil dari sini.

Hikayat Sebuah Nama Belakang

Janiar.

Sekitar usia SMP dan SMA, ih, saya syebel sekali dengan nama saya karena terdapat pengulangan. Nia Janiar. Sangat sukuistis sekali. Coba kau cari adakah kosa kata sukuistis itu? Dan selain itu--yang saya yakini pada saat itu--nama belakang saya ini memalukan sekali!

Janiar. Tidak lazim. Apa itu?

Kebanyakan saya menggunakan nama depan saya saja ketika saya berurusan dengan orang lain. Saya malu setengah mati jika harus menyebutkan nama belakang saya. Selain itu--walau tanpa bermaksud menghina--teman-teman saya yang entah kenapa mereka menyorot eksistensi Janiar di belakang nama saya sehingga saya dipanggil Janiar, Jani, Jan, bahkan NJ. Oh, saya merasa ada yang men-stabilo nama belakang saya ini.

Begitu terus nasibnya hingga kuliah dan kerja. Namun keengganan pemakaian nama belakang sudah jauh berkurang dengan menggunakan nama lengkap dimana-mana (email, salah satunya). Dan lucunya teman-teman kerja saya yang merupakan teman-teman baru dan tidak mengenal riwayat pemanggilan nama, ikut memanggil Janiar saja.

Seiring perjalanan hidup, saya diyakinkan oleh teman-teman bahwa nama akhir saya ini baik-baik saja dan bahkan bagus adanya. Kayak nama seniman--ujar salah satu teman saya agak hiperbola. Saya jadi mempergunakan kesensitivitasan orang lain akan nama saya ini supaya eksistensi saya mudah diingat.

Kalau ditanya apa artinya, saya akan menjawab karena saya lahir di bulan Januari, sementara keluarga saya akan menjawab karena ada salah satu kerabat keluarga bersuku Padang yang pintar. Mereka berharap anaknya sepintar kerabatnya. Oh, amin, Tuhan.

Awalnya saya mau diberi nama Janiar saja. Titik. Tanpa embel-embel nama depan atau belakang. Tapi karena kasihan, akhirnya ditambahkan Nia di depannya. Nia Janiar. Dulu saya ingin nama saya agak panjang--minimal tiga suku kata--seperti orang lain. Kayaknya keren gitu. Oleh karena itu saya ingin menambahkan nama orang lain yang bagus di belakang nama saya. Tapi lama kelamaan saya pikir kalau nama enggak usah panjang-panjang deh. Lebih pendek lebih keren. Banyu Biru. Btari. Bima Sakti. Sjora.
Aditya Warman.


Dan di hari ini, pemberian nama itu tepat 24 tahun yang lalu. Bangga rasanya karena tidak semua orang memilikinya.

Surat Untuk Sakti

Untuk Sakti, rekan terbaik se-jagadraya,

Kutulis surat ini agar kau tahu bahwa kau adalah rekan terbaikku selama 10 bulan ini mengelilingi tanah air yang telah diperjuangkan dengan tumpahan darah ras Melayu. Kau juga perlu tahu bahwa ambisimu mencari manuskrip yang hilang hingga ke pelosok Merauke itu pantas diacungi beberapa jari jempol—bahkan diapresiasi di forum internasional lalu aku berpidato dengan bahasa Inggris pas-pasan di atas podium tentang kehebatanmu—jika aku bisa. Lihat Sakti, bahwa aku rela mempermalukan diriku di depan umum.

Memang sulit betul manuskrip penting itu dicari sehingga kamu kehabisan seluruh persediaan makanan dan kehilangan beberapa peralatan dan tertembak saat berada di perbatasan Papua. Kau tertembak di rusuk dan dengan obatan-obatan seadanya di tenda darurat ini kau sekarat, dipastikan beberapa jam lagi menuju mati. Tentu kematian tidak membuat kau takut karena selama 10 bulan petualangan ini kau selalu bercerita kau begitu mendamba kebesaran Ilahi, memuja dan memuji di setiap tempat yang kau singgahi.

Oh, Sakti, andai aku tidak menikah dengannya nanti, sudah kubiarkan diriku jatuh lunglai dalam kegilaan yang nikmat di suatu sesi. Saat kita berlindung di balik kelambu di hutan Papua, menghindari dari serangan Malaria.

Tapi sebelum kematianmu, kau perlu tahu mengenai satu hal yang membuatmu sekarat begini. Manuskrip begitu jelas keberadaannya. Ia berada di sebuah laci rumah di tempat kita berasal: Jakarta. Tersimpan dan tergulung rapi di rumah yang biasa kau kunjungi saat kau membicarakan rencana-rencana petualangan nanti. Atau kuperjelas lagi: manuskrip itu tidak pernah ada. Ia hanya gulungan kertas kosong yang kubuat dengan sengaja. Aku tidak memberitahumu agar aku bisa memiliki 10 bulan denganmu, sebelum aku diperistri lalu dikurung untuk tidak melihatmu lagi. Sengaja kususun rencana agar tentara perbatasan untuk menembakmu, agar setidaknya aku tenang bahwa tidak ada orang yang bisa aku tangisi di hari nanti.

Oh, Sakti, setidaknya sudah kuberi jalan menuju cita-cita agar kau bertemu dengan pemilik Semesta ini.


[Sebagai bentuk latihan menulis di Reading Lights Writer's Circle -- http://rlwriterscircle.blogspot.com/2011/01/demi-keselamatanmu-bacalah-ini.html]

Sangkuriang

Saat Sangkuriang menjadi pemuda yang gagah, berotot pejal laksana kuda liar, Dayang Sumbi tidak bisa untuk tidak jatuh hati. Siapa yang tahan berada satu rumah dengan lawan jenis yang bisa memberikan apa yang sudah absen selama ini?

Dayang Sumbi, dengan keriput pada kulit putihnya dan berambut hitam khas Pasundan, bagaimanapun tetap memikat. Entah masih muda atau sudah tua, mau cantik atau buruk rupa, tidak ada yang tidak tahan jika seorang perempuan mandi di sungai hanya berlipatkan sehelai samping saja. Manalagi sisa-sisa rambut basahnya tergerai malu-malu di atas tengkuknya yang seputih susu.

Maka, terjadilah percampuran itu di saat senja … saat matahari menghilang di Gunung Tangkuban Perahu—sebuah gunung yang dikisahkan sebagai perahu terbalik karena cinta yang tidak sampai yang tidak akan terjadi pada pasangan ini karena toh mereka saling menyukai. Dayang Sumbi sudah tahu betul itu anaknya karena si suami terkena kutuk jadi anjing dan melarikan diri sementara Sangkuriang bersamanya sedari kecil. Ini murni hubungan incest, oedipal, dan pedofilia tapi mereka menikmatinya.

Mereka hidup layaknya suami istri saja. Sangkuriang dilayani kapanpun ia meminta dan Dayang Sumbi rela menjadi pesuruhnya. Sampai akhirnya Dayang Sumbi merasa ada sesuatu yang aneh di perutnya, yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak mengandung anak pertama. Saat itu Dayang Sumbi berusia 38.

Sembilan bulan mengandung, akhirnya ia melahirkan juga dengan dukun beranak yang dipanggilkan Sangkuriang di dusun sebelah. Keluarlah anak perempuan thalasemia tanpa tahu tanggal, bulan, dan bahkan tahun. Yang pasti saat itu, langit Pasundan tampak kemerahan untuk pertama kalinya.

Semenjak punya anak, Sangkuriang harus bekerja dan Dayang Sumbi harus bisa menambah penghasilan pula. Maka, Nayang Wulan – anak cantik nan rupawan – bermain di hutan sendirian. Tanpa alas kaki, ia berlari ke sana kemari hingga terluka dan darahnya tidak mau berhenti. Saat itu, dari kejauhan, seekor anjing yang kelaparan mengendus bau anyir yang memabukkan. Ia mencari-cari sumber bau hingga ia menemukan seorang anak perempuan.

Nayang Wulan tidak bisa berlari saat anjing itu mendekatinya dan menjilati darahnya. Ia juga hanya bisa berteriak saat anjing mulai menggigitinya.


Angst

Saat mengantarkan temanku pulang, aku membereskan gelas yang baru ia minum dan sisa rokoknya yang berserakkan di asbak. Baru saja aku mengantarkannya ke gerbang rumah setelah melewati situasi yang ia anggap canggung. Mungkin karena saat itu aku baru menangis di depannya dan ia merasa bersalah. Padahal tidak perlu merasa begitu karena tidak ada yang salah dengan dirinya. Tidak pernah ada yang salah dengan orang lain.

Mataku pedih dan aku lelah. Setelah membereskan meja, aku bergegas masuk ke kamar. Sesuatu membelai lembut rambutku. Saat aku menoleh, kulihat ada secercah cahaya hijau di atas lantai 3, tempat biasa aku menghabiskan waktu jika malam untuk mengunjungi sesuatu yang sudah lama aku hiraukan. Ia yang mau berbicara denganku.

Dengan langkah gontai, aku naik ke lantai 3, menuju kursi yang sudah usang karena kehujanan dan terjemur beberapa kali. Aku duduk sementara Ia sudah menunggu. Kusandarkan punggungku, kulipat kedua tangan di dada.

"Kau yang menyebabkan aku begini," ujarku sambil mendengus kesal. "Kau membuatku merasakan hal-hal seburuk ini."

Ia hanya diam saja. Kedua matanya menatapku lalu bertanya dengan lembut, "Lega rasanya sudah menangis? Karena kau tidak pernah seperti ini."

Aku mengangguk, "Tidak pernah ada orang yang tahu tentang hal ini. Kecuali Kau. Ya, tentu saja, karena Kau bukan orang. Kau adalah sesuatu yang aku ciptakan untuk bisa aku gantungkan harapkan atau aku salahkan jika hal-hal buruk menimpaku."

"Aku adalah sebagaimana yang manusia persepsikan," ujarnya. Tidak berteriak namun suaranya membahana ke seluruh cakrawala dan cahayanya memerah. Lututku lunglai, seluruh badanku bergetar.

"Kau adalah sebagaimana aku mempersepsikan." Aku mengulang kata-kata itu, berbisik-bisik di mulut sehingga hanya terdengar oleh telinga sendiri. Kuangkat kedua kakiku ke atas kursi, kurekatkan ke dada, dan kupeluk keduanya. "Tahukah Kau bahwa aku agak bersyukur malam itu? Tidak menyelesaikan masalah tapi setidaknya aku tahu bahwa ada sebuah tujuan yang Kau ciptakan: Kau membukakan sebuah cakrawala baru tentang sebuah diri dan hubungan antar manusia, untuk tahu bahwa aku tidak sendiri dan bahkan bisa saling membantu, untuk merasa dipahami, memberi sesuatu berdasarkan perspektif tertentu. Kau baru menciptakan sebuah konstruksi dan tidak akan pernah aku menyesalinya."

"Aku memberikan hal-hal yang butuhkan, kau tahu?"

Aku mengangguk. "Aku tahu," ujarku agak sok tahu.

"Lalu kenapa kau tidak mengerti juga bahwa jika Aku tidak memberikan sesuatu itu artinya kau tidak membutuhkan. Artinya, kau tidak akan hancur oleh sebuah absensi atas sesuatu karena kau tidak perlu. Malah kau akan menambah sesuatu."

"Tidak akan kudengar sekarang karena aku perlu waktu memahami. Semoga Kau memberikan kami semua kekuatan untuk mampu menolong diri sendiri."

Kulihat Ia tidak pernah sekecewa ini. CahayaNya agak redup kemudian menghilang. Aku beranjak dari kursi dan berjalan menuruni tangga. Kucari-cari sebuah presensi namun yang kurasa hanyalah sebuah malam yang lebih dingin dari biasa.

Catatan Pinggir: Backpacker Menuju Bali

Saya dan Eka memutuskan untuk menghabiskan tahun ini di Bali. Dengan total 8 hari liburan, 2 hari perjalanan, dan 1 hari pergi ke Lombok, kami menghabiskan 5 hari 4 malam.

Kami berangkat pukul 8 pagi dari Bandung dengan menggunakan bis Pahala Kencana seharga Rp325.000,00 dan sampai di Terminal Ubung Denpasar pukul 6 sore. Walaupun bisnya bersih dan nyaman, tetap saja membuat bokong kami kebas. Keesokan harinya, kami beli tiket pulang dengan bis yang sama seharga Rp350.000,00.

Ada penyangga kakinya dan jarak antar bangkunya pas. Hebat.

Sesampainya di bis, kami naik ojek seharga Rp40.000,00/orang sampai Poppies Lane II. Saat itu pukul setengah 7 malam, kami datang dalam keadaan celana yang basah karena kehujanan selama di atas motor dan belum berhotel. Setelah menemukan banyak hotel murah yang sudah penuh, akhirnya kami menemukan Dua Dara Inn seharga Rp150.000,00/kamar dengan fasilitas dua tempat tidur, kamar mandi dalam, dan breakfast. Lima puluh ribu lebih mahal dari budget awal. Tapi sejujurnya pada saat itu kami sudah lelah dan setidaknya kami sudah aman dapat penginapan.


Hari pertama, setelah pergi ke Terminal Ubung untuk beli tiket pulang, kami pergi ke Tanah Lot. Sejujurnya Tanah Lot ini dekat dari Kuta tapi berhubung kami ke Denpasar dulu, maka harus berputar jauh sekali. Peta yang sudah kami beli di kapal seharga Rp19.000,00 pun tidak terlalu membantu sehingga kami bertanya kesana-kemari menggunakan motor yang kami sewa Rp50.000,00/12jam. Di daerah Tuban, kami dibantu oleh seorang polisi yang ramah sekali. Dia bertanya, "Ini cantik-cantik pacarnya kemana?" Haha. Akhirnya, sampai di Tanah Lot dengan tiket masuk plus parkir Rp17.000/2 orang, kami menemukan tempat wisata ini penuh sekali. Sempat terjadi keributan karena ada seorang copet yang akhirnya tertangkap juga.

Bukan ini copetnya!

Bertanya-tanya, bagaimana mereka ke sana, ya?

Setelah dari Tanah Lot, kami nekat pergi ke Ubud. Bertanya ke penduduk sekitar dan mengetahui bahwa Ubud itu jauh sekali sempat membuat gentar. Saat di jalan, kami mampir dulu ke Taman Ayun yang tidak ada ayunan. Karena sudah kepalang setengah jalan, akhirnya kami nekat pergi ke Ubud. Wah, tempat ini nyeni sekali. Di sana kami berkunjung ke Monkey Forest yang tiket masuknya Rp20.000,00. Eka sempat protes karena dia takut monyet dan harus mengeluarkan uang banyak untuk uji nyali bersama monyet. Tapi kita sudah pergi sejauh ini, Eka. Rupanya kami tidak menjelajah seluruh area yang belakangan diketahui denahnya ada di brosur Monkey Forest karena sudah takut dengan monyet duluan.

Ya, ya ... di situ .. ah, enaknya ...

Konon kata orang makanan di Bali ini mahal. Tentu tidak jika kau belinya di pasar. Tips untuk para backpacker yang menekan budget sekecil mungkin, kalian bisa beli nasi bungkus yang cukup mengenyangkan Rp5.000,00. Waktu itu saya beli di pasar Sukowati saat dalam perjalanan dari Ubud menuju Kuta untuk makan malam di hotel. Rasanya kayak sampah. Tapi lebih mending dari malam pertama saat kami beli air panas seharga Rp1.500,00 per gelas untuk membuat Pop Mie yang sudah saya bawa dari Bandung.

Sepulang dari sana, kami pergi ke Gili Trawangan, Lombok (simak ceritanya di http://mynameisnia.blogspot.com/2011/01/gili-trawangan-dalam-satu-hari.html)

Hari ke dua di Bali, kami pergi ke daerah selatan yaitu Uluwatu. Sebelumnya setengah harian Kuta sempat hujan dan Eka sempat sakit sehingga kami berada di hotel hingga pukul 2 siang. Karena hari sudah kepalang mau sore, saya memutuskan sebaiknya kami pergi ke Uluwatu sekalian menyaksikan Tari Kecak yang biasanya ada saat matahari tenggelam. Berbekal motor dan jas hujan yang kami beli di Bandung, kami pergi ke Uluwatu. Perjalanan terasa ringan karena sebelumnya kami sudah pergi jauh sekali di utara.

Para ksatria berjas hujan


Di jalan Uluwatu, kami beli nasi pecel seharga Rp7.000,00. Sepertinya bisa dua ribu lebih murah, tapi karena tahu kami turis, maka kami dimahalin. Rasanya biasa saja tapi kami sudah lapar. Kami sampai di Uluwatu pukul setengah empat sore. Di sana hujan rintik-rintik. Padahal saya mengharapkan panas karena jika tidak ada awan mendung, maka sunsetnya akan jelas dan menonton Tari Kecaknya bisa yahud sekali. Saya kecewa berat karena Uluwatu ini jalannya jelek, becek, dan kotor sekali. Begitu berbeda saat saya beberapa tahun yang lalu ke sana. Dengan jas hujan, kami jalan-jalan bersama para monyet yang entah mengapa mereka saat itu sangat liar. Selain itu ada beberapa barang wisatawan yang diambil seperti topi, kacamata, bahkan sandal. Ini monyet apa maling?

Setelah membeli tiket untuk Tari Kecak seharga Rp70.000,00 (!!) kami mengambil tempat duduk yang paling tinggi. Ini sangat enak sekali karena jika ada orang yang membuka payung, setidaknya tidak terlalu blocking pemandangan. Tari Kecaknya bercerita tentang Ramayana yang sudah dibalut modernitas dan hiburan kepada para penonton. Klimaksnya adalah saat Hanoman dibakar oleh pasukan Rahwana. Sementara klimaks untuk Eka adalah melihat pria-pria bertelanjang dada. Haha.

Versi saya

Versi Eka

Hari ketiga, kami masih ke daerah yang sama yaitu GWK dan Pantai Jimbaran yang sama-sama di daerah selatan dan masih satu arah dengan jalan menuju Uluwatu. Masuk ke GWK Rp25.000,00 dengan sebuah perempuan berdada besar nan menganggu dan jutek--entah apa maksudnya. Hey, kami tidak iri dengan dadamu, wahai perempuan berkalung dada! Sepulang dari sana, kami pergi ke Jimbaran. Wah, di sini tidak terlalu ramai dan banyak keluarga bule yang makan di restoran pinggir pantai sambil menunggu matahari terbenam. Selain itu, pantainya bersih dan tempatnya nyaman.


Karena merasa tidak mampu untuk membeli seafood di sana, kami makan nasi dan ayam goreng di pinggir jalan seharga Rp11.000,00. RASANYA ENAK TENAN! Jujur, bukan karena lapar, tapi karena kering dan bumbunya gurih. Apa karena selama dua hari ini makan makanan basa terus?


Hari keempat, kami pergi Istana Tampaksiring di utara yang diakhiri kekecewaan karena sudah jauh-jauh ke sana tapi warga tidak bisa masuk pula. Diperlukan sebuah surat pengantar berkunjung dan pakaian rapi supaya bisa masuk. Kecewa dan menuju pulang, untuknya Eka melihat plang Pura Tirta Empul yang jaraknya hanya beberapa meter dari sana. Akhirnya kami masuk dengan harga Rp15.000,00/orang. Setelah berkeliling, kami berbelanja pernak-pernik keperempuanan. Mungkin saking kalutnya, Eka sampai kehilangan kacamata hitamnya di sana.

Peraturan Istana Tampaksiring

Sepulang dari sana, kami makan nasi plus ikan di Sukowati seharga Rp12.000,00. Lumayan enak. Sesudah makan, kami beli nasi satu porsi seharga Rp3.000,00 dan berencana membeli martabak asin di Kuta. Agaknya kami sudah enggan makan nasi campur, nasi pecel, atau nasi basa lainnya.

Hari kelima diawali dengan berenang di pagi hari yang airnya--entah kenapa--membuat mata saya blur untuk beberapa jam. Kami mengagendakan hari ini agak santai karena nanti malam kami mau tahun baruan untuk lihat pesta kembang api. Setelah berenang, kami menyusuri Pantai Kuta dan berencana hingga Legian (yang akhirnya tetap jadi rencana karena tidak kuat pula). Setelah jalan, kami pergi ke Denpasar untuk melihat Museum Bali yang ternyata tutup. Kecewa, kami berusaha mengejar sunset di Pantai Sanur yang ternyata di sana adalah tempat matahari terbit dan yang membuat kecewa lagi adalah Sanur sudah seperti Pantai Pangandaran yang banyak orang, banyak yang jualan, dan penuh dengan sampah! Tidak ada 5 menit kami di sana, kami pergi ke Pantai Nusa Dua dan berkenalan dengan salah satu marketing water sport-nya. Ternyata ada dua jenis pantai: pantai biasa dan pantai sport. Karena sudah pasti tidak akan olahraga juga, maka kami langsung ke pantai biasa.

Tempat di Nusa Dua ini enak sekali, saudara-saudara! Cottage dan resort-nya serta area yang dibatasi oleh satpam membuat lingkungan ini seperti perumahan beserta pantai pribadi. Saat sampai pantainya, wah, tidak banyak orang dan bersih sekali. Selain itu, tidak ada ombak sehingga sangat cocok untuk berenang. Saya agak menyesal tidak bawa baju renang dan tidak bawa baju ganti sehingga saya cuman bisa icip-icip di pinggir pantai, tidak bisa skin diving. Nusa Dua adalah pantai yang kami rekomendasikan jika kau akan ke Bali suatu hari nanti.


Malamnya, kami pergi pukul 8 lebih dari hotel dan menunggu tahun baru di McD Kuta Square hingga pukul sebelas lebih lima belas menit. Setelah itu, kami jalan menuju pantai yang sudah ramai dari kembang api sedari tadi siang. Jalanan Kuta sudah seperti Kota Kembang Bandung, dimana musik-musik beradu saling kencang, dan pantai sudah seperti diisi banyak anak kampung yang sibuk main kembang api dan petasan. He. Tentunya kejadian kembang api meledak di tangan pun tidak terelakkan.

Makannya pelan-pelan, biar gak diusir
Riuh rendah dan gegap gempita orang menyabut tahun baru membuat jalan pulang menuju hotel ini penuh sekali. Dari bule mabok, orang-orang yang siap dugem, dan orang daerah yang minta tebengan payung. Saat itu diguyur hujan dan jalanan menjadi becek. Belum lagi ada orang yang ribut karena dicopet, ada yang ribut karena dituduh pencopet, ada yang ribut karena bersenggolan tidak sengaja, daaaan drama lainnya. Kami bersyukur sekali bisa sampai di Dua Dara pukul satu lima belas. Edyan.

Besoknya kami ke Terminal Ubung menggunakan ojek hasil kenalan seharga Rp50.000,00 dan sampai Bandung hingga selamat. Di jalan, kami banyak tidur.

Liburan ini terasa sangat melelahkan karena mungkin ini adalah kali pertama kami tidak menggunakan jasa tours and travel. Kami jadi harus mikir mau kemana, makan apa, dan tidur dimana. Namun kelebihannya adalah waktu terasa lebih santai dan kami banyak sekali berkenalan dengan warga lokal, cocok untuk anak muda yang ingin berlama-lama. Jika ingin cepat, teratur, dan tidak terlalu melelahkan, sebaiknya menggunakan jasa tours and travel saja. Jangan lupa jika kau menemukan harga-harga di internet, dilebihkan Rp5.000,00-Rp10.000,00 sebagai harga high season dan harga turis. Budget kami jadinya melar karena hal tersebut tidak terantisipasi.

Selamat tahun baru!

Gili Trawangan dalam Satu Hari

Dalam liburan selama satu minggu di Bali (jurnal menyusul), saya dan teman saya, Eka, menyempatkan diri untuk loncat ke Lombok ala backpacker dalam sehari demi rasa penasaran. Hanya untuk mengecap pasir Gili Trawangan dan hanya untuk foto di plangnya sebagai tanda bukti pernah hadir di sana. Maka, ini adalah tanda matanya:

Gili Trawangan touchdown

Saya dan Eka berangkat dari Kuta di hari Minggu pukul 9 malam. Dari Kuta, awalnya kami mau naik ojek hingga Terminal Ubung, naik bis hingga Padang Bai, naik ferry, lalu estafet berbagai angkutan umum untuk mencapai Gili Trawangan. Namun hasil bertanya-tanya di terminal tentang bis yang langsung dari Terminal Ubung ke Mataram, membawa kami ke sebuah kemudahan. Kami kenal dengan penduduk lokal bernama Putu yang menawarkan jasa antar langsung dari Kuta ke Padang Bai dengan harga Rp100.000,00 per orang. Memang jika estafet angkutan seperti itu jadinya lebih murah, tapi karena berhubung kami pergi malam, maka kami memutuskan untuk menggunakan jasa Putu.

Perjalanan dari Kuta menuju Padang Bai sekitar satu setengah jam. Saat itu saya tertidur sampai saya terbangun di tempat yang penuh semak belukar beserta pria gagah yang sedang berdiri di depan saya dan bertelanjang dada. Bercanda. Ternyata saya sudah sampai di pelabuhan Padang Bai setelah dibangunkan oleh Eka. Dalam keadaan setengah sadar, saya disorientasi ruang dan kesulitan menemukan pintu masuk. Tapi saya cukup sadar untuk takut karena beberapa orang di sana terus memperhatikan kami. Saat itu pukul setengah 11 malam.

Harga tiket ferry--yang entah kapan berubah--menjadi Rp36.000,00. Kapal akan berangkat pukul 12 malam, jadi kami harus menunggu di pelabuhan. Untungnya di sana ada ruang tunggu dan ada beberapa orang yang sedang menunggu. Jujur, saya ngantuk sekali sementara situasi tidak aman untuk tidur. Untuk mengusir kantuk dan ingin ke kamar mandi, saya minta Eka mengantarkan. Saat di sana, kami berkenalan dengan sebuah keluarga asli Lombok yang bersedia diikuti hingga Mataram.

Jadi, sebenarnya mereka orang Lombok yang sedang berlibur di Bali. Sambil menunggu, kami mengobrol dengan mereka. Selain itu mengetahui apakah mereka bisa dipercaya, kami pun harus menumbuhkan rasa percaya bahwa kami tidak akan merepotkan. Ternyata mereka baik sekali dari kami menunggu kapal, masuk, hingga duduk bersama di dalam kapal. Selain itu, kami ditawari roti pula untuk mengganjal perut. Sementara itu salah seorang dari mereka menyarankan kami untuk turun di dekat rumahnya di daerah Cakra dan naik angkutan dari situ. Kami nurut saja.

Di internet, kami menemukan informasi bahwa orang-orang di sana kurang ramah. Benar saja. Saat kami menginjakan kaki di Lombok (kapal berangkat pukul 1 pagi dan kami sampai di Pelabuhan Lembar pukul 5), terjadi adu mulut antara pemilik angkutan karena rebutan penumpang. Saya dan Eka hanya nonton saja sementara keluarga Lombok ini berada di lini terdepan. Untunglah, karena selain ada mereka, rupanya jika subuh begitu, belum ada angkutan di Pelabuhan Lembar. Jadi, untuk kalian yang mau ke Lombok, sebaiknya berangkat subuh dari Padang Bai sehingga sampai di Lembarnya pagi dan ada angkutan.

Kami diberi harga Rp15.000,00/orang untuk sampai Cakra. Sampai di Cakra, kami dicegatkan angkutan umum yang isinya ibu-ibu dengan belanjaannya hingga Pasar Kebon Rewu. Harga angkotnya Rp3.000,00. Rupanya dari sana, tidak ada angkutan menuju Pelabuhan Bangsal. Maka dengan diantarkan supir angkot, kami diantarkan ke tempat angkotnya berada. Biayanya Rp3.000,00 pula. Setelah sampai di tempat angkot selanjutnya, kami dikenalkan oleh seorang kenek tua yang biasa nongkrong di situ yang bertugas untuk menunjukkan angkot selanjutnya. Setelah menunggu lama, akhirnya datang yang dimaksud. Sebuah elf yang berbiaya Rp10.000,00 hingga Pelabuhan Bangsal.

Perlu diperhatikan: kenek tidak akan bilang 'Bangsal' melainkan 'Pemenang'. Jadi, rutenya elfnya tidak ke Bangsal melainkan ke Pemenang. Nah, kita berhenti di situ lalu naik cidomo (delman) seharga Rp3000,00. Saat itu kami melewati Pemenang jauh sekali sehingga harus balik lagi. Selain itu, harga cidomo harusnya seribu lebih murah.

Orang-orang di sana pakai sarung seperti ini


Angkutan yang membawa kami balik ke Pemenang


Cidomo yang bisa meminta Rp10.000,00. Jangan mau!

Sampai di Pelabuhan Bangsal, kami membeli tiket menyebrang ke Gili Trawangan sebesar Rp10.000,00. Kapal berangkat jika sudah penuh sehingga kami menunggu. Sambil menunggu, saya dan Eka makan nasi bungkus yang enak sekali seharga Rp5.000,00. Sambil makan, kami berkenalan dengan dua orang pemuda lokal yang menawarkan menjadi guide tanpa dibayar. Selain itu, dia mencoba mempersuasi kami untuk menginap di tempatnya. Kami tanggapi saja, tapi tetap saja harus hati-hati.


Bersama sayur mayur

Menginjak Gili Trawangan, kami agak kaget menemukan pantai ini kotor sekali. Di dekat pintu masuk, banyak barang-barang dagang yang baru diangkut dari Lombok. Selain itu tamu harus lapor di sebuah tenda dimana para petugas berada. Kami harus memperlihatkan KTP dan memberitahu apakah kami menginap atau tidak. Jika tidak menginap, biaya retribusinya Rp1.000,00/orang. Sementara si pemuda itu mengajak kami ke kost-kostannya, kami menolak dengan alasan akan melakukan snorkeling. Maka, dengan waktu yang sempit, kami bergegas mencari penyewaan snorkel seharga Rp30.000/orang sudah termasuk goggle, mask, dan fin.


Yang jaga namanya Edi. FYI :)

Kami hanya melakukan skin diving di daerah pesisir pantai saja. Sayangnya, terumbu karangnya kurang begitu bagus, tapi masih banyak ikan warna-warni dan sebuah bintang laut berwarna biru. Karena saya takut berada di laut dalam, saat Eka mengajak ke tempat dalam, saya menolak. Saya masih belum bisa berhadapan dengan warna air laut yang semakin gelap, suhu yang semakin dingin, dan dasar yang semakin menjauh. Setelah Eka eksplor sendirian, ia melaporkan bahwa di sana tidak ada apa-apa selain pasir saja.

Sebetulnya tidak adil jika mengatakan bahwa area snorkeling/diving-nya tidak bagus karena kami hanya melakukan di area tertentu. Mungkin, entah di bagian mana yang belum kami jamah, ada tempat yang bagus. Mungkin.


Jalanan di Gili Trawangan

Kami berenang dan jalan-jalan di pinggir pantai selama kurang lebih 3 jam. Setelahnya kami mandi di toilet umum seharga Rp3.000,00 dengan air yang asin. Setelahnya, kami membeli tiket menyebrang dengan harga yang sama dan naik angkutan yang sama menuju Lembar. Sayangnya, pada saat menuju Pelabuhan Lembar, kami ditipu oleh supir angkotnya. Kesepakatannya sih Rp10.000,00/orang tapi ia tidak mengembalikan uang kembalian sebagaimana seharusnya. Selain itu, saat kami mau turun dari angkot, ada tiga orang pemuda yang berbadan tinggi besar yang menawarkan tiket ferry menuju Padang Bai dengan teriak dan memaksa. Tiketnya disodorkan langsung di muka Eka sambil berkata, "INI JUGA TIKET ASLI. HARGANYA SAMA!" Jadi, walaupun kata mereka asli dan harganya sama, tetaplah beli tiket di tempat yang seharusnya.

Berdua dengan Eka agak seram juga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika hanya perempuan sendirian yang pergi ke sana. Pengalaman ini membikin saya semakin peka terhadap dualisme baik dan buruk pada diri manusia. Terima kasih untuk para supir angkot yang sudah dengan baik hatinya membantu perjalanan kami, dan tentunya untuk keluarga Lombok yang merelakan kami masuk dan membagi makanannya. Tidak satupun kami tahu namanya.

Saya akan tulis tips dan harga perjalanan di Bali selama beberapa hari. Untuk melihat tulisan lainnya mengenai jalan-jalan, silahkan berkunjung ke:



Selamat jalan-jalan!

Balada di Tengah Laut

Nyatanya, dia perlu tahu bahwa ia yang aku pikirkan saat aku terombang-ambing di lautan. Saat itu pukul dua pagi, laut sedang pasang dan ombak menjalar liar kesana kemari. Aku, yang ada di dalam kapal Gayatri, menuliskan hal ini di dalam sebuah buku kecil yang selalu kubawa kemana-mana. Saat itu aku berpikir bahwa jika aku mati tenggelam, mungkin seseorang bisa menemukan buku tulis ini dan meraba-raba kata-kata yang dituliskan tinta yang telah luntur. Orang itu perlu tahu bahwa ada orang lain yang pernah sebegini merindu.

Saat itu kucoba larikan pikiran sadar ke alam tidur, berharap di sana aku bertemu sebuah rahim yang anehnya diberi oleh seorang pejantan dengan rasa aman dan nyaman, dan terkadang menjadi tempatku untuk jatuh lunglai dalam kegilaan yang nikmat. Harusnya saat terakhir sebelum aku pergi, aku meminta untuk bertemu dengannya di ujung pelabuhan Padang Bai sehingga aku bisa memotret imajinya lalu kusimpan rapat-rapat di dalam laci memori agar bisa kupinjam imajinya disaat-saat kritis seperti ini. Kini aku lupa pakaian terakhir yang ia kenakan.

Kukerjap kedua mataku yang basah. Kerinduan ini begitu melenakan.



Lombok, 27 Desember 2010