Kuantar ke Gerbang*

Kisah yang akan saya ceritakan kali ini mengenai seorang perempuan bernama Inggit Garnasih. Saya mendapat informasi tentangnya bukan dari buku pelajaran atau buku paket, melainkan dari mulut ke mulut, melalui sebuah pertunjukkan di bawah lampu nan redup. Sebegitu tidak diketahuinya padahal perempuan yang menjual bedak dan jamu ini memiliki jasa yang besar terhadap kemerdekaan Indonesia kala itu.

10 kilometer pernah Inggit lalui dengan jalan kaki untuk menemui Soekarno--presiden pertama Indonesia yang menjadi suaminya kala itu--dari tempat tinggalnya ke penjara Sukamiskin. Ia rela kehujanan dan kelelahan demi menghemat uang untuk suaminya yang membutuhkan. Namun ia tidak pernah menceritakan hal ini terhadap suaminya karena merasa Engkus (panggilan sayang Inggit terhadap Soekarno) sudah terlalu banyak pikiran dalam menentang kolonialisme dan tidak perlu ditambahi hal yang remeh temeh.

Berawal dari kerelaan suami Inggit sebelum Engkus, yaitu H. Sanusi (pengurus Sarikat Islam), untuk berbagi atap dengan Engkus yang saat itu adalah pelajar THS dan membutuhkan tempat tinggal. "Bunga Kamboja cantik merah warnanya," begitu yang diucapkan Engkus dalam balutan pakaian putih dan peci saat pertama kali melihat Inggit Ganarsih yang terpaut belasan tahun lebih tua.

Karena kesibukan, H. Sanusi jarang berada di rumah. Berbeda dengan Engkus yang selalu berada di rumah dan membawa teman-temannya sehingga rumah Inggit menjadi ramai tentunya. Inggit melihat betapa pemuda itu begitu pintar, bersemangat, dan begitu terpelajar. Inggit dan Engkus pun sering berdiskusi di malam hari. Hingga Engkus mengakui menyukai Inggit dan juga sebaliknya. Maka, Inggit bercerai dengan H. Sanusi dan menikah dengan Engkus. Bahkan H. Sanusi dengan rela melepaskan istrinya bersama Engkus (daripada bersama saudagar kaya lain) dan menjadi wali nikahnya.

Inggit sadar bahwa ia menikahi seorang pelajar yang tidak dapat menafkahinya. Maka sambil mendukung, menyemangati, dan mengayomi Engkus, ia berjualan bedak dan jamu untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Saat Engkus habis berpidato, dengan tenggorokannya yang serak, Inggit merawatnya. Membuatkan sebuah minuman dan memberikan kata-kata yang menenangkan hingga suaminya tertidur di pangkuannya. Singa podium itu tak ubahnya seorang anak kecil jika berhadapan dengan Inggit. Hingga ketika Engkus harus dipenjara di Banceuy, Inggit dengan pantang menyerah meminta penjaga untuk bertemu dengan suaminya untuk menyemangati suaminya yang terpuruk, menyelundupkan buku-buku di perut (bahkan ia rela berpuasa agar perutnya kempis dan tidak dicurigai penjaga), dan menyelipkan uang koin di kue yang dikirimkannya ke penjara.

"Kerjaku adalah membangunkan suamiku, mengingatkan waktu sembahyang. Menyiapkan kopi tubruk dan sarapan. Mendorongnya untuk maju, menantinya dengan segala perasaan orang yang menunggu. Menyatakan kasih sayangku, memuaskannya."

"Suamiku menghargai aku, karena aku mencintainya. Karena aku tidak memberikan pendapat-pendapat yang berbelit, karena aku menunggunya, mendorongnya, dan memujanya."

"Aku memberikan cinta, kehangatan, kehormatan, ketulusan. Aku mengabdi kepadanya, aku tenggelamkan diriku pribadi, aku hilangkan kepentinganku sendiri. Seorang istri yang merupakan perpaduan daripada seorang ibu, kekasih, dan seorang kawan."

Wanita kelahiran Desa Kamasan tanggal 17 Februari 1888 ini juga dengan setia menemani suaminya saat diasingkan ke Flores. Di sana mereka mengangkat seorang anak dan Engkus sempat terkena malaria. Dalam kondisi sakit dan diasingkan, Engkus begitu depresi dan menyerah untuk melanjutkan perjuangannya. Malah Inggit yang menyemangati bahwa sakit dan diasingkan seperti ini bukanlah tantangan yang berarti, karena banyak tantangan yang lebih berat apalagi jika Engkus sudah jadi pemimpin nanti.

Saat di Flores, mereka menerima Engkus menerima surat bahwa ia dipindahkan ke Bengkulu. Mereka berkenalan dengan Fatmawati, seorang anak perempuan yang tinggal di rumah dan sudah dianggap anak sendiri oleh Inggit. Di sana mereka membesarkan anak angkat mereka, lalu Engkus meminta Inggit pergi satu bulan lamanya ke Yogyakarta untuk menyekolahkan salah satu anak angkatnya di Taman Siswa. Engkus juga meminta Inggit ke Bandung, mengunjungi sanak saudara. Walaupun lama dan jauh, Inggit yakin dengan keputusan Engkus karena ia paham bahwa Engkus adalah orang yang mengedepankan pendidikan.

Saat kembali ke Bengkulu, Inggit mendengar desas desus mengenai hubungan Engkus dengan Fatma. Ternyata benar. Di suatu hari, Engkus berkata bahwa ia ingin memiliki seorang anak keturunannya sendiri. Jelas Inggit paham bahwa di usia 40 tahun (sedangkan umurnya kala itu 53 tahun), pasti Engkus akan meminta keturunan langsung. Yang jelas, rahim Inggit tidak bisa memberikannya.

Dalam kondisi seperti itu, mereka juga harus pindah ke Padang. Bersama anak dan seorang pembantu setia, mereka melewati hutan selama berhari-hari untuk menuju kota ini. Di sana, didengar sebuah kabar bahwa Belanda sudah mau mundur dan Jepang akan masuk. Oleh karena itu, Engkus mendapat surat bahwa ia harus kembali ke Jakarta untuk merebut kemerdekaan. Saat akan kembali ke Jakarta, Engkus meminta Inggit agar mereka mau bertandang ke Bengkulu sebentar. Jelas Inggit tahu apa maksud dari suaminya. Apalagi Engkus mengemukakan agar Inggit mau dimadu dengan sanjungan, "Meski aku mengawininya, tapi Inggitlah wanita utama, istri utama." Untuk pertama kalinya, Inggit berkata tidak terhadap keputusan suaminya. Ia menentang dan merebut kembali haknya untuk tidak dijadikan koloni sebagaimana Engkus yang selama ini selalu selalu berkata 'tidak' terhadap kolonialisme.

Saat kembali ke Jakarta, bersama Hatta dan Soetan Sjahrir, Engkus mendirikan Tiga Serangkai. Kemerdekaan kian dekat. Pada saat itulah Inggit meminta Engkus memulangkannya ke Bandung. Padahal jika ia tidak meminta pulang, Inggit bisa jadi ibu negara. Setelah bercerai, ia meninggalkan Pegangsaan Timur Jakarta tanpa membawa harta apapun kecuali sebuah kopor tua karena semua hartanya habis untuk membiayai perjuangan Engkus.

Di Bandung, Inggit Garnasih kembali menjual jamu untuk membiayai hidupnya dan kedua anak angkatnya hingga ia tidur selamanya di pemakaman umum Babakan Ciparay tanggal 13 April 1984. Cinta, bagi Inggit Garnasih  selalu memaafkan. Ia tidak pernah membenci dan menaruh dendam pada Engkus. Ia adalah ibu, istri, kekasih sekaligus teman perjuangan Engkus. Sebelum ia meninggal, Engkus telah mendahuluinya pada tahun 1971. Di depan peti jenazah Engkus, dengan suara gemetar dan lirih, ia berkata, "Engkus, geuningan Engkus teh miheulaan Inggit. Kasep, ku Inggit didoakeun ... (Engkus, rupanya Engkus mendahului Inggit. Cakep, Inggit mendoakanmu.)"

Soekarno bersama Fatmawati


*Judul di atas diambil dari judul buku Ramadhan K.H.

Radio Malabar, Riwayatmu Kini


Tulisan oleh Nia Janiar
Foto oleh Yandi Dephol


Saya kira tumpukan bebatuan secara teratur yang ada di Gunung Puntang itu situs pemujaan. Ternyata bukan. Itu adalah puing bangunan kompleks stasiun radio pertama Hindia Belanda tahun 1923 yang dihancurkan.

Aleut! Malabar menjadi tema ngaleut kali ini (18/12).  Sudah saya duga bahwa ini bukan ngaleut Jalan Malabar, melainkan ke kawasan Pegunungan Malabar. Apalagi ada permintaan pakai baju yang nyaman segala. Karena punya masalah dengan pengalaman naik gunung, maka buru-buru saya melakukan riset dengan membaca catatan perjalanan Komunitas Aleut! dan sedikit wawancara sebelum memutuskan pergi.

Tapi nyatanya pergi juga. Penasaran juga. Dan enggan menyesal di kemudian hari juga.

Angkutan dan elf (kendaraan peri dengan kecepatan tinggi serta resiko akibat salip menyalip yang juga tinggi, penj.) adalah alat transportasi kami menuju Gunung Puntang—yang merupakan bagian dari pegunungan Malabar—tempat stasiun beserta pemancar radio itu berada. Dayeuhkolot, Banjaran, kemudian belok kiri agar tidak masuk rute Pangalengan, menjadi jarak yang ditempuh selama satu jam perjalanan. Kami berangkat pukul 08.25 dan sampai sekitar 09.25.

Kami tiba di pintu gerbang kawasan perhutanan Gunung Puntang. Di sebelah kiri gerbang ada sungai kecil yang airnya dingin dan menyegarkan. Beberapa kawan sempat bermain air di sana: hanya sekedar menyelupkan kaki atau tangan untuk merasakan airnya. Tentunya mereka tidak tahu bahwa nantinya sungai kecil ini akan dipakai buang air untuk Priestanto dan Ilham.

Jalan menuju pintu gerbang ke kompleks statsiun radio ini tidak jauh. Jalannya sudah diaspal, lebar, serta tidak terlalu menanjak. Kecuali jika tiba-tiba mencari jalan pintas lewat semak belukar yang licin dan becek seperti yang dilakukan Aleutians kemarin. Saat keluar dari semak, beberapa teman hanya bisa tertawa sambil berkata, “Kenapa ada jalan bagus harus lewat jalan setapak gini sih? Ya … namanya juga Aleut!”

Penyangga pipa

Bebatuan setengah lingkaran ada di sisi jalan setapak. Kata Bang Ridwan, itu bekas  penyangga pipa zaman dulu. Beberapa langkah kemudian dari pipa tersebut, terdapat sebuah kompleks bongkahan bebatuan tersusun rapi dan membentuk sebuah kerangka bangunan. Batuannya tertutup lumut dan belukar. Ini merupakan kompleks karyawan stasiun radio (disebut Kampung Radio atau Radiodorf). Tidak hanya kamar tidur atau kamar mandi, fasilitasnya di kompleks ini lengkap untuk kebutuhan sehari-hari seperti kolam renang, bioskop, lapangan tenis.

Sayangnya seluruh kompleks di Gunung Puntang ini dihancurkan dengan bom—berdasarkan Ridwan Hutagalung melalui pengamatan literatur-- bukan oleh pihak Jepang melainkan pribumi sendiri tahun 1945-1946 dengan alasan untuk menghambat penjajahan Jepang. Belanda harus menyerah tanpa perlawanan kepada Jepang karena musuhnya berhasil membombardir dan menenggelamkan kapal-kapal yang dimiliki sekutu. Jepang juga pernah membom taman rumah residen dan di sekitar alun-alun Bandung namun mereka tidak mungkin menghancurkan sesuatu yang mereka butuhkan atau akan mereka pakai sebagai media propaganda Pulau Jawa yaitu Radio Malabar ini.

Sisa Kampung Radio atau Radiodorf

Berdasarkan tulisan "Pemboman" Radio Malabar karya Ridwan Hutagalung (2009), sumber listrik untuk menggerakan stasiun radio pertama dan terbesar di Asia ini diambil dari empat pembangkit yaitu PLTA Dago Bengkok, PLTA Plengan, PLTA Lamadjan, dan PLTU di Dayeuh Kolot. Dibentangkan antena sepanjang dua kilometer antara Gunung Puntang dan Halimun dengan ketinggian antena 350 meter dari lembah. Wah! Aleutians banyak yang bertanya bagaimana bisa dibangun antena setinggi itu. Jelas ahli teknik elektro Dr. Ir. C. J. de Groot yang merintis dan membangun stasiun radio sehingga bisa terjalin komunikasi antara Hindia-Belanda dengan Belanda sudah memikirkannya. Ini membuat saya berimajinasi tentang seberapa majunya pendidikan di Belanda kala itu.

Diambil dari blog Komunitas Aleut! di tulisan M. Ryzki W.

Fakta menarik lainnya adalah kondisi gunung Puntang adalah lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun yang curam berbentuk V untuk menguatkan gelombang radio dan jika ditarik garis lurus dari lembah tersebut akan mengarah langsung ke Amsterdam. Entah bagaimana de Groot bisa menemukan tempat seperti ini. Pesawat? Helikopter?

Saat kami memperhatikan penjelasan, Reza dan Bang Ridwan memperlihatkan bangunan megah nan putih di kompleks ini tahun 1923. Aleutians menyayangkan bahwa bangunan sebagus ini harus dihancurkan. “Harusnya pribumi kala itu bisa berpikir dingin,” ujar Ambu Trizsa Vas. Juga ada pendapat lain seperti jika pribumi bisa menghancurkan, seharusnya mereka bisa membangunnya kembali.

Kolam Cinta

Selain keberadaan bangunan, ada sebuah kolam yang juga bersejarah. Namanya Kolam Cinta. Bentuknya seperti segitiga, dengan dua busur kecil di bagian atas yang melengkung dan bertemu di sebuah lingkaran sebagai titik. Kalau berdasarkan artikel M. Ryzki W berjudul Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II, disebutkan bahwa jika ada orang yang pacaran di sini, maka akan langgeng umur hubungannya. Mudah-mudahan yang jomblo juga tidak jadi langgeng kejomboloannya.


Membayangkan bangunan-bangunan besar berdiri kokoh di atas hamparan rumput hijau, dikelilingi pinus, dan berlatarkan gunung, rasanya diri ini akan terpesona dengan kemegahannya jika bangunan ada di depan mata. Belum lagi terbangunnya suasana seperti kabut serta gemericik sungai Cigeureuh yang berada di kawasan Gunung Puntang yang airnya dingin dan jernih hingga sekarang. Beberapa Aleutians menyempatkan berendam sambil menggigil di bawah air terjun kecil, sekaligus menutup perjalanan dan rangkaian kegiatan Aleut! di tahun ini.

Saat kami akan pulang, kendaraan peri kembali dipanggil. Hanya dengan satu pijitan di keypad berwarna hijau, sinyal langsung tersalur sehingga penerima bisa menerima kabar melalui telepon genggam. Begitu kekinian dan merupakan hasil usaha zaman dulu untuk membangun sebuah komunikasi: hutan dibuka, perumahan didirikan, tiang-tiang besi ditancapkan di tingginya pegunungan.

Sumber:
Hutagalung, Ridwan. 2009. “Pemboman” Radio Malabar. Artikel bisa dilihat di http://www.facebook.com/note.php?note_id=193995986486
Wiryawan, Ryzki. 2010. Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II. Artikel bisa dilihat di http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-malabar-with-geotrek-ii/

I Miss You, Teteh ...

Tahun demi tahun sudah berganti dan saya tetap menyimpan ini sendiri (saelah). Betapa saya rindu sama kedua teteh saya yang sudah pada menikah, punya anak, dan tinggal jauh dari rumah. Yang satu tinggal di luar kota, yang satu lagi sibuk mengurus suaminya ... *nyengir*

Baiklah.

Teteh - anaknya - teteh - saya
Hari ini saya dikecewaken lagi. Katanya teteh mau datang ke rumah, tapi tidak. Ia memang tidak menjanjikan, tapi harapan kepalang melambung tinggi saat teteh sms, "Nia, besok ada di rumah?" Dan saya kecewa pas saya bilang apa boleh saya mengajaknya main ke mall dan teteh bilang tidak bisa janji karena suaminya over protective sekali. Emangnya aku mau ngapain tetehku?


Dulu, meski kami hanya saudara sepupu, kita pernah tinggal bersama di rumah ini. Yang satu asalnya dari Bogor, yang satu dari Surabaya. Mereka sekolah di Bandung dan tinggal bersama. Kita suka hangout bareng, jalan-jalan, ngegosip, masker-maskeran, dan hal lazim yang dilakukan antar saudara perempuan. Tentu sebagai anak tunggal, saya terhibur. Namun begitu satu persatu nikah dan meninggalkan rumah, saya kehilangan. Sekarang saya sendirian.

Tentu pernikahan itu merubah aktivitas dan kepribadian seseorang. Sekuat apapun kita mencoba tetap menjadi diri kita dulu, pasti saja ada perubahan: baik atau buruk. Tentu suami yang baru kenal beberapa tahun itu menjadi prioritas utama ketimbang sepupu. Yaiyalah. Pun nanti saya juga demikian, hanya sedang berasa ditinggalkan saja.

Walau punya teman, tentu saya ingin menghabiskan waktu khusus dengan saudara sendiri. Saya ingin cerita tentang siapa yang saya suka atau sekedar minta masukkan tentang baju/sepatu apa yang ingin saya beli. Atau jalan bareng sambil mengomentari hal-hal ringan, bukan obrolan masalah rumah tangga. Girls time. Family time.


Huhu, saya rindu teteh-teteh saya. Saya rindu dulu.

Road Trip Jawa

Atas dasar tugas negara mengirimkan upeti ke puteri di Kerjaan Cepu (baca: lamaran), saya dan saudara melakukan road trip dari Bandung hingga ke Cepu yang memakan waktu hingga 17 jam. Tidak akan saya ceritakan bagaimana perjalanannya, namun saya akan mengunggah beberapa foto sebagai bentuk cenderamata saya untuk pembaca. Mudah-mudahan suka.

The Railroad Sky Express (2011) at Cepu

Solemn (2011) at Rest Area Toll Mertapada

The Grand Mosque of Demak (2011)

Sumedang tofu.

Public transportation in Brebes.

The view in Pantura

The proposal

Mertapada is the most expensive toll road in Indonesia.

Tempat Sampah yang Baik

Akhir-akhir ini saya memikirkan tentang hubungan saya dengan teman yang sedang lupa berteman dengan saya di saat dia senang. Saya mengenang betapa kita sering berkomunikasi saat dia dalam kondisi down setelah putus, menggalau bersama, move on, hingga dapat penggantinya lagi. Lalu begitu dia mendapatkan apa yang ia inginkan, ia lupa. Kami jadi berbicara seperlunya saja.

Bukan hanya dia, tapi beberapa orang pun pernah begini. Saat jatuh, mereka baru datang. Tapi saat terbang, mereka mendamba hal-hal yang lebih tinggi. Lalu saya berpikir, "Kamu tuh gak inget sama orang yang ada saat kamu down? Yang bahkan orang yang kamu idamkan itu gak ada dan bahkan gak tahu kalau kamu lagi down?"

Diam-diam saya mulai menghitung untung rugi, SWOT-nya kalau bisa. Kalau Sapta (teman di klab nulis) bilang, saya ini terlalu terkonsep. Terlalu rigid terhadap peraturan pertemanan yang menurut saya idealnya harus begini atau begitu. Terlalu kaku bahwa orang dewasa harusnya begini dan begitu. Di luar itu, semuanya salah.

Sapta juga cerita tentang hubungan pertemanannya dengan orang lain. Ringkasnya, pertemanan memang begitu. Ada kala kita senang-senang dan makan ati atas perlakuan teman. Tapi jika kita tidak mau jadi tempat sampah yang baik dan kadar makan ati lebih banyak daripada senang-senang, kita bisa memutuskan mau atau tidaknya melanjutkan pertemanan. Atau menjaga sebuah jarak.

Saya pernah menulis tentang memahami orang lain. Intinya saya bertanya apakah dengan memahami orang lain, kita itu harus mengiyakan semua perkataan, memaklumi perbuatan buruknya lalu diakhiri makan ati, dan seterusnya. Hingga saya sampai pada kesimpulan bahwa kelebihan dan kekurangan teman itu harus diterima. Satu paket. Dan itu tadi, resiko makan ati selalu ada.

Lalu apakah saya mau atau tidak menjadi tempat sampah? Saya pikir itu tidak masalah asal ada win-win solution. Dia buang sampah ke saya, saya buang sampah ke dia. Dia menjaga perasaan saya, saya menjaga perasaan ke dia. Begitu seterusnya.

Sophisticated

Dua puluh lima tempat yang harus diliput kemarin akhirnya selesai. Dari Bandung Utara hingga Bandung Selatan sudah dijelajah dalam 5 hari yang padat (dan ekstra 2 hari untuk beberapa tempat yang minta di luar jadwal). Di salah satu harinya, saya ditemani oleh Andika Budiman yang sudah mau mengantar ke Gunung Tangkuban Perahu dari pagi hingga sore. Padahal naik gunung bukan masalah perjalanan menuju ke sana dengan mengunakan kendaraan, tetapi juga masalah keliling jalan kaki untuk mendapatkan spot tertentu yang jaraknya tidak sedikit. Lagipula tidak hanya menemani ke gunung saja, tapi ke daerah yang jauh seperti Vihara Vipassana atau Gua Maria Karmel pun ia jabani. Salut untuk Andika!

Andika yang berbalur belerang Kawah Domas saat menemani liputan kemarin.
Untuk pembaca setia blog, pasti kamu sudah kenal Andika, tapi belum pernah kenal Sophie. Maka, di hari yang berbahagia ini (karena ini awal bulan dan sudah waktunya gajian itu pasti membahagiakan), saya akan bercerita tentang Sophie. Ia, yang hampir dua tahun ini setia menemani saya, membantu saya memaknai jurnal dan reportasi perjalanan saya. Sophie--kependekan dari Sophisticated--adalah netbook HP Mini 110-1000 yang saya miliki semenjak saya jadi guru dulu. Warnanya hitam, tektur lingkaran ada di cangkangnya yang membikin Sophie tidak biasa, juga keyboard lebar dan empuk. Agak mirip dengan pemiliknya. Ehm.

Kata Aristoteles (kalau tidak salah) tujuan manusia ke bumi adalah untuk menamai benda-benda.
Banyak debu. Keseringan buka. Keseringan dibuka artinya keseringan dipakai. :D


Ada card reader yang membantu banget proses pemindahan foto hasil liputan.
Desktop ramai sama foto.

Pada saat beli ini, beberapa teman saya juga beli netbook dengan merek lain. Tapi baru beberapa bulan berjalan, ada yang sudah diservis atau harus membeli baterai karena ngedrop. Rasanya saya membuat pilihan yang tepat dengan membeli netbook HP ini karena tahan lama. Bagaimana tidak, ia mampu bertahan 4 jam tanpa pasokan listrik sehingga memudahkan saya ketika mobile dan harus mengetik. Juga sering saya bawa ke luar kota bahkan naik gunung karena ada beberapa hal yang harus segera diketik dan dikirimkan. Tentu, jika bukan kelebihan dan kemudahannya, kelancaran menghasilkan karya-karya seperti ini jadi terbantu.

Travel Club Magazine, 2011
Liburan Magazine, 2011
Travel Club Magazine, 2011
Dalam perjalanan, Sophie beberapa kali pernah terjatuh, baik saat memakai tas netbook atau telanjang sama sekali. Untungnya saat dinyalakan, netbooknya tidak pernah blank dan masih berfungsi seperti biasa. Namun, untuk ukuran sebuah netbook, dalam mengedit foto atau video dengan resolusi besar dan kapasitas banyak, agak kesulitan karena bisa freeze atau lag sebentar. Selain dari itu, HP Mini 110-1000 ini tidak ada keluhan sama sekali. Pembuatan media visual seperti saat membuat slide powerpoint ketika saya jadi pembiacara di seminar kepenulisan Institut Pertanian Bogor (IPB) pun lancar jaya!

Kebutuhan saya sebagai city contributor, freelance travel waiter, atau internet geek rasanya sudah terpenuhi. Walaupun jika nanti kebutuhan sudah meningkat, tidak ada alasan untuk mengganti brand Hewlett-Packard yang sudah dipakai selama bertahun-tahun ke brand lain. Apalagi ada prestige sebagai nilai tambahan untuk saya sebagai konsumen. Juga saya sebagai teman Sophie.


[Dibuat untuk HP Blog Competition "Me and My Idols"]