Di Balik Pabrik Kopi Aroma

Dalam rangka bertugas meliput, saya datang ke Aroma Factory and Coffee Shop alias Kopi Aroma. Sebetulnya sudah dari dulu ingin datang ke tempat ini karena sepupu saya bercita-cita ingin membuat kedai kopi, ingin mengajak seorang teman yang dulunya bekerja sebagai barista kedai kopi ternama, dan tentunya saya sendiri ingin tahu apa di balik toko kopi yang telah berdiri dari tahun 1930 ini.

Maka datanglah saya ke sebuah toko tua yang letaknya tidak jauh dari Pasar Baru. Di sekitar toko terdapat ruko-ruko yang sebagian besar menjual alat elektronik serta perlengkapan otomotif yang dijual di atas trotoar. Toko ini tepat berada di pertigaan Jalan Banceuy. Bentuk tokonya lengkung, mengingatkan pada Vila Isola yang ada di Jalan Setiabudi.

Toko yang kecil itu dipenuhi oleh pembeli yang sebagai besar pria dewasa. Ada yang membeli satuan dan ada yang membeli berbungkus-bungkus kopi. Di ruang depan (toko) dan ruang tengah (tempat menimbang dan membungkus kopi) terdapat tiga orang pria yang sibuk menimbang dan melayani pembeli. Sementara di belakang mereka, ada seorang wanita yang bernama Ibu Maria. Ibu Maria ini yang bertugas sebagai istri pemiliki, kasir, pengawas, sekaligus orang yang akan mengangkat telepon jika pengunjung mau melakukan reservasi masuk ke dalam pabrik.

Sejujurnya saya tidak melakukan reservasi padahal saya tahu Pak Widya--pemiliki Kopi Aroma--tidak akan ada terus setiap saat di tempat. Jadi saya agak-agak gambling. Saya menghampiri salah satu pegawai dan Bu Maria untuk mengutarakan niat saya berkunjung. Akhirnya saya dipertemukan dengan Pak Widya yang saat itu mengenakan seragam cokelat tua, sama seperti pegawai lainnya. Lalu dengan ramahnya, ia menyuruh saya masuk dan menggiring saya masuk ke dalam pabrik.

Pak Widya di duduk antara tumpukan kopinya, setelah memanggang kopi selama dua jam.

Isi pabriknya merupakan tumpukan karung goni, mesin penggiling kopi, serta mesin penggarangan kopi yang sudah tua dan masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar utamanya. Di dekat mesin penggarangan, ada sebuah ruang besar yang penuh dengan tumpukan karung goni berwarna cokelat dan putih, menumpuk hingga langit-langit yang berdebu sekaligus menjadi lantai yang diinjak-injak siapapun yang melewatinya. Ketika saya mau masuk, Pak Widya mengingatkan untuk berhati-hati karena licin.

Biji-biji kopi yang berasal dari pegunungan itu rupanya disimpan dalam gudang selama 5 tahun untuk kopi robusta dan 8 tahun untuk kopi arabika. Penyimpanan itu ditujukan agar kadar asam dan kafeinnya berkurang. Selain itu dalam pembuatannya pun tidak dipakai zat kimia sehingga Kopi Aroma ini sehat adanya. Kalau dipegang/dipukul karung goninya, akan terasa perbedaan kepadatan kopi. Semakin lama penyimpanannya, semakin terasa padat dan keras.

Saya pikir perbedaan karung goni putih dan cokelat itu menandakan perbedaan kopi robusta dan kopi arabika, namun ternyata tidak ada perbedaan karena isinya sama saja. Perbedaan warna karung terjadi karena karung goni yang terbuat dari serat sudah jarang diproduksi tetapi diganti dengan plastik buatan pabrik yang lebih rapat namun sirkulasi udaranya tidak baik. "Kalau ciptaan Tuhan sudah ditiru oleh manusia, pasti hasilnya tidak baik," ujar Pak Widya.

Menurut Pak Widya, kopinya murah karena tidak dilakukan orang berdasi Rp. 12.500 untuk arabika per 250 gram, Rp. 17.500 untuk robusta per 230 gram), tidak berniat membuat Kopi Aroma lebih besar dari ini karena ia tahu akan kapasitasnya dan tidak mau membuat kualitas kopinya menurun. Dalam obrolan, ia sering menyelipkan tentang pentingnya berusaha dengan jujur karena manusia hanya akan membawa amal baik saat mati nanti. Selain itu juga ia menghindari pemborongan/pembelian besar-besaran oleh satu orang konsumen dengan maksud agar semua orang bisa kebagian membeli kopinya. Konsep berbagi ini rupanya tidak ditanamkan dalam berbisnis saja, Pak Widya memiliki anak asuh yang harus ia urus saat di hari libur. Oleh karena itu, Kopi Aroma tutup saat libur atau Pak Widya tidak ada di toko di saat tertentu.

Pria yang merupakan generasi kedua yang mengoperasikan Kopi Aroma ini selalu terbuka jika ada pengunjung yang mau datang ke pabrik kopinya. Namun karena tempat yang sempit, sebaiknya datang dengan jumlah maksimal 15 orang dan lakukan reservasi sebelumnya. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang Kopi Aroma, saya yakin pengunjung akan mendapatkan kesan lebih dari keramahtamahan pemilik serta makna hidup dari sudut pandangnya.


---
Kopi Aroma bisa dikunjungi di Jl. Banceuy No. 51 Bandung dengan nomer telepon 022 4230473.

Dialog

Kemarin-kemarin ini saya baca bukunya Reda Gaudiamo. Buku yang berjudul Bisik-Bisik ini berisi tentang keseharian yang disampaikan dalam format dialog dan sangat minim narasi. Format seperti ini, menurut Sapardi yang menulis di kata pengantarnya, membatasi pembaca membayangkan keadaan/setting di setiap cerita (kalau tidak salah). Tapi menurut saya justru tidak karena dengan ucapan yang disampaikan lewat dialog, pembaca jadi menebak-nebak setting serta karakter setiap tokoh yang artinya proses membayangkan menjadi lebih luas.

Ini adalah salah satu kutipan yang paling saya sukai dalam salah satu cerita berjudul "Kawin" karena menurut saya lemparan pernyataan kedua tokohnya begitu pas serta logika obrolannya jalan:

...

"Umurmu ... berapa sekarang?"
"Dua puluh lima."
"Masih muda sebetulnya."
"Tapi semua temanku sudah kawin sekarang."
"Kalau teman-temanmu masuk selokan, kau juga buru-buru terjun menemani mereka?"
"Kak!"
"Habis masak kawin karena mengikuti teman. Kau sendiri, memang mau kawin atau tidak?"
"Mau, Kak."
"Kenapa kawin?"
"Daripada dosa, Kak!"
"Kuhajar, kau!"
"Kak!"
"Dengar, kawin itu bukan soal dosa atau tidak dosa. Kawin itu karena kau sudah menemukan orang yang tepat. Karena kau cinta padanya!"

...

"Hei, aku tidak mengada-ada. Kau ingat temanmu, si Basri?"
"Ya, ya, aku ingat."
"Kapan dia kawin? Enam bulan lalu. Kapan cerai dia? Minggu lalu. Macam mana, tuh?"
"Aku tak akan begitu, Kak. Kami tak akan begitu. Janji."
"Jangan janji padaku. Janji pada dirimu. Tetapi sebelum kau bisa penuhi janji itu, kau harus tahu, dengan siapa kau mengikatkan diri."
"Dia gadis baik-baik."
"Aku tidak bilang apa-apa tentang dia."
"Khawatir aku, jangan-jangan Kakak tak suka."
"Aku bukan tak suka. Aku hanya tak senang melihat kalian terburu-buru kawin hanya dengan omongan orang, desakan orang tua, takut dosa. Aku tak tahu apa kata ahli agama, tetapi aku rasa, akan lebih berdosa lagi kalian kalau menikah terburu-buru dan tergesa-gesa bercerai hanya karena tak saling kenal, tak saling cinta."
"Kak, kalau orang tuanya tetap tak mau perkawinan ditunda, bagaimana?"
"Ya, tidak usah kawin!"
"Ampun!"
"Perempuan itu banyak! Melimpah-limpah. Bukan cuma dia seorang di dunia ini."
"Tapi aku ingin kawin. Aku ingin punya istri."
"Punya istri?"
"Lalu apa?"
"Bukan mau punya istri, tapi mau jadi suami."
"Apa bedanya?"
"Banyak."
"Kalau jadi suami, kau jadi pasangannya."
"Kalau punya?"
"Kau jadikan dia barang, milik."

...

Pertemuan Reading Lights Writer's Circle kemarin pun membahas tentang dialog. Dialog harus tetap efektif dalam menyampaikan pesan. Dialog menjadi format yang pas untuk membantu menguatkan karakter tokoh dan bahkan menyampaikan pendapat pribadi penulisnya itu sendiri. Dengan berpura-pura sebagai tokoh.

We Need To Talk About Kevin

We Need To Talk About Kevin adalah film yang disturbing. Bagaimana tidak, pada adegan pertama sudah disajikan pesta perang tomat (di Spanyol) dengan warna merah menutupi seluruh tubuh lalu sebuah rumah yang penuh dengan cat merah dan seorang wanita bernama Eva dengan penampilan kusut dan roman muka yang selalu cemas. Selain itu kelebatan masa lalu dengan gambar samar-samar juga mengiring penonton secara intens menuju cerita utama.

Berkisah tentang Eva, seorang ibu yang mengacuhkan dan tampak tidak menginginkan anaknya bernama Kevin. Saat Kevin bayi dan menangis, Eva hanya melihat Kevin tanpa berusaha mendiamkan atau menggendongnya. Bahkan ia pernah mendekatkan Kevin pada seorang pegawai yang sedang mengebor aspal untuk menelan suara tangis anaknya. Saat Kevin berkembang, Eva mencoba untuk mendekatkan diri pada anak laki-lakinya namun Kevin menjadi anak yang tidak responsif, membalas perkataan-perkataan dengan agresif, dan memandang dengan pandangan benci kepada ibunya. Ia seringkali sengaja buang air besar di pampers sehingga Eva harus menggantinya, mencorat-coret map langka kesayangan Eva, dan lainnya.

Perbedaan begitu terasa jika Kevin bertemu dengan Franklin, bapaknya, yang jarang di rumah karena sibuk bekerja. Ia sering mengobrol dan tertawa jika ada bapaknya. Bapaknya memberikan Kevin sebuah busur dengan anak panah agar Kevin memiliki kegiatan. Namun siapa sangka bahwa busur panah itu menjadi alat utama dalam perubahan cerita.

Rupanya Eva dan Franklin memutuskan untuk punya anak lagi yaitu seorang perempuan bernama Celia. Kelengkapan keluarga yang tampak bahagia membuat Franklin merasa berhasil membangun keluarganya padahal ia jarang berada di rumah. Franklin selalu menyangkal jika Eva mengeluh tentang Kevin walaupun Celia harus kehilangan sebelah matanya akibat kecelakaan saat sedang diasuh Kevin. Kecelakaan yang terjadi dijelaskan secara eksplisit di film.


Singkat cerita, setelah Eva dan Franklin bertengkar tentang rencana mereka untuk bercerai, Celia dan Franklin mati dengan panah Kevin dan pemuda itu membantai teman-teman sekolahnya, mengisolasi sekolah dengan gembok yang ia beli di internet. Saat selesai menembak teman-temannya dengan panah, ia berdiri di aula sekolah sambil membungkukkan badan layaknya aktor yang baru menyelesaikan pertunjukkannya. Kemarahan orang tua hingga sekarang (adegan Kevin dipenjara) terus berlangsung sehingga Eva selalu mendapatkan perlakuan yang tidak enak.

Film yang diadaptasi dari novel karya Lionel Shriver tahun 2003 ini menampilkan adegan-adegan implisit atau simbolisasi sehingga penonton harus menebak-nebak atau browsing lebih lanjut setelahnya. Misalnya perceraian membuat Kevin tahu bahwa hak asuh mungkin akan jatuh ke tangan bapaknya dan ia akan jauh dari ibunya, atau saat ditanya "why?" oleh ibunya, Kevin menjawab, "I used to think I knew. Now I'm not so sure." Konon di sumber lain dikatakan bahwa diam-diam Kevin juga mendambakan kasih sayang ibunya.

Karakter Kevin ini sociopath dengan perilaku agresif, kurangnya simpati dan empati, kebencian terhadap lingkungan sosial, tidak merasa bersalah, serta tidak menerima peraturan dan norma sosial. Apakah ketidaklekatan terhadap ibu memang betulan bisa bikin anak mengalami gangguan perilaku? Jawabannya: ya. Sebagai pengetahuan tambahan, ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa ketidakdekatan berpengaruh pada agresi dan kemarahan anak, penarikan kedekatan di usia dini juga bikin anak cemas yang membawa ketakutan pada intimasi. Justru asuhan dari seorang ibu dapat menolong anaknya untuk membangun kecerdasan emosional, mendorong mereka untuk bercerita tentang perasaan-perasaannya dan mengenali perasaan orang lain.

Walaupun film ini seperti Dementor yang menyerap energi positif orang yang menontonnya (tergantung), We Need To Talk About Kevin adalah film yang layak ditonton. Aksi nonverbal Kevin yang diperankan oleh si tampan Ezra Miller serta perilaku-perilaku yang membikin penonton terperangah memperkaya film yang penuh muatan psikologis ini.

Sejarah Bioskop di Bandung

Tulisan oleh Nia Janiar
Foto oleh Ali Hanifa

Sebelum dunia perbioskopan dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan besar yang melebur di pusat perbelanjaan seperti sekarang, Bandung pernah memiliki bioskop yang menjamur dari sekitar awal 1900an hingga 1970an. Bioskop-bioskop itu berdiri dalam gedung-gedung yang terpisah dari pertokoan. Apa saja bioskop yang pernah hadir dan menjadi bagian sejarah pemutaran film di Bandung? Perjalanan bersama Komunitas Aleut! (18/3) dituliskan berdasarkan urutan rute perjalanan.

Panti Karya
Gedung tua yang tidak terawat dan tampak menyeramkan menjadi gedung pertama yang merupakan saksi sejarah bioskop di Bandung. Gedung ini adalah gedung Panti Karya yang berada di Jalan Merdeka, tepatnya di depan mall Bandung Indah Plaza dan di belakang Dunkin Donuts. Gedung yang semula dimiliki PJKA ini diganti fungsinya sebagai bioskop karena pemutaran film sedang marak kala itu. Pada saat itu, Panti Karya kerap kali dikunjungi oleh anak sekolah, misalnya pelajar SD Ciujung yang terletak di Jalan Supratman berjalan kaki hingga Jalan Merdeka.

Selain Panti Karya, di dekat Bank Indonesia juga pernah terdapat sebuah bioskop yang bernama de Rex yang kemudian diubah menjadi Panti Budaya tahun 1960an. Sama seperti Panti Karya, Panti Budaya juga ditonton oleh pelajar sekolah namun memiliki perbedaan kelas bioskop. Panti Budaya merupakan bioskop kelas 1 dan Panti Karya merupakan bioskop kelas 2. Karena rol film saat itu jumlahnya terbatas, bioskop harus menunggu giliran. Semakin rendah kelasnya makan semakin lambat menontonnya. Kaset film berakhir di layar tancap (feesterrein atau taman hiburan rakyat) Taman Senang, Taman Riang, Taman Warga, dan lainnya.

Bersebelahan dengan rel kereta api, terdapat gedung Landmark (dulu merupakan toko buku Van Dorp) yang ternyata pernah menjadi bioskop yang bernama Pop Theater. Jika dilihat sekarang, di depan Gedung Landmark ada Bank Anda yang dulu juga merupakan sebuah bioskop bernama bioskop Presiden. Reza, koordinator Aleut!, memberikan pengetahuan tambahan bahwa di balik Bank Anda ini terdapat SD Merdeka yang dulunya merupakan gudang garam. Mengingatkan dengan merek rokok? Kalau melihat bungkus rokok tersebut, maka bisa dilihat gambar bungkusnya berupa rumah-rumah di samping rel kereta api seperti letak SD Merdeka sekarang.

Tidak jauh dari sana, terdapat Braga Dangdut yang dulunya merupakan bioskop bernama Braga Sky yang sering didatangi pemuda pemudi untuk menonton film nusantara dan film silat pada tahun 1960-1970an. Bioskop ini merupakan bioskop menengah ke atas sehingga tidak semua orang bisa masuk. Sayangnya, pengunjung saat itu sering menonton sambil menghisap ganja.

Helios
Di sebelah Jalan Kejaksaan, pernah ada sebuah bioskop namanya Helios yang dalam Bahasa Yunani memiliki arti Dewa Matahari. Gedung bioskop yang sekarang dipakai rumah makan Bebek Garang ini dimiliki oleh seorang pengusaha penggadaian yang rumahnya berada di Jalan Naripan. Bioskopnya berupa layar tancap (feesterrein atau taman hiburan rakyat) yang berada di dalam gedung. Pengadaan layar dalam gedung merupakan akomodasi dari hambatan sinar matahari yang memantul di layar jika menonton di siang hari. Tidak hanya bioskop, gedung ini dipakai untuk kesenian. Setelah jadi bioskop, gedung ini dialihfungsikan menjadi kantor distribusi kaset. Helios merupakan salah satu cabang dari Bandung Theater yang dulu dikenal di depan Kosambi.

Di samping Gedung Merdeka terdapat gedung New Majestic yang dulunya merupakan bioskop Concordia di tahun 1900an awal. Gedung ini dinamakan Concordia karena berada di sebelah gedung Societet Concordia (sekarang Gedung Merdeka). Concordia memiliki arti Dewa Keharmonisan dan Kedamaian dalam Romawi Kuno. Bioskop ini merupakan bioskop elit dengan aturan Verbodden voor Honder en irlander yang artinya "dilarang masuk bagi anjing dan pribumi".

Tempat duduknya berundak dan menunjukkan kelas dan harga tiket. Untuk kelas 1 terletak di balkon, kelas 2 terletak bagian bawah belakang, dan kelas 3 di paling depan sehingga mungkin bisa menimbulkan efek pegal-pegal leher. Selain itu tempat duduk laki-laki dan perempuan dipisah, namun pada prakteknya mereka tetap melebur saja.

Bioskop Concordioa dirancang oleh Wolff Schoemacker dengan gaya arsitekturnya sangat khas yaitu penempatan ornamen nusantara seperti Kala yang terletak di bagian atas. Berbeda dengan Kala yang ada di gedung Landmark, Kala di sini memiliki rahang. Secara keseluruhan, gedung Concordia memiliki bentuk seperti kaleng biskuit atau bilken trommel.

Radiocity
Jika sebelumnya gedung-gedung berada di tempat yang terpisah cukup jauh, maka gedung bioskop di alun-alun Bandung letaknya berdekatan (bahkan bersebelahan). Di Jalan Dalem Kaum terdapat sebuah ruko yang dulunya merupakan bioskop Regol untuk kalangan kelas menengah ke bawah sehingga mereka baru bisa nonton film-film nusantara yang sudah ditayangkan berbulan-bulan sebelumnya di tempat lain. Di sebelah pendopo walikota Bandung terdapat bioskop Radiocity atau Dian yang dimiliki oleh J.F.W. de Kort dan menayangkan film-film India. Radiocity beroperasi di tahun 1940an. Walaupun untuk kelas menengah, bioskop ini memiliki balkon. Pengunjung diperbolehkan naik ke atas untuk melihat balkon dan ruang proyektor.

Di sebelah timur Masjid Raya terdapat bioskop yang berentetan (ki-ka) yaitu: 1) Elita Bioscoop adalah bioskop paling elit setelah Concordia dengan orang-orang terpilih yang menonton dengan pakaian rapi dan memakai sepatu. Bioskop ini dimiliki oleh F. A. A Buse, seorang raja bioskop yang memiliki jaringan besar Elita Concern. Bioskop ini dibangun tahun 1910an dengan gaya arsitektur Art Nouveau dan sempat berganti nama menjadi Puspita tahun 1960an, 2) Varia Park yang merupakan feesterrein atau taman hiburan menampilkan gulat, seni tradisional, dan lainnya. Varia artinya serba-serbi, dan 3) Oriental Show yang dibangun tahun 1930an. Sayangnya ketiga bioskop ini dihancurkan untuk dibangun pertokoan Palaguna yang sekarang kondisinya sudah layak dihancurkan juga.

Elita merupakan bioskop yang memutar film Loetoeng Kasaroeng pada tahun 1926. Film ini merupakan film yang memiliki latar belakang Indonesia (konon syuting dilakukan di antara Bandung-Padalarang) dan dibuat oleh perusahaan NV Java Film Co. Sutradaranya sendiri adalah orang Belanda bernama Heuveldorp dan Krugers sebagai kameramen. Tidak bergerak sendiri, mereka bekerja sama dengan bupati Bandung Wiranatakusumah V dimana keluarganya berakting dalam film tersebut. Latar belakang pembuatan film tersebut adalah film-film impor yang hadir sebelum tahun 1926 adalah film-film yang berbau kekerasan dan pemerkosaan sehingga diharapkan film ini dapat menciptakan image bahwa Belanda itu baik. Loetoeng Kasaroeng berhasil ditayangkan selama 1 atau 2 tahun di Elita tanpa henti karena selalu ada peminatnya.

Bioskop di Bandung tidak hanya yang disebutkan di atas karena masih banyak lagi seperti Apollo di Banceuy, Alhambra Bioscoop di Kompa-Suniaraja, Orion Bioscoop di Kebonjati, Vogelpoel Bioscoop di Braga-Naripan, Luxor di Sudirman, Rivoli Theater (kini Rumentang Siang) di Kosambi, Liberty Bioscoop di Cicadas, dan lainnya. Perkembangan dunia perbioskopan zaman dulu diadakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan hiburan. Saat itu bioskop tidak hanya sekedar tempat menonton saja tetapi di beberapa diantaranya yang memiliki balkon terdapat ruangan cafe dengan satu meja dan kursi sehingga bisa ngopi-ngopi.


Informasi tambahan:
http://www.sundanetwork.com/bandung-updates/seabad-bioskop-di-bandung.html
http://djawatempodoeloe.multiply.com/photos/photo/190/99?&show_interstitial=1&u=%2Fphotos%2Fphoto

Parasit

Dari semua ide tulisan yang akan dikerjakan tapi tidak kesampaian, saya akan menulis tentang parasit. Dalam KBBI, parasit adalah (1) benalu; pasilan; (2) organisme yg hidup dan mengisap makanan dr organisme lain yg ditempelinya; (3) ki orang yg hidupnya menjadi beban (membebani) orang lain. Karena saya tidak akan membahas benalu atau organisme, saya akan membahas poin ketiga.

Barusan salah satu teman saya datang ke saya untuk bercerita tentang perseteruan yang terjadi di keluarganya antara ia dan kakak iparnya. Katanya kakak iparnya ini menyela pembicaraan teman saya dengan kakaknya, ikut campur dalam sebuah percakapan yang tidak ia dengar seluruhnya, terjadi salah paham, lalu kakak iparnya berbicara kasar kepada teman saya semacam 'goblok betul!'

Jangan lupa pakai zoom in dan zoom out atau latar belakang lagu yang intens untuk mendramatisir keadaan.

Teman saya ini orangnya tidak reaktif dan tidak mudah berkonflik. Untuk menjaga perasaan kakaknya, teman saya memutuskan untuk menghindari situasi tersebut. Sadar akan sifat kakak iparnya, teman saya menyadari bahwa membalas ucapan orang itu tidak akan menyelesaikan apa-apa. Gemas, saya berkata pada teman saya bahwa saya akan membalas (dengan maksud bukan menyerang) ucapan kakak iparnya tanpa peduli harus menjaga perasaan kakak sendiri karena itu persoalan lain.

Namun saat saya sadar bahwa ia tinggal di rumah kakak iparnya, saya menjadi yakin bahwa apa yang ia lakukan itu ada benarnya. Masalahnya, teman saya adalah parasit atau orang yang membebani dan menumpang hidup di rumah kakak iparnya. Ia mengambil sari-sari kehidupan seperti makan, minum, berlindung, tidur, dan lainnya. Mungkin kalau teman saya tidak tinggal di rumah kakak iparnya, ia jadi memiliki kebebasan yang mengkonfirmasi atau berkonflik (dalam hal baik dengan tujuan menyelesaikan masalah) dengan kakak iparnya.

Sudah numpang, banyak maunya.


Bukannya rela diinjak-injak tapi lebih pandai menempatkan diri saja. Ketimbang konfrontasi berapi-api, bisa dilakukan pendekatan yang bertahap saat kepala sudah dingin. Saya bilang kepada teman saya bahwa bersabar saja. Apalagi saya tahu bahwa teman saya ini bukan tanpa usaha karena ia sedang berusaha untuk berdiri di atas kaki sendiri. Melepaskan diri dari parasit, menjauhi inang, dan menjadi pohon pribadi.

Mengeliminasi Teman

Kemarin malam, saat saya melihat daftar kontak di telepon genggam saya, saya merasa isinya terlalu banyak oleh orang-orang yang saya kenal dalam sekali atau dua kali pertemuan juga orang-orang yang saya butuhkan dalam satu atau dua kali kesempatan. Daftar kontak saya penuh, awut-awutan, dan terasa tidak dekat bagi empunya. Lalu saya berpikir untuk menghapus satu per satu orang-orang yang sekiranya belum saya butuhkan atau belum membutuhkan saya dalam waktu dekat ini.

Daftar kontak berantakan ketika versi terbarunya terhapus begitu saja saat meng-upgrade lalu saya restore kontak satu tahun yang lalu. Nama-nama yang tidak penting mulai muncul lagi--seperti kenangan-kenangan yang berkelebat muncul tidak beraturan sebelum tidur. Kemarin itu saya seperti masuk ke dalam mesin waktu, meluncur ke masa lalu.

Setiap kali melihat nama lalu menghapusnya, saya merasa sedang membuka buku harian. Oh, ada dr. Euis--dosen neurologi saat saya kuliah--yang pernah memberi nilai 1.5 skala 4 di UTS Neurologi. Kalau diabjadkan, mungkin nilainya D atau E. Saya teringat betapa susah payahnya saya menghapal bagian otak serta kegunaannya, penyaluran informasi melalui dendrit, nukleus, dan seterusnya. Lalu setelah shock dapat nilai seburuk itu, saya menghafal sekuat tenaga tentang neurologi sampai rasanya pusing, mual, dan ingin muntah. Apalagi beliau bilang bahwa nilai di transkrip nilai itu merupakan rata-rata dari UTS dan UAS. Mengingat hal tersebut, saya memberi standar pada diri bahwa saya harus dapat A di UAS agar hasilnya tidak buruk-buruk amat. Lalu pada akhirnya, saya mendapatkan nilai B di transkrip nilai.

Atau juga ada Bapak N, seperti dosen kemahasiswaan, yang saat itu intens berhubungan dengan beliau karena saya dan teman-teman mau mengadakan acara di kampus. Karena pada saat itu saya ketua panitia, maka dengan tentengan proposal serta degup jantung yang berdebar kencang, saya harus menghadapnya. Selain itu ada Dra. S yang tangannya suka dicium oleh mahasiswanya sehingga membikin saya berada di situasi monyet dimana merasa berkewajiban untuk mencium tangannya juga. Selain itu beliau sering mengkomentari jika mahasiswanya berpakaian tidak rapi.

Maka saya menghapus kontak saat kuliah dan tempat kerja pertama. Saya menyisakan beberapa nomer yang saya pikir saya masih membutuhkannya. Bukan untuk memutuskan hubungan (karena sudah saya back up dan bisa ditengok lagi sewaktu-waktu) tapi sebagai bagian dari proses menata dan mengevaluasi kembali hidup saya ini. Hal seperti ini pernah saya lakukan dimana saya menghapus id YM saya kemudian menggantinya dengan yang baru.

Agak berlebihan tapi sepertinya semua orang punya cara tersendiri.