Rumah

Jadi, kemarin itu, kita laksana dua orang yang sedang main. Yang ketika tawa sudah berderai, berpeluh oleh keringat, dan sudah puas, lalu kita saling berpamitan; saling mengecup pipi, lalu mengambil jalan yang berbeda. Kamu berjalan memunggungiku lalu hilang di hiruk pikuk. Kamu pulang ke rumah.

Tetapi aku tidak. Aku masih di sini, berpura-pura mencari jalan pulang, padahal tidak. Menunggu kamu mengajak main lagi.

2 comments:

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.