Banyu Busuk


Saat dia bilang dia akan kawin, aduh ... rasanya hati ini lega betul. Rasanya ada beban besar yang diangkat dari pundak sehingga saya bisa bebas berjalan dan bertingkah seperti apapun. Tidak jalan menunduk-nunduk seperti dahulu.

Sebut saja namanya Banyu.

Banyu adalah seorang pria rupawan dengan rahang tegas, tubuh tinggi tegap, kulitnya cokelat, dan kalau menatap ... adduuuh, tidak ada yang tidak lumer dibuatnya. Saya seperti cokelat dijemur lama-lama atau seperti es kutub di zaman yang serba panas ini; meleleh. Lalu rupanya si rupawan ini pun tertarik betul dengan saya yang katanya punya segudang cerita, berkabut sehingga ia merasa tertantang untuk menyibaknya, juga rahasia-rahasia dalam yang ingin ia ketahui. Karena usahanya yang intens untuk melepas lapis demi lapis, maka akhirnya saya seperti batu yang memiliki ceruk karena tetesan air yang selalu sabar.

Lalu saya buka semuanya hingga saya tidak memiliki apa-apa lagi. Transparan.

Namun lama-kelamaan, Banyu memang boleh jadi pujaan karena ketampanan wajahnya, namun ternyata hatinya busuk. Hitam dan bau tengik. Pikirannya begitu picik. Ia sering kali berprasangka tanpa bertanya, membentuk opini sendiri, memanipulasi orang-orang yang ada di sekitar agar menjadi sekutu saat berpendapat. Jangan lupa, jika ia sudah sakit, maka ia akan membalas rasa sakit dua kali lipat. Lalu mulutnya mulai rajin melontarkan kata-kata pedas, kritik-kritik tanpa diminta, sumpah serapah jika ia tersinggung barang sedikit saja. Ia laksana air panas yang siap menjerang apa saja hingga kelewat matang; tercerai berai di dalam panci.

Kata orang ada istilah Stockholm Syndrome dimana korban mulai memiliki rasa simpati terhadap pelaku (penculikan--lihat sejarah stockholm syndrome dengan googling sendiri). Maka, saya kupas lapisannya dan menemukan fakta-fakta yang saya jadikan pembenaran atau penyangkalan bahwa Banyu adalah seorang pria sakit, bahwa ia sebenarnya tidak bermaksud untuk menyakiti, bahwa itu adalah cara menunjukkan kasih sayangnya ... Biar saya menjaga Banyu, menimangnya, mengelus kepalanya di saat lelah. Saya sediakan air dengan sigap saat ia haus, saya siapkan makan secepatnya saat ia lapar.

Walau busuk, ia adalah kesayangan saya. Biar dia bahagia walaupun saya harus sakit karena kata-kata. Wakau saya harus menjauh dari teman-teman sendiri karena ia bilang teman-teman saya itu tidak baik, orang-orang yang sibuk dengan dunianya sendiri, juga mengekang hingga diri saya tidak berkembang seperti sekarang. Maka, saya putus tali kontak satu persatu-satu.

Karena saya mencintainya.

Hingga sore itu, di atas sofa hijau tua di rumahnya itu, ia bilang bahwa ia mau menikah oleh karena itu hubungan ini harus selesai sudah. Ia memperlihatkan foto teman wanitanya yang cantik bukan kepalang; laksana model yang ada di majalah, putri-putri yang menunggu pangeran di kastil tanpa berbuat apa-apa dan tanpa terluka. Mata saya berkaca-kaca. Si busuk ini akhirnya menemukan pasangan dan bahagia. Dua orang dipundak--entah siapa--mengangkat beban berat lalu melempar jauh-jauh bebannya. Air mata saya meleleh membasahi pipi. Dia bilang jangan menangis karena sedih. Saya bilang bahwa saya tidak sedih. Saya bahagia sekali. Tidak pernah sebahagia ini.

Banyu busuk yang dulu mengendalikan saya--bahkan dalam mimpi kini sudah tidak ada. Semenjak sore itu berlalu, saya bisa mimpi lucid lagi. Saya bisa mengendalikan apapun: mimpi, kegiatan, dan terutama ... diri. Walau jejaknya berbekas betul di hati, saya rawat memarnya hingga sembuh. Tak apa-apa. Kau tidak usah membantu. Saya sudah biasa sendiri.

Gedung Gas

Kalau lewat Jalan Braga arah Jalan Naripan, akan terlihat sebuah gedung besar di sebelah kanan jalan. Gedung ini selalu ditutup karena tidak dipakai dan bidang luas di depan gedung selalu menjadi bulan-bulanan warga untuk digambari atau ditempeli sesuatu. Kalau malam, trotoar depannya dipakai orang-orang untuk duduk-duduk sambil minum minuman beralkohol yang beli dari mini market terdekat. Tapi sepertinya malam ini tidak akan ada yang duduk di sana karena trotoarnya hitam dan bau. Menurut warga, ada gerobak tempat sampah yang sempat berhenti dan airnya sampahnya menetes kemana-mana.

Saat ngaleut hari Minggu (9/9) kemarin, pintu gedung besar itu terbuka, hanya boleh dikunjungi aleutians dan beberapa anak ITB yang memang mengurus perizinan untuk masuk. Kata Bey, ketua kelompok non VIP (bercanda), kita beruntung bisa masuk karena perizinannya susah dan harus diurus ke Jakarta. Lagi-lagi, pengalaman menelusuri tempat yang tidak dikunjungi semua orang yang saya dapat melalui aleut seperti basement Galeri Ropih, jalur lava Pahoehoe, Hotel Wilhelmina/Braga, dan Gedung Swarha (bagian ini saya tidak ikut).

Jadi, gedung yang kami kunjungi adalah Gedung Gas, saudara setanah air! Kata Bang Ridwan, ia pernah mengunjungi gedung ini tahun 1980-an untuk membayar gas (sebagaimana orang-orang pergi ke Jalan Surapati untuk membayar listrik). Gas-gas dialirkan melalui pipa bawah tanah, yang kata M. Ryzki Wiryawan, "Penggunaan gas saat itu di Bandung lebih banyak ditujukan untuk kebutuhan bisnis, contohnya untuk dapur-dapur di hotel, pabrik-pabrik roti, pabrik limun, penghangat di penginapan, barak, dan rumah sakit." Terus konon gas ini bukan tipe eksplosif seperti tabung gas 3kg.


Saat masuk, kami disambut dengan sebuah ruangan besar. Di pojok kiri ada semacam meja resepsionis dengan judul "Gangguan" dan di pojok kanan ada semacam dapur kering. Menuju ruang tengah, di sana terdapat sebuah ruang agak lapang yang terang karena di atasnya terdapat atap kaca yang cahayanya tembus dari lantai dua. Sepertinya ini tipe rumah lama ya? Karena rumah saya juga memiliki kaca di atap sehingga lumayan menghemat listrik.




Gedung Gas ini memiliki banyak ruangan yang memiliki langit-langit tinggi, dilengkapi kaca-kaca yang kondisinya baik, juga lampu-lampu gantung yang sudah oleng. Selain berdebu (tentunya), di gedung ini banyak sekali burung-burung yang berterbangan. Di salah satu ruangan lantai dua, yang sepertinya adalah ruangan yang mereka pilih untuk membuat sarang, penuh dengan kotoran burung yang mengotori sisi dindingnya. Masuk ke dalam ruangan tersebut seperti berada di dalam sangkar burung raksasa. Walaupun banyak debu dan kotoran burung, gedung ini tidak terlalu pengap dan kadang terasa aliran udara melalui jendela.

Yang paling saya suka dari gedung ini adalah pintu-pintu yang besar dan lebar, kaca-kaca yang banyak dan langit-langit yang tinggi yang bikin suasana jadi terang dan sejuk. Walaupun bangunannya tidak banyak hiasan seperti Kala di Landmark atau New Majestic, saya menyukai detil penyangga atap yang berada di dekat ruang masuk. Secara keseluruhan, Gedung Gas terlihat masih kokoh. Sayang jika tidak digunakan. Namun lebih sayang jika dihancurkan kemudian dibangun hotel di atasnya.

Diri yang Tak Kukenal

Seorang teman berkata tulisan saya kini lebih kaku. Ya, informatif, tapi tidak ada sentuhan personal (atau jatahnya sedikit). Teman yang lain pun berkata bahwa sekarang kurang imajinatif. Apakah ini pertanda semakin tua maka seseorang akan semakin membosankan?

Kemarin, saya melihat kembali tulisan-tulisan lama saya yang ada di blog yang saat membacanya bikin mengerenyitkan dahi tidak mengerti. Karena saya menulis hal-hal seperti ini:

"Jam pasir pun siap berlomba dengan dimensi waktu yang ada. Mereka saling berebut masuk pada tabung dibawahnya. Kasian ya mereka, hidup bolak-balik antar tabung dan diburu oleh waktu. Pasti menjemukan ya?
Kamu tahu waktu itu apa? Detik? Menit? Jam? Hari? Bulan? Tahun? Oh.. bukan. Itu bukan definisi dari waktu tetapi itu bagian dari waktu. Waktu itu adalah ruang yang tidak terlihat. Kamu tidak perlu menempelkan definisi saya dan membuatnya permanen di otak karena itu adalah jawaban yang tidak ilmiah." (26 Maret 2006)

"Tergagas dalam pemikiran saya untuk tidak mengkerdilkan potensi karena saya tidak mau menjadi korban kaum kapitalis. Tidak mau sebagai korban mereka yang mereduksi potensi disambung dengan budaya barat yang mendera (hayo.. engga ngerti kan? SENGAJA!)
Susah juga untuk menghilangkan budaya menemukan positif dalam negatif. Tapi apakah betul mereka adalah makhluk positif? Mereka itu adalah masyarakat dan budaya. Dialektika Hegel!! Tapi bagus lah.. setidaknya itu mengendurkan tegangan di pemikiran." (23 Maret 2006)

"Sartre bilang kalau manusia itu sendirian, ditinggalkan dan bebas. Dan itu benar! Karena saya seperti itu. Saya manusia dan saya seperti itu. Dia bilang manusia itu mencoba untuk menjadi Tuhan. Mereka berseru pada Tuhan tetapi hanya dibalas dengan kesunyian. Yah.. kesunyian adalah Tuhan itu sendiri. Saya manusia dan saya seperti itu." (15 Maret 2006)

Tulisan saya di atas adalah tulisan tipikal mahasiswa yang baru mengenal istilah-istilah baru, lantas merasa keren, lalu dipakai dalam tulisan. Kata-kata grandeur/besar menjadi senjata untuk menarik pembaca agar terlihat lebih canggih. Rumit, sulit dimengerti, tapi diharapkan bisa indah. Semua itu berlangsung hingga saya ikut Klab Nulis (kini Reading Lights Writer's Circle), saya bertemu dengan koordinator kala itu, Mirna Adzania. Saya masih ingat, waktu itu saya membacakan tulisan saya berjudul Padang Bintang, lalu Mirna komentar bahwa tulisan saya ini melelahkan dan sulit dicerna. Lalu, saat ia membacakan karyanya, saya lihat kata-katanya yang sederhana tapi masih bagus pula. Saya masih ingat betul saat itu saya berkomentar tentang kesederhanaan kata-kata namun masih bermakna. Setelah itu, saya terkesan.

Lalu saya membaca pendapat Remy Sylado bahwa orang pintar itu justru adalah orang yang mampu menyederhanakan hal-hal rumit. Karena saya ingin (disebut) pintar, maka saya mulai mengurangi istilah-istilah rumit. Apalagi saya ketemu dengan karya Sapardi yang begitu sederhana tapi luar biasa. Lalu, perubahan mulai terlihat ketika salah seorang teman saya di klab nulis, Sapta, bilang kalau tulisan saya begitu 'keseharian'.

Lalu, setelah banyak baca, ternyata banyak penulis yang menggunakan kata-kata biasa. Karena bagus tidaknya karya bukan dilihat dari kerumitan bahasa, melainkan rasa bahasa, plot, struktur, klimaks, penokohan, setting, dan lainnya. Adnan, rangda, sad, gotri ... adalah kata-kata yang ada di Bahasa Indonesia yang tidak terjamah. Menggunakan kata-kata tersebut bukan rumit karena justru menambah kosa kata baru dalam tulisan.

Saya berpikir bahwa sepertinya saat itu saya terlalu disibukkan dengan alam pikiran sendiri. Mengapa begini dan mengapa begitu. Tulisan yang ditulis pun rasanya tidak terstruktur karena betul-betul menumpahkan apa yang ada di kepala. Tentu hal ini adalah hal yang bagus karena saya diajari saat awal-awal menulis untuk menumpahkan apa saja yang ada di kepala. Dan terutama saat itu saya tidak memikirkan siapa pembaca saya: saya menulis untuk diri saya. Jika ini adalah masturbasi, saya pikir ini bukan hal yang buruk karena sesuatu yang menumpuk itu harus dikeluarkan.

Dua tahun yang lalu, saat ditanya cita-cita saya mau jadi apa, saya jawab saya ingin jadi filsuf. Sekarang kalau ditanya, jawabannya, "Ingin kerja di majalah." Kini tampaknya saya sedang bersenang-senang dengan fenomena sosial, dengan apa yang terpampang di luar pikiran saya. Tentang taman yang saya lihat, tentang interaksi orang lain, tentang ibu kota, tentang gunung yang baru saya kunjungi, dan seterusnya. Tapi kemudian saya dilibatkan dalam urusan membuat artikel sehingga secara tidak langsung harus menjabarkan fakta (tahun, luas area, dll) dan justru mengurangi nilai personalnya sehingga teman-teman yang mengetahui bagaimana saya dulunya berkata: kaku, bosan, dan tidak imajinatif.

Jika pemikiran bertambah dewasa, imajinasi tidak boleh hilang. Kapan terakhir saya menulis pengalaman saya ngobrol sama air atau sama Tuhan di tempat jemuran? Atau kapan terakhir saya menulis cerita fiksi berdasarkan keinginan sendiri--bukan karena pertemuan klab nulis? Sudah lama.

Kemudian bingung. Mau dibawa kemana ini gaya penulisan. Saya jadi merindukan diri saya yang dulu, yang bahkan sudah tidak dikenali lagi. Karena jika dirunut di-blog sebelum ini (blog di Friendster sebelum tahun 2006), itu lebih "gila" lagi. Ada tips-tips, ada Marlon, ada tulisan tentang perempuan ideal, dan lainnya. Bahkan sepertinya saya tidak bisa menulis hal-hal seperti dulu.

Nia kecil ada di hati. Nia besar memarahinya agar lebih serius dan jangan main-main terus. Lalu Nia kecil terus menjauh dan menjauh. Tanpa bilang, ia menghilang.

Larung

"Dari semua karya Ayu Utami, saya paling suka tokoh Larung. Rasanya ingin ketemu di dunia nyata."

Lalu Ayu Utami membalas dalam twit-nya, "He's dark and fragile at the same time."

Iya, mungkin saya suka orang-orang yang gelap dan rapuh. Seperti teman-teman saya dalam keseharian. Gelap. Rumit. Tetapi rapuh.

Jika kamu belum pernah membaca Larung, akan saya jabarkan mengenainya. Larung saya temui dalam sebuah novel yang penulisnya sudah disebutkan di atas. Larung, dengan judul yang diambil dari nama tokoh, merupakan novel kelanjutan Saman (1998). Sebelumnya saya sudah baca saat SMA namun otak belum kesampaian dan alur terasa super duper lambat. Setelah saya baca ulang, saya sangat tertarik dengan tokoh ini. Saat saya menunjukkan ketertarikan padanya, salah satu teman saya bilang, "Seriously? The psychotic activist whom desecrated his own grandmother's cadaver?"

Tidakkah itu menarik, kawan?

Larung ini pulang kampung dalam rangka "mempermudah" kematian neneknya yang dulu dikenal sebagai dukun. Nenek yang sudah keriput, dengan badan yang semakin membungkuk seperti bayi dalam rahim, dengan aroma nafas dan mulut yang suka mengeluarkan lendir tidak sedap. Larung, yang menganggap dirinya istimewa karena tidak pernah kena kata-kata tajam neneknya, memiliki kedekatan khusus dengan si nenek. Karena sulitnya proses meninggal akibat susuk, gotri, dan mantra, Larung harus berkelana mencari penangkal untuk mempermudah kematian neneknya. Alias, membunuhnya.

Saat Larung menjajarkan 6 buah cupu dari dada hingga pusar agar mantranya hilang, cerita berubah menjadi sudut pandang kedua yaitu nenek berkisah keadaan Larung dan orang tuanya saat kecil. Larung pernah memiliki teman keturunan Tionghoa yang toko kelontongnya dijarah dan ayah sang teman dipukuli sampai mati. Juga bapaknya sendiri disiksa sampai mati karena dianggap komunis. Hanya tuduhan Gerwani terhadap ibunya tidak mempan karena orang-orang tidak berani melangkahkan kaki karena si nenek dukun yang ditakuti ini yang melindungi menantu dan cucunya. Bahkan, menurut teman si nenek, jika sang nenek tidak melindungi mereka, belum tentu ia dan ibunya masih hidup.

Ketika cupu keenam ditempatkan, Larung mulai melakukan prosesi "pembedahan" untuk mengeluarkan susuk-susuk yang ada di tubuh neneknya. Jelas ia mengetahui teori pembedahan karena ia adalah mahasiswa kedokteran. Darah yang melimpah di kasur berdebu pun dengan tenang ia cuci, menyisakan air merah dan anyir. Setelah itu tubuh neneknya dimampatkan dalam dua tas dan dikubur di halaman belakang.

Jika dibaca, kisah Larung sungguh memualkan. Tapi saya harus takjub dengan penceritaan Ayu Utami tentang tokoh Larung melalui sudut pandang pertama sehingga membuat pembaca mengikuti jalan pikiran Larung. Selain itu, kata-katanya kuat dan enak dibaca perlahan-lahan untuk dinikmati keindahannya. Misal:

"Ketika ia menunduk ke arah jari-jarinya yang menggenggam notesku, aku melihat kupingnya yang berada di depan mataku. Duh, relung, setiap telinga adalah labirin dengan bulu-bulu kecil. Dan kuping, sahabatku, adalah tubuh kita yang tak pernah menjadi tua. Tulang yang tetap rawan sampai kelak tiada. Lihat ulirnya, bau bantat yang gurih, dan liang gelap itu, di mana ada cairan lumas yang melindungi gendang telinga lunak, dan gemuk itu mengeluarkan bau pahit yang sengak sehingga serangga tak mau pergi ke sana. Liang vagina mengingatkan aku pada jaringan seperti malam tempat hidup pertama dilentuk, bau asam yang menanti basa mani, lembab dan hangat, tapi lorong telinga mengingatkan aku pada kematian: sbuah akhir yang tak selesai." (Larung: 5)

"Kau tidak menyadari waktu, tetapi aku mencatat tanggal itu: 21 November. Kau tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi aku menggores semua itu dalam urat-urat jantungku. Mereka datang mengambil anakku, tanpa mengetuk pintu. Sebab sebelum mereka menyentuh daunnya, aku telah berdiri di sana. Telah kudengar sebelumnya, bisik-bisik orang menuduhku menyimpan ular di lipatan stagen. Nenek itu leak, rangda dengan sad tatayi, sebab setiap janda adalah potensi bahaya." (Larung: 38)

Cerita yang penuh dengan narasi ini seperti ruang tunggu yang nyaman. Ayu Utami mempersilahkan pembaca berlama-lama untuk menikmati keindahan interiornya. Setelah itu, tidak hanya dekorasi yang bagus, si ruang tunggu juga diisi dengan wewangian yang memabukkan; atau dalam novel ini penulis betul-betul memaksimalkan indra penciuman sehingga pembaca turut merasakan betapa busuknya si nenek di jelang kematiannya.

Hilangnya Otoritas Pada Diri

Barusan teman saya pulang ke kampung halamannya. Sudah seminggu belakangan ini ia tampak sibuk--bolak-balik menerima telepon. Juga beberapa kali ia terlihat kusut dengan area kisaran mata yang lembab, entah baru nangis atau kecapekan. Ia pun terjebak dalam euforia berkegiatan yang berlebihan seperti seseorang yang sedang melupakan sesuatu. Karena ia tidak bercerita, maka saya tidak bertanya.

Dulu, kami pernah mengobrol tipe cowok yang kami sukai. Dia bilang dia suka laki-laki berkulit terang dan bermata sipit. Sementara saya kebalikannya. Lalu kami saling memperlihatkan contoh orang-orang yang sesuai dengan kriteria. Kemudian di tengah-tengah obrolan, sempat ada isu yang dilontarkan bahwa ia dipaksa menikah oleh orang tuanya. Maka iseng saya tebak alasan kepulangannya sebelum hari ini, ia menjawab, "Kira-kira seperti obrolan kita dulu." Lalu setelah ia kembali dari kepulangannya, saya bertanya sambil bercanda, "Jadi?" lalu ia menjawab, "Sudah."

"Sudah? Sudah bagaimana maksudnya??" tanya saya sampai-sampai beranjak dari kursi untuk menggapai tangannya, menggoncang-goncangkan tubuhnya.

Ia menghindar sentuhan saya sambil berkata, "Iya. Sudah, Nia. Sudah."

Mendengar kabar itu, saya terkejut. Rupanya ia membawa keterkejutan saya dari ekspresi muka. "Kok kamu yang terkejut?"

"Saya enggak tahu harus bilang apa. Saya harus kasih selamat atau ...?"

"Kasih selamat saja."

Saya ingat bahwa calonnya dia saat itu adalah teman kakaknya. Si calon rupanya sudah dekat dengan orang tuanya. Walaupun keluarga ada di kampung halaman dan teman dan si calon berada di kota, komunikasi mereka terjalin cukup baik. Orang tua sudah kepalang jatuh cinta dengan calon menantu, sementara anaknya tidak.

Saat obrolan itu mengeruak, saya bilang pada si teman untuk terus memperjuangkan keinginannya. Apalagi rumah tangga itu tidak main-main dan seumur hidup pula. Ia pun sempat melontarkan bahwa pernikahannya mungkin tidak akan jadi. Saya ikut senang. Tapi saat ia bilang pernikahannya sudah berlangsung, saya lemas. Mungkin dia biasa saja dan saya terlalu berlebihan. Namun fenomena kawin paksa ini ada, terpampang di depan mata, bukan di novel-novel fiksi belaka. Tidakkah menyakitkan ketika diri sudah kehilangan otoritas pada diri sendiri dan keberadaannya ditentukan oleh orang lain?

Apakah orang tua berhak memutuskan ini dan itu untuk anaknya yang sudah dewasa dan berakal sehat? Adakah alasan takut anak tidak ketemu jodoh? Juga alasan ingin segera menikahkan agar beban membiayai segera hilang? Maaf, orang tua, bagi saya ketakutan adalah hal yang belum tentu terjadi dan mengeliminasi beban sambil memindahkan beban kepada anaknya terdengar egois sekali.

Rencana-rencana yang dibangun tentang masa depan, menikah dengan orang yang disukai, seru-seruan bersama teman-teman, tampaknya hilang. Diri jadi harus beradaptasi pada sesuatu yang datang dengan pemaksaan. Harus mengurus dan harus berada dengan seseorang yang tidak diharapkan kehadiran seseorang yang bukan si laki-laki-sipit-berkulit-terang.

"Sekarang saya kalau belanja lebih cenderung boros. Beli ini, beli itu. Enggak tahu, udah enggak mau mikir aja," ujarnya saat kami makan malem bersama.

"Yah ... semoga ... apa yah. Semoga ..."

"Semoga semuanya berjalan lancar ya, siapa tahu ujungnya baik," ia melanjutkan omongan saya yang mengambang.

Ya, kawan, rencana Tuhan tidak ada yang tahu. Saya terlalu berlebihan saja.

#5: Perburuan Monyet


Akhir-akhir ini si monyet mengintenskan perburuan bukunya di rimba Jakarta. Kebanyakan buku yang ia cari adalah novel bekas/loak karya sastrawan Indonesia. Selain ingin terlihat keren, si monyet butuh distraksi besar-besaran dari kebosanan di kostan. Ya, sebetulnya bisa dengan internet, tapi buku tetap tidak boleh ditinggalkan. Dan siapa tahu si monyet bisa belajar rasa bahasa dari para sastrawan.

Begitu kira-kira pencitraannya.

Padahal ingin yang murah saja. Tapi ternyata justru anggapan buku loak itu murah adalah salah.

Dulu Jakarta punya daerah bernama Kwitang (semacam Palasari di suakanya terdahulu) yang kini para pedagangnya berpencar ke Senen, Thamrin City, Blok M, Plaza Semanggi, Taman Ismail Marzuki, dan Pondok Cina UI. Dari kesemua tempat itu, ia baru mengelana ke tiga daerah pertama yang tadi disebutkan. Ternyata setiap tempat itu memiliki kekhasan bukunya dan ceritanya masing-masing. Maka monyet akan berbagi kisah:

Dari tempat monyet berada, jalan menuju Senen tidaklah susah. Hanya lurus doang. Pakai angkutan juga hanya dua kali. Kalau mau pakai busway bisa tapi kadang harus berdesak-desakkan dan menunggu lama (sepertinya ini berlaku ke hampir semua tujuan). Lalu dari halte Senen, tempat yang dimaksud sudah terlihat yaitu bangunan tua di depan Antrium Senen yang model bangunanya seperti bangunan di Pasar Kosambi.

Tempat pasar buku itu ada di lantai empat. Tidak semuanya bekas, ada yang baru juga. Saat datang, si monyet langsung digerayangi dengan pertanyaan oleh para pedagang, "Cari buku apa, Nyet?" Karena tidak ingin menimbulkan kehebohan massa lalu semuanya tiba-tiba rempong nyari buku, si monyet diam saja sambil gigitin jarinya yang berbulu. Lagipula dia inginnya nyari sendiri karena buku yang dia mau agak random: seketemunya yang bagus saja (alias belum tahu mau cari buku apa).

Waktu monyet datang sekitar pukul 10:30, banyak lapak yang belum buka. Di salah satu sisi, ada kumpulan buku-buku tua yang kertasnya berwarna kuning dan berbahasa Belanda. Sayangnya, tidak ada penjaganya. Selain itu, di sisi lain (agak belakang dekat reruntuhan), ada juga buku-buku loak lainnya. Di sini si monyet tidak mendapatkan buku-buku yang ia mau, tetapi monyet bisa mendapatkan buku-buku puisinya Ajip Rosidi dan Kuntowijoyo. Harga yang mereka kasih gila-gilaan, tapi bisa ditawar sampai lebih dari setengahnya.

Setelah dari Senen, monyet pergi ke Thamrin City. Wah, toko-toko di sini menjual baju-baju etnik seperti kebaya modern atau kaftan glamour. Tapi kalau pergi ke lantai bawah, baju-baju yang ditemui tidak jauh beda dengan yang ada di PGC. Setelah tanya-tanya tukang jualan makanan dan dibilang kalau di sini tidak ada yang jualan buku, monyet hampir menyerah lalu pulang. Beruntung dia tanya satpam dan si satpam bilang kalau ex-Kwitang ada di lantai 3A. Makdarit (maka dari itu, red.), bergelantunganlah monyet ke sana.

Si monyet disambit dengan pertokoan baru dan modern tapi masih kosong. Letak perbukuannya agak menjorok ke dalam (tapi tergantung dari mana arah datang), ia langsung disambut dengan satu toko yang nuasanya cokelat karena isinya buku lama semua. Wah, surga di bumi! Buku-buku mereka oke punya tapi harganya agak mahal. Misalnya Siti Nurbaya karya Marah Rusli seharga 85.000, Para Priyayi karya Umar Kayam seharga Rp. 75.000, dan buku tipisnya Ajip Rosidi menyentuh angka Rp. 140.000. Pengurasan! Padahal kalau hasil browsing di internet, harga Para Priyayi sekitar 50ribuan. Tadinya si monyet sudah nekat beli, tapi ia ingat kalau salah satu teman di suakanya menjual buku yang sama dengan harga yang lebih murah. Di sana juga banyak tumpukkan buku Belanda yang mengingatkannya pada teman monyet lainnya di suaka yang jualan buku-buku seperti ini. Karena tidak tertarik, maka ia tidak menanyakan harganya. Mungkin angkanya lebih fantastis. Akhirnya monyet dapat bukunya Ahmad Tohari dan Shindunata yang sesuai kantong. Kebetulan daun yang ia bawa tidak terlalu banyak.
Salah satu lapak di Thamrin City

Di toko lain juga buku-bukunya klasik. Saat monyet keliling, si penjaga toko buku pertama itu mengikuti monyet dari kejauhan. Curiga ini masih satu pemilik. Si penjaganya sih kayak agak polos gimana gitu. Saat monyet tanya harga atau menawar, si penjaga minta saran ke bosnya. Wah, kayaknya si bos pedagang buku profesional nih. Lalu sepertinya buku-bukunya dikategorikan berdasarkan toko seperti toko ini khusus menjual buku seni, toko itu khusus menjual ekonomi dan politik, dan seterusnya.

Keesokannya si makhluk berbulu ini pergi ke daerah Blok M. Sebelumnya ia sudah pernah beli buku di sini jadi sudah tahu jalan masuknya. Waktu pertama kali masuk ke Blok M Square melalui Blok M Mall, aduh pusingnya bukan main--kayak belantara yang sama sekali belum pernah terjamah. Buku-buku yang dijual di sini kebanyakan novel berbahasa Inggris lama dan buku-buku baru. Tapi ada satu toko yang menjual buku-buku klasik tapi harganya asu buntung banget. Selangit!
Salah satu lapak di Blok M

Di sana adalah satu-satunya toko yang menjual Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya dengan harga Rp. 140.000. Tempe bongkrek. Dan sepertinya dia tidak menerima tawar-menawar karena pas si monyet bilang "Wah, mahal banget!" si penjaga langsung berkata, "Memang buku lama itu mahal-mahal. Kalau yang murah itu pasti bajakan!" Nyali monyet langsung ciut. Uh, mau baca kok mahal sekali yah. Buku-buku di sana lengkap. Contohnya Y.B. Mangunwijaya saja lengkap koleksinya seperti Burung-Burung Rantau, Romo Rahadi, dan lainnya, tapi rata-rata harganya di atas Rp. 100.000. Koleksi koran Pikiran Rakyat saja mencapai Rp. 750.000!

Nangis kejer.

Sepertinya toko buku di sana ditujukan untuk para kolektor. Monyet bukan kolektor, ia hanya ingin baca. Ia tidak akan rela-rela membeli buku pinjaman yang sudah ia baca karena ingin memilikinya saja. Selain itu juga ia bukan pedagang buku yang membeli untuk dijual lagi. Ia hanya ingin baca sebagai input agar output-nya semakin berkualitas. Kira-kira harapannya begitu.

Dari semua pasar buku yang ia kunjungi, banyak sekali buku-buku karya N. H. Dini atau Marga T. yang sepertinya jarang dicari karena selalu ada di hampir semua toko dan semua lokasi. Kemanakah mereka kini? Apakah masih menulis? Mengapa karya keduanya jarang digunjingkan? Karya-karya mereka jarang sekali ditawarkan orang-orang yang menjual bukunya secara online. Selain itu juga ia jadi tahu bahwa Arswendo Atmowiloto dan Ajip Rosidi adalah salah dua penulis yang produktif sekali karena karyanya banyak bertebaran dengan berbagai judul.

Walaupun si monyet kini lebih mengarah pada non fiksi, kesukaan bacaannya masih berkisar novel dan cerita pendek. Dulu ia selalu ditanya apakah ia akan menerbitkan buku atau tidak (seolah-olah seseorang sahih dikatakan penulis jika sudah mengeluarkan buku, seperti sarjana yang mengeluarkan skripsi), ia jawab iya. Sempat berubah saat ia suka menulis artikel dan menerbitkan karya bukan jadi keinginannya lagi. Sekarang masih belum tahu. Tapi agar seimbang, sebaiknya yang masuk harus dikeluarkan. Dalam bentuk karya atau penceritaan seperti ini.