Barter!

Meskipun si pacar beberapa hari yang lalu sibuk membuat acara lapak gratis (seperti membuka lapak berisi barang bekas dan orang bisa mengambil atau menyimpan barang sesukanya) di kampung halaman, eh, kota tempat tinggalnya, kami melakukan aksi barter berdua saja. Bedanya barang yang kami pakai adalah barang baru dan diadakan secara privat di ruang tertutup. Hehe. Ide ini muncul karena dia semacam kabita (tergiur, red.) dengan acara tukar kado yang saya lakukan dengan teman-teman kantor.

Jadi sebelum datang, dia sudah kasih kabar kalau kadonya besar hingga tidak muat tasnya yang besar dengan bungkus merah jambu yang menganggu sehingga harus dibongkar ulang. Wah, penasaran! Ternyata betul saja, ia mengeluarkan bungkus merah jambu berlurik putih dari tasnya yang penuh dengan tambalan tidak berbentuk (anggap saja kolase) dan tulisan 'complicated box'. Saat dipegang.. eh kok ringan. Haha. Seperti orang yang besar omong tapi tidak ada isinya. Kadonya berbeda sekali dengan milik saya yang kecil tapi berat. Apalagi bungkusnya berwarna hitam bergaris putih. Cocok dengan stereotype jenis kelamin masing-masing.

Kaki gagak reprensentasi doski.

Saya memberi kado sebuah gelas yang bisa berubah warna saat diisi air panas. Awalnya berwarna hitam dengan tulisan OFF, tapi saat dituang air panas, warnanya menjadi putih dengan tulisan ON. Saya pikir ini akan keren dan dia akan suka (dan tampaknya memang suka). Dia memberikan saya sebuah lampu duduk yang cocok dipakai untuk tidur karena warnanya temaram. Kemudian lampunya diboyong ke kostan di Jakarta dan sangat berguna bagi saya yang suka mematikan lampu hingga gelap gulita akibat lampu tidur terdahulu yang tidak berguna. Saat dilihat secara detil, si lampu ini berhiaskan sepasang mata dengan jejak kaki gagak di sampingnya. Mirip betul jejak kaki gagak di mata si pacar. xD

Ya sudah, semoga si doskray pun merasakan kegunaan hadiahnya. Dan yang paling berkesan adalah ketika si penerima suka dengan sesuatu yang kita berikan. Sampai jumpa ditukar kado berikutnya (kalau ada)!

A to Z by Request

Akhirnya, komunitas menulis Reading Lights Writers' Circle yang saya geluti semenjak tahun 2008, akhirnya mengeluarkan buku kumpulan cerpen juga yaitu A to Z by Request! Tepuk tangan!

Buku yang saya potret di Gramedia, Puri Indah Mall, Jakarta. Dibandrol Rp47.000 saja.

Proud amateur! Foto pecah-pecah diambil dari webcam.
A to Z by Request ini merupakan kumpulan cerita pendek 26 writers' circle yang terinspirasi dari 26 huruf dalam alfabet. Melalui sistem kocokan, kami membuat cerita dari huruf yang kami dapat. Misalnya saya mendapatkan huruf Q, maka saya harus membuat cerita hal-hal yang berhubungan dengan Q. Sebagai teaser, saya berkisah tentang siluman cantik yang mengejar-ngejar seorang pria melalui alam pra-sadar. Rasa penasaran serta makhluk yang selalu muncul ini memberi petunjuk pada Radi untuk pergi ke sebuah pulau terpencil yang begitu jauh dari tempat tinggalnya. Di sana, ia bertemu dengan penduduk setempat yang memberi jawaban dari pertanyaan yang menggelayut di dada Radi selama ini.

Ilustrasi Q yang dibuat oleh teman saya.

"Muncul bayangan sebuah makhluk dari samping tempat tidurnya, perlahan tapi pasti hingga terlihat lumayan jelas bentuknya. Badannya pendek, mungkin tingginya hanya satu meter. Ia berdiri tegak, dengan payudara, dan kulit hijau sedikit bersisik. Telinganya lancip, seperti telinga-telinga peri yang suka dilihat Radi di televisi, matanya kuning seperti kucing malam hari, lidahnya yang bercabang terjulur ke luar." -- Q

Obituary Adik Sendiri

Pertemuan kami hanya tiga kali; saat ia berumur sekitar 8 tahun, saat dia entah umur berapa, dan 21 tahun. Tapi kami memiliki sejarah panjang dan hubungan yang rumit. Bagaimana tidak, ia adalah anak dari bapak saya dengan istrinya kini. Keberadaannya pun menjadi anomali dalam diri saya yang selama ini biasa sendiri dan melabel diri sebagai anak tunggal. Tahu-tahu, ketika sudah besar, saya memiliki adik yang tidak saya lihat ketika ia berada di dalam kandungan, dilahirkan, dan tidak mengikuti tumbuh kembangnya.

Saya ingat waktu ke kampung halamannya saat ia masih kecil. Saat kami pertama bertemu, bapak bilang, "Nih, katanya mau lihat teteh." Setelah itu tampaknya kami sibuk sendiri, saya berbasa-basi dengan bapak dan dia main sendiri. Ketika saya akan pulang, dia tidak ada dan ibunya memanggil bahwa saya akan pulang. Saya ingat jelas saat itu dia berlari ke arah mobil, bersalaman, dan saya memberikan uang jajan. Perasaan pertama yang saya rasakan adalah .. saya sayang anak ini.

Saat itu kami tidak bertemu lama sekali, sampai-sampai saya lupa keberadaannya. Sampai ia dan bapak datang ke rumah dengan tiba-tiba, terlalu tiba-tiba, sehingga sangat mengejutkan. Saya menolak keberadaannya. Lalu kami kembali berkomunikasi saat bapak koma saat serangan jantung. Ia yang menghubungkan saya dengan bapak. Kami jadi lebih sering mengenal dan berkomunikasi seperti dua orang dewasa. Di sana ia mengemukakan bahwa ia ingin memiliki kehidupan yang saya jalani, ingin sekolah tinggi, ingin menjadi pemain sepakbola, ingin mengenal saya lebih jauh, dan bilang bahwa ia dan bapak tidak memiliki kedekatan karena bapak terus memikirkan saya dan tahun ke tahun. Memikirkan saya--yang kata mama--anak perempuan yang begitu diinginkan namun kemudian dibuangnya.

Semua tampak berjalan lancar hingga si adik ini mengucapkan sesuatu yang membuat saya begitu ketakutan. Hal ini merenggangkan kami. Saya banyak menghindar SMSnya dan tidak bertanya kabarnya. Ia hanya menjadi penghubung saya dan bapak saja. Bahkan saya meringankan berita saat mendengar bahwa ia sakit, ada pendarahan di otak, dan tidak sadarkan diri. Saya pikir ia akan seperti bapak seperti dulu, bangun dan beraktivitas. Tapi saya salah. Ia memilih pergi. Selamanya.

Saya merasa sangat menyesal sekali. Ia pun tidak datang saat saya menjenguk bapak di hari lebaran kemarin. Dan komunikasi terakhir kami begitu tidak harmonis. Saya merasa sangat menyesal sekali karena saya terlalu mengedepakan ego saya. Saya lupa tentang adik yang saya sayang di saat pertama kali bertemu. Saya merasa begitu kehilangan adik yang hanya ditemui beberapa kali ini. Saya merasa .. sangat berduka.

Saya sedang memasuki fase berduka dimana saya menyangkal kematiannya. Bagi saya, dia hanya pergi sebentar, lalu pulang lagi, dan kami memperbaiki hubungan kami. Namun kematian itu nyata dan begitu dekat dengan urat nadi. Ia bisa datang kapan saja dan dengan cara apa saja. Mengambil orang-orang yang dikasihi, meninggalkan duka bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Semoga ia tenang di sana. Semoga ia tidak meninggal dalam keadaan sakit hati akan kakaknya yang tidak peduli ini. Semoga bapak dan ibunya juga kuat menghadapinya.

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un. Surely we belong to Allah and to Him shall we return.

The Elephant Man

John Merrick tidak jelek. Lebih parah dari itu; ia mengerikan. Bagaimana tidak, lihatlah kulit yang tebal dan bergumpal di kepalanya, tangan kiri, dan kedua kakinya. Tubuhnya yang abnormal ini mulai muncul di tahun-tahun pertamanya saat ia masih kecil. Kulitnya tumbuh secara berlebihan dengan struktur tulang yang tidak biasa dan diiringi dengan tumor hingga setengah tubuhnya. Kemudian pada saat kecil, ia pernah terjatuh dan mengalami cedera pinggul dan mengakibatkan jalan pincang selamanya.

Sayangnya ini bukan tokoh sebuah cerita fiksi, ia nyata keberadaannya. Joseph Carey Merrick, pria Inggris yang lahir pada 5 Agustus 1862 dan tumbuh menjadi seseorang yang disebut sebagai Elephant Man. Keberadaan dia menginspirasi film The Elephant Man (1980) yang dibintangi oleh John Hurt dan Anthony Hopkins. Dengan jalan cerita yang hampir mirip, The Elephant Man bercerita tentang seorang dokter bedah, Fredrick Treves (Anthony Hopkins), yang menemukan John Merrick (John Hurt) di sebuah sirkus yang menampilkan orang-orang aneh seperti si kerdil, kembar siam, atau si jangkung. Ia ditemukan dalam keadaan mengenaskan yaitu tidak diberi makan dan dirawat dengan baik, bahkan sering diperlakukan kasar. Merrick dibawa di Rumah Sakit London dan dirawat dengan baik oleh Treves serta pegawai lainnya. Akhirnya Merrick dan Treves membangun sebuah hubungan pertemanan.

Adegan saat merrick saat dipresentasikan di depan para dokter.

Ternyata Merrick bisa berbicara, memiliki kepintaran (awalnya dikira imbisil oleh Treves), imajinatif, serta sensitif. Ketika akan bertemu dengan kepala rumah sakit pertama kalinya, Treves mengajarkan kalimat-kalimat template yang harus diucapkan. Namun di luar dari itu, ternyata Merrick mampu berbicara dengan baik. Saat berbicara dengan orang lain pun penuh kesopanan. Merrick tidak jarang terharu dengan sikap baik orang-orang rumah sakit dan teman-teman Treves karena ia merasa tidak pernah diperlakukan sebaik itu. Selain sibuk berkunjung dan menerima tamu di sebuah kamar di rumah sakit yang kemudian menjadi rumahnya, Merrick membuat minatur katedral dari kertas yang sering ia lihat dari jendela rumah sakitnya. Walaupun ia hanya bisa melihat menara katedral, Merrick berimajinasi tentang bangunan yang tidak terlihat. Ia dapat membuat secara detil.

Adegan detil karya katedral buatan Merrick.

Di akhir filmnya, Merrick meninggal karena dislokasi leher akibat ia ingin 'tidur seperti orang lain' yaitu dalam posisi berbaring, karena selama ini Merrick tidur dalam posisi duduk akibat kepalanya yang terlalu besar. Ia meninggal saat ia merasa hidupnya sudah penuh dengan orang-orang yang perhatian padanya. Saat ia diperlakukan layaknya manusia.

I am not an animal! I am a human being! I...am...a man!
~ John Merrick

Kartu Pos

Sejak menemukan kantor pos dekat kantor (walaupun dekat, kantor ini harus dijangkau dengan dua kali angkot), saya jadi keranjingan kirim kartu pos. Tentu belum sekeranjingan sahabat saya, Andika, yang punya satu bundel kartu pos yang diterima dari berbagai daerah dan entah berapa jumlah kartu yang sudah ia kirimkan. Selain itu juga, kartu pos yang saya terima selama ini mayoritas berasal dari Andika yang (saat itu) satu kota dan masih sering bertemu pula. Haha.

Tapi saya senang menerimanya. Selain karena alasan serba digital, kartu pos menjadi sebuah surat yang tidak kalah berharga. Mengapa? Pertama, diperlukan niat untuk pergi ke kantor pos yang tidak ada digenggaman layaknya telepon. Kedua, kartu pos itu eksklusif. Bagaimana tidak, seseorang memberikan sebuah kartu hanya untuk satu orang saja, tidak seperti telepon atau email yang medianya ditujukan untuk banyak orang. Ketiga, sama seperti surat, rasa deg-degan mengetahui 'kapan sampainya ya?' juga ada. Namun terkadang, untuk urusan emergency, saya menggunakan email untuk curhat-curhatan dengan Andika.

Beberapa minggu yang lalu, saat ada agenda tukar kado di kantor, saya pergi ke Grand Indonesia untuk mencari kado. Di sana ada sebuah toko pernak-pernik bernama Scoop. Saya membeli gantungan kunci sebagai kado dan tea filter untuk keperluan pribadi. Ternyata di sana juga ada kartu pos. Selain kartu pos gambar pemandangan, ternyata ada juga yang gambarnya lucu seperti di bawah ini:


Berdasarkan pengalaman saya, mencari kartu pos itu semacam gampang-gampang susah. Tidak semua tempat menjual kartu pos. Kalaupun ada, paling gambarnya adalah gambar pemandangan suatu tempat yang biasanya dipakai oleh-oleh atau cenderamata tempat wisata. Kartu pos seperti itu bagus juga sih. Tapi kalau saya sedang di Jakarta tapi saya mengirimkan kartu pos pemandangan Bromo tanpa saya berada di sana, rasanya gimanaa gitu.

Mengirim pesan via kartu yang mudah terbaca ini tampaknya tidak cocok untuk orang yang tidak ingin dikepo seperti saya. Haha. Saya enggan kalau pesannya dibaca petugas administrasi, tukang pos, atau si penerima kartunya nanti di rumah. Jadi biasanya saya tidak terlalu banyak bercerita di sana, hanya sapa atau membahas hal yang umum saja. Oh ya, selain isi pesan, yang membuat kartu pos ini menjadi greget adalah gambarnya. Jika mendapatkan kartu pos yang bagus dan unik, rasanya berbeda daripada mendapat sekedar foto saja karena kita jadi memikirkan siapa yang patut mendapatkan kartu itu. Apalagi yang sudah rela-rela digambar dan dicetak sendiri.

Mungkin karena romantisme dan nilai sentimentil itulah kartu pos hadir dalam sastra. Misalnya puisinya Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco karya Sapardi Djoko Damono.

kabut yang likang
dan kabut yang pupuh
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan
matahari menggeliat dan kembali gugur
tak lagi di langit berpusing
di perih lautan

Kini keenam kartu pos tersebut sudah habis, saya kirimkan ke teman-teman yang ada di Bandung dan Jerman, juga pacar yang ada di Sumedang. Oh ya, teman-teman saya di Jakarta terharu begitu tahu saya mengirimkan kartu pos ke pacar karena merasa komunikasi yang sudah jarang dilakukan seperti ini begitu manis. Hehe. Sayangnya kartu pos pertama saya ke si pacar tidak sampai. Entah belum sampai, terselip, atau hilang di mana..

Datang dan Pergi

Akhir bulan Agustus kemarin, saya dan teman-teman kantor karaoke bersama sebagai bentuk perpisahan salah seorang dari kami, Ganis, yang memutuskan keluar dari kantor. Beberapa bulan sebelumnya, kami karaoke bersama untuk melepas Gita. Juga beberapa bulan sebelumnya lagi, kami melepas teman dari divisi lain.. masih dengan karaoke. Dan tidak jauh dari hari ini, kami kehilangan satu orang dalam tim yaitu supir setia divisi yang kini dimutasi ke bagian lain.

Di kantor, ada seorang perempuan bernama Nurul yang masa kerjanya cukup lama yaitu tiga tahun. Saya yang masih hitungan bulanan saja sudah berpisah dengan banyak orang, apalagi dia. Maka, suatu hari saya bertanya apa rasanya harus berpisah dengan banyak orang, ia hanya menjawab, "Oleh karena itu gue memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan teman." Hmm.

Tadi siang saya pindah meja kerja ke tempatnya Ganis. Saya memindahkan folder beserta isi dan meminta bantuan IT untuk memindahkan komputernya ke tempat lain. Malamnya, saya memindahkan barang-barang di kamar kostan ke kamar lain karena pemilik sebelumnya keluar dari kantornya. Di bekas kamarnya ini tertinggal personalisasinya seperti pakaian, dus sepatu, hingga pewangi ruangan. Baru sekejap saja saya mengenali orang ini, kini dia sudah pergi lagi.

Saya selalu gugup saat menjumpai perpisahan. Saat kelas 1 SMA, saya cemas setengah mati di hari terakhir ulangan umum karena saya harus berpisah dengan kakak kelas yang saya sukai. Kegugupan masih terasa saat akan berpisah dengan Gita. Namun saya melihat teman-teman kantor yang tidak lebay dalam melepas, tidak ada jerit tangis (sebagaimana kantor saya di Bandung dulu), salaman, pelukan sedikit, ya sudah. Hidup terus berjalan. Efek buruknya, ketika baru kenal dengan seseorang dan tahu akan terjalin hubungan, saya jadi memikirkan: kapan kami akan berpisah?

Saya pikir ada pelajaran yang bisa diambil. People come, people go. And I think, all we have to do is get used to it. :)