Belajar Mendengarkan

Hari Minggu (27/01) adalah hari dimana saya tepat berusia 24 tahun 1 bulan. Saya memutuskan untuk menghabiskan sore bersama Klab Klassik di Tobucil. Karena agendanya adalah peserta boleh datang dengan lagu favorit dan akan dibahas oleh narasumber musik, maka saya tertarik. Mungkin kalau temanya main musik klasik atau bahas hal-hal keklasikkan lainnya, saya tidak akan tertarik karena ... aduh, itu jauh diluar nalar saya. Saya ingin tahu apa kata narasumber tentang musik-musik di luar klasik.

Setelah banyak memilih, akhirnya jatuh pada Daft Punk - Something About Us. Seperti yang sudah saya duga, dari sekian lagu yang akan saya bawa, saya akan memilih ini sebagaimana saya memilihnya pertama kali. Saya suka lagu ini semenjak awal saya mendengarkannya. Menurut saya, lagu ini manis.

Bandung agak kurang seru karena saat itu hujan. Saat saya datang, pertemuan belum dimulai hingga waktu menunjukkan sekitar pukul setengah empat. Di sana saya bertemu Marty, teman menulis saya di writer's circle yang sudah lama menyamankan diri di Tobucil. Setelah proses salin menyalin lagu, akhirnya pertemuan di mulai.

Bagaimana urutan dan apa yang terjadi, bisa dicek di blog-nya Tobucil. Setelah 10 musik dari death metal hingga Kerispatih, moderator bertanya bagaimana kesan yang saya dapat (terutama ini pertama kali saya datang ke Klab Klassik), saya menjawab, "Di sini kayak uji ketahanan ya? Terutama saat kita harus duduk dan mendengar (terutama) musik yang tidak sesuai dengan selera tapi kita harus duduk, tidak beranjak, dan mendengarkan."

Kesan saya sangat baik terhadap aktivitas Klab Klassik namun jujur, saya sakit kepala setelahnya. Saat itu kita disuruh fokus mendengarkan, mencermati segala kesan yang kita tangkap di setiap 10 lagu (active listening), sampai-sampai saya enggan mendengarkan lagu lagi. Kesakitkepalaan ini berlanjut hingga rumah. Wah--saya pikir--ternyata mendengarkan baik-baik itu bukanlah hal yang mudah, apalagi sebenarnya batas konsentrasi manusia itu cuman beberapa menit.

Saya merasa sinaps-sinaps di otak saya ini semerawut dan sulit diluruskan dengan mendengarkan lagu Glee atau Kerispatih sekalipun. Maka, sepulang dari klab, saya langsung tidur sambil membekap kepala saya dengan bantal. Saya tidak mau mendengar suara.

Saya melihat dinamika orang itu lucu ketika mendengarkan musik yang jauh dari seleranya. Misalnya ada yang merasa gelisah atau terganggu ketika mendengarkan musik death metal, ada yang merasa bosan dengan musik electronic pop, dan lainnya. Ah, selera, kadang label itu menjadi harga mati dan mematikan jalannya sebuah diskusi saja.

Jurnal Kecemasan

Saya melewati beberapa hal menarik di minggu ini. Pertama, saya datang ke kelas filsafat untuk pemula di Tobucil yang sudah saya tunggu-tunggu setelah sekian lama karena membahas topik yang menarik: mitos. Saya suka mitos tapi tidak tahu apa-apa tentangnya. Bagaimana seseorang bisa suka pada sesuatu yang tidak diketahui? Banyak pengetahuan yang saya dapat tapi tidak akan saya tuliskan di sini karena terlalu banyak dan saya terlalu malas menuliskannya. Mitos, yang merupakan hasil proyeksi manusia terhadap model ideal, mungkin terjadi saat manusia memperhatikan kehebatan alam dan merasakan sebuah ketergetaran. Misalnya manusia mengkreasi sebuah cerita saat ia melihat petir yang menggelegar. Oh, ya ampun, akhirnya saya menuliskan juga.

Lalu ... lalu apa? Tidak ada. Jadi saya hanya melewatkan satu hal menarik di minggu ini.

Saat Sabtu pagi sampai siang, saya pelatihan bersama Pak Fidelis Waruwu yang semoga saya selalu ingat kata-kata dan berdoa agar suatu hari saya bisa sepertinya. Sabtu siang hingga menjelang sore, saya mencoba tidur siang, lalu Sabtu sore menuju malam, saya menghabiskan waktu di writer's circle yang mulai membosankan tapi saya berjuang untuk tidak menunjukkan. Sabtu malam hingga malam lagi, saya dan Sapta makan di Cabe Rawit yang entah kenapa saya kehilangan selera makan hingga Minggu siang ini. Teman saya itu banyak cerita tentang pekerjaannya dan mengingatkan saya pada pekerjaan saya, tentang masa depan saya, tentang kecemasan saya, tentang mimpi-mimpi saya, dan tentang hal-hal yang ingin saya lupakan. Dan siang ini, saya tiba-tiba teringat bahwa tadi malam, saya melihat makhluk ini di depan pintu.


Saya mencoba mengacuhkannya tapi ia terus mengikuti saya hingga kamar. Lalu saya mandi, lalu saya memakai pakaian tidur, lalu mematikan lampu (saya tidak bisa tidur jika lampu menyala), dan saya beringsut masuk ke dalam selimut. Maka saat itu ia loncat dari lantai dan berdiri kaku di ujung tempat tidur, memperhatikan saya yang terlalu lelah dan tidak bisa mengurus hal-hal seperti ini.

Lalu paginya saya terbangun, menemukan dua jejak biru di lengan saya yang jika dipencet, sakit rasanya. Agak menyesal kenapa saya mengacuhkannya. Mungkin jika saya ajak dia ngobrol, saya dapat pencerahan.

Semuanya jadi terlalu random. Semoga kau bisa membaca jurnal ini. Saya .. sangat .. cemas.

Untukmu


Nah, kalau kamu sih perlakuannya beda. Meski sama-sama harus keluar, kamu enggak akan aku tarik paksa lalu aku tendang setelahnya. Kalau kamu akan aku gandeng tangannya, berjalan ke arah pintu keluar sambil mengobrol tentang keseharian. Setelah di ambang pintu, tidak akan kututup pula pintunya. Malah akan aku antar ke ruangan lain dimana kamu pertama kali berasal: teman.

Tugasku sudah selesai.

Ketidaktahuan

Bumi terus berputar. Dunia berkembang pesat. Manusia terus berbicara apa yang mereka pikirkan. Konflik dengan diri, dengan sesama manusia, dengan Tuhan, ternyata tidak juga terhindarkan.

Dunia kerja menyebalkan. Orang dewasa apalagi. Konstruksi sosial pun mulai menuntut. Pacar selingkuh. Beberapa orang mulai mengeluh. Hubungan pertemanan yang merenggang.

Di saat seperti ini, ketidaktahuan terkadang menjadi hal yang baik. Tutup mata, tutup telinga, matikan semua perasa, pura-pura tidak tahu saja. Biar benang maya terus kusut di luar sana karena beberapa masalah mungkin tercipta untuk tidak diselesaikan dan tidak dipikirkan.

Kau tidak perlu tahu semua hal di dunia. Tidak tahu sesuatu kadang lebih baik ketimbang tahu.

Ignorance is bliss.

Walau ke Ujung Dunia

Semalam (14/02) Andika, Neni, dan saya pergi ke Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) untuk menghadiri acara Baladawai Soundversation. Dua artis ternama yang menjadi bintang tamu adalah Maya Hasan dan Tohpati. Acara ini diselenggarakan oleh mahasiswa pendidikan Seni Musik angkatan 2007 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Wah, agak bangga juga saya sebagai almamater UPI karena kampus bisa mengadakan acara sebesar ini dan bisa mendatangkan artis sebesar itu.

Awalnya saya tidak tertarik amat untuk datang, tapi Neni mempersuasi saya untuk ikut karena dia ingin melihat Maya Hasan. Gimana nanti deh--pikir saya--karena saya pun punya rencana lain. Tapi--pikir saya lagi--ini adalah kesempatan saya, setelah sekian lama, nonton konser musik bersama teman-teman. Sekali mendayung dua tiga acara terlampaui. Setelah datang ke acara lain, akhirnya saya datang juga di Baladawai Soundversation ini.



Acara dibuka dengan lagu Anak Jalanan yang diaransemen oleh Basscom. Basscom itu adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UPI. Baik tapi tidak ada yang istimewa dari pertunjukkannya. Lalu acara dilanjut lagi dengan Berto Pah, seorang pemuda asal Kupang - NTT yang membawa alat musik Sasando dan mencoba memainkan lagu Lilin-Lilin Kecil. Mengapa mencoba? Karena saya dan Neni tidak bisa melihat nada lilin-lilin kecil yang kami ketahui dalam aransemen baru lagu ini. Saya agak simpati dengan Berto Pah yang mungkin sudah jauh-jauh dari NTT tapi performanya kurang maksimal dan kendala teknis yang makin memperburuk tampilannya.

Catatan untuk pihak soundsystem: Kendala teknis dalam acara ini secara signifikan menganggu.



Walau dengan sentuhan musik baru seperti keroncong atau gitar cadasnya Agung Burgerkill, lagu-lagu Chrisye lain dimainkan ulang dengan biasa. Namun dari semua itu, saya paling suka ketika Maya Hasan mulai mengiring lagu Seperti Yang Kau Minta. Sayangnya, Maya Hasan--yang saat itu memakai dress merah dengan harpa merah--tidak berperan sebagai pemain utama (hanya pengiring saja), tapi saya cukup puas dengan Orkestra Bumi Siliwangi dan vocalist yang bisa membawa emosi sedih lagu ini.


Akhirnya Tohpati Trio (Tohpati, Indro Hardjodikoro, dan Demas Narawangsa) menutup acara ini dengan empat lagu. Lagu Janger dan Gembala betul-betul membuat penonton terkesima dibuatnya. Mereka "seolah-olah" saling adu memainkan alat musik (jam session), sambil tertawa-tawa di atas panggung, mereka menularkan emosi senang dan seru ke penontonnya. Jelas dengan Kemampuan Tohpati dan Indro, saya terkesima dengan kemampuan drum Demas Narawangsa.

Sungguh, Tuhan menganugerahkan kemampuan pada manusia agar musik bisa berbicara melalui jemarinya. Telinga saya betul-betul dimanjakan.

Setelahnya, mereka dan Orkestra Bumi Siliwangi membawa suasana megah dalam hati penonton dengan lagu Mahabarata. Namun kemegahan ini tidak berlangsung lama karena acara ditutup dengan lagu Negeriku (dinyanyikan oleh semua penyanyi yang mengisi acara) yang mengingatkan saya pada acara hari kemerdekaan yang biasa dipasang di televisi swasta. Sebuah anti-klimaks.

Jelas. Saya adalah penonton yang rewel dan sulit terpuaskan.

Lepas II

Dalam tulisan kali ini, rupanya saya harus berterima kasih kepada ibu saya karena telah mengajarkan saya tentang merelakan dan memaafkan orang lain. Tiba-tiba saya ingat pada tulisan saya. Kira-kira begini:

Kedua orang tua saya masih ada di dunia. Kematian yang paling menyakitkan yang pernah saya alami dan menimpa orang terdekat adalah kematian kakak tertua ibu saya. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ingat sekali saat saya masih kelas empat. Itu adalah satu-satunya kematian yang membuat saya menangis setulus-tulusnya, yang menyesakkan dan mengguncang kedua bahu saya sehebat-hebatnya, bukan nangis pura-pura atau ingin masuk ke dalam lingkungan duka saja.

Tidak terbayang jika kehilangan paling dekat karena saya belum pernah merasakan. Mungkin hati ini rasanya seperti dijejali ribuan jarum, lalu lama kelamaan waktu membuat kita lebih bijak sehingga kita baru bisa rela. Sepertinya, karena Tuhan tahu sakitnya ditinggalkan--untuk melatih manusia belajar melepaskan di hari nanti--ia sengaja membuat kejadian-kejadian yang membuat manusia kehilangan hal-hal kecil misalnya hilang uang, hilang barang kesayangan, hilang seseorang.

Bukan, bukan berarti orang itu ke alam baka, tapi kualitas keadaan psikologisnya tidak sebesar yang lalu sehingga kita harus belajar bahwa perasaan orang lain bisa meluruh dan di saat yang bersamaan kita harus melepaskan, kita harus bisa merelakan.

Maka, untuk melatih kehilangan yang sangat besar di suatu hari nanti, saya harus belajar melepaskan sekali lagi. Membiarkan hal yang selama ini saya pegang dan saya yakini untuk terbang melayang.


mohon agar saya jangan dibawa ke tempat dimana dulu saya berjuang setengah mati supaya bisa keluar


Tentunya saya tidak akan membebat seseorang untuk bisa tinggal bersama saya, merantai kedua kakinya lalu menjangkar di hati saya agar tidak bisa kemana-mana. Dan bagi saya, kata-kata yang saya kutip itu seperti doa: harus berulang agar kejadian.

Lepas, lepaslah kawan. Relakan hal-hal yang sudah kadaluarsa. Daripada kau menyimpannya dan membuat dirimu sendiri sakit.

Kalau saya harus melepaskan satu balon lagi, maka itu tidak mengapa. Karena mungkin hidup memang begitu adanya.

Manusiawi

Iseng, saya cari di internet tentang manusiawi. Menurut KBBI, manusiawi adalah bersifat manusia (kemanusiaan): hal itu terjadi karena kesalahan -- saja. Maka, kalau boleh saya intepretasikan, maka manusiawi itu hanya dimiliki oleh manusia yang berbuat salah.

Jadi, kalau orang menyalahkan orang lain karena suatu masalah dan memuji diri karena suatu keberhasilan, maka namanya manusiawi karena begitulah sifat manusia. Tapi kalau orang yang melakukan derma--agaknya jarang dinamakan manusiawi karena, ya tadi, label manusiawi baru dikemukakan saat terjadi karena kesalahan.

Kadang istilah manusiawi menjadi pengecualian sendiri terhadap sebuah kesalahan. Contoh seperti yang ada di gambar ini yaitu ada seseorang yang menguap karena mengantuk/bosan. Itu tidak apa-apa karena itu manusiawi. Tapi bukankah seorang prajurit seharusnya selalu sigap dan terjaga? Bagaiaman jika musuh datang saat kondirinya tidak sigap? Ah, tapi tidak apa-apa, toh namanya manusia dan mengantuk itu manusiawi.

Padahal istilah untuk sebuah kesalahan itu diberi nama "setani" saja. Kasihan manusia, belum apa-apa kok sudah dicap salah.

Mengkritisi juga manusiawi kok.

Random

Paving block. Hujan. Lembab. Saya takut ini membubarkan rencana menulis lalu hewan-hewan akan berebut masuk ke kandang yang luasnya tidak seberapa, lalu mereka akan berhimpitan, lalu para kijang akan saling menyakiti karena tanduknya saling menggores tidak sengaja. Lalu si babi, babi yang jorok itu, akan semakin jorok karena kandangnya becek padahal mungkin dia senang-senang saja karena bahkan babi memakan tinjanya sendiri. Babi memakan apapun!

Teringat dengan seorang teman yang pernah diancam dirinya akan dicacah lalu cacahannya diberi ke babi. Diam-diam di dalam hati kuamini karena dia itu sialan sekali.

Menulis. Menulis. Menulis. Kini apalagi yang harus kutulis sementara si monyet bergondok itu terus berisik, menjerit, dan mungkin menertawakan monyet-monyet yang ada di depannya yang membawa kamera. Dia pasti mengkomunikasikan sesuatu. Mungkin ia rindu dengan monyet bernama Isabela saat ia masih berada di Kalimantan. Isabela adalah nama pemberian orang luar negeri yang mengkonservasi dan berdedikasi pada kelestarian primata. Pasti namanya Bella. Bella Swan.

Sebetulnya Bella Swan mengingatkan pada film Twilight yang dicaci maki oleh kelompok kami. Padahal tidak boleh begitu karena semua hal ada pasarnya dan kami harus menonton yang sesuai pasar kami.

Hujan. Tolong jangan hujan. Nanti Neni bisa semakin galau. Segalau Bekantan, si monyet cantik berhidung mancung yang berada di pojok dengan mata yang menerawang sambil membawa sepotong pepaya di tangan dan mengunyahnya dengan dramatis. Kunyahan membuat aku teringat dengan Neni yang mengaku tidak pernah mengunyah makanan yang masuk mulut, layaknya buaya yang kulihat di sini. Dia terdiam kaku, berjemur sampai kulitnya pecah-pecah juga tidak peduli di sekitarnya banyak sampah.

Aku mau itu, perahu merah itu yang mengelilingi danau buatan yang luasnya tidak seberapa. Agak miris karena mengingatkanku bahwa tahun ini aku tidak akan liburan demi pencerahan masa depan.

Cerah. Mudah-mudahan hari ini cerah dan tidak hujan. Hujannya nanti pada saat kami makan saja, Tuhan. Kalau hujan, semuanya orang di sini akan berlarian, seperti semut yang sedang asik mengerubungi makanan namun karena satu sentuhan, mereka berlarian. Semua tukang pun akan berlarian dari tukang kacang, tukang topi singa, dan tukang balon cair.

Tunggu, aku mau balon itu! Balon cair mengingatkan pada keceriaan di hari Minggu!

Minggu. Minggu besok aku harus ke Jakarta, saudara menikah di sana. Sabtunya ada yang lamaran. Eh, tunggu, kenapa orang tampak terburu-buru?





Latihan menulis dari http://rlwriterscircle.blogspot.com/2011/02/stream-of-consciousness.html

Pengumuman: Dilema

Saya akui bahwa semenjak SMP saya itu internet freak. Saya bisa berlama-lama di depan internet, menghabiskan banyak waktu, dan banyak uang untuk internet. Apalagi dengan adanya social network seperti Friendster, Live Connector, Blogspot, Multiply, wah ... saya sering update hal personal tentang saya dan menjadi tidak lebih dari attention whore.

Sampai sekarang. Facebook dan Twitter.

Namun agaknya saya mengalami sebuah kesalahan. Saya lupa itu adalah tempat umum yang terbalut dalam dunia maya yang dibaca oleh banyak orang. Saya terlalu terbuai oleh nikmatnya menyalurkan perasaan melalui kata-kata dan dengan GR-nya saya yakin bahwa saya punya niat baik yaitu berbagi pengalaman keseharian dengan orang lain. Padahal siapa juga ya mau dibagi, ya?

Saya lupa bahwa kata-kata begitu mencerminkan kepribadian seseorang. Medianya ya brand yang sebut di atas tadi. Saya lupa bahwa orang lain itu begitu sok tahu dan judgmental. Hih. Serem.

Tapi apa yang seharusnya saya tuliskan? Informasi tentang Green Peace? Update film terbaru? Politik tanah air? Atau hal-hal lain yang sifatnya pengumuman kaku dan tidak personal?

Ah, bagi pembaca yang mungkin tersambung dengan saya melalui media di atas, sementara ini saya akan kembali ke hal yang lebih manual: menulis buku harian. Dan blog ini akan saya isi dengan karya fiksi dan/atau tulisan semacam review saja.

Phew.