Jumat Kala Itu

Jumat kala itu sangat berkesan buat saya. Saya, Andika, Neni (dan teman-temannya) nonton teater boneka bertajuk Spleen: Puisi dalam Prosa. Apa spleen itu? Arti harfiah dalam bahasa Inggris adalah limpa. Berdasarkan katalognya, dituliskan bahwa dunia intelektual Inggris abad ke-18, sikap melankolis terhadap dunia dinamakan spleen. Kemudian di abad 19, perempuan yg sedang tidak enak hati dikatakan terserang spleen. Dalam bahasa Perancis, spleen menggambarkan hati yang merenung-sedih atau melankolis.

Lalu Spleen yang kemarin diadakan adalah kaleidoskop gambar, lagu, dan miniatur yg terinspirasi dari puisi karya Charles Baudelaire (1821-1867). Dalam teater ini mencoba menggambarkan manusia modern yang rindu akan hidup dan kematian, melakukan pencarian akan keabadian dan kesia-siaan brutal. Dipentaskan oleh Wilde dan Vogel, teater keliling profesional yang berdiri dari tahun 1997 ini menghadirkan pertunjukkan yang magis sekaligus aneh.

Walaunpun saya tidak mengerti dengan puisi berbahasa Inggris yang menjadi latar/narasi pertunjukkan, saya pribadi menyukai teater boneka ini karena pertama kali melihat boneka yang digerakkan pakai benang, cerita yang pahit dan bersifat khayali, serta Vogel dapat membikin boneka-bonekanya berkarakter dan terasa hidup. Belum lagi violin yang mendayu-dayu atau gitar listrik yang bergetar keras yang dimainkan Charlotte. Perkawinan musikal-artistik ini membikin saya hanyut pada pertunjukannya.

Bagi yang mau lihat, saya sudah mendokumentasikan dan mengunggah potongan adegannya di YouTube. Silahkan disantap!


Saat pulang, rupanya saya mendapat kejutan lain dari teman saya, Andika dan Neni, yaitu sebuah buku yang berisi tulisan-tulisan saya yang mereka buat sendiri selama 2 minggu. Dalam rangka ulang tahun saya ke-25, Andika dan Neni mengumpulkan tulisan-tulisan saya yang mereka suka di blog, disortir, kemudian Neni mengawinkan foto dengan tulisan (layout), menulis berpatah-patah kata tentang saya ... dan terjadilah!


Huah! Pada saat itu saya sampai berkaca-kaca karena terharu atas kejutan dan apresiasi teman-teman saya. Menulis adalah hal terpenting untuk saya dan mereka membukukannya. Pantas saja Andika ini aneh sekali tingkah lakunya dan pakai acara deg-degan. Ini salah satu hadiah terbaik yang pernah saya dapatkan. Terima kasih Andika dan Neni, semoga nanti jadi buku betulan!

Jumat kala itu, ada pengalaman baru, kejutan yang menyenangkan, serta ulang tahun perak. Kemudian tengadah ke atas langit, Tuhan menghadiahkan langit cerah berhias bintang dan bulan sabit.

Misjudged: Fashion Interest

Secara diam-diam, atau mungkin memang tidak diperbincangkan atau tidak ditunjukkan, saya senang melihat fashion. Selain melihat di website, saya juga sering melihat peragaan busana di YouTube terutama adi busana (haute couture). Salah satu perancang kesukaan saya adalah John Galliano. Selain itu, saya juga suka sama Alexander McQueen.

Selain keindahan dan keanehan, saya suka dengan pria yang berpakaian rapi. Di website yang saya ikuti secara reguler, http://www.thesartorialist.com/, ditampilkan foto perempuan dan laki-laki yang berpakaian dengan jangkauan yang lebih luas. Di bawah ini saya akan menampilkan beberapa foto yang paling saya suka. Semua foto milik The Sartorialist.

Pendiri, blogger, serta fotografer The Sartorialist: Scott Schuman.
Very well-dressed. Love it.

Saya agak kurang ngerti nama-nama pakaiannya. Tapi gaya semi resmi juga cukup mengagumkan.

Walk like a boss. Saya juga suka sarung tangannya dan long coat-nya. Very sophisticated!

Suka sekali dengan kerapian jahitannya. Rapi, klasik, dan elegan!
Gaya ini mengingatkan saya pada Scott Disick.

Saya suka pria yang pakai baju hitam. Apalagi jika pakai aksesoris yang tidak berlebihan.
Apalagi kalau ganteng. Yum.

Wih, ini gayanya sangat maskulin sekali. Jaket kulit pantas dikenakan bagi yang pantas.
Kalau tidak pantas, kelihatannya akan seperti bikers atau pegawai yang pulang pergi pakai motor.
Maaf, saya engga suka bikers.

Selain fashion, saya juga mengikuti tutorial make up yang ada di YouTube seperti Michelle Phan, Promise Tamang Phan, juga tutorial fashion ready to wear dari Chriselle Lim. Memang secara penampilan, orang mungkin akan kaget bahwa saya keranjingan hal-hal seperti ini karena saya tidak modis dan tidak pakai make up pula. Tapi  tidak memakai bukan berarti tidak suka, 'kan?

Tapi kalau politik dan matematika, jelas saya tidak suka.

Residu

Setiap orang pasti memiliki sisa-sisa urusan di hidupnya yang tidak terselesaikan. Anggap itu namanya residu karena bentuk urusannya mengendap dalam berbagai bentuk: tetap sebagai urusan atau kepribadian. Lalu kemudian karena tidak terselesaikan, residu tersebut diturunkan kepada anak cucunya. Dibebankan. Diminta agar dibersihkan atau diselesaikan. Belum lagi ia sendiri punya residu pribadi. Jadi ampas-ampas tersebut semakin lama semakin membesar dan memberatkan saja.

Anak yang dilahirkan tidak meminta beban tersebut, ia diberi secara cuma-cuma. Ia harus membersihkan ampas orang tuanya. Kalau tidak sanggup, maka ia turunkan lagi ke keturunannya. Begitu terus.

Residu, berputar terus sehingga ia tidak hanya ampas, melainkan sampah itu sendiri.

Dieng: Kediaman Para Dewa

Dulu hati pernah bercita-cita ingin pergi ke Dieng. Tapi sempat belok dulu ke selatan (Pangandaran). Rupanya Tuhan memberikan rezeki dan kesempatan. Maka bersama ke-5 orang teman, saya berangkat ke Dieng. Jeng jenngg!!

Perkenalkan, tim kami berbeda (lagi). Ada saya, Neni, Eka, Agus, Sis, Wahyu, juga saudaranya Sis yang berperan sebagai supir bernama Pak Asep. Sis, Wahyu, dan Asep ini berdomisili di Bogor dan Jakarta sehingga dalam perjalanan ditemukan logat-logat Betawi yang kadang nyablak tapi kadang lucu. Mereka ditemukan oleh Eka saat ia travelling ke Ujung Kulon. Tiga serangkai itu berangkat dari Jakarta pukul 11 siang dan bertemu dengan kami di Pusdai pukul 15.00, namun keberangkatan harus molor karena Agus datang terlambat dengan alasan di rumah tidak ada orang. Kalau Agus orang bukan?

Jadilah kami berangkat dari Bandung pukul empat sore. Konon perjalanan ke Dieng itu 10 jam dengan menggunakan bis umum ke Wonosobo. Navigator kami, Sis, mencoba mencari jalan alternatif yang dimaksud agar cepat sampai ke Dieng. Dengan beberapa kali istirahat, kencing, dan shalat, kami sampai di Wonosobo sekitar pukul empat pagi. Sebelum sampai ke Dieng, kami shalat subuh dulu di Dusun Rejosari - Tambi. Cuacanya tidak terlalu dingin, tapi begitu menyentuh air wudhu dan sikat gigi ... Brrr!!

Apakah ini karena di Jawa atau karena di pedesaan, setelah shalat, para makmumnya tidak langsung pulang. Mereka semacam bertasbih, berdoa, dan berdiskusi dalam bahasa Jawa. Sehabis baca Syekh Siti Jenar dan berkunjung ke Demak, saya jadi membayangkan nuansa Islam tua. Belum lagi kesederhanaan masjid yang berbilik semakin memperkuat suasana.

Oh ya, sebelum ke masjid, kami melalui pintu gerbang utama Dieng. Disana dipungut biaya retribusi tanpa tiket. Ternyata dari pintu gerbang utama menuju ke pertigaan Dieng itu jauh. Sepanjang perjalanan yang berkelok, kami berhadapan dengan kabut tebal di kiri dan kanan jalan. Di dalam suasana yang masih gelap, beberapa orang terlihat mulai beraktivitas jalan kaki, sambil dilindungi sehelai sarung saja. Agak serem lihat sosok orang di jalan yang sepi dan samar. Pak Asep sampai bergurau, "Tadi liat ada yang nyebrang gak?"

Pertigaan Dieng

Akhirnya kami sampai di pertigaan Dieng. Ini adalah pertigaan yang terkenal karena terletak sebuah penginapan yang biasa dikunjungi oleh backpackers. Nama penginapannya adalah Ibu Djono. Sayangnya semenjak merencanakan penginapan, penginapan Ibu Djono sudah penuh oleh orang yang mau tahun baruan di Dieng. Jadi, karena banyak juga, kami menyewa satu rumah. Seharusnya bisa lebih murah tetapi karena ini tahun baru pasti harga menjadi mahal. Namun, berdasarkan pengalaman di Bali, kami sudah melebihkan biaya dalam membuat budget. Kami mentargetnya Rp700.000,00 per orang dengan sewa sebuah rumah, sewa mobil, tiket masuk, parkir, makan, dan lainnya.

Kami mendapat nomer kotak mbak Resi dari internet. Tuhan merahmati jalur maya ini! Saat kami menelepon, penginapannya juga penuh. Namun ia berbaik hati mencarikan sebuah rumah untuk kami. Saat sampai di pertigaan, kami langsung mendatangi kediaman mbak Resi di Dieng Pass. Mbak Resi pun menyambut dan meminta suaminya, mas Agus mengantarkan kita ke rumahnya. Begitu mas Agus bilang rumahnya sudah siap, maka kami langsung meluncur ke sana. Oh ya, mbak Resi dan mas Agus ini pasangan suami istri yang rupawan lho!

Sesampai di sana, yang punya rumah (Pak Bejo dan istri) sedang siap-siap untuk pergi. Awalnya kami mau check in pukul 12.00, tapi karena sudah datang dari subuh, kami mencoba tanya apakah rumah sudah siap ditempati atau belum. Untungnya sudah. Rumah yang dimaksud tidak terlalu kecil. Bersih, rapi, dan tembok serta lantainya warna-warni. Para perempuan memilih sebuah kamar bernuansa pink dan ungu. Warnanya sangat Neni sekali. Sepertinya ini kamar anaknya karena banyak boneka dan mainan lainnya. Begitu melihat kasur, Eka langsung menjatuhkan diri. Siapa yang tahan melihat kasur empuk nan lapang setelah 12 jam duduk tegang di kursi mobil?


Karena Pak Asep dan Sis belum tidur, maka mereka tidur dulu sampai agak siang lalu baru lanjut jalan-jalan. Rupanya yang tertidur tidak hanya Pak Asep dan Sis, tapi yang lain juga. Kalau tidak salah saya, Neni, dan Eka pun sempat tidur sebentar. Setelah tidur, perempuan-perempuan ini berjalan melintasi perkebunan yang kala itu ditutup oleh kabut. Perkebunan Dieng didominasi oleh kentang dan jalan setapaknya didominasi oleh cacing. Yek. Setelah itu juga kami menyempatkan diri beli getuk goreng dan tempe khas Dieng.

Getuk goreng
Tempe Kemul

Betul apa yang dikatakan teman-teman yang pernah sebelumnya ke Dieng bahwa harus bawa jas ujan karena Dieng lagi musim hujan. Setelah bangun dan mulai beraktivitas, semangat agak luntur juga begitu kami turun dari mobil dan hujan. Tapi untung beberapa kami pakai jaket waterproof (make up mungkin) dan bawa payung. Maka, menjelajahlah kami di kompleks Candi Arjuna. Sebelum ke Candi Arjuna, kami ke Dharmasala yang dulunya berupa tempat persiapan upacara dan menaruh perlengkapan upacara.

Di bawah ini adalah foto-foto kesukaan saya.

Dharmasala
Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

Setiap candi ini memiliki namanya masing-masing yang berupa tokoh pewayangan seperti Arjuna, Gatotkaca, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Semar, Dwarawati. Tidak seperti Borobodur yang terdiri dari satu candi besar, candi-candi di Dieng ini kecil tetapi tersebar dimana-mana. Bahkan, menurut penjaga museum, masih banyak hutan yang belum dibuka dan memungkinkan jika ditemukan candi lagi. Nah, candi-candi di Dieng ini dulu dimiliki sama kerajaan Kalingga yang dipimpin Raja Siwa dan berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir (makam). Abu-abu anggota kerajaan disimpan di dalam candi dan sampai sekarang masih ada.

Candi Arjuna ini termasuk ring 1. Infrastrukturnya cukup baik. Sudah dibuatkan jalur untuk pejalanan kaki yang jelas, bersih, dan terstruktur. Selain itu kompleks candi ini juga dikelilingi oleh rumput yang terawat. Latar belakang perkebunan serta kabut membikin pemandangan semakin cantik. Namun sayang, saat ada telaga yang ditutup yaitu Telaga Balaikambang karena tanahnya yang mulai ambles. Selain itu, Candi Setiaki juga tampak tidak terurus karena letaknya agak jauh dari kompleks Candi Arjuna.

Naik ke atas tangga, ada Candi Gatot Kaca dan Museum Kailasa Dieng. Di dalam museum terdapat banyak arca asli yang ditemukan dari candi. Biasanya artefak ini ditemukan warga dan diberikan ke pihak museum (dengan imbalan uang), tapi ada juga yang memilih dijual ke tempat lain. Selain artefak, juga ada sejarah candi, unsur geologis tanah Dieng, dan kehidupan sosial budaya yang ada di Dieng.


Eka dan saya sedang wawancara penjaga museum. Foto milik Eka.

Di sana pegawai museumnya memberikan penjelasan tentang Dieng, terutama anak rambut gimbal (warga mengenalnya sebagai anak gembel) karena saya penasaran dengan mitosnya. Sayangnya sampai akhir di Dieng, saya tidak bertemu dengan anak gembel. Pak Janah, nama pegawai museum, bercerita bahwa dulu ada seseorang bernama Raja Kijang yang menyukai Dewi Sinta. Dewi Sinta mau dilamar jika Raja Kijang bisa memenuhi permintaannya yaitu dibuatkan sumur yang dalam. Setelah dibuat, Dewi Sinta bilang bahwa sumurnya kurang dalam. Maka masuklah Raja Kijang ke dalam sumur untuk memperdalam. Saat berada di dalam, sumur tersebut ditutup oleh Dewi Sinta. Karena ia telah berbohong, maka Raja Kijang menyumpahi bahwa rambut dari keturunan Dewi Sinta akan gimbal. Rajaku sayang, kenapa itu kutukannya biasa-biasa saja? Ada rebounding gitu lho!

Jadi ternyata rambut gimbal itu baru akan muncul ketika anak berumur setidaknya satu tahun dan menderita sakit panas. Awalnya anak akan sakit lalu tumbuh rambut tersebut. Kalau dipotong, anak akan sakit. Rambut akan hilang jika anak (biasanya di umur 4 hingga 5 tahun) sendiri yang memutuskan bahwa rambutnya mau dipotong dengan syarat tertentu. Ada yang minta ayam, ada yang minta sapi, dan lainnya. Permintaannya dapat diberi ke siapa saja dan harus dituruti. Biasanya permintaannya spesifik dan tahan lama. Jika orang tersebut tidak bisa mengabulkan, maka dia akan gembel terus selamanya. Bahkan saat pemotongan pun ada upacaranya yang bisa bikin Dieng ini dilanda macet lantaran banyak orang yang mau melihat. Anak-anak tersebut dimandikan dulu di Sumur Sindang Sedayu. Walaupun nanti dipotong, anak tidak akan merasa sakit karena keinginannya sudah dipenuhi.

Ternyata bapak penjaga museum yang saya wawancara ini juga dulunya berambut gimbal, anaknya pun demikian. Anak kakaknya pun berambut gimbal. Ia meyakini dirinya keturunan dari Dewi Sinta dan kakeknya pun memiliki korelasi dengan sejarah Dieng.

Setelah dari museum, kami ke kawah. Perjalanan untuk mencapainya pun hanya sebentar dan tidak sulit. Disediakan juga jasa berkuda atau naik APV. Melihat kolam lumpur yang bergejolak dari dekat, agak seram juga rasanya. Di sana ada kolam lumpur panas yang cukup besar dan dekat dengan pengunjung. Warga membuat aliran sungai kecil yang mengalirkan lumpurnya sehingga pengunjung bisa berendam untuk oles-oles ke kulit yang bermasalah.



Sayangnya infrastruktur di sana tidak sebaik sebelumnya. Toilet umumnya lumayan tapi mushollanya KW seribu sekian! Sajadah basah, mukena kotor dan banyak binatang. Ih aduh .. jijiknya.

Setelah dari kawah, kami ke Candi Bima. Candinya lebih besar ketimbang candi lainnya dan atap di atasnya juga berundak. Ingat bahwa candi disini merupakan tempat peristirahatan terakhir? Mungkin karena itu, Keratonan Jogja dan Solo suka bersemedi di Candi Bima setiap malam satu suro. Disini terlihat betapa saling beririsannya agama dan budaya sehingga ada yang menganut Kejawen dan Hindu Jawa. Ingat bahwa saya tadi menyebutkan Kerajaan Kalingga dipimpin oleh Raja Siwa? Ini memungkinkan karena dewa utama di Dieng adalah Dewa Siwa yang salah satunya berwujud aniconic (lingga). Selain itu, semedi di candi diharapkan bisa mengabulkan permintaan manusia karena candi merupakan replika gunung tempat tinggal dewa-dewi. Kalau dilihat dengan baik reliefnya, suka ada dekorasi pohon dan makhluk khayangan. Jadi bersemedi di candi mungkin diharapkan sama halnya bersemedi di khayangan.


Bangunan candi terdiri atas kaki yang melambangkan bhurloka (dunia manusia), tubuh yang melambangkan bhuwarloka (dunia mereka yang disucikan), dan atap yang melambangkan swarloka (dunia para dewa). Komponen candi khas Dieng adalah Kudu.

Selain terdapat aktivitas magma sehingga menimbulkan air panas seperti di Kawah Sikidang, Kawah Sileri, dan kawah lainnya yang menjadi atraksi tempat ini, Dieng memang khas dengan candinya. Dieng berasal dari kata 'di' yang berarti 'tempat' atau 'gunung' dan 'Hyang' yang berarti dewa. Jadi Dieng itu artinya tempat bersemayam dewa dewi. Secara arsitektural, candi di Dieng ini terpengaruh dengan arsitektural India. Jadi jangan heran kalau ada propaganda bahwa orang Indonesia itu asalnya dari India, pertelevisian didominasi sama orang India dan kita--sebagai keturunannya--sangat menyukai sinetron Indonesia! Ehm. Mari balik lagi ke candi.

Setelah dari Candi Bima, kami lanjut ke Telaga Warna. Di sini juga mushollanya sama saja. Basah! Mungkin pengaruh hujan dan musholla yang bocor atau air yang masuk lewat sela kaca jendela. Setelah memaksakan diri shalat di depan Telaga Warna, kami masuk gerbang dan langsung disambut dengan sebuah danau yang berwarna hijau muda--seperti yang ada di kawah putih namun tanpa asap.


Agus masuk ke dalam gua.

Tidak hanya menyajikan telaga, kawasan ini juga memiliki banyak gua dan Dieng Plateu Theater. Kami menelusuri jalan setapak yang sudah diberi trotoar menuju goa-goa. Sepertinya goa di sini dipakai untuk beribadah karena dapat tercium bau dupa yang menyengat. Tidak hanya candi, bukit dan goa pun masih mendapatkan tempat dalam kepercayaan masyarakat. Goa pertama yang kami datangi adalah Goa Semar. Goa diberi gapura berwarna hijau dan mulut goa ini ditutup dengan pintu gerbang sehingga pengujung tidak bisa masuk. Terlihat sebuah cerukan dalam yang berisi air yang sepertinya orang-orang bisa masuk ke dalamnya. Sebuah patung Semar berwarna emas juga ada di depannya. Setelahnya ada Goa Sumur dan Goa Jaran. Kedua goa tadi tercium bau dupa seperti gua di awal.

Ring 1 sudah selesai dan kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di hari pertama. Sebelum ke rumah, kami pergi ke Wonosobo untuk mencoba mie ongklok--mie khas Wonosobo. Sebetulnya di tempat wisata juga banyak yang jual mie ongklok. Tapi kami tanya mbak Resi dimana mie ongklok yang asli dan ia menunjuk Mie Ongklok Longkrang. Rasanya manis, ada rasa kacang dan rasa petis, mienya juga terasa terigunya. Kuahnya agak lengket seperti lomie, tapi ketika dicampur, akhirnya encer juga. Harganya murah, tapi kalau pakai sate (temannya mie ongklok), harganya jadi agak mahal. Bagi saya, ini seperti lomie manis saja. Tapi jika kamu berkunjung ke Dieng, kamu harus mencoba mie ongklok!

Sebelum balik lagi ke Dieng untuk merayakan tahun baru, kami pergi dulu membeli oleh-oleh. Kami membeli Carica (buah khas Dieng yang mirip pepaya dan dijadikan manisan kemudian dijual per toples kaca), teh Tambi, serta kopi Purwaceng. Kopi Purwaceng (terutama jamunya) ini katanya untuk stamina pria, tapi wanita juga bisa minum kok. Kalau kata penjual di sekitar Candi Arjuna, pria minum dengan campuran kopi dan wanita minum dengan campuran teh. Oh ya, saya juga minum kok kopinya saat saya lagi ngantor. Alhasil bikin saya ceng! Oh ya, teman saya yang lain juga beli oleh-oleh. Neni beli banyak seperti keripik tahu dan camilan lainnya untuk teman-teman kantor, Agus juga beli banyak, Eka beli dendeng Wonosobo seharga Rp50.000,00 untuk bapaknya, Wahyu juga beli banyak. Sis dan Pak Asep nongkrong aja gitu di luar.

Sambil menunggu tahun baru, kami ngobrol di warung nasi goreng. Saat itu hanya Pak Asep yang tidak ikut karena milih tidur. Obrolannya tidak seru dan serba salah tingkah karena Eka sama Wahyu digoda terus oleh Sis. Saya sih ikut-ikut Sis aja. Haha. Dan pas kita keluar dari warung, beuh ... anginnya gede dan bikin cuaca semakin dingin! Karena Neni ingin pipis, maka kami ke penginapan mbak Resi. Di sana ada mbak Resi dan mas Agus yang lagi menghangatkan diri di tungku bersama dua pengunjung. Kata mas Agus, kalau musim kemarau, Dieng semakin dingin. Suhunya bisa dibawah 0 derajat Celcius, embun bisa mengkristal, dan air bisa menjadi es jika disimpan di luar! Lalu, salah satu pengunjung wanita ikut campur dengan berkata, "Saya udah pernah lhoo ngerasain sedingin itu. Sekarang sih gak ada apa-apanya!" ujarnya sambil menghangatkan keduanya di atas tungku. Yeah, right.

Akhirnya yang ditunggu datang juga yaitu tahun baru. Kita ke Dieng memang untuk ini kok, merayakan pergantian tahun bersama teman-teman di tempat yang baru. Walaupun sebenarnya sama-sama saja melihat kembang api, tapi sungguh bersama teman itu lebih nikmat ketimbang sendiri. Apalagi jika di sebelah kita ada orang yang kita sayang. Ah, saya sih dari tahun baru kemarin dan sekarang itu sama saja, masih mengharapkan satu orang yang sama untuk ada di sebelah saya. Huhu.

Besoknya paginya kami pergi ke Gunung Sindoro untuk mengejar sunset. Kami bangun dengan terburu-buru karena baru diketuk pukul setengah 5 subuh! Dengan Pak Bejo, kami naik Gunung Sindoro yang ternyata super melelahkan. Sesampainya di puncak, langit sudah terang, tidak ada matahari, kabut tebal, dan hujan yang kian lebat. Agak anti klimaks juga sih karena saya udah ingin difoto ala siluet gitu. Tapi ya enggak setiap hari mengejar matahari terbit di atas gunung.

Sebelum menjelajah ring 2, kami istirahat dulu hingga pukul 10 sekaligus siap-siap pulang. Saat berada di ring 2, mungkin sudah tidak terlalu excited karena tahun barunya sudah dan agak terburu-buru karena dikejar waktu pulang (besoknya hari Senin dan orang-orang harus bekerja) dan saya juga harus ke Jakarta di siang harinya. Hari itu kami ke Kawah Candra Dimuka yang tidak jadi karena jalannya rusak parah (bebatuan yang tidak diaspal dan Pak Asep menyerah). Kawah ini pesanan Wahyu karena ia tampak penasaran sekali dengan kawah ini. Kalaupun jalan kaki, jaraknya jauh sekali. Setelah itu ke Kawah Sileri yang gitu-gitu saja. Jalan bisa ditempuh dengan jalan kaki namun sayang tanahnya becek sehingga berlumpur. Dan mengakhiri perjalanan dengan pergi ke sumur Jalatunda. Sama seperti lainnya, sumur ini pun punya mitos sendiri yaitu barang siapa yang dapat melempar batu hingga seberang sumur (bagi laki-laki) dan hingga tengah sumur (bagi perempuan) maka ia akan beruntung dan keinginannya akan terkabul. Dari kami semua yang melempar batu, hanya Wahyu yang berhasil. Kali kedua, ia tidak berhasil. Berarti keinginannya tidak jadi terkabul.



Mas Agus cerita bahwa salah satu kliennya ada yang pernah melakukan aksi ini atas saran mas Agus. Eh tahunya dia berhasil melempar hingga seberang lumpur dong dan berhasil sukses. Belum satu bulan usaha, si orangnya datang lagi ke Dieng untuk berterima kasih sama mas Agus sambil membawa para pegawainya berlibur! Wah wah... Saya pikir Bakrie tidak pernah melempar batu di sumur ini dan sukses-sukses saja. Jadi, buat saya yang batunya tidak sampai tengah sama sekali, tidak perlu berkecil hati. Ehm. Menghibur diri.

Kami pulang lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Saya sih senang-senang saja karena besoknya harus bekerja. Perjalanan yang kami lakukan tidak kalah serunya dari petualangan di Dieng. Kami mencoba melewati jalur alternatif (ke daerah Batang) yang jalurnya lebih ekstrim dari rollercoaster karena banyak turunan/tanjakan sekaligus tikungan curam. Belum lagi jalan yang berbatu semakin membikin ngeri karena kalaupun mobil direm, kerikil bisa membikinnya tetap bergeser. Saya pun dititipkan oleh Sis sebuah batu besar untuk berjaga-jaga jika mobilnya turun di tanjakan, maka saya harus keluar dan mengganjal ban dengan batu. Untungnya kami semua selamat hingga balik lagi jalan utama lalu lanjut Pantura. Fiuh.

ki-ka: Wahyu, Neni, saya, Eka (kaki), Agus, Sis, Pak Asep yang foto. Foto milik Neni.

Geng Bandung selamat di sekitar pukul satu pagi di hari Senin. Ada yang setelahnya harus bangun pagi dan bekerja seperti biasa. Saya yakin jiwa dan raga belum terkoneksi. Raga sudah di kantor, jiwa masing ngawang-ngawang di khayangan dataran tinggi Dieng.

Transasi Zona Tidak Nyaman



Di awal tahun 2012 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengecap pengalaman baru oleh kantor. Kantor meminta saya kerja di Jakarta selama 2 minggu dengan tanggungan biaya inap di kosan. Kantor juga mencarikan kosan untuk saya.

Tawaran itu dikirim lewat email oleh Pak J. Beliau meminta kalau hari Senin pertama di tahun 2012, saya sudah ada di Jakarta. Menarik juga karena sebelumnya saya berlibur ke Dieng untuk merayakan tahun baru bersama-sama (jurnal akan saya unggah) dan berencana pulang Senin pagi. Jadi, 2 Januari lalu, saya hanya menghabiskan beberapa jam di Bandung lalu langsung cabut ke Jakarta.

Saya merasa excited karena seumur hidup saya belum pernah merasakan ngekos, tinggal jauh dari ibu, mengurus makan serta cucian, dan lainnya. Maklum, selama ini saya dimanjakan oleh pembantu dan segala fasilitas yang sudah tersedia. Dan dukungan ibu saya serta keluarga bikin langkah saya ringan merantau dua minggu di Jakarta.

Kali itu adalah pertama kalinya saya bertemu orang kantor (karena selama ini kerja sendiri sebagai kontributor kota) dan ke Jakarta jika diminta Pak J. Setelah selesai kenalan, saya diantarkan ke kosan dan langsung bekerja! Waah .. Perjalanan pulang dari Dieng bikin saya roaming dan ngehang.

Sekarang adalah hari ke-11 saya di Jakarta. Banyak teman dan keluarga yang bertanya bagaimana keadaan saya di Jakarta. Saya selalu bilang so far so good karena saya merasa nyaman-nyaman saja dengan lingkungan sini--malah banyak hal yang membuktikan persepsi saya tentang Jakarta itu salah. Orang kantor baik, beberapa orang ramah, lingkungan kosan juga baik, dan lainnya. Masalah saya di sini hanyalah saya sendirian di kosan.

Kosan ini terdiri dari 3 kamar, dua terisi oleh saya dan satu orang laki-laki. Sebenarnya ini kosan perempuan, namun laki-laki ini sepupunya ibu kos (ibu kos masih mudah dan saya memanggilnya mbak!). Ibu kos bilang kalau saya keberatan dengan kehadiran sepupunya, dia bisa minta sepupunya ke luar. Saya bilang gak masalah. Lagian di rumah saya juga banyak laki-laki.

Saya kerja dari pukul 9 sampai 6. Seringkali pulang sambil menemukan kosan kosong saat maghrib lalu makan, mandi, shalat, nonton sendirian. Intinya--selain penakut--saya gak punya teman ngobrol.

Temen kosan (housemate) biasa pulang pukul 21:30, mandi, nonton bentar, lalu tidur. Kami tidak pernah nonton tv bareng di ruang tv karena saling sungkan. Selain itu obrolan hanya kisaran basa basi saja. Kalau dia pulang, biasanya saya masuk kamar, guling-guling sampai tertidur. Saya hanya butuh tahu bahwa dia ada di sini, maka saya bisa tidur dengan tenang.

Sifat penakut ini harus saya hadapi. Ini juga bikin saya berada di zona tidak nyaman terus. Mau kencing takut, jemur baju takut, denger suara dikit langsung berimajinasi yang aneh-aneh. Payah ...

Rasa sendiri bikin saya homesick. Nangis dikit kalau inget keluarga atau pas ditinggal Eka (sempat main ke Jakarta dan nginap di tempat saya) pulang ke Bandung sementara saya masih harus di sini. Saya diskusi sama teman-teman dan mereka bilang itu wajar.

Dengan waktu yang tersisa di sini, saya harus bersyukur bahwa saya punya pengalaman jauh dari orang tua yang artinya jadi menghargai setiap uang yang keluar, cuci baju, dan cuci piring pakai sabun Lux Magical Spell. Selain itu di kantor juga saya belajar tulis artikel bahasa Inggris, tahu standar penulisan kantor dan gaya serta informasi apa yang ingin di dapat dan lainnya.

Maka transisi ke zona tidak nyaman ini masih terproses sampai saya bisa membuatnya nyaman. Eh, ada coca cola si housemate nih di kulkas. Mumpung orangnya belum pulang, ambil aaah ...

Published with Blogger-droid v2.0.3