Fantasmagoria


Jus jambu yang ia tegak terasa pahit. Kental dan ingin cepat ia tegak seluruhnya. Jus ini dibawa oleh temannya—Yuda yang baru pulang naik haji beberapa minggu yang lalu. Dengan seringai gigi di wajahnya, Yuda menyodorkan minuman yang baru dijus di Gasibu di tengah malam.

“Selamat menikmati ya,” ujar Yuda atau Yudas Iskariot—si pengkhianat—yang katanya baru melakukan perjalanan religius tapi kini memberikan barang laknat.

“Sendirian? Atau mau ditemani?” tanya teman yang pernah menjadi pengedar narkoba ini. Beberapa teman pernah bergunjing tentang Yuda yang naik haji dengan hasil narkobanya.

Aku jawab aku mau sendiri. Kubawa barang itu dengan kaku padahal isinya hanya lumatan satu buah jambu batu. Beberapa teman kosku bertanya barang apa yang aku terima di tengah malam, berharap aku membawa sesuatu yang memabukkan. Aku hanya memperlihatkan isi yang ada di plastik hitam lalu mereka menanggapi dengan kecewa.

Jarum menunjukkan pukul 00.33—angka keberuntunganku, tepat untuk kumasukkan tegukan pertama hingga akhir lalu membiarkan diri berada di bawah pengaruhnya.

Lama. Hingga rahangku menegang dan dua tepi mulutku melorot ke arah kuping. Aku berbaring sambil mendengarkan After Midnight—musik asli yang dibuat oleh musisi kota kembang—sambil melihat benda-benda yang menempel di dinding kamar menggeliat melepaskan diri dari tembok. Mereka melayang-layang kemudian berpendar warna-warni di langit-langit kamar yang hitam.
Suara-suara yang aku dengan menjadi benang-benang halus yang masuk ke telinga, lalu menggelitik benda-benda yang melayang di atas sana, termasuk si jam dinding yang berbengkok-bengkok jarumnya. Tik tok tik tok, jarum berdetik mundur ke belakang.

Kulihat aku ke luar dari ragaku, menuju satu cahaya jingga. Kulihat taman Fantasmagoria lalu kulihat Dia: Dia yang biasa kutulis dengan ‘d’ besar, Dia juga yang kusebut-sebut kalau aku bersumpah jujur, Dia juga yang pernah kusembah jungkir balik setiap hari, dan Dia juga yang belakangan aku duakan dan lupakan karena alasan keragu-raguan.

Dia menyentuh kepalaku, memainkan helaian rambutku lalu berujar, “Hai,” katanya terkikik. “Ini aku. Teman yang kau rindukan.”

Aliran panas terasa mengalir di sudut mata, bergelimangan menuju telinga. Hangat sentuhanNya menyajikan film yang diputar balik: tubuh mengecil, memasuki rahim melalui saluran vagina, melingkar di perut, melayang, saluran ovarium, koloni kecebong yang mengerikan, lalu melesat jauh hingga pangkuanNya. Nya—dengan ‘n’ besar. Nya—dengan sesuatu yang absurd namun aku yakin bahwa aku berada di sebuah rumah tak berbentuk dan diri terasa aman.

“Aku rindu namaku disebut olehmu setiap hari sebelum tidur,” ujarNya bercampuran dengan instrument After Midnight. Dia menjadi tosca, berpadu dengan aku yang merah keruh, kemudian ia pudar. Menghilang. Lalu aku jatuh dalam kegilaan yang nikmat sambil berbisik, “Kita. Satu.”

Mataku terbuka sepenuhnya. Benda-benda sudah tidak melayang, pendaran mulai menghilang. Aku bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Diam-diam suara adzan Subuh yang samar masuk menembus gordyn gading dan menyesaki kamar. Nadiku, di seluruh badanku, berdenyut hebat—menyadarkan bahwa ia dekat. Ia ada. Dan aku ingin menemuinya sekali lagi: melalui media nyata. Melalui rutinitas jungkir balik pula.

Yuda sialan—pikirku dalam hati—dia baru memberitahukan tentang titik baliknya.


------
Cerita hasil latihan writer's circle tentang spiritualisme yang mengubah seseorang. Cerita ini juga mengantarkan pada transisi ke bulan Ramadhan. Selamat berpuasa semuanya :)

Atraksi Perkotaan

Rani menyelempangkan tas dipundaknya, botol air minum sudah ia masukkan, kamera Canon EF lamanya sudah berada di tangan. Sore barulah ia berangkat menyusuri pusat kota Bandung untuk menangkap sesuatu dengan kamera di bawah sinar kuning oranye pukul empat.


Kini ia berjalan di Asia Afrika, untuk kesekian kalinya. Namun selalu ada hal-hal baru yang ia temui saat melewati gurat-gurat sejarah terbentuknya kota kelahiran Rani. Di jalan ini pernah terjadi awal mula kota terbentuk hingga penuh dengan kobaran si jago merah. Dengan tanganya yang tidak kalah gesit, ia mengambil gambar bangunan art deco yang berjajar. Ah--ujar Rani--kalau tidak dijajah Belanda, kota ini tidak akan mewariskan apa-apa.

Sampailah Rani ke jembatan penyebrangan. Sebelum naik, ia melihat beberapa anak main air di Sungai Cikapundung. Mereka semua telanjang dengan warna kulit yang hampir sama dengan warna air sungai, tapi mereka terlihat senang bermain di sungai yang menjadi sumber hidup sekaligus tempat pembuangan.

Anak-anak itu tersadar, ada satu perempuan muda yang mungkin--menurut mereka--masih kuliah. Tiga anak laki-laki yang berusia sembilan tahun itu memamerkan gigi-giginya saat Rani mengarahkan kameranya.

"Teh, hayu kadieu, ngeunah siah teh!" ujar salah satu anak yang kepalanya plontos. Rani tersenyum sebelum anak itu melanjutkan, "Kadieu, urang ngentot."

Rani terbelalak kaget dengan apa yang didengarnya, terutama setelah melihat anak-anak itu tertawa-tawa sambil mempraktekkan gaya bersenggama.

Perempuan berambut sebahu ini bergegas naik ke jembatan penyebrangan yang tangganya berliku serta jarak jembatannya lebar. Lebih baik mengambil gambar jalanan ketimbang berlama-lama di pinggir sungai. Saat sampai jembatan, Rani melihat kumpulan orang-orang yang berpakaian lusuh sambil tiduran. Beberapa orang melirik kemudian mengacuhkan. Beberapanya lagi terus mengikuti jalannya Rani.

"Switsuiw ... bade kamana, Neng?" tanya salah satu orang sambil beranjak dari tempat ia duduk, mendekati Rani. Rupanya buruk, aroma tubuhnya jelas tidak menyenangkan.

"Eh, bade motret, Kang," jawab Rani gugup sambil memegang kamera.

"Naha atuh popotoan sagala? Dieu atuh jeung akang." Tangannya mulai menjangkau sikut Rani tapi masih bisa terhindari.

"Nuhun ah." Rani menunduk, mencoba melewati pemuda yang ada di depannya namun tidak bisa karena pemuda itu menjegal langkah Rani. Teman-temannya, tiga orang pemuda yang tidak kalah buruknya, berdatangan. Mata Rani terasa sumpek melihat pemandangan kumal yang ada di depannya, belum lagi warna-warni tulisan graffiti nama-nama geng motor di dinding jembatan, juga bau yang memuakkan. Rani merasa lidahnya terasa kecut, ia merasa mual.

Akhirnya ia muntahkan segalanya lewat sisa-sisa makanan yang keluar melalui mulut. Ada sayur bayam yang ia makan tadi pagi, juga ada sambal goreng terong yang belum tercacah sempurna oleh gigi. Baunya tidak kalah asam dengan bau jembatan.

Para pemuda terperangah, terutama saat cipratan muntah terkena kaki mereka. Begitu lengah, Rani langsung lari ke bawah jembatan. Terdengar derap langkah yang mengikutinya. Saat berada di bawah jembatan, Rani segera berlari menghampiri aparat keamanan.

"Pak, tolong!" ujar Rani.

Begitu melihat seorang pria yang memakai seragam dengan segala atribut keamanan, pemuda-pemuda itu berhenti dan kembali ke jembatan.

"Kenapa, Neng?" tanya pria setengah baya itu.

"Saya dikejar-kejar, Pak."

"Dari jembatan?"

"Iya."

"Oh atuh, pantas saja. Disini mah perempuan sendirian itu tidak aman."

"Hah, iya, Pak. Enggak lagi-lagi deh. Makasih ya, Pak." Rani bersiap beranjak pergi.

"Eh, tunggu dulu," ujar si polisi. "Ada biaya keamanan, Neng. Sebelum pergi, sepuluh ribu dulu."





Hasil latihan menulis Reading Lights Writer's Circle: Tenggelam dalam Masyarakat Urban.
Foto oleh Neni Iryani

Kampung Halaman

"Silahkan, Mas, mau pakai amplop?" tanya salah seorang pegawai bank sambil menyerahkan buku tabungan dan satu ikat uang biru. Aji Saka mengangguk, meminta amplop dan memasuki uangnya dengan gugup. Di tangannya, terdapat hasil nyata dan bukti kerja kerasnya bertahun-tahun kerja di ibukota. Kini waktunya sudah tiba, ia mau pulang.

Satu buah tas jinjing yang tidak terlalu besar berada di samping kakinya. Sudah sedari tadi ia menunggu bis menuju Subang, kampung halamannya yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun. Awalnya ia kepergiannya cukup sulit karena tidak direstui oleh kedua orang tuanya.

"Bantu ibu dan bapak saja petik teh ya, tidak usah ke kota. Bantu di sini saja ya ..." ujar ibunya dengan nada memohon. Aji Saka biasanya tidak pernah menang dengan nada permohonan ibunya, namun kali ini keinginannya bekerja di kota begitu besar. Ia begitu ingin melihat kehidupan di kota yang kata si Anwar--tetangga sekaligus sahabat kecil--hebat adanya.

"Kalau mau bantu kan ada Rudi, Bu. Dia tenaganya lebih besar dari saya," sergah Aji Saka. Semenjak itu ibu dan ayahnya tahu bahwa keinginan anaknya ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Maka, diiringi dengan tangis, kedua orang tuanya memaksa diri untuk merelakan anaknya pergi.

Selama di kota, Aji Saka sering mengirim wesel kepada orang tuanya. Selain itu surat-surat pun selalu berdatangan secara rutin, hingga lama kelamaan Aji Saka tidak pernah membalas dengan alasan pekerjaan bekerja jadi bawahan usaha orang. Tapi si Aji Saka ini memang baik benar. Berkat bosnya yang tidak membiarkan Aji Saka terlena dengan gemerlap kota, maka kehidupannya menjadi lurus-lurus saja. Ia tidak pernah membelanjakan uangnya dengan sesuatu yang tidak perlu. Ia simpan di dalam bank yang rekeningnya dibuatkan oleh si bosnya itu. "Pikirkan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kamu tidak hidup untuk hari ini, tapi juga besok dan nanti. Simpan uangmu untuk berjaga-jaga," ujar si bos.

Maka, lima tahun berlalu, pulanglah Aji Saka ke kampungnya. Dengan bis Bina Bakti yang berangkat dari Terminal Leuwi Panjang, Aji Saka menghabiskan perjalanannya dengan lamunan-lamunan tentang sudah semaju apa kampung halamannya dan penyambutan seperti apa yang akan ia dapat. Berniat membuat sebuah kejutan, ia tidak bilang bahwa ia mau pulang.

Lalu sampailah ia di terminal di kampung halamannya, mendapatkan terminal yang kosong. Lalu ia memanggil ojeg, "Serang Panjang, Kang!"

"Serius, kang, bade kadinya?" tanya si tukang ojeg mempertanyakan keseriusan Aji Saka untuk pergi ke tempat yang dituju.

"Muhun atuh, kunaon kitu?"

"Ah, teu kunanaon."

Maka berangkatlah mereka ke kecamatan Serang Panjang. Semakin lama jumlah orang semakin banyak, hiruk pikuk, penuh dengan tenda-tenda, dan berantakan. Aji Saka meminta agar ojeg tidak berhenti karena rumahnya belum masih harus ditempuh dengan jalan kaki. Tukang ojeg tidak mau, ia memilih berhenti di lapangan di dekat rumah camat yang dijadikan pengungsi.

Aji Saka awas dengan keadaan sekitar yang berbeda dari biasanya dimana orang-orang menunjukkan wajah cemas: mata yang liar, dahi yang berkerut-kerut, dan badan yang bergerak tidak menentu. Sesuatu telah terjadi di sini. Maka dengan buru-buru, ia berlari ke rumahnya dan menemukan hamparan tanah basah yang kosong yang seharusnya di situ ada puluhan rumah tetangganya.



Lalu dicari-cari lagi posisi rumahnya hingga ia menemukan kerangka rumah kosong amat dikenalinya. Tempat ini pernah ia tinggal lima tahun yang lalu. Harusnya di situ juga ada ibu dan bapak yang menyambutnya. Dan ada Rudi yang mungkin memukul kepalanya karena telah membiarkan adiknya membantu kedua orang tuanya.

"Astagfirullah ... Kang Aji, baru datang?" tanya salah seorang warga sambil menepuk bahu Aji Saka. Dia adalah Pak Soni, tetangganya. Ekspresi mukanya menunjukkan wajah prihatin. Tangannya enggan berpindah dari bahu Aji, seolah-olah siap untuk menopang si pemilik bahu jika tiba-tiba jatuh.

"Dimana ibu dan bapak saya, Pak? Mereka aman? Rudi? Ini kenapa? Longsor?"

Alih-alih menjawab, Pak Soni langsung memeluk Aji Saka. Diiringi tangis, Pak Soni menyatakan dukanya. Aji Saka terdiam, tas ditangannya terjatuh tanpa ia sadari, sementara matanya yang nanar tidak pernah lepas dari rumah itu. Lima tahun memori telah membangkainya kini.





Nama tokoh, tempat, dan kejadian dari cerita di atas adalah cerita fiksi.
Foto oleh Julius Tomasowa

Merayakan Kesehatan

Hari Minggu (17/07), ibu saya didiagnosis stroke ringan. Badannya masih fungsional, hanya bagian muka yang lumpuh. Strokenya diakibatkan oleh hipertensi. Tekanan darahnya sampai 220! Ahk, memang penyakit keluarga ini. Selain diabetes dan kolesterol, beberapa keluarga saya pernah terserang penyakit ini. Bahkan kakek saya meninggal karenanya.

Secara keturunan, saya membawa penyakit-penyakit berat. Tidak apa-apalah, yang penting mental selalu sehat :D

Demi menjaga tensi ibu, kami memberi makanan yang bebas garam. Artinya, makanan yang diberikan selama ini adalah makanan rebus seperti waluh rebus, tahu rebus, dan lainnya. Jangankan makan, ia sulit menelan minuman. Tapi tetap saya beri jus buah segar seperti semangka dan lainnya. Untuk tambahan penurun tensi, ibu saya diberi sirih merah. Selama makan obat dan makan-makanan biasa, tensinya selalu saya monitoring.

Selama menjaga ibu sakit, saya mendapatkan banyak bantuan berupa perhatian. Senangnya menyadari bahwa ibu saya disayangi banyak orang yaitu keluarga dan bahkan teman-teman saya. Banyak yang mendoakan atas kesembuhannya. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka.

Sedikit membahas perihal saya resign dari kerjaan, hal ini seolah-olah sudah ditakdirkan: saya berhenti kerja, ibu saya sakit, maka saya punya waktu penuh untuk menjaganya. Hmm ... well, whatever.

Tadi pagi (20/07), saya antarkan ibu berobat di salah satu klinik di Jalan Supratman. Di sana, ibu saya diakupuntur (ditusuk jarum) sambil disetrum. Saya ke sana atas rekomendasi rekan keluarga yang pernah menderita stroke berat tapi bisa sembuh karena akupuntur. Maka, berbekal usaha dan doa, pergilah saya ke sana. Sebelumnya tensi diukur dan dokternya bilang tensi ibu saya 130/80. Baguslah, satu persatu dulu yang disembuhkan.

Saya tidak melihat proses setrumnya karena saya diminta tunggu diluar. Di ruang tunggu, saya banyak melihat orang-orang sakit. Ada satu orang bapak muda yang jalannya tertatih-tatih. Entah sakit apa, yang jelas mukanya seperti menahan nyeri. Dia datang beserta istri dan anaknya yang masih kecil. Anaknya rewel dan istrinya minta pengertian kepada anaknya agar diam. Harusnya di usia yang produktif seperti itu, sang ayah bisa bekerja dan terutama menikmati indahnya bermain bersama anak dan istri.

Selain itu ada beberapa orang tua yang memakai kursi roda sehingga harus ditatih saat berjalan oleh anaknya, ada juga yang memakai tongkat, ada seorang perempuan muda yang sepertinya under weight dan jalannya seperti orang belajar jalan. Selain itu ada juga seorang ibu yang membayar di kasir sampai harganya ratusan ribu rupiah. Mungkin di tempat lain ada yang membayar hingga jutaan, belasan jutaan, dan seterusnya.

Lagi-lagi saya menyadari bahwa kesehatan itu harganya mahal, baik secara biaya maupun waktu dan kualitas hidup yang terbuang. Merasakan tubuh yang sakit tentu saja tidak enak. Kadang saya ingin sakit agar bisa lari dari pekerjaan. Namun saat saya benar-benar sakit, saya malah ingin sembuh. Karena hanya dengan sehat, saya bisa eksplorasi kesana kemari.

Jaga kesehatan, wahai pembaca. Makanlah makanan-makanan yang sehat, rajin berolahraga, dan rayakan kesehatan selama kita masih punya!

Pengamat Bisu



Mereka pasti suka merasakan kehadiranmu saat kamu sering berkunjung ke sana. Awalnya pasti mereka mereka juga mengintaimu, memperhatikan gerak-gerikmu, atau membaui aroma tubuhmu. Lalu setelah terbiasa, mereka merelakan rumputnya kamu tiduri, meminta dedaunan pohon minggir sebentar agar matahari menyinarimu, dan bersuka cita saat angin membelaimu. Karena saat itu kamu akan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merasakan aroma tanah basah karena hujan semalaman.

Mereka suka kamu. Saya iri.

Kini taman tidak sama saat awal kamu datang. Mereka dan saya sama-sama kehilangan saat kamu harus pergi ke negeri seberang. Saya mendengar rumput-rumput yang tersedu, bangku-bangku rindu untuk diduduki, ayunan yang lesu, dan angin yang berbisik meminta kamu pulang.


Foto oleh: Julius Tomasowa

Telusur Sempu, Bale Kambang, dan Bromo

Teman menulis saya yang bernama Mayang, akrab dipanggil Mae, memberi tahu bahwa ia akan ke Bromo dan Sempu di catatan Facebook-nya. Tanggalnya tertulis 10-15 Juli 2011. Bagus--pikir saya dalam hati. Selain liburan sekolah sudah usai, saya mau merayakan liburan di hari kerja. Lagipula, sudah lama saya ingin mengunjungi kedua tempat itu.

Tidak hanya saya, tapi teman-temannya Mae juga ikut. Teman-temannya Mae juga bawa teman-teman. Belum lagi satu orang dari CouchSurfing. Jadi, kesimpulannya, saya pergi tanpa mengenal dengan siapa saya akan pergi. Lalu Mae menitipkan nomer kontak mereka semua dan saya menghubungi mereka untuk memberi tahu bagaimana teknis ketemuannya nanti.

Di stasiun saya bertemu di Mimi, Fiersa, Andi, Bogel, Caesar, Prisi, Agung, Roni, dan Wisnu. Total jendral ada 10 orang, belum lagi teman-teman CouchSurfing yang kami temui di Malang. Kami naik kereta Malabar jurusan Bandung-Malang seharga Rp135.000,- Kami berangkat pukul setengah empat sore hingga delapan pagi. Selama di kereta, kami saling mengenal, main kartu, tidur, makan, tes IQ, tebak-tebakan garing, lalu tidur lagi sampai berminyak.

Destinasi pertama adalah Pulau Sempu. Kami diturunkan di Teluk Semut dan harus berjalan melalui pantai yang berlumpur. Dari sekian banyak spot di Pulau Sempu, kami menuju ke Segara Anakan. Di sana terdapat air laut yang dikepung oleh daratan dan karang. Sedikit mengingatkan pada Phi Phi Island--tempat syutingnya Leonardo Di Caprio dalam film The Beach. Selain itu karena sulitnya medan menuju tempat Segara Anakan, membuat tempat ini seperti pantai pribadi.


Menyusuri pantai yang berlumur sambil membawa barang. Foto oleh Mimi.

Jalanan yang berlumpur, licin, penuh dengan akar dan bebatuan harus dilalui selama dua jam dengan jalan kaki. Kalau musim hujan, jalanan ini bisa dilalui selama empat jam! Belum lagi jalan setapak yang curam dan terjal di pinggir pantai. Selain itu Sempu masih berupa hutan yang penuh dengan monyet karena ini adalah cagar alam, bukan tempat wisata yang berisikan warung, jalanan beraspal, penginapan, atau wc umum.

Omong-omong tentang penginapan dan wc umum, kami mendirikan tiga tenda. Kalau mau BAB atau BAK, silahkan memilih semak-semak terdekat untuk menggali lubang. Kalau mau makan, silahkan bakar ikan yang dibeli dari pelabuhan Sendang Biru di Pulau Jawa dengan menggunakan api unggun. Ini betul-betul sebuah petualangan.


Mae beli ikan di pasar ikan Sendang Biru. Harga mulai Rp10.000,-/kg


Bakar ikan di atas api yang tidak kunjung menyala. Foto oleh Mimi.

Saya, Mimi, Mae, Agung, Roni, Wisnu, Fiersa, dan Caesar memberanikan diri untuk naik ke atas karang yang paling tinggi untuk mendapatkan gambaran Segara Anakan secara keseluruhan. Di atas sana, kami bisa melihat liarnya deru ombak Samudra Hindia yang memecah karang. Jalan menuju atas sangat sulit, terutama saat bagian jalan tertutup dengan batu. Salut dengan teman-teman yang membawa tripod dan kamera.


Two personalities of Sempu. I bet she's a Geminian ;)


Gambar aslinya harusnya lebih bagus. Ini kameranya yang jelek.


Tempat kemah dari puncak karang. Foto oleh Mimi.

Sempu adalah surga yang tersembunyi sekaligus si cantik yang berbahaya.

Setelah dari Sempu, kami istirahat di rumah makan dan mandi di kamar mandi umum. Setelah itu, kami langsung menuju Bale Kambang--pantai yang jaraknya sangat jauh dari Pulau Sempu. Jalannya beraspal namun berkelok dan kiri kanan jalan dipenuhi dengan ladang jagung atau rimbun pepohonan. Sampai pukul lima sore, kami mendapatkan pantai wisata yang sepi, cuaca mendung, dan tidak mendapatkan sunset.

Bale Kambang rupanya sama seperti pantai-pantai selatan lainnya: ombak besar sehingga tidak bisa berenang. Mungkin bedanya adalah di sini ada pura di atas karang yang harus ditempuh dengan menggunakan jembatan. Sedikit mengingatkan pada Tanah Lot-nya Bali. Selain itu pantai ini beraroma mistis yang sangat kental sehingga Mae berkali-kali mengingatkan agar kami tidak berbicara sembarangan.

Misalnya saat kami menuju pura, Fiersa bersumpah serapah karena blitz kameranya tidak menyala. Langsung setelah bersumpah serapah, blitz kamera langsung menyala dan memotret orbs yang ada dikisaran pura. Setelah ia mencoba blitznya di rumah makan, alatnya berfungsi seperti biasa.

Setelah makan, beberapa orang teman ingin ke kamar mandi. Pemilik warung makan memberikan kami lampu minyak. Ternyata kamar mandi umumnya tidak ada lampu dan gelap gulita. Ditemani oleh teman laki-laki, saya mengurungkan niat untuk ke kamar mandi. Entah kenapa, suasana terasa spooky. Bale Kambang rasanya seperti pantai mati. Selain tidak ada lampu jalan dan suasana sepi, warung-warung di sana pun tutup. Apa karena bukan musim liburan? Beruntung, kami hanya sebentar di sini.

Pukul setengah dua pagi, kami dibangunkan untuk pergi ke Bromo. Agung, Wisnu, dan Roni tidak ikut karena mereka akan lanjut ke Rinjani. Beberapa teman sudah panik karena kami baru berangkat pukul setengah tiga dan takut ketinggalan sunrise. Belum lagi supir mobil sewaan sempat tersesat di dalam kompleks perumahan yang terlalu banyak diportal.

Sekitar pukul setengah lima, kami sampai di Bromo. Begitu keluar dari mobil, udara dingin langsung menggigit. Saya dan teman-teman sudah menyiapkan jaket tebal. Beberapa ada yang membawa sarung tangan dan topi rajutan (kupluk). Saya tidak bisa membayangkan orang-orang yang bekerja di sekitaran gunung ini karena suasanya dingin sekali.

Kabar burung memberi tahu kalau suhu gunung ini adalah 5 derajat. Tapi, begitu matahari sudah muncul, udara panas adanya (lepas jaket sangat memungkinkan). Jadi, kalau ada yang menawarkan sarung tangan atau kupluk, tidak usah panik untuk membeli karena nanti udaranya akan panas sendiri.

Dua mobil Jeep datang bergantian. Kloter pertama adalah para fotografer yang mengejar sunset. Kloter kedua adalah tim penggembira yang senang-senang saja melihat sunset dari dalam mobil yaitu saya, Mimi, Prisi, dan Andi. Di perjalanan, kami melihat sekumpulan anak yang mau sekolah hanya memakai baju seragam saja dan berdiri di atas mobil sambil berpegangan. Apa? Mereka sudah terbiasa kali ya.


Tim penggembira. Foto oleh Mimi.

Bromo sungguh indah luar biasa. Melihatnya saja seolah-olah Bromo bukanlah pemandangan yang nyata tapi seperti tempelan wallpaper. Padang pasir di sekitar Bromo itu berkabut, membuat ilusi bahwa Bromo dikelilingi lautan air yang sangat putih. Selain itu semburat warna kuning dan oranye muncul di timur, membawa kesan hangat pada Bromo yang terus mengeluarkan asap.


Bromo bermandikan cahaya mentari pagi

God do exist and God is truly artist.

Karena terlalu lama santai-santai di atas, kami disusul oleh supir Jeep untuk segera ke padang pasir karena kalau terlalu siang, pasirnya akan naik (oleh angin). Sampai di sana banyak orang yang menawarkan jasa berkuda hingga tangga menuju kawah Bromo. Melihat para penunggang kuda ini sungguh keren. Padang pasir, sarung yang menyerupai jubah, pasir yang membuat mereka samar, membuat para penunggang kuda ini seperti orang-orang misterius dari antah berantah.

Melihat medan menuju kawah Bromo yang juga melelahkan, beberapa orang teman memutuskan untuk tidak ikut. Saya bersikukuh ingin ke atas karena sayang rasanya jika sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak sampai puncak Bromo. Mimi, Mae, Caesar, dan Prisi juga ikut ke atas. Kami berjalan kaki kemudian menaiki tangga Bromo yang tertutup pasir pasca erupsi di bulan Januari.

Menuju ke puncak Bromo, kami diiringi oleh angin yang membawa pasir. Kacamata dan masker sungguh membantu agar tidak banyak kelilipan atau menghisap pasir. Karena banyaknya pasir, terkadang pengelihatan di depan menjadi begitu samar dan jarak pandang hanya tersisa beberapa meter saja. Tangga yang dipenuhi pasir yang rentan longsor pun membuat kami harus merangkak.

Sampai di bibir kawah yang penuh dengan asap dan lautan pasir yang membutakan jarak pandang mata, saya hanya bisa mengintip sebentar karena jarak pijak di bibir kawah hanya sedikit. Kalau terlalu dekat, alih-alih tanah bisa longsor dan kita bisa masuk ke kawah. Belum lagi pegangan yang sudah hilang karena tertutup pasir. Tidak ada waktu untuk foto-foto pula karena sibuk pegangan tanah agar tidak terjatuh.

Saat turun pun cukup mengerikan karena kami berada 2392 meter di atas permukaan laut. Prisi sempat menangis karena ia takut dengan ketinggian. Beruntung Caesar bisa menenangkannya. Tangga yang penuh pasir dan tidak memungkinkan untuk dipijak juga harus dilalui dengan cara serodotan. Saya membuka jalan, Mae berada di belakang saya, Mimi berikutnya, lalu Caesar dan Prisi.

Ketinggian dan anginnya membuat kami mati gaya. Foto oleh Mimi.


Perjuangan menuju bibir kawah. Foto oleh Mimi.


Foto oleh Mimi.

Foto oleh Mimi.


Mae di antara debu. Kesulitan menuju bawah.

Sampai di bawah, kami ditertawakan oleh penduduk sekitar karena wajah kami yang sudah tidak karuan: rambut keabuan karena pasir dan acak-acakkan, wajah yang menghitam dan hanya putih di sekitar mata. Kami membalasnya dengan tawa karena saat saling melihat wajah kami, memang terlihat bodoh adanya. Tapi kami bangga karena ini adalah bukti dari pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Di Malang, kami menginap di rumah teman Couch Surfingnya Mae. Rumahnya di daerah Singosari, jauh dari kota Malang. Saat malam, kami mencari makan ke daerah kota dan makan di ayam goreng Mbok Jayus (kalau tidak salah). Agaknya teman-teman sedikit bete karena sempat salah angkutan dan harus jalan kaki jauh sekali. Belum lagi tempat duduk yang dioper kesana kemari.

Malang ini mirip Bandung. Udaranya dingin, tidak panas seperti Probolinggo atau Surabaya. Saya juga suka suasananya. Tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi pula. Ini mengingatkan pada Solo dan Jogja. Saya pikir saya tidak akan masalah jika saya harus tinggal lama-lama di sana.

Berbeda dengan kereta yang kami naiki saat menuju Malang, pulangnya kami memutuskan naik kereta ekonomi dari Kediri seharga Rp17.000,-. Bis antar kota dari Malang ke Kediri ini dijejalkan banyak orang sampai mereka sama sekali tidak bisa bergerak. Beruntung saya dan teman-teman dapat tempat duduk. Caesar bahkan sempat memangku anak kecil yang digendong ibunya sambil berdiri karena tidak dapat tempat duduk.

Di Blitar, kami menemukan daerah seperti Puncak. Jalanan berkelok, pepohonan, dan udara yang segar. Bahkan Mae dan Prisi sempat melihat laut dibalik rimbunnya pepohonan. Katanya lautnya tenang dan tidak berombak. Saya sendiri tidak lihat karena sibuk tertidur.

Sampai di Kediri, waktu semakin menipis karena sebentar lagi kereta sudah mau berangkat dan angkutan sudah jarang. Apalagi kami belum makan pagi dan makan siang. Akhirnya kami memakai becak. Sampai di stasiun, kami berbagi tugas. Ada yang membeli tiket, ada yang menjaga tas, dan ada yang membeli makanan. Total perjalanan dari Malang-Kediri-Bandung sekitar 70.000, jauh lebih murah dari ongkos keberangkatan :)

Selama perjalanan menuju Bandung, kami bercerita banyak hal. Caesar menceritakan pengalamannya mendaki 8 gunung besar di Indonesia, aktivitasnya sebagai pencinta alam, pengalamannya ditinggal satu minggu di hutan, sampai pengalaman sentimentil dimana ia harus kehilangan temannya saat mendaki tebing di Citatah. Fiersa sibuk menceritakan teori konspirasi Einstein, Prisi sibuk mempraktekkan gaya hantu, Mae banyak tidur. Saya sibuk memberi konsultasi psikologis dengan asumsi tanpa dasar tapi mereka percaya-percaya saja. Mimi sempat terganggu dengan pedagang yang hilir mudik dan menawarkan setiap menit. Saya tidak bohong, betul-betul setiap menit! Karena banyak orang yang hilir mudik dan mencurigakan, kami tidur gantian. Tapi saat saya kebagian shift tidur, tetap saja tidak bisa nyenyak karena bangku kereta yang sangat tegak dan kepala bisa jatuh kapan saja. Phew.

Maka, di pukul lima pagi, sampailah kami di stasiun Kiara Condong. Di sana kami berpisah. Mimi dan Mae naik lagi kereta menuju stasiun Bandung, Fiersa, Caesar, dan Prisi lanjut ke rumah masing-masing, dan saya pulang. Iya, saya pulang. Saya pulang menuju kamar 3x3 meter yang saya tinggal selama lima hari berpetualang bersama teman-teman yang menyenangkan.


Travelmate. Arah jarum jam: Wisnu, Fiersa, Mae, Nana, Arga, Icha, Bogel, Caesar, Prisi, saya, Roni, Mimi, Agung, dan Andi. Foto oleh Mimi.

Dunia ini luas dan ini adalah karunia Tuhan. Eksplorasilah selama kita memiliki usia, rezeki, kesehatan, dan kebebasan. :)

Nia Janiar Saja


What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.

Mungkin begitu menurut William Shakespeare, lain lagi menurut sang empunya nama Nia Janiar. Nama yang awalnya begitu dia hindari, kini menjadi miliknya yang begitu dibanggakan. “Karena identitas penting buat saya.”

Bahkan untuk karya-karya tulisnya, dia tidak menggunakan nama samaran atau nama pena. Karena namanya sudah seperti nama seorang penulis, menurut temannya yang sempat mempertanyakan keengganannya menggunakan nama Janiar.

Janiar yang hampir menjadi Janiar saja tanpa Nia, berasal dari nama kerabat ibunya. Nama seorang dari Padang yang pintar. Ingin anaknya menjadi pintar juga, maka Janiar ditorehkan dalam salah satu akte lahir yang terdaftar di Bandung. Tepatnya 27 Januari 1987. Tapi Janiar yang satu ini diawali dengan Nia, panggilan akrabnya sampai sekarang.

Dalam hitungan hari Nia akan mengakhiri pekerjaan yang sudah dilakoni selama dua setengah tahun. Menjadi guru sekolah dasar untuk anak-anak berkebutuhan khusus. “Masih pengen sama Bu Nia ...” rengek salah seorang muridnya yang dyslexia dan sudah terlanjur dekat. Tentunya berat memutuskan berhenti di dunia itu untuk mengejar mimpinya.

Mimpi menjadi seorang penulis. Tidak bisa tidak. Beberapa mimpinya sudah pernah dilupakan dan tidak dijabani. Tapi tidak yang ini, putusnya. Walau orang-orang sekitarnya banyak menentang. Masih dengan anggapan bahwa menjadi penulis bakalan susah, banyak diragukan terutama masalah penghasilan.

Tumbuh besar tanpa figur seorang ayah sempat mempengaruhi karya tulis fiksinya. Sempat menjadikannya sosok yang tertutup dan bersikap negatif terhadap banyak hal. Tapi keputusannya untuk memilih kuliah di UPI jurusan Psikologi membantu melepasnya dari sosok yang dulu.

“Justru waktu kuliah saya menemukan minat menulis, menemukan diri dan berobat diri.” Bayangan Nia Janiar yang tertutup dan negatif tidak pernah terbersit dari beberapa pertemuan saya dengannya. Yang ada Nia Janiar yang bisa dengan mudah berbaur dengan orang, bisa dengan enteng dan penuh tawa menanggapi banyak hal.

Diskusi adalah salah satu hobinya di antara sekian banyak kesukaannya yang lain. Beberapa komunitas diikutinya seperti Reading Lights Writer’s Circle, KlabKlasik Tobucil dan juga National Geographic Forum Regional Bandung. “Semua representasi kegemaran saya. Semua adalah seni, seperti juga menulis adalah seni bagi saya.”

Awalnya penggemar Dewi Lestari, Ayu Utami dan Sapardi Djoko Damono ini lebih suka menulis fiksi dan bercita-cita membuat novel. Tapi dengan hobi travelling-nya Nia mulai menulis kisah perjalanan tidak dalam bentuk fiksi. Untuk memperkuat cara penulisannya, dia memilih untuk bergabung di Kelas Penulisan Feature (Non Fiksi) di Tobucil yang dipandu oleh tiga orang jurnalis sekaligus. “Kepingin jadi jurnalis,” aku Nia.

Sore itu Nia datang dengan senyum di wajahnya. Rambut sebahu yang bergelombang dibiar tergerai, diselipkan di kedua belah telinganya. Baju merah berkerah dipadunya dengan rok batik warna warni. Dibawanya wadah laptop yang juga bercorak batik warna warni. Memancarkan keceriaan dan menyiratkan kesukaannya akan hal yang tradisional.

Kagum dengan orang Jawa katanya. Karena suka dengan filosofi mereka dan suka orang yang dekat dengan budayanya. Bahkan ingin cari suami yang orang Jawa dengan nama bagus di belakangnya. “Supaya nama belakang saya tambah bagus” kata Nia sambil tertawa terbahak.

Nia Janiar, dengan tambahan nama Jawa atau apapun di belakangnya atau Nia Janiar saja, by any other name would smell as sweet.

Bandung, 24 Juni 2011

---------------------------------

Di atas adalah hasil latihan menulis profile feature karya Mbak Jessisca Fam yang diposting di blog saya belum dengan izin. Latihan menulis profile feature itu adalah kami saling menulis para anggota pelatihan menulis (saya menulis tentang Pitra Moeis)

Dari semua hal yang saya ceritakan, ia menulis ini, dan saya bersyukur atasnya. Dengan disimpannya tulisan di blog ini, mudah-mudahan Mbak Jessis tidak keberatan :)

Fobia dan Saya

Teman menulis saya, Neni Iryani, seringkali menulis puisi akhir-akhir ini. Dari semua puisi yang dibuatnya, saya lebih suka puisi-puisinya yang berbahasa Inggris karena lebih representatif. Tidak hanya membuat puisi, ia juga membuat cerita pendek (flash fiction). Dari semua cerita pendeknya, saya paling suka cerita yang akan saya bagikan di bawah ini.

Sebelum baca karyanya tentang perempuan yang rela mengatasi fobianya untuk mendapatkan orang terkasih, saya mau bercerita sebentar. Ceritanya berhubungan dengan cerita yang akan saya bagi, saya janji.

Kemarin, saya menonton film proses terjadinya Danau Kelimutu pada gunung berapi yang ada di Flores. Di film tersebut, diperlihatkan danau dengan tiga warna: hijau, merah hati, dan hitam. Salah satu danaunya yang berwarna hijau memiliki kedalaman 125 meter. Airnya sangat asam dan tidak boleh terkena kulit. Dindingnya sangat terjal dan mudah longsor.

Mendengar pernjelasan itu, saya membayangkan diri saya menginjak sisi dinding, lalu terperosok, lalu masuk ke dalam air asam yang dalam. Saya merinding, perut saya bergejolak, kepala saya pusing. Membayangkannya saja tidak mampu.

Ah, baca saja cerita di bawah. Kau akan tahu apa maksudnya.

My Phobia and You

Yes we know exactly that I'm phobia of heights. Acrophobia, they call it. So, it's not a secret that I will avoid doing anything which will trigger my phobia. I hate balcony. I avoid looking through the window glass from a room in a second floor, not to mention in a 13th floor and so on. There's no strange that I hate apartment. I prefer spending more hours trip by bus to travelling by airplane. That's why I've never gone that far, unlike you, the most adventurous man and passionate backpacker I've ever known. Maybe, this is one reason of why I fall in love with you. People say we tend to fall in love with ourselves that we see in others, but apart from that we tend also to fall in love with someone who will complete us as persons.

I don't know where you are right now. The last postcard I received from you telling me that you are somewhere in Asia. You said you fall in love to the beautiful scenery around you, the fresh air, the singing of birds you hear every morning, the tropical atmosphere, the local ladies, etc. You even wished that you could live there with me for the rest of your life. You also said that you can't wait to do climbing in the near mountain the next day. You showed me the track you will pass to that mountain; it is in the postcard picture. This bridge--I even couldn't believe people call this frail piece of wood and rope as a bridge--will lead your way to the mountain and find the climbing spot.


The last line you wrote was a joke saying that next time I should pass this frail bridge to get me you. Smile emoticon. Full stop. Your name.

It has been two months since I received your postcard. You've never made me this long waiting and wondering your story of where you are now, what you feel, where your next heading or plan, the local food and girls, what you do to get some money, how you get lost and find new adventure, how was the rock climbing, etc.

This postcard is the most read since one month ago, although I suffer from a headache and I always tremble every time I see the picture. And those symptoms are getting worse when I read your last line words.

***

I don't know what happen to me this morning. When I stared at the bridge, I felt like I will be able to pass this bridge for you. I felt no more headache, trembling or nausea. Yes, for the first time in my life: I want to pass this bridge, a frail bridge. This thought made my blood rushed faster. I will be able to go by plane. Maybe I need to meet psychiatrist first, but it's not a big problem. I've never this brave; I will try my best to pass it, if this bridge really could get me to you.

But, how could I know that you are there waiting?

Empat Ratus Anak Tangga

Awalnya saya hanya akan mengajak Eka saja ke trip bareng NGI Forum Regional Bandung ke Gunung Padang--gunung yang memiliki situs megalitikum terbesar se-Asia Tenggara. Namun Ari (yang kemudian mengajak Novi, Ana, dan Gege) mengendus calon perjalanan saya ke Cianjur--kota yang merupakan titik pusat pantai utara dan pantai selatan Jawa Barat. Maka, hayo kita berangkat saja!

Kami janjian di DU pukul setengah empat subuh. Saat saya sms Eka pukul setengah empat, dia bilang baru mandi. Oh, Eka, maukah kau ditinggal oleh kami?

Jadi, begini ceritanya ...


Telusur Lampegan, Gunung Padang, dan Curug Cikondang
oleh Nia Janiar

Minggu (03/07) merupakan tanggal yang perlu diingat karena ini adalah kali pertama NGI Forum Regional Bandung hunting ke luar kota. Saat itu kami tidak pergi sendirian karena ditemani teman-teman dari Teknik Sipil UNPAR. Total peserta sekitar 56. Waktu keberangkatan sempat mundur 15 menit dari pukul empat pagi karena ada hambatan mengenai jumlah peserta dan kapasitas mobil.

Satu jam dari Bandung ke Cianjur, kami menemui jalan berundak yang penuh bebatuan menuju Gunung Padang dan sekitarnya. Kondisi jalan yang buruk membuat beberapa teman yang menggunakan mobil rendah kesulitan. Mobil sedan tidak direkomendasikan untuk perjalanan ini.

Sebelum ke Gunung Padang, kami pergi ke stasiun kereta Lampegan yang dilewati jalur Bandung-Sukabumi. Karena pernah terjadi longsor, stasiun yang dibangun dari tahun 1879 hingga 1882 ini direnovasi pada tahun 2010. Cat yang masih baru dan keadaan stasiun yang bersih membuktikan stasiun ini dirawat dengan baik. Wakil gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, sudah meresmikan stasiun Lampegan sebagai tempat wisata.


Stasiun Lampegan


Yang di atas itu adalah periode pembangunannya


Dari dalam terowongan kereta yang pernah ambruk karena longsor


The Machine


The Journal


Kosong


Jalan yang curam sehingga harus mengantri dulu



Tidak beraspal tapi berbatu


Setelah hunting foto dan tulisan di stasiun Lampegan, kami berangkat ke Gunung Padang yang letaknya 6 km dari stasiun dengan waktu tempuh sekitar 15 menit menggunakan kendaraan. Di sana sudah ada teman-teman dari NGI Forum Regional Jakarta yang sedari pagi datang untuk mengejar matahari terbit. Namun pagi itu matahari tidak muncul karena cuaca mendung.

Sebelum masuk, kami mendapatkan arahan dari Pak Dadi, perwakilan dari pengelola situs megalitikum ini. Ia menjelaskan bahwa situs megalitikum di Gunung Padang dikelola oleh tiga instansi yaitu kabupaten, provinsi, dan DPRD Serang. Selain itu ia mengingatkan agar pengunjung tidak mencoret, tidak memukul-mukul batu, dan membuang sampah pada tempatnya.

Empat ratus anak tangga yang berupa susunan bebatuan andesit ini harus kami lalui. Jarak setiap anak tangga cukup jauh sehingga harus mengerahkan banyak tenaga. Dengan nafas tersenggal-senggal, kami berusaha menaikinya satu persatu hingga puncak. Selama perjalanan, tidak jarang ditemui teman-teman yang duduk atau berhenti sebentar untuk istirahat.


Ari


Nia


Novi


Ana


Eka (biasa aja dong mukanya)

Pak Nanang, pemandu situs ini, sudah siap di atas. Ia menjelaskan tentang sejarah keberadaan situs Padang yang mengarah ke barat laut. Situs diduga sebagai tempat peribadatan nenek moyang karena menghadap Gunung Gede sebagai simbol keagungan Tuhan. Bertepatan dengan kiblat, arah dimana kaum muslim juga beribadat.

Tidak hanya untuk mendapatkan pengetahuan mengenai situs megalitikum ini, kami melakukan aksi penanaman pohon di sekitar Gunung Padang yang bibitnya sudah dibawa dari Bandung. Pak Nanang memandu kami dimana saja kami harus menanam karena ada beberapa lahan yang sudah tertutup oleh pohon.

Setelah makan siang, beberapa dari kami ada yang mencoba mengangkat batu seberat 80 kg. Mitos mengatakan bahwa barang siapa yang dapat mengangkat batu tersebut maka doanya akan dikabulkan. Pak Dani, yang juga seorang pemandu, memberi tahu teknik bagaimana cara mengangkatnya. Namun hasilnya nihil: mayoritas tidak bisa mengangkat—malah terjatuh atau tergencet batu.

Curug Cikondang menjadi tujuan selanjutnya. Jalan menuju curug (air terjun) ini cukup jauh. Selain itu, jalannya tidak kalah rusak dibandingkan jalan menuju Gunung Padang. Lagi-lagi mobil yang rendah mengalami kesulitan sehingga harus dipandu harus melintas ke jalan bagian tertentu.

Air terjun berundak ini yang cukup tinggi ini banyak dipakai warga untuk main air, mandi, duduk-duduk menikmati keindahan curug dari kejauhan maupun dari dekat. Namun keindahan Curug Cikondang yang menghadap persawahan ini harus dirusak dengan sampah di sekitar air terjun. Juga tempat peristirahatan yang sangat tidak nyaman karena sampah kering dan sampah basah yang bertebaran.

Naik dan turun tangga gunung, mendaki dan menuruni bukit, sepertinya harus dibayar dengan pegal-pegal, terutama di daerah paha dan betis. Namun kelelahan yang didapat tidak sebanding dengan kebersamaan dan serunya hunting bersama teman-teman.


Foto oleh Darmarianto

Jejaring Tulisan

Saya update ya jejaring tulisan saya yang tidak saya tulis di blog ini:
1. Mapay Cikapundung: Dari Sumur Bandung hingga Curug Dago
Agenda ngaleut pada hari Minggu (26/6) adalah menelusuri sungai Cikapundung dengan jalan kaki sampai Curug Dago. Karena titik mulainya adalah Sumur Bandung, maka saya membayangkan jarak yang harus saya tempuh. Ah, tidak masalah – pikir saya. Maka berbekal sepatu dan ransel, saya bersiap untuk ngaleut (berjalan beriringan).

2. Liputan Event: Peraduan Para Domba
Tiga puluh satu domba dipancang di sisi timur arena adu domba Babakan Siliwangi (Baksil) Bandung pada tanggal 05 Juni 2011, entah ada berapa domba yang dipancang di sisi baratnya. Domba-domba yang berasal dari Garut namun dibesarkan di berbagai daerah di Jawa Barat sengaja didatangkan dengan menggunakan mobil bak terbuka pukul 07.00 untuk diadu pada pukul 09.00. Sembari menunggu pertandingan dimulai, kami—anggota forum National Geographic Indonesia Regional Bandung—berkumpul sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Beberapa ada yang sudah mulai memotret dan wawancara. Jumlah anggota yang terkumpul adalah 27 orang.
Baca selanjutnya di:
3. Liputan Event: Kampung Kecil di Balik Monumen
Adalah Kampung Seniman Bangun Pagi yang letaknya berada di belakang monumen dan berada di tengah-tengah rimbunnya pohon bambu. Di dalamnya terdapat beberapa saung yang memiliki fungsi masing-masing. Saung pertama yang kami kunjungi adalah Karinding Buhun (Karuhun). Saat kami datang, beberapa pemuda yang memakai pakaian hitam sedang memainkan alat musik karinding serta beberapa anak yang sibuk menonton. Karinding adalah alat musik purba yang dibuat dari bambu dan karet yang berperan sebagai senar.
Baca selanjutnya di: