Anak Tani Mengembara ke Kota

Semalam adalah hari yang membahagiakan bagi saya karena ketika saya merindukan datang ke pameran seni, Andika mengajak saya untuk pergi ke Selasar Sunaryo. Sebelumnya saya agak clueless tentang jadwal pameran di Selasar Sunaryo karena saya merasa akhir-akhir ini jarang menerima/mengetahui undangan. Andika bilang bahwa Selasar Sunaryo memang sedang jarang mengadakan pameran.

Pameran itu berjudul Mesin Jawa: Babad Keluarga (Java's Machine: Family Chronicle), sebuah pameran instalasi karya Jompet Kuswidananto. Ia mencoba menggambarkan masyarakat Jawa ketika pertama kali mendapatkan modernisasi dan globalisasi dengan masuknya mesin-mesin ke tanah Jawa. Seperti yang dikatakan kuratornya, Agung Hujatnikajennong, selain menerima, masyarakat Jawa juga harus bertahan dari sikap puritanisme dan bentuk-bentuk hagemoni melalui pemaksaan kehendak, paham, standarisasi, dan sebagainya.



Pilar-pilar tanpa dinding mengajak para pengunjung untuk masuk ke dalam konfigurasi ruang yang sekat batasnya sengaja dihilangkan.



Ditulis begini: "Dalam Phantasmagoria, 'serdadu-serdadu hantu'--sejumlah 'manusia-tanpa-tubuh' yang berbaris, memukul drum, dan mengenakan kostum menyerupai seragam bregadha Kesultanan Yogyakarta--dihadirkan sedemikian rupa untuk menegaskan bentuk dan hubungan antara sinkretisme dan kolonialisasi."

Seperti yang diketahui, sinkretisme adalah paham (aliran) baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham (aliran) yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan, dan lainnya. Jika paham lama adalah sorban di kepala dan paham baru adalah sepatu modern kanvas bertali di kaki, mungkin perpaduan yang dilihat di atas ini adalah sebuah aliran baru.



Karya Jompet ini terinspirasi dari syair Caping Gunung (1975) yang diceritakan oleh Gesang. Dalam narasi pertama, syair berbahasa Jawa ini berkisah tentang kerinduan seorang bapak terhadap anak laki-lakinya yang tak berkunjung pulang. Dalam narasi kedua, sang anak digambarkan sebagai sosok yang juga merindukan ayahnya namun belum bisa pulang karena perang belum usai. Syair aslinya kira-kira begini:

dek jaman berjuang / ketika jaman(ku) berjuang
njur kelingan anak lanang / teringat aku pada anak laki-lakiku
biyen tak openi / kurawat ia
ning saiki ana ngendi / tapi sekarang ia ada dimana?



Ngomong-ngomong tentang Caping Gunung, ini juga menjadi inspirasi Ayu Utami membuat teks untuk pembukaan pameran pada malam itu. Jika Caping Gunung berkisah tentang ayah dan anak, maka Ayu Utami menempatkan posisi sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya. Dengan kebaya merah dan beberapa lembar kertas, ia membacakan teksnya seolah-olah sedang bermain peran: ia adalah seorang ibu dari anak yang hilang yang mungkin usianya sudah sebesar Jompet dan mengidentifikasi Jompet seperti dirinya (yang berasal dari kampung dan tidak tahu apa-apa). Ibu ini menunjukkan kepolosan orang kampung yang sama sekali tidak tahu tentang seni dan bingung jika disuruh memberikan komentar di pameran yang biasanya satu barang dijual seharga ratusan juta yang mungkin tidak pernah lihat uang sebanyak itu. Perempuan ini juga melihat kemurnian dari Jompet yang harus dijaga, seperti kemurnian air sungai yang bisa berguna untuk banyak orang.


Ini sebenarnya alasan utama kenapa saya datang ke pameran ini.

Memperpendek Jarak

Saya mesti mengamini tulisan teman saya yang berjudul Drop Expectations. Terkait dengan tulisan saya sebelum ini (Menulis), agaknya saya harus pintar-pintar menurunkan harapan dan memperpendek jarak 'diri saya sekarang' (real self) dan 'diri yang saya inginkan' (ideal self). Gap atau jarak ini nih yang biasanya bikin orang menjadi gila.


Ini bukan berarti saya tidak boleh berharap. Menurut saya, berharap itu perlu. Harapan bisa menjadi sebuah tujuan atau standard dimana saya mau menempatkan diri saya nanti. Namun jika ketinggian dan terlalu dipikirkan, tidak baik juga. Saya hidup di sekarang (present). Saya tidak hidup di masa lalu (past) dan di masa depan (future). Jadi, betul, lepaskan sedikit tali kekang pada diri sambil melakukan hal yang terbaik karena untuk merubah masa lalu dan masa depan adalah sekarang.

Menulis

Saya mau bercerita tentang dunia menulis karena ini mulai agak menyesakkan.

Dalam menulis, saya banyak sekali mendapatkan dukungan, baik dari keluarga, teman, dan bahkan orang yang tidak saya kenal. Misalnya ada yang tiba-tiba mengirim email untuk bercerita kebermanfaatan tulisan saya (artikel) dan memberi semangat untuk terus produktif dalam menulis. Mendapat umpan balik yang baik membuat saya yakin bahwa saya memiliki minat dan bakat di bidang menulis.

Saya baru sadar bahwa sedari kecil saya suka menulis. Tidak hanya diary, tapi juga cerita pendek. Tulisan-tulisannya masih banyak terpengaruh oleh komik horor jepang. Semenjak kenal novel bagus, saya mulai meninggalkan komik. Kini tulisan saya terpengaruh oleh Sapardi Djoko Darmono dan Ayu Utami. Sapardi mengajarkan saya untuk menulis sederhana namun bermakna, tanpa kata-kata njelimet agar terkesan pintar (diamini oleh Remy Sylado yang berkata bahwa orang pandai adalah orang yang menjelaskan sesuatu menjadi sederhana). Ayu Utami mengajarkan tema sosial yang sebetulnya saya minati sedari dulu.

Pernah dikirimkan ke penerbit, ke koran, dan ke lomba, tapi pun pernah tidak ditolak. Sementara itu saya mulai ikut komunitas menulis yang akhirnya membawa saya ke sebuah jaring laba-laba besar yang setiap sudut jaringnya saling terkait. Saya jadi banyak kenalan. Namun dirasa komunitas pun tidak membawa saya kemana-mana, hanya sebuah keyakinan bahwa saya hanya mampu saja namun produk akhirnya tidak ada.

Ini dia. Produk ini yang saya cemaskan. Agaknya istilah penulis baru sah dipakai jika saya sudah membuat sebuah produk, misalnya buku, sudah diterbitkan di koran atau majalah apa, atau menang di sebuah ajang yang sangat besar. Ibarat istilah doktor baru sah jika orangnya sudah mengeluarkan disterasi.
Selain itu saya juga merasa mimpi dan potensi yang ini harus terlaksana dan tidak boleh terbengkalai seperti halnya dalam musik. Ini harus terwujud. Karena saya tidak mau bangun di suatu pagi lalu saya menyesal kenapa saya tidak memperjuangkan mimpi saya dan ternyata semuanya sudah terlambat (atau lebih baik terwujud sedari dulu).

Lama-lama kelihatannya saya jadi ambisius dan jadi meletakkan beban di pundak sendiri. Sangat jauh dari niat awal saya menulis. Ini jadi tidak menyenangkan.


Pemakluman

Agaknya saya punya standar "manusia dewasa" yang tinggi. Untuk saya katakan dewasa, seorang manusia tidak harus memiliki umur yang besar, tapi harus memiliki kualitas ini ini ini dan itu itu itu. Karena menurut saya, dewasa bukan kuantitas, melainkan kualitas.

Hari ini saya mau berbicara tentang kualitas. Saya lupa dengar dari siapa, tapi katanya orang dewasa itu tidak meminta pemakluman. Sebaliknya, orang dewasa itu harusnya memaklumi, memahami, atau mengerti. Memaklumi siapa? Mungkin memaklumi orang yang lebih muda (remaja) karena mereka belum memiliki jalan pikiran yang stabil dan memaklumi orang yang lebih tua karena jalan pikiran sudah membatu adanya (rigid). Manusia dewasa, yang harusnya memiliki value (nilai) atau prinsip, lebih fleksibel dalam menjalani hidup. Fleksibel itu maksudnya ada kompromi dalam pikiran yang disesuaikan dengan masalah yang dihadapi.

Saya setuju sekali ketika teman saya, Sapta, mengajarkan saya untuk bisa memaklumi orang tua. Dia menganalogikan dengan batu tapi saya lupa. Intinya adalah justru kita--manusia dewasa--aneh jika minta pemakluman dari orang tua. Sama anehnya seperti kakak sepupu saya yang sedang stres lalu meminta pemakluman dari anak berusia empat tahun (dia sadar dan dia mengakui kesalahannya. Hebat.)

Namun pada kenyataannya, ah, kadang yang saya harapkan itu tidak saya dapat dari orang-orang yang awalnya saya anggap dewasa.

Beberapa orang yang lebih tua dari saya menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Oke, saya dengarkan karena mungkin saya bisa belajar sesuatu dari pengalaman hidupnya. Saya pikir proses bercerita ini hanya berbagi pengalaman saja tapi ternyata tidak. Ada beberapa dari mereka yang meminta pemakluman misalnya, "Nia, 'kan saya tuh begini. Jadi harusnya kamu kalau berhubungan sama saya harus gini gini gini, jangan gitu gitu gitu ..." Wah, saya kecewa. Seharusnya saat manusia memiliki kekurangan dan mengetahuinya, jangan dijadikan pembenaran, tapi harusnya dilawan.

Kasus di atas itu berhubungan dengan labeling diri. Saya tidak suka orang yang melabel diri (walaupun saya juga masih melakukannya), terutama orang yang melabel diri agar ia bisa bertindak secara legal dengan labelnya lalu meminta pemakluman. Label, mungkin bisa juga disebut diagnosis, harusnya menjadi suatu tanda bahwa harus diberikan intervensi tepat adanya. Misalnya, "Oke, saya ini broken home, tapi masa lalu yang tidak enak ini harus saya lawan." Bukannya jadi pemakluman bahwa ia bisa melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain lalu bilang, "Kan saya ini broken home."

Paham maksudnya?

Saya sadar semua orang ingin dipahami, ingin dimaklumi. Tapi saya lebih sadar kalau manusia juga memiliki pilihan untuk memperbaiki diri.

Konflik

Perlu diamini bahwa psikologi dan filsafat membuat saya berubah banyak. Salah satunya adalah kemampuan keluar dari diri untuk merefleksi apa yang telah saya lakukan lalu saya mencoba memperbaiki hal yang buruknya. Psikologi dan filsafat membuat saya mencintai kearifan dan kebijaksanaan. Maka dari itu, saya mencoba arif dan bijak dalam hidup dengan mencoba memahami perasaan orang lain. Saya jadi terlihat bijak, mungkin bahasa filsafatnya. Dewasa, bahasa psikologinya. Tua, bahasa awamnya.

Aduh, dulu saya ini temperamental sekali. Saya mudah marah dan mudah tersinggung pula. Kalaupun sekarang masih terlihat begitu, percayalah ... saya dulu lebih parah. Selain memanfaatkan ilmu untuk diri sendiri, saya mencoba masuk ke ranah hubungan saya dengan orang lain. Walaupun berimbas baik, tapi hubungan menjadi sebuah proses yang lama--terutama saat konflik. Kenapa? Karena saat saya konflik, saya jadi merasa harus bisa menahan emosi saya dengan berempati, memikirkan bagaimana rasanya jika saya berada di tempatnya, apakah ini kesalahan persepsi saya saja, lalu mencari solusi yang baik untuk berdua.

Saya jadi kelihatan baik. Tapi lama kelamaan saya jengah juga. Apalagi saya jadi harus memburu orang lain yang konflik dengan saya untuk menanyakan alasan/pendapatnya kenapa ia demikian, semata-mata untuk kebaikan atau ketenangan hati saya. Perlu diingat bahwa tidak semua orang mau memberikan alasan, penjelasan, dan penyelesaian. Ketimbang mencari penyelesaian, kadang mereka menyalahkan. Padahal, untuk saya, jika kalau masalah sudah selesai, maka saya akan mudah melupakan. Namun jika tidak selesai, akan saya ingat-ingat, ungkit-ungkit, dan bahkan dendam. Tapi justru itu semua adalah hal-hal yang saya hindarkan karena hal-hal itu tidak membawa apa-apa kecuali menggerogoti saya dari dalam.

Lalu kenapa saya harus mencoba mengerti perasaan orang lain sementara orang lain tidak mengerti saya? Saya mulai berpikir enak sekali jadi orang yang tidak sensitif, tidak peduli, dan jahat. Saat berkonflik, rasanya mudah sekali mereka mengeluarkan semua perasaan-perasaannya, legal menyalahkan orang lain, berkata kasar tanpa peduli menyakiti. Yaa.. paling dijauhi. Tapi kalau tipe orangnya tidak sensitif dan tidak peduli, pasti itu tidak akan menjadi masalah. Tidak apa-apa masalah tidak selesai, yang penting hati puas.

Bolehlah sekali-kali jadi orang jahat saat berkonflik.

Rajah

Seni rajah merajah ini sebenarnya sudah saya lirik dari lama. Agaknya akan bagus jika sebuah gambar yang bermakna berada di kulit saya selamanya. Namun agama saya tidak memperbolehkan karena tidak boleh mengubah apa yang sudah diciptakan olehNya. Oh, baiklah. Mungkin jika saya tidak beragama bukan agama saya sekarang, saya pasti akan merajah gambar ini di tengkuk dan punggung saya: