Hingar Bingar Film Bisu

Saat mendengar akan ada sebuah band rock asal Prancis yang mengiringi film bisu secara langsung di Institut Fran├žais Indonesia (IFI), saya teringat dengan sejarah film di Bandung saat zaman Hindia Belanda. Pada saat itu, di Majestic, pernah ditampilkan film hitam putih dengan iringan kelompok musik secara langsung karena teknologi belum tersedia. Nada musik yang diberikan itu sama dengan suasana yang dipertontonkan film. Saya merasa konsep itu dibawa lagi ke zaman sekarang sehingga saya bisa merasakan sensasi yang sama dengan orang-orang yang nonton di Majestic saat itu.

Filmnya berjudul Nosferatu (1922) yang merupakan film horor masterpiece karya Friedrich W. Murnau. Filmnya bercerita tentang seorang perempuan bernama Nina yang mati digigit vampire sebagai bentuk pengorbanan agar si vampire mati. Walaupun tidak ada efek berlebihan, permainan bayangan di film ini benar-benar menyeramkan. Misalnya saat si vampire akan datang, diperlihatkan bayangan vampire perlahan-lahan muncul. Berawal dari kukunya yang panjang, kepalanya yang botak, jubahnya, dan seterusnya.

Selama film ditayangkan, Serge Teyssot-Gay dan Cyril Bilbeaud, memainkan ilustrasi musik dengan segala improvisasi. Musiknya intens, dimainkan dari awal hingga akhir, namun nadanya bervariasi--dari lembut hingga keras. Saat di klimaks cerita yaitu ketika Nina digigit oleh vampire-nya, musik rock yang dimainkan Zone Libre ini semakin klimaks pula. Gebukkan drumnya semakin keras membuat degup jantung terasa lebih cepat. Belum lagi gesekan gitarnya membikin dramatis suasana.

Wah, mana pernah saya nonton film di bioskop lalu musiknya memenuhi rongga dada kemudian gambaran visual tanpa komputer itu membuat sebegini menyeramkan. Justru kesederhanaan hitam putihnya membikin lebih fokus ke ceritanya, kebisuannya membikin lebih fokus ke gerak geriknya. Walaupun tetap diiringi suara musik dan terjadi pembagian fokus antara melihat filmnya atau musisinya. Bisu tetapi hingar bingar.

Secara umum, ini adalah pengalaman baru saya. Saya beruntung bisa mendapatkannya. Bagi yang tidak lihat, untuk melihat foto-fotonya, bisa dilihat di Flickr saya. Atau bisa lihat potongan acaranya di sini:

Bunga Kol Milik Harri

Satu minggu menuju pernikahannya, hampir semua orang menyelamati Harri. Bagaimana tidak, perahu yang sudah berlayar kemana-mana itu akhirnya memutuskan untuk berlabuh juga, kemudian tinggal di pesisir bersama seorang perempuan bernama Naraya. Dia bukan lagi pelaut yang sekedar mampir untuk membeli barang saja, tetapi ia memutuskan untuk menetap. Tinggal. Membangun sebuah keluarga. Mengakhiri pengalaman terombang-ambingnya.

Calon istri yang dikenali setahun belakangan ini pun tidak kalah bahagianya karena lepas sudah beban dia dari pertanyaan kapan akan dinikahi oleh orang yang akhirnya berhasil ia taklukan--Harri, si kumbang sosialita kelas menengah atas yang dikenal suka gonta-ganti perempuan. Sebuah kebanggaan akhirnya tersematkan di dadanya, seperti pramuka yang menyematkan lencananya.

Semakin mendekati hari yang dimaksud, perempuan yang berkulit kuning langsat itu semakin sibuk merawat dirinya dengan rempah-rempah yang konon merupakan ramuan rahasia cantiknya wanita tanah Pasundan. Berbeda dengan Naraya, Harri sibuk menggaruk kepala botaknya yang tidak gatal. Dalam diam, ia cemas karena obatnya belum bereaksi mengatasi masalah dan takut istrinya melihat segalanya.

Pesta digelar di bilangan Dago dengan mewah bernuansa emas yang berkilau karena kontras dengan birunya kolam renang dan latar belakang langit malam. Harri dan Naraya bersanding layaknya raja dan ratu sehari. Terutama sang ratu yang bergincu merah tak henti-hentinya mengukir sebuah senyum. Lihatlah, tamu-tamu wanita yang hilir mudik memandanginya dengan penuh rasa iri. Sementara piala yang dimenangkannya terus meringis menahan sakit di tengah kedua pahanya.

"Bisa enggak sekarang?" tanya Harri kepada istrinya. Sementara si istri sudah berbalut jaring tipis sambil duduk manis di samping tempat tidur.

"Lho, kenapa?" tanya Naraya agak tersinggung. Ia tidak ingin usahanya duduk di atas rempah-rempah yang diasapi itu tidak berguna.

"Aku enggak enak badan," jawab Harri sambil menelusup masuk ke dalam selimut dan menutup badannya hingga bahu. Naraya hanya termanggu. Setelah itu--dengan agak malu--ia berganti baju dan tidur berpunggungan dengan seseorang yang disangka akan membuat sebuah malam kebersamaan pertama ini mengesankan.

Suaminya terus menolak sampai sang istri benar-benar nekat. Hingga ia akhirnya meraba sebuah gerinjul besar yang menurutnya tidak sama dengan bentuk kelamin laki-laki yang pernah dipegangnya. Segera disingkapnya selimut tebal itu dan  lolongan panjang segera memenuhi kamar yang sudah tidak dipenuhi kembang-kembang.

"Apa itu, Har?!"

Si suami yang baru siaga itu gelagapan sambil melihat celananya yang setengah terbuka. Dilihatnya bunga kol yang bertengger di samping kelaminnya. Bulatan-bulatan kecil berkumpul membentuk sebuah jengger. Melihatnya, Naraya bergidik jijik.

"Sudah lama kamu punya ini? Kenapa gak bilang?!"

"Tiga bulan yang lalu!"

"Kamu dapet dari mana? Pasti kamu main sama cewek lain. Iya, 'kan?!" tanya Naraya sengit. Yang ditanya diam saja. Lidahnya kelu. Hanya berharap semoga bunga kolnya tidak digoreng oleh istrinya dengan kilat di matanya.


[Hasil latihan sesi menulis Reading Lights Writers' Circle tentang luka/penyakit yang memalukan.]

Ronggeng Dukuh Paruk

Saat film Sang Penari tayang di bioskop tahun lalu, saya melihat twit seorang teman yang menyatakan ketidakpuasan terhadap film ini, terutama tokoh utama--Srintil, diperankan oleh Prisia Nasution (kemudian ia menang sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik di Piala Citra FFI 2011)--yang tidak terlihat Jawa eksotis. Selain itu juga film yang diangkat dari buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini memiliki judul yang sama tidak eksotisnya karena dikecilkan maknanya menjadi Sang Penari.

Berbeda dengan teman saya yang di atas, teman saya yang lain merekomendasikan saya nonton film ini. "Filmnya bagus, berarti bukunya lebih bagus." Karena penasaran dan belum pernah membaca karya Ahmad Tohari, akhirnya saya membeli bukunya di bulan Januari 2012 dan baru selesai lima bulan setelahnya.

Sampul buku yang diambil dari film membatasi saya dalam membayangkan tokoh Srintil dan Rasus

Novel ini merupakan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jentera Bianglala yang dijadikan satu. Kali ini saya tidak akan memberi komentar mengenai ceritanya tetapi mengenai teknik penulisannya. Saya kagum dengan kemampuan Ahmad Tohari dalam menulis detil-detil deskripsi yang langsung terbaca di halaman pertama. Bagaimana ia menyimpan perhatian pada hal-hal yang ada di sekitar dan jauh dari tokoh. Bagaimana ia menggambarkan suasana Dukuh Paruk sehingga terasa begitu nyata, keadaan nenek Rasus yang akan meninggal, dan keadaan Srintil saat jiwanya terguncang akibat Bajus yang sudah melambungkan harapan Srintil terlalu tinggi.

Awalnya detil seperti memanjakan pembaca namun detil yang banyak membikin kinerja baca saya melorot, terutama di saat mencapai bagian akhir cerita. Entah karena saya penasaran, bosan, atau ingin cepat selesai--pada akhirnya deskripsi yang detil ini saya lewati juga. Selain itu, bagi saya, konflik yang menggetarkan pun hanya terjadi sekali yaitu ketika Srintil dipenjara akibat ronggengannya membawa pesan komunis. Setelah itu tidak ada konflik yang berarti sehingga cerita terasa datar.

Saya sempat berdiskusi dengan teman saya bagaimana gaya menulis Ahmad Tohari di buku ini terasa tidak seperti karya tahun 1980an karena terasa "canggih". Saya bertanya-tanya apakah ada gaya penulisan ini memang wajar di tahun 1985, adakah pengubahan tulisan (karena saya membaca buku cetakan terbaru) atau memang kemampuan penulis berada jauh di depan dari masanya? Ahmad Tohari menulis seperti ini,

"Pendapat lain mengatakan, itulah hukum dialektika pergolakan politik yang acap kali berupa ironi sejarah dan ironi kemanusiaan. ... Pendapat ini sekaligus menyepelekan kemungkinan terlibatnya sentimen keagamaan. Juga sentimen politik karena Dukuh Paruk sepanjang sejarahnya tidak bisa memahami politik serta ideologi politik apapun." ~ Ronggeng Dukuh Paruk, 243. 
"Di bawah sinar pelita yang kuning kemerahan, di antara kain-kain dan bantal yang sudah berwarna tanah, seonggok benda hidup sedang dalam proses menjadi benda mati. Partikel-partikel hidup sedang memisahkan diri dari ikatan organisasi maharumit, mahacanggih, kemudian terurai dari ikatan-ikatan kimiawi oleh bakteri pembusuk untuk selanjutnya kembali larut dalam keberadaan universial." ~ Ronggeng Dukuh Paruk, 254.

Dari buku Ronggeng Dukuh Paruk ini saya mendapatkan sebuah pembelajaran bahwa walaupun latar belakang berada di negeri antah berantah, dialog dalam Bahasa Indonesia sahih adanya. Misalnya walaupun latar belakang ceritanya di Jawa, bukan berarti semua dialognya harus berbahasa Jawa, namun tetap ada beberapa ciri khas yang dibawa. Sama seperti beberapa film fantasi luar negeri yang tetap menggunakan berbahasa Inggris.

Apakah saya merekomendasikan buku ini? Ya, tentu saja. Buku Ahmad Tohari yang tembus dimensi waktu ini layak dibaca.

Jijik

Saat ia melihat mukanya, tak tahan ia itu untuk memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya masuk ke dalam mulut hingga kerongkongan. Bergegaslah isi perutnya ke luar. Dimuntahkan tepat di kaki orang tersebut. Bau asam segera tercium. Cairan kental merembes di sepatu canvasnya.

"Kamu menjijikan. Tidak pernah aku se-menyesal ini bertemu dengan satu orang. Kamu sampah. Kamu lemah. Yang bisa kamu lakukan hanya bersumpah serapah tapi kamu tidak bisa apa-apa, teramat banyak mengeluh tapi tidak pernah ada solusi. Belum lagi caramu memperlakukan orang lain yang semena-mena karena kamu sendiri enggan disakiti terlebih dahulu. Kamu membutuhkan keterjatuhan orang lain agar kamu merasa superior. Juga kamu akan menyalahkan orang-orang di sekitar atas ketidakmampuanmu. Terutama topeng keceriaan dan kebahagiaan yang selalu kamu pakai padahal betapa belatung kebencian dan dendam yang gendut itu terus menggerogoti daging di muka aslimu yang selalu kamu tutupi. Aku sangat benci kamu. Kamu menjijikan."

Cermin di depannya bergeming. Menampakkan seseorang yang sedang marah-marah sambil menunjuk-nunjuk bayangan di dalamnya.

Mengejar Matahari Sore

Tadinya hari ini saya berencana seharian saja di rumah karena--selain kemarin lelah sekali setelah meliput banyak tempat--perut saya kontraksi sedari pagi. Entah apa yang saya makan kemarin. Seharian saya makan obat dan minum banyak air untuk jaga-jaga agar tidak mencapai kondisi yang dulu pernah alami: muntah dan menggigil. Makan pun tidak enak karena perut terasa "penuh". Saya merasa lemas.

Tapi rencana kemudian gagal karena Rulli, saudara saya, mengajak makan siang bareng dengan keluarganya karena kakaknya (saudara saya juga) ulang tahun dan mau makan bersama. Lah, masa rezeki ditolak. Tentu saya ikut. Cuman saya sudah mewanti-wanti Rulli jika saya akan sewaktu-waktu butuh ke kamar mandi.

Kami pergi ke Nasi Bakar 15 yang ada di Jalan Cimandiri--samping Gedung Sate. Ini adalah kali pertama saya makan di sini. Bentuknya seperti warung besar dengan tempat duduk lesehan. Jelas kebersihan bukanlah prioritas. Kita harus meminta pegawainya dengan spesifik untuk membersihkan area tertentu, seperti bagian bawah meja yang kadang menyisakan tissue, misalnya.

Hanya seorang yang sadar kamera

Perihal nasi bakar di sini cukup terkenal. Tempatnya penuh saat kami datang, terutama saat jam makan siang. Walaupun konsepnya warung, semua orang dari berbagai kalangan datang ke sini. Tua dan muda. Sendirian, berpasangan, atau bersama keluarga.

Setelah dicoba, bagi saya rasanya biasa. Saya tidak suka nasi yang berasa (seperti nasi uduk) juga saya pernah merasakan ayam dengan bumbu yang jauh lebih sedap. Sayangnya istilah nasi bakar itu tidak tercermin dari nasi yang saya makan karena bisa dilihat daun yang terbakar di bagian luar saja sehingga tidak ada dampaknya pada aroma dan rasa nasi. Entah, mungkin mereka membakarnya agak buru-buru karena banyaknya pengunjung. Namun kata teteh saya yang pernah beberapa kali ke sini sebelumnya, mereka pernah membuat lebih baik dari ini.

Lho, saya baru tahu ada citra rasa makanan yang terkait dengan perbedaan waktu.

Setelah dari sana, saya dan Rulli memutuskan ke Zoe Corner untuk menemaninya meminjam komik. Begitu sampai dan melihat rak yang ada di bagian paling depan, saya lihat Partikel-nya Dewi Lestari. Buku yang dicap tanggal 17 Mei 2012 (sekarang) itu sepertinya baru dikeluarkan dan belum pernah dipinjam siapa-siapa selain saya. Wah! Rezeki pula nih! Padahal Rulli yang berniat meminjam komik malah tidak dapat karena komik yang dimaksud tidak ada.

Mungkin saat itu waktu menunjukkan pukul 4 sore. Saya tidak tahu pasti karena seharian tidak melihat jam. Tapi yang jelas saat itu Bandung tidak hujan dan matahari sorenya menyinari jalan-jalan yang ada di Bandung. "Li, dari semua waktu, aku paling suka sore hari," ujar saya. Ternyata saudara saya ini setuju. Menurutnya sore itu identik dengan santai, nyaman, dan matahari yang bersinar keemasan. "Mungkin karena itu ya ada istilah JJS alias jalan-jalan sore," sambung saya yang duduk berboncengan di atas motor.

Self-picture

Sinarnya di Jalan Gudang Utara

Para penyuka matahari sore

Rumah yang terberkati

Diserap oleh pakaian dan dipantulkan oleh mobil

Matahari sore dekat Sadang Serang

Tadinya kami mau pulang namun diurungkan karena Rulli bilang ia mau potong rambut di Jalan Gandapura. Saya teringat dengan teman-teman saya yang suka potong rambut di daerah Cisitu. Sunan Salon, lebih tepatnya. Saya sms Niken--teman menulis--untuk bertanya kejelasan tempatnya. Akhirnya setelah keliling mencari barber shop dengan harga potong 8000an, kami pergi ke salon tersebut yang harga potongnya sekitar 25.000an jika dipotong oleh asisten pemilik salon. Saya mengusulkan ia untuk memapas sisi kiri dan kanannya rambutnya seperti trend sekarang. Rulli ikut saran saya hanya ia memilih tidak terlalu tipis. "Takut jelek," katanya.

Yang motong orangnya ganteng :3

Hari beranjak gelap tapi masih ada satu tempat yang harus kami kunjungi yaitu Cizz--sebuah toko cake yang terkenal di Bandung. Ternyata Rulli mau beli kue tart buat kakaknya sebagai kejutan. Tidak hanya itu, Rulli juga meminta saya memilih salah satu kue yang ada di sana. Wah! Lagi-lagi rezeki. Saya pun memilih ini:

Blueberry Cheesecake
Hari ini saya banyak diberi. Semoga Rulli dan keluarganya dilancarkan rezekinya. Selain itu mudah-mudahan saya selalu ingat untuk juga memberi ke orang lain.

Kosan Cozy di Bandung

Maaf nih pemirsa, mau iklan tentang kosan yang enak banget buat ditinggalin. Kosannya bukan tipe kosan kaku yang tidak ada sirkulasi udara. Di sini setiap kamarnya menghadap ruang terbuka (taman), terdapat pepohonan yang menyejukkan, dan kolam ikan. Untuk yang bawa mobil dan motor, tidak perlu khawatir karena parkirnya cukup luas.

Fasilitasnya juga tidak kalah menarik: tempat tidur, lemari pakaian, meja tulis, televisi (plus tv kabel), internet, kamar mandi dalam (shower dan air panas), cuci pakaian, satpam 24 jam, dan lainnya. Kalau lapar dan malas jalan juga tidak menjadi masalah karena terdapat sebuah restoran kecil di area yang sama dan bisa memesan makanan seperti nasi goreng, bakmi, dan lainnya. Namun restoran berada di bagian depan sehingga penghuni tidak perlu khawatir terganggu.

Kosan ini letaknya di Jalan Taman Pramuka. Sangat strategis karena terletak dekat Jalan R.E. Martadinata (Riau)--Bandung, dekat dengan tempat makan yang terkenal seperti cuanki yang ada di Jalan Serayu, dekat dengan restoran pizza, car wash, dan lainnya. Kosan ini juga bisa untuk ditinggali per hari lho. Untuk informasi lebih lanjut, bisa hubungi nomer yang ada di dalam foto ini:


Pulang Sebentar

Selama tiga minggu di Jakarta, akhirnya akhir pekan ini saya pulang ke Bandung. Di hari Jumat kemarin itu rasanya seperti orang pertama kali kencan: tidak sabar dan deg-degan. Memang agak berlebihan bagi teman-teman saya yang sudah berbulan-bulan di Jakarta dan tidak pulang. Maklum, ini pertama kali saya bekerja di luar kota dan jauh dari keluarga. Selain khawatir dengan keadaan ibu, saya sudah tidak sabar bertemu dan main dengan teman-teman karena pekerjaan di belakang layar itu sangat menjemukkan.

Saya naik bis Primajasa yang ada di Jalan M.T. Haryono--dekat dari tempat saya. Harganya murah hanya Rp. 45.000, selain itu juga tidak perlu reservasi segala. Aduh, bis ini ... saat di ditanjakkan Cipularang, ia tampak bersusah payah sekali sementara mobil lain melaju kencang di sisi kanan dan kiri. Saya berangkat dari Jakarta pukul 18:30 dan sampai di Terminal Leuwi Panjang pukul 21:30. Untungnya saya dijemput Rulli, saudara saya, di terminal yang letaknya jauh dari rumah. Sebenarnya saya enggak kebayang mau naik apa dari Leuwi Panjang ke rumah (entah taksi atau ojek) karena angkutan umum yang lewat di depan rumah saya rata-rata hanya sampai jam sembilan. Saya akan kembali ke Jakarta di Senin subuh, Rulli menyarankan saya naik travel saja. Betul juga. Dengan kekuatan bis yang seperti itu serta belum tahu medan Jakarta di pagi hari dan harus masuk kantor, saya menyetujui ucapannya.

Akhir pekan ini betul-betul hari saya dan teman-teman. Mereka bertanya bagaimana keadaan saya selama di Jakarta, membahas perihal blog tentang teman seatap (yang membuat saya ingin menulisnya lagi tapi mungkin masih dipikirkan kontennya), aktivitas yang saya lakukan, dan lainnya. Saya bercerita bahwa hidup di Jakarta itu seperti datang ke sebuah negeri yang selama ini hanya saya lihat dari kejauhan dan saya dengar cerita-ceritanya saja. Lalu di negeri ini saya bertemu dengan tokoh-tokoh yang hanya saya tahu melalui karya. Saya merasa di tempat ini saya dapat menemui hal-hal yang selama ini dianggap tidak ada.

Saya juga menghadiri acara tahunan Crafty Days di Tobucil. Selain banyak barang-barang seru dan acara musik sore yang seru. Ini dia oleh-oleh fotonya:

Para vendors yang dikunjungi pengunjung

Limited edition cookies

Musik sore: Ririungan Gitar Bandung (RGB)

Musik sore: Tesla Manaf Effendi dan Rudi Aru

Musik sore (agak beda): Seeblink

Selain lihat barang-barang lucu (yang tidak beli juga), saya bertemu dengan teman-teman komunitas di sini seperti teman-teman wartawan, aktivis lingkungan, dan lainnya. Mungkin ini kenapa saya begitu merindukan Bandung layaknya orang yang sedang kasmaran. Saya membangun kehidupan, saya membangun jejaring, akar saya mengakar dan tumbuh subur di sini. Ini membuat saya bertanya-tanya sebenarnya untuk apa saya meninggalkan ini semua. Untuk apa pula saya meninggalkan kenyamanan di rumah dengan fasilitas serba ada dan tidak usah berurusan dengan tinja orang lain. Uang? Karir?

Kalau menurut Rizal, saya dan dia itu sama-sama sedang melacur karena mengorbankan sesuatu yang lebih besar untuk sesuatu yang lebih kecil. Entah idealisme, passion, atau waktu yang digerus oleh rutinitas namun terhibur oleh uang yang datang setiap awal/akhir bulan serta harapan peningkatan karir untuk kehidupan yang lebih baik. Saat ia dan istrinya akan pulang setelah main ke rumah saya, kami berkelakar, "Selamat melacur!"

Tapi saya pikir hidup itu pilihan dan--dari dulu hingga sekarang--saya tidak ingin jadi kodok yang tidak sadar yang sedang direbus dalam kuali. Kuali itu adalah zona nyaman. Saya ingin keluar, ingin tahu rasanya berada di luar zona nyaman hingga dapat memperluas dan membentuk zona itu sendiri. Pengalaman-pengalaman tiga minggu yang tidak pernah saya dapat juga memberi ketertarikan sendiri.

Akhir pekan dengan kegiatan-kegiatan di atas dapat mengisi energi berminggu-minggu untuk kembali ke ibukota. Hati saya yang kering sekarang basah lagi. Bahan bakarnya kembali terisi agar kendaraannya bisa bergegas ke akhir pekan selanjutnya!

See you soon, Bandung!

Tuhan, Irasionalitas, dan Seks

Buku bersampul kuning kehijauan itu sudah lama mejeng di rak toko buku namun baru minggu ini saya membeli Cerita Cinta Enrico karya Ayu Utami. Jika tidak ada rencana menghadiri diskusi sore buku ini yang diadakan Reading Room Jakarta, mungkin saya baru akan membelinya dalam jangka waktu yang sedikit lama karena ada buku yang belum selesai dibaca. Tapi saya ingin saat diskusi nanti, saya bisa konek alias nyambung, dan terutama bisa minta tanda tangan. Maka pergilah saya ke sebuah mall gahul di bilangan Semanggi yang antri halte busway-nya bikin saya ampun-ampunan 7 turunan.

Cerita Cerita Enrico merupakan novel yang memiliki perbedaan generasi dan setting. Novel ini bercerita tentang anak yang ikut orang tuanya bergerilya ke pedalaman Sumatera di tahun 1950an, dibesarkan oleh ibu sehingga tokoh memiliki kesan yang sangat mendalam padanya namun ia menjadi dekat dengan ayah karena ibunya berubah karena kematian kakaknya. Enrico tinggal di sebuah tangsi militer sederhana, berinteraksi dengan anak kolong atau anak kampung yang membikin pengalaman menjadi dewasanya berbeda. Tidak seperti perempuan yang cenderung tertutup dan tidak membicarakan tentang seks, perkembangan seksualitas Enrico dipelajari bersama-sama antar teman laki-lakinya seperti pencelikkan penis atau mengembot ayam. Selain itu perkembangan keagamaannya juga terjadi terutama saat ibunya memutuskan masuk menjadi anggota Saksi Yehuwa, melihatnya ibunya menjadi orang yang asing karena ia menjauhkan diri pada hal-hal duniawi, dan seterusnya.

Demi bebas dari ibunya, Enrico memutuskan untuk kuliah di ITB. Di sini ia memiliki pengalaman seks dengan banyak perempuan tanpa dinikahi dan tanpa ingin memiliki keturunan. Baginya kebebasan adalah segalanya. Ia tidak ingin terikat dan tidak ingin membebankan anaknya sebagaimana ibunya membebankannya. Namun keadaannya berubah ketika ayahnya meninggal dan ia menyadari ia hanyalah sebatang kara (ibunya meninggal 15 tahun yang lalu) hidup di Jakarta. Dan tanpa sengaja, ia bertemu dengan A--seorang wanita yang memiliki prinsip kurang lebih sama dengannya--yang kemudian mereka menikah di gereja Katolik karena bagi A pernikahan tidak memiliki kesalahan ontologis.

Cerita Cinta Enrico adalah sebuah novel kisah nyata yang kisahnya sendiri mulai penulis dengar di tahun 2000. Sepuluh tahun kemudian dari itu, ia merasa cerita si Enrico ini menarik jika dibuat tulisan. Proses menulisnya sendiri hanya memakan 2.5 bulan. Ayu Utami mengakui bahwa kecepatan menulisnya melonjak setelah ia menulis Bilangan Fu dimana pada novel itu ia harus mengendalikan beberapa persoalan agar tidak terpecah-pecah. Memang, jika dilihat dari fisiknya, ketebalan Bilangan Fu sangat representatif. Isinya apalagi.

Proses mewawancarai tokoh cerita membuat penulis seolah-olah menjadi seorang psikolog yang mencoba menggali alam bawah sadar Enrico, mencari keterkaitan yang tidak tokoh sadari, dan menafsirkan cerita-cerita yang sepotong-potong bahwa: kelahiran Enrico sama dengan PRRI, Enrico yang tidak menangis atau bentuk kaki seperti ceker ayam pasti berhubungan dengan makna revolusi, dan lainnya. Sejarah-sejarah personal Enrico ini begitu dihargai oleh Ayu Utami. "Pengalaman subjektif lebih otentik ketimbang pengalaman objektif," ujarnya. Apalagi sejarah personal sepertinya banyak diabaikan oleh pendidikan di Indonesia yang selalu mengedepankan sejarah-sejarah besar seperti Soekarno, Hatta, dan lainnya. Ayu Utami juga menambahkan tentang pentingnya pencatatan sejarah pribadi.

Di antara peserta diskusi, ada yang berkomentar bahwa tulisan-tulisannya Ayu Utami selalu militer, kiri, dan aktivis. Baginya, militer akan selalu menjadi penjahat yang paling besar bagi masyarakat. Misalnya warga tidak boleh lewat dengan kacamata hitam, tidak boleh kendaraannya disusul, dan lainnya. Meski demikian, Ayu sendiri sepertinya terjebak dalam hubungan love-hate relationship dengan militer, "Walaupun jahat tapi aku suka dengan mereka karena mereka secara fisik itu seksi banget! Kalau kita ke Lobang Buaya, kalau lihat Pierre Tandean, aduh ...! Saya tertarik dengan pria yang berambut pendek." Sementara tokoh aktivis selalu ada karena Ayu Utami selalu menyuarakan tentang ketidakadilan dan biasanya hal itu diusung oleh para aktivis sehingga mau tidak mau tokoh yang dibuatnya adalah aktivis. Walaupun Parang Jati, Yuda, dan Marja dalam Bilangan Fu bukanlah aktivis.

Penulis yang saat itu mengenakan dress berwarna biru tua itu berkata bahwa dalam semua karyanya selalu mengandung tiga unsur yaitu Tuhan, irasionalitas (agama), dan seks. Agama selalu muncul karena ia adalah seorang yang religius (bahkan bisa pergi ke gereja setiap hari!) dan punya ketertarikan yang besar dengan Tuhan. Tapi itu pernah membawanya ke sebuah titik dimana ia tidak percaya agama (agnostik). Ia menganggap agama terlalu keras dan mendeskitkan perempuan. Love-hate relationship terjadi lagi dalam hubungannya dengan agama. Jika ia adalah sebuah bangunan, maka bata-bata yang menyusunnya adalah agama. Bahkan jika ditilik, bahasa penulis berambut panjang ini begitu biblical, misalnya di novel Saman ia menggunakan metafor keagamaan. "Agama adalah bahasa saya. Meninggalkan agama berarti saya tidak memiliki bahasa," ujarnya.

Selain itu, baginya, seks selalu menjadi hal yang irasional, aneh, dan tidak pernah selesai sehingga ia selalu menambah perspektif baru dalam tulisannya. "Dalam novel saya, seks itu bukan bumbu melainkan menu utama. Misalnya jika unsur seks di Saman dihilangkan, maka novel itu tidak ada." Seks menimbulkan greget tersendiri karena banyak orang yang tidak tahu tapi sok tahu. Sambil tertawa, Ayu Utami bercerita bahwa ia pernah membaca surat pembaca tentang seorang istri yang bertanya rasanya orgasme karena ia tidak tahu apakah ia sudah orgasme atau belum. Namun suaminya berkata bahwa sang istri sudah orgasme karena suami turut merasakannya.

Sebelum diskusi selesai, ada pengunjung lain yang bertanya mengapa Enrico menikah dengan A pada akhirnya padahal ia begitu tidak ingin kemerdekannya terenggut. Ayu Utami menjawab, "Kadang sesuatu yang kita sangkal ... ternyata sesuatu yang kita inginkan." Di sela-sela ada orang yang bertanya mengenai permasalahan anak. Penulis yang ditanya itu berkata bahwa memiliki atau tidak memiliki anak tetap menjadi sebuah pilihan.