Perihal Selera Segelintir Orang

Jadi, awal minggu ini, saya memiliki kesempatan datang ke sebuah launching album penyanyi baru yang pernah ikut ajang kompetisi di televisi dan melakukan duet dengan penyanyi pria ternama Indonesia. Jujur, walau si penyanyi pria ini terkenal, saya tidak pernah dengar tentang duet mereka dan tidak pula mendengar lagunya. Mungkin memang tidak menaruh perhatian pada pop Indonesia saja.

Setelah satu jam menunggu sementara para wartawan sudah datang, akhirnya si artis naik panggung dengan dandanan vintage ala Marilyn Monroe. Dress perak ketat, lipstick merah menyala, serta rambut keriting besar-besar. Kakinya yang jenjang dan seputih susu itu dihiasi dengan sepatu hak tinggi yang senada dengan dress-nya. Siapa yang sangka usianya baru 22 tahun.

Saat melihatnya, saya tidak kaget karena deskripsi fashion statement-nya sudah saya baca di press release yang dibagikan sebelum masuk ke ruangan. Slideshow fotonya berbalut gaun bling-bling yang kebesaran di bagian dada (sehingga harus disumpal biar terlihat penuh) juga wara-wiri di layar. Belum lagi ada foto perbandingan metamorfosis penampilan dari ia masih lugu. Tentu gaya ini dibuat untuk membentuk image album dan dirinya.

Karena acara ini bukan konser dan memang ditujukan untuk promosi kepada wartawan, pihak rekaman pun menjelaskan dan menggadang-gadang penyanyi muda ini. Ia "mendaur ulang" lagu-lagu lawas dari band yang sangat mahsyur di Indonesia pada zamannya. Pada kesempatan yang diberikan, pada wartawan (termasuk saya) bertanya kenapa pakaiannya seperti itu, apakah busananya akan berubah jika ia mengeluarkan album kedua, dan kenapa pilih band legendaris di Indonesia ketimbang yang lain. Seperti yang sudah saya sangka, artis ini hanya bentukan mereka-mereka yang ada di balik layar. Hanya string puppet yang pasrah mau diapa-apakan.

Oke, mungkin analoginya tidak gitu-gitu amat. Tapi begitu ditanya tentang fashion statement-nya, ia menunjuk sang produser untuk menjawab pertanyaan wartawan sembari bilang bahwa ini adalah keinginan dari produsernya. Pikiran saya jadi jorok: jangan-jangan si produser punya fantasi tentang Marilyn Monroe kemudian fantasi tersebut direalisasikan melalui penyanyi barunya. Bagaimana rasanya melihat kreasi barunya berlenggak-lenggok dan menggeliat laksana selebritis yang terkenal sebagai simbol seks itu?

Kemudian saat membaca press release-nya, saya jadi meragukan bahwa kalimat-kalimat langsung bisa saja tidak berasal dari dirinya. Mungkin press release dibuat oleh pihak public relation tanpa wawancara sehingga si penyanyi semacam tahu beres saja. Tulisan dibuat seolah-olah si artis betulan suka dengan band tersebut (kemudian saat wawancara diketahui bahwa pihak rekaman yang memilihkan, bukan karena dia yang memilih). Ya, mau kepentingan apalagi selain bisnis. Masa jualan buat rugi. Ya, toh?

Saya bertanya apa rencana dia setelah album ini keluar. Apakah ada rencana untuk keliling kota atau duet dengan penyanyi lainnya. Ia menjawab berputar-putar yang intinya mereka akan promosi saja. Titik. Dan penyanyi jelas bilang kalau dia mengikuti saja apa yang pihak rekaman rencanakan. Kemudian saya jadi meragukan perihal duet ia dengan penyanyi pria yang terkenal sebelumnya. Penyanyi pria tersebut berkata bahwa ia "menemukan" penyanyi wanita ini karena merasa cocok secara suara. Jangan-jangan mereka tidak saling menemukan karena ternyata mereka bernaung di perusahaan rekaman yang sama dan mungkin saja "dijodohkan" oleh produser mereka untuk duet. Tidak ada proses ketemu, cocok, kemudian kawin layaknya dua orang yang saling mencintai.

Duh, apa sih.

Tapi ya prasangka di atas tidak sepenuh benar. Tapi, Nia, selamat datang ke dunia yang diatur oleh segelintir orang yang berkuasa. Dunia palsu yang serba diatur.

Menggila Bersama Sightseers

Jika kemarin sudah mengharu biru dalam drama, sekarang saya memilih Sightseers (2012) untuk merasakan black comedy thriller ala British yang disajikan sekitar 98 menit. Dibintangi oleh Alice Lowe dan Steve Oram yang sudah terbiasa berada di dalam genre komedi, film ini menawarkan humor gelap yang dibumbui dengan pembunuhan berdarah, kelucuan implisit tanpa adegan yang sengaja dibuat untuk terbahak, dan cerita yang baiknya tidak usah dipikirkan.


Berkisah tentang Tina yang diajak liburan bersama oleh kekasihnya, Chris, dalam rangka ajakan untuk mengenal dunia sang kekasih. Liburan panjang mereka dilalui dengan tidur di karavan, menginap berlama-lama di suatu tempat, dan datang ke museum dan tempat bersejarah. Di tempat pertama yang mereka kunjungi, Chris terusik dengan salah satu turis yang membuang sampah sembarangan di dalam kereta. Saat mereka akan pergi dari tempat tersebut, tanpa sengaja pria berjanggut dan berkumis lebat ini menabrak dan menggilas turis yang tidak disukainya. Kejadian ini membuat liburan panjang mereka menjadi tidak biasa.

Dengan alasan tidak bersalah, sepasang kekasih ini dibebaskan oleh polisi dan melanjutkan liburan dengan noda darah di ban mobil. Saat berada kumpulan para karavan yang menginap di suatu lapangan luas, mereka bertemu dengan sepasang suami istri menengah ke atas yang sedang berlibur. Saat itu sang istri membanggakan suami yang sudah menulis tiga buku perjalanan--sama seperti Chris yang berencana membuat buku juga. Karena merasa tersaingi, Chris membunuh sang suami saat berjalan-jalan dengan Banjo, anjing mereka, dengan batu tajam yang dipukul ke kepalanya. Chris tidak lupa mengambil kamera si empunya yang sudah mati.

Pembunuhan juga terjadi saat mereka berada di tempat wisata ketika Banjo (anjing putih ini ikut bersama mereka dan kebetulan Tina sangat ingin anjing yang mirip dengan peliharaannya terdahulu, Poppy, yang sudah mati tertusuk jarum rajutan) buang hajat dan Tina enggan membersihkannya. Ia ditegur dengan pengunjung lain karena dinilai merusak sejarah dan estetika tempat. Karena terjadi keributan kecil, Chris menghampirinya dan Tina mengatakan hal-hal yang tidak dikatakan si turis dalam rangka memprovokasi. Di depan mata Tina, Chris memukuli turis tersebut dengan kayu lalu menghantam kepala turis tersebut ke batu bersejarah.

Pembunuhan juga tidak dilakukan oleh Chris saja, tetapi Tina jadi ikut-ikutan. Ia membunuh calon pengantin perempuan yang sedang pesta lajang dan mencium Chris sebagai tantangan, orang yang tidak bersalah dan sedang berjoging karena saat itu ia kesal dengan kekasihnya, dan membunuh temannya Chris karena tidak mau diajak make out. Untuk yang terakhir ini, Chris agak kesal karena ia sudah klik dengan orang tersebut. Walaupun sempat adu mulut dan saling cekik, mereka akhirnya bercinta, membakar karavan, lalu pergi seolah tidak terjadi apa-apa.

Perubahan karakter Tina yang inosen menjadi seperti pembunuh seperti Chris adalah bentuk folie à deux yang diniatkan dalam film ini. Folie à deux adalah kegilaan yang terjadi berdua dimana tertularnya delusi yang dialami seseorang ke orang lain yaitu delusi yang dialami Chris kepada Tina. Tentunya kegilaan ini membuat liburan mereka keluar dari rencana awal.

Jika saat menonton ini timbul pertanyaan seperti "Kok dia tidak merasa bersalah?", "Kok tidak tertangkap polisi?", atau "Kenapa harus dibunuh?", sebaiknya dilupakan saja karena Sightseers bukanlah film yang serius. Nikmati keganjilannya sekaligus ekspresi Tina yang kadang bikin pengen jitak kepalanya. Atau misalnya saat Chris menyebut nama anjing putih mereka dengan Banjo sementara Tina tetap memanggil Poppy karena alasan personal, Chris berkata, "Kamu jangan menyebut Poppy di depannya, nanti dia (anjing) mengalami krisis identitas!"

Di penghujung film, Sightseers memberikan sebuah kejutan yang membuat saya terperangah sambil bilang "anjrrriiiiitttt!!" kemudian film habis namun tidak menyisakan rasa sebal, menggantung, atau wtf moment karena menyebalkan. Tidak akan saya bocorkan. Namun akhirnya klimaks. Puas.

Crazy duo

Perihal Kostan

Bulan ini adalah bulan ketiga saya tinggal di Jakarta Barat dengan kostan yang jauh lebih baik ketimbang saat saya masih berada di Jakarta Timur (harganya juga jauh lebih "sesuai"). Saya baru ingat kalau dulu saya memaparkan panjang lebar tentang kostan di daerah Halim--sampai dibuat blog segala, lengkap dengan pemeran tambahan yaitu #housemate. Saya juga merasa kostan ini juga perlu mendapatkan hak dan kewajiban yang sama untuk diceritakan. 

Baiklah, mari kita masuk ke dalam sebuah gerbang besar yang tingginya sekitar dua meter di Jl. Pilar Raya. Pilar Raya merupakan salah satu jalan yang diisi dengan rumah-rumah besar dan luas dan berpagar tinggi seperti kostan saya sekarang. Sepertinya daerah sini adalah lingkungan orang-orang kelas menengah ke atas, walaupun beberapa meter ke arah pertigaan Kemis yang tidak jauh dari sini, besar rumah semakin menyusut dan semakin padat. Pagar tinggi tidak hanya menjangkiti rumah besar. Rumah-rumah kecil yang letaknya beberapa meter dari jalan utama juga dipagari tinggi-tinggi, bahkan ada yang diberi jejaring dan terpal sehingga menutup bagian depan rumah. Melihatnya saja sudah pengap. Kalau bukan pagar besi yang renggang, biasanya rumah-rumah besar ditutup dengan satu lempengan besi besar atau tembok yang tinggi sehingga rumah-rumah di sini hanya terlihat seperti balok-balok saja.

Gerbang kostan saya digembok yang kuncinya dipegang oleh seluruh penghuni kost. Tangan harus terampil menjulur ke lubang kecil sembari tangan satunya lagi memasukkan kunci. Jika kunci sudah terbuka, maka kerahkan tenaga untuk membuka slotan besi yang berat. Jika sudah masuk ke dalam, jangan lupa tutup lagi. Karena nanti akan dimarahi ibu kos.

Begitu masuk, kamu akan melihat sebuah tempat parkir yang luas untuk memuat mobil-mobil besar pemilik kost yang salah satunya adalah mobil yang saya idam-idamkan yaitu Honda CR-V berwarna putih. Sementara di sebelah lapangan parkir terdapat rumah yang arsitekturnya biasa saja, hanya satu tingkat, dan luasnya tidak intimidatif. Beranjak agak masuk ke area rumah, maka kamu akan melihat bangunan berlantai dua yang terdapat 12 kamar khusus untuk putri yang long distance relationship dengan pacarnya, atau tidak punya pacar, atau biarawati. Karena kalau punya pacar, pasti memilih kostan campur antara pria dan wanita.

Kostannya bersih karena setiap hari dibersihkan oleh pembantu di sini. Terdapat empat kamar mandi yang setiap hari dibersihkan, dua buah area jemur, dan dapur yang tidak berfungsi karena pada enggan udunan untuk beli gas. Lagian mayoritas penghuni pulang malam sehingga tidak ada waktu untuk memasak. Setiap lantai juga memiliki lorong. Lorong lantai bawah berhadapan dengan teralis sebagai ventilasi udara. Lorong lantai atas berhadap dengan tembok. Duh, mana saya di lantai dua, jadinya kurang pasokan udara nih.

Mari kita masuk ke kamar saya. Saya berada di kamar nomer 10, yang kalau tidak salah pacar saya bilang kalau angka 10 ini baik karena menandakan Tuhan. Alasannya lupa. Tanpa AC, hanya ada kipas di atas ruangan yang tentu tidak cukup untuk membuat kamar adem, sehingga saya harus bawa kipas tambahan dari Bandung. Derajat kepanasan juga diperparah dengan dinding kiri dan kanan yang terbuat dari papan atau triplex sehingga tentu sulit berbuat yang aneh-aneh tanpa merambatkan suara ke kamar sebelah (lagian mau apa?). Dinding dicat dengan warga hijau pastel yang tidak bagus-bagus amat walaupun saya suka dengan warna hijau. Putih lebih baik. Simplicity is the best.

Diambil pk. 2:09 sebelum tulisan ini diketik--dalam keadaan susah tidur

Di kamar ini hanya tersedia kasur, bantal, satu set seprai, dan sebuah lemari. Kasurnya hanya muat satu orang, susah untuk tidur berdampingan. Ketiadaan guling membuat saya harus membeli guling di Carrefour dekat Puri Indah Mall. Saya juga harus membawa seprai tambahan dari Bandung agar bisa diganti per dua minggu sekali. Sayangnya, ketiadaan meja cukup berpengaruh banyak karena saya tidak bisa menyimpan barang-barang kecil seperti perlengkapan kosmetik, buku, tissue, pewarna kuku, dan lainnya. Oleh karena itu saya menyisakan satu tempat di bagian atas lemari untuk menaruh pernak-pernik.

Para penghuni di sini memiliki jam kerja yang berbeda-beda. Kamar 8 dan 9, mereka kerja shift malam sehingga berangkat siang dan pulang lebih larut. Kamar 11 dan 12 lebih teratur tipe nine to six. Sementara saya lebih suka-suka mau berangkat dan pulang kapan saja. Yah, maklum, jurnalis. Konon pekerjaan ini tidak memiliki waktu kerja yang fix. Namun kami saling sapa jika berpapasan di lorong atau kamar mandi, saling meminjam barang (saya tidak pernah pinjam barang tapi mereka beberapa kali pinjam ember, setrikaan, dan minta pasta gigi). Tidak ada cerita khusus yang menarik seperti #housemate. Semuanya standar begitu saja.

Kostan ini hanya ramai di saat hari kerja. Kebanyakan para penghuni pulang di akhir pekan dan hanya menyisakan satu hingga dua orang di setiap lantai. Biasanya saya dan teman di sebelah hanya tinggal berdua karena saya tidak setiap minggu pulang ke Bandung sementara kampung halaman si teman sebelah jauh yaitu Yogyakarta. Juga tidak ada kejadian horor atau aneh-aneh, kecuali malam kemarin--yang mungkin karena lupa atau sleep walking--kunci slot pintu kamar ikut terkunci, padahal kunci tersebut tidak pernah saya gunakan. Karena slot letaknya dekat dan bisa dijangkau dari luar jendela, saya jadi parno ada yang menggapai dari luar dan iseng mengunci slot pintu tersebut. Alhasil malam ini saya susah tidur dan berkali-kali menatap jendela, sambil membayangkan jika ada tangan yang keluar dari sana. Hiiii.

Tinggal di kostan putri membuat saya sadar akan beberapa hal tentang kelebihan dan kekurangan seperti di bawah ini: 

Nilai positif:
- Kostan cenderung wangi dan bersih
- Bebas jalan dari kamar ke kamar mandi tanpa mengenakan bra
- Bebas pakai celana pendek atau tank top atau pakaian tidur minimalis lainnya
- Bebas tidak pakai bra
- Bebas tidak pakai bra juga

Nilai negatif:
- Tidak bisa menerima tamu laki-laki, mereka hanya boleh duduk di teras (walaupun ada yang nekat bawa ke kamar)
- Sampahnya berupa pembalut yang tidak dibuang dengan kertas koran atau plastik sehingga masih terlihat darah cokelatnya di tempat sampah
- Ada yang darah menstruasinya tembus ke pakaian lalu pakaiannya digantung di gantungan kamar mandi dan noda darahnya mengotori dinding kamar mandi
- Rambut yang menutupi pembuangan air
- Lebih boros menggunakan air karena mayoritas waktu mandinya sekitar 15-30 menit setiap orangnya

Yah, lumayanlah, setidaknya bukan berak yang brecetan di pinggir kakus seperti yang saya alami dulu akibat joroknya teman seatap.

Teman-teman saya bilang kalau kostan ini terbilang mahal dengan fasilitas yang begitu-begitu saja. Saya sadar ini mahal karena letaknya sangat strategis yaitu berada di pinggir jalan yang dilewati beragam kendaraan umum dan mudah dicari--bukan masuk gang seperti kosan saya dulu. Gang membuat saya trauma karena saya seringkali melihat sampah, baju basah yang menetes di kiri dan kanan gang, juga dahak bekas penduduk sekitar. Namun di dekat kosan ini ada jalan kecil yang muat satu mobil dengan harga yang lebih murah. Mudah-mudahan saya bisa secepatnya pindah ke sana.

Kalau ke Jakarta, jangan lupa main ya ke kosan. Mumpung masih bagus!

Anna Karenina yang Memprihatinkan


Perihal Anna Karenina sudah terdengar sejak zaman kuliah karena novel karya Leo Tolstoy 1877 ini begitu terkenal. Bukunya yang berjilid-jilid serta cukup tebal membuat saya tertarik sekaligus enggan membacanya--apalagi saya memiliki kecenderungan tidak mengerti dengan karya-karya klasik para sastrawan dunia seperti Fyodor Dostoyevsky, Virginia Woolf, atau Ernest Hemingway. Kabar baiknya Joe Wright mengangkat novel ini menjadi sebuah film dengan judul yang sama di tahun 2012 dan dinobatkan dalam beberapa nominasi di Academy Awards dan Oscar. Jadi orang macam saya tidak perlu bersusah payah membaca novelnya untuk tahu ceritanya.

Tring!

Jadi kisah dibuka dengan Anna, seorang sosialita sekaligus istri kaya dari Alexei Karenin, yang melakukan perjalanan ke Moskow untuk membantu menyelesaikan masalah keluarganya. Saat akan turun dari kereta, dia berpapasan dengan seorang pria bernama Count Vronsky dan langsung saling tertarik pada pandangan pertama. Saat mereka akan pergi dari stasiun, seorang pegawai kereta api tergilas kereta kemudian Vronsky dengan cekatan memberi uang pada pihak kereta api untuk diberikan ke keluarga korban demi mengimpresi Anna. Kemudian mereka bertemu lagi dalam sebuah pesta dansa dan mereka yang saling tertarik ini justru menarik perhatian banyak orang.

Vronsky ternyata datang ke tempat tinggal Anna di St. Petersburg. Singkat cerita, mereka saling bertemu, semakin kuat ketertarikannya dan saling jatuh cinta. Hingga akhirnya Alexei Karenin menyadari bahwa istrinya mencintai orang lain saat mereka nonton pacuan kuda. Dalam acara tersebut, Vronsky jatuh dari kudanya dan Anna berteriak histeris di antara semua orang. Dalam kereta menuju pulang, Alexei berkata bahwa perilaku Anna itu tidak baik atas reaksinya yang berlebihan. Akhirnya Anna mengakui bahwa ia jatuh cinta pada Vronsky dan menantang Alexei melakukan apapun yang dia mau. Maka Alexei minta agar Anna tidak menemuinya lagi.

Kemudian Anna hamil, Alexei menemaninya saat sekarat pasca melahirkan dan bahkan memberikan pengampunan terhadap Anna. Namun Anna memilih untuk meninggalkan anak laki-laki dan anak perempuannya dan lari bersama Vronsky. Namun aib istri selingkuh didapat saat ia menghadiri sebuah acara dimana ia menerima cemoohan dan teman-teman sosialitanya. Hal ini membuat ia ingin cepat-cepat pergi ke kampung halamannya Vronsky. Namun pada saat itulah, Vronsky memiliki affair dengan Princess Sorokina. Akhirnya, Anna memutuskan bunuh diri dengan loncat ke arah kereta yang sedang berjalan.


Entah karena yang main Keira Knightley sebagai Anna atau memang masalah karakter, saya tidak suka sekali dengan Anna. Saya berada di pihak Alexei yang masih bermurah hati memberikan pengampunan pada seorang perempuan yang mengkhianati rumah tangganya. Lagian, duh, suruh siapa meninggalkan orang yang mencintai hanya demi orang yang disuka dalam pandangan pertama. Dan saya merasa Anna pantas mendapat ganjaran kalau ia diselingkuhi Vronsky pada akhirnya.

Tampak sinetron.

Namun kalau dipikir-pikir, kasihan juga wanita saat itu yaitu bagaimana dirinya begitu ditentukan oleh laki-laki. Ia tidak bisa menceraikan Alexei karena ia akan kelihangan hak asuh anaknya dan bermasalah secara hukum. Perempuan juga tampak didefinisikan kualitas moralnya jika ia mencintai orang lain. Judgement tidak diberikan pada Vronsky yang juga mengejar-ngejar istri orang.

Menghantarkan ke Peti Mati


Bagi seorang Nia Janiar (idih apaan sih) adalah bukan hal yang biasa untuk menonton film Jepang karena biasanya nonton film barat. Namun pasca nonton Amour, teman maya saya, Vendy, merekomendasikan Departures (2008) yang merupakan film drama Jepang karya Yōjirō Takita dan pernah memenangkan Academy Award for Best Foreign Language Film tahun 2009. Dengan asumsi film ini tidak akan jauh-jauh dari mayat seperti Amour, Departures bercerita tentang upacara pembersihan jenazah, diberi baju yang baik, dan diberi make up sebelum dimasukkan ke peti mati (encoffining).



Bercerita tentang Daigo Kobayashi, seorang pemain cello yang dipecat dari grup orkestra kemudian memutuskan pulang kampung ke Sakata bersama istrinya, Mika. Rumahnya Daigo dulunya merupakan cafe kecil dimana dulu diurus oleh kedua orang tuanya kemudian ayahnya kabur bersama pelayan meninggalkan istri dan Daigo yang kecil.

Dalam keadaan nganggur, Daigo melihat iklan lowongan kerja sebagai assisting departures yang awal ia sangka ia akan bekerja di agen perjalanan. Dalam wawancara yang begitu mudah serta penawaran gaji yang besar tanpa negosiasi dan basa basi, akhirnya ia mengetahui bahwa ia akan bekerja mengurus mayat. Ia pun kaget. Apalagi mayat pertamanya adalah mayat busuk yang sudah didiamkan berminggu-minggu.

Saat pertama kali kerja, perusahaan melakukan rekaman video dimana Daigo menjadi model yang memerankan mayat dan bosnya melakukan upacara pembersihan dirinya. Namun video ini nantinya akan menjadi penyebab pertengkaran Daigo dengan istrinya yang tidak tahu pekerjaannya. Mika merasa Daigo menjijikan sehingga Mika menolak untuk disentuh dan merasa ini bukan pekerjaan yang normal. Mendengar hal itu, Daigo membalas, "Bukankah kematian itu hal yang normal? Kamu akan mati dan saya juga akan mati." Namun istrinya tidak mau menerima bahkan memberikan suaminya pilihan apakah Daigo keluar atau istrinya kembali ke orang tuanya. Daigo memilih yang pertama.

Beberapa bulan mereka berpisah hingga istrinya datang dalam keadaan hamil (oleh Daigo, tentunya). Mika tampak masih ingin merubah pikiran suaminya untuk ganti profesi. Sebelum pembicaraan berlanjut, ada kabar bahwa kerabat lama mereka meninggal dunia. Saat itu Daigo memiliki kesempatan untuk memperlihatkan pada Mika (juga teman masa kecilnya yang ikut menolak profesi Daigo) bahwa ritual ini dilakukan dengan penuh khidmat dan penghargaan pada orang yang sudah meninggal.


Di luar dari cerita profesinya, film pun menceritakan bagaimana Daigo benci dengan ayah yang sudah meninggalkannya dan hampir menolak untuk datang ketika ayahnya meninggal. Saat ia melihat dan memegang jenazah ayahnya, sang ayah yang sudah 30 tahun tidak menemuinya itu terlihat menggenggam sesuatu. Rupanya batu itu adalah batu yang diberikan Daigo saat masih kecil. Melihat batu tersebut, Daigo menjalani proses upacara encoffining yang semula tidak akan ia lakukan. Tentu dengan sedih.

And I cried like a baby. Mungkin karena kesamaan personal. Hiks.

Upacara yang dilakukan di sini dilakukan dengan tepat, hati-hati, terstruktur, juga indah. Di sini diperlihatkan bagaimana jemari Daigo menyentuh jenazah dengan rasa hormat. Juga terlihat bagaimana keluarga yang ditinggalkan menunjukkan reaksi yang berbeda-beda; ada yang tidak sungkan-sungkannya bertengkar di depan Daigo dan bosnya karena saling menyalahkan kematian anaknya hingga ada yang sangat berterima kasih sambil bersujud kepada Daigo karena membuat istrinya tidak pernah secantik ini.

Sepertinya film ini adalah film yang bercerita tentang kecintaan seseorang terhadap profesinya dan menceritakan bahwa kematian bukanlah hal yang mengerikan. Kematian bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal. Juga bagi mereka, orang yang mati pantas berbelanja peti mati yang mahal, berdandan, atau berpakaian yang indah untuk terakhir kalinya.

Menguras Air Mata Bersama Amour

Saat saya minta rekomendasi film yang manis, Andika menyarankan film Amour (2012) karya Michael Haneke yang memenangkan Best Foreign Language Oscar. Saat melihat trailer-nya, saya pikir ini kisah percintaan dua orang manusia yang long lasting dan saling merawat hingga mereka tua. Ya, memang betul sih, tapi twist tidak terduga di bagian akhir film membuat saya terhenyak. Ini semacam manis yang pahit.

Film dibuka beberapa orang pria yang mencoba masuk ke dalam apartemen yang mengeluarkan bau busuk. Saat mereka membuka kamar, terdapat mayat seorang wanita tua bernama Anne yang terbaring di atas tempat tidur dengan bunga-bunga di sekitar kepalanya. Kemudian film berjalan dengan plot mundur ke beberapa bulan sebelumnya. Terlihat pasangan tua, Anne dan Georges yang merupakan pensiunan guru piano yang sedang menonton pertunjukkan muridnya, kemudian melakukan kegiatan seperti biasa di apartemennya.

Suatu saat Anne mengalami kondisi katatonik yaitu tidak merespon saat ditanya, seperti bengong, tidak bergerak. Dan lucunya, saat katatoniknya berakhir, ia tidak ingat ia mengalami hal tersebut. George merasa bahwa Anne mengerjainya. Tapi saat Anne akan menuangkan teh ke gelasnya, tangannya tidak mampu. Ternyata pembuluh darah Anne tersumbat. Setelah dioperasi dan pulang ke rumahnya, Anne mengalami kelumpuhan sebelah badannya dan semakin lama semakin parah.

Keparahannya terlihat bertahap seperti ia mulai mengompol, mulai tidak bisa duduk di kursi roda (karena berbaring terus), bicaranya tidak jelas, mulai mengenakan infus, sampai bergumam tidak jelas. Namun saat dalam fase itu, Georges terlihat tidak stres dan telaten mengurus istrinya. Bahkan ia sempat meyakinkan agar istrinya jangan merasa bahwa keadaannya membebani Georges. Untuk memaksimalkan perawatan, bahkan Georges menyewa beberapa pengasuh untuk merawat.

Anak mereka yang tinggal di luar negeri, Eva, menyuruh ayahnya agar membawa ibunya ke rumah sakit. Namun karena sudah kepalang berjanji pada Anne, Georges pun memutuskan untuk perawatan di rumah saja. Ia mencoba memberikan terapi sendiri seperti menggerakkan tubuh istrinya dan mengajari istrinya berbicara. Tapi ini tidak membuat keadaan Anne semakin membaik, justru sebaliknya. Bahkan Anne suka meraung-raung sendirian.

Pada suatu malam, Anne meraung tanpa henti sehingga Georges harus duduk di samping untuk menenangkan sambil membelai tangannya. Suami yang setia ini bercerita tentang masa kecilnya. Di sinilah twist terjadi. Tanpa disangka, sang suami membekap istrinya yang sakit dengan bantal hingga badan istrinya berhenti berontak. Kemudian, setelah habis nafasnya, dengan tenang pula Georges membeli bunga untuk menghias mayat istrinya dan memilih pakaian yang baik.

Georges seperti bom waktu dimana ia sudah menyimpan ketegangan dalam merawat istrinya seorang diri selama berbulan-bulan. Terbayang bahwa betapa stresnya mengurus orang sakit, apalagi berkepanjangan dan menunjukkan tidak ada tanda-tanda untuk sembuh. Apalagi reaksi Georges selama ini jauh berbeda dengan reaksi Eva yang kadang menunjukkan panik atau sedih.

Film ini berhasil membuat saya tersedu-sedu karena sepanjang film saya teringat pada ibu saya yang terkena stroke. Apalagi saya sempat wawancara seorang dokter spesialisasi syaraf bahwa orang yang pernah kena stroke kemungkinan kena stroke lagi lebih besar dan biasanya jadi lebih parah. Kemudian saya menyadari bahwa saya berada jauh dari ibu saya sehingga saya tidak bisa mengontrol kesehatannya. Saya jadi sangat cemas. Saya tidak mau ibu saya seperti itu.

Dari film ini juga saya berpikir tentang pentingnya manusia berpasangan (entah menikah atau hanya bersama saja). Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa sendirian. Mereka perlu orang lain mengurusnya semenjak mereka bayi. Anak perlu orang tua untuk merawatnya, juga sebaliknya. Jika anak tidak punya orang tua atau orang tua yang tidak punya anak, ya bisa jadi mereka terlunta-lunta sendirian.

Amour cukup memberikan kegalauan batin tentang masa depan bahwa tubuh tidak melulu sehat saat kita tua. Kemudian hanya bagaimana cara manusia meninggalkan dunia: merepotkan orang lain atau tidak.

Kenapa Harus Ngaku?


Ada urusan apa yang membuat Ayu Utami menulis ratusan halaman demi sebuah pengakuan bahwa ia pada akhirnya memutuskan untuk menikah di usia 40-an? Mungkin jawabannya adalah ia sedang mempertanggungjawabkan sebuah prinsip yang sudah ia tuliskan di buku sebelumnya tentang alasan-alasan mengapa ia memutuskan untuk tidak menikah. Ia tidak bisa mematahkan hati orang-orang yang sudah kepalang dibela atau merasa memiliki teman bahwa tidak apa-apa untuk tidak menikah. Oleh karena itu, mungkin, Ayu Utami menulis curhatan panjang yang berisi pemikirannya dari kecil hingga ia dewasa, bahkan pengalaman-pengalaman seksualnya seperti rekor berapa banyak ia bercinta dalam satu hari.

Diambil dari salihara.org

Ulasan buku
Buku Eks Parasit Lajang yang baru diterbitkan tahun ini tidak berisi dengan pendapat-pendapat atau rasionalisasi kaku. Penulis menceritakannya dalam bentuk narasi yang enak diiukuti dan berhiaskan metafora. Misalnya Ayu menuliskan bahwa hidupnya seperti game yang dengan tokoh A yang memulai petualangan dari Paradiso/Paradise sebagai representasi kebermulaan seks yaitu saat Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Penceritaan yang diawali Pohon Pengetahuan yang berbuah merah keemasan sebagai representasi birahi ini tentunya sangat erat dengan agama. Ini juga sangat beralasan karena Ayu Utami diceritakan sebagai orang yang awalnya religius, dekat dengan agama semenjak kecil, kemudian memutuskan untuk menjauh dari agamanya karena ia harus memilih apakah menjadi agamis atau penzinah. Ia memilih yang kedua. Justru, menurutnya, keterjauhan itu sebagai tanda ia sayang pada agamanya (tidak seperti pacarnya yang konsisten beribadah sekaligus berzinah).

Ayu, sebagai tokoh A, bercerita tentang keluarganya dimana ia memiliki bibi-bibi yang pada akhirnya diketahui bahwa mereka adalah alasan mengapa A tidak menikah. Para bibi yang dianggap keturunan monster (karena mereka tidak baik, dipenuhi cerita hantu dan cerita mistis) itu disebut Perawan Tua karena tidak menikah hingga akhir hayatnya (salah seorangnya menikah pada usia setengah abad namun bernasib tragis). Ketidaan pasangan serta standar masyarakat bahwa manusia harus berpasangan dan menikah membuat para bibi memiliki kedengkian pada hal-hal romantis. Misalnya saat mereka memfitnah ibunya A telah berselingkuh. Kedengkian juga ditunjukkan dengan biarawati yang menghukum salah satu murid sekolah yang cantik dengan alasan yang tidak jelas. A juga bercerita bahwa keharusan memiliki pasangan ini membuat seseorang diberi label 'perawan tua' dan 'bujang lapuk'.

Maka A memiliki kebutuhan untuk melakukan perbuatan yang menunjukkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak menikah, masih bisa bahagia, masih bisa menjalani hidup. Tidak ada kedengkian romansa terhadap yang lain. Mungkin itulah perbedaan orang yang memilih untuk tidak menikah dan memang nasibnya tidak menikah (karena pasangan telat datang atau tidak sama sekali). Apalagi nikah hanya membuat wanita dan pria masuk ke dalam hirearki siapa yang memimpin dan mengikuti, kecuali dalam pernikahan Katolik. Oleh karena itu, A setuju.

Walau ada kejadian yang dikurangi atau ditambahkan agar emosi lebih terasa, misalnya saat A tega membunuh ular hitam karena rasa takut yang berlebihan, saya takjub dengan kejujuran yang penulis ceritakan. Bagaimana bisa orang memaparkan pengalaman dan pemikiran tentang seks dan agama kepada masyarakat Indonesia yang serba tabu dan konservatif ini? Penulis memaparkan di usia berapa ia kehilangan keperawanan, bersama siapa, hingga berselingkuh dan menjadi peselingkuh. Jika sastra sebagai media untuk mengungkapkan kejujuran sebagaimana yang Ayu utarakan, saya setuju.

Keperawanan
Selaput yang konon ada di dalam vagina yang menentukan layaknya seseorang dipinang atau tidak dan dipertimbangkan apakah seorang perempuan bermoral atau tidak menjadi hal yang dikritisi oleh penulis. A percaya bahwa selaput itu tidak ada. Kalaupun berdarah, bukan masalah robeknya selaput, melainkan dinding vagina yang terluka akibat terlalu dipaksa. Apalagi zaman dulu remaja belia sudah dikawinkan dan belum organnya belum siap. Selaput dara, bagi A, hanya merupakan konsep yang diciptakan oleh masyarakat.

Di luar dosa atau ketakutan tidak diterima suami, saya sih lebih tidak percaya terhadap laki-laki yang berkeliaran dengan bebas pasca bersetubuh tanpa ikatan pernikahan. Perempuan tidak bisa mengendalikan apa yang akan laki-laki ucapkan kepada teman-temannya seperti, "Dia 'kan abis dipakai gue tuh!" Sebagus apa pakaian dan aksesoris yang dipakai, tubuh yang pernah terlihat telanjang akan selalu terlihat telanjang. Apalagi ada resiko yang mungkin saja terjadi seperti kehamilan di luar nikah lalu laki-lakinya berdalih, "Ah, anak orang lain mungkin. Kalo sama gue saja mau, berarti sama orang lain juga!"

Terlalu sinetron memang. Dan mungkin terlalu menuduh sebagaimana yang diucapkan pacar saya, "Kamu terlalu melihat laki-laki sebagai tokoh antagonis. Juga jangan paranoid." Izinkan saya mengemukakan justifikasi bahwa: jika orang bisa memilih menjadi perawan atau tidak, saya memilih yang pertama. Dan satu paragraf di atas adalah alasan saya. Pribadi dan subjektif, tentunya. Namun ingat, jika kamu memilih bergaya hidup ala Melrose Place, jangan menuntut tanggung jawab seperti pernikahan sesudahnya. Dan saya tidak cocok dengan gaya serial tv dari tahun 1992-1999 itu.

Balik lagi ke Ayu Utami, sebelum memutuskan untuk melepas keperawanan dan mendobrak konstruksi masyarakat, ia sudah membangun nilai yang dipikir secara kritis. Bukan sekedar nafsu atau sekedar ikut-ikutan. Dan sebagai kelebihan yang dimiliki penulis, Ayu memiliki fasilitas nama, media berbentuk buku, dan publikasi sehingga tentu ia dapat menuliskan kemudian meralat apa yang ia mau.