Seribu Cerita di Pangandaran

Dalam rangka tugas meliput dan survey, saya pergi ke Pangandaran. Beruntung pada saat perencanaan, Eka juga berniat pergi ke sana bersama Sidik dan Woyo (teman bikers Eka). Maka, dengan dua buah motor besar dan bagasi di belakang, berangkatlah kami dari Bandung pukul 04.30 dan sampai pukul 10.30. Beberapa insiden yang terjadi di jalan membuat perjalanan ini berbiaya besar. Apa yang membuat biaya besar? Simak terus hingga selesai.

Sesampainya di sana, kami tidak langsung check in ke penginapan, tapi langsung pergi ke (Cukang Taneuh) Green Canyon, 30km dari Pantai Barat Pangandaran. Di muka Green Canyon, tampak suasana yang begitu ramai. Harga sewa 1 perahu di sana adalah Rp75.000,00 dengan harga yang sudah ditentukan dan dikoordinir dengan baik (jadi tidak ada bargain). Kami dapat urutan ke 160, harus menunggu sekitar 20 antrian yang kira-kira menghabiskan waktu 45 menit per perahu. Namun nyatanya kami tidak menunggu 900 menit karena perahu yang disediakan cukup banyak dan mobilitasnya cukup cepat.


Membelah sungai. Ibarat Musa.


Sampai di ujung petualangan perahu. Sisanya ditempuh dengan berenang.

Membelah sungai menuju bebatuan tinggi laksana tebing belumlah sebuah klimaks hingga kami benar-benar masuk ke dalam gua yang penuh stalaktit dan mencucurkan air-air sehingga kami kebasahan. Setelah berhenti dan diam menikmati pesona Green Canyon selama 10 menit, kami ditawari oleh guide perahu untuk berenang lebih jauh dengan menggunakan life vest dan di-guide olehnya. Sebetulnya ini tidak termasuk dalam budget perjalanan, namun karena rasa penasaran yang bisa membunuh seekor gajah sekalipun, setelah negosiasi harga, hanya saya dan Eka yang berenang meneruskan perjalanan karena Sidik dan Woyo sudah mengalami perjalanan jauh dari Jakarta ke Pangandaran menggunakan motor dan takut sakit.

Oh, rupanya kami diajak untuk menaiki tebing dan loncat dari batu yang tingginya mungkin berkisar 15 meter. Dan kami melakukannya! Terutama saat loncat ke sungai, perut terasa mau ke luar sementara badan ditarik cepat ke bawah. Wohoo sensasinya! Sayangnya saya dan Eka tidak membawa kamera sehingga tidak bisa didokumentasikan. Setelah itu, kami pulang ke tempat awal sambil melakukan body rafting.

Lalu setelahnya kami ke Batu Karas yang mengecewakan (tidak bisa skin diving karena anginnya besar dan tidak berniat untuk surfing pula). Ternyata Batu Karas tidak indah-indah amat, hanya berupa teluk kecil yang pasirnya biasa-biasa saja.


Persiapan menuju Pasir Putih.

Menerjang ombak. Perahu baru akan maju jika ombak sudah tenang.

Keesokan harinya, kami pergi ke Pasir Putih. Saya dan Eka memutuskan untuk skin diving. Kami diantar dengan guide yang logatnya seksi abis (;p). Saat tahu akan diarahkan menuju tempat yang dalam, saya agak sedikit panik karena saya paling takut dengan kedalaman. Namun mencoba untuk tenang, akhirnya bisa oke juga di tempat dalam. Bahkan kami lepas life vest dan belajar menyelam. Eka jagoan menyelam dan saya gagal terus, akhirnya si guide yang tidak diketahui namanya memegang tangan saya lalu narik saya untuk menyelam. Ini patut dicoba! Sayangnya tidak ada underwater camera. Saya sering minta "pura-pura" diajarin menyelam. Lumayan .. pegangan tangan :">

Pasca menyelam, kami diantar ke gua yang ada di Pasir Putih. Sidik dan Woyo tampak excited sekali sementara kami (terutama saya) sudah banyak mengeluh karena tidak membawa sendal dan harus menjelajah daratan yang penuh dengan bebatuan dan ranting tanpa alas kaki. Tuhan memberkati siapapun yang menciptakan alas kaki!

Selama di sana, saya dan Eka makan makanan dengan budget murah (hanya ikan dan nasi, misalnya). Maka, saat akan pulang ke Bandung, kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Timur dan makan seafood. Mewah dan cukup menjadi penambah stamina untuk Sidik dan Woyo yang harus berenergi banyak dalam menyalip kendaraan-kendaraan di jalur yang harusnya tidak boleh disalip.

Ini dia, yang saya janjikan di awal kenapa biaya trip kali ini begitu mahal. Saya dan Woyo sempat jatuh dari motor saat berada Mekar Sari. Untungnya kami tidak apa-apa. Saya hanya luka sedikit di kaki yang tertimpa motor besar serta tangan yang sakit. Saat perjalanan dari Batu Karas ke Pangandaran pun kami jatuh lagi saat mau berbelok. Saat pulang, kami sempat oleng di tengah himpitan mobil dan truk. Roda ban motornya Woyo sempat 2x kempes dibelokkan jalan raya yang mungkin bisa saja tertabrak jika ada mobil/bis dari arah belokkan dan tidak tahu bahwa ada kami di sana. Biaya tambahan yang masuk ke budget saya dan membuat sangat mahal yaitu hanya dua: nyawa dan self-esteem.


Mengalami semua hal itu, saat menunggu ban tubless, saya hanya bisa tertawa saja pada Eka (yang juga jatuh). Saat Eka bertanya mengapa saya tertawa, saya hanya menjawab, "Saya sedang menertawakan nasib."

Ibu Tua

Mother is God in the eyes of a child.

Jika ibu adalah Tuhan, maka saya adalah seseorang yang jungkir balik untuk ia sebagai kiblat. Jika hidup adalah semesta, saya adalah planet, maka ibu adalah matahari saya. Saya mengorbit padanya. Walaupun hubungan kami kaku, bukan tipe ibu-anak yang penuh afeksi secara verbal maupun non verbal, tidak pula saling bercerita, namun kami nyaman berada di dalamnya.

Saat saya kecil, saya sering menemaninya pergi ke pasar karena saya berharap akan dibelikan sesuatu seperti mainan, namun pada kenyataannya ibu jarang sekali membelikan mainan. Mau saya cemberut sejelek apapun, ia bersikeras untuk tidak membelikan. Hal lain yang saya ingat, ketika jalan di lorong pasar, ia berada jauh di depan sementara saya ada di belakang--tidak mampu melampaui langkahnya yang cepat. Kini keadaan jadi terbalik, di usia ibu yang beranjak tua, ia sering mengeluh bahwa saya berjalan terlalu cepat. Maka saya sering menggandengnya dan berjalan pelan untuk menyamakan langkahnya.

Ibu saya usianya sudah setengah abad lebih, beranak saya di usia yang tidak lagi muda. Ibu saya bukan model atau wanita karir, ia hanya wanita yang memiliki skill membuat kue yang baik dan berjualan hingga ke Jakarta. Jadi tidak mungkin untuk berbicara tentang politik, sosial, atau budaya pada ibu saya. Namun tak apa, karena ia bukan seorang teman, ia adalah seorang ibu. Ia juga tidak pernah menuntut saya macam-macam seperti segera menikah lalu punya anak agar bisa menimang cucu. Tuntutan yang saya terima pun jarang berasal darinya. Syaratnya hanya dua: tanggung jawab dan bisa jaga diri baik-baik.

Kemarin, di usia lanjutnya, ia baru jatuh di pasar dan kepalanya terbentur duluan. Saat beliau bercerita, saya bertanya ia ke pasar bersama siapa (karena biasanya ia pergi ke pasar bersama pembantu), namun saat itu ia sendirian. Ibu saya bilang sampai tidak bisa bangun dan harus ditolong tukang sayur. Ia juga mengeluh pusing dan diberi obat oleh sepupu saya. Makanya ketika saya baru pulang kerja, saya menemukan ia baru bangun tidur. Saat akan beranjak dari tempat tidur, ibu saya mengeluh kedua kakinya kram. Ia terus mengeluh hingga menangis.

Ini adalah kali pertama saya melihat ibu menangis karena kesakitan. Biasanya ibu menangis karena sinetron. Seumur hidup, saya tidak pernah melihat ibu menangis karena sakit hati atau sakit betulan. Maka, saat itu saya mencoba untuk tidak panik dan mencoba menenangkannya. Karena ia terus menangis, saya memanggil kakak sepupu saya untuk bantu mengatasinya.

Ibu saya sudah tua. Ia tidak pernah sakit tapi jika jatuh, itu begitu mengkhawatirkan saya. Walaupun pasca jatuh di pasar ia mengaku tidak ada sakit yang berarti, saya tetap khawatir: bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi padanya saat saya tidak ada disampingnya? Misalnya jika saya bekerja atau berada di luar kota. Bagaimana jika hatinya tersakiti pada saat saya tidak ada?

Keluarga adalah hal penting walau kadang menjadi duri dalam daging dan pelindung itu sendiri. Teman juga penting namun jika ada teman yang tidak bisa menghargai ibu saya, dengan senang hati saya akan memutuskan hubungan. Namun betul-betul tidak ada toleransi untuk orang lain yang menyakiti.

Ibu tua, saya akan terus mengorbit padanya.

Arogansi Para Anti-Mainstream

Banyak teman-teman saya yang anti-mainstream. Mereka menyukai dan melakukan hal-hal yang tidak disukai mainstream. Mereka tidak akan mendengarkan musik mainstream, nonton film mainstream, bergaya yang tidak mainstream, cara berpikir yang melawan mainstream, dan lainnya. Mereka tidak akan menikmati beberapa produk industri sangat besar dan tidak akan memakai celana pensil warna-warni atau legging, dan lainnya.

Agaknya menjadi anti-mainstream bisa dibagi menjadi dua kelompok: 1) Mereka punya selera unik yang tidak sesuai dengan orang kebanyakan atau, 2) Eksklusivitas agar terlihat berbeda dan keren.

Untuk kelompok pertama, saya pikir tidak ada masalah karena selera adalah hak asasi manusia. Namun untuk kelompok dua, ada tendensi negatif dari orang-orang anti-mainstream terhadap orang-orang mainstream. Percayalah bahwa teman-teman saya pun banyak yang--menurut saya--berada di kelompok dua.

Saat Twilight atau Beiber ramai dibicarakan orang, para kaum anti-mainstream kelompok dua pun juga ramai membicarakan orang. Twilight dibilang kisah percintaan yang cheesy dan menertawakan jika ada yang menontonnya. Twilight punya target market sendiri. Jika mereka bukan target marketnya, ya tidak usah menjelek-jelekkan.

Kembali ke masalah selera bahwa itu adalah hak setiap orang, maka menjadi mainstream juga hak setiap orang. Untuk menjadikan diri berbeda dari kebanyakan, tidak perlu menjadi orang yang pandai mencela, 'kan?

Tidak apalah jika temanmu mendengarkan musik melayu yang mendayu-dayu. Kau tidak perlu menghabiskan energi. Sumpal saja kedua kupingmu dan sibukkan diri sendiri.

Travelmate

Saya suka jalan-jalan ke tempat yang baru, eksotis, dan memiliki sebuah tantangan. Tentunya ketika jalan, jauh lebih enak jika ada teman karena: 1) bisa berbagi suka dan duka, 2) share cost, 3) menjaga satu sama lain. Mencari teman jalan (travelmate) juga harus satu ideologi: sama-sama nekat, sama-sama mau mencoba hal-hal baru, dan sama-sama mau diajak susah.

Beberapa kali ini, saya jalan dengan Eka. Sejauh ini saya merasa cocok dan sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga ritme jalannya sudah diketahui. Jadi, boleh jika ia dibilang travelmate saya. Eka juga orangnya nekat seperti saya, mau diajak dan mengajak susah, aware terhadap situasi, dan oke banget dalam budgeting. Saya dan Eka tentunya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun sejauh ini masih bisa ditolerir. Agaknya saya akan merekomendasikan Eka sebagai travelmate saya, pun (mudah-mudahan) sebaliknya.



Keterpakuan dalam travelmate juga membuat diri ini menimbang jika ingin mau jalan-jalan dengan orang lain. Apakah dia akan cocok sama saya? Apakah dia akan banyak mengeluh? Apakah dia tidak mau diajak susah? Wah, banyak sekali pertimbangan itu. Karena, travelmate selain bisa menciptakan liburan yang menyenangkan, mereka bisa juga berperan dalam gagalnya sebuah liburan. Belum lagi jika sepasang atau sekelompok manusia yang tidak cocok itu berada di antah berantah.

Tentunya tidak akan tahu jika tidak dicoba. Ada juga saat saya mencoba jalan dengan orang lain, nyatanya tidak cocok. Tidak menutup kemungkinan untuk mencari travelmate lain (misal, Eka adalah spesialis pantai dan ia tidak suka climbing. Maka, untuk climbing, saya harus mencari travelmate lain). Perempuan atau laki-laki. Asal tidak rese (misalnya harus tidur di kamar berAC) atau genit saja. Saya juga pernah mencari travelmate secara online melalui mailing list indobackpacker tapi orangnya tidak memberi kabar sampai detik saya berada di tempatnya. Ya, saya sih enggak masalah, namun bukankah kalau orang tersebut mencari atau bersedia itu artinya ia membutuhkan travelmate--untuk setidaknya--sharing cost?

Travelmate sebetulnya hanya salah satu faktor penting dari travelling itu sendiri. Apakah itu high cost atau low cost, apakah itu direncanakan atau go show, sebenarnya terserah. Karena esensi menyenangkan atau menyebalkan sebenarnya terletak pada tangan kita sendiri mau menciptakan yang mana.

Perspektif

"Daripada mengeluh bahwa mawar itu penuh duri, bergembiralah bahwa semak duri itu memiliki bunga mawar." ~ Proverb

Agaknya hidup itu ibarat kertas putih yang sebetulnya flat-flat saja. Rutin. Linear. Stagnan. Lalu yang membuatnya berwarna adalah rutinitas diisi oleh kegiatan-kegiatan yang didorong oleh motivasi. Oleh kebutuhan. Oleh pikiran.

Ini dia: Pikiran. Pikiran yang pada akhirnya sudah terkontaminasi oleh pengalaman lalu dijadikan acuan untuk menilai sesuatu hingga disebut perspektif. Saking sudah dijadikan acuan, ia membentuk titik sudut untuk memandang sesuatu. Sifatnya subjektif. Kadang baik dan kadang buruk.

Kalau si kertas ditulis dengan perspektif buruk, maka hasilnya akan buruk. Kalau si kertas ditulis dengan perspektif baik, maka hasilnya akan baik. Jadi, jangan-jangan, hidup itu sebenarnya biasa saja (tidak baik dan tidak buruk) tapi kita yang membuatnya demikian?

Proverb di atas itu sebetulnya hanya permainan perspektif. Kenapa kita harus mengeluh mawar itu berduri? Kenapa kita tidak bersyukur saja bahwa semak duri itu penuh dengan mawar? Dualitas sederhana ini agaknya menempatkan pikiran pada dua kutub yang sangat jauh namun berdampak besar pada eksekusi kegiatan setelahnya. Kuncinya hanya satu: merubah perspektif saja.

Obituari Desi

Salah satu kerabat keluarga, Desiana (akrab dipanggil Mbak Desi), meninggal pada pukul tiga pagi ini (15/05). Istri dari Asmudjo, seorang kurator seni kontemporer, meninggal karena kanker yang dideritanya.

Saya enggak kenal-kenal amat dengan Mbak Desi. Saya enggak tahu lahirnya kapan atau apa saja pameran yang ia pernah ikuti, tapi dia sering main ke rumah semenjak saya kecil. Sepertinya ia adalah teman sepupu saya yang dulu kuliah di ITB dengan konsentrasi keramik. Ketika saya besar dan di rumah saya dibikin galeri seni, Mbak Desi juga pernah berperan sebagai kuratornya. Sempat ada pameran yang sempat mundur karena Mbak Desi sakit. Namun ia selalu menyempatkan diri untuk datang di tengah-tengah kesakitannya.

Seingat saya, Mbak Desi pernah duduk di ruang tengah sambil merokok. Saat itu kerudungnya dibuka. Bukan kerudung yang dipakai untuk menutup aurat, tapi kerudung untuk menutupi rambutnya yang sudah tidak ada. Sepupu saya bilang kalau Mbak Desi juga sudah banyak berobat termasuk pengobatan alternatif. Perlu diingat, kanker bukan penyakit murah.

Hingga pagi ini, ibu saya bilang kalau Mbak Desi meninggal. Sepupu saya pun bergegas ke rumahnya, melayat kawan lamanya. Saya enggak tahu apakah sepupu saya menangis selama proses penguburannya. Mungkin tidak akan ada lagi sosok perempuan yang itu datang, tidak ada pula yang membantu proyek seni. Tapi saya enggak sedih karena saya yakin kalau ini adalah jalan terbaik buat Mbak Desi.

Earth to earth, ashes to ashes, dust to dust. Selamat jalan, Mbak Desi.

Those Shocking, Shaking Days

Saat saya datang di sekitar pukul 15.15, sudah terlihat Ismail Reza dengan piringan hitamnya karena agenda KlabKlassik hari ini adalah menyimak album Those Shocking, Shaking Days: Indonesia Hard Psychedelic Progressive and Funk 1970-1978 setengah harian. Those Shocking, Shaking Days berisi grup di era 70an seperti The Panbers, Koes Plus, The Brims, Terenchem, dan lainnya.

Sekitar 15 lagu yang diputar sore itu. Dari semuanya, lagu yang paling berkesan pada saya adalah Haai dari The Panbers. Begitu kali pertama mendengar, saya langsung lupa bahwa ini grup Indonesia karena musiknya berbeda dari jenis lagu Indonesia yang saya tahu dan liriknya berbahasa Inggris. Kesan psikedelik langsung tertangkap begitu lagu ini diputar. Belum lagi ada penggunaan gema suara (echo/reverb) sehingga suara terdengar “melayang” dan membuat lagu ini tidak terkesan kering. Kang Tikno, selaku penggemar musik-musik Indonesia, menjelaskan bahwa lagu The Panbers yang satu ini sungguh berbeda dengan lagu-lagu The Panbers lainnya yang mellow.

Ngomong-ngomong psikedelik, kebudayaan musik psikedelik tidak bisa terlepas dengan musisi yang berupaya agar pendengarnya berimajinasi menghadirkan alam bawah sadar (hal-hal surealis) di alam sadar. Selain kealaman itu sendiri, instrumen juga memiliki peran dalam musik psikedelik sebagai media atau fasilitator untuk mengantarkan alam surealis ke realita—Kang Diecky menambahkan. Selain itu, Budi Warsito berpendapat bahwa dalam musik psikedelik, ada perpanjangan kesadaran sehingga ada eksplorasi instrumen dengan bantuan apa saja dan LSD itu hanya salah satu cara. Pada sesi ini, sedikit banyak pertanyaan saya mengenai musik psikedelik (lihat tulisan Psychedelic Party) terjawab.

Lagu lainnya yang saya suka adalah Shake Me dari AKA yang dibuka dengan yel-yel ‘Do you like LSD?’ atau ‘Do you like sex?’ yang cukup membuat kami tertawa mendengarnya. AKA banyak mengambil pattern lagu dari James Brown yang musiknya dipakai untuk orang dansa sehingga ia membutuhkan groove yang banyak dari drum dan bass. Bahkan tak tanggung, James Brown pernah menggunakan dua drum sekaligus. Ucok Harahap sendiri juga sampai mengimitasi gaya omongan James Brown namun ia masih memiliki kekhasan sendiri. Selain itu, dalam aksi panggungnya, AKA begitu teatrikal sehingga mata dan telinga begitu terpuaskan.


Jeritan Cinta karya Terenchem membawa pada sebuah diskusi mengenai tema-tema yang dibawakan tahun 70an ini yang rentangnya sungguh luas—dari hal remeh temeh seperti mobil tua (Koes Plus), uang (Duo Kribo), hingga hal besar seperti kritisisme terhadap Orde Baru dalam lagu Evil War karya Shark Move. Keberagaman di zaman dulu tentunya menjadi pembanding dengan zaman sekarang yang temanya begitu sempit: cinta dengan segala kreativitasnya. Kreativitas yang dimaksud contohnya cinta orang yang berbalas, cinta orang yang tidak berbalas, cinta segitiga, selingkuh, dan lainnya. Perbandingan ini membawa pada pertanyaan; ‘mengapa dulu yang kondisi menciptakan lagu itu sangat sulit, mereka bisa membuat musik sebagus dan seberagam ini, namun di kondisi yang serba mudah seperti sekarang justru membawa ke keseragaman?’

Diskusi pun berlanjut pada generasi sekarang yang hilang link dengan apa yang terjadi tahun 1960-1970 sehingga terlihat sebagai timeline yang terputus dan musiknya saling tidak berkesinambungan. Untuk mengetahui apa yang diketahui pada tahun 1970 juga tidak mudah karena minimnya sumber/literasinya.

Album ini dibuat dalam beberapa format yaitu CD, MP3, dan piringan hitam. Toko musik independen mengeluarkan piringan hitam lagi dengan argumen agar musisi lebih dihargai (karena ada usaha karena melakukan “ritual” membuka piringan hitam dari cover, menaruh dengan hati-hati, dst) dan pendengar lebih dihargai (musik terdengar lebih “penuh”). Piringan hitam itu “terbatas” dan menawarkan suara yang analog dengan range bass-nya yang lebih rendah sehingga memberikan kesan intimate atau seolah-olah orang yang nyanyi itu benar-benar ada di dekat yang mendengarnya.

Lagu-lagu lain yang diputar adalah Rollis, Arista Birawa, Superkid, dan lainnya. Di antara lagu-lagu tersebut, ada warna lain yang ditawarkan oleh Black Brothers yang berjudul Saman Doye. Lagu ini kental dengan nuansa timur dan bernyanyi dengan bahasa Papua.

Bahasa—dalam referensi saya—menjadi keluhan pribadi dimana lirik lagu yang digunakan pada grup-grup di atas itu kebanyakan berbahasa Inggris. Namun bahasa dapat menjadi salah satu faktor untuk membuktikan bahwa, tidak hanya sekarang, pengaruh budaya Barat juga sangat kental di era 70an.

Kampung Kecil di Balik Monumen

Satu jam lima belas menit menunggu satu per satu orang yang berdatangan dari waktu yang ditentukan, akhirnya acara dibuka oleh Rika—koordinator gathering forum regional Bandung. Langit saat itu serta merta terang, menghilangkan kemurungan di pagi hari karena rintik-rintik hujan sempat berjatuhan di atas Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Di bawah tenda bambu besar yang dibuat permanen dan mungkin ditujukan untuk ruang publik atau pelindung penonton jika tidak hujan, kami duduk melingkar untuk mendengar briefing singkat dari Rika. Beberapa wajah baru muncul di tengah-tengah peserta.
Adalah Kampung Seniman Bangun Pagi yang letaknya berada di belakang monumen dan berada di tengah-tengah rimbunnya pohon bambu. Di dalamnya terdapat beberapa saung yang memiliki fungsi masing-masing. Saung pertama yang kami kunjungi adalah Karinding Buhun (Karuhun). Saat kami datang, beberapa pemuda yang memakai pakaian hitam sedang memainkan alat musik karinding serta beberapa anak yang sibuk menonton. Karinding adalah alat musik purba yang dibuat dari bambu dan karet yang berperan sebagai senar. Dulu alat musik ini dipakai oleh para petani untuk mengusir hama. Selain itu, dipercayai bahwa getaran yang diciptakan karinding bisa mendatangkan jodoh. Cara memainkannya adalah alat musik ini ditempelkan di mulut yang terbuka, salah satu ujungnya dipukul, dan menggunakan ruang pada rongga mulut untuk menciptakan suara. Suaranya tidaklah besar sehingga ini cukup menyulitkan jika mereka ingin melakukan aksi panggung karena jika mereka harus membawa 15 orang dengan masing-masing instrumen, maka harus ada 15 microphone yang disediakan.

Selain karinding, ada beberapa alat musik lain seperti celempung (gendang yang terbuat dari bambu), kecrekan, suling, saluang, dan petir. Lagu yang biasa mereka mainkan adalah tembang Cianjuran. Tidak hanya musik, mereka juga melakukan ruwatan (lagu dan aksi teatrikal) untuk hiburan. Mereka menunjukkan pada kami ruwatan mengenai Dasamuka.

Dasamuka—berangkat dari kisah pewayangan Rahwana—yang mereka tampilkan terdapat intervensi terhadap hal-hal kekinian seperti bencana-bencana alam yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Aksi mereka mengisahkan tentang Rahwana, si Raja Setan, yang ingin berubah menjadi baik karena sejahat apapun sebuah makhluk pasti memiliki keinginan untuk menjadi baik. Namun hakikatnya sebagai makhluk jahat yang tidak mungkin berubah baik, maka manusia menghujatnya. Disini masuk kritisisme bahwa mengapa manusia menghujat sifat Rahwana yang jahat tapi mereka juga meniru sifat-sifat buruk tersebut. Hal-hal kekinian pun menjadi nasihat dalam aksi teatrikal ini dimana bencana alam seperti gunung meletus, tsunami, banjir, adalah salah satu contoh balasan kepada manusia karena telah serakah pada alam.

Ace Karuhun, pemeran Dasamuka, menjelaskan bahwa Dasamuka itu sebenarnya adalah diri sendiri. Refleksi diri bahwa sadar ketika diri salah dan berusaha untuk memperbaikinya adalah salah satu nasihat yang ingin disampaikan dalam aksi teatrikal ini. Ia berkata, “Tutup mata lahir, buka mata batin. Mata lahir seringkali menipu, tetapi mata batin tidak. Seperti lidah yang seringkali berbohong, tapi hati tidak akan pernah bisa berbohong.”

Sambil mengambil gambar dan mengobservasi untuk bahan tulisan, kami melihat-lihat saung lain diiringi musik reggae yang dimainkan para pemuda sebagai bentuk kolaborasi antara musik modern dengan musik tradisional. Rupanya selain bermain alat musik, warga kampung Seniman Bangun Pagi ini pandai membuat cenderamata buatan tangan yang terbuat dari biji-bijian, potongan kayu, bambu, taring, dan lainnya. Selain itu terlihat beberapa hasil pahatan dan ukiran yang dibuat dengan peralatan sederhana.

Foto oleh Mas Anto

Setelah mengadakan agenda sendiri untuk pembentukan kepengurusan Forum Regional Bandung dan membagikan doorprize serta souvenir, maka sampailah pada sesi pamitan warga Kampung Seniman Bandung Pagi yang dipimpin oleh Rika. Menurut saya, pertemuan yang berkisar dua jam itu cukup membuka khazanah budaya bagi siapa saja yang melihatnya. Selain itu, pertemuan ini diharapkan dapat menyadarkan bahwa budaya—dengan segala komponennya—bukan ketika diklaim negara lain barulah beraksi namun sementara itu tidak dilestarikan, karena budaya adalah hal yang diturunkan dan berkelanjutan.

Sekitar pukul 12.30, gathering resmi ditutup.

Mengkonkretkan Tuhan

Beberapa hari yang lalu, saya dinasehati oleh kakak sepupu saya bahwa sebaiknya manusia jangan pernah menggantungkan diri kepada manusia lain. Sandarkanlah diri pada Tuhan YME karena Tuhan tidak akan mengecewakan hambanya.

Kata siapa? Toh saya baru dikecewakan Tuhan ketika ia bilang tidak. -- ujar saya dalam hati.

Sejenak diri ini meragukan keberadaannya. Jika saya berdoa, hati saya bertanya 'emang Dia beneran ada?' Lalu saya buru-buru meralat dan menyakini bahwa Dia memang ada. Dia harus ada. Karena kalau Dia tidak ada, maka saya harus lari dan memohon kemana pula? Saya perlu Dia untuk menggantungkan harapan dan juga untuk berkeluh kesah jika sesuatu tidak berjalan dengan baik.

Lalu saya berdoa sambil ternangis-nangis, memohon supaya dikabulkan. Atau setidaknya Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya melalui mimpi atau apalah. Saya ingin Dia berbicara pada saya. Rupanya kognisi saya masih pada tahap konkret karena saya menginginkan Tuhan betul-betul ada. Saya tidak bisa membaca tanda-tanda alam disekitar saya yang begitu multitafsir.

Mengkonkretkan Tuhan dilakukan dengan cara terus menerus mengingat dan menyebut namanya. Saya mengkonkretkan Tuhan dengan cara menghadirkan Ia dalam diri saya. Misalnya saat saya bingung, saya bilang, "Duh, Tuhan!" Kadang diri berharap ada yang menjawab, "Apa?" Tapi ya tentunya tidak mungkin. Nyatanya Dia menjadi hadir bukan dalam wujud yang nyata, tetapi dalam sebuah keyakinan bahwa saya tidak sendiri dan Dia ada.

Tuhan tidak boleh tidak ada. Dia harus ada.