Masa Lalu #2

Saya pernah bilang bahwa saya tidak mengambil porsi besar untuk masa lalu. Mungkin karena saya bukan pengikut psikoanalis, juga tidak ingin apa yang sudah berlalu menjadi justifikasi tindakan sekarang. Tapi keberadaan masa lalu itu ada pentingnya di masa kekinian, jadi tidak bisa dinihilkan kehadirannya.

Masa lalu merambat melalui jendela, merayap di dinding dan sela kasur, lalu menelusup masuk ke telinga, menjalar ke otak di kala malam. Walau pikiran sedang bagus, masa lalu bisa menggerogoti sehingga hanya menyisakan pikiran buruk yang residunya diturunkan ke hati. Rasanya sakit tapi tidak bisa sembuh.

Sebuah gelas berisi soda pernah tumpah di rumah makan siap saji karena tidak sengaja, seorang anak pernah terdorong jatuh dengan tidak sengaja pula, sebuah mulut pernah menghardik karena perilaku yang belum benar atau membuat bising CPU dengan tidak sengaja. Saat itu saya paham bahwa perilaku buruk dilakukan seseorang pasti tidak sengaja. Hanya orang jahat yang mau menyakiti dengan sengaja.

Hal buruk ingin dibikin lupa, hal baik ingin dibikin agar kita bisa hidup lagi di dalamnya. Dengan cara diingat-ingat, dengan cara terus disesali, dengan cara pura-pura lupa.

Tapi ia hidup, mengintaimu di kala malam, mengikutimu bagai bayangan.

Drama Sekolah: Bullying

Awalnya saya berpikir lembah kecil seperti foto di bawah ini hanya ada di alam mimpi saya saja. Saya ingat berjalan bergerombol dengan entah siapa mengelilingi lembah kecil ini. Imaji visual begitu terpatri dalam ingatan karena saya takjub dengan lubang besar menganga di tengah hutan hujan tropis ini.

Ternyata ini beneran ada!
Itu bukan mimpi karena lembah kecil itu terletak di Kawah Domas (kompleks Gunung Tangkuban Parahu) yang pernah saya kunjungi ketika saya SD. Kemarin (26/11), saya pergi ke sana untuk keperluan liputan, ditemani oleh Andika. Maka, 1.2 kilometer dari gerbang awal ke Kawah Domas, kami habiskan dengan kenangan saat sekolah.

Saya teringat dengan salah satu guru di kelas 4 yang kebaikannya selalu saya kenang. Rasanya dia satu-satunya guru yang sayang sama saya apa adanya. Kalau tidak salah namanya Pak Heryanto. Andika bertanya memangnya saya seaneh apa sehingga hanya ada satu guru yang memperhatikan. Saya tidak aneh, tidak menonjol, dan juga tidak pintar. Saya hanya selalu jadi korban hinaan/candaan teman-teman. Kulit saya tidak seputih teman-teman lain (baca: hitam) sehingga saya selalu dihina 'hula-hula', 'Irian Jaya', 'kuman', 'dekil', dan lainnya. Ada salah satu teman yang selalu mengelap setiap barang yang saya sentuh karena saya parasit, mungkin. Saat ia dicomblangin sama saya, ia berkata, "Saya mau kalau dia putih."

Lucu. Sementara sekarang masyarakat Papua atau Afrika juga bisa menikah dan memiliki keturunan.

Rambut saya hitam lurus (aneh) yang poninya tergerai melampaui mata serta rok 3/4 karena ibu saya membelinya kebesaran. Saya mungkin seperti anak kampung. Selain itu juga saya teringat salah satu guru SD yang mencubit saya karena saya gaduh. Saya juga ingat ketika saya mengadu ke ibu, lantas ibu menjawab, "Ya suruh siapa kamu nakal!" dan saat itu saya patah hati. Sebagai mantan guru SD, saya pernah berhadapan dengan anomali kekinian tentang orang tua yang komplain dari aduan anaknya.

SMP dan SMA saya juga sama saja. Saya sering dihina. Kini permasalahannya bukan karena warna kulit, tetapi jerawat. Masalah kulit saya ini abnormal dan membikin self-esteem saya jatuh. Jadi, sampai sekarang, saya tidak pernah menganggap diri saya menarik dan merasa sensasi aneh serta ganjil kalau ada orang yang bilang saya manis, cantik, atau menarik. Jus.ti.fi.ka.si. Mending tidak usah disebut sekalian.

Baru kehidupan membaik saat kuliah. Mungkin orang-orangnya lebih dewasa ketimbang sekolah. Saat sekolah, berbeda sedikit, langsung jadi bahan gurauan. Andika juga bilang kalau ada murid baru atau orang luar Jawa saat sekolah, mereka pun tidak mengalami kehidupan yang mulus. Ia melanjutkan bahwa ajang reuni pun seperti manusia dalam sebuah kompetisi yang sedang berlomba menuju garis finish. Ada yang sudah jadi dokter, ada yang kuliah di luar negeri, dan lainnya. Tapi saya tidak khawatir karena jika seseorang tahu siapa dirinya dan mau menjadi apa, ia tidak perlu takut berkompetisi dengan orang lain karena setiap orang jiwa punya tempatnya masing-masing. Oke, kamu mungkin senang jadi dokter, tapi saya lebih senang menjadi penulis karena ini adalah hal yang saya inginkan.

Teman saya ini bertanya kenapa saya bisa bercerita tentang kehidupan sekolah saya dengan enteng. Mungkin karena saya sudah get over it. Lagipula, saya tidak ingin masa lalu menjadi kambing hitam dan tolak ukur atas keadaan saya sekarang. Biar dia jadi cerita yang bisa saya bagi seperti dalam perjalanan ke Kawah Domas ini.

Jadi, untuk anak-anak sekolah sekarang yang sedang di-bully ... kamu enggak perlu khawatir. Nanti ada kalanya kamu menemukan jati diri, lebih percaya suara hati ketimbang omongan orang lain, lalu terang bersinar seperti bintang di pekatnya malam.

Prasangka di Balik Pecinan

Teman saya, seorang keturunan Tionghoa, pernah menautkan tulisannya yang berjudul ‘Hai, Cina!’ yang berisi keputusannya kuliah di universitas negeri. Keputusan ini sangat besar baginya karena pada saat itu ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, berpindah dari lingkungan homogen ke heterogen. Beruntung orang tuanya tidak melarang, hanya mengingatkan bahwa ia akan menjadi minoritas dan pasti akan menemukan banyak perbedaan.

Teman saya itu masuk hitungan cukup beruntung dimana orang tuanya suportif terhadap keputusannya. Tidak sedikit teman-temannya yang dilarang untuk kuliah yang mayoritasnya ada pribumi dan muslim. Kebanyakan mereka dimasukkan ke universitas swasta non-muslim. Ketakutan orang tuanya itu wajar karena ingin melindungi anaknya dari diskriminasi ras Tionghoa yang terjadi di masyarakat.

Darimanakah diskriminasi kaum Tionghoa bisa terjadi, mungkin sedikit banyak jawab terjawab saat saya dan Aleutians jalan-jalan ke Pecinan. Awalnya saya tidak akan ikut karena ide menjelajah kawasan Pecinan tampak tidak menarik bagi saya. Tapi untungnya keputusan salah saya tidak diambil, karena perjalanan kemarin (13/11) sungguh menginspirasi saya dalam menulis tema yang sebenarnya sudah lama ingin saya tulis.

“Udah Cina, pelit lagi. Calon masuk neraka!” teriak salah seorang pemulung kepada ibu saya yang cuek saat ia mengemis minta makan. Ibu saya memang bukan keturunan Tionghoa, tapi kulitnya yang terang, mata sipit, dan perawakannya merujuk seperti warga Tiongho. Tapi kami ikut tersentil mendengar kata ‘Udah Cina, pelit lagi.’ Memangnya kalau Cina, ada yang salah? Memangnya kalau pribumi boleh pelit?

Sebelum menjawab, biarkan saya menceritakan ulang sejarah Pecinan yang saat itu diceritakan oleh Candra dan Indra. Pecinan atau China Town terjadi saat Indonesia masih dijajah Belanda, warganya dipecah-pecah berdasarkan rasnya untuk memudahkan pengendalian warga yaitu Eropa (termasuk Jepang yang dianggap maju dengan orang kulit putih), Timur Asing (Tionghoa), dan pribumi. Untuk warga Tionghoa, dibangun sebuah konsentrasi yang dikenal sebagai Pecinan. Di Bandung, mereka ditempatkan di kawasan Cibadak dan Pasar Baru. Di kawasan Cibadak, mayoritas kaum Tionghoa bekerja sebagai tukang atau pengrajin. Sementara di Pasar Baru, kaum Tionghoa bekerja sebagai pedagang.



Sama seperti Bandung, di Jakarta dan Semarang pun dilakukan pemisahan. Bahkan di tahun 1740, Pecinan dibenteng dan lahan orang Tionghoa dibatasi. Bahkan ada yang namanya kartu pas atau izin jalan. Untuk bisa keluar benteng, mereka harus memiliki kartu pas—mungkin semacam visa kalau kita mau jalan ke negara tetangga. Sistem kartu pas dan benteng ini dihapus di awal abad ke-20.

Terbatasnya lahan ini mempengaruhi tempat tinggal mereka yang bangunannya memiliki karakteristik tinggi dan panjang. Jika kita jalan ke Pecinan yang ada di Bandung, rumah sekaligus toko (ruko) yang dihuni warga Tionghoa adalah hal yang lazim dilihat sekarang ini. Tentu saja tidak semua ruko dihuni warga Tionghoa, begitu juga rumah biasa yang dihuni warga pribumi.

Mereka tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Mereka turut memutar roda ekonomi dengan bisnis atau berdagang. Unggul dalam bidang ekonomi, mereka diberi peran sebagai perantara pasar modern (Belanda dan Barat) dengan pasar tradisional kala itu. Selain itu menimbulkan kesan bahwa warga Tionghoa “berada di atas” pribumi dengan segala eksklusivitas. Ini bisa jadi pencetus prasangka-prasangka dan diskriminasi yang ada di masyarakat.

Salah satu usaha warga Tionghoa yang waktu itu kami datangi adalah warung Cakue Osin yang ada di Jalan Pasar Barat. Pemiliknya yang bernama Lie Tjay Tat membikin cakuenya sendiri. Dengan senang hati, ia mempertunjukkan cara memotong adonan, melekatkan dengan air, hingga menggorengnya yang memiliki teknik tersendiri agar cakuenya mengembang.




Selain menjual cakue, mereka menjual kompia (sejenis roti keras yang cocok dipasangkan dengan bubur kacang tanah) yang memiliki dua jenis yaitu kompia kosong atau kompia yang berisi daging babi, bala-bala daging babi, dan lainnya. Bagi kaum muslim, sebelum makan di daerah Pecinan itu sebaiknya tanya dulu apakah makanannya halal atau tidak.

Islam dengan Tionghoa pun erat kaitannya. Saat melewati viharra yang ada di Jalan Kebon Sirih, Indra mengemukakan tema bahwa beberapa walisongo adalah orang Tionghoa (Indra menambahkan ada juga yang dari Hadramaut dan wilayah Magribi (Afrika Utara), seperti Sunan Gresik). Maka jika ditelusur lewat internet, menurut Prof. Slamet Muljana dalam bukunya yang sempat dilarang edar pada saat Orde Baru berjudul Runtuhnya Kerjaan Hindu Jawa (1968) memang mengatakan seperti yang Indra bilang. Namun pemerintah Orde Baru yang sudah kepalang menganggap Tionghoa sebagai musuh karena dianggap komunis dan membantu gerakan 30 September 1965, melarang buku tersebut.

Berbagai prasangka dan kecurigaan ini terus bergulir melalui berbagai macam peristiwa dari peristiwa pembantaian warga Tionghoa oleh VOC di Muara Angke tahun 1740 hingga tragedi Mei 1998 dimana manusia diperkosa dan dibunuh karena ras yang tentu tidak ia minta. Prasangka yang diturunkan secara berkelanjutan yang seolah-olah dibenarkan oleh beberapa kejadian, memicu pemulung berteriak seperti itu dan jadi alasan orang tua melarang anaknya bersekolah di lingkungan dengan mayoritas pribumi.

Tidak hanya Tionghoa, tapi prasangka negatif juga terjadi di dalam pribumi seperti Sunda itu mata duitan, Jawa itu lamban, Batak itu keras, dan lainnya. Tidakkah yang mata duitan sekarang tidak hanya suku Sunda saja? Tidakkah semua orang membutuhkan uang? Dan sebagaimana semua orang—apapun sukunya—bisa lamban dan keras? Prasangka yang manusia bikin sendiri tentunya menjadi tidak valid.

Tulisan panjang lebar di atas boleh jadi hanya dari sudut pandang saya sebagai pribumi, sebagaimana buku sejarah, literatur, dan bahan-bahan lain yang dijadikan rujukan, dengan kurangnya bagaimana pandangan kaum Tionghoa terhadap pribumi. Proses pencarian yang tidak hanya merujuk benda mati melainkan berdiskusi juga bisa memecah prasangka karena ada interaksi untuk mengkonfirmasi tentang hal-hal yang selama ini manusia duga.

Dan pada akhirnya, Tionghoa dan pribumi adalah sebuah label yang saling membatasi.



“Our greatest strength as a human race is our ability to acknowledge our differences, our greatest weakness is our failure to embrace them.” --Judith Henderson.

Selimut Debu (2010)

Meluruskan stereotype yang salah tentang Afghanistan, boleh jadi itu salah satu tujuan Agustinus Wibowo (akrab dipanggil Gus Weng) dalam membuat buku Selimut Debu. Setelah membaca Garis Batas, lagi-lagi saya terkesima dengan gaya bertuturnya serta informasi yang terkandung di dalam bukunya. Jelas ia membaca banyak buku dan membuat Selimut Debu bukan sekedar catatan perjalanan.


Selama berada di Afghanistan, ia jarang menceritakan tentang perempuan karena perempuan di sana sulit sekali ditemui. Belum lagi penggunaan burqa sebagai simbol anonimitas, identitas, budaya, kenyamanan, dan keamanan perempuan berada di dalamnya yang membuat Gus Weng kesulitan.

Perempuan menjadi hal yang paradoks. Dalam kebudayaan Afghanistan, kehormatan adalah hal yang dijunjung tinggi, salah satu bentuk dari kehormatan adalah perempuan. Ketika dua laki-laki Afghan bersinggungan, mereka tidak akan membicarakan istri atau saudara perempuan mereka. Dan ketika harus keluar rumah, seorang perempuan harus ditemani oleh satu orang laki-laki. Sekilas terlihat bahwa perempuan begitu dianggungkan dan dilindungi oleh suami sebagaimana yang ditulis Gus Weng;

‎"Dalam pepatah kuno Pashtun, tempat perempuan itu hanya rumah dan liang kubur. Perempuan kerja di luar rumah itu melanggar hukum 'agama', karena laki-laki adalah penyedia dan pelindung." (Agustinus Wibowo:158) 

Gus Weng menuliskan saat Lam Li (teman jurnalisnya dari Malaysia) memperlihatkan foto perempuan pekerja yang ada di Malaysia, perempuan Afghan itu malah jatuh kasihan karena mereka harus bekerja, bukan suaminya seperti yang dilakukan di Afghanistan. Dituliskan juga bahwa jika suami dari perempuan meninggal, maka hidupnya ditanggung oleh saudara laki-laki dari suaminya. Jika sudah tidak ada lagi, maka perempuan itu harus bekerja. Namun bagaimana bisa bekerja jika perempuan hanya menghabiskan waktu di rumah dan (nantinya) di liang kubur?

Perempuan di sana anonim: antara ada dan tiada. Secara kasat mata, mereka tampak diagungkan dan dijaga baik-baik, namun banyak juga yang mengalami penyiksaan oleh suaminya sendiri. Sebagai informasi tambahan, di video National Geographic: Too Young To Wed ini ditunjukkan bahwa seorang perempuan mencoba membakar diri setelah tidak sengaja merusak televisi suaminya. Selain itu ada yang ditusuk suami karena keluar rumah tanpa izin suami.

Karena tidak ada budaya pacaran, pernikahan yang terjadi di sana terjadi karena poses perjodohan. Biasanya dalam sebuah pertemuan yang isinya hanya perempuan, calon ibu mertua datang lalu memilih perempuan yang akan jadi menantunya. Tentu perjodohan yang tidak didasari rasa cinta menjadi problematika sendiri.

"Ada perempuan yang dipenjara karena menolak dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tua ... Banyak istri yang tersisa atau janda miskin akhirnya memilih jalan pintas--menenggak racun atau membakar diri ... meluluhlantahkan kulit, dan menghancurkan wajah mereka, menyuarakan ratapan pedih dari makhluk yang tak pernah didengar suaranya ini." (Agustinus Wibowo:175-176)

Perinkahan baru terjadi ketika calon suami mampu membayar mahal yang mahal (sekitar $4000). Karena perekonomian pasca perang Afghanistan terlunta-lunta, maka tidak semua pria dapat menikah sementara prostitusi menjadi hal yang tidak mungkin. Dampak dari fenomena ini adalah mereka menyalurkan hasrat seksualnya pada anak laki-laki. Rupanya di Afghanistan itu pria dewasanya banyak yang playboy. Play with boy. Artinya pria dewasa "memberi" sementara anak kecil "menerima". Bukan berarti homoseksual, tetapi, hanya saja "bermain" dengan anak kecil itu paling murah dan gampang.

Biasanya anak kecil yang dicari itu laki-laki cantik, mulus, dan tidak berbulu. Bahkan ada pria dewasa yang sengaja membesarkan anak seperti ini untuk objek permainannya karena ia akan dianggap maskulin dan dominan. Anak ini akan terus dipakai sampai dia berbulu, menikah, lalu menjadi pria dewasa yang bermain dengan anak kecil lainnya. Budaya seperti Yunani ini juga ternyata dekat dengan kita sebagai warga Indonesia, yaitu adanya fenomena warok dan gemblak di Ponorogo.

Dalam buku Selimut Debu, di sana diceritakan betapa bangsa Afghanistan sangat mencintai tanah debunya--khaak. Meskipun banyak terjadi perang salah satunya saat dijajah Rusia dan dikuasai Taliban sehingga banyak dari mereka yang mengungsi ke Pakistan, Iran, bahkan banyak yang terdampar di Indonesia saat mau ke Australia, jelas mereka bangga terhadap tanahnya. Selain itu, tidak hanya kemiskinan dan peperangan, bangsa Afghan terkenal dengan keramahtamahannya (walaupun Gus Weng pernah berjalan kaki di atap dunia atau bermandikan debu karena tidak ada mobil yang mau mengangkutnya). Kedai teh (samovar) di tengah gurun, keberutungan, serta keramahtamahan warga membuatnya mampu bertahan.

Selain pengetahuan yang membuka cakrawala saya tentang dunia di Asia Tengah, personalisasi yang dituangkan oleh Gus Weng terus mengingatkan saya bahwa ini adalah sebuah catatan pribadi, bukan buku paket sejarah dan budaya Afghanistan. Gaya bertuturnya dan rangkaian katanya membuat saya terus berlanjut dari lembar per lembar, imajinasi ke imajinasi, membayangkan kayanya pengetahuan di balik debu itu sendiri.

bongkar/muat

Masih di bulan yang sama, dua tahun yang lalu, saya pergi ke Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Ada seorang pria dari Malang yang mengadakan pameran tunggal di selasar, kemudian saya tuliskan ulasan kunjungannya dengan judul Mencoba Merendah Bersama Gatot. Jelas, saya suka karya seniman yang satu ini.

Kemarin (04/11), saya dan Andika pergi ke SSAS lagi. Ada sebuah pameran kelompok bertajuk bongkar/muat (unload/reload) yang diisi oleh Gatot Pudjiarto, Made Guna Valasara, dan Rudayat dalam sebuah program baru SSAS yaitu transit. Selain memang ingin melihat pameran seni, Gatot Pudjiarto yang lebih membuat saya datang ke bongkar/muat.

Karyanya kali ini bukan kolase canvas saja, tetapi dari lima karyanya yang dipampang tadi malam, ada kain perca yang ia sambung dan jahit sehingga menghasilkan sebuah karya. Tengoklah fotonya:

Takut Akan Keterbukaan, 2011

Metamorfosis, 2011
Lalu juga kedua karya di bawah ini dengan judul Membongkar Artefak yang membikin penasaran ada gambar apa di balik carut marut canvasnya:



Saya bertanya pada Andika, "Gatot Pudjiarto itu tukang jahit ya?" Soalnya karyanya berupa perpaduan canvas, kain, serta benang yang digunakan dengan jahitan teknik dasar jelujur. Canvas biasanya dipakai untuk dilukis atau digambar, tapi Gatot Pudjiarto membiarkan imajinasnya tertuang pada jelujur benang yang identik pada feminitas.

Datang ke pameran seni bukan berarti saya mengerti seni. Baca katalognya pun saya tidak mengerti. Tapi saya ingin menikmati seni. Oh, ngomong-ngomong soal katalog, saya tidak dikasih karena harus 'satu-berdua' dengan Andika karena alasan katalognya hanya sedikit. Sangat mengecewakan bagi saya yang ingin mengetahui penjelasan tentang karya Pudjiarto. Saya mengeluhkan pada Andika bagaimana jika jumlahnya hanya sedikit, mending tidak usah dibagikan saja karena mengecewakan jika pengunjung harus memahami hal-hal yang seharusnya bukan urusannya. Paham, mbak-mbak yang ada di meja tamu?

Selain hal yang menganggu tadi, saya menikmati karya dua seniman lainnya. Ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tentang canvas yang diisi dengan busa oleh Made Guna Valasara, sebagaimana yang diungkapkan oleh Hendro Wiyanto, " ... mendorong keluar sifat datar permukaan kanvasnya ke arah lekukan dan permukaan cembung dengan warna monokrom putih mulus ..."  atau realitas sosial yang tercermin dari dinding-dinding kotor perkotaan dikemukakan oleh Rudayat.

Terbiasa Jadi Anjing, 2011

White #1 (After Freud)
Karya Made ini membikin tidak tahan untuk menyentuh. Tapi kan peraturannya tidak boleh memegang :)

Baik Gatot, Made, atau Rudayat, jelas ketiganya membikin saya bisa menarik sebuah garis di luar ranah seni tentang pentingnya eksplorasi dan berani keluar dari kotak. Mudah-mudahan pengalamannya tidak transit, melainkan menetap lalu dijalankan secara konsisten.

Selamat untuk ketiganya.