Dalam Sesap Teh

Ceritanya belakangan ini saya lagi senang mencoba teh. Biasanya selama ini hanya mengkonsumsi teh dalam kantung yang biasa ada di pasaran. Semenjak ada berita bahwa kantung teh menggunakan pewarna agar terlihat putih dan kita tidak boleh mencelup di dalam air terlalu lama, saya mengurangi konsumsi teh kantung. Lalu saya mencoba teh upet--teh yang biasa dikonsumsi oleh keluarga sejak saya kecil. Sayangnya ini cukup merepotkan karena harus menggunakan saringan. Namun semenjak ketemu tea infuser yang lucu dan mudah dibawa kemana-mana, saya lebih banyak mengkonsumsi daun teh dari teh hijau hingga teh putih.


Dulu saya sering minum teh manis. Setelah makan mi, pasti saya minum teh manis. Karena lama-lama takut diabetes, sekarang saya minum teh tawar. Teh tawar, terutama saat panas, rasanya seperti penetral setelah makan-makanan penuh kolesterol dan terlalu banyak rasa. Dan setelah banyak membaca, manfaat teh ternyata banyak, salah satunya sebagai antioksidan dan pencegah kanker.

Kebiasaan minum teh ini membawa rezeki dari orang-orang baik. Salah satunya dosen saya mengirimkan Twinings. Dan baru beberapa hari yang lalu, editor saya sengaja membawa teh Dilmah saat ia dikarantina di Bandung. Gyaa, pengalaman ngetehnya semakin banyak. Terima kasih!


Pembina Komunitas Aleut!, bang Ridwan, juga jualan teh. Awalnya saya membeli teh priangan kualitas nomer satu. Saya membelinya dan mencobanya karena penasaran seperti apa sih rasanya kualitas teh nomer satu itu. Selain itu, bang Ridwan juga menjual teh putih alias silver needle. Waktu itu editor saya pernah membahas tentang teh putih yang mahal karena teh ini begitu berkualitas. Lagipula teh kok putih, macam apa pulak itu?


Dari penjelasan Bang Ridwan dan Toni--salah seorang teman aleut juga--teh putih ini diambil dari pucuk tanaman teh. Jadi, jangan termakan iklan teh yang berasal dari pucuk namun berwarna kemerahan dan dijual murah ya. Satu tanaman hanya menghasilkan satu buah pucuk. Untuk menjaga kualitas, teh bahkan diambil dengan menggunakan pinset. Dijemurnya pun tidak sembarangan, tidak boleh kena matahari langsung. Kalau warna daun tehnya kuning, maka teh ini sudah langsung dikategorikan rejected. Kezem.

Teh putih yang saya coba berasal dari Gambung, Gunung Tilu. Gambung merupakan salah satu dari tiga perkebunan yang menghasilkan teh putih di Indonesia. Gambung sudah ada sejak pertengahan abad ke-19. Hutan Gambung dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1811. Kini tempat ini dikenal sebagai pusat penelitian teh.

Teh putih Gambung memiliki harum yang khas. Kalau biasa minum teh hitam, teh putih ini akan terasa cawerang--kalau kata orang Sunda. Cawerang itu semacam transparan, tidak kental, tidak padat. Seperti yang bisa dilihat di foto, warnanya pun bening, seperti sampanye. Menurut Toni, teh ini bisa digunakan hingga tiga kali celup. Wah, berbeda dengan informasi yang pernah saya baca kalau teh itu hanya bisa untuk sekali celup.

Toni dan Bang Ridwan bercerita tentang perburuannya untuk mendapatkan teh-teh kualitas terbaik. Untuk mendapatkan teh kualitas terbaik, mereka harus turun ke lapangan, mendatangi para petani atau seseorang yang memiliki kuasa untuk jual beli teh. Ternyata mayoritas teh kualitas terbaik di Indonesia banyak diekspor ke luar negeri. Sedangkan teh-teh yang ada di pasaran adalah teh-teh dengan grade ke-5. Entah komponen tanaman teh apa saja yang dimasukkan. Saya banyak menemukan ranting di dalamnya.

Hal ini mengingatkan ketika saya liputan tentang pembuatan coklat. Saya mewawancara pengusaha muda yang mengolah coklat Indonesia dari dalam bentuk buah coklat hingga jadi coklat batangan. Ia bercerita bahwa harus turun ke Aceh dan Bali langsung untuk mendatangi petani coklat. Ia kesulitan mendapat bahan baku coklat terbaik karena coklat-coklat tersebut diekspor ke luar negeri. Pesanannya sering kali dinomerduakan karena ia hanya memesan dalam jumlah sedikit.

Padahal coklat, sama dengan teh, itu sama-sama baik untuk tubuh. Di luar negeri, makan dark chocolate di pagi hari sudah jadi budaya. Sementara di Indonesia coklat baru dikonsumsi di saat-saat sedih atau momen spesial tertentu. Padahal coklat memiliki khasiat sebagai penurun tekanan darah.

Selain teh dan coklat, pasti banyak hal bagus lain yang berasal di Indonesia namun manfaatnya tidak didapat oleh bangsa itu sendiri. Kita hanya menjadi pekerja kasarnya, diproses dan dibawa ke luar, namun tidak bisa menikmati jerih payahnya karena harganya sudah melambung begitu balik lagi ke Indonesia.

Duh, petani.. riwayatmu dulu dan kini.

Kiriman Melalui Darat, Laut, dan Udara

Tenang. Ini bukan santet.

Salah satu hal yang menyenangkan saat pulang ke rumah adalah menerima sesuatu yang dikirim lewat pos atau jasa pengiriman. Bisa berupa kartu pos, surat, atau paket. Biasanya paket yang saya terima adalah barang-barang yang saya beli online lalu minta dikirimkan ke rumah, bukan ke kantor atau kostan. Hal tersebut bikin hati saya dag-dig-dug sekaligus tidak sabar kalau ibu saya kasih kabar ada paket yang ditujukan ke saya.

Kepulangan singkat kemarin, saya menerima kartu pos dan dua paket.


Kartu pos yang saya terima di atas adalah kartu pos balasan dari teman saya yang kini berdomisili di Bali, yaitu Niken. Mulanya saya yang mengirimkan kartu pos. Waktu itu saya mengirimkan kepada teman-teman saya yang ada di luar kota. Saya memberikan Niken sebuah kartu pos vintage yang bergambar sepeda. Saya mengirimkan ini karena teringat pada suasana Bali (terutama Ubud) yang tampaknya enak buat dipakai main sepeda.

Niken adalah teman saya ketika kami masih tergabung di Reading Lights Writers' Circle. Saat saya mulai bekerja di Jakarta, saya beberapa kali menghabiskan waktu jalan-jalan dan piknik bersama Niken dan teman-temannya. Sayangnya saat saya mulai tinggal di Jakarta secara penuh, Niken sudah tidak kerja lagi di sini.

Kiriman berikutnya adalah sebuah purse yang saya beli dari teman yang tidak pernah saya temui. Namanya Thia. Ia adalah seorang tattoo artist yang sebetulnya sudah saya kenal sejak SMA. Sejak kami dipertemukan kembali di WhatsApp group, saya tahu kalau Thia suka membuat kerajinan tangan. Barang-barangnya khas yaitu spooky romantic gimana gitu. Mereknya Thia dikenal sebagai Stroberi Hitam.


Cute, isn't it?

Lalu, paket terakhir adalah.. sepaket teh Twinings yang dikirim oleh dosen saya, Mbak Hani, yang kini berdomisili di Australia. Tampaknya Mbak Hani tahu kegemaran saya minum teh karena social media.  Lalu Mbak Hani memberikan teh ini dengan cuma-cuma. Saat dicoba. Duh, rasanya segar dan wanginya tidak berlebihan. Terutama campuran vanilla, madu, dan kamomil.


Kegemaran terhadap kopi juga pernah membuat sahabat saya di Bengkulu mengirimkan kopi 1001 ke rumah. Wah, baiknya. Ternyata social media ada manfaatnya. Biasanya kiriman makanan saya bagikan ke keluarga, pacar, teman, dan sahabat. Supaya mereka juga merasakan percikan kebahagiannya. :)

Sisa Kejayaan Banten Lama

Dalam rangka weekend getaway, Eka, Yasin, dan saya memutuskan untuk pergi ke Banten Lama. Ide pergi ke sini datang dari saya setelah melihat foto teman yang berkunjung ke sana. Pertama, saya suka hal-hal yang berbau sejarah. Kedua, saya suka benteng. Ketiga, saya mulai menyasar kota-kota kecil untuk disambangi. Namun, sehari sebelum keberangkatan, saya menerima tanggapan tidak mengenakkan tentang Banten yang membuat saya niat untuk mengurungkan. Tapi ya ini trip bersama khalayak, tidak bisa egois. Dan seeing is believing.

Berangkat dari Kebon Jeruk, kami melalui Tol Tangerang, Tangerang-Merak, lalu exit di Tol Serang Timur. Mulanya petunjuk menuju Banten Lama terlihat jelas, namun petunjuknya menghilang di satu pertigaan. Setelah salah belok sedikit dan bertanya kepada warga sekitar, akhirnya kami sudah kembali ke jalan yang benar. Puji Tuhan. Alhamdulillah.

Kesan pertama melihat jalanan di Banten ini begitu mengecewakan. Bagaimana tidak, banyak sekali sampah yang bertebaran di jalanan. Bukan sampah sembarang sampah yang dibuang di jalan, tapi sampah yang tidak diangkut dari tong sampah dan meluber ke jalan. Apalagi saat itu Banten habis diguyur hujan sehingga kesan menjijikan semakin menjadi-jadi. Rujit, kalau kata orang Sunda. Rujit itu artinya standar tertinggi dari jijik karena kotor.

Akhirnya kami melihat gapura selamat datang di kawasan Banten Lam (karena A-nya sudah copot). Dari gapura tersebut, lokasi kawasan wisata tua yang dituju masih jauh. Hingga akhirnya kami melihat sebuah lapangan rumput nan luas dengan reruntuhan bebatuan dan sebuah menara mesjid yang menjulang. Oh, rupanya kami sudah berada dekat dengan Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.

Saat akan memasuki area masjid, kami masuk melalui entrance gate berupa pasar yang menjajakan makanan khas dan cindermata. Sayangnya jalan di pasar ini begitu tidak tertata. Selain bukan berupa paving block, jalan ini pun becek dan kotor sehingga disarankan untuk mengenakan sepatu bagi siapapun yang akan berwisata ke sini. Atau datanglah di saat musim kemarau.

Pintu masuk ke masjid yang becek.
Setelah melalui pasar yang berliku (padahal dekat jika jalannya lurus), kami melihat masjid yang dibangun tahun 1552 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin--raja pertama yang memerintah kesultanan Banten. Masjid ini terdiri dari bangunan utama, tiamah, dan pemakaman. Tiamah adalah tempat bermusyawarah dan diskusi agama Islam. Diduga tempat ini juga dipakai sebagai pesantren.

Di sekitar masjid, kami dikelilingi oleh anak-anak yang meminta uang dengan memaksa. Walaupun sudah berkata tegas, mereka akan tetap menempel. Tipsnya, bawalah uang receh untuk sumbangan. Selain itu, untuk bisa masuk ke area masjid, kamu juga sedikit dipaksa untuk menyumbang dan membeli kantung plastik untuk menyimpan sepatu. Berikanlah sumbangan seikhlasnya dan kantung plastik adalah hal yang tidak perlu--kecuali akan masuk ke dalam bangunan atau area pemakaman. Jika hanya melihat-lihat, sendal/sepatu masih boleh digunakan kok.

Masjid yang penuh dengan pedagang.

Selain pedagang, banyak juga anak-anak.
Di depan masjid, terdapat sebuah menara Belanda yang tampak seperti mercusuar. Menara ini tidak berfungsi sebagai tempat pengeras adzan, namun sebagai menara pengintai. Menara yang tingginya 24 meter ini dibangun oleh Hendrik Lucaszoon Hardeel. Menara ini berbentuk persegi delapan dengan tangga spiral yang begitu sempit di dalamnya. Cukup sempit untuk membuat mereka yang memiliki fobia tempat sempit dan gelap terkena serangan panik! Tentu hanya bisa dilalui oleh satu orang. Agar orang tidak papasan di tengah, ada penjaga di bagian atas dan bawah menara yang saling berkomunikasi melalui lubang udara.

Menara yang hanya cukup satu orang saja.

Menara dari kejauhan.
Saat berada di atas menara, Eka menempel di dinding menara karena ia punya ketakutan pada ketinggian. Sementara saya dan Yasin melihat-lihat pemandangan dari atas sini. Ternyata masjid ini begitu dekat dengan laut. Dari sini juga terlihat Klenteng Avalokitesvara yang akan kami sambangi nanti.

Setelah dari masjid, kami berjalan kaki menuju reruntuhan Kraton Surosowan (juga disebut Gedong Kedaton Pakuwon) yang merupakan tempat tinggal para sultan. Kraton ini dibangun tahun 1526 dan tersusun dari batu bata dan karang. Sayangnya kraton ini mengalami kehancuran akibat perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC. Kemudian kraton yang memiliki luas 3.8 hektar ini dihancurkan atas perintah Daendels tahun 1802.

Kraton Surosowan yang hampir rata dengan tanah.
Ada salah satu informasi di intenet bahwa tidak semua orang boleh masuk dan harus mendapatkan perizinan dari museum. Ternyata prosesnya mudah, hanya bilang saja kita akan pergi ke sini. Satpam museum akan membukakan pintu gerbang. Sayangnya di sini tidak ada pemandu sehingga tidak ada yang menjelaskan apakah ini kamar, dapur, tempat senjata, atau teras. Kami pun berjalan sekenanya dan menduga-duga apa yang ada di sini.

Kami melanjutkan perjalanan ke Vihara/Klenteng Avalokitesvara. Vihara ini begitu besar dan berwarna (tentu saja). Ini merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia karena dibangun sekitar abad ke-16. Di dalam vihara ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang merupakan peninggalan pada masa Kaisar China Dynasti Ming. Hingga kami datang, beberapa orang masih datang untuk beribadah, sebagaimana fungsinya.



Tepat di depan vihara, terdapat Benteng Speelwijk. Ingat tentang teman saya yang bilang sesuatu yang membuat saya hampir urung ke sini? Teman saya bilang bahwa di sini tidak lebih dari tempat makan domba. Saya pikir dia sedang sarkas saja. Ternyata benar, saya melihat dua ekor domba yang mencari makan di atas timbunan sampah tepat di dekat pintu masuk benteng. :(

Begitu masuk ke benteng, kami melihat sebuah area lapangan rumput yang luas. Tidak lupa ada gawang untuk sepak bola yang tentunya tidak dibangun sejak zaman kesultanan ya. Benteng ini dikunjungi oleh siswa setempat yang hang out atau sekedar berfoto-foto.



Speelwijk dibangun tahun 1683 dengan arsitek yang sama dengan pembuatan menara masjid yaitu Hendrik Lucaszoon Cardeel. Nama Speelwijk diberikan sebagai penghormatan gubernur jendral Cornellis Janzoon Speelman  yang pernah bertugas di Indonesia. Benteng ini pernah dilengkapi empat bastion, jendela meriam, ruang jaga, basement, untuk ruang gudang, ruang penyimpanan senjata, dan tambatan perahu. Sama seperti benteng yang pernah saya dan Eka lihat di Cilacap, benteng ini dikelilingi kanal untuk memperlambat laju musuh.

Setelah puas melihat benteng ini, kami melewati Masjid Pacinan Tinggi yang  unik. Sayangnya hanya tersisa sebuah menara berbentuk bujur sangkar setinggi sekitar 9 meter saja. Diperkirakan usianya lebih tua dari masjid agung. Lagi-lagi, sayang seribu sayang, walaupun keterangan nama masjid di depannya, bangunan ini terbengkalai begitu saja. Belum lagi tanah becek di sekitarnya dengan anak domba yang sibuk mencari makan di depannya. Huhu.

Masjid Pacinan Tinggi yang mengenaskan.

Kraton Kaibon

Kraton ini setidakya jadi arena main anak-anak.

Akhirnya kami sampai di tujuan terakhir yaitu Kraton Kaibon. Kaibon berasal dari kata ka-ibu-an, yang berarti keraton tempat tinggal ibunda sultan. Saat itu,  kraton merupakan tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu dari Sultan Syafiuddin, salah seorang raja yang memerintah Kesultanan Banten tahun 1809. Namun tahun 1932, atas perintah Belanda, keraton dibongkar dan bahan-bahan bangunannya diambil oleh Belanda dan dibawa ke Serang untuk digunakan sebagai kantor pemerintahan dan rumah-rumah pejabat. Semacam ogah rugi, iyes?

Dibandingkan tempat lainnya, kraton ini yang paling mending karena ada paving block sehingga pengunjung bisa berjalan dengan nyaman. Selain itu tidak terlalu runtuh seperti bangunan lainnya sehingga masih terbayang bentuknya.

Rasanya saya terlalu sombong jika banyak mengeluh dalam tulisan tentang Banten Lama karena Banten adalah bagian dari tanah air dan saya bukanlah seorang turis. Sedari awal, teman saya sudah mengingatkan untuk tidak berharap lebih karena pariwisata di sini tidak begitu terurus. Namun sangat disayangkan karena Banten memiliki nilai sejarah sebagai bagian dari penyebaran agama Islam dan kerajaan Sunda. Semoga Banten memiliki bupati yang bisa melihat nilai wisata dan sayang dengan kotanya.

Saat perjalanan pulang, saya berkata pada teman-teman saya, "Kalau para sultan bangkit dari kubur dan melihat Banten sekarang, mungkin mereka akan nangis. Mungkin Banten di zaman mereka itu jauh lebih baik ketimbang sekarang."

The Happiness is Inside You

Entah apa yang begitu hebat dari yang namanya 'bahagia' sehingga semua orang tampak menginginkannya. Hal ini tampak begitu dicita-citakan, disematkan dalam doa, dicari melalui mesin pencari seperti '10 cara mendapatkan kebahagiaan'. Betulkah bahagia itu bisa didapat? Apakah bahagia itu sebuah tujuan?

Orang menggunakan beberapa media untuk mendapatkan kebahagiaan. Melakukan hal-hal yang disukai seperti menulis atau bernyanyi, menyetel kondisi atau situasi agar bahagia seperti liburan atau makan malam di situasi romantis, atau memenuhi tuntutan sosial agar bisa bahagia. Menikah, misalnya.

Dalam suatu sore, saya dan Andika membicarakan tentang para single yang ingin segera berpasangan atau menikah agar bahagia. Teman-teman saya yang belum berpasangan menunjukkan betapa inginnya memiliki pasangan. Atau parahnya, belum memiliki pasangan tapi sudah ingin menikah. Jika kebahagiaan menjadi tujuan, sebaiknya niat untuk memiliki pasangan dan menikah dibatalkan saja. Mengapa? Belum tentu dengan memiliki pasangan dan menikah membuat kita bahagia.

Konstan bahagia sepertinya tidak ada. Pernikahan yang selalu diisi dengan senyum dan tawa itu tidak ada. Daripada terbuai dengan mimpi atau harapan tentang happily ever after, sebaiknya rombak ulang sistem pikirannya. Rasanya tidak adil jika menuntut pasangan bahwa ia harus membahagiakan kita setiap saat. Rasanya terlalu lemah jika menuntut pernikahan harus membuat kita bahagia pula. Jika menjadikan bahagia sebagai tujuan dan menggantungkan hal tersebut kepada orang lain, biasanya akan mengarahkan kita pada kekecewaan. Yang memutuskan apakah kita berbahagia atau tidak adalah diri kita sendiri. Kita bisa kalau kita mau.

Happily ever after tampak tidak adil pula bagi emosi lain seperti marah, sedih, atau kecewa. Karena kita lahir dengan memiliki emosi itu semua. Mungkin caranya agar keadaan kondisi kejiwaan kita balance adalah dengan merangkul semua emosi. Rasakanlah sedih jika sedih. Rasakanlah bahagia jika bahagia. Embrace everything. Don't deny it. Live today.

Haduh, mudah-mudahan tidak tampak seperti sok tahu atau menceramahi ya. Kira-kira itulah insight yang saya dapat belakangan ini. :)

Merayakan Diri Sendiri

Dalam pertemuan singkat di akhir pekan, Andika memberikan sebuah kado, dibungkus kertas yang bergambar kuda. Tampak cocok dengan tahun Kuda Kayu. Ia memberikan kado tersebut saat saya dan Eka makan siang di Cisangkuy sehabis olahraga. Dika meminta saya untuk membuka kado yang diberi dalam rangka ulang tahun ke-27 tersebut di rumah.



Setelah melihat pameran S.Sudjojono di Galeri Soemardja, Andika mengantarkan saya ke rumah. Saya sudah berjanji akan memberikan daun teh Priangan kepadanya. Saat itu kami mengobrol tentang aktivitas kami belakangan ini, juga mencari gosip-gosip terbaru yang terjadi di antara teman-teman kami.

Dengan tidak sabar, Andika hampir membocorkan isi kadonya. Tapi saya tahan, karena saya ingin tetap menjadi kejutan. Akhirnya, setelah Dika pulang, saya membuka kado yang lumayan berat tersebut. Ternyata isinya.. wow!


Andika paham sekali kalau saya suka baca buku-buku yang seperti di atas. Semacam agak sastra Indonesia gimana gitu biar terlihat keren. Karena saya sudah punya Larasati, Andika menawarkan untuk ditukar.

Bagian yang paling mengejutkan dan membuat saya tertawa geli adalah Dika juga melampirkan foto saya yang enggak banget. Foto ini diambil saat kami menghadiri pernikahan sahabat kami di Kalianda, Lampung. Saya tidak tahu persis kapan Dika mengambil foto yang sedang merem melek minum air dingin di tengah udara panas. Huhu. Whaaayyy?


Bukan Dika namanya jika tidak melampirkan sebuah pesan panjang. Pesan ulang tahun itu ia tuliskan dalam sebuah surat. Ternyata surat tersebut dibuat beberapa jam sebelum kami bertemu. Katanya ia ingin agar isinya lebih spontan dan mengejutkan. Di dalam surat itu Dika menuliskan tentang 'pertemanan' kami. Walaupun kami sudah tidak satu kota, setidaknya kami masih bertukar cerita, meski hanya sebatas surat elektronik.

Dika paling bisa menuliskan hal-hal yang membuat saya merasa positif dan berharga. Ia dapat memberikan kritik dalam balutan yang enak diterima. Bukan seperti kultus yang harus dilakukan, tapi seperti saran. Kalau membaca surat-suratnya, kita pasti akan merasa surat tersebut begitu berisi dan bermakna, bukan sekedar basa-basi. Saya pikir yang harus dihargai selain isi surat adalah waktu yang ia luangkan untuk menulis.

Ini bukanlah kado pertama yang Dika berikan untuk saya. Semua kadonya pasti memiliki kekhususan bahwa ia selalu mencari hal-hal personal tentang siapapun yang diberi kado tersebut. Bukan sembarang kado tanpa peduli entah bakal dipakai atau tidak. Selain penambahan usia, saya pikir pemberian kado ini menjadi simbol perayaan untuk menjadi diri sendiri. :)

Dari Taman Terbitlah Harapan

Saya pikir, waktu terbaik dalam satu hari adalah saat sore, kisaran pukul 15.30 hingga 16.30. Saat itu matahari sedang emas-emasnya. Golden hour ini pun ditunggu-tunggu oleh para fotografer karena ini dapat membuat foto semakin bagus. Suasana pun tampak hangat dan santai. Paling enak dihabiskan bersama orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, sahabat, atau pasangan.

Minggu ini saya dapat sore terbaik. Saya menghabiskannya dengan pasangan saya yang belum tentu bisa ditemui saban akhir pekan karena jarak yang memisahkan (duh!). Seiring dengan naiknya walikota Bandung yang baru bernama Ridwan Kamil, taman-taman di ibukota Jawa Barat ini diperbaiki--diusahakan agar kembali pada nama panggilannya yaitu 'kota kembang'. Salah satu taman yang paling terlihat perubahannya adalah Taman Pustaka Bunga (Kandaga Puspa) yang terletak di sebelah SMA 20. Bagaimana tidak mencolok, taman ini penuh bunga warna-warni.

Saya dan pasangan, sebut namanya Anto (padahal emang iya), berjalan kaki dari rumah menuju taman-taman yang untungnya berada tidak jauh dari rumah. Pertama kami ke Taman Cikapayang, tapi doi kurang tertarik karena ingin buru-buru melihat taman yang sudah tersohor hingga kota asalnya. Haha. Awalnya dia menganggap Taman Cikapayang ini biasa saja, tapi saat sudah agak jauh, barulah ia berkata, "Ternyata bagus juga ya." Huhu.

Tidak jauh dari Taman Cikapayang, akhirnya kami menginjak ke Taman Pustaka Bunga. Walaupun dipagar dan memiliki pintu masuk, untungnya pengunjung bisa masuk tanpa dipungut biaya. Hanya tidak boleh ada pedagang dan bawa binatang saja. Jadi di dalamnya hampir tidak ada sampah dan semua resik tertata. Apalagi di sini banyak tanaman hias seperti Anggrek. Juga pohon yang melingkar-melingkar itu lho, yang seperti bisa dianyam. Gak tahu namanya.

Bukaan mau kasih liat yang namanya Anto. Tapi mau kasih liat tanaman yang seperti anyaman itu lho. ;D

Bunga Anggrek

Bayangan di atas bebungaan.

Jawer Kotok

Berlatarbelakangkan bunga. Haha.

Setelah melalui perjalanan yang panas dan bikin Anto cranky beberapa saat, ia senang sekali begitu masuk ke sini. Saya juga. Di sini banyak orang yang foto-foto atau menikmati sore. Taman kembali berfungsi sebagai ruang publik yang memberikan jeda pada manusia dari rutinitas. Sebagai ruang terbuka hijau, taman kembali memberikan kesegaran pikiran.

Kalau tidak salah, taman ini dikelola oleh komunitas bunga atau tanaman yang ada di Bandung. Di pintu masuk juga terdapat rumah semi permanen yang berfungsi sebagai toko dan tempat informasi. Di jejaring sosial Facebook, Ridwan Kamil pernah dikritik bahwa ia menggunakan tanaman yang sulit diurus dan butuh perawatan lebih. Dengan ada pengurus tetap yang tampak memiliki jam operasional tersebut, mudah-mudahan semua isi di Taman Pustaka Bunga indah dan terawat seterusnya.

Setelah dari sana, kami pergi ke Taman Cempaka. Kini, taman ini juga dikenal sebagai Taman Fotografi. Oh ya, selain fotografi, Ridwan Kamil memberikan nama secara tematik pada taman lain yaitu Taman Jomblo yang terletak di bawah flyover Pasupati. Saya pikir mungkin ini cara Ridwan Kamil untuk mendekati anak muda Bandung dengan mengangkat tema sensitif sekaligus tabu (haha) bagi anak muda yaitu kejombloan. Balik lagi ke Taman Cempaka, di taman ini terdapat foto-foto yang dibingkai. Selain itu di sini ada dua buah ayunan dan satu buah besi berkelindan untuk dipanjat.

Terobosan cahaya matahari.

Sayangnya di Taman Cempaka ini tidak bersih. Banyak sampah yang berserakan. Padahal tanpa bebungaan pun, taman ini sudah cantik karena dinaungi oleh pohon besar sekali yang terletak di dalam taman. Kadang pada saat kemarau, pohon itu meranggas dan daun keringnya bikin taman ini semakin elok saja. Apalagi kalau hari menjelang malam dan lampu jalan mulai menyala.

Semoga taman ini bisa menjadi simbol harapan bahwa Bandung bisa berubah ke arah yang lebih baik. Semoga walikota sekarang betulan nyaah alias sayang terhadap Bandung. Dan selain nilai estetika, semoga infrastruktur dan tata kota Bandung juga diperbaiki. Karena kota cantik ini pernah babak belur akibat salah asuh seorang walikota yang kini menjadi tersangka.